Persenjatai Realitamu

oleh: Sasha/Tjuan

Dari Rio de Jenairo, Buenos Aires, Mexico City, Kalkuta, Manila, Dhaka, Bangkok, sampai ke Jakarta, dan di ribuan kota-kota besar lainnya – ratusan juta orang menduduki lahan-lahan kosong ‘bukan miliknya”- membentuk suatu dunia informal, yang lepas dari domestikasi masyarakat properti, hukum dan komoditi.

Beberapa hari yang lalu terjadi penggusuran wilayah pemukiman di Cengkareng, Jakarta. Mungkin kalian semua sudah tau mengenai kasus ini. Seribuan aparat yang termasuk Brimob dan tentara angkatan darat, bentrok dengan warga di wilayah tersebut. Sebulanan yang lalu pemukiman di Tambora, Jakarta Barat juga mengalami hal yang sama. Baru-baru ini pedagang kaki lima di Jogja harus menghadapi penggusuran dengan dalil ketertiban dan tamanisasi kota (tertib? Whatever the fuck that means?). Sekitar dua minggu yang lalu kami juga menerima kabar penggusuran PKL di kota Kendal. Tahun lalu, kita mungkin masih dapat mengingat, represi brutal oleh Forum Betawi Rempug terhadap ibu-ibu dan anak-anak yang ikut dalam aksi Urban Poor Consortium. Catatan-cataan di atas hanyalah proporsi kecil penggilasan masyarakat informal – orang-orang yang tidak berkomunikasi dengan bahasa resmi (properti, hukum dan komoditi)23.

Bercermin pada realita adalah gambaran keseharian kaum miskin kota; jembel, kuli/buruh lepas, pemulung dan mereka yang menyandang berbagai profesi informal. Di sisi lain Bercermin Pada Realita menggambarkan juga kaum kasta paling rendah dalam jajaran otoritas – mereka yang berurusan dengan kerja-kerja paling kotor dalam urusan menjaga modal dan previlase kaum jet-set – polisi, TIBUM, Banpol dan LINMAS (Pelindung masyarakat; yang dulunya disebut HANSIP).

Kondisi lingkungan yang padat dan kumuh menjadi latar bagi mayoritas karya di sini – pemukiman kere, lahan-lahan yang diduduki, rumah butut, kaki lima dan pasar. Orang-orang beraktivitas dengan kemurungan dan dalam keletihan; kelihatan bagai rutinitas yang dijalankan tanpa gairah manusiawi dan ketertundukkan pada sistem ekonomi yang menciptakan zombi-zombi produksi.

Tentunya kontras dengan sepintas pemandangan Jakarta, dimana kita disuguhkan latar dominan yang disorot – deretan mobil, tebaran gedung-gedung mewah bertingkat, ruas-ruas jalan mulus – manusia menjadi agak langka, kecuali dalam kerumunan-kerumunan pengejar bis kota. Di sisi lain, imaji kehidupan Jakarta sendiri didominasi mahluk-mahluk penganut jet-set lifestyle, mereka yang bergentayangan dengan mobil-mobil mewah, yang singgah di kafe-kafe, mal-mal dan club-club – mereka yang dapat membeli eksistensi dengan uang (kamu adalah apa yang kau beli) – pribadi-pribadi yang didefinisikan dalam bahasa komoditi. Cairan kimia BOTOLAN yang mendefinisikan tubuh, pakaian rumah desain yang menutupi semua borok kepribadian; hingga perangkat komunikasi telpon seluler – benda yang lebih lantang bicaranya daripada suara pemiliknya.

Ke mana kemudian perginya mereka, orang-orang yang belum sanggup untuk mengartikulasikan dirinya dalam bahasa komoditi? Apa yang mereka lakukan? Apakah mungkin gambar-gambar Cerminan Realita tersebut menggambarkan kondisi mayoritas orang di Jakarta? Mungkin saja. Di gang-gang sempit, di perkampungan-perkampungan, di pasar-pasar, di wilayah-wilayah pergudangan, di wilayah-wilayah industri, di daerah sekitar tempat pembuangan (sampah) akhir (TPA) – aku menebaknya di situlah sentra-sentra manusia beraktivitas di Jakarta – wilayah-wilayah yang lebih jarang mendapat perhatian.

Aku ingin melihatnya – cerminan realita yang digambarkan dalam karya-karya ini – dari suatu perspektif tentang masyarakat properti yang berbicara dengan bahasa komoditi. Properti sebagai eksistensi seseorang – yang merupakan batas ke mana ia boleh menuju, bagaimana orang menerimanya dan memperlakukannya. Eksistensi yang diukur dengan rumah, perabot, aksesoris – dunia citra dengan suatu bahasa universal – komoditi. Mereka yang kurang beruntung untuk berinteraksi dalam bahasa komoditi, otomatis menjadi kaum pariah – borok-borok yang harus disingkirkan.

Bercermin pada realita adalah ceceran-ceceran pertistiwa dan kondisi yang dialami pariah tanpa properti dalam sistem masyarakat yang mengukuhkan agama properti dalam kitab suci undang-undang dan sebagai doktrin pembimbing kehidupan sehari-hari.

Pariah yang tidak lolos seleksi kepemilikan properti dan ujian interaksi bahasa komoditi – menjalankan hidup dengan keterbatasan akut. Kemelaratan material4, ketiadaan harapan, kekerasan fisik, eksploitasi tenaga manusia, kekerasan struktural – merupakan konsekwensi kesehariannya.

Faisal menginterpretasikan realita – apa yang merupakan olah pikirnya dengan cara pandang dan pemahaman spesifiknya, tentunya ideologinya sendiri, maksudnya bukan ideologi agama yang dibakukan. Tentunya Faisal lebih kompleks dari puluhan gambar yang dipamerkannya, yang mungkin hanya penjelejahannya yang terbatas tentang realita dalam satu sektor masyarakt kita, kaum miskin kota. Lebih dari sekedar dokumentasi realita, dengan menyuguhkan karya-karyanya pada kita, dia juga ingin kita mengeksplorasi, memikirkan, mempertanyakan serpihan-serpihan realita yang diekspresikannya. Mungkin dia juga bertanya bagaimana merubahnya – menggerakan gambar-gambar statis kemelaratan dan ketertindasan ini – menjadi realita kehidupan dengan gairah perlawanan untuk memperbaiki kondisi terpuruk yang ada sekarang?

Bagiku, ketika melihat karya-karya ini, pertanyaan awal adalah, apakah kondisi ini – kemelaratan total dan ketertindasan yang sepertinya tanpa ujung dan pangkal – merupakan lingkaran setan tanpa ada jalan keluar? Mungkin ini adalah pertanyaan yang naif bagi segelintir orang yang mapan dengan analisa sosial dan kekuatan teorinya…Let’s see! Mungkin juga ini adalah sebuah pertanyaan ngeheh yang hanya memusingkan kepala, mungkin ini tidak pada tempatnya…mungkin ini dapat terjawab secara terbatas…mungkin…Tentunya bagi kebanyakan kita adalah harapan-harapan akan transformasi dari kondisi yang digambarkan dalam karya-karya ini.

Dalam pengertianku, masyarakat perkotaan tanpa properti telah menunjukkan diri mereka sebagai subyek aktif dalam keseharian mereka bertahan hidup – keseharian yang dibarengi tindakan dekonstruksi ideologi dominan (kesakralan properti dan komoditi). Mereka merupakan aktor garda depan dalam penentangan absolut dan langsung terhadap keangkuhan properti. Pendudukan tanah-tanah untuk pemukiman dan lahan usaha; pencurian listrik dan berbagai fasilitas dari perusahaan-perusahaan besar (BUMN atau swasta sama saja merupakan bentuk pengontrolan fasilitas umum oleh segelintir orang) merupakan serangan langsung terhadap properti dan otoritas hukum (dua elemen simbiotik yang saling menghidupkan).

Sektor kaum miskin kota (pada kasus ini) telah menemukan logika-logika penentangan terhadap properti yang bagiku membutuhkan dukungan langsung dari subyek-subyek yang menginginkan terjadinya sebuah transformasi menyeluruh. Tentunya semua penentangan yang berbentuk aksi langsung/direct action membutuhkan nyali untuk melawan mentalitas formal (domestikasi) yang telah mendarah daging dalam diri borjuis kita5.

Sejujurnya aku mengakui bahwa banyak yang harus dipelajari dari masyarakat kita tentang perlawanan. Sebagai contoh mereka tidak perlu menuntut “Turunkan TDL”, tapi cukup dengan membangun jaringan-jaringan kabel pencurian listrik; tidak perlu menuntut “Tanah untuk Rakyat” tapi cukup mendudukinya – sekedar untuk tinggal dan lahan usaha – ketika kondisi dan kekuatan memungkinkan. Hal-hal tersebutlah yang bagiku merupakan kemenangan-kemenangan masyarakat tanpa properti – sekalipun temporer sifatnya (ehm…apa sih yang abadi?). Ini bukan berarti tuntutan-tuntutan tidak harus dimajukan – tergantung pada kondisi tentunya.

Aku mencoba belajar dari masyarakat yang tidak mempunyai banyak kesempatan menikmati ekses-ekses komodifikasi, orang-orang yang hanya bisa ngiler menyaksikan tayangan iklan-iklan (“JANGAN KEMANA-MANA KAMI AKAN KEMBALI SETELAH PARIWARA BERIKUT”) berbagai produk. Komoditi sebagai suatu ciptaan yang mengasingkan manusia dari kebutuhan-kebutuhannya, sintesa-sintesa yang mendistorsikan eksistensi – dan bangunan ekonomi kapitalis sebagai landasannya yang semakin hari semakin berhasil memperlebar jurang miskin-kaya6.

Pelajaran ini kuambil dari kerusuhan dan penjarahan – yang menimpa pusat-pusat perbelanjaan dan pusat-pusat bisnis. Kerusuhan dan penjarahan seperti itu adalah bentuk peristiwa yang paling ditakutkan penguasa dan kaum jet-set. Mengapa? Ini bukanlah masalah kehilangan benda-benda atau kerugian finansial, tapi lebih dari itu adalah sebuah shock teraphy, tantangan ideologis, bagi kekuasaan yang mapan, bagi nilai-nilai properti dan komoditi yang kukuh. Reruntuhan kerusuhan akan menjadi monumen temporer yang mengingatkan borjuasi bagaimana rentannya kemapanan properti dan komoditi. Kerusuhan dan penjarahan sendiri bagi pelakunya lebih daripada suatu jenis perampasan kebutuhan-kebutuhan hidup – merupakan pemberontakan masyarakat terhadap segelintir pihak-pihak yang yang mengkomandoi nilai-nilai mapan dalam sistem properti dan komoditi. Penjarahan dan penghancuran7 merupakan pemutar-balikan nilai-nilai secara spontan; mal-mal yang sebulan lalu berhasil menghegemoni masyarakat sebagai pusat citra kemewahan, ke-gaulan, serta merta bertransformasi menjadi tempat untuk pelampiasan kemuakan di saat-saat kerusuhan meletus. Dan yang pasti penjarahan hanya terjadi pada sistem yang mempertahankan keberlimpahan segelintir orang dan kemelaratan untuk mayoritas yang lain. Gerakan reformis menuai kemenangannya ketika mereka dapat meredam penjarahan dan penghancuran; ketika mereka mampu memimpin, mengontrol dan menggiring – sedangkan masyarakat grass root menikmati momen penghancuran sebagai instan-instan kemenangan – kapan lagi kita di grass root dapat mengeksekusikan penentangan total terhadap dunia properti dan komoditi yang mengasingkan? Hal ini dapat terjadi berbarengan dengan kerusuhan-kersuhan yang direkayasa sekalipun.

Masyarakat tanpa properti, dalam sistem yang memarjinalkan mereka, telah menemukan sebagian solusi-solusinya – jauh melebihi gerakan (mahasiswa) yang paling radikal sekalipun8.

Pada akhirnya tulisan ini hanyalah ISAPAN JEMPOL – tapi aku tidak dapat menghindarinya sebagai sebuah bentuk komunikasi, sebagai cara berbagi – pada akhirnya TINDAKAN menyampaikan pesan jauh melebihi kata-kata. Sampai ketemu di barikade!

1 Sasha adalah seorang transeksual yang tinggal di daerah muslim konservatif, Kauman, DIY; coba temukan dia!. Sasha adalah seorang petani di Chiapas, Meksiko, yang berjuang bersama EZLN. Sasha adalah seorang Black Blocker yang bersama-sama kelompok afinitasnya menghancurkan mesin ATM Chase Manhattan selama protes menentang World Economic Forum. Sasha adalah seorang pengayuh becak di Jakarta yang aksi bersama-sama Konsorsium Kaum Miskin Kota. Sasha ada di mana-mana, mungkin dia sedang berada di sampingmu!

2 Sejak Januari sampai Oktober 2001, UPC mencatat penggusuran dan penghancuran 5,785 rumah di Jakarta, artinya sekitar 23,140 orang kehilangan tempat tinggal dan kampungnya. Hanya selama bulan Oktober saja, tercatat 2,470 keluarga atau sekitar 9,880 orang terusir dari tempat tinggalnya karena penggusuran paksa atau ke(pem)bakaran, atau kombinasi keduanya

3 Kekerasan negara dalam penggusuran semakin meningkat, khususnya di Jakarta dengan berbagai operasi resmi : Operasi PMKS, Operasi Yustisi dan Operasi Bantuan Sosialisasi dan Teknis

4 Data Bank Dunia : pada tahun 2001, 30-60% penduduk Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan (artinya dengan pendapatan kurang dari US$2 atau sekitar Rp. !8.000); sedangkan 10-20% hidup dalam kondisi sangat miskin. UNICEF, lembaga PBB yang mengurusi masalah anak-anak, memperingatkan bahwa satu generasi anak Indonesia dapat “lenyap”, akibat kekurangan gizi, tidak mendapatkan cukup pendidikan dan kekurangan akses terhadap pelayanan medis.

5 Keinginan untuk selalu bertindak sesuai dengan tatanan moral yang ada, bagaimanapun juga merupakan bagian dari pola pemikiran kelas penguasa atau borjuis (yang selalu mendefinisikan moral dengan menggunakan tatanan nilai moral yang sudah ada yang notabene selalu menguntungkan kepentingan kelas kaum borjuis).

6 Data PBB menunjukkan bahwa kekayaan 200 orang terkaya di dunia adalah lebih dari kekayaan gabungan 41% penduduk dunia. Data UNDP : Lebih dari 1 milyar orang hidup dengan pendapatan US$1 per hari, suatu indikasi yang dianggap batas kemiskinan absolut.

7 Saatnya menyadari bahwa penghancuran menawarkan segenap potensi untuk kebebasan, untuk mengembalikan gairah yang telah terampas : Gairah yang dihancurkan (oleh sistem) dilahirkan kembali dalam gairah untuk menghancurkan.

8 Ukurlah intensitasnya dalam skala “negasi terhadap properti dan komoditi”.

9 Banyak lagi yang bisa dikatakan untuk hal-hal yang dibahas di sini… anda dipersilakan….

Print This Post Print This Post

You must be logged in to post a comment.