<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pustaka Otonomis &#187; Anarki Sindikalisme</title>
	<atom:link href="http://pustaka.otonomis.org/category/anarki-sindikalisme/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pustaka.otonomis.org</link>
	<description>Sekedar sebuah weblog WordPress lainnya</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Feb 2009 06:21:27 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>MENUJU GERAKAN MAHASISWA SINDIKALIS, Atau Meninjau Ulang Reforma Universitas</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2008/01/20/menuju-gerakan-mahasiswa-sindikalis-atau-meninjau-ulang-reforma-universitas/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2008/01/20/menuju-gerakan-mahasiswa-sindikalis-atau-meninjau-ulang-reforma-universitas/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jan 2008 06:33:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anarki Sindikalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Kolektif&Organisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/2008/01/20/menuju-gerakan-mahasiswa-sindikalis-atau-meninjau-ulang-reforma-universitas/</guid>
		<description><![CDATA[Selama beberapa tahun terakhir, kita telah melihat berbagai gerakan kampus yang berkembang di seputar isu ‘reforma universitas.’ Sebagian kecil dari gerakan ini mampu memiliki basis massa selama periode yang singkat. Beberapa diantaranya membawa perubahan-perubahan kecil dalam hal peraturan dan regulasi kampus. Namun hampir seluruhnya gagal merubah secara radikal komunitas universitas, atau bahkan untuk sekedar mempertahankan eksistensi mereka sendiri.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Carl Davidson</strong></p>
<p>Selama beberapa tahun terakhir, kita telah melihat berbagai gerakan kampus yang berkembang di seputar isu ‘reforma universitas.’ Sebagian kecil dari gerakan ini mampu memiliki basis massa selama periode yang singkat. Beberapa diantaranya membawa perubahan-perubahan kecil dalam hal peraturan dan regulasi kampus. Namun hampir seluruhnya gagal merubah secara radikal komunitas universitas, atau bahkan untuk sekedar mempertahankan eksistensi mereka sendiri. Apa makna dari fenomena ini? Bagaimana kita menghindari hal serupa di masa mendatang? Mengapa harus repot-repot dengan reforma universitas?</p>
<p><span id="more-125"></span>Merupakan suatu keyakinan diantara para anggota Students for a Democratic Society bahwa semua isu itu saling terkait. Meski demikian, kita seringkali gagal mengaitkannya dengan cara yang sistematis. Apa sebenarnya hubungan antara peraturan jam asrama dengan perang di Vietnam? Apakah ada satu sistem yang bertanggung jawab atas terjadinya kedua hal ini? Kalau ada, bagaimana sifat dari sistem itu? Dan akhirnya, bagaimana sebaiknya kita menyikapinya? Ini adalah pertanyaan-pertanya an yang akan saya coba jawab dengan analisis berikut.</p>
<p>Mengapa reforma universitas?</p>
<p>SDS menamai sistem yang kini ada di negeri ini sebagai ‘liberalisme korporat.’ Dan, kalau kita mau sedikit repot untuk memperhatikan, penetrasinya ke dalam komunitas kampus sungguh mengagumkan. Kalangan elitnya dilatih di akademi-akademi administrasi bisnis kita. Para pembelanya dilatih di sekolah-sekolah hukum kita. Para apologisnya dapat dijumpai di fakultas-fakultas ilmu politik. Akademi-akademi ilmu sosial menghasilkan para manipulatornya. Untuk propagandisnya, sistem ini bertumpu pada sekolah jurnalisme. Ia memastikan pertumbuhannya di masa mendatang lewat akademi-akademi pendidikan. Kalau sebagian dari kita tidak begitu cocok dengan ini semua, maka kita akan dicuci otak dalam divisi-divisi konseling. Dan kita semua mengetahui dengan sangat baik apa yang terjadi di dalam ruang-ruang kelas pengembangan ilmu kemiliteran.</p>
<p>Situasi ini membawa percabangan yang lebih buruk bila kita menyadari bahwa semua fungsionaris ‘bisnis swasta’ ini tengah dilatih dengan mengorbankan kepentingan masyarakat. Perusahaan-perusaha an Amerika tidak begitu kesulitan untuk menaikkan gaji pekerja, terutama ketika mereka bisa mengambilnya kembali dalam bentuk pajak sekolah dan uang kuliah yang dipakai untuk melatih para calon pekerja mereka. Untuk memastikan hal ini, banyak perusahaan memberi beasiswa dan bantuan kepada universitas- universitas. Namun semua bantuan ini hampir selalu mengandung maksud tertentu dari kepentingan mereka sendiri, kalau bukan malah hanya untuk menghindari pajak.</p>
<p>Lebih jauh lagi, kehadiran korporat di kampus dengan sangat aneh mentransformasikan sifat dari komunitas universitas. Contoh paling terang-terangan adalah sistem nilai. Banyak profesor akan sependapat bahwa nilai itu tidak ada gunanya bagi—kalau bukan malah secara positif mengganggu—proses belajar. Namun seluruh komunitas yang telah termanipulasi ini menjawab serentak: “Selain pengambilalihan oleh mahasiswa Universitas Columbia pada tahun 1968, bagaimana lagi perusahaan-perusaha an bisa mengetahui siapa yang layak dipekerjakan (atau untuk siapa Dinas Selektif dirumuskan)?” Dan kita dengan sukaria membelanjakan uang publik untuk mensubsidi usaha-usaha pengujian untuk bisnis swasta.</p>
<p>Yang harus kita lihat dengan jelas adalah hubungan antara universitas dan masyarakat liberal korporat secara luas. Kebanyakan dari kita merasa marah ketika para administrator universitas kita ataupun antek-anteknya berupa Senat Mahasiswa dan BEM menyamakan universitas dan akademi kita dengan perusahaan. Dengan pahit kita menanggapinya dengan pembicaraan tentang ‘komunitas cendikiawan.’ Akan tetapi, kenyataannya mereka itu benar. Lembaga-lembaga pendidikan kita adalah perusahaan dan pabrik pengetahuan. Yang kemarin gagal kita lihat ialah betapa vitalnya pabrik-pabrik ini bagi negara liberal korporat.</p>
<p>Apa yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik ini? Apa saja komoditasnya? Jawaban paling jelas adalah ‘pengetahuan.’ Pabrik-pabrik kita ini menghasilkan keahlian yang memungkinkan negara korporat untuk berkembang, tumbuh dan mengeksploitasi masyarakat secara lebih efisien dan lebih luas, baik di negeri kita sendiri maupun di dunia ketiga. Tetapi pengetahuan barangkali terlalu abstrak untuk dipandang sebagai sebuah komoditas. Konkretnya, komoditas pabrik-pabrik kita adalah hal-hal yang berpengetahuan. Para pejabat AID (<em>Agency for International Development / Agensi Pembangunan Internasional</em>) , orang-orang Korps Perdamaian, petugas-petugas militer, para pejabat CIA, hakim-hakim segregasionis, pengacara perusahaan, segala macam politisi, pekerja kesejahteraan, manajer industri, birokrat buruh (dan masih banyak lagi yang dapat saya sebutkan): Dari mana mereka berasal? Mereka adalah produk dari pabrik-pabrik tempat kita tinggal dan bekerja.</p>
<p>Di jurusan-jurusan perakitan di universitas- universitas kitalah mereka dicetak menjadi apa adanya mereka sekarang. Sebagai bagian integral dari sistem pabrik pengetahuan, kita adalah sekaligus penghisap dan yang terhisap. Sebagai sekaligus pengelola dan yang dikelola, kita menghasilkan dan menjadi produk paling vital dari liberalisme korporat: manusia birokratik. Singkat kata, kita adalah semacam pekerja-pengkhianat baru.</p>
<p>Tapi mari kita kembali ke pertanyaan kita semula. Apa hubungan antara peraturan asrama dengan perang di Vietnam? Kasarnya, keduanya merupakan aspek-aspek dari liberalisme korporat, sebuah sistem yang tidak manusiawi dan menindas. Tapi mari lebih kita spesifikasi lagi. Siapakah para penindas dan orang-orang yang melakukan dehumanisasi itu? Singkatnya, mereka adalah para alumnus kita di masa lalu, masa kini dan masa mendatang: produk jadi dari pabrik-pabrik pengetahuan kita.</p>
<p>Bagaimana mereka menjadi seperti sekarang ini? Mereka dibentuk berdasarkan sebuah jalur perakitan yang dimulai dengan anak-anak saat mereka masuk SLTP, dan berakhir saat mereka menjadi birokrat yunior yang mengenakan jubah pelantikan. Dan aturan-aturan serta regulasi <em>in loco parentis</em> merupakan alat yang esensial bersama dengan seluruh jalur perakitan tersebut. Tanpa itu, akan sulit kiranya untuk menghasilkan jenis manusia-manusia yang bisa menciptakan, menyokong, mentolerir, ataupun mengabaikan situasi-situasi seperti Watts, Missisipi dan Vietnam.</p>
<p>Akhirnya, barangkali kita akan bisa melihat hubungan vital antara pabrik-pabrik kita dengan kondisi-kondisi liberalisme korporat sekarang ini bila kita bertanya kepada diri kita sendiri, apa yang akan terjadi jika militer mendapati dirinya tanpa ada mahasiswa ROTC, CIA tidak mendapat rekrutan baru, departemen-departem en kesejahteraan yang paternalistik kehilangan pekerja sosialnya, atau Partai Demokrat kehilangan generasi muda apologis liberal dan para juru kampanyenya? Singkat kata, apa yang akan terjadi pada sebuah masyarakat yang manipulatif jika sarana-sarana yang digunakan untuk menciptakan orang-orang yang bisa dimanipulasi itu sudah tak lagi berlaku (sudah lenyap)?</p>
<p>Jawabannya ialah, bahwa pada saat itu mungkin kita akan punya kesempatan untuk melawan dan merubah sistem itu. Sebagian besar dari kita pernah terlibat dalam gerakan-gerakan reforma universitas dari satu jenis atau lainnya. Pada sebagian besarnya, upaya-upaya kita baru menelurkan sangat sedikit hasil. Gerakan Bebas Berpendapat menyala cukup singkat, lalu padam. Pernah ada beberapa lusin komite ad hoc untuk penghapusan aturan ini atau aturan itu. Beberapa dari komite-komite ini sukses, lalu bubar. Sebagian lainnya malah tak pernah bisa berkembang.</p>
<p>Meski begitu, sekurangnya kita telah sedikit berpengaruh. Ketidakpuasan itu ada. Meski apatisme cukup luas dan berakar mendalam, bahkan orang-orang apatis itu berkali-kali mengomel. Para administrator kita kini khawatir. Mereka mengamati kita dengan seksama, mengadakan seminar-seminar tentang Paul Goodman untuk para stafnya, dan mempelajari literatur kita dengan lebih teliti daripada kita sendiri. Mereka menangani ledakan emosi kita dengan sangat hati-hati, mencoba semampu mereka untuk tidak memberi kita peluang mendapatkan isu.</p>
<p>Kita punya satu lagi faktor yang menguntungkan: kita telah melakukan banyak kesalahan, hal mana dapat kita tarik pelajaran darinya. Saya akan mencoba menyebutkannya satu per satu dan menganalisis beberapa diantaranya.</p>
<p>1.) Membentuk kelompok-kelompok yang fokus pada satu isu. Contoh utama disini adalah mengorganisir sebuah komite untuk menghapuskan peraturan jam asrama bagi mahasiswa perempuan diatas usia 21 tahun. Taktik ini punya dua kesalahan. Pertama, sejauh relevansi dipertimbangkan, ini adalah isu yang hanya dirasakan oleh kurang dari 10 persen rata-rata mahasiswa di kampus. Karena itu, nyaris mustahil kiranya untuk memobilisasi sejumlah besar mahasiswa di seputar isu ini dalam rentang waktu tertentu. Kritik yang sama berlaku untuk serikat mahasiswa pekerja (hanya ada ratusan mahasiswa yang bekerja untuk universitas) , peraturan tentang pakaian (hanya kaum hippies yang merasa terganggu), ataupun diskriminasi dalam hal tempat tinggal di luar kampus (banyak mahasiswa kulit hitam yang terlalu borjuis untuk peduli). Kesalahan kedua ialah bahwa sebagian besar dari isu-isu ini dapat diakomodir oleh pihak administrasi. Setelah berbulan-bulan kita melakukan pertemuan-pertemuan , ceramah dan agitasi, petugas disiplin mahasiswa perempuan merubah peraturan itu, sehingga perempuan diatas 21 tahun, dengan izin orang tua dan nilai rata-rata yang cukup tinggi, bisa mengajukan permohonan, kalau dia mau, untuk memegang kunci asramanya sendiri. Masalah besar. Pada tahap ini, organisasi kecil yang bekerja untuk mengangkat isu ini biasanya langsung tenggelam.<br />
2.) Mengorganisir di seputar isu-isu kosong. Para mahasiswa sering mencoba menghapuskan aturan-aturan yang sebenarnya juga tidak ditegakkan. Hampir setiap sekolah punya aturan yang melarang perempuan mengunjungi apartemen laki-laki. Namun aturan ini jarang sekali ditegakkan, kendatipun dilanggar secara terbuka. Karena kebanyakan mahasiswa tidak terbatasi oleh aturan tersebut, biasanya mereka tidak mau berjuang untuk merubahnya. Seringkali malah mereka akan bereaksi negatif, karena merasa bahwa jika isu itu diangkat, pihak admisnistrasi justru akan menegakkannya.<br />
3.) Takut menjadi radikal. Dari waktu ke waktu, kita melembekkan tuntutan-tuntutan kita, dan mengkompromikan diri bahkan sebelum kita memulainya. Dalam rapat-rapat kita, kita berdebat tentang sikap pihak administrasi terhadap kita sebelum mereka benar-benar bersikap seperti itu, bahkan kita membayangkannya secara lebih dahsyat. Kita membiarkan diri kita terintimidasi oleh kata ”bertanggung jawab”. (Sudah berapa kali kita merubah sebuah “Deklarasi Hak-hak Mahasiswa” menjadi “Resolusi tentang Hak dan Tanggung jawab Mahasiswa” yang lembek?) Kita menghabiskan lebih banyak energi untuk meyakinkan para dekan kita bahwa kita tidak menghendaki lahirnya “semacam Berkeley lagi” ketimbang mencoba berbicara kepada para mahasiswa tentang persoalan-persoalan riil.<br />
4.) Bekerja melalui saluran-saluran yang telah ada. Frasa ini sesungguhnya berarti, “Mari kita menangguhkan semuanya sampai akhir tahun.” Kalau kita mendengarkannya, maka kita cukup melakukannya satu kali saja dan sedemikian rupa untuk menunjukkan kepada setiap orang bahwa ini hanya buang-buang waktu.<br />
5.) Menunggu dukungan dari fakultas. Ini sama saja seperti meminta kaum Negro di Selatan untuk menunggu dukungan dari kaum moderat kulit putih. Kita sering gagal menyadari bahwa fakultas itu lebih tak berdaya daripada kita: mereka masih harus memikirkan kesejahteraan keluarganya.<br />
6.) Persoalan legalitas. Kita menghabiskan waktu berjam-jam berdebat diantara kita sendiri mengenai apakah universitas bisa secara legal menghapuskan in loco parentis. Bisa saja kalau mereka mau, atau kalau mereka terpaksa harus menghapuskannya. Lagipula, misalkan itu illegal, apakah kemudian kita harus berhenti, lalu memunguti kelereng kita dan pulang ke rumah?<br />
7.) Mengisolasi diri kita. Dari waktu ke waktu, kita kembali jatuh ke dalam perangkap untuk mencoba mengorganisir orang-orang independen di seputar ”perpecahan antara kubu Greek dan kubu Independen”. Ini seharusnya dipandang sebagai skenario administrasi untuk memecah-belah dan menguasai. Di sisi lain, kita seharusnya tidak membuang-buang waktu untuk berusaha memenangkan dukungan kubu Greek ataupun “pimpinan kampus.” Mereka tidak lagi memiliki kekuasaan riil yang lebih besar daripada siapapun lainnya. Juga, anggota SDS seringkali memandang dirinya sebagai kantong-kantong intelektual di kampus, padahal seharusnya mereka melihat dirinya sebagai komite pengorganisir untuk kampus secara keseluruhan. Bukannya meluangkan waktu untuk berada di serikat mahasiswa guna membangun obrolan dengan yang lain, kita malah mundur kembali ke “tongkrongan hippies” kita.<br />
8.) Membentuk Universitas- universitas Bebas. Tindakan ini bisa jadi bagus, tergantung bagaimana ia diorganisir. Tapi kita menghadapi risiko bisa terjebak menjadi seperti kaum sosialis utopis yang menarik diri dari perjuangan pekerja di fase-fase awal. Kita bisa merasa terbebaskan di Universitas- universitas Bebas kita; namun, sementara itu, universitas “tidak bebas” yang kita tinggalkan terus-menerus menghasilkan kaum liberal korporat. Kenyataannya, keadaan menjadi lebih mudah bagi mereka karena kita tidak ada di sekitar sana untuk membuat masalah.<br />
9.) Bekerja di dalam badan pemerintahan mahasiswa (Senat dan BEM). Kita hendaknya melakukan ini dengan—dan semata hanya—satu alasan: untuk menghapuskan badan pemerintahan mahasiswa. Kini kita seharusnya sudah menarik pelajaran bahwa Senat dan BEM tidak punya kekuasaan dan, dalam banyak hal, administrasi telah mengorganisir mereka sedemikian rupa sehingga mustahil bagi kita untuk memanfaatkan organ tersebut guna mendapatkan kekuatan kendali. (Dalam sedikit kasus, bisa saja mungkin bagi kita untuk mengambil alih Senat/BEM dan mengancam akan menghapuskannya jika kendali-oleh- mahasiswa tidak dipenuhi). Dari kritik-kritik terhadap kesalahan-kesalahan kita selama beberapa tahun terakhir ini, saya fikir arah kemana kita hendak bergerak kini menjadi lebih jelas. Juga, bila kita pertimbangkan fakta bahwa universitas- universitas kita telah menjadi agen utama bagi perubahan sosial dalam arah 1984, saya kira kita dapat mengerti mengapa kita harus mengorganisir kampus-kampus. (Saya tidak bermaksud menyiratkan bahwa kita harus mengabaikan pengorganisiran di sektor-sektor lain.)</p>
<p>Menuju Sindikalisme Mahasiswa</p>
<p>Dalam analisis sebelumnya tentang universitas (yang tentu saja bukan orisinal pemikiran saya), kita dapat menemukan suatu antagonisme implisit, atau, kalau anda lebih ingin mengatakannya begini, suatu kontradiksi fundamental. Yakni, para administrator akan meminta kita untuk sekaligus berpartisipasi dan tidak berpartisipasi dalam sistem pendidikan kita. Dikatakan kepada kita bahwa kita harus membuat keputusan-keputusan yang bertanggung jawab, namun kita tidak diperkenankan untuk membuat keputusan-keputusan yang sebenarnya. Kita diberitahu bahwa pendidikan adalah suatu proses yang aktif, namun kita dilatih secara pasif. Kita dikritik sekaligus untuk apatisme dan aktivisme kita. Atas nama kebebasan, kita dilatih untuk patuh.</p>
<p>Sistem ini mensyaratkan agar kita secara pasif menyetujui untuk dimanipulasi. Namun visi kita adalah partisipasi yang aktif. Dan ini adalah tuntutan yang tidak dapat dipenuhi oleh para administrator kita tanpa memposisikan diri mereka hingga kehilangan pekerjaan. Itulah sebabnya mengapa kita justru harus mengajukan tuntutan ini.</p>
<p>Apa yang harus dilakukan?</p>
<p>Jelas kita perlu mengorganisir untuk membangun, di kampus-kampus, sebuah gerakan yang tujuan utamanya adalah mentransformasikan komunitas universitas secara radikal. Terlalu sering kita kehilangan kemampuan untuk melihat tujuan ini. Untuk setiap program, setiap tindakan, setiap sikap dan setiap tuntutan, kita harus mengajukan pertanyaan: Bagaimana hal ini dapat secara radikal merubah kehidupan setiap mahasiswa di kampus ini? Dengan mempertimbangkan hal ini, saya menawarkan usulan-usulan tindakan sebagai berikut:</p>
<p>1.) Setiap cabang SDS mengorganisir sebuah gerakan mahasiswa sindikalis di kampusnya masing-masing. Saya menggunakan istilah “sindikalis” untuk sebuah alasan yang krusial. Dalam perjuangan pekerja, serikat-serikat sindikalis berjuang lebih untuk mencapai demokrasi industrial dan kendali oleh pekerja ketimbang untuk perbaikan upah dan kondisi kerja. Serupa dengan itu, dan saya tidak mau terlalu sering mengulang menyebut ini, isu bagi kita adalah kendali oleh mahasiswa (serta yang masih harus diwujudkan, fakultas yang terbebaskan di beberapa wilayah). Yang tidak kita inginkan adalah gerakan mahasiswa yang bertipe serikat-perusahaan yang melihat dirinya sebagai sebuah badan yang, berdasarkan prosedur “liberalisasi,” membantu sebuah administrasi yang paternal untuk membuat aturan-aturan yang lebih baik bagi kita. Yang kita inginkan adalah sebuah serikat mahasiswa dimana para mahasiswa sendirilah yang memutuskan aturan macam apa yang mereka inginkan atau tidak inginkan. Atau apakah mereka memerlukan/tidak memerlukan aturan sama sekali. Hanya organisasi semacam inilah yang memungkinkan adanya desentralisasi dan partisipasi langsung mahasiswa dalam semua keputusan yang mempengaruhi kehidupan mereka sehari-hari.<br />
2.) Agar gerakan sindikalis mahasiswa mengambil bentuk berupa dua struktur yang mungkin: sebuah Partai Demokratik Kebebasan Kampus atau sebuah Serikat Mahasiswa Bebas.</p>
<p>a.) Partai Demokratik Kebebasan Kampus (Campus Freedom Democratic Party/CFDP). Ini mungkin di kampus-kampus dimana senat mahasiswa/BEM yang ada sekurangnya secara formal demokratik (yakni, satu mahasiswa satu suara). Idenya adalah mengorganisir sebuah kampanye elektoral untuk putaran satu tahun dengan tujuan untuk mendidik mahasiswa mengenai sistem mereka; membangun keanggotaan massal di asrama dan halaman-halaman tempat mahasiswa tinggal dan beraktivitas; terus-menerus mengejek dan mengganggu rapat-rapat Senat/BEM (misalnya, muncul serentak di sebuah pertemuan dan menyanyikan jingle yang kini sudah jarang terdengar, ”Mickey Mouse Club”); dan pada akhirnya, memenangkan mayoritas kursi dalam pemilihan Senat/BEM. Selama CFDP hanya mendapat kursi yang minoritas, kursi tersebut hendaknya digunakan untuk mengekspos badan yang ada sebagai parodi terhadap ide tentang pemerintahan. Harus diingat bahwa tujuan dari aktivitas ini adalah untuk membangun suatu kesadaran radikal diantara semua mahasiswa dalam perjuangan yang akan berlangsung berhadapan dengan administrasi.</p>
<p>Apa yang akan terjadi jika sebuah CFDP memenangkan mayoritas kursi? Ia harus segera mendesakkan serangkaian tuntutan (yang sifatnya akan saya bahas nanti) dalam bentuk RUU tentang Hak-hak atau Deklarasi Independensi, atau keduanya. Resolusi semacam ini hendaknya mengindikasikan suatu tenggat waktu kepada pihak administrasi (atau pengawas, atau apapun namanya) untuk menanggapi. Apabila tuntutan dipenuhi, mahasiswa harus langsung merayakan kemenangan revolusi. Kalau tidak dipenuhi, maka CFDP harus langsung membubarkan Senat/BEM, atau membentuk sebuah Senat/BEM di pengasingan. Kedua, CFDP hendaknya segera memulai demonstrasi- demonstrasi massa: melakukan aksi menduduki gedung-gedung administrasi, tempat parkir fakultas, ruang-ruang perawatan/pemelihar aan, dan lainnya; memboikot semua kelas perkuliahan; dan mogok dari kegiatan menjadi asisten pengajar. Singkat kata, keberhasilan aksi-aksi ini (terutama ketika polisi datang) akan menjadi ujian mengenai seberapa maksimal CFDP telah meradikalisasi konstituennya selama dua atau tiga tahun terakhir.</p>
<p>b.) Serikat Mahasiswa Bebas (Free Student Union/FSU). Perbedaan antara FSU dan CFDP terutama terletak pada taktiknya. Di banyak kampus, Senat/BEM bahkan tidak demokratis secara formal; malah, mereka dibentuk hanya dengan pers kampus punya satu suara, dewan interfraternity satu suara, dan seterusnya. Dalam situasi seperti ini, kita harus mengabaikan atau mengecam politik kampus atau politik elektoral dari kata ‘oke, ayo’, dan, dengan mengikuti strategi para Wobblies, mengorganisir satu serikat besar dari seluruh mahasiswa. Tujuan pertama dari FSU adalah membangun sebuah lembaga yang merupakan tandingan atas Senat/BEM, yang pada akhirnya akan merangkul mayoritas yang sehat dari badan mahasiswa tersebut. Serikat ini harus mendorong agar para mahasiswa tidak berpartisipasi dalam Senat/BEM, dan agar terlibat dalam agitasi yang aktif, non-elektoral, dan dilakukan dengan praktek langsung. Ini akan mengambil langkah berupa mengorganisir dan mendukung pelanggaran terhadap aturan-aturan yang ada. Pelanggaran- pelanggaran ini dapat mencakup tidur diluar asrama dan mengadakan pesta-pesta “kebebasan” di apartemen-apartemen terbatas, dengan tanpa kekerasan mengambil alih gedung tempat menyimpan mesin-mesin IBM yang digunakan untuk menentukan nilai ujian, mengkampanyekan untuk merusak kartu-kartu IBM, menganggu kelas-kelas perkuliahan yang dihadiri sangat banyak mahasiswa, mengambil-alih, dan dengan tanpa kekerasan berusaha menduduki dan membebaskan pers dan stasiun radio kampus. Semua ini hendaknya dilakukan dengan cara sedemikian rupa sehingga bisa meraih makin dan makin banyak dukungan. Begitu FSU mendapat lebih banyak dukungan daripada yang didapat Senat/BEM, ia harus mendeklarasikan bahwa Senat/BEM tak lagi berlaku, mengajukan tuntutan-tuntutan mengenai administrasi, dan, jika ditolak, mendeklarasikan pemogokan umum.</p>
<p>Jelasnya, keberhasilan entah CFDP atau FSU tergantung pada kemampuan kita untuk mengorganisir suatu basis massa radikal yang memiliki kapasistas untuk perlawanan, dedikasi dan daya tahan yang berjangka panjang. Dengan mengingat kebutuhan akan hal-hal ini, orang dapat dengan mudah melihat mengapa sebuah gerakan mahasiswa sindikalis harus bersifat nasional (atau bahkan internasional) dalam lingkupnya. Akan ada kebutuhan untuk adanya pengorganisir- pengorganisir fulltime yang berkemampuan jelajah tinggi untuk bepergian dari kampus ke kampus. Ketika meletus konfrontasi- konfrontasi kritis, akan dibutuhkan demonstrasi solidaritas dan pemogokan di kampus-kampus lain. Bahkan mungkin akan muncul kebutuhan untuk mengirim bus-bus bermuatan mahasiswa ke sebuah kampus dimana, karena terjadi penangkapan- penangkapan massal, dibutuhkan tenaga-tenaga pengganti. Kembali, kita bisa belajar banyak dari taktik-taktik pengorganisiran Wobblies dan CIO.</p>
<p>3.) Agar gerakan mahasiswa sindikalis mengadopsi penghapusan sistem nilai sebagai isu pokok dan sentralnya. Ini bukan bermaksud mengatakan bahwa isu-isu lain, seperti kekuasaan untuk pengambilan keputusan di dalam Senat/BEM, tidak penting. Isu-isu itu bukan tidak penting; dan dalam situasi-situasi tertentu, isu tersebut bisa jadi sangat penting. Tapi, saya pikir, penghapusan sistem nilai adalah isu yang paling signifikan untuk membangun sebuah gerakan radikal di kampus. Ada tiga alasan mengapa saya berpikir demikian:</p>
<p>c.) Sistem nilai merupakan suatu kondisi umum dari keseluruhan mahasiswa dan komunitas fakultas. Ia adalah penyebab langsung dari sebagian besar kecemasan dan frustrasi mahasiswa. Juga, ia merupakan penyebab alienasi kebanyakan anggota fakultas dari kerjanya. Di kalangan para pendidik kita yang lebih baik dan di hampir semua fakultas, ada suatu konsensus bahwa nilai itu, paling banter, tidak ada artinya, dan kemungkinan besar malah bersifat merusak bagi pendidikan yang sesungguhnya.<br />
d.) Sebagai sebuah isu yang dapat diangkat untuk melakukan pengorganisiran, kehadiran sistem nilai selalu dirasakan. Ujian pada jam pelajaran, ujian tengah semester dan ujian akhir semester selalu muncul seperti tak diharapkan (sedangkan pemilihan pengurus Senat/BEM berlangsung hanya sekali dalam setahun). Setiap kali kita melihat kawan-kawan kita sesama mahasiswa sibuk mempersiapkan diri untuk ujian (sebenarnya, untuk nilai), kita dapat menunjukan kepada mereka bahwa mereka sedang dieksploitasi, dan berusaha mengorganisir mereka. Dalam setiap kelas pelajaran yang kita ambil, sepanjang tahun ajaran, setiap kali dosen kita menilai makalah dan ujian kita, kita bisa melakukan agitasi di ruang-ruang kelas, mengekspos tentang sistem nilai dan mendorong baik kawan-kawan sekelas kita maupun para pengajar agar bergabung dengan kita untuk menghapuskan sistem tersebut.<br />
e.) Penghapusan sistem nilai adalah tuntutan yang tidak bisa dipenuhi oleh pihak administrasi tanpa secara radikal merubah bentuk dan tujuan sistem pendidikan kita. Pertama-tama, jika tidak ada sistem nilai, suatu bagian yang signifikan dari para administrator kita akan kehilangan pekerjaan karena tidak ada lagi yang bisa mereka kerjakan. Juga, banyak kelas pelajaran yang diproduksi dalam bentuk program televisi dan semacamnya tidak lagi diperlukan. Karena pendidikan nantinya akan berlangsung melalui kontak personal antara mahasiswa dan dosennya, maka kelas-kelas akan dibatasi jumlah pesertanya. Karena evaluasi terhadap karya mahasiswa tak lagi harus diatur dan distandarisasi secara temporal, maka kecendikiaan (kesarjanaan) independen akan didorong, malah mungkin niscaya dibutuhkan. Akibatnya, negara korporat akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan birokrat-birokrat yunior yang mudah dimanipulasi (dikontrol). Akhirnya, Dinas Selektif akan perlu waktu yang sangat panjang (akan sangat kerepotan) untuk menseleksi kita berdasarkan peringkat.</p>
<p>Dengan alasan-alasan ini, menurut saya penghapusan sistem nilai hendaknya berfungsi sebagai isu ”payung” bagi sebuah gerakan mahasiswa sindikalis, cukup serupa halnya dengan fungsi penghapusan sistem upah bagi gerakan serikat pekerja sindikalis. Di bawah payung ini, banyak isu lain bisa diangkat, tergantung segmen mana dari komunitas mahasiswa yang akan kita ajak, dan tergantung seberapa besar kekuatan yang kita punya pada suatu waktu tertentu.</p>
<p>4.) Agar gerakan mahasiswa sindikalis memasukkan ideologi demokrasi partisipatoris ke dalam isu-isu sekunder. Ini bisa dipandang sebagai upaya kita untuk mensabotase mesin-mesin pabrik pengetahuan yang menghasilkan para pengatur (manajer) dan yang diatur (yang dimanajeri) seperti digambarkan dalam novel tulisan George Orwell,1984. Ada banyak cara untuk melakukannya. Saya akan menyusun daftar beberapa diantaranya:</p>
<p>a.) Mendekati mahasiswa di akademi-akademi keguruan dengan membawa sebuah kurikulum tandingan yang didasari ide-ide Paul Goodman dan AS Neil mengenai pendidikan radikal untuk anak-anak.<br />
b.) Di awal setiap semester, mengajukan permintaan (atau tuntutan) kepada para dosen agar kamu dan kawan-kawan sekelasmu bisa berpartisipasi dalam membentuk struktur, format dan muatan dari pelajaran tertentu.<br />
c.) Mendaftar, menghadiri, mengecam, dan kemudian melakukan aksi meninggalkan (memboikot) kelas-kelas pelajaran yang sangat padat.<br />
d.) Mengorganisir para mahasiswa dan anggota fakultas lainnya yang terbebaskan di jurusan-jurusan tertentu untuk menyusun sebuah model kurikulum tandingan, kemudian mengagitasikannya agar dipakai, terutama lebih karena mahasiswa ikut serta membuatnya, ketimbang dikarenakan keutamaan/kegunaann ya.<br />
e.) Adakanlah persidangan olok-olok yang mengadili wali (ketua senior) mahasiswa laki-laki dan wali mahasiswa perempuan atas ‘kejahatannya terhadap kemanusiaan.’<br />
f.) Dalam kasus mahasiswa perempuan, mengorganisir sebuah federasi desentralis dewan-dewan asrama (soviet?), dimana setiap unit tempat tinggal akan merumuskan seperangkat aturan dan regulasi tandingan; kemudian menggunakannya untuk menggantikan aturan-aturan yang ada, dengan pijakan bahwa para perempuan sendirilah yang membuat aturan tersebut.</p>
<p>Saya yakin bahwa kalau kita menggunakan imajinasi kita, maka kita akan bisa memperluas daftar ini hingga tak terbatas. Dan karena menyertakan filsafat demokrasi partisipatoris di dalamnya, maka saya pikir usulan langkah-langkah ini bernilai intrinsik (esensial). Dan saya juga yakin bahwa langkah-langkah tersebut dapat membawa pengaruh yang menjangkau jauh, karena demokrasi partisipatoris itu seringkali seperti penyakit yang kronis dan menular. Begitu terkena, ia akan menjalari keseluruhan hidup si orang itu serta hidup orang-orang lain di sekitarnya. Efeknya sangat mengacau-balaukan dan bersifat total. Dan dalam sebuah sistem yang manipulatif serta birokratis, artikulasi dan ekspresinya setara dengan sabotase. Merupakan harapan saya kiranya bahwa orang-orang yang terpapar pada ide ini selama masa mereka membangun sebuah gerakan sindikalisme mahasiswa, hidupnya tidak akan sama lagi seperti sebelumnya, terutama setelah mereka meninggalkan komunitas universitas.<br />
***<br />
Makalah tentang sikap yang disampaikan pada konvensi SDS, Agustus 1966.</p>
<p><strong>Translated by: Vetuyara Krishna</strong></p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2008/01/20/menuju-gerakan-mahasiswa-sindikalis-atau-meninjau-ulang-reforma-universitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perempuan Merdeka Spanyol</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2006/05/29/perempuan-merdeka-spanyol/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2006/05/29/perempuan-merdeka-spanyol/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 May 2006 08:28:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anarki Sindikalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Feminisme]]></category>
		<category><![CDATA[anarcha-feminism]]></category>
		<category><![CDATA[anarka-feminis]]></category>
		<category><![CDATA[Anarkisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/v2/2006/05/29/perempuan-merdeka-spanyol/</guid>
		<description><![CDATA[Mujeres Libres mempunyai dua strategi. Pertamanya adalah apa yang disebut “capacitation” yang di tujukan sebagai penyadaran bagi kaum perempuan agar mereka dapat menyadari potensi mereka dan dapat berpartisipasi secara setara di dalam sebuah masyarakat baru yang sedang di bangun. Strategi keduanya adalah “captacion” – yang dimaksudkan untuk melibatkan perempuan di dalam gerakan anarkis.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kondisi mayoritas masyarakat Spanyol diantara tahun 1920an sampai dengan 1930an cukup memprihatinkan. Khususnya bagi kaum perempuan, pada masa-masa ini di Spanyol terjadi pembagian gender yang cukup ekstrim. Secara ekonomi kaum perempuan sangat bergantung pada laki-laki, kerja-kerja rumah tangga serta kewajiban untuk mengurus anak menjadi tugas khusus kaum perempuan. Di kota dan di desa upah perempuan lebih rendah dari laki-laki. Sebagai contoh gaji rata-rata perhari pekerja laki-laki dari pagi hingga sore adalah 5 pesetas dan pekerja perempuan hanya setengahnya.</strong></p>
<p>Keduanya menjalankan kehidupan yang terpisah. ‘Lingkaran sosial perempuan hanya berputar di sekitar kaum perempuan lainnya: anggota keluarga, tetangga, rekan kerja, atau orang-orang yang mereka temui di pasar. Sementara kaum laki-laki, juga hanya berada di sekitar dunia laki-lakinya yang lebih dominan, seperti di pabrik, pertemuan serikat pekerja, hingga di bar-bar lokal.</p>
<p><span id="more-93"></span>Kebebasan personal perempuan sangat dibatasi. Perempuan yang belum menikah tidak dapat berjalan di tempat umum tanpa seorang teman ataupun pengawal, kebanyakan perempuan malah seringkali dinikahkan dengan sistem penjodohan.</p>
<p>Oleh karena peranan tradisional yang dijalankan kebanyakan perempuan Spanyol dan sedikitnya jumlah perempuan yang bekerja di luar rumah, jumlah perempuan yang terlibat di dalam serikat maupun gerakan politikpun menjadi sangat minim. Meskipun CNT secara terbuka mengklaim organisasi mereka sebagai egalitarian, namun di dalam prakteknya CNT gagal menarik kebanyakan perempuan untuk bergabung, hal ini di sebabkan karena cukup jarangnya isu perempuan yang didiskusikan.</p>
<p>Untuk merespons situasi perempuan yang cukup mendesak, dua tahun sebelum terjadinya revolusi 1936, dua kelompok anarkis yang beranggotakan perempuan di Barcelona dan Madrid mulai melakukan pengorganisiran. Sebagai perencanaan sebelum revolusi, kedua kelompok ini membangun sebuah jaringan aktifis perempuan yang kemudian di namakan <em>‘Mujeres Libres’</em> (perempuan merdeka).</p>
<p>Kudeta militer terjadi pada tanggal 17 juli tahun 1936 menjadi boomerang yang makin mempercepat revolusi sosial yang tengah dinanti-nanti. Organisasi-organisasi anarkis telah lebih dulu menyadari akan terjadinya pemberontakan dari pihak militer. Minggu-minggu sebelum terjadinya kudeta, sebagian besar aktifis CNT tidur di sekretariat mereka untuk dapat mempersiapkan diri. Begitu kudeta terjadi, masyarakat merebut jalanan dan merampas gudang-gudang persenjataan pemerintah. Pada hari-hari pertama setelah kudeta militer terjadi, sejumlah besar perempuan bahu-membahu membangun barikade-barikade dan di setiap barrios (ke-tetangga-an) mereka menjalankan tugas untuk memenuhi kebutuhan makanan tiap di tempat-tempat tersebut.</p>
<dl>
<dd> <em>“Hal terpenting yang dilakukan oleh para perempuan – selain, aksi kepahlawan yang mereka lakukan bersama laki-laki &#8211; adalah memanjat atap rumah dengan membawa pengeras suara dan secarik kertas, kemudian berteriak kepada para tentara untuk melepaskan seragam mereka dan bergabung dengan masyarakat.”</em> </dd>
</dl>
<p>Kudeta militer di Barcelona berhasil dilumpuhkan juga di daerah-daerah Spanyol dimana para anarkis memiliki pengaruh yang kuat. Dengan segera, milisi-milisi pekerja diorganisir dan disebar di setiap garis depan perjuangan melawan fasisme. Para perempuan bertempur bahu membahu bersama laki-laki di garis depan hingga pada bulan November 1936 pemerintahan republik ‘memiliterkan’ milisi dan menarik semua perempuan dari garis depan pertempuran.</p>
<p><strong>Perempuan-perempuan yang berada di kolektif</strong></p>
<p>Segera setelah gagalnya kudeta, kolektif-kolektif yang berbasis pertanian maupun industri yang dikendalikan oleh kaum anti-fasis mekar di seantero Spanyol. Kolektif-kolektif tersebut sangat terpengaruh oleh ide-ide serikat pekerja anarkis, CNT, yang beranggotakan sekitar lima juta orang. Pada bulan-bulan pertama para aktifis CNT maupun FAI berkunjung ke desa-desa untuk memberdayakan pengkolektifan yang akan dilakukan oleh masyarakat lokal. Sebagaimana Soledad Estorach, salah satu aktifis yang terlibat, berkata,</p>
<dl>
<dd> <em>“ketika kami pergi ke sebuah desa, kami mendatangi komite temporer desa tersebut dan mengajak seluruh warga desa untuk mengadakan pertemuan. Kami akan menjelaskan surga kami dengan penuh antusias..dan akan ada sebuah debat &#8211; ala campesino – pertanyaan, diskusi, dan sebagainya. Di hari berikutnya mereka mulai merebut tanah-tanah dan memanfaatkannya, kemudian membagi kerja-kerja.”</em> </dd>
</dl>
<p>Kolektif-kolektif ini, secara garis besar, meraih kesuksesan dan kondisi-kondisi kehidupan dari mereka yang berpartisipasi di dalamnya membaik secara dramatis. Namun di kolektif-kolektif daerah pedesaan tidak terjadi perubahan yang signifikan pada pembagian kerja secara jenis kelami yang masih tradisionil. Meskipun perempuan yang belum menikah bekerja di luar lingkungan rumah tangga, biasanya di dalam tempat kerja-tempat kolektif atau pada cabang distribusi kooperatif, perempuan yang telah menikah masih di bebani tanggung jawab untuk merawat anak-anak. Tugas-tugas domestik masih menjadi rutinitas perempuan.</p>
<p>Beberapa kolektif (seperti Monzon dan Miramel) memang membayar gaji pekerja perempuan dan laki-laki menurut tingkat kerja yang telah mereka lakukan, namun secara garis besar kerja-kerja yang dilakukan oleh perempuan masih di bawah rata-rata. Seringkali upah yang diterima oleh perempuan lebih sedikit dari laki-laki. Beberapa kolektif membayar upah keluarga, dan upah ini di berikan kepada laki-laki yang dianggap sebagai kepala rumah tangga.</p>
<p>Sementara itu di daerah kota para perempuan kebanyakan bekerja di industri tekstil, dan proporsinya semakin meningkat. Banyak perempuan tidak lagi melakukan ‘kerja rumah tangga’ seperti biasanya. Peran kerja ini telah di hapuskan selama revolusi dan kaum perempuan banyak yang membanjiri kerja-kerja pabrik yang telah di kolektifkan. Sebagai contoh, di Madrid dan Barcelona kebanyakan kaum perempuan menjalankan sistem transportasi. Pergerakan menuju kerja-kerja pabrik dimaksudkan untuk memperbaiki waktu kerja dan upah bagi perempuan.</p>
<p>Meskipun begitu seringkali masih terjadi perbedaan upah yang terus berlanjut antara laki-laki dan perempuan. Sama seperti sekarang ini, perempuan mempunyai peranan kerja di luar dan di dalam rumah, sehabis pulang kerja mereka masih harus merawat anak-anak mereka dan mengerjakan tugas rumah. Situasi ini merupakan penyebab susahnya kaum perempuan untuk dapat berpartisipasi di dalam pertemuan serikat dan menyebabkan mereka hanya memiiliki pengaruh yang minim, isu-isu yang menyangkut kaum perempuanpun seringkali tidak diprioritaskan.</p>
<p>Namun kejadian-kejadian diatas tidak terjadi dibeberapa daerah dimana pengaruh gerakan perempuan di dalam serikat (seperti pekerja tekstil CNT di Terrassa) cukup kuat. Didaerah-daerah seperti ini kaum perempuan cukup berhasil dalam mempengaruhi serikat membayar kerja perempuan secara setara dan menghapuskan ‘kewajiban maternitas.’</p>
<p><strong>Mujeres Libres</strong></p>
<p>Pada masa-masa ini banyak orang cukup prihatin dengan permasalahan yang masih terjadi pada kaum perempuan. Di bulan September 1936 sebuah organisasi perempuan anarkis dibentuk, selama dua tahin eksistensinya, jumlah partisipannya mencapai 30.000 perempuan.</p>
<p>Mujeres Libres mempunyai dua strategi. Pertamanya adalah apa yang disebut “capacitation” yang di tujukan sebagai penyadaran bagi kaum perempuan agar mereka dapat menyadari potensi mereka dan dapat berpartisipasi secara setara di dalam sebuah masyarakat baru yang sedang di bangun. Strategi keduanya adalah “captacion” – yang dimaksudkan untuk melibatkan perempuan di dalam gerakan anarkis.</p>
<p>Mujeres Libres dari awalnya mengkontribusikan usaha yang menakjubkan untuk melibatkan banyak perempuan di dalam aktifitas serikat. Kebanyakan perempuan memiliki halangan yang sama ketika mereka di ajak untuk mengikuti pertemuan serikat pekerja, kebanyakan dari mereka harus merawat anak. Jadi salah satu kegiatan Mujeres Libres adalah membangun <em>“pelayanan pengasuhan anak yang berpindah-pindah,”</em> yang di peruntukan bagi para perempuan yang tertarik bergabung di dalam serikat.</p>
<p>Pendidikan merupakan bagian terpenting yang telah di lakukan oleh Mujeres Libres. Mereka berkeinginan untuk menghapuskan buta huruf yang tersebar di seluruh Spanyol pada saat itu. Mereka membangun Casa de la Dona yang melibatkan 600 sampai 800 perempuan perharinya di bulan desember 1938. Kursus-kursusnya meliputi belajar membaca, menulis, matematika sampai pada kelas-kelas professional seperti mekanik, pertanian, juga kelas-kelas untuk mengenal organisasi serikat, sosiologi, dan ilmu ekonomi.</p>
<p>Mujeres Libres percaya bahwa peningkatan edukasi dan kesadaran akan memberdayakan <em>“perempuan untuk membebaskan diri mereka dari perbudakan tiga arah”</em>, yaitu: perbudakan mereka dari ketidaktahuan, perbudakan mereka sebagai perempuan, dan perbudakan mereka sebagai pekerja. Untuk mempersiapkan mereka pada sebuah tatanan sosial baru. Kegiatan ini dipercayai akan membawa perempuan untuk mengambil peranan aktif di dalam revolusi kemudian membantu untuk memenangkan perang.</p>
<p>Mujeres Libres bekerja sama dengan serikat-serikat pekerja dalam menjalankan beberapa bidang ketenagakerjaan dan program magang untuk memfasilitasi akses perempuan di dalam tempat kerja. Demikian juga di dalam pelatihan teknik mereka menekankan perjuangan kesetaraan yang sepenuhnya di tempat kerja.</p>
<p>Di dalam usaha untuk menyampaikan pesan mereka, Mujeres Libres memiliki majalah yang di buat sendiri dan mereka juga menerbitkan beberapa artikel di terbitan-terbitan libertarian. Anggota-anggota organisasi mengunjungi daerah pedesaan untuk mengadakan propaganda keliling dan berbicara dengan kaum perempuan juga untuk membantu memperkuat kolektif-kolektif di pedesaan. Pepita Carpena berbagi pengalamannya ketika berada di sana:</p>
<dl>
<dd><em>“kami akan memanggil para perempuan dan menjelaskan mereka…bahwa ada sebuah peranan yang jelas untuk perempuan, bahwa perempuan tidak seharusnya melepaskan kemandirian mereka, bahwa perempuan bisa menjadi seorang ibu juga seorang ‘companera’ di saat yang bersamaan… seorang perempuan muda mendatangiku dan berkata, “ini sungguh menarik. Kami belum pernah mendengar kata-kata yang kamu bicarakan tadi. Kata-kata yang telah kami rasakan, namun kami tak mengetahuinya”…ide-ide yang mereka bicarakan paling sering? Adalah pembicaraan mengenai kekuasaan yang di praktekkan laki-laki atas perempuan.. kegaduhan langsung terdengar seketika kamu berbicara, “kita jangan sampai membiarkan laki-laki berpikir bahwa mereka lebih unggul dari perempuan, bahwa kaum laki-laki memiliki hak untuk mengendalikan perempuan.” Menurutku perempuan Spanyol sudah menunggu panggilan semacam ini sejak lama.”</em> </dd>
</dl>
<p>Cukup penting untuk mempertimbangkan konteks Spanyol di tahun 1930-an secara menyeluruh agar dapat memahami pencapaian Mujeres Libres selama revolusi sosial. Sebagaimana ketika mereka harus berjuang melawan pengkondisian sosial mereka, mereka juga harus melawan asumsi mengenai peranan perempuan yang tradisionil. Banyak artikel yang ditulis di koran-koran dan majalah anarkis berisi keluhan perihal bagaimana kawan-kawan seperjuangan laki-laki, tanpa membawa embel-embel kepercayaan politis mereka, masih memainkan peran ‘tuan’ di dalam rumah mereka sendiri dan berusaha menjaga pandangan mengenai peranan perempuan yang tradisional di dalam masyarakat.</p>
<p>“Para companeros ini, seradikal apapun mereka di kafe-kafe, di serikat, bahkan di dalam kelompok affinitas, rupanya melupakan ide-ide mereka yang mendukung pembebasan perempuan seketika mereka berada di rumah.” Di dalam konteks publik gerakan libertarian kaum perempuan seringkali tidak di akui dan tidak di hargai.</p>
<p>Untuk permasalahan semacam ini Mujeres Libres menekankan otonomi organisasional. Mereka percaya bahwa perempuan butuh sebuah organisasi yang terpisah untuk memfokuskan isu-isu yang lebih mengangkat masalah kaum perempuan. Mereka berpendapat bahwa hanya melalui aksi langsung dari diri mereka sendiri kaum perempuan dapat lebih percaya diri dan berkemampuan untuk berpartisipasi secara setara di dalam pergerakan anarkis.</p>
<p>Meskipun begitu Mujeres Libres tidak memisahkan perjuangan emansipasi perempuan dengan perjuangan kelas. Mereka menolak feminisme mainstream yang ambisinya “hanya untuk memberi akses lebih luas pada kaum perempuan golongan kelas tertentu untuk dapat berpartisipasi lebih penuh di dalam sistem privilese.” Mereka bahkan mendasari subordinasi perempuan sebagai hasil dari sebuah sistem hirarki yang lebih besar.</p>
<p>Revolusi menyebabkan perubahan-perubahan sosial yang dramatis. Cita-cita lama, asumsi-asumsi serta cara dalam berperilaku mulai dipertanyakan kembali. Mujeres Libres memang merupakan sebuah organisasi vital yang mengangkat isu yang belum pernah diangkat oleh organisasi-organisasi kiri lainnya pada saat itu. Revolusi sosial di capai oleh masyarakat, sebagaimana para perempuan di dalam Mujeres Libres, yang mendorong lebih jauh perubahan-perubahan radikal di dalam sebuah masyarakat yang demikian konservatif.</p>
<p>Nasib dari Mujeres Libres terikat dengan nasib dari keseluruhan revolusi sosial. Ketika pemerintahan republik, termasuk kepemimpinan CNT, mengkonsentrasikan diri pada ‘front popular’ melawan fasis Franco, revolusi sosial dan perubahan yang di ciptakan oleh Mujeres Libres mulai di kesampingkan. Tidak ada usaha apapun mengatasi golongan ‘anti-fasis’ dari kelas penguasa maupun untuk mengantagoniskan ‘demokrasi barat.’ Perang yang terjadi bukan untuk Spanyol yang baru, namun hanya untuk penguasa-penguasa parlementer yang akan menggantikan penguasa militer. Ketika ini terjadi revolusi pun ikut mati, dan perang melawan Franco di kalahkan.</p>
<dl>
<dd><em>“Ketika kaum republikan datang, banyak orang berbondong-bondong membongkar penjara dan membebaskan semua tahanan, dan aku juga ikut serta di dalam kejadian tersebut. Ada seorang laki-laki berteriak “persetan dengan tentara sipil”, “ persetan dengan politik” dan teriakan-teriakan serupa. Lalu aku berkata pada diriku sendiri “aha, dia seorang anarkis.” Ini merupakan pengalaman pertamaku berhadapan dengan seorang anarkis—dan dia tidak terlihat seperti seseorang yang bejat. Paras wajahnya mencerminkan kebaikan.”</em> (Soledad Estorach) </dd>
</dl>
<p>Semua perempuan yang membangun organisasi Mujeres Libres aktif di dalam gerakan anarkis, entah itu di CNT ataupun FIJL, bagaimanapun, sebagai perempuan, mereka merupakan minoritas dan menemukan kesulitan ketika mengundang para perempuan untuk terlibat langsung di dalam aktifitas, hal ini bisa di sebabkan oleh seksisme dari kaum laki-laki maupun keengganan dari perempuan itu sendiri, atau malah kombinasi dari keduanya. Mereka mengeluh pada sikap teman-teman laki-laki anarkis mereka yang memperlakukan perempuan selayaknya ketika mereka berada di rumah atau bahkan malah menganggap remeh mereka di ruang-ruang publik. Para perempuan yang datang untuk mengikuti pertemuan seringkali terlebih dahulu di tertawai sebelum mereka berbicara sepatah kata pun.</p>
<p>Azecena Fernandez Barba tumbuh dengan dua orang tua yang sama-sama memiliki komitmen kepada pergerakan. Dia, bersama saudari perempuan dan saudara laki-lakinya membantu pembentukan Sol y Vida di Barcelona, namun dia mengomentari para laki-laki anarkis yang dia kenal sebagai berikut;</p>
<dl>
<dd><em>“Mereka berjuang, mereka pergi mogok, dan sebagainya. Namun di dalam rumah, mereka lebih buruk dari siapapun. Aku pikir kita harus berkaca pada hidup kita sendiri, hidup secara berbeda sebagaimana yang kita inginkan. Namun tidak. (bagi mereka), perjuangan, hanya ada diluar rumah. Di dalam rumah (keinginan kita) semuanya murni utopia.”</em> </dd>
</dl>
<p>Perilaku seperti ini merefleksikan variasi pandangan-pandangan terhadap perempuan yang eksis di Spanyol, dari pandangan Proudhon yang seksis sampai Bakunin yang menekankan kesetaraan perempuan di setiap institusi sosial.</p>
<p><strong>Bagaimana Mujeres Libres dimulai</strong></p>
<p>Dua kelompok di bentuk secara independen, satu di Barcelona dan satunya lagi di Madrid untuk membuat jurnal bagi Mujeres Libres. Cetakan pertama terbit di bulan mei 1936. Dua grup tersebut memiliki fokus yang berbeda, grup di Barcelona menginginkan aktifisme yang lebih luas dari perempuan yang telah terlibat di CNT, dimana Mujeres Libres ingin membuat penyadaran yang luas di kalangan perempuan secara menyeluruh.</p>
<p>Grup di Barcelona ini¸ menyadari kepentingan bersama mereka dan berafiliasi di bawah nama Agrupacion Mujeres Libres.</p>
<p>Kerja-kerja awal mereka adalah sebuah kombinasi dari penyebaran kesadaran dan aksi langsung. Mereka membangun jaringan anarkis perempuan untuk menciptakan dukungan yang mutual. Mereka membuat pertemuan satu sama lain, mengecek reportase perilaku seksis dan membicarakan strategi untuk mengatasinya.</p>
<p>Mereka membangun ‘pelayanan pengasuhan anak yang berpindah-pindah’ agar memungkinkan semakin banyaknya perempuan untuk terlibat di dalam aktifitas-aktifitas serikat.</p>
<p>Sebagaimana yang dikatakan Soledad: “ketika kami datang kesana, kami akan melakukan propaganda. Kami akan berbicara pada mereka mengenai ‘komunisme libertarian’ dan subyek-subyek lainnya. Sungguh kasihan, mereka akan berada di pertemuan dan pulang untuk di cerahami oleh kita! Kadang-kadang suami mereka pulang ke rumah dan bergabung dengan diskusi.”</p>
<p><strong>Artikel-artikel macam apa yang dihasilkan oleh Jurnal Mujeres Libres</strong></p>
<p>Secara inisial Jurnal mereka tidak mengidentifikasikan diri sebagai anarkis, meski semua artikel yang berisi di dalamnya sangat libertarian, ini disebabkan oleh alasan mereka tidak mau mengalienasikan perempuan hanya karena label-label semacam ini. Namun setelah revolusi Jurnal ini berkolaborasi dengan CNT. Jurnal ini kemudian di distribusi dan di iklankan melalui jaringan-jaringan anarkis. Mereka agak kebingungan dengan terbitan-terbitan anarkis, ada banyaknya laki-laki-laki-laki anarkis yang ingin membantu distribusi sampai menawarkan penulisan artikel. Namun setelah itu mereka mulai menolaknya pelan-pelan, karena mereka pikir, sesuatu mengenai perempuan harus menjadi tugas perempuan untuk menulisnya.</p>
<p>Mereka mengorganisir perempuan-perempuan untuk melaporkan kenyataan kerja yang sedang mereka alami dan lakukan. Melaporkan soal-soal pemogokan sampai pekerjaan mereka sebagai pekerja pertanian. Pembangkitan kesadaran sangatlah penting, di setiap isu ada sebuah artikel mengenai perempuan-perempuan tertentu, mereka juga mengkontribusikan kolom di majalah-majalah anarkis lainnya.</p>
<p>Sejumlah tulisan yang mereka buat merupakan komentar-komentar politis yang terbuka: sebuah surat dari Emma Goldman menjelaskan keterbukaan dari ide-ide anarkis pekerja Welsh, sebuah kritik pada persatuan bangsa-bangsa dan asosiasi pekerja internasional untuk mengambil tindakan yang efektif terhadap invasi Italia ke Abyssinia dan sebuah analisis mengenai hukum yang mendiskriminasi perempuan.</p>
<p>Sebagai ekstra Jurnal juga menerbitkan artikel-artikel yang membahas permasalahan kultural dan pendidikan, ada sebuah review ‘Modern Timesnya’ Charlie Chaplin dan essay mengenai makna dari olah raga maupun ulasan kehidupan pekerja-pekerja pertanian.</p>
<p>Ada juga artikel-artikel yang biasanya nongol di majalah-majalah perempuan manapun, dari masalah perawatan anak sampai fashion.</p>
<p><strong>Apa yang mereka percayai</strong></p>
<p>Mujeres Libres menolak dua pandangan feminisme, yang menurut mereka memperjuangkan kesetaraan perempuan di dalam sebuah sistem kapitalisme, juga kedudukan tidak setara perempuan di dalam gerakan libertarian.</p>
<dl>
<dd><em>“kami tidak akan pernah dan tidak akan menjadi feminis. Kami bukannya ingin melawan laki-laki. Kami tidak ingin mengganti hirarki laki-laki dengan hirarki perempuan. Sangatlah penting untuk bekerja dan berjuang bersama, karena apabila tidak, kita tidak akan bisa mencapai revolusi sosial. Namun kami juga memandang penting pembuatan organisasi yang akan memperjuangkan diri kami sendiri.”</em> </dd>
</dl>
<dl>
<dd><em>“Kami cukup waspada dengan tawaran-tawaran yang diajukan oleh organisasi-organisasi feminis maupun partai politik. Kami tidak akan mengikuti kedua bentuk organisasi semacam itu. Kita tidak bisa memisahkan permasalahan yang dihadapi perempuan dengan permasalahan sosial, tapi ini juga bukan sebuah alasan untuk menjadikan perempuan hanya menjadi instrumen bagi organisasi manapun, walau itu organisasi libertarian sekalipun.”</em> </dd>
</dl>
<p>Keinginan yang menjadi basis dari aktifitas kami ini sebenarnya lebih luas: untuk menjalankan sebuah doktrin, bukannya partai, untuk memberdayakan para perempuan agar mereka menjadi individu-individu yang berkemampuan untuk mengkontribusikan penciptaan dari masyarakat yang baru; yaitu para individu yang sudah dapat berdiri diatas kakinya sendiri, bukannya yang secara buta mengikuti keinginan organisasi.</p>
<p><strong>Kerja-kerja macam apa yang dilakukan oleh Mujeres Libres</strong></p>
<p>Mujeres Libres mempunyai dua strategi inti, yaitu <em>‘capacitacion’</em> atau persiapan dan <em>‘captacion’</em> atau partisipasi.</p>
<p>Mereka menyuplai makanan pada pasukan milisi, dan mempersiapkan tempat untuk makan bersama. Mereka berkunjung ke seluruh Catalonia dan Aragon untuk membantu pembangunan kolektif-kolektif rural. Banyak perempuan pergi ditemani perwakilan dari CNT dan FAI dengan membawa pengeras suara untuk mengajak para petani bergabung. Yang lain mengorganisir konvoi-konvoi makanan dan suplai untuk dikirim ke Madrid.</p>
<p>Mereka juga membuat program literasi, kelas-kelas yang memiliki orientasi tertentu, studi-studi sosial sampai institusi. Diantara 600 sampai 800 perempuan mendatangi kelas-kelas setiap harinya di Barcelona pada bulan desember 1938. Kerja-kerja propaganda di lakukan melalui radio, perpustakaan berjalan maupun tur khusus.</p>
<p>Ketika melakukan kerjasama dengan serikat mereka melakukan program-program magang.</p>
<p>Mereka mengorganisir dukungan pada tentara-tentara perempuan dengan membuat kelas-kelas pelatihan menembak pada mereka.</p>
<p>Mereka membangun sebuah sekolah untuk perawat dan sebuah klinik medis gawat darurat untuk mengobati mereka yang terluka di medan perang. Teresina, meski kekurangan ilmu di dalam bidang medis di angkat sebagai administrator; disini ia berbicara mengenai kebanggaannya pada peranan yang ia kerjakan: <em>“aku ingat beberapa kali ayah datang kepadaku ke klinik untuk meminta tolong, dan aku akan berkata kepadanya, “mohon, disini kita semua setara,” dan mereka membalasku dengan berkata, “nah, kamu benar-benar telah membangun revolusi.” Aku mendapatkan kepuasan dari sini. Karena aku mengatur semuanya tanpa pembelajaran apapun…yang aku tahu, adalah aku di latih disini..dan itu yang bisa aku katakan tentang sesuatu yang aku lakukan untuk revolusi. Sementara aktifitas yang lain, aku melakukan seperti yang lainnya lakukan. Namun ini adalah sesuatu yang benar-benar aku lakukan.”</em></p>
<p>Di Barcelona mereka membangun rumah sakit yang melayani kelahiran dan masalah kandungan untuk perempuan, juga kelas-kelas untuk anak-anak dan kesehatan ibu, kontrol kelahiran, dan seksualitas. Sebuah institut yang menanggulangi masalah keibuan dan perawatan anak di namai dengan nama seorang anarkis perempuan Perancis, Louise Michel. Institut ini didirikan di Barcelona pada bulan Februari 1938.</p>
<p><strong>Apa reaksi dari gerakan Anarkis?</strong></p>
<p>Di tahun 1937 mereka mengunjungi Valencia agar di ikut sertakan dan mereka di suruh pergi dan mengorganisir diri. Akibat dari ini, sebuah konferensi nasional di bulan agustus 1937 di adakan, dan melalui ini sebuah struktur federasi dari Mujeres Libres di bangun. Mereka memutuskan untuk tidak bergantung pada pengakuan status sebagaimana mereka tidak menginginkan adanya kompromi mengenai urusan otonomi dari Mujeres Libres.</p>
<p>Mujeres Libres bisa saja bergabung dan menjadikan dirinya bagian dari gerakan serikat yang mengatasi masalah-masalah feminin, dengan mengubah para perempuan menjadi wadah bagi anarko sindikalisme. Mujeres Libres juga bisa menggabungkan dirinya dengan FAI dan menjadi cabang perempuan dari organ tersebut. Namun mereka lebih memilih sebuah organisasi yang mandiri.</p>
<dl>
<dd><em>“Karena kami semua para ‘penggerak utamanya’ adalah anarkis, kami tidak dapat menciptakan sebuah situasi, di dalam organisasi spesifik ini dimana ada individu yang tidak memiliki formasi sosial: sebagaimana kami juga tidak ingin mengubah para individu ini menjadi instrumen buta tanpa mengkontradiksikan prinsip-prinsip anarkis kami.”</em>   </dd>
</dl>
<p>Mujeres Libres cukup ngotot untuk memiliki suara di podium-podium, dan ini di setujui. Banyak dari media-media anarkis mendukung dan sangat antusias dengan hal ini. Serikat lokal CNT mendukung mereka dengan berpartisipasi di dalam program-program pembelajaran dan mengizinkan Mujeres Libres berbicara di pabrik-pabrik, membuat seluruh dewan berhenti untuk sementara waktu dan mendengarkan mereka berbicara.</p>
<dl>
<dd><em>“Beberapa kelompok kami akan mengunjungi pabrik-pabrik yang telah di kolektifkan, dan menghentikan aktifitas kerja dalam rentang waktu 15 sampai 20 menit, terkadang bisa sampai sejam, lalu berbicara kepada pekerja, seperti sebuah kelas kecil. Hal ini tentunya kami lakukan dengan persetujuan dari dewan tempat kerja agar kami mendapatkan dukungan dari serikat-serikat. Kami melakukan ini di seluruh Barcelona &#8211; di industri perang, tekstil, transportasi, energi cahaya, kayu dan metallurgy &#8211; juga di beberapa Pueblo. Pada hari tertentu kami pergi ke lima puluh tempat yang berbeda-beda.”</em> </dd>
</dl>
<p>CNT menyediakan makanan, tempat pertemuan, dan dukungan finansial. Namun tidak semuanya berjalan mulus. Kawan-kawan Mujeres Libres seringkali berhadapan dengan sikap seksis dari para laki-laki anarkis dan merasa mereka dianggap remeh dan tidak di berikan uang yang cukup.</p>
<p>FIJL merupakan organisasi rival yang memisahkan diri ketika gerakan pemudanya membentuk cabang gerakan perempuan yang tampaknya mereplikasi kerja yang dilaksanakan oleh Mujeres Libres. Mereka mengklaim merepresentasikan gerakan perempuan muda sementara Mujeres Libres merepresentasikan perempuan dewasa. Mujeres Libres memandang situasi ini sebagai sesuatu yang sia-sia.</p>
<p>Frustasi Mujeres Libres memuncak ketika mereka tidak menerima undangan resmi pada Kongres Gerakan Libertarian di bulan oktober 1938.</p>
<p><strong>Laporan Pura Perez Arcos</strong></p>
<dl>
<dd><em>“Kami berlayar sore hari dari pelabuhan Alicante pada tanggal 7 oktober, dengan sebuah kapal Inggris yang kecil. Grup yang berangkat termasuk orang-orang dari Madrid, Valencia dan dari berbagai tempat di Andalusia. Delegasi Mujeres Libres kami yang sangat kecil sangat terinspirasi dengan harapan-harapan mereka yang besar atas kongres tersebut. Untuk melakukan perjalanan di hari-hari itu sangatlah beresiko, dan kami semua menyadarinya. Pelabuhan-pelabuhan di jatuhi bom tiap malam, dan kami semua adalah penumpang illegal di kapal Inggris yang berlayar berdampingan dengan kapal-kapal Franco. Kami sudah hampir sampai pagi harinya, namun ketika mendekati pelabuhan, seketika kami dapat mendengar ledakan dari bom fasis yang sedang menyerang pelabuhan. Kapten kapal tersebut langsung banting stir menuju utara, dan kami harus berlayar sepanjang hari dan malam, dan akhirnya sampai di Barcelona, tanggal 9 pagi hari dengan kondisi lelah dan lapar. Kami sudah terlebih dahulu senang akan berbicara di kongres mengenai permasalahan-permasalahan Mujeres Libres, namun untuk masuk ke ruang kongres saja kami tidak di izinkan.”</em> </dd>
</dl>
<p>Secara kebetulan Emma Goldman juga berusaha ingin masuk pada saat itu. Ketika dia diberikan akses penuh untuk masuk, kongres akhirnya mengizinkan Mujeres Libres masuk pada saat diskusi-diskusi yang akan membicarakan permasalahan mereka.</p>
<p>Mujeres Libres berusaha meraih klaim resmi namun hal ini tdak pernah di votingkan, sebagaimana para delegasi beralasan kalau isu tersebut belum pernah di bicarakan sebelum konferensi, karena itu mereka belum mengkonsultasikannya ke grup mereka dan tidak dapat melakukan voting untuk itu.</p>
<p><strong>Oposisi yang berdatangan kebanyakan menekankan argumen di sekitar permasalahan otonomi</strong> :</p>
<ol>
<li> Bahwa anarkisme tidak mengakui adanya pembedaan seks dan oleh karena itu sebuah organisasi yang memiliki orientasi ke perempuan saja tidak dapat menjadi sebuah organisasi libertarian.
<p><strong>Untuk argumen ini Mujeres Libres merespon:</strong><br />
<em>“Determinasi diri kami tidak dapat di oposisikan dari sudut pandang bahwa anarkisme tidak mengakui adanya pembedaan seks, sebab itu sangat perlu untuk melihat bahwa, sampai sekarang, organisasi Libertarian kami tidak mendapatkan klaim tersebut, entah karena pilihan ataukah keharusan, kebanyakan militan-militannya secara eksklusif adalah laki-laki!”</em></li>
<li> Bahwa Mujeres Libres menyebabkan kegaduhan karena ini berhubungan dengan kerja yang di selesaikan oleh serikat-serikat pekerja.</li>
<li> Bahwa Mujeres Libres tidak seharusnya menjadi sebuah organisasi otonomis, bagi mereka Mujeres Libres seharusnya bekerja di dalam serikat-serikat pekerja dan pusat-pusat kultural.</li>
</ol>
<p>Untuk merespons dua argumen tersebut, Mujeres Libres angkat suara bahwa organisasi mereka bekerja di dalam dan di luar serikat, dan kerja-kerja mereka membutuhkan sebuah pendekatan yang lebih luas dan multiwajah daripada organisasi-organisasi yang ada. Mereka aktif di serikat-serikat yang tidak membela perempuan secara bijak. Mereka berargumen kalau mereka bukanlah organisasi separatis, mereka malah menekankan bahwa perempuan seharusnya bergabung dengan laki-laki di serikat-serikat pekerja.</p>
<p>Namun isu-isu ini belum dapat di temukan jalan keluarnya, sampai ketika konferensi terakhir yang diadakan sebelum penghujung perang.</p>
<p>Pertama kalinya Mujeres libres di panggil di sebuah pertemuan libertarian sebagai anggota yang setara dari keluarga Libertarian, sayangnya, juga menjadi kesempatan yang ke terakhir kalinya;</p>
<p><strong>Conchita Guillen :</strong></p>
<p>“Dalam hari-hari genting evakuasi di Barcelona )24 Januari, 1939), ketika fasis sudah berada di gerbang, kami di panggil untuk menghadiri sebuah pertemuan gerakan Libertarian: CNT, FAI, JJLL dan Mujeres Libres. Jacinto Escudero dan aku menghadiri pertemuan itu sebagai delegasi federasi lokal Mujeres Libres. Ini adalah sebuah pertemuan yang cukup penting, karena kita juga berada di dalam sebuah situasi yang krusial: Dimana kami harus mempertahankan, atau meninggalkan (Barcelona)…kami menaruh diri kami sebagai disposisi dari pergerakan; mereka berterima kasih pada kami, namun mengatakan kalau itu akan menjadi pengorbanan yang sia-sia, karena mereka tidak memiliki kekuatan sama sekali, dan seharusnya kita keluar dari Barcelona secepatnya.”</p>
<p><strong>Konklusi</strong></p>
<p>Mujeres Libres membuktikan banyak contoh yang hidup dari aspek-aspek penting teori anarkis. Pertama-tama adalah hubungan individual di dalam kolektif, bagaimana kolektif itu bisa kuat ketika individu-individu yang membentuknya juga kuat.</p>
<p>Kedua, pentingnya aksi langsung dan aktifitas mandiri, di dalam membuat revolusi dan mencetak  para revolusioner.</p>
<p>Demokrasi langsung lebih sulit dan lebih berantakan dalam pengertian singkatnya, namun lebih sukses dalam jangka panjang karena proses negosiasi, membuat persetujuan dan pengorganisiran komunitas dan individu revolusioner di dalam sebuah cara yang takkan pernah bisa di lakukan dari atas ke bawah.</p>
<p>Ketiga, hubungan antara ide dan aksi. Debat mengenai peranan perempuan di Spanyol, bukanlah sesuatu yang telah tuntas. Namun dilihat sebagai proses yang sedang berjalan. Mujeres Libres bangkit dari pengalaman perjuangan perempuan, dan mereka memperlihatkan pentingnya bagi perempuan untuk belajar melalui pabrik-pabrik, komunitas dan juga di dalam gerakan Libertarian. Dari aksi-aksi ini, ide-ide baru mulai bermekaran.</p>
<p><strong>Referensi</strong></p>
<ul>
<li> <a href="http://www.infoshop.org/iau/spain1.html" class="external text" title="http://www.infoshop.org/iau/spain1.html" rel="nofollow">Free Women of Spain</a></li>
<li> Terjemah: Eat</li>
<li> Edit untuk Pustaka Otonomis oleh Yerry Niko</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2006/05/29/perempuan-merdeka-spanyol/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CNT-AIT : Inilah Perang Kelas</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2005/05/30/cnt-ait-inilah-perang-kelas/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2005/05/30/cnt-ait-inilah-perang-kelas/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 May 2005 16:21:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anarki Sindikalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Kolektif&Organisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/v2/2005/05/30/cnt-ait-inilah-perang-kelas/</guid>
		<description><![CDATA[Masyarakat ini dibagi-bagi menjadi kelas-kelas berdasarkan penguasaannya kekayaannya dan lembaga-lembaganya. Golongan yang berkuasaialah orang-orang yang ’memiliki’ paberik-paberik atau sumber-sumber alam. Ada di antaranya yang punya saham-saham atau jadi ketua dewan perusahaan-perusahaan dan sebagainya. Biasanya mereka didukung oleh kelas menengah, yang mendapat kedudukannya dalam masyarakat]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>CNT-AIT (Federasi Anarkis Sindikalis) adalah organisasi kelompok-kelompok dan perorangan-perorangan yang sudah bergobung hendak mengubahi masyarakat tempat kita hidup. Hendak memperbaiki nasib orang-orang kelas buruh.</p>
<p>Masyarakat ini dibagi-bagi menjadi kelas-kelas berdasarkan penguasaannya kekayaannya dan lembaga-lembaganya. Golongan yang berkuasaialah orang-orang yang ’memiliki’ paberik-paberik atau sumber-sumber alam. Ada di antaranya yang punya saham-saham atau jadi ketua dewan perusahaan-perusahaan dan sebagainya. Biasanya mereka didukung oleh kelas menengah, yang mendapat kedudukannya dalam masyarakat sebagai hasil perlindungan oleh golongan yang berkuasa yaitu menguasai serta mengatur/memecahbelahkan kelas buruh yang melakukan segala pekerjaan yang perlu. Masyarakat macam ini adalah sumber kebanyakan masalah-masalah yang dialami orang-orang kelas buruh di seluruhdunia. Golongen yang berkuasa berfekad menjaga kedudukannya yang istimewa itu maka harus dimusnahkan. Imilah perang kelas. Perubahan yang benar-benar hanya mewujud kalau orang-orang kelas buruh mengorganisir diri sendiri untuk menghadapi masalah-masalah yang dialami mereka. Kita harus memperlengkapi segala sesuatu untuk diri kita sendiri.</p>
<p><span id="more-34"></span>Bukannya kita ingin jadi budak-budak yang diperlakukan dengan lebih baik melainkan ingin menguasai nasib kita sendiri. Tindakan langsung melawan perorangan-perorangan serta lembaga-lembaga yang menghalangi tujuan ini sudah perlu. Tidak ada jalan lain. Kekerasan merupakan suatu bagian yang perlu dalam perang kelas. Bukan oleh teroris-teroris yang istimewa melainkan oleh orang banyak. Pihak yang lainlah yang memulai perang tersebut, kitalah yang harus menyelesaikannya !</p>
<p>Masyarakat kelas menimbolkan masalah-masalah lain berdasarkan prasangka-prasangka dari golongan yang berkuasa atau kelas menegah misalnya agama kelamin, suku bangsa, arah nafsu kelamin, cacat. Golongan yang berkuasa seringkali mempergunakan ciri-ciri ini untuk membagi-bagi kelas kita. Kita harus bergabung atas dasar persamaan kita yakni keperluan-keperluan dan latar belakang-latar belakang kelas buruh kita.</p>
<p>Kelas kita harus berjuang melawan pemisahan ini dimana-mana. Yang paling penting ialah CNT-AIT percaya bahwa bidang politik tidakbisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Juga kehidupan sehari-hari tidak bisa dari bidang politik. Kami menolak sayap kiri pekabar injil/sombong yang dinamakan ’revolusioner’. Politik kita harus memuasakan diri kita sendiri serta bersangkut-paut dengan kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Orang-orang kelas buruk harus bertanggungjawab pada politik revolusioner progresip. Radikal-radikal kelas menengah yang tidak bisa dipercaya sudah jadi kutuk pergerakan kami sejak permulaan kelas buruh.</p>
<p>Tujuan Kami</p>
<p>Maka tujuan CNT-AIT ialah mempertinggi nafsu berperang serta kesadaran akan diri sendiri kelas buruh dalam mempertahonkan kepentingan-kepentingan dan memecahkan masalah-masalah mereka. Kita harus melakukan ini melalui propaganda, pengikutsertaan giat dan perdebatan sebagai orang-orang yang sederajat</p>
<p>Arti Kata</p>
<p>* CNT = Confédération Nationale du Travail / Confederacion nacional de los Trabajadores<br />
* AIT = Asociacion Internacional de los Trabajadores, in english : IWA : International Worker’s Association http://iwa-ait.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2005/05/30/cnt-ait-inilah-perang-kelas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
