<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pustaka Otonomis &#187; Anarki Komunisme</title>
	<atom:link href="http://pustaka.otonomis.org/category/anarki-komunisme/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pustaka.otonomis.org</link>
	<description>Sekedar sebuah weblog WordPress lainnya</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Feb 2009 06:21:27 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>HUBUNGAN MARXISME LIBERTARIAN DAN ANARKISME</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2008/01/30/hubungan-marxisme-libertarian-dan-anarkisme/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2008/01/30/hubungan-marxisme-libertarian-dan-anarkisme/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jan 2008 08:09:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nikholas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anarki Komunisme]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/2008/01/30/hubungan-marxisme-libertarian-dan-anarkisme/</guid>
		<description><![CDATA[Adalah kualitas dari bentuk libertarian - demokratik, humanis, dan anti-negara yang memungkinkan kalangan anarkis memakai aspek-aspek yang berasal dari Marxisme (seperti analisis ekonomi ataupun teori perjuangan kelas). Walau masih mengandung beberapa kelemahan mendasar dari Marxisme. Dan dalam beberapa hal bahkan juga sebagai kelemahan dari banyak varian anarkisme, ketimbang menjadi alternatif.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>oleh : Wayne Price</em></strong></p>
<p><em>…Kusimpulkan sekali lagi, dan lagi ,bahwa apa yang secara perlahan dan tidak sempurna kutuju secara penuh dan terang-terangkan (bisa saya katakana, begitu indah) adalah apa yang dikatakan oleh Karl Marx. Jadi, aku juga adalah seorang Marxis! Aku memutuskannya secara tegas, bahwa hal ini sangat baik menjadi tradisi dan memiliki kawan-kawan yang bijak. Ini adalah Marx sebagai seorang psikolog sosial. Tapi sebagaimana aksi politik yang terhormat … saya tidak melihat slogan-slogan para Marxian, termasuk Marx sendiri, yang menuju ke sosialisme yang damai (yaitu hilangnya negara dan kekuatan koersif lainnya); justru mereka menghindari hal ini. Bakunin memang benar. Dan saya sepakat dengan Kropotkin.</em> (Paul Goodman, 1962; 34)</p>
<p>Saat ini arus kebangkitan kembali anarkisme di seluruh dunia dijadikan landasan atas kemunduran Marxisme. Meski demikian, ini menyisakan sebuah pertalian antara Marxisme (Marxisme libertarian atau otonomis) dengan kaum anarkis yang memiliki kedekatan dan bahkan menjadi pengikut anarkisme.</p>
<p><span id="more-131"></span>Adalah kualitas dari bentuk libertarian &#8211; demokratik, humanis, dan anti-negara yang memungkinkan kalangan anarkis memakai aspek-aspek yang berasal dari Marxisme (seperti analisis ekonomi ataupun teori perjuangan kelas). Walau masih mengandung beberapa kelemahan mendasar dari Marxisme. Dan dalam beberapa hal bahkan juga sebagai kelemahan dari banyak varian anarkisme, ketimbang menjadi alternatif. Versi Marxisme yang ini memiliki banyak kesamaan dengan pandangan kaum anarkis walau tetap masih ada yang secara mendasar cacat, sebagaimana yang akan kujelaskan.</p>
<p>Sejak kurang lebih dari era 30-an hingga 80-an, posisi anarkisme adalah marjinal di tengah dominasi gereakan kiri international oleh Marxisme. Di saat yang sama di tahun 60-an, di Amerika Serikat dimulai dengan apa yang disebut “demokrasi partisipatoris” , periode yang diakhiri dengan nyanyian “Ho,Ho,Ho Chi Minh, The NLF pasti menang” serta pendekatan pada buku Mao Little Red – untuk mendukung negara barbaris Stalinis. Bahkan aspek-aspek libertarian dalam Marxisme justru diabaikan, seperti organisasi kelas pekerja atau tujuan akan sebuah masyarakat tanpa pekerja yang teralienasi.</p>
<p>Namun di 1989 Tembok Berlin runtuh, berturut setelahnya Uni Sovyet. China memeluk sistem pasar terbuka berbasis kapitalisme. Secara luas, Marxisme didiskreditkan. Bagaimanapun kapitalisme global tidaklah berkembang, kolapsnya kapitalisme negara di Rusia sesunggunya adalah bagian dari krisis global kapitalisme. Dengan bertumbuhnya oposisi yang sebelumnya adalah varian-varian dari Marxisme, telah menyalurkan dirinya ke dalam radikalisme lain: anarkisme.</p>
<p>Sejarah akan kekalahan dan penghianatan dalam Marxisme memasuki dua gelombang besar. Sejak masa Engels, dengan pembentukan partai-partai Sosial Demokraasi di Eropa. Dimana mengambil strategi kecil selain mengupayakan untuk duduk di parlemen, mereka membangun partai-partai massa dan serikat-serikat yang birokratik, hingga kehancurannya dalam PD I. banyak dari partai-partai tersebut mendukung pemerintahan imperialis di masing-masing negaranya dan berperang melawan negara-negara anggota Sosialis Inetrnational. Pada PDI I mereka menentang Revolusi Rusia dan menyabot revolusi di negara mereka, terutama Jerman. Era 30-an, mereka kalah melawan fasisme, dalam hal ini Nazisme. Dukungan yang sama sekali tidak kritis juga terhadap Sekutu pada PD II, mereka kemudian menjadi agen-agen imperialisme Amerika Serikat pada Perang Dingin. Lalu sekarang, partai-partai Sosdem dan Buruh di Eropa mempercayai dengan kuat akan sebuah bentuk masyarakat baru, dengan mengadvokasi sebuah bentuk terlemah dari liberalisme, yang tidak lain adalah neo-liberalisme.</p>
<p>Dalam Perang Dunia I, Lenin, Trotsky dan lainnya berkeinginan untuk sebuah permulaan baru, yakni kembali ke akar revolusioner Marxisme dalam International yang baru. Dan hasilnya sebagaimana setiap orang tahu, negara kapitalis stalinis di Rusia, dan pembentukan partai-partai Stalinis di berbagai negara. Para Stalinis sepenuhnya gagal dalam revolusi kelas pekerja di Eropa maupun di tempat lain (sebagai sasaran asli proyek tersebut). Partai Komunis yang baru hanya dibentuk oleh tentara Rusia dan laskar tani yang dipimpin oleh elit-elit intelektual – mereka yang berasal dari kekuatan non-pekerja. Setelah menciptakan tumpukan-tumpukan mayat, Kapitalisme Negara Rusia terjebak dalam inefisiensinya sendiri yang kemudian pada akhirnya kolaps. Ini kemudian mewariskan penderitaan di Eropa Timur dan sebagian besar Asia. Partai-partai Komunis yang ada kini sama liberalnya dengan partai-partai Sosdem.</p>
<p>Sebagai pelengkap dari dua kegagalan besar Marxisme ini, upaya Trotsky untuk membangun kembali Marxisme Leninisme dalam International Keempat adalah termasuk dari kegagalan tersebut. kecenderungan berbagai Trotskyist hari ini adalah bentuk varian dari Stalinisme, nasionalisme, dan atau sosdem reformis.</p>
<p>Sejarah tersebut akan memperlihatkan Marxisme sebagai hal yang diragukan sepenuhnya. Betapa pun, Marxisme bukanlah hanya pemikiran-pemikiran yang bagus, seperti Kristianitas. Ia harus dipraksiskan, sebuah teori dan praktek. Seperti perkataan Engels, “Untuk mengetahui rasa kue puding kita mesti memakannya.” Kegagalan besar haruslah meragukan hal ini.</p>
<p>Bagaimanapun, Marxisme melanjutkan hal yang menarik dari gerakan Kiri, terutama memudarnya ingatan akan “Komunisme negara-kapitalis” . Hal tersebut memiliki tubuh teori – keseluruhan pustaka teori &#8211;  dan sebuah sejarah akan pengalaman dalam berbagai revolusi besar sejak 1848. Anarkisme, di sisi lain, terkenal tipis akan sumber teori sementara pengalaman revolusionernya mendua. Oleh karenanya banyak penganut anarkisme mencari tambatan dari Marxisme yang mungkin bisa konsisten dengan nilai-nilai dalam anarkisme.</p>
<p>Minoritas ini menjadi kecenderungan dalam Marxisme yang disebut Marxisme Libertarian, atau menurut Harry Cleaver (2000) Marxis Otonomis (makna ‘libertarian’ disini tidak ada hubungannya dengan kelompok Kanan, pro-kepemilikan, libertarian amerika). Secara historis, tendensi-tendensi yang memiliki kontribusi dalam  perkembangan ini adalah kaum “Komunis Konsilis” Eropa setelah PD I, dan “Jhonson-Forest Tendency” (C.L.R James dan Raya Dunayevskya) di era 40 – 50-an, yang keluar dari gerakan Trotskyis, sebagaimana kelompok Socialisme atau Barbarisme-nya Castroardis di Perancis. Ada juga para Situasionis Perancis, dan gerakan-gerakan “Otonomis” terkini di Jerman dan Italia (yang mengejutkan, saya jarang mendapatkan referensi di AS mengenai William Morris, seorang Marxis utopis Inggris yang termasyhur pada 1880-an). Para pengikut Dunayevkya masih menjalankan Komite The News and Letter. Dalam beberapa hal, Castoriadis sangat menarik bahwa dia dan kelompoknya berupaya keras Marxisme Libertarian keluar dari Marxisme secara umum (Curtis, 1997; Dunayevskaya, 1992; Glaberman, 1999; Rachleff, 1976).</p>
<p>Banyak kaum anarkis dapat dilihat sebagai varian dari Marxisme libertarian. Noam Chomsky dalam pengantar sebuah buku anarkisme, mengutip Anton Pannekoek tokoh Komunisme Konsil dan menyimpulkan, “Faktanya, Marxisme radikal bergabung dengan arus-arus anarkis” (1970; xv). Namun, beberapa kalangan Marxis menolak hubungan tersebut. Antonio Negri, pemikir terkemuka dari Otonomis Italia, mengungkapkan dengan tegas dalam bukunya yang berpengaruh, Empire, “…kami bukan anarkis, tetapi komunis…” (Hardt &amp; Negri, 2001; 350). Sementara Cleaver, sang Marxis otonomis (dan mungkin dialah yang menemukan istilah tersebut) menulis di papernya (1993) yang membahas kesamaan yang kuat antara Kropotkin dan Marxisme Cleaver. Dua orang pengikut C.L.R. James menulis, “Marxisme dapat diartikan dengan berbagai bentuk dari anarkisme libertarian sampai kediktatoran totaliter Stalinis. Dan kami cenderung pada yang pertama…” (Glaberman &amp; Faber, 1998;2). Dalam pengertian, inilah kesempatan terakhir dari Marxisme untuk membuktikan ia bisa membebaskan… atau hanya baru saja pantas.</p>
<p>Kaum anarkis boleh saja sepakat atau tidak dengan analisis ekonomi politik Marx. Bagi anarkis, apa yang menjadi hal paling baik dari kecenderungan libertarian dalam Marxisme adalah keyakinan atas bentuk swa-aktifitas kelas pekerja. Mereka menolak anggapan bahwa seorang elit (dalam bentuk sebuah partai) dapat berdiri atas nama pekerja dan berkuasa atasnya. Sebagai gantinya, mereka menekankan pembangunan dewan (council) pekerja dan dewan rakyat dalam pergolakan revolusioner (Root &amp; Branch, 1975). Dewan-dewan inilah yang menurut mereka, yang seharusnya bersatu sebagai kekuatan baru, menggantikan bentuk-bentuk dari negara lama. Ketimbang memfokuskan diri dalam jajaran petinggi serikat pekerja yang besar dan birokratik, mereka lebih memilih perjuangan dari bawah, untuk menunjukkan bagaimana inisiatif kelas pekerja dapat berdampak pada proses produksi harian (Glaberman &amp; Faber, 1998). Mereka mempelajari bagaimana caranya sebuah aksi massa yang dapat mengambil alih kendali, melampaui apa yang digariskan oleh pejabat serikat pekerja (Brecher, 1972). Ketertarikan mereka adalah pada kreatifitas kelas pekerja dan seluruh kelas tertindas, yang dalam istilah Negri dan Cleaver disebut ‘self-valorization’ . Beberapa pemikiran revolusioner yang terpenting dari Perjuangan Pembebasan Kaum Kulit Hitam dikembangkan oleh C.L.R. James – walaupun ide-idenya lebih banyak berkembang sebelum perpecahannya dengan Trotskyisme (McLernee, 1996).</p>
<p>Selama masa Depresi Besar dan Perang Dingin, ketika kaum anarkis masih sedikit, Marxis otonomis tetap mempertahankan gagasan-gagasan akan swa-aktifitas dari para pekerja. Mereka tetap mempertahankan oposisi revolusioner terhadap Stalinisme sebagai hal yang serupa dengan kapitalisme Barat. Mereka menganalisis Stalinisme dengan baik sebagai bentuk Kapitalisme Negara, alih-alih sebagai jenis masyarakat menuju sosialisme (negara pekerja, masyarakat paska kapitalis, negara transisi, dll). Mereka mengumumkan bahwa paska PD II, kemenangan kapitalis tersebut sesungguhnya mengandung cacat. Prediksinya adalah keruntuhan – sebagaimana terbukti di tahun 60-an (Mattick, 1969). Para anarkis menghargai semua ini.</p>
<p>Para Marxis libertarian terus mengupayakan reinterpretasi Marxisme dari versi ortodoks yang diajarkan oleh kaum sosial demokrat maupun para Stalinis. Marxisme kebanyakan melihat proses sejarah berjalan dengan sendirinya, tahap demi tahap, antitesis setelah tesis, hingga kapitalisme mencapai tahapan akhirnya (secara optimis disebut dengan kapitalisme lanjut, atau kapitalisme tahap akhir), yang kemudian dengan tidak terelakkan akan digantikan sosialisme, lalu komunisme. Sejarah bagi Marxis ortodoks adalah sesuatu yang terjadi terhadap manusia sebagai lawan dari apa yang manusia lakukan. Bagi mereka, ‘kesadaran kelas’ berarti para pekerja menjadi sadar akan apa yang harus dilakukannya berdasarkan proses sejarah. Ini senantiasa dikutip dari perkataan Hegel, “Kebebasan adalah pengenalan atas keterpaksaan” . Dengan senantiasa mengacu bahwa sosialisme “tidak terelakkan”, pemikir Marxisme mainstream melihat sosialisme sebagai hasil atas proses otomatis dari pembangunan sosial. Secara alami, lawan-lawan Marxisme dari kiri sampai kanan, sudah menunjukkan bahwa sekalipun hal tersebut dikatakan tidak bisa dihindari tapi bukan berarti hal tersebut mesti diupayakan. Apa yang ditawarkan sosialisme sehingga mengharuskan para pekerja (dan membiarkan yang lainnya) berjuang dan berkorban? Marxisme ortodoks tidak bisa menjawab semua ini.</p>
<p>Upaya kaum Marxis libertarian untuk mengguncang otomatisasi Marxis (sebagaimana yang saya rujuk) belumlah bisa dikatakan berhasil penuh. Terutama mereka belum sepenuhnya berhasil menjelaskan bahwa ini bukanlah misinterpretasi atas Marxisme, tetapi justru pusat dari Marxisme-nya Marx. Seluruh poin dalam Das Kapital merujuk bahwa sosialisme pasti terjadi. Namun kau dapat membaca di semua volume dari tulisan-tulisan Marx (saya juga punya) tidak ada satupun pernyataan tentang mengapa sosialisme itu baik atau begitu berharga untuk dicapai. Bagaimanapun, Marx banyak mengkritisi kaum utopis dan anarkis atas mencuatnya pertimbangan moral dalam mencapai sosialisme.</p>
<p>Konsepsi otomatis dan amoral dari Marxisme menghasilkan dampak negatif. Bagi Bolshevik, hal tersebut menjadi pembenaran atas tiraninya.  Mempercayai bahwa partailah yang paling tahu akan kebenaran absolut mengenai apa yang mesti dilakukan (yakni, memiliki kesadaran kelas yang benar), dan tentu saja ini hanyalah penjabaran tugas-tugas sejarah yang mendesak, mereka merasa benar untuk membunuh atau melakukan penindasan – dengan alasan pembebasan umat manusia tentunya. Betapapun, mereka mengetahui kelak hal tersebut akan dibenarkan.</p>
<p>Untuk kaum sosial demokrat, keotomatisan amoral ini memberikan pembenaran akan sikap pasif dan kebijakan yang tidak revolusioner. Mereka membentuk partai politik yang berlaga dalam pemilu, dan mendukung organisasi massa yang bernegosiasi dengan modal. Padahal mereka tak punya strategi apapun kecuali terus menerus berjalan seperti itu. Sementara itu, mereka terus melakukan penindasan dengan mendukung imperialisme negaranya. Mereka juga berfikir bahwa kelak ini dapat dibenarkan.</p>
<p>Hal ini juga menerima pembangunan kapitalis, yang dipercaya dapat mendorong ke arah sosialisme, kebanyakan Marxis menerima aspek-aspek lain dalam kapitalisme. Teknologi anti-lingkungan, yang ditempa untuk tujuan  eksploitasi, telah dikuasai. Begitu pula dengan tendensi sentralis dalam ekonomi, politik, dan organisasi militer yang diciptakan untuk kesengsaraan umat manusia.</p>
<p>Ini bukanlah untuk mengingkari bahwa ada sebuah kecenderungan dalam kapitalisme yang berpotensi mendorong ke arah kebebasan sosialis, khususnya perjuangan kelas pekerja, seperti halnya yang dipikirkan Marx. Namun ada kecenderungan sebaliknya (seperti kecenderungan akan disuap atau pekerja yang lebih miskin untuk menyerah). Tidak ada otomatisasi disini, tidak hal yang tidak dapat dihindari, mengenai revolusi sosialis. Kapitalisme tidak mungkin menciptakan sosialisme untuk kita.</p>
<p>Beberapa Marxis libertarian, seperti James dan Dunayevskya serta pengikutnya, telah berupaya keluar dari Marxisme versi mekanik tersebut dan kembali pada filsafat Hegel. Inilah akhir yang mematikan. Memang benar bahwa dialektika Hegel menggambarkan dunia yang bergerak dinamis, kontradiktori, dan menunjukkan saling keterhubungan (menyerupai ekologi), bukannya mekanik dan kaku. Namun dia melihat bahwa sejarah tetap ikut proses otomatis, bergerak ke akhir yang tidak bisa dihindari. Ujung tersebut adalah ciptaan dari filsafat Hegel – dan, pada masyarakat, monarki Prusia – sebagai titik kulminasi sejarah. Organisasi The News and Letters sekilas memandang keberadaannya dalam rangka untuk menjelaskan kepada pekerja hubungan aksi-aksi mereka dengan filsafat Hegel. Juga untuk mengorganisir para aktifis agar lebih mendalami studi atas versi realitas (membawa Hegel ke pekerja) yang otoritarian dan mengalienasi ini sebagai bentuk dari elitisme. Marx membebaskan dirinya dari Hegel dan ini adalah kesalahan untuk mundur kembali.</p>
<p>Cleaver (yang tidak terlalu banyak mengikuti Hegel) juga menunjukkan kegagalan yang sama bagi otomatisasi Marxis, bahkan ketika dia telah berfikir melewati semua itu. Sebagai contoh, ia memuji Kropotkin (Cleaver, 1993) untuk menunjukkan bagaimana aspek masa depan telah muncul, dan menunjukkan bagaimana kekuatan hari ini dapat menjelma di masa mendatang. Berkebalikan dengan itu, Cleaver secara spesifik menolak interpretasi George Woodcock bahwa Kropotkin mengungkapkan berbagai hal kemungkinan yang bisa terjadi. Cleaver juga menolak  analisis apapun yang terkait dengan apa yang seharusnya atau sebaiknya terjadi di masa mendatang. Sebagai gantinya, Kropotkin menurut Cleaver memfokuskan pada indikasi-indikasi hari ini yang dapat dipastikan dan sah dikembangkan dalam anarkisme komunis.</p>
<p>Sungguh menarik bahwa hal ini adalah aspek dari Kropotkin yang dikritik Malatesta. Errico Malatesta, anarkis besar Italia menuliskan dalam “Recollections and Criticisms of an Old Friend&#8221; (1977; pp. 257-268), sebagai sebuah penghormatan atas Kropotkin. “Dua kekeliruan” utama Kropotkin, yang dikritiknya secara khusus adalah “fatalisme mekanistik” dan “optimismenya yang berlebihan”. Malatesta secara tersirat mengungkapkan bahwa kekeliruan ini mengantar Kropotkin menghianati anarkisme atas dukungannya pada Sekutu di PD I (Jerman diduga bertentangan dengan pengembangan kerjasama dan asosiasi bebas dalam negara-negara sekutu). Cleaver tidak menyebutkan ini, hal yang semestinya bagi seorang pengagum Kropotkin.</p>
<p>Otomatisitas mekanik dari Marxis libertarian tidak melalui sebuah konsep partai tapi dalam pemikiran mereka, yakni melalui massa. Mereka percaya diri bahwa pada akhirnya para pekerja akan melakukan hal yang benar. Kaum libertarian menunjukkan sedikit penghargaan atas kesadaran yang bercampur diantara pekerja, yang dipengaruhi gegap gempitanya media massa. Mereka mengingkari kebutuhan untuk mengorganisir dalam rangka melawan kaum konservatif atau sosial demokrat maupun kekuatan Stalinis di dalam kelas pekerja. Sebagai Marxis, para otonomis justru adalah pasif sebelum kekuatan sejarah.</p>
<p>Sama halnya dengan itu, komunis konsil menolak ide bahwa sosialisme dapat berhasil di negara tertindas, karena mereka terlalu miskin dan secara teknologi tertinggal untuk mengembangkan sebuah masyarakat luas yang diperlukan sosialisme (komunisme). Oleh karena itu, komunis konsil menerima kapitalisme (atau kapitalisme negara) sebagai bentuk terbaik dari penindasan sebuah negara yang paling mungkin di era ini. Mereka tidak melihat bhawa negara-negara neo-kolonial adalah bagian dari sistem kapitalisme dan oleh karena itu esensi dari revolusi proletariat adalah revolusi sosialis di seluruh dunia.</p>
<p>Dalam kaitannya dengan penerimaan otomatisitas Marxis, kaum Marxis libertarian sungguh sayang berada dalam posisi lemah, seperti banyak kaum anarkis, bahkan lebih buruk. Terdapat barisan anarkisme yang menuju pembangunan organisasi revolusioner yang dapat berfungsi dalam organisasi massa seperti (tapi bukan hanya) serikat buruh (Malatesta, atau gerakan platformis Makhno). Tapi Marxis libertarian sangat trauma dengan Leninisme dimana mereka menolak segala organisasi revolusioner – membuat hal ini hampir mustahil memahami mengapa mereka mengorganisir, jika mereka mengorganisir. (dan jangan lupa, Catroriadis juga membangun sebuah organisasi dan Socialism or Barbarism juga dibahas dalam tulisan ini).</p>
<p>Meyakini bahwa pekerja pada akhirnya akan membuat segala sesuatunya menjadi baik, para Marxis libertarian justru cenderung menjadi pasif dalam hubungannya dengan isu atas strategi atau organisasi. Contoh paling aneh adalah pernyataan seorang otonomis Italia, Antonio Negri (dan M. Hardt, 2000): “Menolak anggapan umum bahwa para proletariat AS lemah dikarenakan rendahnya perhatian partai dan serikat pekerja terhadap Eropa … mungkin kita seharusnya melihat ini lebih kuat demi tepatnya alasan-alasan tersebut. kekuatan kelas pekerja tidak berada dalam institusi representatif tetapi justru dalam antagonisme dan otonomi pekerja sendiri” (h. 269). Melalui pendapat ini, kemunduran drastis beberapa serikat pekerja di AS, dan keberhasilan para penghancur kekuatan serikat pekerja, telah berhasill membuat pekerja AS lebih kuat. Bilamana semua serikat pekerja dihancurkan, maka pekerja akan lebih kuat dari semuanya! Lalu mengapa para kapitalis terus menerus menekan serikat pekerja?</p>
<p>Kaum komunis konsil memang tepat menolak Lenin dalam hal melawan negara-partai dan mengupayakan sebuah sistem melalui dewan-dewan pekerja. Namun ini tidak membuktikan bahwa mereka benar pada hal lain, seperti misalnya dalam fleksibilitas strategi dan taktik yang diusung Lenin. Mereka juga benar melawan Lenin dalam menolak elektoralisme namun keliru dalam menolak berpartisipasi dalam serikat pekerja. Saya tidak sedang berargumen disini sekarang, namun saya menekankan bahwa tidak ada keterkaitan yang jelas antara masing-masing masalah. Masalah-masalah tersebut perlu dipecahkan secara terpisah-pisah.</p>
<p>Marxis otonomis, sementara itu, sama lemahnya dengan kelemahan anarkisme. Tidak melihat kebutuhan akan organisasi mandiri yang revolusioner. Ini jelas tidak fleksibel secara strategis, terutama dengan menolak bekerja dalam serikat pekerja, organisasi massa utama dalam kelas pekerja. Ini belum bisa melampaui kelemahan kunci dari Marxisme, utamanya pandangan otomatisasi Marxis atas sejarah.</p>
<p>Ada banyak hal dalam Marxisme yang dapat digali oleh kaum anarkis. Di antaranya, Marxisme menunjukkan hubungan antara fungsi kapitalisme dengan pengembangan kapasitas kelas pekerja dalam swa-aktifitasnya, dan mendorong pada penciptaan masyarakat sosialis yang revolusioner. Namun Marxisme, ya Marxisme, bukanlah sekedar kumpulan konsep-konsep yang bisa diambil atau ditinggalkan begitu saja. Ini bermakna sebagai sebuah cara pandang yang total dan menyeluruh atas sebuah kelas baru. Termasuk dalam ekonomi (teori nilai), strategi politik (elektoralisme) , sebuah metode tentang analisis kelas (materialisme historis), serta filsafat alam (materialisme dialektika) – semuanya kecuali pandangan etik dan moral. Kesemuanya berdiri maupun runtuh atas satu hal. Seperti biasanya, Marxisme bukan program dari kelas pekerja, seperti yang dimaksudkan, namun hanya program kelas berkuasa dari negara kapitalis.</p>
<p>Dalam beberapa hal, ini dapat disamakan dengan liberalisme. Banyak hal dari anarkisme diambil dari liberalisme klasik. Para anarkis sepakat dengan gagasan liberal seperti kebebasan berbicara, berserikat, pluralisme, federalisme, demokrasi dan hak menentukan nasib. Namun liberalisme hari ini adalah wajah kiri dari kapitalisme imperialis dan kita bukanlah kaum liberal! Sama halnya dengan sebelumnya, disaat beberapa hal diambil dari Marxisme, maka kaum sosialis yang percaya akan pembebasan akan lebih baik untuk menjadi seorang anarkis.</p>
<p>Brecher, J. (1972). Strike! San Francisco: Straight Arrow(Rolling Stone).<br />
Chomsky, N. (1970). Introduction. In D. Guerin (1970).<br />
Anarchism. NY: Monthly Review Press.<br />
Cleaver, H. (2000). Reading Capital Politically. San Francisco, CA: AK Press.<br />
Cleaver, H. (1993). In T.V. Cahill, ed. Anarchist Studies. Lancaster, UK: Lancaster University (2/24/93).<br />
Curtis, D.A. (1997). (Ed. and trans.). The Castoriadis Reader. Oxford, UK: Blackwell.<br />
Dunayevskya, R. (1992). The Marxist-Humanist Theory of State Capitalism. Chicago: News and Letters.<br />
Glaberman, M. (1999). Marxism for Our Time: C.L.R. James on Revolutionary Organization. Jackson: University Press of Mississippi.<br />
Glaberman, M. &amp; Faber, S. (1998). Working for Wages: The Roots of Insurgency. Dix Hills, NY: General Hall.<br />
Goodman, P. (1962). Drawing the Line: A Pamphlet. NY: Random House. Partially reprinted in P. Goodman (1979) Drawing the Line: The Political Essays of Paul Goodman (T. Stoehr, ed.). NY: E.P. Dutton.<br />
Hardt, M., &amp; Negri, A. (2000). Empire. Cambridge, MA: Harvard University Press.<br />
Malatesta, E. (1984). Errico Malatesta: His Life and Ideas. V. Richards, ed. London: Freedom Press.<br />
Mattick, P. (1969). Marx and Keynes: The Limits of the Mixed Economy. Boston: Porter Sargent. McLemee, S. (1996). (Ed.). C.L.R. James on the &#8220;Negro Question.&#8221; Jackson: University Press of Mississippi.<br />
Rachleff, P. J. (1976). Marxism and Council Communism: The Foundation for Revolutionary Theory for Modern Society. New York: Revisionist Press.<br />
Root and Branch (1975). Root and Branch: The Rise of the Workers&#8217; Movements. Greenwich, CN: Fawcett Publications</p>
<p>Penerjemah : Ipang<br />
Sumber : <a href="http://libcom.org/library/libertarian-marxisms-relation-anarchism" target="_blank">http://libcom.org/</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2008/01/30/hubungan-marxisme-libertarian-dan-anarkisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Komunisme Anarkis</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2006/05/22/komunisme-anarkis/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2006/05/22/komunisme-anarkis/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 May 2006 13:36:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anarki Komunisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/v2/2006/05/22/komunisme-anarkis/</guid>
		<description><![CDATA[KAUM anarkis yang menyebut dirinya komunis (dan aku juga salah satu di antaranya) tidak tampak seperti yang lain, karena mereka berkeinginan untuk menunjukkan jalan yang berbeda dalam melihat hal-hal daripada orang lain, atau karena mereka mempercayai bahwa di luar komunisme tidak akan ada jalan keselamatan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>KAUM anarkis yang menyebut dirinya komunis (dan aku juga salah satu di antaranya) tidak tampak seperti yang lain, karena mereka berkeinginan untuk menunjukkan jalan yang berbeda dalam melihat hal-hal daripada orang lain, atau karena mereka mempercayai bahwa di luar komunisme tidak akan ada jalan keselamatan. Tetapi karena mereka telah percaya sehingga terbukti salah bahwa semakin banyak umat manusia yang bergabung dalam satu prinsip persaudaraan dan semakin dekat orang bekerjasama dalam upayanya untuk memperoleh keuntungan yang mereka inginkan, maka semakin besarlah kesejahteraan dan kemerdekaan yang bisa mereka nikmati.</p>
<p>Mereka percaya bahwa manusia meskipun sudah terbebas dari represi sesamanya akan tetap menghadapi kekejaman alam yang tidak dapat ditangani sendiri tetapi dengan bekerjasama dengan orang lain, ia dapat dijinakkan, ditransformasikan ke sejumlah cara untuk kepentingan kesejahteraannya. Manusia yang berkeinginan untuk menyediakan kebutuhan-kebutuhan materialnya dengan bekerja sendiri melegalkan perbudakan bagi pekerjaannya, seperti halnya ia selalu tak yakin bahwa terus bekerja akan membuatnya hidup.</p>
<p><span id="more-77"></span>Akan sangat fantastis untuk berpikir bahwa beberapa kaum anarkis, demikian mereka menyebut dirinya sendiri, dan sungguh-sungguh komunis mau berbagi hidup dalam suatu peraturan yang umum, makanan dan pakaian yang seragam, dsb.; tapi akan sangat absurd untuk berpikir bahwa mereka harus mau melakukan itu karena mereka suka tanpa melibatkan mereka terhadap keinginan yang lain atau tanpa hak-hak persamaan kemerdekaan.</p>
<p>Semua orang tahu bahwa Kropotkin, yakni seorang yang paling dari kaum anarkis yang sangat propagandis dalam gagasan-gagasan komunis, pada saat yang sama membela kemerdekaan individu dan secara sabar menginginkan bahwa setiap orang harus dapat berkembang dan memuaskan secara bebas bakat-bakat artistiknya, terlibat dalam penelitian ilmiah dan terlibat dalam membina persatuan yang harmonis antara aktivitas sehari-hari dan intelektual untuk menjadi umat manusia paling sempurna yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Lebih lanjut lagi, kaum anarkis percaya karena perbedaan-perbedaan alami dalam hal kesuburan dan lokasi dimana ia berada maka sangat tak mungkin untuk menjamin kondisi kerja yang sama untuk setiap individu dan akhirnya akan dicapai, jika bukan solidaritas, paling tidak keadilan.</p>
<p>Tetapi pada saat yang sama mereka waspada pada kesulitan-kesulitan yang mungkin muncul dalam hal penerapannya dalam praktik bahwa komunisme yang bebas dan mendunia yang mereka cari merupakan tujuan terutama dari emansipasi kemanusiaan dan kebersamaan tanpa periode panjang dari perkembangan bebas dan bagi semua alasan ini mereka sampai pada satu kesimpulan yang dapat dirumuskan dalam kata-kata berikut:</p>
<blockquote><p><em>Diperolehnya takaran terbesar bagi individualisme adalah dalam rasio langsung terhadap jumlah komunisme yang dimungkinkan yakni dapat dikatakan solidaritas maksimum untuk memuaskan kebebasan maksimum.</em></p></blockquote>
<p><strong>Referensi</strong></p>
<ul>
<li> Judul : Komunisme Kaum Anarkis</li>
<li> Penulis : <a href="http://pustaka.otonomis.org/index.php?title=Errico_Malatesta" title="Errico Malatesta">Errico Malatesta</a></li>
<li> Dikutip dari : &#8220;Pensiero &amp; Volonta&#8221;, 1926 dalam Donald Rooum, <em>What Is Anarchism? An Introduction</em>, Freedom Press, London: 1992, hal. 32-33</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2006/05/22/komunisme-anarkis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Komunisme Primitif Hingga Komunisme Libertarian</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2006/05/22/dari-komunisme-primitif-hingga-komunisme-libertarian/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2006/05/22/dari-komunisme-primitif-hingga-komunisme-libertarian/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 May 2006 13:27:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anarki Komunisme]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/v2/2006/05/22/dari-komunisme-primitif-hingga-komunisme-libertarian/</guid>
		<description><![CDATA[KOMUNISME, bagi banyak orang, merupakan kata yang memiliki implikasi negatif. Hingga akhir abad ke-20 ini, komunisme diasosiasikan dengan Rusia atau Uni Soviet, sebuah negara yang sama sekali bukan negara sosialis maupun komunis, melainkan suatu bentuk kapitalisme negara yang amat totaliter dan kejam.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>KOMUNISME, bagi banyak orang, merupakan kata yang memiliki implikasi negatif. Hingga akhir abad ke-20 ini, komunisme diasosiasikan dengan Rusia atau Uni Soviet, sebuah negara yang sama sekali bukan negara sosialis maupun komunis, melainkan suatu bentuk kapitalisme negara yang amat totaliter dan kejam. Kaum sosialis sejati maupun komunis libertarian memiliki tugas yang berat untuk menunjukkan bahwa komunisme maupun sosialisme sama sekali tidak pernah terdapat di negara-negara seperti Uni Soviet, Kuba atau bahkan Yugoslavia. Mereka juga harus menerangkan bahwa komunisme, dalam bentuknya yang primitif, pernah ada sebagai suatu bentuk masyarakat, dalam jangka waktu yang panjang &#8211;hingga dua juta tahun atau lebih&#8211; sejak munculnya manusia di bumi.</p>
<p><span id="more-76"></span>Sejak lenyapnya komunisme primitif, dan timbulnya masyarakat yang mengakui kepemilikan pribadi &#8211;pertama perbudakan, kemudian feodalisme dan terakhir kapitalisme&#8211; <em>&#8220;kantung-kantung&#8221;</em> komunisme kerakyatan bertahan hingga masa baru-baru ini. Kelompok komunis kecil telah dibentuk, sering kali oleh <em>&#8220;intelektual&#8221;</em> borjuis maupun borjuis-kecil, dengan berbagai tingkat keberhasilan. Namun sepanjang masa, ide mengenai komunisme, yang biasanya memiliki kecenderungan utopis atau anti-teknologi, tumbuh &#8211;dan kadang kala dikembangkan&#8211; oleh kelompok-kelompok kecil yang idealis. Baru setelah pertengahan abad ke-19, individu dan kelompok politik menyarankan suatu bentuk komunisme yang baru dan maju sebagai masyarakat yang akan menggantikan kapitalisme; suatu masyarakat yang lebih &#8220;tinggi&#8221;, memajukan kepentingan orang banyak, bukan hanya sekelompok kecil kelas seperti kapitalisme; dan yang terpenting, akan timbul dari sebagian terbesar rakyat &#8211;kaum buruh&#8211; melalui suatu revolusi sosial. Beberapa tokoh komunisme modern, terutama dalam dekade-dekade awal abad ke-19 dianggap sebagai komunis &#8220;utopis&#8221;; yang lain, para pengikut Marx dan Engels, menyebut dirinya &#8220;komunis ilmiah&#8221;, namun mereka dituduh sebagai &#8220;komunis otoriter&#8221; oleh lawan-lawan anarkis mereka, yang dalam banyak kesempatan, berusaha menumbuhkan suatu bentuk sosialisme atau kolektivisme non-otoriter, yang kemudian muncul sebagai komunisme libertarian.</p>
<p><strong>Komunisme Primitif</strong></p>
<p>Ciri-ciri utama keprimitifan adalah ketergantungan pada sumber-sumber makanan &#8220;liar&#8221;, dengan segala keterbatasannya. Masyarakat primitif sering kali mengalami malnutrisi dan dihantui kelaparan. Komunitas-komunitas berukuran kecil. Hanya pada saat-saat tertentu sajalah terdapat cukup banyak makanan. Namun, bentuk kehidupan tersebut mendorong tumbuhnya kode etik yang amat sederhana. &#8220;Kepemilikan pribadi&#8221;, demikian Grahame Clark dalam Dari Perbudakan ke Peradaban (From Savagery to Civilisation), <em>&#8220;&#8230;terbatas pada benda-benda seperti senjata, tongkat untuk menggali, kantung dan benda-benda kecil lainnya, meskipun dalam pembagian daging, misalnya, bagian tiap orang didefinisikn secara sosial. Hak-hak komunal berlaku pada seluruh wilayah tempat pencarian makanan, tempat anggota masyarakat berkelana, dan batas-batas wilayah kelompok lain.&#8221;</em> Menurut Peter Kropotkin, &#8220;Dalam kelompok, segalanya dibagi bersama-sama, semua potong makanan dibagikan untuk semua yang ada, dan jika seseorang berada di dalam hutan, ia tidak akan mulai makan sebelum tiga kali memanggil rekan-rekan yang mungkin mendengarnya untuk membagi makanannya.&#8221; &#8220;Singkatnya&#8221;, lanjut Kropotkin, <em>&#8220;&#8230;dalam kelompok, aturan &#8217;segalanya untuk semua&#8217; merupakan aturan tertinggi, selama belum ada masyarakat yang berkelompok berdasar pada keluarga, yang memecahkan persatuan kelompok itu&#8221;</em> (Mutual Aid).</p>
<p>Mengenai komunisme primitif, Paul Lafargue dalam Evolusi Kepemilikan dari Perbudakan Hingga Peradaban (Evolution of Property from Savagery to Civilisation) berkomentar: &#8220;Jika manusia primitif tidak mampu membayangkan ide kepemilikan pribadi terhadap benda-benda yang tidak langsung berkaitan dengan dirinya, itu karena ia tidak memiliki konsepsi mengenai individualitasnya secara terpisah dari kelompok masyarakatnya. Manusia primitif dikelilingi bahaya yang terus mengancamnya, yang konkrit, dan ia dicemaskan oleh ancaman-ancaman yang ia bayangkan, sehingga ia tidak dapat hidup sendiri: ia bahkan tidak dapat membayangkan kemungkinan terjadinya hal tersebut. Bila manusia primitif dibuang dari masyarakatnya, sama sajalah dengan membunuhnya; …untuk berpisah dari rekan-rekannya,untuk hidup sendiri, menakutkan bagi manusia primitif, yang biasa hidup dalam kelompok…perburuan dan penangkapan ikan, mode-mode produksi primitif, dilakukan secara bersama-sama, dan hasilnya dinikmati bersama…&#8221;.</p>
<p>Ketika manusia primitif tidak lagi hidup secara berpindah-pindah, dan mulai membangun tempat tinggal yang permanen atau semi-permanen, bangunan rumah tersebut biasanya bukanlah rumah pribadi seperti kita kenal sekarang ini, melainkan dihuni bersama-sama. Dalam rumah-rumah seperti itu, barang-barang yang ada dipakai dan dimiliki bersama. Pada masa yang lebih belakangan (dalam beberapa masyarakat asli Amerika), Lewis H. Morgan mengamati: &#8220;Keluarga syndasmian merupakan ciri-ciri khusus. Beberapa keluarga tersebut tinggal di satu rumah, mendirikan rumah tangga komunal, dan di dalamnya melaksanakan prinsip-prinsip komunisme&#8221; (Masyarakat Kuno). Pengamatan Morgan ini dilakukan pada kaum Iroquis, yang pernah hidup bersamanya. Kemudian, dengan timbulnya keluarga patriarkis, rumah tangga menjadi milik keluarga tunggal. Namun, dalam masa ini, tanah tetap dimiliki secara bersama-sama.</p>
<p>Tetapi, lanjut Lafargue, &#8220;Perlahan-lahan pemikiran mengenai kepemilikan pribadi, mulai timbul dalam pikiran manusia. Manusia mengalami proses perkembangan yang lama dan menyakitkan hingga mencapai kepemilikan tanah secara pribadi. Bahkan, pembagian tanah yang paling awal adalah pembagian untuk lahan dan wilayah berburu untuk seluruh kelompok. Perkembangan pertanian menjadi sebab utama pembagian tanah bersama, kadang kala menjadi lahan-lahan kecil, kadang-kadang bersifat permanen, namun lazimnya tahunan. Lafargue mencatat bahwa umumnya &#8220;kepemilikan tanah pada awal-awalnya berada pada kaum perempuan&#8221;. Dan, tentang peran permpuan dalam komunisme primitif, Frederick Engels menulis, &#8220;Rumah tangga komunis berarti supremasi perempuan di rumah, sebagaimana pengakuan eksklusif terhadap orang tua perempuan &#8211;karena tidak mungkinnya mengenali orang tua laki-laki secara pasti&#8211; memberikan posisi yang tinggi kepada ibu atau perempuan. Salah satu anggapan yang paling absurd yang berasal dari Zaman Pencerahan di abad ke-18 adalah bahwa pada awal peradaban, perempuan merupakan budak laki-laki. Dalam semua masyarakat primitif pada tingkat rendah dan menengah, bahkan hingga sebagian masyarakat berperadaban tinggi, posisi perempuan tidak saja bebas, namun dihargai pula&#8221;. (Asal-Usul Keluarga, Hak Milik Pribadi dan Negara). Dan Lafargue mencatat bahwa &#8220;Kepemilikan tanah, yang pada akhirnya memberikan pemiliknya suatu cara emansipasi dan supremasi sosial, pada awalnya merupakan penyebab penindasan; perempuan disingkirkan untuk melakukan pekerjaan kasar di ladang, hingga mereka terbebaskan oleh adanya buruh kasar. Pertanian, yang mendorong kepemilikan pribadi atas tanah, menciptakan buruh kasar yang selama berabad-abad dikenal sebagai budak, pekerja paksa dan pegawai&#8221;.</p>
<p>Singkatnya, menurut Engels, &#8220;Pada semua tahap-tahapan awal masyarakat, produksi pada hakekatnya merupakan kegiatan bersama, sebagaimana konsumsi bergantung pada distribusi langsung produk-produk dalam komunitas komunis kecil atau besar. Produksi kolektif ini sangat terbatas, namun inheren di dalamnya adalah kontrol para produsen terhadap proses produksi dan produknya. Mereka tahu apa yang dilakukan terhadap produknya: mereka mengkonsumsinya; produk-produk tidak meninggalkan tangan mereka. Dan selama produksi berlangsung demikian, produksi tak dapat meningkat amat pesat, ataupun menumbuhkan kekuasaan dari luar terhadap mereka, seperti selalu terdapat dalam peradaban.&#8221;</p>
<p>Singkatnya, itulah Komunisme Primitif.</p>
<p><strong>Komunisme Utopis</strong></p>
<p>Gejala komunisme utopis atau komunisme yang mengidamkan masa lampau dapat ditemukan sejak revolusi budak pada tahun 71 SM. Spartakus dikatakan berkata, &#8220;Apapun yang kita ambil, kita miliki bersama-sama, dan tidak ada yang boleh memiliki apapun selain senjata dan pakaiannya. Kita akan berlaku seperti manusia di masa lampau.&#8221; (Spartacus, oleh Howard Fast).</p>
<p>Kebencian kelas dan suatu bentuk komunisme utopis dijalankan oleh banyak kaum Kristen Purba, yang pada masa itu sebagian besar terdiri dari kaum plebeia atau bekas budak. Kisah Para Rasul menunjukkan bahwa &#8220;…semua memiliki segalanya bersama-sama&#8221;. Dan dalam khotbah kesebelas dalam kitab tersebut, dikatakan, &#8220;Terberkatilah mereka, karena tidak seorang pun dari mereka berkekurangan, dan karena mereka memberi dengan ikhlas, tak seorang pun dari mereka miskin. Mereka tidak memberikan sebagian milik mereka; mereka memberikan semuanya… Apa yang diperlukan seseorang diperoleh dari milik bersama, bukan dari milik pribadi salah seorang dari mereka. Maka mereka yang berderma tidak menjadi sombong… Semua memberikan semua yang mereka miliki menjadi milik bersama…&#8221; Dalam tulisannya, Pondasi Kekristenan (Foundations of Christianity), Karl Kautsky berkomentar bahwa dalam Injil St. Yohanes, kehidupan komunis Yesus dan para rasulnya diterima sebagai suatu fakta yang biasa. Namun komunisme ini utamanya hanya dalam konsumsi. Kaum Yahudi Esseni juga mempraktikkan komunisme serupa. Komunisme Kristiani segera berkurang dan hilang. &#8220;Penerimaan perbudakan, juga meningkatnya pembatasan untuk makan bersama dalam komunitas, bukan sebab satu-satunya halangan bagi komunitas Kristiani untuk mengefektifkan tendensi komunisnya&#8221;, tulis Kautsky. Kaum simpatisan yang kaya bergabung dengan Gereja, uang menjadi penting, terjadilah konsesi-konsesi peraturan, dan mereka yang kaya menemukan kunci Surga &#8211;dengan harga tertentu! Singkatnya, menurut Kautsky, &#8220;Para kaisar Roma tunduk kepada komunitas Kristiani, bukan komunisme Kristiani. Kemenangan Kristianitas bukanlah kediktatoran proletariat, namun kediktatoran para tuan yang menjadi besar dalam masyarakatnya. Para pejuang dan martir komunitas awal, yang telah membaktikan miliknya, kerja-kerja mereka, bahkan jiwa mereka demi keselamatan mereka yang miskin dan menderita, hanyalah memberikan dasar untuk suatu penindasan dan eksploitasi yang baru&#8221;. Namun, pemikiran dan ideal komunisme tidak sama sekali hilang, bahkan dari Gereja Kristiani.</p>
<p>Komunisme kadang kala timbul dalam masa yang dikenal sebagai Abad Pertengahan. Ini sering kali dikenal sebagai &#8220;komunisme agraria&#8221;; namun sebagaimana ditunjukkan Frank Ridley dalam Tradisi Revolusioner di Inggris (The Revolutionary Tradition of England), &#8220;Komunisme dalam Abad Pertengahan pada hakekatnya adalah komunisme religius: yang mengambil bentuk pelanggaran tradisi dan hirarki agama yang baku, baik di Barat maupun di Timur… ia merupakan salah satu kekuatan utama yang mendorong revolusi sosial selama masa tersebut. Para propagandisnya yang tak kenal lelah merupakan para murtad, dari dunia bawah tanah yang tak terkenal, yang selalu bergolak di bawah permukaan masyarakat Abad Pertengahan.&#8221; Komunisme ini, tentu saja, dari kondisi masa itu, merupakan komunisme konsumsi agraria, dan bukan komunisme produksi industrial modern. Ia juga religius, maka juga merupakan komunisme yang memandang-ke-belakang. Tapi kalau tidak begitu, lantas apa lagi yang bisa menjadi contoh? Semua komunisme dan revolusi yang bertujuan komunisme sebelum Revolusi Industri selalu memandang ke belakang sebagai modelnya. Namun satu contoh menarik adalah komunisme John Ball dan para petani penggarap yang ikut serta dalam revolusi besar-besaran pada tahun 1381.</p>
<p>Tulisan ini tidak membahas lebih lanjut sebab-sebab revolusi tersebut, yang mencakup Perang Seratus Tahun, kekurangan tenaga kerja penggarap karena wabah pes, penderitaan para penggarap dan propaganda komunis religius-agraria dari para Lollard.</p>
<p>Sebelum revolusi besar tersebut, seorang pastor, yang berbasis di Colchester, bernama John Ball, berkeliling negeri, dan berbicara kepada orang-orang di manapun mereka berkumpul. Ball mungkin &#8220;agitator&#8221; komunis pertama. Khotbahnya merupakan syair, &#8220;Ketika Adam mencari-cari dan Hawa berjalan, Siapakah sang tuan?&#8221; Setelah dibebaskan dari penjara Rochester, Ball berbicara dalam sebuah pertemuan penggarap di Blackheath, pada tanggal 12 Juni 1381. Apa yang ia katakan tidak diketahui secara tepat, namun Charles Poulson dalam Episode Inggris (English Episode) dan William Morris dalam Sebuah Mimpi John Ball (A Dream of John Ball) memberikan gambaran demikian. Demikian John Ball, menurut Poulson: <em>&#8220;…Pada awalnya semua manusia setara, semuanya saudara. Mengapa ada orang yang berkata &#8216;Aku lebih mulia daripada kamu&#8217;? Mengapa seseorang bekerja sepanjang hari di ladang, dan masih tak dapat memberi makan anak-anaknya, sedangkan seorang lain mengambil kehidupan dari kaum miskin dan menjadikannya jubah bermutiara untuk punggungnya?…Aku katakan kepada kalian, meskipun penuh dengan kebanggaan, pakaian yang indah, tangan yang bersih dan wewangian, Kebangsawanan itu jahat… Dan sebenarnya inilah waktu untuk berseru. Aku melihat kalian di depanku, wahai saudaraku, dan tidak seorangpun dari kalian tidak bekerja sepanjang hidup kalian, dari terbitnya sang surya hingga tenggelamnya. Dan kalian kini mengenakan gombal sebagai pakaian. Gabah dan ternak kalian gemukkan, tapi kalian kurus kering. Segenggam kacang saja, makanan kalian hari ini. Semua yang kalian rawat, semua yang kalian buat dan bangun, diambil dari kalian. Denda ini, pajak itu, dan tenaga kalian. Tuan kalian yang mulia menghisap darah kalian seperti vampir. Tidakkah kalian akan makmur dan bahagia, bila tidak ada yang diambil dari kalian? Maka aku berkata, saudaraku, mari kita beri makan anak-anak kita di muka para tuan. Mari kita hentikan perampokan ini.&#8221;</em><br />
Dan menurut Morris, Ball berkata demikian: <em>&#8220;…terlalu banyak orang kaya di daerah ini; bahkan bila hanya ada satu orang kaya pun, masih terlalu banyak, karena semua akan dikuasainya… Dan bila para tuan tersebut telah tiada, apa yang berkurang dalam diri kalian? Kalian tak akan kehilangan ladang yang kalian bajak, tidak pula rumah yang kalian bangun, bukan juga pakaian yang kalian tenun: semuanya akan menjadi milik kalian, dan semua yang diberikan bumi menjadi milik bersama; ia yang menyemai akan menuai, dan si penuai akan makan bersama dalam persaudaraan… tak seorangpun harus membajak ladang seorang lainnya…&#8221;</em></p>
<p>Pada kesempatan lain, Ball menyatakan bahwa, <em>&#8220;Keadaan Inggris tak akan menjadi baik, dan tak akan pernah demikian, hingga semua menjadi milik bersama&#8221;</em> (Lihat A People&#8217;s History of England, oleh A.L. Morton). Pandangan serupa tumbuh di tempat lain di Eropa, terutama di kalangan Jacquerie di Perancis sekitar empat puluh tahun sebelumnya. Di Inggris, pandangan ini kemudian terkubur selama berabad-abad. Barulah pada &#8220;Pemberontakan Besar&#8221; &#8211;Revolusi Inggris&#8211; pada abad ke-17 kita menemukan kembali ide dan eksperimen komunisme.</p>
<p>Pemikiran komunisme utopis diterima pada kalangan &#8220;Perata&#8221; (Levellers), namun pada saat itu komunisme belum diterima di kalangan warga kota, yang belum memiliki proletariat industrial. Dalam Cromwell dan Komunisme (Cromwell and Communism), Eduard Berstein berkata, &#8220;Rencana-rencana komunisme paling-paling hanya bisa menarik kaum pekerja pedesaan pada saat-saat tertentu. Bahkan, dalam Pemberontakan Besar, tidak sekalipun terdapat gerakan kelas independen pada kaum buruh perkotaan, meskipun pada puncak gerakan tersebut terdapat beberapa usaha pemberontakan komunisme agraria.&#8221;</p>
<p>Seorang rekan John Liburne, bernama William Walwyn, menyerang ‘ketidaksetaraaan pembagian benda-benda dalam kehidupan’, dan mengklaim, seperti John Ball sebelumnya, bahwa &#8220;dunia tak akan pernah menjadi baik hingga semuanya dimiliki bersama&#8221;. Dan terhadap penentang komunisme, ia berkomentar, &#8220;Nanti kebutuhan kita akan pemerintahan akan berkurang, karena tidak akan ada lagi pencuri, pengingin milik orang lain, penipu dan perlakuan buruk satu terhadap yang lain, maka pemerintah tidak akan diperlukan lagi.&#8221; William Walwyn tampaknya anarkis-komunis pertama di Inggris! Terdapat pula lainnya yang menyarankan pemikiran serupa, sering kali dengan mengutip dari Kitab Suci Kristiani.</p>
<p>Dan ada pula yang mengkonkritkan pemikirannya dalam praksis. Di antaranya terdapat &#8220;Perata yang Benar&#8221; (True Levellers) seperti mereka menyebut dirinya, atau &#8220;para penggali&#8221; sebagaimana dikatakan orang-orang lainnya.</p>
<p>Pada hari Minggu, tanggal 8 April 1649, tiba-tiba di dekat Cobham di Surrey, muncul sekelompok orang yang membawa sekop, yang mulai menggali lahan tidur di samping bukit St. George. Mereka bertujuan menanam gandum dan tanaman lainnya. Mereka menerangkan kepada warga sekelilingnya bahwa jumlah mereka pada saat itu masih kecil, namun akan segera meningkat menjadi empat ribu orang. Mereka menyarankan bahwa &#8220;rakyat biasa seharusnya bisa menggali, membajak, menanam dan berdian di tanah milik bersama tanpa menyewa atau membayar biaya apapun&#8221;. Setelah mereka mendirikan tenda, mengolah tanah dan bersiap-siap untuk menggali di bukit lainnya, juga untuk ditanami (jumlah mereka kini sekitar 50 orang), mereka diserang tentara dan banyak yang ditangkap. Winstanley, pemimpin mereka, diadili. Tidak seorang pun dari para &#8220;penggali&#8221; siap untuk mempertahankan diri mereka dengan kekerasan. Hampir semua didenda tinggi. Kemudian, mereka berusaha lagi untuk mengambil alih lahan tidur lainnya, namun mereka ditangkap lagi &#8211;dan didenda lagi. Mereka juga menerbitkan pamflet, yang beberapa di antaranya &#8220;ditulis dalam bahasa yang rumit&#8221;, yang dikatakan Bernstein sebagai &#8220;tabir untuk menyembunyikan rencana revolusioner para penulisnya&#8221;. Salah satu pamflet tersebut menyatakan bahwa &#8220;pada awal mula, Sang Pencipta menjadikan bumi milik bersama&#8221;. Mereka juga menggubah sebuah &#8220;Lagu Penggali&#8221; dengan isi serupa.</p>
<p>Pada wahun 1651, Gerrard Winstanley menulis The Law of Freedom on a platform yang di dalamnya ia tulis: Tidakkah jual beli hak yang sah dalam hukum? Tidak, itu merupakan hukum sang penakluk, namun bukan hukum sang Pencipta: bagaimana sesuatu yang salah bisa menjadi benar?… Ketika manusia memulai jual beli, ia kehilangan kesuciannya, karena pada saat itu ia mulai menindas dan menipu satu sama lain dari hak-hak mereka yang sah.&#8221;</p>
<p>Ia melanjutkan bahwa meskipun tanah negara dan gereja seharusnya digunakan bersama, kenyataannya tanah-tanah ini dirampas oleh para perwira dan berbagai macam spekulator. Ia mengatakan bahwa seharusnya tiada lagi orang kaya maupun orang miskin; tidak ada lagi ketidaksetaraan; seluruh &#8220;tanah dan gudang makanan menjadi milik bersama&#8221;; tidak ada lagi jual beli dan terakhir, tidak ada lagi profesi di bidang hukum. Namun, Winstanley tidak menentang organisasi &#8220;Semua pejabat dalam peradilan bersama yang benar harus dipilih. Setiap tahun harus dipilih pejabat baru untuk menggantikan yang lama&#8221;. &#8220;Ketika masa jabatan lama&#8221;, demikian menurutnya, &#8220;mereka menjadi busuk&#8221;. Bahkan, kelompok &#8220;Perata yang Benar&#8221; ini memiliki sebuah platform yang penuh dengan &#8220;pasal&#8221; dan &#8220;klausa&#8221;! Utopis, memang kelompok &#8220;Perata&#8221; ini, namun paling tidak pemikiran dan organisasi mereka lebih maju dan praktis daripada beberapa anarkis &#8220;modern&#8221;! Lebih lagi, hanya sedikit komunis utopis pada masa itu merupakan pasifis. Di dalam angkatan perang Cromwell, terjadi sejumlah pemberontakan mulai dari tahun 1647. Sayangnya, gerakan-gerakan pada masa itu tampaknya kemudian berkembang (atau menyusut) menjadi Quakerisme (yang memiliki ciri religius yang amat kuat) dan kecenderungan perulangan.</p>
<p><strong>Marxisme</strong></p>
<p>Masyarakat pada tahap awal pra-peradaban adalah komunis primitif. Namun beberapa ribu tahun lalu, sejak pengolahan tanah dan surplus produksi yang terjadi, perbedaan kelas menjadi tampak. Peperangan mulai diorganisir; suatu Negara yang represif timbul. Tawanan perang sering kali dipaksa untuk mengolah tanah atau membangun kuil-kuil dan piramid untuk tuan-tuan mereka yang baru. Demikianlah imperium budak pada masa lampau. Kekayaan cenderung terakumulasi pada beberapa orang kaya. Keruntuhan imperium budak yang terakhir &#8211;Imperium Romanum yang telah dekaden&#8211; mengawali suatu masa baru. Sekitar seribu tahun lalu, di Eropa dan berbagai tempat lain, suatu bentuk baru masyarakat berkepemilikan dan suatu bentuk baru perbudakan, secara bertahap timbul. Masyarakat ini disebut feodalisme. Si budak kini menjadi penggarap. Tuannya memiliki tanah, dan si penggarap mengerjakan tanah tuannya, memperkaya sang tuan, dan sebagai balas jasa ia boleh menggarap sedikit tanah untuk dirinya sendiri. Ia hanya mendapatkan sedikit untuk hidup, biasanya, bahkan kurang. &#8220;Diperlukan beberapa ribu tahun perbudakan untuk menyiapkan jalan menuju feodalisme. Dan kemudian diperlukan beberapa abad feodalisme untuk menyiapkan jalan menuju suatu bentuk masyarakat baru &#8211;kapitalisme&#8211; yang benihnya telah tumbuh dalam masyarakat feodal&#8221; (Socialist Manifesto, S.P. of C).</p>
<p>Kekayaan dan kekuasaan warga kota, paling tidak sebagian dari mereka, meningkat, dan kekayaan serta kemakmuran kaum bangsawan pemilik tanah menurun. Kaum bangsawan menjadi semata-mata parasit bagi masyarakat. Tuan-tuan baru dalam masyarakat &#8211;setelah perjuangan yang panjang, kemunduran dan pula revolusi&#8211; adalah para penduduk kota yang kemudian dikenal sebagai borjuasi. Perdagangan dan pertukaran meningkat. &#8220;Begitu terbebas dari kekangan feodalisme, gerak maju kapitalisme menjadi suatu pacuan yang gila. Di manapun, pabrik dan tanur tumbuh. Asap dan bau mereka mengubah lahan-lahan yang semula subur dan berpenduduk padat menjadi tanah-tanah miskin yang tak dapat dihuni; limbah mereka meracuni dan mencemari sungai-sungai hingga mereka berbau busuk ke langit…&#8221; (Socialist Manifesto).</p>
<p>Suatu kondisi baru perbudakan menggantikan feodalisme. Kaum sosialis, baik Marxis maupun non-Marxis menyebutnya &#8220;perbudakan-demi-upah&#8221;. Mantan penggarap, dan kadang kala, petani bebas, digusur dari tanah mereka dan digiring menuju kota-kota, tempat mereka terpaksa (karena bila mereka menolak, mereka terancam kelaparan &#8211;dan memang demikianlah adanya!) untuk bekerja di pabrik-pabrik dan tambang-tambang milik tuan-tuan mereka yang baru, kaum borjuis, para pemilik modal &#8211;para kapitalis. Para buruh itu menciptakan, sebagaimana para budak dan penggarap, surplus produksi untuk para tuan, jauh di atas apa yang mereka perlukan untuk dapat bertahan hidup. Kapitalisme, sebagai suatu masyarakat, berdasar pada upah kerja dan modal.</p>
<p>Dengan perkembangan kapitalisme, para ekonom dan lainnya, termasuk reformis sosial dan &#8220;intelektual&#8221; sosialis utopis mulai menganalisis masyarakat yang baru berkembang ini. Suatu alur pemikiran baru mulai timbul, yang membahas sifat-sifat kapitalisme. Utamanya, sejak tahun 1844, pemikiran ini diasosiasikan dengan dua orang Jerman, yang telah bertahun-tahun hidup di Inggris, yang pada masa itu merupakan negara yang kapitalismenya paling maju. Mereka adalah Karl Marx dan Frederick Engels &#8211;meskipun mereka mengakui hutang pemikiran mereka kepada ekonom dan filsuf yang telah ada, baik Marx maupun Engels sangat keras menentang apa yang mereka anggap sebagai sosialisme dan komunisme yang &#8220;tidak ilmiah&#8221;, juga terhadap mereka yang menyebut dirinya &#8220;Sosialis Sejati&#8221;.</p>
<p>Hingga tahun 1845, Engels masih terpengaruh pemikiran komunis utopis. Pada paragraf terakhir dalam Kondisi Kelas Buruh di Inggris (The Condition of the Working Class in England), pada tahun 1844 ia menulis &#8220;Komunisme pada prinsipnya melampaui batasan antara borjuasi dan proletariat… Komunisme merupakan masalah kemanusiaan, dan bukan hanya masalah para buruh saja… Dan sebagaimana komunisme mengatasi pertikaian antara borjuis dan proletar, akan lebih mudah bagi elemen-elemen yang lebih baik dari dalam borjuasi… untuk bergabung dengannya…&#8221; Namun pada tahun 1847, ketika ia merancang Prinsip-Prinsip Komunisme (Principles of Communism) &#8212; yaitu draft pertama Manifesto Komunis yang terkenal itu &#8211;Engels memulai dengan menyatakan bahwa &#8220;Komunisme merupakan doktrin mengenai kondisi terbebasnya proletariat&#8221;. Dalam Prinsip-Prinsip Komunisme, Engels menyatakan bahwa kaum buruh tidak memiliki apapun dan terpaksa menjual kerja mereka kepada borjuis; namun kemudian setelah Marx mempelajari moda produksi kapitalis, ia menyataan bahwa buruh tidak menjual kerja mereka, melainkan tenaga mereka, kemampuan mereka untuk bekerja.</p>
<p>Pada tahun 1845, Marx menulis Ideologi Jerman (German Ideology), yang antara lain membahas dan menyerang pikiran para pemikir idealis Jerman, dan pada bagian kedua buku itu, para sosialis &#8220;sejati&#8221; dan komunis utopis seperti Saint-Simon, Fourier dan Proudhon. Ia juga menyerang Proudhon dalam Kemiskinan Filsafat (Poverty of Philosophy). Namun, buku &#8220;klasik&#8221; pertama dari komunisme &#8220;ilmiah&#8221; &#8211;yang kemudian dikenal pula dengan komunisme otoriter&#8211; tentu saja adalah Manifesto Komunis. Untuk seterusnya, buku ini tetap menjadi pegangan utama, meskipun Engels menulis dalam prakatanya untuk tahun 1872 bahwa bagian-bagian tertentu dari program &#8220;dalam beberapa hal telah ketinggalan zaman&#8221;.</p>
<p>Manifesto Komunis bermula dengan menyatakan bahwa &#8220;Suatu hantu sedang menjadi momok Eropa &#8211;ialah hantu Komunisme&#8221;. Sejarah semua masyarakat yang telah dan pernah ada, menurutnya, adalah sejarah perjuangan kelas. Namun masyarakat kita kini &#8211;kapitalisme&#8211; telah menyederhanakan permusuhan kelas. &#8220;Semua masyarakat kini terbagi menjadi dua pihak yang bertentangan, dua kelas besar yang saling bermusuhan: borjuasi dan proletariat.&#8221;, demikian Manifesto. Marx dan Engels, dalam Manifesto (yang pertama kali terbit pada tahun 1848) secara terbuka menunjukkan perbedaan mereka dengan kaum utopis dan sosialis &#8220;sejati&#8221;, dengan menyatakan bahwa kaum proletarlah &#8211;meskipun melalui Partai Komunis&#8211; yang akan meruntuhkan masyarakat borjuis. Menurut Manifesto, &#8220;Semua gerakan sejarah yang telah ada merupakan gerakan minoritas, atau memajukan kepentingan minoritas. Gerakan kaum proletar merupakan gerakan yang sadar dari mayoritas, demi kepentingan mayoritas&#8221;. Ini patut dicatat karena banyak dari mereka yang mengaku Marxis pada masa kini dan semua Leninis menganut garis &#8220;partai pelopor&#8221;. Marx dan Engels menekankan bahwa kaum buruh tidak memiliki negara. Dalam hal apapun mereka dapat dianggap tidak memiliki apapun. Patut dicatat bahwa pada tahun 1848 dan untuk seterusnya, Marx dan Engels menggabungkan propaganda mereka tentang komunisme dengan suatu daftar kondisi-kondisi yang harus direformasi. Seperti banyak yang lain, mereka merasa bahwa mereka dapat menyarankan penghapusan masyarakat borjuis sekaligus pada saat yang sama melakukan &#8220;reformasi&#8221; pada masyarakat yang sama! Manifesto, antara lain menuntut pajak pendapatan progresif yang tinggi, penghapusan hak waris, penyitaan hak milik imigran dan pemberontak, pemusatan kredit pada negara, pemusatan alat-alat transportasi pada negara, organisasi angkatan perang modern dan pendidikan masyarakat yang gratis. Dengan kata lain: kapitalisme-negara!</p>
<p>Pandangan mereka mengenai komunisme di masa depan, terangkum demikian: &#8220;Ketika dalam perkembangannya perbedaan kelas telah lenyap, dan seluruh produksi terkonsentrasi pada individu-individu yang terkait, kekuasaan publik akan kehilangan sifat politiknya. Kekuasaan politik, secara spesifik, merupakan kekuasaan suatu kelas yang diorganisir untuk menindas kelas lainnya. Jika proletariat, yang dipaksa dalam perjuangannya melawan borjuasi untuk mengorganisir diri sebagai suatu kelas, menjadikan dirinya suatu kelas penguasa melalui revolusi, dan sebagai kelas penguasa menghancurkan kondisi-kondisi produksi yang telah usang; ia menghancurkan bersama kondisi-kondisi tersebut, kondisi-kondisi antagonisme kelas, kelas-kelas pada umumnya, dan dengan demikian, dominasinya sebagai sebuah kelas.</p>
<p>Sebagai ganti masyarakat borjuis yang usang, dengan kelas dan pertentangan kelasnya, suatu hubungan kemasyarakatan muncul, yang dalamnya perkembangan bebas anggota-anggotanya merupakan syarat perkembangan bebas bagi seluruh masyarakat tersebut.&#8221;</p>
<p>Manifesto Komunis diakhiri dengan kalimat &#8220;Kaum buruh di seluruh dunia, bersatulah&#8221; yang kini terkenal itu.</p>
<p>Dalam makalahnya yang ditujukan untuk Sidang Umum Internasional Pertama (yang kemudian diterbitkan sebagai Nilai, Harga, dan Keuntungan (Value, Price and Profit), bukan Upah, Harga, dan Keuntungan (Wages, Price and Profit), seperti seringkali dikatakan, terutama di Rusia), Marx menyerukan kepada kelas buruh untuk menghapuskan sistem upah, sebagai tujuan jangka panjang, dan bukan dalam waktu dekat. Ini terjadi pada tahun 1865. Sepuluh tahun kemudian, dalam Kritik Program Gotha (Critique of the Gotha Program), Marx mengelaborasi pandangannya mengenai masyarakat komunis.</p>
<p>Demikian menurut Marx, &#8220;Di dalam masyarakat kooperatif, yang berdasarkan pada kepemilikan bersama alat-alat produksi, para produsen tidak saling menukarkan produk mereka…Yang kita bahas di sini adalah sebuah masyarakat komunis, bukan ketika ia telah berkembang dan matang, sebaliknya, ketika ia baru timbul dari masyarakat kapitalis. Ia adalah suatu masyarakat yang masih memiliki ciri-ciri ekonomi, moral dan intelektual masyarakat lama yang melahirkannya&#8221; Di sini, Marx menyatakan bahwa produsen menerima kembali tepat sebanyak yang ia berikan; ia menerima alat tukar yang senilai jumlah kerja yang ia lakukan. &#8220;Persamaan hak dalam hal ini masih pada prinsipnya hak kapitalis…&#8221; Hal ini masih memiliki keterbatasan kapitalis. Jadi, menurut Marx, hak ini adalah sebuah &#8220;hak untuk tidak setara&#8221;. Namun ia menyatakan, &#8220;masalah ini tak dapat dihindari dalam tahapan pertama masyarakat komunis&#8221;. Tetapi &#8211;dan ini merupakan pernyataan yang sangat penting dan terkenal dalam Critique, &#8220;Dalam tahap yang lebih lanjut dalam masyarakat komunis, setelah lenyapnya penindasan individual dalam pembagian kerja, dan demikian pula pertentangan antara kerja tangan dan otak; setelah kerja tidak hanya menjadi cara mempertahankan hidup namun juga keinginan tertinggi dalam hidup; ketika perkembangan semua keahlian individual meningkatkan kekuatan-kekuatan produksi, dan semua sumber-sumber kemakmuran mengalir dengan deras bagi semua&#8211; barulah cakrawala hak-hak kapitalis yang terbatas itu dapat ditinggalkan, dan dalam masyarakat akan terdengar seruan “Dari setiap orang berdasar keahliannya, untuk semua orang berdasar kebutuhannya!&#8217;&#8221;.</p>
<p>Pada bagian kedua Critique, Marx bertanya, &#8220;Lalu apa perubahan yang akan dialami institusi negara dalam masyarakat komunis?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Antara sistem kemasyarakatan kapitalis dan komunis terdapat masa perubahan revolusioner. Ini merujuk pada masa transisi politik, ketika Negara tidak bisa tidak merupakan kediktatoran proletariat yang revolusioner&#8221;. Marx pada masa ini tidak pernah berpikir mengenai &#8220;kematian&#8221; atau &#8220;kelayuan&#8221; negara. Untuk pemikiran-pemikiran itu, kita harus mendengarkan Engels &#8211;lama setelah itu.</p>
<p>Karya-karya Engels terpenting mengenai komunisme/sosialisme adalah Anti-Duhring, yang pertama kali terbit pada tahun 1878, dan Asal-Mula Keluarga, Kepemilikan Pribadi dan Negara (Origin of te Family, Private Property and the State), pertama terbit 1884. Bagian-bagian dari Anti-Duhring telah dikenal sebagai Socialism:Utopian and Scientific. Dalam bagian ketiga Anti-Duhring, Engels mula-mula membicarakan teori-teori dan koloni-koloni komunis Robert Owen, demikian pula pemikiran Saint-Simon dan Fourier. Orang-orang tersebut dituduh Engels sebagain utopis, namun ia juga menjelaskan bahwa &#8220;para utopis itu menjadi utopis karena memang pada masa produksi kapitalis belum begitu berkembang, tak ada jalan lain selain menjadi utopis&#8221;. Setelah menganalisis masyarakat borjuis dengan cara serupa &#8211;namun lebih jelas daripada&#8211; Marx, Engels kemudian memberikan gambaran metode Marxis &#8220;klasik&#8221; mengenai pencapaian sosialisme.</p>
<p>&#8220;Proletariat merebut kekuasaan negara, dan menjadikan alat-alat produksi sesegera mungkin menjadi milik negara. Namun dengan melakukan ini, ia tidak lagi menjadi proletar; ia menghentikan semua perbedaan dan permusuhan kelas; ia mengakhiri negara sebagai negara.&#8221; Dan &#8220;Ketika pada akhirnya (negara) benar-benar mewakili masyarakat secara keseluruhan, ia menjadikan dirinya tidak diperlukan lagi. Begitu tidak ada lagi kelas dalam masyarakat yang perlu dikekang; begitu pertentangan dan akibat buruk yang timbul dari dominasi kelas dan perjuangan eksistensi individu yang berdasar pada moda produksi lama yang anarkis telah hilang, tiada lagi yang perlu ditindas yang memerlukan suatu kekuatan represif, yakni suatu negara. Tindakan pertama negara yang menunjukkan dirinya sebagai perwakilan masyarakat secara keseluruhan &#8211;yaitu pengambilalihan alat-alat produksi atas nama masyarakat&#8211; sekaligus juga merupakan tindakan terakhirnya yang independen sebagai negara. Pemerintahan atas orang-orang digantikan dengan pengelolaan hal-hal dan arah proses produksi. Negara tidaklah &#8220;dihapuskan&#8221;, ia layu dan mati.&#8221; Dalam Sosialisme: Utopia dan Keilmuan (Socialism:Utopian and Scientific), dikatakan &#8220;Ia (negara) mati&#8221;. Pada bagian tentang produksi, Engels menyatakan bahwa produksi harus direvolusionerkan dari &#8220;atas ke bawah&#8221;; kerja produktif akan menjadi kesenangan, bukan beban, produksi dengan memanfaatkan industri modern, akan berdasar pada &#8220;suatu rencana luas&#8221;; dan akan terjadi penghapusan perbedaan kota dan desa, demikian pula pembagian kerja yang usang.</p>
<p>Dalam Asal Mula Negara (Origin of the State), Engels menyatakan bahwa proletar harus menyusun partainya sendiri dan memilih wakil-wakilnya untuk duduk dalam parlemen. &#8220;Keikutsertaan dalam pemilihan umum secara menyeluruh&#8221;, menurutnya, &#8220;menjadi tolok ukur kematangan kelas buruh. Ia tidak bisa dan tidak akan bisa lebih baik, namun sudah cukup&#8221;. Mengenai negara, ia menyatakan bahwa negara tidak selalu ada dari dulu. Ada masyarakat yang bisa bertahan tanpa negara. Negara pada akhirnya akan runtuh. Bahkan ia berkata, &#8220;Masyarakat yang mengorganisir produksi secara baru pada dasar asosiasi bebas dan setara para produsen akan menempatkan negara dan alat-alatnya ke tempatnya yang layak &#8211;museum artefak masa lampau, bersama dengan roda pemintal dan kapak tembaga&#8221;.</p>
<p>Sebelum meninggalkan pandangan Marxian tentang komunisme/sosialisme, perlu diingat bahwa Marx dan Engels membayangkan suatu kondisi masyarakat yang cenderung otoriter, paling tidak pada masa-masa awalnya. Dalam esainya mengenai kekuasaan, Engels menulis, &#8220;Kekuasaan… berarti pemaksaan keinginan orang lain terhadap kita; di pihak lain, otoritas mensyaratkan ketundukan. Sekarang, karena kedua istilah tersebut berkesan buruk dan hubungan yang ditunjukkannya tidak disepakati pihak yang tertindas, pertanyaannya adalah untuk meyakinkan apakah terdapat jalan untuk menghilangkannya, apakah &#8211;dengan melihat kondisi masyarakat masa kini&#8211; kita tidak akan menciptakan sebuah sistem sosial baru, yang di dalamnya otoritas ini tidak lagi memiliki lingkup dan akibatnya harus menghilang…</p>
<p>Di mana pun aksi bersama…mengalahkan aksi independen oleh individu; sekarang, mungkinkah membuat organisasi tanpa otoritas?</p>
<p>Bayangkan suatu revolusi sosial menjatuhkan para kapitalis, yang hingga kini memegang kekuasaan atas produksi dan sirkulasi kekayaan. Bayangkan pula, dengan mengambil seluruh pandangan para anti-otoritarian, bahwa tanah dan alat-alat kerja menjadi milik bersama para buruh yang menggunakannya. Akankah otoritas lenyap, atau hanya berubah bentuknya?”</p>
<p>Engels kemudian mencontohkan sebuah pabrik yang besar, sebuah pemintalan benang. Ia berkata, <em>&#8220;…pertanyaan-pertanyaan penting timbul di masing-masing ruangan dan pada setiap saat mengenai moda produksi, produksi bahan-bahan dan lain-lain, yang harus segera diselesaikan dengan resiko terhentinya produksi; apakah diselesaikan melalui keputusan seorang wakil yang merupakan kepala suatu cabang pekerjaan, atau bila mungkin, melalui suara terbanyak, keinginan individu tunggal selalu akan menjadi subordinat, yang berarti bahwa pertanyaan akan dijawab dengan cara yang otoriter.&#8221;</em></p>
<p>Kesimpulan Engels mengenai &#8220;delegasi fungsi&#8221; tentu saja perlu diperdebatkan; namun ia lebih jauh lagi memuji-muji kekuasaan. Ia melanjutkan, &#8220;Namun pentingnya kekuasaan, terutama kekuasaan yang mutlak, tak akan mendapat contoh yang lebih baik daripada di atas sebuah kapal di samudra luas. Di sana, pada saat-saat bahaya, kehidupan semua akan tergantung pada ketaatan yang langsung dan absolut pada keinginan seseorang&#8221;.</p>
<p>Engels tentu saja keliru pada saat itu, dan juga sekarang! Sebagai bukti, misalnya pengelolaan angkatan laut Spanyol oleh para pelaut biasa selama masa revolusioner pada tahun 1936, dalam tulisan Peter E. Newell berjudul Anarchy in the Navy, dalam Anarchy 14.</p>
<p>Kita akan meninggalkan Engels dan &#8220;kekuasaan mutlak&#8221;-nya, meskipun perlu juga dijelaskan bahwa bahkan William Morris pun, yang dapat dianggap sebagai seorang sosialis libertarian dan kuasi-anarkis, memiliki pandangan serupa Engels tentang pengelolaan kapal &#8220;dalam kondisi sosialis&#8221; dalam esainya, Communism.</p>
<p>Terakhir, kita akan membahas pandangan libertarian atau anarkis, yang pada abad ke-19 terutama diasosiasikan dengan dua orang Rusia &#8211;Mikhail Bakunin dan Kropotkin, meskipun terdapat pula orang lain yang berpendapat serupa.</p>
<p><strong>Komunisme Libertarian</strong></p>
<p>Antara tahun 1842 dan 1861, Bakunin paling banter bisa dianggap sebagai seorang pan-Slavis revolusioner, meskipun sejak sebelum tahun 1861 sudah terdapat tendensi libertarian dalam pemikirannya. Namun, ia baru bisa dianggap sebagai seorang libertarian atau anarkis mulai tahun 1866, ketika ia menulis Katekisme Revolusioner (Revolutionary Catechism).</p>
<p>Dalam Catechism, Bakunin menganggap bahwa &#8220;Kebebasan merupakan hak absolut semua orang dewasa, baik laki-laki maupun perempuan&#8221;, bahwa, &#8220;kebebasan masing-masing orang hanya mungkin terjadi bila terdapat kesetaraan dalam seluruh masyarakat&#8221;. Ia menyatakan penolakan absolut terhadap segala bentuk kekuasaan &#8220;termasuk yang mengorbankan kebebasan demi negara&#8221;; &#8220;Tatanan dalam masyarakat&#8221;, demikian menurutnya, &#8220;harus timbul dari realisasi sejauh mungkin kebebasan individual, demikian pula kebebasan dalam semua tingkat organisasi sosial&#8221;. Ia menyerukan &#8220;pembentukan persemakmuran&#8221; dan &#8220;penghapusan kelas, jabatan dan privilese&#8221; dan secara agak mengejutkan, &#8220;pemberian hak pilih universal&#8221;, meskipun menurut tafsiran Max Nettlau, bukan dalam negara, melainkan dalam masyarakat yang baru. Bakunin juga menyerukan penghapusan &#8220;negara yang merasuk ke semua bidang, mengekang dan tersentralisasi&#8221; dan untuk &#8220;reorganisasi internal dalam tiap negara berdasarkan kebebasan absolut para individu, serikat-serikat produksi dan komune-komune&#8221;. Kebebasan hanya bisa dipertahankan dengan kebebasan pula, menurutnya. &#8220;Unit dasar semua organisasi politik dalam tiap negara haruslah berupa komune yang sama sekali otonom, yang tersusun dari pilihan mayoritas semua orang dewasa dari semua jenis kelamin. Tak seorang pun bisa memiliki kekuasaan atau hak untuk mencampuri urusan internal komune tersebut…&#8221; Negara, lanjut Bakunin, haruslah tidak lebih dari sebuah federasi propinsi-propinsi yang otonom. Tanpa kesetaraan politik, tak akan terdapat kebebasan politik, namun kesetaraan politik hanya akan mungkin terjadi apabila terdapat kesetaraan sosial dan ekonomi. Mayoritas, menurut Bakunin, hidup dalam perbudakan, dan &#8220;Perbudakan ini akan bertahan hingga kapitalisme diruntuhkan oleh aksi kolektif para buruh&#8221;. Dan kemudian, tanah dan semua kekayaan alam (akan) menjadi milik bersama semua orang…. Ia menutup Catechism demikian, &#8220;Revolusi secara singkat memiliki tujuan ini: kebebasan bagi semua, untuk individu maupun badan-badan kolektif, asosiasi, komune, propinsi, wilayah dan negara, dan adanya jaminan bersama terhadap kebebasan ini oleh federasi&#8221;.</p>
<p>Kemudian, juga dalam tahun 1866, Bakunin menulis sebuah Catechism lain yang serupa, yang di dalamnya sekali lagi ia menyatakan bahwa tanah harus menjadi milik bersama semua, dan bahwa &#8220;Revolusi harus dilaksanakan bukan untuk &#8211;namun oleh&#8211; rakyat, dan tidak akan pernah berhasil bila ia tidak secara antusias melibatkan massa rakyat, baik di pedesaan maupun di perkotaan.&#8221;</p>
<p>Dalam Federalism, Socialism, Anti-Theologism, Bakunin menyatakan bahwa sosialisme berarti &#8220;mengorganisir masyarakat sedemikian rupa sehingga semua individu yang hidup, laki-laki maupun perempuan, dapat menemukan cara-cara berkembang yang nyaris setara untuk masing-masing keahliannya… untuk mengorganisir masyarakat yang tidak memungkinkan bagi individu apapun untuk mengeksploitasi hasil kerja orang lain, yang tidak mengizinkan siapapun untuk bergabung dalam menikmati kekayaan masyarakat &#8211;yang hanya diproduksi oleh kerja saja&#8211; kecuali ia memberikan kontribusi terhadap penciptaannya dengan kerjanya sendiri&#8221;. Ia berpikir bahwa penyelesaian yang menyeluruh terhadap masalah-masalah yang ditimbulkan kapitalisme &#8220;tentu saja akan memerlukan berabad-abad&#8221;. Namun, &#8220;sejarah telah menempatkan masalah tersebut di depan kita, dan kita tak dapat menghindarinya lagi&#8221;.</p>
<p>Bakunin selalu menekankan bahwa rakyat harus melaksanakan revolusi itu sendiri, bahwa negara harus lenyap dahulu: bahwa masyarakat harus &#8220;diorganisir dari bawah ke atas oleh delegasi-delegasi revolusioner…&#8221;; bahwa &#8220;aliansi revolusioner&#8221; rakyat harus menghindari segala bentuk kediktatoran. Namun, paling tidak pada tahun 1869, Bakunin menyatakan bahwa sebuah &#8220;masyarakat&#8221; revolusioner yang diorganisir dengan baik dapat membantu &#8220;kelahiran revolusi dengan menyebarluaskan di antara massa pemikiran-pemikiran yang memungkinkan mereka mengekspresikan insting mereka, dan untuk mengorganisir suatu staf umum angkatan perang revolusioner (bukan angkatan perang itu sendiri, yang harus disusun oleh rakyat itu sendiri), yang trediri dari orang-orang yang berdedikasi, penuh tenaga, cerdas dan terutama benar-benar seiring dengan rakyat…yang mampu berperan sebagai penengah antara pemikiran revolusioner dan insting rakyat&#8221;. Tidak diperlukan banyak jumlah orang-orang demikian, menurut Bakunin. Dua atau tiga ratus, sarannya untuk organisasi di negara-negara yang besar.</p>
<p>Bakunin terutama mengkritik keras mereka yang disebutnya &#8220;komunis (pro) negara&#8221; (State Communists). Ia juga menyerang keras mereka yang dianggapnya ingin memaksakan komunisme, atau sering kali ia sebut, kolektivisme, pada rakyat kecil. Mereka dianggapnya sebagai Jacobin. Bakunin dan Marx tentu saja bertentangan pemikiran, bahkan bermusuhan. Ini sebagian bersifat pribadi, sebagian lain politis. Dalam Letter to La Liberte, Bakunin menyerang Marx, menyatakan bahwa para Paus paling tidak memiliki alasan untuk menganggap bahwa mereka memiliki &#8220;kebenaran absolut&#8221;, namun &#8220;Tuan Marx tidak memiliki alasan tersebut&#8221;. Dalam pandangan Bakunin, &#8220;kebijakan proletariat, yang tentu saja revolusioner, harus memiliki tujuan jangka pendek penghancuran negara&#8221;. Namun Bakunin tidak dapat memahami mengapa Marx dan para Marxis ingin mempertahankan atau memanfaatkan negara sebagai alat pembebasan. &#8220;Negara sama dengan dominasi, dan dominasi apapun mensyaratkan tunduknya massa, dan akibatnya, eksploitasi mereka untuk kepentingan suatu minoritas penguasa&#8221;, demikian kritikan Bakunin terhadap Marx. &#8220;Para Marxis memiliki pemikiran yang bertentangan (dengan kami)&#8221;, menurut Bakunin. &#8220;Antara para Marxis dan kami terdapat jurang yang dalam. Mereka governmentalis, sedangkan kami anarkis, meski mungkin ada keserupaan antara kami&#8221;, demikian Bakunin.</p>
<p>Pada dasarnya, inilah pertengkaran besar antara Bakunin dan Marx; yang masih menjadi pertengkaran antara para anarkis revolusioner dengan para Marxis; antara komunis otoriter dan komunis libertarian.</p>
<p>Tentang Bakunin, Kropotkin menulis, &#8220;Bakunin pada dasarnya seorang komunis, namun serupa dengan kawan-kawan Federalisnya dalam Internasional, dan akibat antagonisme yang ditimbulkan para komunis otoriter di Perancis, ia menyatakan diri sebagai &#8220;anarkis kolektivis&#8221;. Namun, tentu saja ia bukan seorang kolektivis dalam artian serupa Vidal atau Pecqueur atau murid-murid mereka, yang pada dasarnya menginginkan kapitalisme negara. (Keilmuan Modern dan Anarkisme (Modern Science and Anarchism)). Namun, sejak tahun 1869, sejumlah &#8220;Bakuninis&#8221; menyatakan diri mereka sebagai komunis.</p>
<p>Kropotkin sangat membantu mengembangkan pemikiran yang diajukan &#8211;sering kali dalam cara yang tidak ilmiah dan tidak terkoordinasi&#8211; oleh Bakunin. Sebelum menjadi seorang anarkis, Kropotkin memiliki latar belakang dan pelatihan ilmiah. Dalam Memoar seorang Revolusioner (Memoirs of a Revolutionist), ia melihat, suatu bentuk masyarakat baru yang mulai tumbuh dalam &#8220;negara-negara beradab&#8221;, suatu masyarakat yang harus, pada suatu hari, menggantikan masyarakat yang lama: suatu masyarakat yang setara, &#8220;yang tidak akan dipaksa untuk menjual tangan dan otak mereka kepada mereka yang mempekerjakan mereka seenaknya, yang akan mampu menerapkan pengetahuan dan kemampuan mereka untuk produksi, dalam sebuah organisme yang dibentuk sedemikian untuk menggabungkan semua usaha untuk mendapatkan semaksimal mungkin kemakmuran bersama, sementara memungkinkan pula lingkup yang bebas untuk inisiatif individual&#8221;. Kropotkin menyatakan bahwa masyarakat demikian akan tersusun dari sejumlah besar asosiasi, yang berfederasi untuk keperluan-keperluan yang memerlukan federasi &#8212; komune-komune produksi, konsumsi, semua jenis organisasi, yang melampaui batasan negara. Semua ini akan bergabung melalui kesepakatan bebas antara mereka. &#8220;Akan terdapat&#8221;, menurutnya, &#8220;kebebasan penuh untuk mengembangkan bentuk-bentuk baru produksi, penemuan dan organisasi.&#8221; Rakyat akan menggabungkan diri untuk segala macam pekerjaan &#8220;secara bersama&#8221;. Arahan menuju keseragaman dan sentralisasi akan dihindari, catat Kropotkin. Kepemilikan pribadi dan sistem upah harus hilang. Pemerintah tidak akan diperlukan lagi, karena federasi bebas dan &#8220;kesepakatan bebas&#8221; antar organisasi akan menggantikan perannya. Dan dalam Keilmuan Modern dan Anarkisme, Kropotkin secara khusus menyerang para &#8220;sosialis (pro) negara&#8221;, yang atas nama kolektivisme (sekarang dikenal sebagai nasionalisasi) menyarankan, bukan komunisme maupun sosialisme, namun kapitalisme negara. Ini, menurutnya, bukan hal yang baru, namun merupakan bentuk sistem pengupahan yang mungkin diperbaiki, namun tidak lebih baik.</p>
<p>Kropotkin, dalam tulisan yang sama, merujuk pada &#8220;revolusi sosial yang akan datang&#8221; yang dibedakannya dari revolusi Jacobin atau kediktatoran. Dan tentang revolusi demikian, ia menyatakan, &#8220;Selama terjadinya revolusi, suatu bentuk kehidupan yang baru akan tumbuh di atas reruntuhan bentuk-bentuk yang lama, namun tidak ada pemerintahan yang akan muncul selama bentuk-bentuk ini belum mengambil bentuk yang pasti selama masa rekonstruksi itu sendiri, yang harus terjadi pada ribuan titik pada saat yang sama&#8221;. Demikianlah komunisme-libertarian-federalis dan sosialisme Kropotkin.</p>
<p>Sejak Bakunin dan Kropotkin memformulasikan pemikiran mereka mengenai komunisme libertarian, anarkis, federalis dan bebas, orang-orang lain mengikuti dan mengembangkan pemikiran tersebut. Malatesta mempopulerkan mereka, demikian pula Alexander Berkman, terutama dalam Apa itu Anarkisme Komunis (What Is Communist Anarchism). Pada tahun 1926, Archinov, Makhno, Ida Me dan lain-lainnya mengembangkan pemikiran komunisme anarkis libertarian dan organisasinya dalam Organisational Platform of the Libertarian Communists. Kita tidak akan membicarakan pemikiran Malatesta, Berkman dan platformis di sini, karena mungkin banyak dari Anda lebih paham daripada saya. Tentu saja, formulasi pemikiran komunisme dan sosialisme libertarian, dan bentuk-bentuk organisasi akan berlanjut untuk, dalam kata-kata Kropotkin, &#8220;untuk bertunas&#8221;.</p>
<p><strong>Referensi</strong></p>
<ul>
<li> Judul : <strong>Dari Komunisme Primitif Hingga Komunisme Libertarian</strong></li>
<li> Judul asli : <strong>From primitive to libertarian communism</strong></li>
<li> Penulis : <strong>Peter E. Newell</strong></li>
<li> Diterbitkan pertama kali : <strong>Libertarian Communist Review</strong></li>
<li> Penerbit : <strong>Organisation of Revolutionary Anarchists</strong></li>
<li> Edisi : No. 2, 1976. , Februari</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2006/05/22/dari-komunisme-primitif-hingga-komunisme-libertarian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KOMUNISME LIBERTARIAN</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2005/05/28/komunisme-libertarian/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2005/05/28/komunisme-libertarian/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 May 2005 15:55:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anarki Komunisme]]></category>
		<category><![CDATA[Anarkisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/v2/2005/05/28/komunisme-libertarian/</guid>
		<description><![CDATA[Dari semua buku yang aku baca, di tahun 1930, diatas kapal yang membawaku ke Indocina, buku yang berderet dari Marx hingga Proudhon, Georges Sorel, hingga Hubert Lagardelle, Fernand Pelloutier, Lenin dan Trotsky, buku-buku karya Marx-lah yang tanpa diragukan menghasilkan dampak paling besar pada diriku. Buku-buku ini membuka mataku, menyingkap misteri nilai-lebih sistem kapitalis, mengajariku tentang dialektika...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh Daniel Guerin</p>
<p>Dari semua buku yang aku baca, di tahun 1930, diatas kapal yang membawaku ke Indocina, buku yang berderet dari Marx hingga Proudhon, Georges Sorel, hingga Hubert Lagardelle, Fernand Pelloutier, Lenin dan Trotsky, buku-buku karya Marx-lah yang tanpa diragukan menghasilkan dampak paling besar pada diriku. Buku-buku ini membuka mataku, menyingkap misteri nilai-lebih sistem kapitalis, mengajariku tentang dialektika dan materialisme historis. Sejak saat itu, aku memasuki gerakan revolusioner, membuang kelaut semua pemikiran borjuisku. Aku sejak dari awal, secara insting anti-Stalinis ; pada saat itu aku seorang sosialis kiri yang mengambil pendirian disekitar Marceau Pivert dan seorang sindikalis revolusioner dibawah pengaruh Pierre Monatte. Dikemudian hari, tulisan-tulisan Bakunin, dalam enam-volume edisi terbitan Max Nettlau/James Guillaume, jadi semacam operasi katarak yang kedua bagi diriku. Tulisan-tulisan ini meninggalkan bekas selamanya dalam diriku yang menjadi alergi dengan setiap versi sosialisme yang otoriter, apakah mereka menyebut diri Jacobin, Marxis atau Trotskyis.</p>
<p><span id="more-23"></span>Adalah dibawah kegemparan yang dilakukan pada diriku oleh tulisan-tulisan ini (Bakunin) yang menuntun aku secara mendasar mengubah penghargaanku terhadap strategi revolusioner yang dikembangkan Lenin, mengkaji ulang (pandanganku sendiri) akan idolaku ini dan meneruskannya dengan sebuah kritik mendalam terhadap konsepsi otoriter tertentu dari pemimpin Bolshevik tersebut. Aku menyimpulkan, dari perdebatan internal, bahwa sosialisme mesti membersihkan diri dari gagasan kediktatoran proletariat yang melelahkan, agar dapat mengembalikan sifat pembebasannya yang otentik.</p>
<p>Luxembourg vs Lenin</p>
<p>Inilah yang menuntunku, dalam kerja kesejarahan atas Revolusi Perancis, mengganti semua paksaan revolusioner dengan kata kediktatoran. Menyusul langkah ini, aku memberi perhatian lebih pada proses pengimbangan yang sangat cepat yang dilakukan Rosa Luxembourg terhadap pendirian Lenin yang ultra-sentralis dan karakter dari birokratik subtitusionisnya yang kering. Lebih lanjut lagi, di tahun 1971, aku memperdalam analisis tentang Luxembourgisme dan berusaha mencoba menekankan hubungannya yang relatif dengan spontanitas libertarian.</p>
<p>Masa ketika aku menemukan tulisan Bakunin dan membaca ulang Rosa adalah, dalam masa perjuangan kelas, pada waktu revolusi Hongaria dan penindasannya yang kejam oleh tank-tank Rusia. Aku merasa, sejauh kepedulianku, kurang tertarik dengan liku-liku perjuangan (revolusi Hongaria) untuk pembebasannya dari cengkeraman Moscow. Pada waktu itu informasi mengenai Hongaria dibebani terus menerus oleh, dibandingkan dengan (informasi mengenai) dewan pekerja yang berkemb ang sesaat di Hongaria, ambiguitas yang menjengkelkan.</p>
<p>Anarkisme</p>
<p>Libertarianisme yang kualami melewati fase-fase yang berurutan sebagai berikut : pada mulanya apa yang aku sebut sebagai anarkisme klasik , yang menemukan muara ekpresinya dalam karya Youth of Libertarian Socialism (1959), kemudian Anarchism, from Theory to Practice (1965) dan, secara bersamaan, Neither God nor Master ; Anthology of Anarchism, dimana disamping Bakunin, terdapat ruang untuk menulis tentang Stirner, Proudhon, Kropotkin, Malatesta dan banyak yang lain.</p>
<p>Kemudian bergerak sedikit dari anarkisme klasik, dan tak meninggalkan walau sejenak studi-studi marxianku, aku mempublikasikan For a Libertarian Marxism (1969), yang dari judulnya, aku yakin, membingungkan dan mengangetkan beberapa kawan baruku dikalangan libertarian. Kemudian, beberapa waktu sebelum gelombang demostrasi revolusioner Mei 68 pecah, yang didalamnya aku terlibat sangat dalam, aku bergabung kembali dengan Libertarian Communist Movement (MCL disekitar Georges Fontenis (yang berpaling dari pandangannya yang otoritarian). Setelah itu aku bergabung bersama Libertarian Communist Organisation (OCL), dalam bentuk pertama dan yang kedua, dan kemudian hingga sekarang, Union of Libertarian Communist Workers (UTCL).<br />
Sosialisme Libertarian</p>
<p>Selama seperempat abad, aku mengikatkan diriku, dan masih tetap, bersama sosialisme atau komunisme libertarian (kata anarkis menurut pandanganku terlalu membatasi dan aku tak mau menggunakannya kecuali jika ia digabungkan dengan kata komunis). Komu nisme libertarian berbeda, walau ia bisa digabungkan dengan, utopia yang dipropagandakan oleh mazhab Kropotkin, bisa mengantisipasi era keberlimpahan. Secara khusus, Komunisme Libertarian, sebagaimana aku memahaminya, adalah suatu kombinasi dari hal-hal yang terbaik dari anarkisme dan pemikiran Karl Marx. Aku mencoba membebaskannya &#8211; elemen yang berlainan ini dari kekusutan-kekusutan dalam pamplet yang berjudul Anarchism and Marxism yang dimasukkan kedalam edisi kedua dari buku kecil yang kutulis berjudul Anarchism (1981).</p>
<p>Dalam masa senja kehidupanku, aku tentu saja tak mengklaim telah meramalkan, kecuali dalam garis -garis yang sangat lebar, kritalisasi yang pasti dari sebuah sintesa yang tak tenang dan informal. H.E., Kaminski, dalam biografinya mengenai Bakunin, berpikir bahwa itu sesuatu yang perlu dan tak terelakkan, hal tersebut lebih tergantung pada masa depan untuk mengolahnya</p>
<p>dibandingkan saat ini. Ia harus muncul dari badai sosial yang baru yang akan muncul, dan yang tak seorangpun pada saat ini dapat menepuk dadanya bahwa merekalah yang membawanya.</p>
<p>Bukan Sebuah Dogma</p>
<p>Aku berharap aku telah, sepanjang keterlibatan militan, menjadi seorang teoritisi dan sejarawan yang memberi manfaat. Menurut pandanganku terlalu sombong untuk mengumumkan, diantara hal-hal yang lain, aspek-aspek mana dari anarkisme dan pemikiran Marx yang tersebar itu, yang tidak dapat dipertemukan. Komunisme Libertarian masih hanya perkiraan, dan bukan dogma dari kebenaran yang absolut.</p>
<p>Ia sama sekali tak dapat, menurutku, menjelaskan dirinya diatas kertas. Ia tak akan menjadi sebuah rasionalisasi dari masa yang telah lalu, tetapi tempat berkumpul bagi masa depan. Keyakinan utama yang menggelorakanku ialah bahwa revolusi sosial di masa depan tidak akan menjadi despotisme yang ada kaitannya dengan Moscow ; tidak juga sosial-demokrasi yang loyo ; bahwa ia tidak akan menjadi revolusi yang bersifat otoriter tetapi libertarian dan dikelola-mandiri, atau jika anda suka, bersifat councillis (berbasiskan komite-komite pekerja/rakyat yang otonom &#8212; penj).</p>
<p>Publié dans Affinitas #1</p>
<p>Sumber Artikel : http://cnt-ait.info/article.php3?id_article=863</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2005/05/28/komunisme-libertarian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
