Veteran Irak
terjemah: arm_da_spirit@yahoo.com
Wawancara berikut pertamakali diterbitkan dalam Workers Scud – no patriot can catch us! (London, Juni 1991), sebuah koleksi artikel yang mencerminkan sikap mengenai Perang Teluk.
Perjuangan kelas di Irak – wawancara dengan salah seorang veteran.
T: Dapatkah anda dengan singkat menjelaskan mengenai perjuangan kelas yang terjadi di Irak sebelum penumbangan kekuasaan monarki di tahun 1958
- J: Dalam tahun 1940-an dan awal 1950-an perjuangan kelas berlangsung terutama di daerah pedesaan. Pemberontakan buruh tani (contohnya di Aali-azarchi yang berlangsung sekitar 3 tahun sebelum dengan kejam ditindas) penyebab sakit kepala yang terus menerus bagi tuan tanah semi feodal dan negara.
- Perjuangan di perkotaan meningkat bersamaan pemogokkan buruh minyak di Kirkuk di tahun 1946 (ditundukkan dengan menghilangkan 10 nyawa). Penganguran dan gelandangan merajalela. Terdapat ribuan sarifas (gubuk yang dibuat dari dahan palem) disekitar dan didalam kota Baghdad.
- Tahun 1956 (Krisis Terusan Suez) memberi dampak yang massif atas Irak, disertai demonstrasi terhadap rejim Irak yang dilihat sebagai kaki tangan Inggris. Isu Palestina juga membantu proses radikalisasi. Saya masih saja bertanya-tanya mengapa tidak terjadi sebuah revolusi di tahun 1956! Peristiwa dalam dan luar negeri tersebut membawa kepada terbentuknya Perwira Merdeka (nasionalis/Nasseris) yang memiliki hubungan dengan Partai Komunis Irak (P.K.I) namun tak begitu dekat dengan kaum Ba’th.
T: Dalam pandangan saya terdapat dua kontradiksi utama didalam masyarakat Irak pada saat itu (1946-58). Yang satu antara kemunculan gerakan proletarian dan kapitalisme dan satu lagi, diwariskan dari masa lalu, antara kapitalisme dengan tuan tanah feodal. Anda setuju?
- J: Tidak, saya tidak setuju dengan analisis text-book yang sederhana dan rapi, sebab bahkan sebelum tahun ‘58 kaum feodal menguasai bukan hanya daerah pedesaan tetapi juga daerah perkotaan dalam porsi yang besar. Hotel, pabrik, dan daerah pemukiman dipunyai mereka sebagaimana juga desa-desa. Mayoritas dari kaum buruh tani karenanya merupakan proletarian, namun dengan standar hidup yang jauh lebih buruk dibanding rekan-rekannya di perkotaan.
T: Di tahun 1958 Qasim dan Perwira Merdeka megambil kekuasaan dan menyingkirkan Monarki, tetapi beberapa pencapaian dipulihkan.
- J : Itu benar tetapi hal yang berarti adalah tingkatan perjuangan kelas. Kaum monarki dan sejumlah menterinya dibunuh oleh mereka yang dulunya disebut pelacur. Untuk satu tahun atau lebih tak seorangpun dapat mengontrol kaum buruh. Bahkan P.K.I yang sialnya memiliki basis masif didalam masyarakat (meski serangan-serangannya atas kelas pekerja) tak dapat mengontrol kaum proletariat yang marah, terutama sekali karena para buruh memiliki senjata. Rakyat mengambil makanan dari toko-toko tanpa membayar. Bagi mereka uang telah menjadi barang usang.
T: Saya dengar bahwa bahkan Al-quran tak dianggap suci oleh para buruh.
- J : Ya itu benar sekali. Mereka mengerti sifat reaksioner Islam. Juga di Kirkuk sekitar 90 orang jenderal, kapitalis dan tuan tanah dibawa kejalan, dikalungi tali disekitar lehernya dan diseret berkeliling dengan mobil hingga mati. P.K.I menolak aksi tersebut dan mencoba menjauhkan diri dari “perbuatan berlebihan” para buruh.
- Tetapi secara berangsur-angsur bersamaan dengan reformasi pertanahan, peningkatan harga minyak dan pinjaman dari Uni Soviet, pemerintah berhasil menstabilkan situasi di selatan. Sementara perlawanan di Kurdistan lebih gencar. Kelompok-kelompok buruh tani bersenjata (misalnya di Halabja) yang tak takut terhadap ancaman baik oleh negara ataupun P.K.I dan mengambil alih tanah yang telah ditingglakan oleh tuan tanah pelarian (kebanyakan minggat ke perbatasan Iran). Tuan tanah yang menghilang tersebut akan mengirim para pembunuh ke Irak dan dengan persetujuan diam-diam dari militer membunuh orang-orang revolusioner dan kemudian pergi dengan selamat ke Iran.
T: Mengapa terdapat begitu banyak dukungan bagi P.K.I dan nasionalis Kurdi meski kebijakan-kebijakan reaksioner mereka?
- J: Itu suatu pertanyaan yang sulit. Rakyat tidaklah gembira dengan kedua kelompok tersebut dan terutama merasa dikecewakan oleh P.K.I, tetapi tidak terdapat alternatif revolusioner yang riil jadi rakyat cenderung memberikan keuntungan P.K.I dengan meragukan dan membuat apologi bagi “kegagalan” mereka. Mereka dengan naif akan berkata: “Partai Komunis Irak masih muda dan dimungkinkan untuk membuat kesalahan, tapi segera mereka akan dewasa layaknya rekan-rekan Rusia dan Cinanya” (!!) saya kira dalam hal ini tidak ada kesadaran yang cukup untuk melihat partai-partai tersebut sebagai apa adanya.
- Di tahun 1963 Qasim ditumbangkan oleh kaum Ba’thists dan sebuah masa menghebatnya kekerasan yang berakhir dengan kematian dari ribuan aktivis. Kaum Ba’ths disuplai dengan daftar dari orang-orang dikenal sebagai “pembuat onar” kemungkinan besar oleh CIA. Selama hari-hari akhir Qasim rakyat meminta senjata darinya untuk mempertahankan diri melawan Garda Nasional, namun ia menolak memepersenjatai rakyat. Bahkan saat itu militer begitu tak populernya hingga mereka mesti menipu rakyat agar dapat masuk kedalam kota. Mereka meletakkan foto Qasim didepan tank mereka, rakyat mengira mereka akan melindunginya dari kaum Ba’thists, jadi mereka tak melawannya, hingga semua telah terlambat.
T: Eksperimen kediktatoran Ba’ths yang pertama tidak berhasil tetapi mereka naik lagi ke kekuasaan kembali tahun 1968. Dapatkah anda menceritakan kepada kami mengenai langkah pribadi Saddam Hussein menuju tampuk kekuasaaan?
- J: Saddam adalah seorang penjahat kecil tukang jagal, kemungkinan karena inilah mengapa tak seorangpun tak menganggapnya begitu serius pada saat-saat pertama. Peranannya dalam usaha pembunuhan Qasim dilebih-lebihkan kemudian. Secara berangsur-angsur ia membuat basis kekuatan bagi dirinya sendiri dengan bantuan sukunya Takriti dan tuan-tuan tanah penting.
- Selama 60-an ada tinjauan ulang yang kritis terhadap kebijakan United Front P.K.I dengan para majikan dan para bos yang akhirnya membawa kepada perpecahan oleh Aziz al-Hajj yang terpengaruh oleh Mao dan Che Guevara. Aksi gerilyanya tak berhasil dan kelompoknya dikalahkan, namun ide-idenya tetap sangat populer. Ia sekarang duta besar Ba’thist untuk Perancis !
T: Tidak seperti tetangganya Iran dimana aktivitas gerilya oleh kaum kiri tak pernah mengancam rejim.
- J: Ya, di Irak perjuangan bersenjata jauh lebih luas. Pembunuhan individu kapitalis membawa kepada konfrontasi bersenjata berskala luas, dan harus dikatakan aksi-aksi seperti ini begitu sangat populer diantara rakyat. Tetapi yang sebenarnya kadar keamanan kami yang tak mencukupi. Kami untuk sementara menguasai jalanan karena kami memiliki senjata saat kudeta tahun ‘68 berhasil, kami jadi sangat terekspos. Bahkan para pemimpin kami membuat kesalahan yang menghebohkan, dan bayak kamrad ditangkap dan dieksekusi.
- Saya tidak ingin memberi kesan bahwa rejim hanya menggunakan represi dalam berurusan dengan perjuangan kelas. Tidak, mereka menggunakan taktik wortel dan tongkat yang biasa dan itu berhasil. Antara 1968 dan 1974 negara menjadi jauh lebih kuat. Kembali di tahun 1974 P.K.I mengadakan perjanjian dengan Ba’ths. Adalah menakjubkan bagaimana Stalinis ini sepenuhnya telah merosot (degenerasi). Dalam 1975 perjanjian Algiers antara Saddam dan Shah, bermakna bahwa kedua pemimpin dapat mengalihkan perhatiannya pada persoalan-persoalan internal. Pemberontakan Kurdi runtuh dengan begitu cepat dan Saddam bahkan menjadi lebih bekuas.
T: Dapatkah anda sekarang berbicara mengenai perpisahan anda sendiri pertama dengan Stalinisme dan kemudian dengan Leninisme secara umum?
- J: Kami mengenal beberapa kamrad di Baghdad, Basra dan Kurdistan yang juga merasa tak puas dengan ideologi yang umum. Pada saat itu, kami pikir perjuangan gerilya bersenjata merupakan segala-galanya dan titik akhir revolusi, tetapi perlahan-lahan dan dibawah pengaruh revolusi Iran kami menjadi sangat kritis terhadap aktivitas gerilya.
- Saya melakukan dua kali kunjungan ke Iran selama revolusi dan membawa kembali ide-ide baru. Kami menjadi kenal dengan kritik Trotsky mengenai Stalin dan kemudian hari kami diperkenalkan kepada ide-ide anarkis oleh kamrad dari Baghdad. Terdapat sebuah jurnal berbahasa Lebanon, yang disebut Darasat aI-arabie, yang bersikap kritis baik terhadap Leninisme dan Marxisme. Kami tak selalu setuju dengan mereka, namun mereka mempengaruhi kami sangat besar.
T: Apakah para revolusioner ini mengembangkan kritik mereka sendiri secara independen terhadap Leninisme atau mereka meminjammya dari barat?
- J: Sangat disayangkan kami komunis “timur” telah selalu terkagum-kagum oleh kamrad “barat” kami, dan berpaling dalam arahan mereka untuk inspirasi suci sebagaimana seorang muslim berpaling ke Kiblat. Sebagai akibatnya kami selalu bersandar ada mereka bagi suatu pemahaman akan kapitalisme.
- Namun secara perlahan-lahan kami menyadari bahwa partai dimana kami sebelumnya terlibat adalah seperti kerangkeng bagi pikiran kami, mencekik kemerdekaan kami. Karenanya kami menolak ‘Dunia Ketigaisme’ dan revolusi ‘Sosialis’ dan memahami bahwa satu-satunya jalan yang cukup berharga untuk kami tempuh adalah suatu revolusi Komunis (penghapusan perbudakan upah, uang dan negara). Kami memulai mengkritik Lenin disana sini namun kritik yang lengkap terhadap Leninisme datang kemudian.
- Pada tahapan ini kami memutuskan membentuk sebuah organisasi baru bernama Fasileh (di kemudian hari diubah menjadi Kar). Program kami sangat eklektik. Berisikan hal-hal buruk juga baik. Dengan bantuan beberapa Anarkis kami mulai mempublikasikan sebuah majalah dalam bahasa Arab dan Kurdi. Tingkat perjuangan kelas didalam Irak sangat lemah, namun represi rejim dashyat. Negara berusaha dengan keras mencari kami tetapi kami berhati-hati. Mokhaberat (dinas keamanan) menawarkan hadiah dan akhrnyanya mereka mengerebek kami.
- Saya berhasil lolos tetapi seorang kamrad ditangkap dan kemungkinan besar telah dieksekusi. Kami memutuskan mengirim beberapa kamrad ke luar negeri untuk belajar dari pengalaman proletariat dunia dan membangun kontak internasional. Tapi saat kami tiba disini, kami menemukan tingkat perjuangan kelas bahkan lebih lemah lagi! Hal ini bergandengan dengan masalah pengungsi biasa membawa pada sedikit percekcokkan pribadi yang mana membuat kami melupakan tujuan kami datang keluar negeri. Tetapi sekarang segalanya mulai berjalan kembali, kami sekali lagi mulai mengorganisir diri kami kembali dan bertemu secara teratur.
T: Media disini secara terbuka menyemangati nasionalisme Kurdi. Dapatkah anda menceritakan pada kami asal muasal nasionalisme Kurdi?
- J: Di pertengahan 50-an tidak ada hal semacam gerakan nasionalis Kurdi di Irak. Terkadang pada saat krisis, kapitalisme akan mendorong tuan tanah Kurdi untuk memberi dukungan finansial pada kegiatan pengorganisiran, yang akan mereka namakan “gerakan nasionalis”. Untuk memberi para pemimpin ini kredibilitas, pemerintah pusat akan bergerak “melawan” mereka.
- Pada saat-saat seperti ini, tak ada indentitas patriotik Kurdi yang riil, ia mesti dibantu perkembangannya secara buatan. Orang Arab dan Kurdi melihat perjuangannya sebagai satu kesatuan. Pemimpin nasionalis Kurdi yang berbagi kekuasaan dengan pemerintahan pusat, bercerai dengan mereka sekali mereka memperoleh dukungan dari barat dan Shah. Tetapi mereka tak memiliki sebuah basis rakyat dan harus melarikan diri ke gunung. Mereka mengorganisir milisi tetapi saat pertama dikalahkan dengan berat karena tentara mereka bukanlah sukarelawan. Belajar dari kesalahan , mereka mengorgansir Peshmerga – unit gerilya – dan mencari persenjataan yang lebih baik. Mereka mulai menerjunkan diri dalam pembunuhan sektarian. Sebagai contoh, mereka menculik seorang supir Arab dan mengeksekusinya hanya karena ia menjadi seorang Arab.
T: Kedengarannya mirip dengan nasionalis Irlandia disini?
- J: Ya, sangat mirip, buruh dan pelajar Arab yang tak berdosa dibunuh, dan pemerintahan pada gilirannya akan menciptakan keuntungan dari hal ini dengan mempublikasikan kekejaman “Kurdi’, mengipasi sentimen anti-Kurdi. Jenderal Irak dengan sengaja akan mengirim prajurit muda yang, tak berpengalaman kedalam daerah orang Kurdi, kenal dengan sangat baik mereka hanya akan jadi umpan-meriam bagi peshmerga. Sehari kemudian, sebuah desa Kurdi akan dihancurkan oleh tentara reguler Irak sebagai balasannya. Semua taktik ini membantu memecah belah proletriat. Tetapi walau segalanya, nasionalisme tak belum berhasil untuk menciptakan halangan yang tak terjembatani. Bukti dari ini semua adalah pemberontakan baru-baru ini. Saat orang Irak di selatan bangkit melawan Saddam setelah perang (perang Teluk — penerjemah), usaha mereka didukung oleh orang-orang utara. Tentara Arab di utara, secara sukarela memberikan senjata mereka kepada orang-orang Kurdi.
T: Akhirnya marilah kita bicara tentang masa depan perjuangan kelas di Irak. Saya pikir Amerika masih saja membangun sebuah skenario Rumania, yaitu sebuah pemberontakan rakyat dari bawah diikuti oleh kudeta yang direncanakan sebelumnya dari atas untuk menyingkirkan Saddam. Anda setuju?
- J : Ya, mungkin. Tetapi situasi Irak lebih rumit dibanding Rumania, dan pembagian antara kurdi dan Arab, Arab dan Turki, dan muslim Sunni dan Shiah dapat dengan mudah menuntun pada situasi awal perang sipil. Dan rejim berikutnya kemungkinan akan lebih berorientasikan agama. Jadi terdapat perbedaan dengan Rumania.
- Kelompok terkuat kelihatannya adalah Al-Dawa (Shiah) yang menerima dukungan dari Iran. Radical Ba’ths tak terlalu populer dan memiliki hubungan dengan Syria. P.K.I belum mendapatkan kekuatan yang dulu dimilikinya tetapi tak boleh disepelekan. Basisnya, betapapun, kelihatannya ada dinatara generasi yang lebih tua dan bukan orang-orang muda.
- Mengenai Patriotic Union of Kurds (PUK) dan Democratic Party of Kurdistan (DPK), mereka dulunya memiliki sekitar 5000 peshmergas bersenjata sebelum peristiwa yang baru saja dan bukan merupakan kekuatan yang demikian berarti seperti yang dibuat media. Kota-kota Kurdi sedang dikuasai bukan oleh kelompok-kelompok politik namun oleh rakyat. Akhvan aI-muslimin merupakan organisasi Sunni terakhir yang kuat yang didukung baik oleh Mesir dan kadang-kadang AS. Semua yang mesti dikatakan bahwa masa depan aktivitas proletarian yang otonom di Irak tidaklah terlalu cerah.
Print This Post
