Italian Job

The Italian Job (soal Squateris)

Florence pastilah merupakan salah satu kota terindah di Italia jika bukan di dunia. Berkedudukan di lembah Tuscan ia terletak ditengah-tengah antara Milan dan Roma. Terima kasih terhadap keramahan beberapa teman di Gerakan Anarkis Florence (MAF) baru-baru ini tiga anggota Workers Solidarity Movement dapat berkunjung ke kota ini. Selama seminggu yang kami habiskan disana, di siang hari kami dapat bepesiar dan bertemu dengan kaum anarkis di malam harinya. Pada Jumat malam saat kami tiba di Florence MAF telah mengatur sebuah jamuan makan dan suatu sesi tanya jawab yang informal di markas besar mereka. Dijamu dengan makanan yang menyenangkan dan beberapa gelas anggur kami belajar banyak tentang aktivitas dan kondisi masing-masing saat ini. Pertanyaan yang diajukan kepada kami mulai dari hubungan pemerintah Irlandia dengan Sinn Féin saat ini hingga kepada kemungkinan untuk meningkatkan perjuangan kelas dengan adanya gencatan senjata? Kami juga ditanya pendapat kami tentang internet dan upaya yang dilakukan pemerintahah AS untuk memperoleh sejumlah kontrol atasnya.

COBAS

Kami bertanya tentang Cobas, yang merupakan sebuah kelompok payung yang cair bagi serikat-serikat buruh yang tak resmi. Mereka tumbuh dari ketidakpuasan terhadap pengurus serikat buruh resmi di tahun 1987-88, awalnya di sektor kereta api, pendidikan, dan kesehatan. Di 1991 mereka bergerak mengorganisir apa yang sekarang yang sekarang menjadi pemogokan umum sehari yang terkenal menentang Perang Teluk. Menjadi sangat menarik untuk berbicara dengan orang yang telah terlibat dalam gerakan ini. Pembicaraan berlanjut hingga subuh. Beribu terima kasih untuk penerjemah kami yang kelelahan di malam itu.

Balai Sosial/The Social Centres

Di hari sabtu kami seret dalam kunjungan singkat ke berbagai Social Centre yang ada di Florence. Social Centre ini kesemuanya berada di gedung-gedung yang diduduki dan dioperasikan oleh berbagai kelompok dengan agenda-agenda politik yang berbeda. DPRD setempat telah menendang orang-orang dari bangunan-bangunan yang telah di-squat tetapi kelihatannya mereka tak terlalu gigih dalam melakukannnya. Social Centre yang pertama kali saya kunjungi adalah balai “Autonomist”, yang sedang menjamu kelompok rock terkenal untuk bermain disana. Acaranya sendiri gratis walaupun anda dimohon untuk menyumbang sedikit uang receh dipintu depan. Dari luar tempat tersebut kelihatan seperti sebuah pabrik yang sepi dengan sejumlah graffiti keren di dindingnya. Didalam anda akan menemukan bar yang menghidangkan bir-tong, sound system yang bagus, sebuah area terpisah untuk karya seni, desain, dan properti teater jalanan. Tempat ini terasa hidup dengan sekitar 300 anak muda, musik yang keras dan sekitar 12 ekor anjing! Berikutnya kami pergi ke rumah-villa di pinggiran taman publik yang digunakan oleh kalangan Hijau (gerakan lingkungan), anarkis, dan orang-orang yang berkampanye bagi hak-hak Indian Amerika (karena sejumlah perusahaan Itali berupaya membangun observatorium diatas tanah mereka). Tak terlalu banyak orang disini namun disana paling kurang ada sebuah band rap yang hidup, sebuah galeri yang mempertontonkan sejumlah karya seni yang menarik, dan banyak anak muda yang sekedar minum-minum dan merokok. Terdapat beberapa buku dan pamplet politik dipajang berdampingan dengan kaset-kaset bajakan dari konser-konser.

The Blues Brothers, Che dan aku

Yang terakhir, kami pergi ke sebuah Leninist Social Centre di selatan kota. Disini sebuah konser baru saja usai dan musik rock yang luar biasa keras sedang dimainkan oleh DJ yang sangat lincah. Terdapat sebuah bar, seperti di semua Centres, minumannya sangat murah. Kaum muda duduk-duduk dan

berteriak satu sama lain agar bisa terdengar sementara satu pasangan yang dimabuk cinta saling mengenal lebih jauh satu sama lain. Di dinding ada bendera Cuba, palu arit (tentu saja) dan posterposter dari setiap perjuangan anti-imperialis dari Palestina hingga Guatemala. Di bagian atas dari semua suasana gembira yang ribut ini larut malam/subuh ini terpampang gambar apik dari Che Guevara, ditemani Blues Brother yang melirik kebawah dari dinding. Aku bertanya-tanya apa yang akan dikatakan Che tentang ini semua? The Social Centres menjadi pengalaman yang hebat melihatnya beroperasi. Karena berasal dari sebuah negeri yang membawa masuk hukum kedalam kepalamu bersama balasan yang dasyat jika kamu cobacoba berpikir untuk menguasaoi bangunan-bangunan yang tak dipakai, saya terkesan terhadap nafas kehidupan baru yang dimiliki oleh tempat-tempat ini. Saya membayangkan banyak bangunan di Dublin yang dapat dipergunakan dalam cara ini. The Centres menyediakan sebuah tempat dimana kaum muda dapat pergi dan tidak batasi bagaimana harus berpakaian atau tak dikenai harga yang terlalu tinggi untuk segelas minuman. Politik nampak tak diperdebatkan di malam minggu (jikapun diperdebatkan, aku nggak bisa bilang apa-apa). Lebih penting lagi, Centres menyediakan sebuah tempat dimana anda tahu disana terdapat kultur yang paling kurang anti-otoritarian.

Kaum Anarkis dalam serikat buruh

Di hari sabtu kami bertemu dengan anarkis-anarkis yang aktif didalam CGIL (sebuah federasi serikat buruh yang besar), mereka ini adalah pengurus serikat buruh di sektor Pendidikan. Mereka memandang sebagai hal yang penting menaikkan seorang anarkis agar dipilih sebagai pengurus tingkat lantai kerja sebagai upaya menghadapi birokrasi yang berat yang ada di serikat-serikat buruh resmi. Mereka juga berhadapan dengan serikat-serikat buruh besar yang para pemimpinnya sepenuhnya terpisah dari persoalan-persoalan yang mempengaruhi anggota-anggota biasa. Tujuan mereka adalah membangun gerakan orang-orang bawahan.

Gratzi, untuk masa depan

Demikianlah setelah seminggu penuh dengan sinar matahari, seni, budaya dan politik kami kembali ke Irlandia. Kami telah diperlakukan dengan penuh keramah-tamahan dan memperlihatkan persahabatan yang hangat, terutama sekali oleh kamrad-kamrad di MAF. Saya kembali dengan penuh harapan, mengetahui bahwa semangat untuk kebebasan sejati dan anarki menyala bukan hanya di dalam hati sejumlah orang Irlandia namun juga di hati kawan-kawan yang ada di Florence. Charlie Parker

Semula dipublikasikan dalam Workers Solidarity 45, 1995 Terjemah oleh: Yerry Nikholas | arm_da_spirit [at] yahoo [dot] com

Print This Post Print This Post

You must be logged in to post a comment.