Anarkisme dan Harmoni

Anarkisme?
Oleh : Irvan Irawan Pulungan

I am an anarchist! wherefore I will
Not rule, and also ruled I will not be!
(John Henry Mackay)

Pendahuluan

Sabtu 1 Juli 2006 lalu, saya menyaksikan sebuah diskusi publik yang diadakan oleh stasiun televisi ANTV. Diskusi publik tersebut bertajuk ‘Tindakan Anarkis Berkelompok” diskusi ini menampilkan berbagai stakeholder. Namun lucunya diskusi publik ini sama sekali tidak menampilkan pembicara bahkan peserta dari kaum anarki tulen. Menurut hemat saya para pembicaranya adalah mereka yang kita kenal sebagai praktisi hukum positivistik, sedangkan para pesertanya adalah mereka yang kita kenal sebagai kelompok organizes religion dan atau social banditri.

Bertahun-tahun saya menjadi seorang yang aktif mengkonsumsi berita dari media massa baik elektronik dan tulis. Ada sebuah kata yang begitu menggelitik keingin tahuan saya. Kata itu adalah anarki/anarksime/anarkis. Kita begitu akrab dengan perkataan “tindakan anarkis” untuk menyebutkan tindak kekerasan apapun bentuknya dan siapapun pelakunya, dalam pemberitaan media massa, kata ini digunakan secara luas dari intelektual sampai masyarakat awam. Tapi apakah anarkisme itu sebenarnya? Akhirnya secara komprihensif dan kritis saya mulai mempelajari dan mendiskusikan bahan-bahan anarkisme. Dari kaum oldschool Kropotkin, Kaum 1st International Bakunin dan Praudhon, Emma Goldman sampai William Goodwin, ke para New Shcooler si intelektual Noam Chomsky, Michel Albert, and para Black Block dan Pink Fairy, kubu aliran musik Punk – hardcore – Ska dan membaca/menelaah/mendiskusikan publikasi – publikasi kaum anarki, otonomis dan situasionis lokal dari Konspirasi Kontra Kultura, Jakarta Resistance Movement, sayap Ikarus sampai Kelompok Bawah Atap, diskusi panas dengan para anarkis muda di Semarang Codot Setiadi, Syailendra dari kubu musik dan Angga Bleki yang blanquist.

Ada berbagai filosofi hidup di planet bernama bumi ini, Marxisme pada saatnya pernah menjadi sebuah filosofi hidup yang disalah artikan di barat, saat ini filosofi hidup yang di salah artikan secara luas di barat adalah Islam yang dipandang berkecendrungan antidemokrasi. Namun bila ingin menyebut sebuah filosofi hidup yang disalah artikan bahkan diseluruh belahan bumi, oleh para penentangnya bahkan oleh mereka yang menganutnya, filosofi yang sial itu bernama Anarkisme!

Perkembangan Anarkisme

Dalam perkembangannya kapitalisme mendapat kritik atas pola produksinya, namun akhirnya gerakan kritik tersebut pecah menjadi bebrapa faksi. Faksi pertama dipimpin oleh Marx dan Engels dengan pola perebutan kekuasaan politiknya, faksi ini mendapat bentuknya di tangan intelektual revolusioner V.I Lenin dengan konsep partai pelopor yang sentralisme demokratik. Menurut Lenin dan para bolshevik tua gerakan revolusioner bertumpu pada kaum buruh, yang dipimpin oleh segelintir revolusioner profesional yang menyuntikkan kesadaran, isu dan memimpin kaum buruh sebagai garda depan revolusioner, garda depan ini haruslah mereka yang bergerak klandestin, ringan dalam bergerak, mampu berpropaganda/agitasi dan mampu bertempur (bandingkan dengan kaum baju coklat fasime nazi dan fasci de Combatimento Mussolini). Merekalah yang akan memimpin kaum buruh dalam perjuangan politik. Kepentingan kolektif sehari – hari kaum buruh menjadi alat politik dalam konsep ini. Munculnya Mao di Cina merevisi doktrin dasar ini dengan menambahkan kaum tani dalam konfigurasi utama garda depan revolusioner, sedangkan trio Fidel, Raul dan Che Guevara dengan kepemimpinan intelektual yang angkat senjata. Faksi – faksi lainnya seperti sosialisme demokrasi dibawah Edward Brenstain, kubu Rosa Luxemburg yang keduanya mengawali tradisi SDP Jerman (di Indonesia faksi ini terepresentasi dalam PSI pimpinan Syahrir) tidak akan dibahas dalam tulisan kecil ini.

Faksi kedua lebih dikenal dengan pola gerakan anarko sindikalisnya, yang kedua inilah yang dikenal lebih luas sebagai kaum anarkis. Anarko menggabungkan dua visi revolusioner, pertama adalah visi perjuangan politik dan visi kekuatan ekonomi. Anarko memiliki metode aksi yang terdiri dari : pertama adalah Delegation, kedua Sabotase, ketiga aksi langsung (direct action), kemudian General Strike atau bisa digabungkan satu sama lain atau beberapa diantaranya sesuai kebutuhan. Emma Goldman menyatakan elemen – elemen tersebut hanya akan mencapai kemampuan maksimal dalam transformasi sosial bila didukung dengan kekuatan organisasi massa kaum marginal yang kuat secara ekonomi, kemampuan organisasi, kemampuan politik dan staminta untuk bertahan dalam tekanan koalisi penguasa dan pengusaha.

Dalam perkembangannya tradisi anarkis memang beberapa kali tercebur dalam pola perjuangan aksi kekerasan, seperti yang di lakukan oleh Blanqui, aksi langsung Squammiss Five di Canada era ’80, serta Zengakuren di Jepang. Seorang anarkis tulen Emma Goldman juga pernah melakukan tindak kekerasan, besama dengan Alexander Barkman mencoba membunuh seorang kapitalis industrialis, setelah menjalani pembuangan Emma merevisi tradisi anarkisnya, dengan lantang Emma menyatakan sebuah upaya transformasi sosial menuju kesejahteraan manusia tidak akan dapat mencapai tujuannya bila di lakukan dengan cara-cara kekerasan. Kekerasaan terhadap mahluk hidup menurut Emma adalah hal yang diperangi oleh anarkisme.

Anarkisme saat ini

Revolusi kapitalisme memang masih terus berjalan dengan demikian dahsyat, kita menyaksikan revolusi teknologi informasi dan komunikasi yang demikian masif. Walaupun revolusi (evolusi?) kaum anti-globalisasi-pun berjalan dengan pendulum yang mengayun demikian kencang, kita melihat bagaimana Seatte bergolak, kebangkitan Zapatista, dan yang paling mutakhir adalah pengorganisasian ekonomi anternatif Participatory Economic (ParEcon) dengan visi The Life After Capitalism teori yang dikembangkan oleh Michel Albert. Sungguh mengejutkan! Perkembangan ini menunjukkan bahwa praksis – praksis tersebut adalah tradisi anarkisme selain mungkin Zapatista yang lebih condong pada penguatan negera dan pengakuan eksistensi masyarakat adat dalam pengambilan kebijakan, penentuan prioritas dan tujuan negara Meksiko yang berdaulat dan bermartabat. Namun tetap saja kita dengan mudah melihat tradisi anarkisme pada Zapatista dimana Kaum penutup muka ini menjalankan rezim pemerintahan baiknya, nanpa menunggu dan tanpa peduli dengan pemerintah dan praktek politik praktis yang memuakkan.

Industri humas, informasi dan hiburan adalah salah satu batu penjuru penopang kekuasaan rezim kapitalisme. Bahkan semenjak sebelum 1919, tepatnya saat perang dunia pertama meletus. Rezim kapitalisme yang mulai kokoh di Amerika Serikat dengan John Dewey, sang filsuf pragmatisme memimpin sekelompok intelektual dalam Creel Commision. Komisi inilah dengan Walter Lippman mengembangkan teori demokrasi progresif dimana dalam demokrasi adalah sebuah rezim dengan pemerintahan untuk melindungi kapitalisme pragmatis. Kita dapat melihat bahwa Industri humas, informasi dan hiburan digunakan sebagai alat propaganda yang demikian efektif dalam mendistorsi esensi dari sebuah fenomena masyarakat.

Bila kita dengan kritis membaca koran, mendengarkan radio, menonton berita televisi bahkan dalam tanyangan gosip infotaiment, begitu pula bila kita menonton film – film (biasanya produksi holywood) kita seakan berada dalam sebuah dunia yang demikian brutal, dimana anarkisme/anarkis/anarki menjadi sebuah kata yang bemakna kekerasan/kebrutalan/penghancuran dan atau tindakan protes dengan kemarahan yang merusak. Berita–berita tentang protes akan selalu dengan penayangan visualisasi para pemerotes yang bergandengan tangan mendorong pagar dan atau barikade polisi atau polisi yang memukuli mereka dengan kayu, melontarkan gas air mata atau kadang tembakan peluru karet. Inilah hal–hal yang dianggap memiliki nilai informasi oleh para cukong media dan wartawannya yang demikian tanggung pemahaman jurnalistiknya. Dalam pengalaman penulis bahkan ada seorang wartawan yang berkali–kali memprovokasi dalam berbagai aksi, wartawan tersebut meminta untuk dilakukannya pembobolan gerbang, memberi informasi palsu tentang kesepakatan yang dibangun sebuah faksi dalam aliansi dengan kekuasan (?). Dalam industri hiburanpun kita dapat melihat dengan jelas distorsi makna yang terjadi, dimana band–band yang menganut filososi Anarki digambarkan dengan brutalisme dan keburukan–keburukan kebebasan berpikir dan keburukan kebebasan tanpa tanggung jawab. Yang dengan sangat lucu begitu bertentangan dengan filososi anarki itu sendiri.

Kaum anarki berlandaskan pada pandangan yang bebas dan spontan, tidak ada kebekuan ideologi ataupun dogmatisme praksis. Pengalaman–pengalaman gerakan hanyalah pisau bedah analisis dalam evaluasi dan perumusan aksi langsung. Dengan keadaan media yang demikian rupa, dan pengalaman–pengalaman dengan pilihan kekerasan seperti Blanqui, Hypermarket, Genoa, Krostand, Mahknovist, pengalaman 1936 sampai pengalaman Anne Hansen. Gerakan anarkis merumuskan sebuah pola baru dalam aksi. Dalam aksi–aksi barisan dipisahkan menurut kepercayaannya dan fungsinya masing–masing, barisan kekerasan berbaris dibawah panji–panji biru. Dengan kepercayaan tersebut barisan ini berfungsi sebagai pelindung keseluruhan demonstran dari luka–luka dan penangkapan, barisan ini berisi kelompok–kelompok paramiliter dan garis keras, mereka bertugas berkonfrontasi dengan polisi dan militer, kemudian mereka yang moderat disampingnya dengan warna kuning dan barisan yang menolak kekerasan dalam barisan pink dan perak dibawah pimpinan para bidadari dan malaikat berwarna pink mereka melemparkan kertas berwarna–warni ke udara, membawa pistol air untuk melawan bedil–bedil dan bahkan membawa bulu ayam untuk menggelitik para polisi dan militer ( saya jelas berada dalam barisan ini, kalo si Angga mungkin bersama barisan biru).

Penutup

Anarkisme adalah sebuah proses pembangunan organik. Sebuah filosofi perdamaian yang mendasari kritik-kritiknya pada kemampuan manusia untuk mengatur dirinya sendiri dan hubungan-hubungan antar individu dalam komunitas yang otonom. Pondasinya adalah kepercayaan bahwa manusia terlahir dengan kemampuan– kemampuan bawaan seperti salah satunya kemampuan linguistik, fenomena ini dengan indah dijelaskan oleh Chomsky dalam Teori Linguistik Generatif. Selain kemampuan– kemampuan tersebut saya demikian percaya bahwa manusia juga dilengkapi dengan naluri – naluri dasar yang menurut kami adalah:

  1. Naluri harmonisasi Umat manusia
    Kita akan sangat terkejut mungkin dulu kita teringat sewaktu kecil, kita mendambakan sebuah dunia yang demikian penuh warna dan kebahagiaan. Seiring waktu tahun demi tahun berlalu, kita demikian terdistorsi dengan dunia melalui propaganda dunia. Kita terdistorsi dengan patriotisme yang kadang demikian brutal, kekacauan dan rasa frustasi yang menggelapkan logika dan menghilangkan kemampuan dasar manusia untuk saling bicara dan mendengar.
  2. Naluri Kegotong royongan (mutual aid)
    Dengan demikian anarki adalah sebuah filosofi hidup yang berdasarkan pada komunitas–komunitas bebas dalam bahasa Malastesta Komune Pembebasan (semoga terjemahan saya tentang Komune Pembebasan Errico Malastesta segera selesai) tujuan dari komune–komune ini adalah kesejahteraan sosial yang genuine, dimana seluruh manusia memiliki akses terhadap kehidupan yang layak. Harmonisasi umat manusia adalah satu – satunya tujuan hidup!

Terima kasih, semoga kita semua lekas sembuh.

Referensi

  • Bahan Bacaan
    1. Emma Goldman : Anarchism : What it Realy Stands For.
    2. David Graeber : The New Arachist.
  • Bahan Dengaran
    1. Wall of Blood Wall Of Steel
    2. Ode to Bicycle massenger.
  • Bahan Tontonan
    1. Rebel Without A Pause.
    2. Recleming the Street.
Print This Post Print This Post

You must be logged in to post a comment.