<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pustaka Otonomis &#187; Anarkisme</title>
	<atom:link href="http://pustaka.otonomis.org/category/anarkisme/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pustaka.otonomis.org</link>
	<description>Sekedar sebuah weblog WordPress lainnya</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Feb 2009 06:21:27 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Noam Chomsky: Marxisme, Anarkisme dan Harapan untuk Masa Depan</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2008/10/07/noam-chomsky-marxisme-anarkisme-dan-harapan-untuk-masa-depan/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2008/10/07/noam-chomsky-marxisme-anarkisme-dan-harapan-untuk-masa-depan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 11:14:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anarkisme]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Wawancara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/?p=136</guid>
		<description><![CDATA[Noam Chomsky dikenal luas karena kritikannya terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat, dan karya-karyanya sebagai seorang ahli linguistik. Yang justru kurang dikenal darinya adalah dukungannya yang terus menerus bagi tujuan-tujuan sosialis libertarian.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Pertama kali diterbitkan di Red &amp; Black Revolution No 2 1996</strong></em></p>
<p><strong>Noam Chomsky</strong> dikenal luas karena kritikannya terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat, dan karya-karyanya sebagai seorang ahli linguistik. Yang justru kurang dikenal darinya adalah dukungannya yang terus menerus bagi tujuan-tujuan sosialis libertarian. Dalam wawancara khusus dengan Red and Black Revolution (RBR), Chomsky memaparkan pandangannya mengenai Anarkisme dan Marxisme, dan prospek sosialisme kini. Wawancara ini dilaksanakan pada bulan Mei 1995 oleh Kevin Doyle.</p>
<p><span id="more-136"></span></p>
<p><strong>RBR:</strong> Pertama, Noam, Anda sudah cukup lama menjadi penganjur ide-ide anarkis. Banyak orang cukup akrab dengan kata pengantar yang Anda tulis pada tahun 1970 untuk Anarchism, tulisan Daniel Guerin, namun, baru-baru ini, misalnya  dalam film Manufacturing Consent, Anda mengambil kesempatan untuk menunjukkan kembali potensi anarkisme dan ide-ide anarkis. Apa sih yang membuat Anda tertarik pada anarkisme?</p>
<p><strong>CHOMSKY:</strong> Saya tertarik pada anarkisme sejak masih muda, segera setelah saya mulai berpikir tentang dunia melampaui secara lebih luas, dan saya belum melihat alasan yang cukup untuk mengubah pemikiran awal saya tersebut. Saya pikir, adalah benar untuk mencari dan mengidentifikasi struktur kekuasaan, hirarki dan dominasi dalam semua aspek kehidupan, dan untuk menentangnya; kecuali ada pembenaran yang bisa diberikan terhadap hal tersebut, struktur-struktur tersebut tidak sah, dan harus dihancurkan, untuk meningkatkan lingkup kebebasan manusia. Itu mencakup kekuasaan politik, kepemilikan dan manajemen, hubungan laki-laki dan perempuan, orang tua dan anak-anak, kontrol kita terhadap nasib generasi mendatang (dorongan moral mendasar di belakang gerakan lingkungan hidup, menurut pandangan saya), dan masih banyak lagi. Tentu saja ini merupakan tantangan terhadap institusi raksasa koersi dan kontrol: Negara, tirani privat yang tidak bertanggung jawab yang mengendalikan hampir seluruh ekonomi, dan sektor-sektor lain, domestik dan luar negeri. Tapi, tidak hanya itu saja. Itu adalah apa yang selalu saya anggap sebagai inti anarkisme: keyakinan bahwa beban pembuktian mesti diletakkan di pundak otoritas. Bila tak dapat membuktikan argumen keberadaannya, otoritas tersebut harus dihancurkan. Kadang-kadang beban tersebut dapat dipenuhi. Jika saya sedang berjalan-jalan dengan cucu-cucu saya dan mereka tibatiba berlari ke tengah jalan yang ramai, saya akan menggunakan tidak saja otoritas, melainkan juga paksaan fisik untuk menghentikan mereka. Tindakan tersebut harus ditantang, namun saya pikir, tindakan tersebut dapat menjawab tantangan tersebut. Dan terdapat pula berbagai kasus lain; kehidupan merupakan sesuatu yang kompleks, kita memiliki sangat sedikit pemahaman terhadap manusia dan masyarakat, dan pernyataan yang luas pada umumnya lebih mungkin salah daripada benar, bahkan bisa membahayakan. Namun perspektif ini tetaplah valid, menurut saya, dan bisa membantu kita cukup banyak.</p>
<p>Di luar generalisasi semacam itu, kita bisa mulai melihat permasalahan, dan di situlah pertanyaan mengenai kepentingan manusia dan keperdulian mulai muncul.</p>
<p><strong>RBR:</strong> Dapat dikatakan bahwa pemikiran dan kritik Anda semakin terkenal kini. Juga bisa ditambahkan bahwa pandangan Anda sangat dihargai. Bagaimana Anda pikir dukungan Anda terhadap anarkisme diterima dalam konteks ini? Khususnya, saya tertarik dengan respon yang Anda terima dari orang-orang yang mulai tertarik pada politik untuk pertama kalinya dan, mungkin, menemukan pemikiran Anda. Apakah orang-orang tersebut terkejut dengan dukungan Anda terhadap anarkisme? Apakah mereka tertarik?</p>
<p><strong>CHOMSKY:</strong> Sebagaimana anda ketahui, budaya intelektual pada umumnya mengasosiasikan &#8216;anarkisme&#8217; dengan kekacauan, kekerasan, pengeboman, gangguan dan lain-lain. Jadi orang kadang-kadang terkejut kalau saya membicarakan anarkisme secara positif dan mengidentifikasikan diri saya dengan tradisi utama di dalamnya. Namun kesan saya adalah bahwa dalam masyarakat luas, ide-ide dasarnya dapat diterima bila segalanya dijernihkan. Tentu saja, bila kita mulai membahas masalah yang lebih spesifik &#8211; katakanlah, sifat keluarga, atau bagaimana bentuk perekonomian dalam masyarakat yang lebih bebas dan adil &#8211; pertanyaan dan kontroversi timbul. Tapi memang seharusnya begitu. Fisika tidak dapat benar-benar menjelaskan bagaimana air mengalir dari keran di wastafel anda. Bila kita mulai mencoba menjawab pertanyaan yang lebih kompleks tentang kemanusiaan, pemahaman kita masih sangat minim, dan banyak ruang untuk perbedaan pendapat, percobaan, eksplorasi kemungkinan secara intelektual maupun kehidupan nyata, untuk membantu kita belajar lebih banyak.</p>
<p><strong>RBR:</strong> Mungkin, lebih dari pemikiran lainnya, anarkisme telah mengalami masalah penyalahartian. Anarkisme dapat berarti banyak hal bagi banyak orang. Apakah Anda sering kali harus menjelaskan apa yang Anda maksudkan dengan anarkisme? Apakah penyalahartian anarkisme merepotkan Anda?</p>
<p><strong>CHOMSKY:</strong> Semua penyalahartian merepotkan. Asal-muasalnya dapat ditelusuri dari struktur kekuasaan yang memiliki kepentingan untuk mencegah pemahamannya, untuk alasan-alasan yang jelas. Kita bisa merujuk pada Principles of Government karya David Hume. Ia merasa heran karena rakyat tunduk pada penguasanya. Ia menyimpulkan bahwa karena Kekuasaan selalu berada dipihak orang-orang yang diperintah, maka penguasa tidak memiliki dukungan bagi mereka sendiri kecuali opini. Maka, hanya atas opini didirikanlah pemerintahan; dan ini berlaku dari pemerintahan yang paling despotik dan militeristik hingga yang paling bebas dan merakyat. Hume sangat cerdik &#8211; meskipun bukanlah seorang libertarian menurut standar di masa itu. Ia jelas kurang memperhitungkan apa yang dapat dicapai oleh kekuatan rakyat, namun pengamatannya tampak bagi saya pada umumnya benar, dan penting, terutama dalam masyarakat yang lebih bebas, tempat seni mengendalikan opini jauh lebih canggih. Penyalahartian dan bentuk-bentuk pembingungan lainnya merupakan kawan seiring.</p>
<p>Jadi apakah penyalahartian merepotkan saya? Tentu saja, namun demikian pula cuaca yang buruk. Hal ini akan tetap ada selama konsentrasi kekuasaan menimbulkan sejenis kelas komisaris untuk mempertahankannya. Karena biasanya mereka tidak terlalu cerdas, atau cukup cerdas untuk tahu bahwa mereka sebaiknya menghindari ajang fakta dan argumentasi, mereka menggunakan penyalahartian, penjelek-jelekan dan cara-cara lain yang tersedia bagi mereka yang tahu bahwa mereka akan terlindungi oleh berbagai alat yang tersedia bagi yang kuat. Kita harus memahami mengapa ini semua terjadi, dan mengurainya sejauh kita mampu. Itu bagian dari usaha pembebasan &#8211; kita sendiri dan orang-orang lain, atau lebih mungkin, orang-orang yang bekerja bersama untuk mencapai tujuan tersebut.</p>
<p>Mungkin hal ini terdengar terlalu menyederhanakan, dan memang demikian. Namun saya masih belum pernah melihat pendapat mengenai kehidupan manusia dan masyarakat yang tidak menyederhanakan permasalahannya, setelah menyingkirkan absurditas dan pembenaran diri sendiri.</p>
<p><strong>RBR:</strong> Bagaimana dengan kelompok kiri yang lebih mapan, yang bisa diharapkan lebih mengenal apa sebenarnya yang diperjuangkan anarkisme? Apakah Anda mendapatkan kejutan akibat pandangan dan dukungan Anda pada anarkisme?</p>
<p><strong>CHOMSKY:</strong> Bila saya paham apa yang Anda maksud dengan kelompok kiri yang mapan, tidak terdapat banyak kejutan mengenai pandangan saya terhadap anarkisme, karena sangat sedikit yang diketahui orang lain tentang pandangan saya tentang apa pun. Mereka bukan kelompok tempat saya bergaul. Anda akan jarang sekali menemukan referensi tentang apa pun yang saya katakan atau tulis. Tentu saja, itu tidak sepenuhnya benar. Jadi, di AS (namun lebih jarang di Inggris atau di tempat-tempat lain), Anda akan menemukan sejumlah pemahaman tentang apa yang saya lakukan, pada sejumlah sektor yang lebih kritis dan independen dari apa yang dapat dikatakan sebagai kelompok kiri yang mapan, dan saya memiliki kawan-kawan pribadi dan rekan-rekan yang tersebar di sana-sini. Namun, lihatlah buku-buku dan jurnal-jurnal, dan Anda akan paham maksud saya. Saya tidak menganggap bahwa apa yang saya tulis atau katakan akan lebih diterima oleh kelompok-kelompok tersebut daripada di himpunan mahasiswa atau ruang editor &#8211; tentu saja dengan pengecualian. Pertanyaan ini muncul begitu terbatas, sehingga sukar dijawab.</p>
<p><strong>RBR: </strong>Sejumlah orang memperhatikan bahwa Anda menggunakan istilah &#8220;sosialis libertarian&#8221; dalam konteks yang sama dengan &#8220;anarkisme&#8221;. Apakah menurut Anda kedua istilah itu serupa? Apakah anarkisme menurut Anda sejenis sosialisme? Pernah dikatakan bahwa anarkisme adalah sosialisme dengan kebebasan. Setujukah Anda dengan pandangan sederhana ini?</p>
<p><strong>CHOMSKY:</strong> Pengantar buku Guerin yang Anda kutip itu diawali kutipan dari seorang pendukung anarkisme seabad lalu, yang mengatakan bahwa anarkisme memiliki punggung yang lebar, dan dapat memikul beban seberat apapun. Satu unsur penting anarkisme adalah apa yang secara tradisional disebut &#8220;sosialisme libertarian&#8221;. Saya telah mencoba untuk menjelaskan di sana dan di situasi-situasi lain apa yang saya maksudkan dengan itu, menekankan itu sangat original; saya mengambil ide itu dari pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh gerakan anarkis terkemuka yang saya kutip, dan secara konsisten menggambarkan diri mereka sebagai sosialis, dan pada saat yang sama mengutuk dengan kuat &#8220;kelas baru&#8221; intelektual radikal yang berusaha mendapatkan kekuasaan negara dalam arus perjuangan rakyat dan menjadi birokrasi Merah yang kejam sebagaimana diperingatkan Bakunin; yang sering disebut sebagai &#8220;sosialisme&#8221;. Saya cenderung setuju dengan persepsi Rudolf Rocker bahwa kecenderungan (penting) dalam anarkisme ini ditarik dari pemikiran terbaik Pencerahan dan liberal klasik, jauh melebihi yang digambarkannya. Bahkan, sebagaimana telah coba saya tunjukkan, mereka berbeda sangat tajam, bahkan bertentangan, dengan doktrin dan praktik Marxis-Leninis, doktrin &#8220;libertarian&#8221; yang populer di AS dan Inggris, dan dengan ideologi kontemporer lainnya, yang semuanya pada intinya tampak mendukung satu atau yang lain, bentuk otoritas yang tidak sah, bahkan cukup sering tirani betulan.</p>
<p><strong>Revolusi Spanyol</strong></p>
<p><strong>RBR:</strong> Dulu, bila Anda berbicara tentang anarkisme, Anda sering menekankan contoh Revolusi Spanyol. Bagi Anda, tampaknya ada dua aspek revolusi ini. Pertama, revolusi di Spanyol ini Anda katakan sebagai contoh bagus &#8220;anarkisme dalam praktik&#8221;. Kedua, Anda juga menekankan bahwa revolusi Spanyol merupakan contoh bagus mengenai apa yang bisa dicapai buruh melalui usaha mereka sendiri dengan menggunakan demokrasi partisipatoris. Apakah kedua aspek ini &#8211; anarkisme dalam praktik dan demokrasi partisipatoris &#8211; merupakan hal yang serupa? Apakah anarkisme merupakan filsafat kekuatan rakyat?</p>
<p><strong>CHOMSKY: </strong>Saya ragu-ragu menggunakan kata-kata rumit seperti filsafat untuk menjelaskan apa yang sebenarnya sederhana saja. Saya juga tidak nyaman dengan slogan-slogan demikian. Pencapaian buruh dan buruh tani Spanyol, sebelum revolusi ditindas, sangat mengesankan dalam berbagai hal. Istilah &#8220;demokrasi partisipatoris&#8221; merupakan istilah yang lebih baru, yang berkembang dalam konteks yang berbeda, namun terdapat beberapa kesamaan. Saya mohon maaf bila ini tidak jelas, namun itu karena saya menganggap baik konsep anarkisme maupun demokrasi partisipatoris cukup jelas untuk menjawab pertanyaan apakah keduanya sama.</p>
<p><strong>RBR:</strong> Salah satu pencapaian utama Revolusi Spanyol adalah tingkat demokrasi akar rumput yang dihasilkan. Lebih dari 3 juta orang terlibat. Produksi di wilayah perkotaan dan pedesaan dikelola para pekerja sendiri. Apakah merupakan kebetulan bila anarkis, yang dikenal atas dukungan mereka terhadap kemerdekaan individual, berhasil dalam bidang administrasi kolektif?</p>
<p><strong>CHOMSKY: </strong>Sama sekali bukan kebetulan. Gejala-gejala dalam anarkisme yang saya pandang paling persuasif mendorong tercapainya masyarakat yang sangat terorganisir, mengintegrasikan berbagai jenis struktur (tempat kerja, komunitas dan berbagai bentuk lain asosiasi suka rela), namun dikendalikan oleh para pesertanya, bukan oleh mereka yang berada pada kedudukan untuk memerintah (kecuali, lagi, bila otoritas bisa dianggap sah, sebagaimana pada beberapa hal tertentu).</p>
<p><strong>Demokrasi</strong></p>
<p><strong>RBR:</strong> Anarkis sering kali menghabiskan banyak tenaga membangun demokrasi akar rumput. Bahkan, mereka sering dituduh membawa demokrasi ke tingkatan ekstrim. Namun, banyak anarkis yang tidak mau menganggap demokrasi sebagai komponen penting dalam filsafat anarkis. Anarkis sering kali menggambarkan politik mereka sebagai &#8220;tentang sosialisme&#8221; atau &#8220;tentang individu&#8221; &#8211; jarang tentang demokrasi. Apakah Anda setuju bahwa pemikiran demokratik merupakan unsur utama anarkisme?</p>
<p><strong>CHOMSKY:</strong> Kritik terhadap &#8220;demokrasi&#8221; oleh para anarkis pada umumnya adalah kritik terhadap demokrasi parlementer, karena ia timbul dalam masyarakat dengan ciri-ciri yang amat represif. Misalkan AS, yang &#8220;bebas&#8221;, sejak awal mulanya. Demokrasi Amerika berdasarkan pada prinsip, ditekankan oleh James Madison dalam Konvensi Konstitusional tahun 1787, bahwa fungsi utama pemerintahan adalah untuk melindungi minoritas yang berkelebihan dari mayoritas. Kemudian ia mengingatkan bahwa di Inggris, satu-satunya model kuasi-demokratik pada masa itu, jika rakyat kebanyakan diizinkan memiliki peran dalam urusan publik, mereka akan menerapkan reformasi agraria atau &#8220;kekejaman&#8221; lain, dan bahwa sistem Amerika harus direkayasa sedemikian agar mencegah kejahatan terhadap hak-hak kepemilikan, yang harus dilindungi (bahkan, harus berjaya). Demokrasi parlementer dalam kerangka ini memang layak mendapatkan kritikan keras oleh kaum libertarian sejati, dan saya masih menyisakan berbagai cirinya yang sangat jelas &#8211; perbudakan, sebagai salah satu contoh, atau perbudakan demi upah yang sangat dikutuk oleh kaum buruh yang tidak pernah mendengar tentang anarkisme atau komunisme hingga abad ke-19 dan sesudahnya.</p>
<p><strong>Leninisme</strong></p>
<p><strong>RBR: </strong>Pentingnya demokrasi akar rumput untuk bagi setiap perubahan yang berarti dalam masyarakat jelas dengan sendirinya. Namun, kelompok kiri sendiri tidak memiliki pandangan yang jelas mengenai hal ini di masa lalu. Saya berbicara mengenai demokrasi sosialis pada umumnya, namun juga mengenai Bolshevikisme &#8211; tradisi-tradisi kiri yang memiliki lebih banyak kemiripan dengan pemikiran elitis daripada praktik demokratik yang sebenarnya. Lenin, sebagai contoh yang lazim, meragukan bahwa para buruh bisa mengembangkan lebih dari kesadaran serikat pekerja &#8211; yang saya artikan bahwa ia menganggap bahwa para buruh tidak bisa melihat jauh ke depan di luar keadaan mereka sendiri. Hampir sama dengan sosialis Fabian, Beatrice Webb, yang sangat berpengaruh di kalangan Partai Buruh di Inggris, berpandangan bahwa para buruh hanya tertarik pada taruhan pacuan kuda!. Dari mana elitisme ini timbul dan apa yang dikerjakannya di kalangan kiri?</p>
<p><strong>CHOMSKY:</strong> Saya kira, sukar menjawab pertanyaan ini. Jika kelompok kiri mencakup &#8220;Bolshevikisme&#8221;, maka saya akan terang-terangan memisahkan diri dari kelompok kiri. Dalam pandangan saya, Lenin adalah salah satu musuh terbesar sosialisme, karena alasan-alasan yang telah saya sampaikan. Pemikiran bahwa buruh hanya tertarik pada taruhan pacuan kuda merupakan absurditas yang akan terbukti kesalahannya dengan sedikit saja memperhatikan sejarah perburuhan atau pers kelas buruh yang independen dan aktif yang tumbuh di berbagai tempat, termasuk kota-kota manufaktur New England yang tidak jauh dari tempat saya menulis ini &#8211; ditambah lagi catatan inspirasional perjuangan berani rakyat yang ditindas sepanjang sejarah hingga kini. Tengok saja pojokan yang paling buruk di belahan dunia ini, Haiti, yang dianggap oleh para penakluk Eropa sebagai surga dan sumber kekayaan Eropa yang cukup penting, yang kini hancur, mungkin tanpa mungkin diperbaiki lagi. Dalam beberapa tahun belakangan, dalam kondisi yang sedemikian buruk sehingga tak terbayangkan oleh penduduk negara-negara kaya, rakyat jelata dan kaum miskin kota membangun gerakan demokratik kerakyatan yang berdasar pada organisasi akar rumput yang melampaui pencapaian di negeri manapun yang saya tahu; hanya komisaris yang sangat berkomitmen yang tidak jatuh terbahak-bahak apabila mendengar pernyataan sungguh-sungguh intelektual dan pemimpin politik AS mengenai rencana AS mengajari rakyat Haiti tentang demokrasi. Pencapaian mereka sedemikian besar dan mencemaskan penguasa sehingga mereka sekali lagi ditindas dengan teror yang kejam, dengan dukungan AS yang jauh lebih besar daripada yang ia akui, dan mereka tetap tidak menyerah. Apakah mereka (rakyat &#8212; ed) hanya tertarik pacuan kuda?</p>
<p>Saya menyarankan suatu kutipan dari Rousseau: ketika saya melihat segerombolan orang tak beradab yang telanjang bulat menertawakan kebejatan moral Eropa, dan  menahan lapar, api, pedang dan kematian untuk mempertahankan satu-satunya kemerdekaan mereka, saya merasa bahwa tidak pantas bagi para budak untuk berpikir tentang kebebasan.</p>
<p><strong>RBR:</strong> Berbicara mengenai hal umum kembali, karya-karya Anda &#8211; Deterring Democracy, Necessary Illusions dan lain-lain &#8211; secara konsisten membahas peran dan banyaknya pemikiran elitis dalam masyarakat seperti masyarakat kita. Anda menyatakan bahwa dalam demokrasi &#8220;Barat&#8221; (atau parlementer) terdapat antagonisme terhadap peran atau masukan konkrit dari massa rakyat, kalau-kalau ia mengancam distribusi kekayaan yang tidak adil, yang menguntungkan yang kaya. Karya-karya Anda cukup meyakinkan dalam hal ini, namun, terlepas dari ini, beberapa orang terkejut dengan pernyataan Anda. Sebagai contoh, Anda membandingkan politik Presiden J. F. Kennedy dengan Lenin, lebih kurang menyejajarkan keduanya. Ini, bisa saya tambahkan, mengejutkan pendukung kedua pihak!. Dapatkan Anda mengelaborasi lebih lanjut validitas perbandingan ini?</p>
<p><strong>CHOMSKY:</strong> Saya sebenarnya tidak mensejajarkan doktrin intelektual liberal administrasi Kennedy dengan Leninis, namun mencatat beberapa keserupaan yang mencolok &#8211; seperti diramalkan Bakunin seabad lalu dalam komentarnya mengenai kelas baru ini. Sebagai contoh, saya mengutip pernyataan McNamara mengenai perlunya meningkatkan pengendalian manajerial untuk benar-benar bebas, dan bahwa kurangnya manajemen menjadi ancaman bagi demokrasi, benar-benar suatu pembodohan. Ubahlah beberapa kata dalam pernyataan tersebut, dan kita mendapatkan doktrin Leninis yang standard. Saya menganggap bahwa akar masalah keduanya cukup dalam. Tanpa klarifikasi lebih lanjut tentang apa yang mengejutkan orang, saya tidak bisa berkomentar lebih lanjut. Perbandingan ini spesifik, dan saya pikir keduanya cukup layak dan tepat. Jika tidak, itu merupakan kesalahan, dan saya sangat tertarik untuk mendapat pencerahan akan masalah ini.</p>
<p><strong>Marxisme</strong></p>
<p><strong>RBR:</strong> Secara spesifik, Leninisme merujuk pada suatu bentuk Marxisme yang berkembang bersama V. I. Lenin. Apakah Anda secara tersirat membedakan karya-karya Marx dari kritikan khusus Anda terhadap Lenin bila Anda menggunakan istilah &#8220;Leninisme&#8221;? Apakah Anda melihat keberlanjutan antara pandangan Marx dengan praktik Lenin di kemudian hari?</p>
<p><strong>CHOMSKY:</strong> Pernyataan Bakunin tentang bahaya birokrasi Merah yang akan menjadi pemerintahan despotik yang terburuk diantara semua yang telah dikumandangkan jauh sebelum Lenin, dan diarahkan kepada pengikut Marx. Sebenarnya, terdapat banyak pengikut Marx dari berbagai jenis; Pannekoek, Luxembourg, Mattick dan lain-lainnya sangat berbeda dengan Lenin, dan pandangan mereka seringkali serupa dengan anarko-sindikalis. Bahkan, Korsch dan kawan-kawannya menulis secara simpatik mengenai revolusi anarkis di Spanyol. Terdapat keberlanjutan antara Marx dan Lenin, namun terdapat pula keberlanjutan ke kaum Marxis yang sangat kritis kepada Lenin dan Bolshevikisme. Karya Theodor Shanin mengenai sikap Marx di kemudian hari terhadap revolusi petani juga relevan di sini. Saya jauh dari seorang ahli Marx, dan tidak akan mencoba-coba memberikan penilaian serius mengenai mana yang merupakan kelanjutan &#8220;Marx sebenarnya&#8221;, bahkan bila pertanyaan tersebut bisa terjawab.</p>
<p><strong>RBR:</strong> Baru-baru ini, kami mendapatkan sebuah eksemplar Catatan tentang Anarkisme (yang diterbitkan kembali oleh Buletin Diskusi di AS tahun lalu). Di dalamnya Anda menunjukkan pandangan Marx muda, terutama mengenai pengembangan pemikirannya tentang alienasi di bawah kapitalisme. Apakah Anda sepakat dengan pembagian dalam kehidupan dan karya Marx ini &#8211; seorang sosialis muda yang lebih libertarian namun di kemudian hari seorang otoriter yang kaku?</p>
<p><strong>CHOMSKY: </strong>Marx muda mendapatkan banyak pengaruh dari lingkungan hidupnya, dan dapat ditemukan banyak keserupaan dengan pemikiran yang menghidupkan liberalisme klasik, berbagai aspek Pencerahan dan Romantisisme Perancis dan Jerman. Sekali lagi, saya tidak cukup paham Marx untuk memberikan penilaian yang mutlak. Kesan saya adalah bahwa Marx muda adalah seorang tokoh akhir Pencerahan, dan Marx tua adalah seorang pegiat otoriter dan analis kritis terhadap kapitalisme yang tidak memiliki banyak alternatif sosialis. Namun itu hanya kesan saya saja.</p>
<p><strong>RBR:</strong> Dari pemahaman saya, inti pemikiran Anda tergambar dari konsep Anda mengenai sifat manusia. Di masa lalu, pemikiran tentang sifat manusia mungkin dipandang sebagai terbelakang, bahkan mengekang. Sebagai contoh, aspek tetap dari sifat manusia seringkali digunakan sebagai alasan mengapa tidak mungkin terjadi perubahan mendasar ke arah anarkisme. Anda memiliki pendapat lain? Mengapa?</p>
<p><strong>CHOMSKY:</strong> Inti pandangan semua orang adalah sebuah konsep mengenai sifat manusia, seberapa pun jauh dari kesadarannya atau tidak dinyatakan secara tersurat. Paling tidak, itu berlaku pada orang-orang yang menganggap dirinya agen moralitas dan bukan monster. Apakah seorang mendorong reformasi atau revolusi, stabilitas atau kembali ke masa lalu, atau hanya merawat kebunnya sendiri, berdasar pandangan bahwa yang dilakukannya &#8220;baik bagi rakyat&#8221;. Namun penilaian itu berdasar pada suatu konsepsi mengenai sifat manusia, yang akan diusahakan agar bisa menjadi sejelas mungkin, agar bisa dilakukan penilaian. Jadi dalam hal ini saya tidak berbeda dengan orang lain.</p>
<p>Anda benar bahwa sifat manusia dianggap &#8220;terbelakang&#8221;, namun itu adalah hasil dari kebingungan. Apakah cucu saya tidak berbeda dari sebuah batu, seekor kadal, ayam atau monyet? Seseorang yang menganggap ini sebagai absurd akan sadar bahwa ada yang disebut &#8220;sifat manusia&#8221;.Kita tinggal menjawab pertanyaan mengenai apa itu &#8211; sebuah pertanyaan yang penting dan menarik, dengan daya tarik ilmiah maupun kemanusiaan yang tinggi. Kita memiliki cukup pengetahuan mengenai berbagai aspek darinya, namun bukan yang memiliki signifikansi kemanusiaan yang besar. Selebihnya, kita hanya memiliki harapan dan keinginan, intuisi dan spekulasi.</p>
<p>Tidak ada yang terbelakang dari fakta bahwa janin manusia sedemikian terbatas hingga ia tidak menumbuhkan sayap, atau sistem penglihatannya berbeda dengan serangga, atau tidak memiliki insting pulang merpati. Faktor-faktor yang sama dengan yang membatasi perkembangan organisme itu juga memungkinkannya memiliki struktur yang kaya dan rumit. Sebuah organisme yang tidak memiliki struktur intrinsik yang determinatif sedemikian, yang secara radikal akan membatasi arah perkembangannya, akan merupakan makhluk serupa amuba (itu pun jika ada). Lingkup dan batas perkembangan memiliki hubungan logis.</p>
<p>Ambil-lah bahasa, salah satu kapasitas khas manusia yang sudah cukup dipahami. Kita memiliki alasan-alasan kuat bahwa semua bahasa manusia sangatlah serupa; seorang ilmuwan dari luar bumi yang memperhatikan manusia akan berkesimpulan bahwa hanya ada sebuah bahasa, dengan variasi-variasi kecil. Alasannya adalah bahwa aspek khusus sifat manusia yang mendasari perkembangan bahasa hanya memungkinkan pilihan yang amat terbatas. Apakah ini membatasi? Tentu saja. Apakah ini membebaskan? Tentu, juga. Batasan-batasan inilah yang memungkinkan sistem ekspresi pemikiran yang kaya dan rumit untuk berkembang dalam cara-cara serupa pada dasar yang amat sederhana, terpisah-pisah dan berpengalaman berbeda.</p>
<p>Bagaimana dengan perbedaan manusia yang ditentukan oleh biologi? Bahwa ini ada, benar, dan merupakan sumber kebahagiaan, bukan kecemasan atau penyesalan. Kehidupan di antara klon tidaklah menyenangkan, dan seorang waras akan gembira bahwa orang lain memiliki kemampuan yang tidak ia miliki. Ini sangat dasar. Apa yang lazim dipercaya mengenai masalah ini bagi saya agak aneh.</p>
<p>Apakah sifat manusia, apapun itu, kondusif untuk pengembangan bentuk kehidupan anarkis atau menghalanginya? Kami tidak memiliki cukup jawaban untuk pertanyaan ini. Ini memerlukan eksperimen dan penemuan untuk menjawabnya.</p>
<p><strong>Masa Depan</strong></p>
<p><strong>RBR:</strong> Untuk mengakhiri wawancara ini, saya ingin bertanya sedikit tentang beberapa isu kiri baru-baru ini. Saya tidak tahu apakah situasi di AS serupa dengan di sini, namun dengan gagalnya Uni Soviet, terdapat demoralisasi kiri. Ini bukanlah bahwa mereka sangat mendukung apa yang terjadi di Uni Soviet, namun perasaan umum bahwa dengan bubarnya Uni Soviet, sosialisme ikut terseret. Apakah Anda menemukan demoralisasi serupa? Bagaimana jawaban Anda?</p>
<p><strong>CHOMSKY:</strong> Tanggapan saya terhadap berakhirnya tirani Soviet serupa dengan reaksi saya terhadap kekalahan Hitler dan Mussolini. Dalam semua kasus tersebut, itu adalah kemenangan semangat kemanusiaan. Ini seharusnya diterima sebagai kabar baik bagi para sosialis, karena sebuah musuh besar sosialisme telah runtuh. Seperti Anda, saya juga heran bahwa orang-orang &#8211; termasuk mereka yang menganggap dirinya anti-Stalinis dan anti-Leninis – merasa demoralisasi dengan runtuhnya tirani tersebut. Ini mengungkap bahwa mereka sebenarnya lebih memiliki komitmen pada Leninisme daripada yang mereka percayai.</p>
<p>Namun, terdapat alasan-alasan lain yang perlu diperhatikan dengan hancurnya sistem tirani yang brutal ini, yang sosialis sedemikian ia juga demokratik (ingat bahwa ia mengklaim keduanya, dan klaim kedua ditertawakan di Barat, sementara yang pertama diterima dengan senang hati, sebagai senjata melawan sosialisme &#8211; salah satu contoh jasa intelektual Barat pada penguasa). Satu alasannya terkait dengan sifat Perang Dingin. Dalam pandangan saya, ini merupakan contoh khusus &#8220;konflik Utara-Selatan&#8221;, bila kita menggunakan eufemisme untuk penaklukan Eropa terhadap sebagian besar dunia. Eropa Timur merupakan &#8220;Dunia Ketiga&#8221; yang asli, dan Perang Dingin sejak tahun 1917 tidak memiliki kemiripan apa pun dengan reaksi bagian-bagian lain dari Dunia Ketiga untuk mengambil jalannya sendiri, meskipun perbedaan skala memberikan ciri tersendiri bagi konflik ini. Untuk alasan ini, kita bisa beranggapan bahwa wilayah ini akan kembali seperti awalnya: Czek atau Polandia Barat akan bergabung kembali dengan Barat, sementara yang lain kembali ke perannya sebagai pelayan Eropa, bekas Nomenklatura menjadi elit dunia ketiga biasa (dengan kesepakatan dari penguasa negara-perusahaan Barat, yang memilih mereka dibandingkan alternatif lainnya). Ini bukan prospek yang menyenangkan, dan telah menimbulkan penderitaan yang luar biasa.</p>
<p>Sebuah alasan lain untuk kecemasan berkaitan dengan penangkalan nuklir (deterrence) dan non-blok. Seburuk-buruknya imperium Soviet, keberadaannya memberikan peluang untuk menjadi non-blok, dan untuk alasan yang sinis, kadang-kadang memberikan bantuan terhadap korban serangan Barat. Pilihan itu kini tiada, dan Selatan menderita akibatnya.</p>
<p>Alasan ketiga berkaitan dengan apa yang dinyatakan pers bisnis sebagai buruh Barat yang dimanjakan dengan gaya hidup mewah mereka. Dengan sebagian besar Eropa Timur di bawah kekuasaan mereka, pemilik perusahaan dan manajer memiliki senjata ampuh baru untuk menindas kelas buruh dan kaum miskin di Barat. GM dan VW bisa tidak hanya memindahkan produksi ke Meksiko dan Brazil (atau mengancam untuk melakukan itu, yang akibatnya sama saja), tapi juga ke Polandia dan Hungaria, tempat buruh yang memiliki ketrampilan dan terlatih dengan biaya yang jauh lebih rendah. Tentu saja mereka puas dengan itu, melihat nilainya.</p>
<p>Kita bisa belajar banyak tentang Perang Dingin (atau konflik lainnya) dengan melihat siapa yang gembira dan siapa yang tidak setelah akhirnya. Dengan kriteria ini, pemenang Perang Dingin adalah elit Barat dan mantan Nomenklatura, yang kini kaya melebihi impian terliar mereka, dan yang kalah adalah sebagian terbesar penduduk Timur dan kelas buruh serta kaum miskin di Barat, juga sektor kerakyatan di Selatan yang berusaha mengambil jalan yang independen.</p>
<p>Pemikiran barusan cenderung menimbulkan histeria di antara intelektual Barat, kalau mereka bisa membayangkannya, yang jarang terjadi. Ini mudah saja, juga bisa dipahami. Pengamatannya benar, dan membuka kedok kekuasaan dan hak-hak istimewa; itulah penyebab histeria mereka.</p>
<p>Secara umum, reaksi orang yang jujur terhadap berakhirnya Perang Dingin akan lebih rumit daripada sekedar puas atas jatuhnya tirani yang brutal, dan reaksi yang umum terinfeksi dengan kemunafikan yang sangat, dalam pandangan saya.</p>
<p><strong>Kapitalisme</strong></p>
<p><strong>RBR:</strong> Dalam banyak hal kiri sekarang berada pada titik awalnya pada abad lalu. Seperti pada waktu itu, ia menghadapi suatu bentuk kapitalisme yang sedang menanjak. Kini terdapat lebih banyak &#8220;konsensus&#8221;, lebih banyak daripada saat lain dalam sejarah, bahwa kapitalisme merupakan satu-satunya organisasi ekonomi yang valid, meskipun ketidaksetaraan kekayaan melebar. Terhadap latar belakang ini, bisa dikatakan bahwa kiri tidak yakin mengenai bagaimana cara untuk maju. Bagaimana pandangan Anda terhadap masa ini? Apakah ini menjadi pertanyaan &#8220;kembali ke dasar&#8221;? Apakah usaha yang dilakukan sekarang harus menekankan tradisi libertarian dalam sosialisme dan pemikiran demokratik?</p>
<p><strong>CHOMSKY:</strong> Saya anggap ini sebagian besar merupakan propaganda. Apa yang disebut sebagai &#8220;kapitalisme&#8221; pada dasarnya adalah sebuah sistem merkantilisme korporatis, dengan tirani privat yang besar dan tidak bertanggung jawab yang memiliki kendali besar terhadap ekonomi, politik, sosial dan kebudayaan, bekerja sama dengan negara yang kuat yang melakukan intervensi besar-besaran terhadap ekonomi domestik dan masyarakat internasional. Ini sangat tepat dalam kasus AS, bertentangan dengan banyak ilusi. Orang kaya dan berprivilese tidak lebih mau menghadapi disiplin pasar pada masa kini daripada masa lalu, meskipun mereka menganggapnya baik-baik saja bagi rakyat kebanyakan. Sebagai gambaran, pemerintahan Reagan yang berkubang dalam retorika pasar bebas, juga membanggakan bahwa rezim tersebut adalah yang paling proteksionis dalam sejarah AS pasca perang &#8211; bahkan lebih daripada gabungan semuanya. Newt Gingrich, yang memimpin &#8220;perjuangan&#8221; liberal kini, mewakili wilayah yang amat kaya yang mendapatkan lebih banyak subsidi federal daripada wilayah suburban lainnya di AS. Kelompok &#8220;konservatif&#8221; yang ingin mengakhiri makan siang gratis bagi anak-anak yang lapar juga menuntut naiknya anggaran Pentagon, yang menjadi seperti kondisi di akhir dekade 1940-an namun dalam bentuknya saat ini karena &#8211; sebagaimana dijelaskan pers bisnis &#8211; industri teknologi tinggi tidak bisa bertahan dalam sebuah sistem ekonomi pasar bebas yang murni, kompetitif dan tidak disubsidi, dan pemerintah harus menjadi penyelamatnya. Tanpa penyelamat ini, pendukung Gingrich akan menjadi buruh miskin (bila beruntung). Tidak akan ada komputer, peralatan elektronik, industri penerbangan, metalurgi, otomasi dan lain-lain. Anarkis jangan sampai tertipu kebohongan tradisional ini.</p>
<p>Lebih dari sebelumnya, pemikiran sosialis libertarian kini relevan, dan penduduk sangat terbuka terhadapnya. Meskipun terdapat sejumlah besar propaganda korporatik, di luar kelompok terdidik, rakyat masih memiliki sikap tradisionalnya. Di AS, misalnya, lebih dari 80% penduduk menganggap bahwa sistem ekonomi secara mendasar tidak adil dan sistem politik sebagai tipuan, yang hanya melayani kepentingan tertentu, bukan rakyat. Mayoritas menganggap bahwa kelas buruh memiliki peran yang terlalu kecil dalam masalah masyarakat (demikian pula di Inggris), bahwa pemerintah bertanggung jawab untuk membantu orang yang memerlukan, bahwa pengeluaran untuk pendidikan dan kesehatan harus diberikan prioritas di atas pemotongan anggaran dan potongan pajak, bahwa rencana Republikan yang kini melalui Kongres hanya menguntungkan yang kaya dan merugikan rakyat banyak, dan lain-lain. Kaum intelek bisa mendongengkan cerita yang berbeda, namun tidak terlalu sukar menemukan fakta-fakta yang sebenarnya.</p>
<p><strong>RBR:</strong> Hingga satu titik pemikiran anarkis dibenarkan dengan runtuhnya Uni Soviet &#8211; ramalan Bakunin terbukti kebenarannya. Apakah Anda berpikir bahwa kaum anarkis harus gembira dari perkembangan umum ini dan dari ketepatan analisis Bakunin? Apakah anarkis harus melihat masa depan dengan keyakinan lebih besar dalam pemikiran dan sejarah?</p>
<p><strong>CHOMSKY: </strong>Saya pikir &#8211; paling tidak, berharap &#8211; bahwa jawabannya tersirat di atas. Saya pikir bahwa masa kini memiliki ancaman yang besar dan tanda-tanda harapan yang juga besar. Apa yang akan terjadi bergantung pada bagaimana kita memanfaatkan kesempatan.</p>
<p><strong>RBR:</strong> Terakhir, Noam, pertanyaan yang agak berbeda. Kami telah memesan Guinness untuk Anda. Kapan Anda datang dan meminumnya?</p>
<p><strong>CHOMSKY: </strong>Siapkan saja Guinness-nya. Saya harap saya tak akan terlalu lama. Tidak bergurau, saya akan disana besok jika saya bisa. Kami (saya dan akan datang bersama istri saya, yang tidak terbiasa dengan perjalanan terus menerus) memperoleh waktu yang sangat luar biasa di Irlandia, dan berharap bisa pulang. Kenapa nggak ya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2008/10/07/noam-chomsky-marxisme-anarkisme-dan-harapan-untuk-masa-depan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Merah dan Yang Hijau</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2008/01/31/yang-merah-dan-yang-hijau/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2008/01/31/yang-merah-dan-yang-hijau/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Jan 2008 14:47:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anarkisme]]></category>
		<category><![CDATA[Ekologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/2008/01/31/yang-merah-dan-yang-hijau/</guid>
		<description><![CDATA[Gerakan pro lingkungan di AS, menurut perkiraan Murray Bookchin’s, “bisa jadi merupakan salah satu gerakan paling radikal dalam kurun waktu mulai dari tahun enam puluhan hingga sekarang.” Perspektif ekologi radikal, yang meliputi antara lain ekologi mendalam, ekologi sosial, bioregionalisme, ekofeminisme, maupun pandangan-pandangan Marxis, semuanya mengandung beberapa kritik mendasar atas tatanan politik/ekonomi/ sosial yang berkembang di dunia, yang karena itu membedakannya dari environmentalisme arus-utama (terkemuka).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Perspektif Kiri Dalam Memahami Ekologi</strong><br />
<em>Oleh: Katherine Yih</em></p>
<p>Gerakan pro-lingkungan di AS, menurut perkiraan Murray Bookchin, “bisa jadi merupakan salah satu gerakan paling radikal dalam kurun waktu sejak tahun enam puluhan hingga sekarang.” Perspektif ekologi radikal, yang meliputi ekologi mendalam, ekologi sosial, bioregionalisme, ekofeminisme, maupun pandangan-pandangan Marxis, semuanya mengandung beberapa kritik mendasar atas tatanan politik/ekonomi/ sosial yang berkembang di dunia, yang karena itu membedakannya dari environmentalisme arus-utama (terkemuka). Namun, sekalipun tanpa para environmentalis arus-utama (terkemuka), apakah “gerakan” tersebut—yang lebih merupakan pencampuradukan organisasi-organisasi yang terbangun oleh beragam idelogi dan menerapkan strategi yang jauh saling berbeda—benar- benar memiliki kemauan atau kemampuan untuk mewujudkan perubahan struktural yang dibutuhkan guna menunda dan memulihkan kehancuran lingkungan?</p>
<p><span id="more-135"></span> Perspektif kiri dalam ekologi—khususnya ekologi social dan pandangan-pandangan Marxis—paling menjanjikan dalam hal merumuskan dan memecahkan persoalan seputar hubungan antara manusia dengan isi alam yang lainnya. Mereka memberikan komitmen pada keadilan dan pemahaman bahwa kapitalisme pada akhirnya menghalangi kesetaraan sosial maupun rasionalitas ekologi. Kendati demikian, ada beberapa perbedaan penting di antara pandangan-pandangan tersebut, yang berhubungan dengan keampuhan politisnya.</p>
<p>Salah satu titik perbedaan mendasar antara penganut ekologi sosial dan kaum Marxis adalah tingkat penekanan yang mereka berikan untuk persoalan-persoalan ekologis dalam keseluruhan program politik mereka. Penganut ekologi sosial menempatkan ekologi sebagai elemen inti program mereka, dari situ semua yang lainnya dianggap kurang-lebih mengikuti. Bagi kaum Marxis yang memiliki kepekaan ekologis, rasionalitas ekologis lebih merupakan sasaran kritik yang terkait dengan persoalan lain dalam analisis dan program yang lebih luas—menjadi merah sama perlunya dengan menjadi hijau.</p>
<p>Perbedaan-perbedaan tersebut bukanlah hal sepele dan menimbulkan konsekuensi di lapangan. Sebagai contoh, di Burlington, <a href="http://www.carinsurancerates.com/states/223-vermont-car-insurance.html">Vermont</a> (di Burlington sebagian besar anggotanya penganut ekologis sosial), Partai Hijau mengajukan seorang kandidat dalam pemilu raya 1989, yang pertarungan utamanya adalah antara Partai Demokrat dan seorang kandidat independen yang didukung oleh kaum sosialis yang tergabung dalam Koalisi Progresif. Sehingga keikutsertaan Partai Hijau mengancam terpecahnya suara bagi Koalisi Progresif. Akhirnya, Koalisi Progresif menang dengan mudah; hanya 3,4 persen suaranya yang terbagi untuk Partai Hijau. Pada pemilihan anggota Dewan Kotapraja tahun 1990, kandidat Partai Hijau di satu daerah pemilihan jelas-jelas menyatakan bahwa tujuannya bukanlah kemenangan melainkan mengalahkan Koalisi Progresif; Koalisi Progresif kehilangan daerah pemilihan tersebut dengan selisih suara yang tipis dibandingkan dengan jumlah suara milik Partai Hijau.</p>
<p>Adalah penting untuk melihat ideologi dan analisis yang mendasari ekologi sosial dan pandangan-pandangan Marxis tentang ekologi secara lebih rinci guna mengevaluasi implikasi-implikasi politiknya dan potensi mereka dalam menghadirkan tatanan sosial serta ekologi yang didambakan.</p>
<p><strong>Ekologi Sosial</strong></p>
<p>Karena berakar dari pandangan anarkis, maka ekologi sosial sangat anti-kapitalis dan menolak semua bentuk dominasi. Banyak kaum Hijau-kiri merupakan pendukung ekologi sosial; yang cukup dikenal adalah Murray Bookchin, yang menggunakan pertama kali istilah tersebut di tahun 1964 dalam esainya &#8220;Ecology and Revolutionary Thought&#8221;.</p>
<p>Bookchin memandang kemerosotan kualitas lingkungan terkait erat dengan kebutuhan/keinginan kapitalisme. Jadi, bukan industri dan teknologi yang salah, melainkan sistem ekonomi yang tak pernah puas, yakni kapitalisme. Selebihnya, sama seperti Marxis, ia menyatakan bahwa “kelas, juga eksploitasi, merupakan landasan bagi akumulasi kapitalis dan keniscayaan menuju pembusukan serta penghancuran planet ini.”</p>
<p>Ekologi sosial memandang manusia terutama sebagai makhluk sosial, bukan sebagai spesies yang tidak dapat dibeda-bedakan— makhluk sosial, yang menurut Bookchin, “sangat berbeda-beda oleh karena status mereka sebagai orang kaya dan miskin, lelaki dan perempuan, hitam dan putih, gay dan ‘straight’, tertindas dan penindas.” Ekologi sosial “menekankan tuntutan keadilan dari kaum tertindas terhadap masyarakat yang secara semena-mena mengeksploitasi manusia, karenanya membutuhkan kemerdekaan kaum tertindas.”</p>
<p>Meski mereka tak diragukan lagi humanis, ekologis sosial tidak memandang alam semata-mata sebagai sarana untuk memuaskan kebutuhan material manusia. Jelas sekali ada penilaian estetis seperti terlihat pada kutipan ini: Lepas dari bayang-bayang keraguan apapun, kita sangat membutuhkan kepekaan ekologis—yang ditandai oleh ketakjuban pada evolusi alam dan semarak biosfer dengan beragam bentuknya… Lebih dari itu, alam merupakan suatu proses—proses mengagumkan yang dapat dinikmati dengan caranya sendiri….</p>
<p>Masyarakat ideal bagi penganut ekologi sosial, menurut pendapat Howard Hawkins, adalah sebuah “konfederasi non-hirarkis— masyarakat tanpa kenegaraan, terdesentralisasi, dan demokratis, yang berbasiskan kepemilikan bersama atas alat-alat produksi,” atau, dalam kata-kata Bookchin, “masyarakat berorientasi ekologis yang berbasiskan komunitas-komunitas dengan tata-nilai kemanusiaan yang bersifat bebas, terkonfederasi, yang di dalamnya manusia akan memiliki kendali langsung, tanpa perantara/ perwakilan, atas kehidupan sosial dan perorangannya.”</p>
<p>Hawkins mengkaji aspek langsung, tanpa perantara/perwakila n tersebut: Dengan melandaskan diri pada majelis kerakyatan sebagai kesatuan public non-hirarkis yang menangani semua kepentingan social seperti ekonomi [model anarko-komunis] , maka akan terbangun solidaritas sosial yang lebih solid ketimbang memfokuskan diri pada persoalan ekonomi secara lebih sempit seperti model dewan. Dengan menyatukan kembali produksi dan konsumsi, anarko-komunisme hendak menghindari pembagian antara satuan-satuan usaha dan konsumsi yang berbeda-beda, kepentingan- kepentingan ekonomi yang terpisah-pisah, dan kemungkinan munculnya hirarki di antara mereka.</p>
<p>Asumsi yang digunakan adalah bahwa dalam masyarakat tanpa kenegaraan, terdesentralisasi, demokratis, dan dengan tata-nilai kemanusiaan, maka manusia akan memiliki kendali yang lebih besar atas masyarakatnya dan saling memiliki rasa tanggung jawab yang lebih besar satu sama lainnya, yang akan membuat mereka mengelola lingkungan dan sumber daya alamnya secara rasional.</p>
<p>Tentang bagaimana cara untuk menuju ke sana, beberapa penganut ekologi sosial, seperti Brian Tokar, mengatakan bahwa caranya adalah dengan menciptakan alternatif-alternat if yang telah berjalan dengan baik, khususnya bioregionalisme, dikombinasikan dengan konfrontasi langsung dengan perangkat-perangkat /lembaga- lembaga kapitalis (contohnya demonstrasi di Wall Street setelah Hari Bumi, 23 April 1990) . Para bioregionalis, yang tidak semuanya mengaku sebagai ekologi sosial, mendukung penarikan diri yang lebih besar dari ekonomi pasar dan memantapkan kemandirian pencukupan kebutuhan regional serta hubungan ekonomi kerjasama di antara komunitas-komunitas yang disatukan.</p>
<p>Ketika strategi ini dijalankan, pandangan tentang masyarakat alternatif tersebut terjerumus dalam tradisi utopian, miskin akan teori yang teruji tentang bagaimana transisi terjadi di bawah hegemoni kapitalis. Bukannya menganggap negara sosialis sebagai tahap yang diperlukan menuju masyarakat tanpa kelas, misalnya, namun kaum ekologis sosial (seperti Bookchin dan Hawkins) justru menolak habis negara, yang menurut mereka sudah pasti merupakan lembaga hirarkis dan tidak demokratis. Juga tak ada pemikiran mengenai dunia ketiga—bagaimana dunia ketiga terkait dengan negeri-negeri maju dalam hubungan yang tidak setara dan bagaimana aksi di satu tempat mempengaruhi keadaan di tempat lain.</p>
<p><strong>Marxisme dan Ekologi</strong></p>
<p>Marxisme, sebagai filsafat dan teori ekonomi-politik, menyediakan kerangka yang lebih luas dan matang ketimbang ekologi sosial. Karena itu, keduanya lebih berguna untuk memahami dunia, termasuk dunia alam”, dan memberikan landasan yang lebih kokoh bagi tindakan politik. Dua aspek dari teori Marxis yang paling relevan untuk memahami dan melakukan aksi atas isu-isu tentang ekologi serta lingkungan adalah materialism dialektik dan teori akumulasi.</p>
<p>Materialisme dialektik, sebagai filsafat, menjadi ada dan menyadari relevansinya dengan diskusi ekologi karena implikasinya pada cara kita memahami alam. Kini sudah menjadi pemahaman umum di kalangan ekologis profesional bahwa alam tidaklah statis, bukan sesuatu yang selalu sama, sekalipun tanpa gangguan manusia. Dengan ukuran komunitasnya maupun dengan ukuran biosfernya, alam tidak berada dalam keseimbangan” , tidak juga berada dalam “keadaan terbaik”-nya. Kita tahu tidak ada kekuatan apapun yang dapat memastikan kesetimbangan stabil dari jumlah populasi ataupun komposisi spesies dari komunitas-komunitas . Jadi pernyataan tentang keseimbangan dan keselarasan bersifat idealis dan ideologis. ( “Keseimbangan alam” dinyatakan sebagai analog dari “tangan yang tak terlihat” dalam ekonomi—di mana persaingan di antara kekuatan-kekuatan yang berbeda dianggap akan meleburkan dirinya dalam sistem yang seimbang dan stabil.)</p>
<p>Dalam esai mereka Dialectics and Reductionism in Ecology (Dialektika dan Reduksionisme dalam Ekologi) Richard Levins dan Richard Lewontin melancarkan kritik atas idealisme dan juga menolak materialism reduksionis. Sebagai gantinya mereka mengajukan pendekatan materialis dialektik untuk mengkaji alam. Reduksionisme menggunakan asumsi dasar bahwa fenomena dapat digambarkan secara keseluruhan sebagai gejala dari obyek yang terisolasi, atau dengan kata lain, bahwa “yang keseluruhan” (misalnya komunitas), dapat dipahami semata sebagai penjumlahan dari “yang sebagian” (misalnya spesies dalam komunitas), yang tidak memiliki gejalanya sendiri. Namun, dalam reduksionisme, bagian maupun keseluruhan sama sekali tidak saling menentukan atau mempengaruhi. Keyakinan reduksionis akan dunia atomistik tersebut menyebabkan kegagalan teori ilmiah dan aplikasinya¾karena membenarkan penelitian atas bagian-bagian dalam sekat-sekat pembatas antara satu sama lainnya dan meremehkan kebutuhan untuk memahami saling keterhubungan, asal-usul saling keterkaitan, dan sifat-sifat dari keseluruhan yang rumit.</p>
<p><em>“Ekologi harus menjawab persoalan saling ketergantungan dan otonomi relatif, kemiripan dan perbedaan, umum dan khusus, kesempatan dan kebutuhan, keseimbangan dan perubahan, kontinuitas dan diskontinuitas, proses-proses kontradiktif,” tulis mereka. Menurut mereka filsafat yang efektif untuk memahami karakteristik dan proses-proses tersebut adalah materialisme dialektik, yang “tesis utamanya adalah pendapat bahwa alam mengandung kontradiksi- kontradiksi, bahwa ada kesatuan dan interpenetrasi dari apa yang kelihatannya eksklusif tak saling pengaruh, dan karenanya isu utama bagi ilmu pengetahuan adalah kajian tentang kesatuan dan kontradiksi tersebut.”</em>)</p>
<p>Mungkin berlebihan jika berpendapat bahwa seseorang harus menjadi Marxis terlebih dulu untuk menjadi ilmuwan yang baik, kritis, sadar akan kontradiksi dalam alam dan menyadari asumsi-asumsi perorangan. Namun Levins dan Lewontin memberi alasan kuat—dengan didukung oleh contoh-contoh ekologi populasi dan komunitas, mereka mengatakan bahwa, bagi kita, tak cukup sekadar menggunakan pendekatan materialis, melainkan harus menggunakan pendekatan materialis dialektik pada hal-hal khusus agar dunia menjadi masuk akal. Pendapat tersebut benar, khususnya dalam ekologi, karena melibatkan penelitian atas sistem yang kompleks secara intrinsik. Hal tersebut mendukung janji-janji materialisme dialektik untuk menjadi alat yang dapat lebih diandalkan ketimbang alat konvensional— yakni cara-cara reduksionis, yang menggunakan ilmu pengetahuan untuk mengalihkan teknologi padat modal dan energi menjadi teknologi yang lebih “padat-ide”.</p>
<p>Aspek khusus lain yang relevan dari Marxisme adalah teori akumulasi, yang menjelaskan bahwa syarat pertumbuhan kapitalisme dihasilkan dari upaya kekuatan-kekuatan (perusahaan) dalam menghadapi tekanan-tekanan kompetisi di antara mereka, sehingga memaksa mereka memotong biaya dan mengakumulasikan modal sebagai cara untuk bertahan hidup. Teori tersebut menjelaskan kebutuhan kekuatan-kekuatan kapitalis yang berkompetisi untuk mengeksternalkan sebanyak mungkin biaya produksi menjadi beban masyarakat dalam jumlah besar, termasuk biaya “cuci tangan”—(berupa) insentif tetap bagi aktivitas produksi dan konsumsi yang menghasilkan banyak limbah; dan ekspansi internasional kekuatan kapitalis ketika mereka mencari pasar baru, sumber daya baru dan, lebih banyak lagi tempat baru untuk membuang limbahnya.</p>
<p>Sehingga, terdapat konflik mendasar antara kapitalisme dan rasionalitas ekologis. Seperti yang dikatakan oleh Paul Sweezy, bahwa catatan buruk (di bidang lingkungan) kapitalisme disebabkan oleh sifat bawaannya yang mengusung proses akumulasi modal yang tak terkendali. Sistem tersebut tak memiliki mekanisme pengerem/pengendali selain krisis ekonomi berkala; satuan-satuan individual yang menyusunnya—modal yang terpisah-pisah— harus tanggap terhadap peluang-peluang meraup keuntungan dalam jangka pendek, atau tersingkir; tak ada bagian dalam sistem itu yang membuka diri atau sesuai dengan suatu perencanaan jangka panjang yang mutlak sangat penting bagi pelaksanaan sebuah program ekologi yang efektif.</p>
<p>Banyak yang berpendapat, merujuk pada catatan lingkungan negeri-negeri sosialis maju, bahwa sosialisme bukan solusi, dan menegaskan bahwa negeri sosialis juga berada di bawah tekanan besar untuk mengakumulasikan modal, mendorong perilaku yang sama dengan perusahaan-perusaha an kapitalis. James O’Connor membantah pendapat kebanyakan tersebut dengan mengatakan bahwa tekanan untuk mengurangi biaya lebih kecil di dalam negeri sosialis (maupun dalam satuan-satuan produksinya) ketimbang dalam perusahaan-perusaha an kapitalis—karena perusahaan-perusaha an kapitalis dibimbing oleh norma-norma pasar; sedangkan perusahaan-perusaha an sosialis dibimbing oleh norma-norma politik. Walaupun pertumbuhan ekonomi juga menjadi tujuan kunci dalam negeri sosialis, namun tak ada kebutuhan pertumbuhan sistemik dalam kadar yang sama. Pertumbuhan lebih cenderung menjadi sebuah keputusan politik…. Memang, watak pengerukan sumber daya yang berani dan tak terencananya bertujuan demi pemanfaatan, bukan demi keuntungan, dan pertumbuhan dipandang sebagai sarana, bukan merupakan tujuan antara maupun tujuan akhir, kendati dalam prakteknya tentu tidak selalu demikian.</p>
<p>O’Connor berpendapat bahwa ekonomi sosialis berpotensi menggunakan dan membuang sumber daya dalam jumlah yang lebih kecil ketimbang ekonomi kapitalis, dan konsumsi personal di bawah sosialisme menghasilkan lebih sedikit polusi. Karena dipaksa oleh permintaan, ekonomi kapitalis didasarkan pada pemenuhan kebutuhan berbentuk komoditi, melibatkan penciptaan “kebutuhan-kebutuhan” yang diindividualkan dalam semua jenis komoditi. Di lain pihak, ekonomi sosialis menekankan konsumsi kolektif, tempat pemberhentian massal, fasilitas rekreasi dan liburan bersama, penanganan kesehatan bersifat pencegahan, dan permukiman bersama. Sehingga, seperti juga dikemukakan oleh Sweezy dan Magdoff, negeri-negeri sosialis setidaknya berpotensi membuat beberapa kemajuan signifikan menuju produksi yang rasional secara ekologis.</p>
<p>Kendati demikian, negeri-negeri dengan kebijakan-kebijakan sosialis secara umum memiliki catatan lingkungan yang kurang baik. Sebagian karena keadaan tempat pemerintahan sosialis itu berada—relatif miskin, mendapat serangan-serangan dari luar dan, khususnya bagi yang kecil, mengalami ketergantungan ekonomi ala Dunia Ketiga, suatu posisi yang tidak menguntungkan dalam pasar internasional. Hambatan-hambatan yang saling berhubungan dalam memenuhi kebutuhan material penduduknya, mendorong pembentukan pertahanan militer yang cukup kuat, dan berlanjutnya produksi dan ekspor tanaman industry serta bahan mentah untuk perdagangan luar negerinya, sehingga pengambil kebijakan sosialis lebih menekankan pada akumulasi oleh negara¾suatu adopsi yang tidak kritis atas banyak bagian dari pembangunan kapitalis, yang catatannya sangat buruk saat berhadapan dengan lingkungan (meskipun, tentu saja, ada beberapa pengecualian).</p>
<p>Tapi factor-faktor yang melekat pada ideologi sosialis juga memberikan sumbangan terhadap karakter kebijakan ekonomi sosialis tersebut. Salah satunya adalah produksionisme Marxisme, yang dicatat oleh Arthur MacEwan sebagai kelemahan penting yang menyebabkan diutamakannya kemajuan dalam produksi di atas kemajuan dalam bidang lain, dan subordinasi tujuan-tujuan lain di bawah akumulasi sosialis.) Faktor lain, dalam pandangan Michael Redclift, adalah cara Marxisme mengkonseptualisasi kan nilai (value)—mendasarkann ya pada waktu kerja, karena memang begitu adanya, ketimbang mendasarkannya pada sifat-sifat bawaan dari material alam, sehingga membuat “nilai” lingkungan menjadi tak jelas.</p>
<p>Akhirnya, karena gagal menyadari demokrasi yang sepenuh-penuhnya maka ekonomi dan politik di bawah kapitalisme atau sosialisme menjadi persoalan mendasar dalam krisis ekologis. Seperti ditulis oleh Barry Commoner, “pemerintahan sosial produksi telah gagal diwujudkan baik dalam negeri kapitalisme maupun negeri sosialisme. Apa yang dibutuhkan adalah perluasan demokrasi hingga ke ajang di mana keputusan produksi dibuat.” Agak senada, Redclift mengatakan bahwa individu-individu baik dalam masyarakat industrial kapitalis maupun sosialis makin dibatasi dalam ikut bertanggung jawab atas lingkungan terdekat mereka sendiri dan lingkungan lain di masyrakat yang lain. Dalam penelitiannya tentang gerakan Hijau di Eropa Timur, ia menyimpulkan bahwa krisis ekologi berhubungan erat dengan penghargaan yang kurang terhadap hak-hak dasar manusia, kebebasan informasi, dan demokrasi partisipatoris.</p>
<p>Meskipun kecenderungan bawaan kapitalisme membuang sampah (ke lingkungan) adalah konsekuensi dari syarat-syarat pertumbuhannya, kita tidak boleh “meragukan kecerdikan kapitalisme dan kemampuannya untuk menyesuaikan diri,” seperti diperingatkan oleh Andre Gorz dalam Ecology in Politics.) Dalam tingkat tertentu, terlihat jelas bahwa kapitalisme bisa menerima keprihatinan ekologi, sejauh solusi-solusinya bisa dikomoditikan. Jika masyarakat akan puas dengan air minum yang bersih – sementara sungai dan air tanah berpolusi—maka kami akan menjual air dalam botol dan menyaringnya untuk disimpan. Jika agen pengontrol biologis dapat dikemas dan dijual demi keuntungan bagi produsen pertanian, hal itu akan dilakukan, dan mungkin penggunaan pestisida yang berbahaya akan berkurang. Perusahaan-perusaha an kapitalis, jauh-jauh hari sebelum dipaksa, bukan saja karena alasan politik tapi juga karena alasan ekonomi, sudah mmpertimbangkan sumber-sumber daya ekologi, seperti unsur hara tanah dan populasi serangga bermanfaat, sebagai persediaan modal dalam perhitungan mereka.</p>
<p>Kendati beberapa masalah lingkungan dapat dipermak di sana-sini dalam konteks kapitalisme, tapi tidak demikian halnya dengan masalah lingkungan secara keseluruhan. Itu karena kecenderungan capital untuk berekspansi secara internasional &#8211; ketika capital dibatasi di tingkat lokal (contohnya, ketika pemerintah setempat menanggapi tekanan dari para environmentalis dan menerapkan regulasi berbiaya tinggi pada industri swasta demi perlindungan lingkungan), maka ia akan pindah.</p>
<p><strong>Tindakan Politik</strong></p>
<p>Dalam pemahaman akhir, tuntutan akan rasionalitas ekologis dalam skala besar merupakan tuntutan radikal karena pemenuhannya membutuhkan perubahan structural yang mendasar. Hal itu tentu tidak dipahami sepenuhnya oleh gerakan lingkungan, banyak partisipannya melihat bahwa tuntutan dan tujuan aksi-aksi mereka hanyalah untuk menerapkan perangkat-perangkat khusus perlindungan lingkungan. Peran khusus dari sayap kiri (ekologis sosial dan Marxis) dalam gerakan lingkungan adalah untuk secara berkelanjutan mengekspresikan politik dari keprihatinan ekologis-bahwa kemerosotan lingkungan bukan lah masalah “industri” atau “modernisasi” yang lepas dari hubungan-hubungan social produksi dan pertukaran. Bukan pula persoalan ideologi, yang selesai dengan kesadaran lingkungan yang lebih besar atau perubahan dalam gaya hidup perorangan. Kemerosotan lingkungan adalah persoalan kontrol yang tidak demokratis atas sumber daya-sumber daya dan proses pengambilan keputusan.</p>
<p>Walaupun pandangan ekologi sosial dan Marxis memiliki kesamaan dalam humanisme dan anti kapitalismenya, sesungguhnya mereka berbeda dalam cara mewujudkannya. Dalam praktek politik, posisi tegas Marxisme adalah bahwa ekologi tidak dapat (secara tersendiri) menjadi tujuan khusus dari suatu masyarakat atau suatu program. Sebaliknya, ekologis sosial, seperti yang mereka tunjukkan dalam analisis-analisis dan peran politiknya dalam partai-partai Hijau dan organisasi-organisa sinya, mendefinisikan politiknya dalam konteks ekologi dan menurunkan model masyarakat mereka dari ekologi atau kriteria-kriteria ekologis. Misalnya, ekologis sosial melihat desentralisasi sebagai elemen kunci dari masyarakat yang rasional secara ekologis. Namun, seperti dinyatakan oleh O’Connor, merujuk pengalaman Cina, desentralisasi industri, dalam ukuran ekonomi, mempersulit upaya untuk mewujudkan pengelolaan limbah, dan menyebabkan permasalahan- permasalahan polusi yang parah di tingkat lokal. Terlebih lagi, menentukan ekologi sebagai satu-satunya kriteria untuk aksi, seseorang mungkin akan menolak kapitalisme tapi tak tahu ke mana harus pergi. Seperti dipahami oleh Gorz, “ekologi tidak perlu melakukan penolakan terhadap otoritarianisme, solusi-solusi teknofasis,” karena dengan itu aturan-aturan dan kegiatan-kegiatan perlindungan lingkungan dapat diterapkan pada penduduk secara paksa.</p>
<p>Konflik yang sering dikedepankan adalah, di satu sisi, antara lapangan kerja atau keberlangsungan ekonomi dan, di sisi lain, kualitas lingkungan. Konflik tersebut sebenarnya tidak ada. Contohnya, menghadapi perlawanan kaum pecinta lingkungan (environmentalist)— terakhir paling terlihat dalam kampanye Redwood Summer tahun 1990 untuk menyelamatkan Redwoods yang sudah lama tumbuh di California utara-industri kayu California menyalahkan upaya-upaya pelestarian atas hilangnya lapangan kerja perkayuan. Kenyataannya industri itu sendiri yang bertanggung jawab. Dalam dekade terakhir saat produksi kayu di Humboldt County (salah satu lokasi aksi-aksi Redwood Summer) meningkat hingga lebih 50%, jumlah pekerja perkayuan menurun hingga 35%. Otomatisasi dan ekspor gelondongan untuk digergaji di luar negeri menyebabkan hilangnya lapangan kerja, dan walau ada penebangan berlebihan lapangan kerja perkayuan akan tetap menurun di kemudian hari.</p>
<p>Analisis politik yang lebih besar diperlukan untuk bergerak menuju tatanan yang lebih sosial dan rasional secara ekologis. Program yang menghubungkannya harus mencakup baik tujuan rasionalitas ekologis maupun tujuan keadilan dan demokrasi yang lebih didefinisikan secara sosial. Perspektif Marxis menyediakan elemen penting dalam analisis politiknya yang lebih besar¾dengan kritiknya pada kapitalisme dan khususnya teori akumulasi. Akumulasi kapitalis tidak hanya mendasari dan menggerakkan perusakan lingkungan, tapi juga penderitaan- penderitaan yang lain, seperti penerapan kontrol ekonomi dan politik oleh kepentingan kapitalis atas manusia di seluruh dunia. Hasilnya, jika kapitalisme adalah masalahnya, maka secara logis tidak lengkap dan secara politis dangkal jika membangun gerakan semata berbasis utama pada keprihatinan ekologis.</p>
<p>Akumulasi kapitalis, dan mobilitas, ekspansi, serta kontrol yang mengikutinya, memiliki implikasi langsung terhadap aksi politik kita di seputar isu lingkungan. Aksi kita harus diluaskan secara geografis jika tidak ingin menghasilkan kualitas lingkungan (yang baik) dan keselamatan untuk sekelompok orang tapi dengan mengorbankan lingkungan, kesehatan, atau nyawa orang lain. Contohnya, agitasi oleh para pecinta lingkungan dan konsumen di AS dalam menolak residu dari pestisida yang mengendap dan menyebabkan kanker (organoklorin seperti DBCP) telah membuat perusahaan-perusaha an yang memproduksinya “membuang” pestisida-pestisida tersebut ke Dunia Ketiga dan menggantinya dengan pestisida yang tidak menetap di tubuh tapi lebih beracun (organofosfat seperti parathion). Hasilnya, buruh tani di AS dan di luar negeri, yang mengerjakan tanaman budidaya untuk pasar AS, kemudian menderita lebih banyak keracunan dan tingkat kematian yang lebih tinggi. Di AS sendiri, kaum pecinta lingkungan menghasilkan dampak yang tak merata—terdapat kecenderungan yang nyata untuk menempatkan sampah mematikan di lingkungan miskin orang-orang African-American, Latino dan penduduk asli Amerika berkaitan dengan rasisme dan kurangnya kekuatan politik komunitas-komunitas tersebut dibandingkan dengan warga yang lebih kaya atau tetangga kulit putih mereka.</p>
<p>Melemahnya negara-bangsa berhadapan dengan capital adalah alasan lain mengapa pengorganisasian lingkungan harus berlingkup internasional. Pada musim gugur 1989 misalnya, dalam menanggapi Belanda yang memberlakukan aturan emisi kendaraan, Prancis membawanya ke pengadilan Eropa. Pemerintah Prancis berargumen bahwa hukum Belanda menunjukkan pengingkaran terhadap kesepakatan Pasar Umum, karena mobil Prancis akan terhalangi untuk dijual di Belanda. Prancis memenangkan kasus tersebut.</p>
<p>Sebagai tambahan, untuk mengkonsolidasikan dan mempolitisir perlawanan-perlawan an lokal yang sudah ada—melawan pembuangan limbah beracun, pestisida, penambangan tak terkendali, dan lain sebagainya—demi kesatuan dan dampak politik yang lebih besar, kita perlu mulai mengkoordinasikanny a dalam gerakan nasional dan internasional. Itu sama dengan internasionalisasi pengorganisasian buruh, yang diperlukan karena alasan yang sama.</p>
<p>Banyak gerakan lingkungan di Dunia Ketiga terdiri dari orang-orang yang lingkungan hidupnya mengalami ancaman langsung dari polusi dan ekstraksi sumber daya. Beberapanya secara sadar anti imperialis dan atau sosialis. Tapi gerakan dan organisasi-organisa si Dunia Ketiga tersebut biasanya kekurangan sumber daya untuk melakukan lebih banyak koordinasi internasional. Organisasi-organisa si lingkungan progresif yang berbasis di negeri-negeri yang lebih kaya dapat memainkan peran penting dalam internasionalisasi aktivisme lingkungan, tidak hanya dengan kerja solidaritas jangka panjang, seperti pekerjaan New World Agriculture Group di Nikaragua, tapi juga melalui pembangunan jaringan organisasi-organisa si dan koordinasi aktivisme dalam skala internasional. Contoh dari organisasi yang membantu membangun jaringan internasional dan mengkoordinir aksinya adalah Pesticide Action Network, Greenpeace (yang sudah mengangkat dan melawan ekspor pestisida serta limbah beracun berbahaya), dan mereka yang membantu mengorganisir Fourth Internasional Congress in the Fate and Hope of the Earth yang diselenggarakan di Managua bulan Juni 1989, termasuk Earth Island Institute dan Environmental Project on Central America (EPOCA).</p>
<p>Karena mustahil menerapkan rasionalitas ekologis dalam skala luas di bawah kapitalisme, para pecinta lingkungan dan gerakan lingkungan dapat, dan di beberapa bagian dunia sudah, menjadi agen-agen perubahan revolusioner. Untuk mewujudkan potensi itu, para aktivis harus mengingat bahwa:</p>
<ul>
<li>permasalahan- permasalahan ekologi adalah masalah politis dalam makna bahwa masalah-masalah tersebut dihasilkan atau sangat dipengaruhi oleh kesenjangan- kesenjangan kontrol atas sumber daya dan kekuatan politik di antara kelompok-kelompok dan bangsa-bangsa;</li>
<li>ekologi tidak dapat menjadi program politik itu sendiri, melainkan harus menjadi bagian dari analisa dan program yang lebih luas;</li>
<li>perlu memehami kapitalisme, dan khususnya dinamika akumulasi modal, agar mengerti mengapa kerusakan lingkungan terjadi dan akan terus berlanjut dalam dunia yang kapitalistik;</li>
<li>oleh karena mobilitas dan ekspansi modal, serta melemahnya negara-bangsa, maka perlu mengkoordinasikan strategi secara internasional.</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2008/01/31/yang-merah-dan-yang-hijau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anarkisme Sosial</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2007/05/17/anarkisme-sosial/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2007/05/17/anarkisme-sosial/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2007 11:08:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anarkisme]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/v2/2007/05/17/anarkisme-sosial/</guid>
		<description><![CDATA[Anarkis dan Anarkisme telah disalahpahami sepanjang sejarah hampir di seluruh dunia yang mengenal istilah ini. Kesan umum atas anarkis sebagai seorang dengan emosi yang tidak terkontrol, yang melakukan kekerasan hanya tertarik menghancurkan karena ketertarikannya semata, dan orang yang menentang semua bentuk organisasi, masih saja bertahan hingga hari ini. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh:  Zoro Sastrowardoyo</strong></p>
<p>Anarkis dan Anarkisme telah disalahpahami sepanjang sejarah hampir di seluruh dunia yang mengenal istilah ini. Kesan umum atas anarkis sebagai seorang dengan emosi yang tidak terkontrol, yang melakukan kekerasan hanya tertarik menghancurkan karena ketertarikannya semata, dan orang yang menentang semua bentuk organisasi, masih saja bertahan hingga hari ini. Lebih lanjut, kekeliruan kepercayaan bahwa anarki adalah kekacauan dan kebingungan, perkosaan, pembunuhan dan ketidakteraturan serta kegilaan sepenuhnya tanpa-akal secara luas, masih dipercaya oleh masyarakat awam pada umumnya. Sehingga sulit kiranya memulai diskusi tentang anarki, anarkisme, dan aktivisme politik tanpa menerangkan dahulu batasan anarkisme. Tulisan ini bertujuan menjelaskan apa dan bagaimana anarkisme dan beragam teori dan praktik anarkisme.</p>
<p><span id="more-121"></span> Ada beragam teori Anarkisme dengan beragam titik kesamaan dan juga ketidaksepakatannya. Wilayah utama perdebatan antaranarkis berkaitan dengan bentuk organisasi yang dipakai untuk perjuangan dan apa siasat yang digunakan. Misalnya, sebagian Anarkis memusatkan perhatian pada organisasi ekonomi masyarakat masa depan; sebagian Anarkis menolak uang dan menggantinya dengan sistem pertukaran yang di situ kerja ditukar untuk barang dan jasa. Sebagian lagi menolak segala bentuk perdagangan atau barter atau kepemilikan pribadi sebagai kapitalisme, dan yakin bahwa semua kepemilikan harus dimiliki bersama. Sebagian menggunakan perjuangan dengan cara kekerasan seperti terorisme dan pemberontakan bersenjata; sebagian yang lain menggunakan sarana pendidikan kesadaran mengenai otonomi diri dan solidaritas antarmanusia.</p>
<p>Seorang Anarkis adalah revolusioner sosial yang percaya bahwa revolusi sosial adalah proses yang melaluinya sebuah masyarakat bebas akan tercipta. Pengaturan diri ditegakkan di semua wilayah kehidupan sosial, termasuk hak penentuan diri yang terbebas dari pertarungan yang menekan. Penentuan diri adalah hak untuk mengatur diri. Lewat inisiatif mereka sendiri, individu-individu akan menerapkan pengaturan kehidupan sosial mereka sendiri melalui perkumpulan-perkumpulan (associations) sukarela. Mereka menolak menyerahkan pengarahan diri (self-direction) kepada negara, partai politik, atau sekelompok pemimpin baris depan yang punya hak istimewa. Semuanya itu hanya membantu melanggengkan atau melanggeng ulang dominasi yang ada.</p>
<p>Lalu apa sebenarnya Anarkisme? Mudahnya, Anarkisme adalah sosialisme libertarian atau sosialisme berperi kebebasan individual. Anarkisme menentang pemerintahan, negara, dan sekaligus kapitalisme. Karenanya, secara sederhana, Anarkisme adalah sebuah pemikiran dan gerakan politik sosialisme yang menentang segala bentuk otorianisme, terutama kekuasaan politik negara dan kekuasaan ekonomi kapitalis serta otoritas menindas lainnya terhadap individu. Oleh karena itu Brown (1993) menyatakan bahwa anarkisme sebenarnya adalah varian marxisme yang humanis.</p>
<p><strong>Ajaran-ajaran umum Anarkisme</strong> [1]</p>
<p>Untuk memerikan bentuk konsepsi Anarkis tentang kehidupan sosial dan untuk menghubungkannya dengan pemikiran Anarkisme pada umumnya, perlu dirunut ke mata air tempat sungai Anarkis mengalir hingga saat ini: <strong>William Godwin</strong> (1756-1836), seorang filsuf sosial Inggris. Hasil kerja pemikiran Godwin sebenarnya merupakan buah dari perjalanan panjang konsep-konsep radikalisme politik dan sosial di Inggris dan peradaban Eropa umumnya. Godwin memandang bahwa akar kejahatan sosial harus dicari tidak hanya dalam sebentuk organisasi bernama negara, tetapi dalam setiap keberadaannya di kehidupan sosial. Selama ini negara hanyalah pantulan atau karikatur masyarakat, maka hal itu membuat umat manusia yang tercengkram di bawah kekuasaan eksternalnya hanyalah karikatur dari diri mereka yang sebenarnya lewat pemaksaan secara terus-menerus dan menindas kecenderungan alami mereka yang bebas. Godwin berkeyakinan bahwa seorang manusia normal yang tidak terinfeksi dalam perkembangan alamiahnya akan membentuk diri mereka sendiri dan lingkungannya yang cocok dengan kebutuhan sejak lahirnya akan kedamaian dan kebebasan.</p>
<p>Godwin juga menyatakan bahwa umat manusia hanya bisa hidup bersama secara alamiah dan bebas ketika kondisi ekonomi yang tepat untuk hal ini diberikan, dan ketika individu bukanlah subjek untuk dieksploitasi oleh yang lain. Karenanya penghilangan keberadaan negara harus dilakukan. Ide Godwin tentang sebuah masyarakat tanpa negara menginginkan kepemilikan sosial atas semua kekayaan alamiah dan sosial, dan membawanya ke kehidupan ekonomi lewat kooperasi bebas para produsen; merupakan cikal bakal apa yang kemudian dikenal dengan Anarkisme.</p>
<p>Anarkisme adalah ajaran dan gerakan sosial-politik untuk menghilangkan monopoli ekonomi dan semua bentuk lembaga politik yang menindas dalam masyarakat. Di suatu masa ketika orde ekonomi kapitalistik berkuasa, Anarkis menawarkan perkumpulan yang bebas dari semua kekuatan produktif didasarkan atas kerja kooperatif, yang akan sebagai tujuan pada dirinya sendiri untuk memuaskan semua anggota masyarakat, dan tidak memandang khusus pada minoritas pemilik hak istimewa dalam satuan sosial. Di suatu masa ketika organisasi negara saat ini dengan mesin pranata politik dan birokrasi pemerintahannya yang teknokratis tanpa-kehidupan bak robot, Anarkis menghendaki sebuah federasi komuniti-komuniti bebas yang akan saling terikat pada masing-masing secara setara lewat kesamaan kepentingan mereka dalam ekonomi dan sosial, dan hendak menata hubungan-hubungan mereka melalui kesepakatan saling menguntungkan dan kontrak bebas.</p>
<p>Siapapun yang mempelajari semua perkembangan ekonomi dan politik secara mendalam mengenai sistem sosial saat ini akan dengan mudah mengerti bahwa tujuan-tujuan Anarkis ini tidak memancar dari ide-ide utopia tentang sedikit upaya perbaikan imajinatif, tetapi merupakan hasil logis dari sebuah penjelasan mengenai kesalahsuaian (maladjusments) yang terjadi saat ini, yang dengan setiap fase barunya kondisi sosial yang ada menampakkan diri mereka sendiri lebih terus terang dan lebih tidak sehat lagi dalam rupa: monopoli brutal modern, kapitalisme, dan negara totaliter yang nyatanya bukan bagian akhir dalam perkembangan dunia dan dapat memuncak dalam banyak hal lain yang lebih mengerikan.</p>
<p>Pertanda perkembangan sistem ekonomi kita sekarang, menghantar pada akumulasi besar kekayaan (ekonomi) dan kekuasaan (politik) di tangan-tangan minoritas dengan hak-hak istimewa menuju pemiskinan terus-menerus sebagian besar massa rakyat, menyiapkan jalan untuk reaksi politik dan sosial saat ini, dan melindunginya dengan segala cara lewat negara. Hal ini mengorbankan kepentingan bersama umat manusia untuk kepentingan pribadi individu-individu, sehingga secara sistematis menggerogoti hubungan antarmanusia yang sehat. Orang lupa bahwa industri bukan sebuah tujuan pada dirinya sendiri, tetapi haruslah hanya sebuah alat untuk menjamin subsistensi material manusia terpenuhi dan membuat mudah dijangkaunya berkah kebudayaan intelektual yang lebih tinggi tersebut oleh semua orang. Ketika industri adalah segala-galanya dan manusia tiada arti ketimbang penumpukkan modal, mulailah dunia mengalami despotisme ekonomi yang kejam yang bekerja tidak kalah mengerikannya ketimbang despotisme politik. Keduanya satu sama lain saling menguatkan, dan mereka minum dari mata air yang sama, yaitu penindasan manusia atas manusia lain. Menurut Godwin, akar segalanya adalah keberadaan negara yang melanggengkan keberadaan individu-individu dengan hak istimewa tertentu dan pemikiran berkembangnya ideologi individualisme yang picik; ayau yang oleh Brown (1993) disebut dengan individualisme instrumental.</p>
<p>Itulah ajaran umum Anarkisme dari Godwin yang menjadi akar sosialisme anti-otoritarian yang dianut Anarkisme. Frederich Engel pernah komentar bahwa ada &#8220;two great practical philosophers of latest date, Bentham and Godwin, are, especially the latter, almost exclusively the property of the proletariat.&#8221;</p>
<p><strong>Pemerintah dan Anarki</strong></p>
<p>Orang yang menggunakan istilah ‘Anarki’ sebagai rujukan ‘kekacauan’ atau ‘tanpa aturan’ tidaklah keliru. Jika mereka memandang Pemerintah sebagai yang niscaya harus ada, jika mereka pikir kita tidak dapat hidup tanpa Istana Presiden mengatur hubungan kita, jika mereka pikir politikus sangat esensial keberadaannya untuk kesejahteraan kita, dan bahwa kita tidak dapat berperilaku secara sosial tanpa polisi, mereka benar ketika mengandaikan bahwa Anarki artinya berlawanan dengan garansi keberadaan Pemerintah. Tetapi, opini orang yang kebalikannya, dan menganggap Pemerintah sebagai tirani, juga benar ketika memandang keadaan anarki, tanpa pemerintah, sebagai kebebasan. Jika pemerintah melangsungkan hak istimewa orang-orang tertentu dan menciptakan hubungan eksploitasi serta ketidakefisienan distribusi, Anarki berarti keteraturan.</p>
<p>Politik adalah hasil kerja manusia. Pemerintahan pun demikian. Keberadaannya pun bergantung pada usaha manusia: melanggengkannya atau menghapusnya dari muka bumi. Saat ini mungkin kita tertawa mendengar ide masyarakat tanpa negara yang mendasarkan hubungan sosial pada solidaritas dan keadilan sosial sekaligus penghargaan atas pribadi-pribadi, seperti halnya orang-orang di abad ke-18 di Amerika sebelumnya menertawakan ide untuk menghilangkan perbudakan dalam perekonomian mereka. Tetapi dari pengalaman sejarah, sistem sosial yang ada saat ini seperti perekonomian tanpa budak, perpolitikan tanpa kekuasaan absolut raja, peminggiran kekuasaan gereja dalam kehidupan politik, merupakan sesuatu yang jadi bahan tertawaan di abad-abad lalu bila dikemukakan di publik.</p>
<p><strong>Organisasi gerakan dan Anarkisme</strong></p>
<p>Orang yang mengakui atau datang dari kelompok otoritarian menemukan betapa sulitnya menerima bahwa kita dapat hidup teratur tanpa ‘sebentuk’ Pemerintahan. Karenanya mereka simpulkan, dan ini merupakan alasan umum melawan Anarkisme, bahwa ‘Anarkis tidak percaya organisasi’. Tapi, bukankah pemerintah adalah tentang orang, sedangkan organisasi adalah tentang sesuatu?</p>
<p>Ada kepercayaan bahwa Anarkis ‘merusak organisasi orang lain tetapi tidak mampu membangun organisasi mereka sendiri’. Hal ini bisa diakui bahwa sebagian orang di sebagian tempat telah gagal dalam tugasnya membangun organisasi Anarkis, tetapi di beberapa bagian dunia mereka juga bisa (IWW/Industrial Worker’s of the World di Amerika, NCT dan kolektif-kolektif di Spanyol tahun 1930-an, beberapa organisasi sindikalis di Prancis, gerakan Food Not Bomb di Amerika, dll). Suatu organisasi bisa jadi demokratik atau diktatorial, bisa juga otoritarian atau libertarian, dan ada banyak organisasi libertarian, yang memang tidak selalu anarkis, yang membuktikan bahwa tidak semua organisasi tidak harus butuh dijalankan dari atas ke bawah (top downwards). Ide-ide tentang ‘forum warga’ yang dibentuk secara ‘partisipatoris’, penyelesaian masalah setempat secara ‘partisipatoris’, pembangunan botom-up, dan semua yang sedang ngetrend tentang ‘community governance’, merupakan percikan ide anarkis yang meyakini bahwa keberadaan komuniti secara bebas tanpa campur tangan pihak luar secara ‘top-down’ dalam mengelola ekonomi dan hubungan sosial untuk kesejehteraan bersama mereka, bisa dilakukan.</p>
<p>Anarkis menawarkan keyakinan bahwa organisasi bisa terbentuk dari kesadaran semua pihak dalam suatu komuniti tanpa harus dimasukkan secara paksa oleh pihak luar dengan alasan penguatan atau pembangunan. Anarkis mewanti-wanti jangan sampai organisasi tersebut menjadi wahana pemupukkan keberadaan sebagian orang dengan hak istimewa yang bisa menghantar ke otorianisme dengan tujuan, karateristik, atau syarat-syarat keberadaannya yang tetap, tetapi dengan memelihara organisasi sebagai sesuatu yang jalan secara ad hoc saja.</p>
<p>Keberadaan organisasi dalam gerakan sosial itu perlu. Memang benar bahwa perjuangan yang tidak terorganisasi sulit akan berhasil. Tetapi sejarah pemberontakan kaum tertindas di banyak wilayah menunjukkan bahwa keberadaan organisasi permanen yang formal dalam gerakan sosial justru wahana paling mudah bagi negara atau kapitalis mengendalikannya. Selain itu dengan mengimingi janji bahwa perubahan hanya akan terjadi dengan dan melalui organisasi yang disiplin, para aktivis sosial justru menjebak kaum tersisih dan dirinya sendiri ke dalam mimpi dunia nyata yang menindas akar keberadaan mereka. Seperti semua organisasi otoritarian, disiplin yang dimaksudkan adalah disiplin heteronom berupa keberadaan struktur formal yang kuat yang bisa mendisiplinkan anggotanya dari atas dengan keberadaan ‘pemerintah’ yang terlembagakan secara formal. Dalam masyarakat yang otoritarian tentu saja usul ini terdengar masuk akal. Bagaimana mungkin bisa mengadakan kegiatan untuk perubahan tanpa organisasi yang kuat untuk melakukannya? Memang benar, tetapi keberadaan organisasi permanen yang otoritasnya terlembaga secara formal, dengan struktur perintah dan tujuan-tujuan yang relatif tetap justru akan memudahkan tangan-tangan otoriter yang lebih besar, entah dari negara maupun kapitalis, untuk memasukkan alat-alat peninaboboan. Yang terjadi kemudian adalah pembuyaran kesadaran kritis dan penyuburan tradisi ketundukan pada otoritas. Jadilah organisasi hanya sebagai wadah penjinakan (domestification) dan alat status quo mengendalikan potensi perubahan sosial yang bisa melenyapkan mereka dan lembaga. Atau menjadi oposisi terhadap pemerintahan negaranya lewat kritik yang justru melanggengkan otoritas kapitalis neoliberal. (misalnya oposisi lsm yang menginginkan otonomi daerah secara penuh sehingga memudahkan modal asing bisa langsung masuk daerah tanpa lewat pemerintah pusat).</p>
<p>Ada perkataan bahwa untuk menjinakkan ular, kuasai kepalanya. Resep ini ternyata manjur.</p>
<p>Organisasi formal dengan disiplin yang berasal dari sumber heteronomi akan melemahkan kesadaran otonomi anggotanya bahwa mereka yang tertindas bisa mengendalikan diri mereka sendiri untuk lepas dan menghancurkan penindasan tanpa campur tangan negara. Orde baru menjinakkan perempuan dengan organisasi Dharma Wanita atau PKK, PKI menjinakkan dan memanfaatkan perempuan secara politik lewat Gerwani, LSM dijinakkan kapitalis dengan organisasi formal lewat lembaga donor internasional. Dengan adanya lembaga otoritas dalam organisasi, para kapitalis yang bekerja sama dengan pemerintah mengeluarkan biaya lebih murah daripada ketika organisasi tersebut tanpa kepala. Pegang kepalanya, sekolahkan, masukan ide dan ‘inseminasi’ kesadaran sehingga program-program organisasi ditentukan dari atas sejalan tujuan kapitalis (lewat donor yang bisa saja berwajah revolusioner dalam istilah-istilahnya), lalu jinakkan semuanya. Tentu saja proyek besar penjinakan juga dilakukan dengan menebar mitos-mitos modern yang mendukung tujuan besar imperium kapitalis: rasionalitas organisasi modern a la Weber (yang kemudian diperdalam oleh konsep organisasi efektif dan efisien modern ala neo-liberalisme), human capital, atau pembagian kerja berdasarkan kompetensi.</p>
<p>Konsep organisasi modern rasional Weber disebar untuk menumbuhkan keyakinan bahwa organisasi di masa modern sekarang harus ditata lewat pengaturan otoritatif-birokratis yang anonim serta mengikis atau melenyapkan hubungan-hubungan pribadi dalam hubungan sosial. Hal ini dilakukan dengan alasan mengefisienkan kerja dan mengefektifkan pencapaian tujuan bersama. Hal ini pula yang diperjuangkan neoliberalis dalam hubungan-hubungan ekonomi. Dalam transaksi, yang ada adalah kategori-kategori: pedagang/pembeli; dan individu manusia dengan semua masalah pribadi, sosial, kedudukan, dan perasaannya, sedapat mungkin disingkirkan.</p>
<p>Konsep human capital menghantar kita, sadar ataupun tidak, menempatkan manusia sebagai barang dagangan: sumber daya yang bisa dieksploitasi! Dan ini berkait dengan upaya kapitalis neoliberal untuk meruntuhkan solidaritas antarmanusia dengan konsep ‘pembagian kerja berdasar kompetensi’. Pengasingan manusia-manusia dari keberadaannya sebagai makhluk sosial dan menenggelamkannya ke dalam kesibukan-kesibukan ‘spesialisasi’ mengendurkan ikatan solidaritas kemanusiaannya. Hubungan-hubungan kerja kontraktual terasa begitu masuk akal dalam logika kapitalis neoliberal: dengan pranata ini kekuasaan pekerja lemah. Hal ini juga harus didahului oleh prakondisi berupa tingginya pengangguran sehingga hubungan kerja ditekan oleh ketakutan akan diputuskan sewaktu-waktu. Toh banyak yang antri melamar kerja. Untuk menebar konsep hubungan kerja dan lembaganya ini, kapitalis-neoliberal telah menjalankan proyek besar berupa perendahan kualitas otonomi. Dengan berkembangnya kesadaran heteronomi, orang menjadi bergantung pada kendali dari luar. Waktu ada polisi tertib, tak ada polisi rusuh. Waktu ada pimpinan rajin, tak ada pemimpin malas-malasan. Juga menciptakan manusia-manusia rakus yang mementingkan diri sendiri, karena setiap individu adalah wirausahawan yang mengelola human capitalnya sendiri-sendiri. Keadaan ini memberi kapitalis neoliberal rujukan kenyataan untuk memaksakan ide hubungan kerja kontrak dan spesialisasi.</p>
<p>Dengan pemisahan yang kaku ini, tentu saja karena adanya organisasi yang memiliki otoritas ‘kuat’, solidaritas kolektif terhapus dari kesadaran kaum tertindas dan ‘para pejuangnya’. Pandangan dunia Hobbesian dalam benak hampir semua orang saat ini bukan takdir Tuhan yang telah digariskan di lauh, tetapi hasil kerja manusia. Pandangan dunia ini kian menjadi yang paling dominan dengan dikuasainya alat-alat produksi informasi oleh mereka yang menghendaki kekuasan otoritarian di tangan mereka: penguasa politik dan penguasa ekonomi kapitalis. Omong kosong demokrasi dan kebebasan individu yang digembar-gemborkan keduanya sebenarnya ilusi keikutsertaan dalam politik; topeng yang menutupi wajah bopeng kemanusiaan mereka yang sebenarnya menindas. Pandangan dunia ini diberi pembenaran dengan kenyataan-kenyataan kontemporer bahwa manusia pada dasarnya terikat dalam konflik, dan karenanya perlu otoritas yang bisa mendisplinkan (mengendalikan) konflik tersebut. Benar bahwa kenyataan saat ini memberi pembenaran bahwa hubungan antarindividu berlandas konflik, tetapi bukan berarti solusinya adalah keberadaan lembaga yang mengatasi semua individu dan mempunyai otoritas tak terbantah karena keberadaannya merupakan keniscayaan keberadaan manusia. Lagi pula, keadaan ini mungkin tidak akan berlaku lagi jika kesadaran solidaritas kemanusiaan meresapi pola pikir dan pola tindak semua manusia suatu hari nanti. Jadi, bagi yang menghendaki keberadaan lembaga otoritatif, konflik adalah untuk diredam atau bisa dihilangkan melalui keberadaan lembaga otoritatif tersebut, entah yang kuat dan terang-terangan seperti negara otoriter atau sembunyi-sembunyi layaknya otoritas kapitalisme neoliberal dengan semboyan demokrasi dan kebebasan individu semunya itu. Tujuan ini diyakini juga oleh sekelompok orang yang menentang penindasan, seperti kaum Marxis yang percaya keberadaan organisasi partai atau negara sosialis, dengan atau pun tanpa parlemen, untuk menyelesaikan masalah penindasan. Konflik-konflik dilokalisir dan dijadikan konflik antarorganisasi yang murah dan bisa dikendalikan atau dengan kata lain lewat pelembagaan konflik. Ini merupakan tujuan status quo agar tidak terjadi perubahan radikal sehingga kedudukan mereka masih bisa dipertahankan. Ganti-ganti topeng tak apalah, yang penting tetap berkuasa. Kooptasi lebih mudah dilakukan ketika pergerakan sosial terorganisasi dengan otoritas formal yang kuat. Ide ini, di ranah ilmiah disodorkan Dahrendorf, misalnya, yang ternyata fungsionalis juga akhirnya.</p>
<p>Anarkis, sebagai salah satu oponen sosialis radikal anti-otoritarian, juga tidak memandang semua organisasi sebagai sesuatu yang buruk, dan tidak juga berpendapat bahwa baik-buruk organisasi adalah karena ‘orangnya’, tetapi organisasi yang menempatkan orang dalam posisi otoritatif yang dilanggengkan secara formal sehingga bisa mengendalikan orang lain itulah yang ditolak. Dan ini bukan masalah orang atau hati orang, tetapi keberadaan lembaga formal yang memberi kekuasaan transenden bagi seseorang atau sekelompok orang yang bisa mengendalikan orang dari atas merupakan sebentuk otoritarianisme yang berbahaya bagi kebebasan manusia otonom, terutama mereka yang tertindas. Dengan penyuburan organisasi demikian maka potensi perubahan sosial yang radikal akan lenyap atau malih warna dengan topeng yang seolah-olah revolusioner padahal menutupi bopeng otoritas mereka dalam memperbudak manusia lain. Selain itu, dan ini paling penting, adalah lenyapnya kualitas hubungan personal yang bisa teratur dengan individu-individu yang memunyai otonomi diri.</p>
<p>Lalu organisasi seperti apa yang diajukan anarkis untuk pergerakan sosial? Anarkis, sejak lama menolak semua bentuk organisasi yang menempatkan sebagian orang dalam kedudukan yang lebih tinggi dari orang lain lewat pelembagaan hirarki secara formal. Organisasi dalam anarkisme haruslah yang terbentuk secara sukarela dan untuk tujuan-tujuan ad hoc saja serta tidak menerima keberadaan orang tertentu sebagai orang yang punya hak istimewa dalam organisasi hanya karena dia berpengetahuan lebih banyak dan menjadi ‘koordinator’. Diktumnya <em><strong>“from each according to ability, to each according to need!”</strong></em>. Artinya anarkis tidak hendak menciptakan kelas istimewa dalam organisasi; karenanya sepanjang sejarah, organisasi anarkis biasanya dalam bentuk konfederasi atau sindikasi atau kolektif yang pengorganisasiannya tidak ditangan kelas tersendiri yang memunyai kewenangan penuh secara formal. Keberadaan lembaga konfederasi yang menengahi antarfederasi hanya sebagai lembaga yang berfungsi ketika ada kebutuhan di antara federasi untuk menyelesaikan masalah atau melakukan aksi secara bersamaan. Semacam koordinator ad hoc, yang setelah aksi atau penyelesaian, lembaga tersebut tidak lagi punya otoritas untuk memerintah ini-itu lagi. Anarkisme mempercayai kepemimpinan “primus inter pires”; yang utama di antara yang setara.</p>
<p>Dalam lingkup kecil, anarkis membentuk diri dalam komune-komune kepemilikan bersama atas sarana produksi. Komune-komune ini, seperti kolektif-kolektif di Spanyol di masa keemasan anarkisme 1930-an, sebelum diberangus negara fasisnya Jendral Franco, atau kelompok-kelompok Food Not Bomb di Amerika saat ini, bekerja mengolah alat-alat produksi dan sarana alokasi secara bersama dalam hubungan saling bergantung dengan komune lain yang memproduksi dan mengalokasikan kebutuhan berbeda tanpa suatu lembaga formal yang otoritatif mengatasi komponen-komponen tersebut. Eksperimen komuniti komunis Kibbutz di Israel juga masih berlangsung hingga sekarang.</p>
<p>Bagi kita yang terlahir dalam masyarakat otoritarian dan dibimbing dalam keyakinan otoritarian, tentu sulit membayangkan keberadaan komune-komune seperti ini pernah dan ada saat ini dan masyarakat tanpa negara mungkin akan ada juga di masa depan sebagai alternatif sistem ekonomi, politik, dan sosial yang ada saat ini.</p>
<p><strong>Tipe-tipe Anarkisme</strong></p>
<p>Kaum Anarkis tidak bisa secara sederhana dilihat memiliki persepakatan pada semua hal. Secara historis ada perbedaan-perbedaan yang menghantar pada kecenderungan berbeda dalam teori dan praktik Anarkis.</p>
<p><strong>Anarkis-individualisme</strong> mengharapkan sebuah masyarakat masa depan yang membebaskan individu melakukan tugas-tugas mereka dan berbagi sumber daya “berdasarkan suara keadilan”. Secara umum, Individualis adalah hanya sekelompok filsuf ketimbang aktivis revolusioner. Mereka adalah libertarian sipil yang menginginkan perubahan sistem yang membuatnya bekerja secara ‘adil’. Keberadaan mereka lazim di abad lalu, tetapi masih tampak dalam barisan Anarkis ‘kontra-kebudayaan’, filsuf kelas menengah, atau sayap kanan Libertarian. Oleh para anarkis revolusioner (komunis, sindikalis, kolektivis) jenis ini tidak diakui sebagai anarkisme.</p>
<p><strong>Mutualis</strong> adalah Anarkis yang dikaitkan dengan ide-ide filsuf Anarkis Prancis abad ke-19, <strong>Pierre-Joseph Proudhon</strong> (1809-1865), yang mendasarkan ekonomi masa depan pada “&#8230;sebuah pola kepunyaan (possesing) kelompok-kelompok kecil dan individu (bukan kepemilikan-owning) atas alat produksi, dan diikat oleh kontrak-kontrak pertukaran yang saling menguntungkan serta kredit yang akan menjamin masing-masing individual menghasilkan tenaga kerja mereka sendiri.” Jenis Anarkisme ini hadir ketika keberadaan Individualis mengambil ide mereka dalam praktik, dan hanya berharap untuk mereformasi kapitalisme dan membuatnya ‘koperasi’. Ini juga ada dalam gerakan sayap kanan Libertarian yang mengambil idenya dalam memperjuangkan sesedikit mungkin peran negara. Karenanya Marx menyerang Prodhoun sebagai seorang ‘idealis’ dan ‘filsuf utopian’ untuk konsepnya hubungan ‘saling bantu’ (mutual aid).</p>
<p><strong>Kolektivisme</strong> adalah Anarkisme yang didasarkan langsung pada ide-ide <strong>Mikhail Bakunin</strong> (1814-1876), Anarkis Rusia, pejuang paling kondang dalam ‘masyarakat awam’ teori Anarkisme. Bentuk Anarkisme Kolektivisme Bakunin menggantikan tempat kekukuhan Prodhoun pada kepunyaan individual dengan ide kepemilikan kolektif lewat perkumpulan sukarela, dan hak individual untuk menikmati produk atau tenaga kerjanya. Jenis Anarkisme ini melibatkan ancaman langsung pada sistem kelas dan negara kapitalis, dan memandang bahwa masyarakat hanya bisa dibangun ulang ketika kelas pekerja merampas kendali ekonomi lewat sebuah revolusi sosial, menghancurkan perangkat-perangkat negara, dan pengaturan ulang produksi pada dasar kepemilikan bersama dan kendali oleh perkumpulan kaum pekerja. Bentuk Anarkisme ini secara ideologis menjadi dasar dari Anarko-sindikalisme, atau dasar pemikiran serikat buruh revolusioner. Anarkis-kolektivis menghendaki sebuah masyarakat tanpa kelas yang dicipta lewat pengaturan kembali produksi, alokasi, dan konsumsi yang memberi prioritas pada solidaritas sosial, pengaturan diri kolektif, dan keragaman produksi.</p>
<p><strong>Anarko-sindikalisme</strong> adalah Anarkis yang aktif dalam pergerakan buruh dan kelas pekerja. Anarko-sindikalis adalah sebentuk teori Anarkis untuk kesadaran kelas pekerja dan tani, untuk militansi dan aktivisme dalam pergerakan buruh, untuk sosialis libertarian yang menginginkan kesetaraan sekaligus kebebasan. Pemikiran ini didasarkan lebih berat pada ide-ide Bakunin, meskipun teknik-teknik pengorganisasiannya dicangkok dari pergerakan serikat buruh Perancis dan Spanyol (yang disebut “Sindikat”). Jenis Anarkisme ini yang memengaruhi IWW (Industrial Workers of the World) di Amerika Utara dan yang mengaktualisasikan pandangan bahwa negara kapitalis harus dirobohkan oleh sebentuk ‘peperangan’ ekonomi yang revolusioner yang disebut ‘Pemogokan Umum’, dan bahwa ekonomi harus ditata ulang dan didasarkan pada serikat industrial, yang akan berada di bawah nasihat (counsel) kelas pekerja. Semua masalah politik ditangani oleh Kongres Serikat Industrial, sementara masalah tempat kerja akan ditangani oleh komite pabrik, yang dipilih oleh pekerja sendiri dan di bawah kendali langsung mereka. Jenis Anarkisme ini telah menjadi pengorganisasian Anarkis potensial yang besar dalam pergerakan kelas pekerja di Amerika Utara, mereka membangkitkan isu-isu seperti pemendekan kerja/minggu, keberadaan dewan-dewan pabrik, dan perjuangan melawan serangan para bos terhadap kelas pekerja seluruh dunia. Anarkis-sindikalis tidak menghendaki serikat-serikat buruh yang berada di bawah komando satu partai tertentu atau berada dalam koordinasi pemerintah, tetapi dalam bentuk sindikat yang bekerja secara ad hoc untuk menghadapi persoalan perburuhan yang terjadi.</p>
<p><strong>Anarkis-komunisme</strong> adalah Anarkisme revolusioner yang percaya pada pemikiran tentang perjuangan kelas yang bermuara pada sebuah akhir untuk kapitalisme, dan semua bentuk penindasan. Berlawanan dengan Anarko-sindikalisme, Anarkis-komunis tidak hanya membatasi untuk mengorganisasi di tempat kerja. Pemikirannya didasarkan pada teori <strong>Peter Kropotkin</strong> (1842-1921), seorang Anarkis Rusia lainnya. Kropotkin dan pengikutnya tidak hanya mempertimbangkan komune dan dewan-dewan pekerja sebagai pelindung yang tepat dari produksi ekonomi; mereka juga menyerang sistem pengupahan dalam segala bentuknya, dan menghidupkan kembali ide-ide komunisme libertarian. Jenis Anarkisme ini dikenal juga sebagai Sosialisme Libertarian yang juga menentang negara, kediktatoran, dan otoritas partai. Mereka meyakinkan, transformasi masyarakat menjadi sebuah ‘Kibbutz’ raksasa yang di sana kerja ditata secara adil dan semua orang berbagi setara konsumsi buah dari kerja mereka. Penghapusan pranata ekonomi uang juga sebagai pranata pertukaran juga tujuan anakis-komunis.</p>
<p>Sejak 1870-an dasar-dasar Anarkis-Komunisme telah diterima oleh sebagian besar organisasi Anarkis yang mewarnai revolusi. Anarkis ini atau Komunis Libertarian jangan sampai disalahartikan dengan komunisme yang lebih banyak dikenal dari Marxis-Leninis, sebuah komunisme yang didasarkan pada kepemilikan negara atas ekonomi, kendali negara atas produksi dan distribusi, dan juga kediktatoran partai. Bentuk dari masyarakat komunis otoritarian didasarkan pada penindasan dan perbudakan oleh negara, sementara Anarkis-komunis menginginkan kebebasan, komunisme sukarela dalam berbagi sumber daya. Komunisme Libertarian bukan Bolshevisme dan tidak ada kaitannya atau mendukung Lenin, Stalin, Trotsky atau Mao. Jenis ini tidak mengajarkan kendali negara ataupun swasta atas yang penting bagi kehidupan dan menentang semua bentuk kediktatoran. Anarkis-Komunis menginginkan pertumbuhan masyarakat baru yang merdeka untuk membangun sesuatu secara penuh dan luas dengan prinsip tanggung jawab sosial kepada orang lain.</p>
<p>Kritik Kropotkin atas ide komunisme Marx yang menggunakan negara sebagai alat untuk mencapai masyarakat komunis adalah bahwa negara tidak bisa dipakai untuk alat mencapai sesuatu yang menjadi antipati negara: masyarakat bebas. Setiap negara selalu memproduksi kekuasaannya dan tidak akan membiarkan otoritas lepas dari tangannya. Karena itu anarkis menolak menggunakan negara atau serikat buruh, serikat tani, yang berada dalam kendali negara atau partai untuk mencapai komunisme.</p>
<p><strong>Otonomisme</strong> merupakan sebuah kecenderungan baru pergerakan Anarkis. Kecenderungan ini timbul di pertengahan 1980-an di Jerman dan kemudian menyebar ke negri-negri lain di Eropa dan Amerika Utara. Mahasiswa, intelektual, dan pekerja-pekerja yang kecewa menjadikan kecenderungan ini orisinal, tetapi mereka juga Anarkis yang menyebut mereka sendiri sebagai Otonomis untuk menyatakan bahwa mereka tidak dikaitkan dengan sebuah federasi, atau bukan pula suatu ajaran doktriner seperti organisasi anarkis tradisional. Seperti halnya Sosialisme Libertarian, mereka tampaknya menggambarkan ideologi mereka lewat Marxisme dan beberapa ajaran pemikiran Anarkisme, terutama Anarkis-Komunisme, tetapi mereka cenderung untuk lebih tidak terikat dan sangat teliti dalam menjelaskan perbedaan identitas mereka. Perjuangan mereka lebih pada menciptakan individu-individu anarkis yang memunyai kualitas kendali dan pengaturan diri dalam kepemilikan bersama sumber daya komuniti. Kalo di Bandung mungkin kaya kelompoknya Aa Gym tanpa otoritas permanen Aa Gym.</p>
<p>Sebagai sebuah pemikiran politik, Anarkisme berkutat dengan transformasi masyarakat. Anarkisme sering kali ditolak oleh sebagian besar kecenderungan politik dan filsafat. Karenanya tidak pernah menjadi pemikiran politik yang dominatif dalam percaturan transformasi sosial. Didasarkan pada, atau kadang memencar dari, dasar-dasar Anarkisme tradisional, ada beberapa ragam kelompok yang memperluas lingkup Anarkisme kontemporer dan membatasi ulang konsep tradisional dari Anarkisme. Dalam usaha untuk menempatkan Anarkisme dalam pemikiran filsafat kontemporer dengan segala permasalahannya yang berbeda dengan masalah abad-abad lalu, sebagian Anarkis meramukan pemikiran post-strukturalisme ke dalam Anarkisme yang menawarkan pemikiran politik untuk menjelaskan dunia kita. Ada aliran paling baru yang dikenal dengan <strong>Pasca-struktural-Anarkisme</strong>. Anarkisme jenis ini meramu Anarkisme dan pasca-strukturalisme (pemikiran-pemikiran Foucault, Derrida, atau Deleuze). Karena kekuasaan ada di mana-mana, kebutuhan kritik dan refleksi politik juga harus merambah ke mana pun, tidak hanya di tingkat negara atau pranata ekonomi, tetapi juga di tingkatan seksualitas, masalah ras, psikologi, pengajaran, dll. Para pendukung aliran ini memandang adanya perubahan penting selama abad ke-20 ini dan memasuki abad ke-21 yang mengharuskan konsep dan alat-alat analisis untuk wilayah perjuangan Anarkisme berbeda; seperti kenyataan dunia cyber, Internet, dan globalisasi, misalnya. Di dunia internet dan perangkat lunak, mereka memperjuangkan perangkat lunak bebas dan wafatnya hak salin (copy right) di dunia internet [2].</p>
<p>Anarkisme tradisional menganggap sistem-sistem pentotalan sebagai tujuan akhir kapitalisme dan negara. Pasca-struktural-anarkis tidak sekadar melihat pada dua tempat tersebut sebagai sumber penindsan tetapi membuka mata bahwa operasi kekuasaan ada di mana-mana. Jika kapitalisme dan negara dapat secara terpisah dicungkil lalu menghilangkan keduanya akan dengan sendirinya penindasan lenyap, sepertinya ini merupakan pandangan utopis yang tidak realistis. Kita juga harus melawan rasisme, misoginisme, prasangka buruk terhadap kaum gay atau lesbian, dsb. Intinya Anarkisme harus memahami kuasa sebagai yang beroperasi tidak hanya di tingkatan negara dan pranata kapitalisme, tetapi dalam praktik merambah melalui semua hal yang menuntun kehidupan kita.</p>
<p><strong>Anarkis Religius</strong></p>
<p>Berkebalikan dengan kesetiaan Anarkis klasik pada Atheisme (umumnya dalam menanggapi pengaruh destruktif lembaga keagamaan tradisional yang otoritarian), beberapa Anarkis kontemporer menekankan spiritualitas, baik lewat ragam paganisme-baru maupun teologi pembebasan dalam agama-agama besar tradisional. Hal ini mencerminkan bahwa pemaksimalan potensi manusia mengharuskan penimbangan aspek spiritual dan transenden kepribadian manusia dan kebudayaan seperti halnya aspek rasionalnya. Dalam kehidupan moral, Anarkis-anarkis seperti ini bersandar pada tanggung jawab pribadi, disiplin diri, dan memerhatikan orang-orang lain daripada kepada keputusan-keputusan otoritas legal dan moral. Anarkis-religius umumnya menekankan kesalingterikatan semua bentuk kehidupan, dan mereka percaya, secara bersama-sama dengan orientasi ekologis segolongan Anarkis yang dikenal dengan Anarkis berpusat-alam (<em>green Anarchist</em>), bahwa kita merupakan bagian tak terpisahkan dengan lingkungan alam kita. Tetapi masih tertinggal unsur ateistik yang substansial di antara Anarkis yang percaya bahwa ide ‘kesucian’ dan kepercayaan pada ‘keteraturan tertinggi’ menguatkan konsep hirarki tradisional dan ini bertentangan dengan penerimaan kebebasan penuh manusia. Jadilah keberagamaan mereka seperti Kierkegaard, Jasper, atau eksistensialis religius yang mempribadikan Tuhan sebagai sesuatu yang internal seperti halnya Pietisme dalam sejarah Protestan yang dijalankan Immanuel Kant. Tokoh anarkis religius yang terkenal adalah <strong>Leo Tolstoy</strong>.</p>
<p><em><strong>Anarko-primitivisme</strong></em> adalah tipe anarkisme yang melampaui kritik atas Negara ke kritik atas peradaban. Tipe ini, dengan dukungan data antropologi dan arkeologi mengenai asalmula Negara, meyakini bahwa masyarakat negara bukan kelanjutan evolutif organisasi politik manusia. Negara hanya salah satu bentuk organisasi politik yang kemunculannya kemudian membawa beragam permasalahan kemanusiaan hingga hari ini: hirarki menindas, otoritarian, kerusakan lingkungan dan kemanusiaan, dll. Nagara adalah produk peradaban yang dalam catatan arkeologis dimulai sekitar 10.000 tahun lalu. Jadi, tipe ini meyakini ‘kodrat’ kemanusiaan kita adalah ‘primitif, yang di situ egalitarian tiada hirarki, kerja sama saling bantu, menjadi dasar kegaulan sejati (<em>true sociability</em>) umat manusia’. Karenanya, aktivis anarko-primitivisme berusaha menghidupkan kembali ‘keprimitifan’ dalam kehidupan komuniti yang mereka bangun: berusaha memenuhi kebutuhan sendiri dengan kebun komuniti, sekolah gratis, menyelenggarakan barter, dll. Seperti halnya Ecofeminism yang melampaui kritik feminisme terhadap patriarkhi ke kritik atas peradaban, mereka juga banyak mengorganisasi diri di advokasi lingkungan seperti gerakan Mother Earth.</p>
<p><strong>Anarkisme dan Aktivisme Sosial</strong></p>
<p>Dari uraian di atas tampak bahwa sebagian besar jenis Anarkisme lahir dan melahirkan aktivisme sosial; pergerakan sosial untuk perubahan yang lebih baik. Berlainan dengan Marxisme yang kemudian menjelma juga dalam ranah keilmuan sosial menjadi teori sosial dan metodologi penelitian ilmiah yang tersohor, Anarkisme tidak banyak menampakkan diri dalam ranah keilmuan. Tetapi serupa dengan Marxisme dan gerakan sosialisme lainnya, Anarkisme merambah bidang yang oleh Marx didengungkan sebagai ‘praksis’ atau gerakan sosial langsung untuk merubah keadaan yang dirasa menindas sebagian orang. Ranah perjuangan Anarkis sebenarnya secara tradisional serupa dengan perkembangan sosialisme pada umumnya, seperti persoalan penindasan buruh oleh majikan, perlawanan kaum tani, penindasan perempuan, penindasan berdasarkan ras, kesukubangsaan, perlawanan terhadap dominasi Kapitalisme dalam kehidupan ekonomi, hingga gerakan anti-globalisasi a la neoliberalisme akhir-akhir ini.</p>
<p><strong>Anarkisme dan Pergerakan Perempuan</strong></p>
<p>Salah seorang perempuan Anarkis-Komunis yang terkenal adalah Emma Goldman, seorang imigran Amerika asal Rusia. Goldman banyak memberikan pengajaran-pengarajan tentang Anarkisme di beberapa organisasi Anarkis Amerika. Goldman melihat bahwa pembebasan perempuan sebagai usaha tak-terpisahkan dari penciptaan strategi yang sedemikian rupa sehingga keindividuan dan komuniti dapat dikaitkan ulang. Dia menyerap ide-ide pengembangan diri dan anarkis-komunisme kolektivis dari Alexander Berkman. Baginya persoalan paling dasar adalah bagaimana untuk menjadi diri sendiri dan satu keutuhan dengan yang lain, merasakan secara mendalam bersama semua umat manusia dengan tetap mempertahankan kualitas ciri khasnya sendiri [3]. Ini merupakan kunci untuk pembebasan perempuan, tetapi juga sekaligus bagi laki-laki. Inilah proyek politik umum Goldman.</p>
<p>Beberapa perempuan Anarkis berpandangan bahwa emansipasi perempuan merupakan bagian tak-terpisahkan dari penolakan anarkisme terhadap semua bentuk otoritas dan hirarki. Meskipun Goldman, misalnya, kritis terhadap pergerakan feminis pada masanya, dia tidak menulis dan berbicara secara khusus tentang perempuan. Sebagian Anarkis menolak semua perubahan segera sebagai ‘menyembuhkan’; Goldman tidak berpikir bahwa semua reformasi akan membebaskan, tetapi dia kritis terhadap penekanan pergerakan perempuan untuk hak pilih. Menurut Anarkis, demokrasi parlementer hanya memberi pekerja ilusi keikutsertaan dalam politik. Daripada demokrasi representatif, Emma Goldman memperjuangkan aksi kolektif langsung seperti pemogokan umum dalam politik dan masyarakat seperti halnya dalam kerja.</p>
<p><em><strong>Anarcha-feminisme</strong></em> adalah Anarkisme yang berusaha memadukan ideal-ideal pemikiran Anarkisme dan feminisme. Aliran ini berfokus pada pembebasan perempuan dan peran patriarkhi di dalam penindasannya, yang selama ini kurang diperhatikan Anarkis tradisional, tetapi tidak memisahkannya dengan bentuk-bentuk lain penindasan, terutama keberadaan negara dan monopoli kapitalisme. Tidak semua Anarkis perempuan memandang diri mereka sebagai Anarko-feminis, tidak juga seorang Anarko-feminis adalah perempuan. Pembedaan dasarnya adalah pada persoalan bagaimana suatu pemikiran dan gerakan yang ‘berpusat perempuan’ sebagai suatu nilai yang ditekankan dalam melihat hubungan dominasi. Anarko-feminis secara umum menolak solusi negara untuk persoalan perempuan, seperti penyensoran pornografi untuk mengurangi kekerasan terhadap perempuan, pengadaan kementrian masalah perempuan, atau pemberian hak pilih bagi perempuan dan lebih memilih pada pemberdayaan-diri (<em>self-empowerment</em>) dan aksi langsung. Pengorganisasian Anarko-feminis dapat dicirikan oleh penekanannya pada desentralisasi, pembuatan keputusan secara partisipatoris, dan aksi pada tingkatan akar rumput. Beberapa Anarkis kontemporer berkonsentrasi pada penerapan ideal-ideal kebebasan kehendak dan penentuan diri untuk kehidupan pribadi mereka. Dalam kecenderungan ini adalah penekanan pada penerimaan beragam pilihan dalam kehidupan seksualitas, keluarga, dan hubungan-hubungan antarpribadi.</p>
<p>Ketertarikan feminis pada Anarkisme timbul karena dasar-dasar tradisional teori politik Anarkis. Yang paling penting adalah bahwa ketimbang memfokuskan pada satu struktur otoritarian tertentu (seperti kapitalisme), Anarkisme mengidentifikasi struktur-struktur otoritarian pada umumnya sebagai alat kunci penindasan. Anarkis menolak untuk mengadopsi alat-alat otoritarian untuk meraih akhir yang tidak-otoritarian dan menganggap bahwa perubahan revolusioner merupakan proses yang terus-menerus.</p>
<p>Konsep <em>‘personal is political, and political is personal’</em> yang saat ini banyak dikumandangkan aktivis feminis berasal dari diktum Anarkis-Komunis, utamanya yang berada dalam pengaruh ajaran Peter Kropotkin. Dalam salah satu pamfletnya Kropotkin menulis bahwa seseorang tidak bisa menceraikan kehidupan politik dengan kehidupan pribadinya, begitu pula sebaliknya.</p>
<p><strong>Anarkisme dan Perjuangan dengan <em>&#8216;Kekerasan&#8217;</em></strong></p>
<p>Harus diakui bahwa sebagian kelompok anarkis menggunakan media teror dan perilaku kekerasan dalam perjuangannya menentang keberadaan pemerintah atau penguasa ekonomi kapitalis lewat penghancuran simbol-simbol keduanya seperti pengeboman bank, kantor aparat negara dan polisi, kantor perusahaan kapitalis, atau daerah-daerah pertokoan. Akarnya sudah ada sejak lama. Di abad ke-19 sebagian tokoh anarkis, misalnya Emile Henry (1872-1894), anarkis teroris Prancis, menganjurkan jalan kekerasan dalam upaya perjuangannya. Teror-teror dijalankan untuk melawan penindasan, baik yang dijalankan dengan kekerasan maupun dengan kekerasan simbolis, dengan menghancurkan keyakinan pada baiknya keberadaan lembaga-lembaga otoriter lewat simbol-simbolnya. Saat ini sebagian lagi membentuk milisi-milisi bersenjata untuk pemberontakan bersenjata seperti yang dilakukan Zapatista di Meksiko yang tetap bertahan hingga sekarang. Sub-Comandante Marcos dikenal sebagai tokoh milisi pergerakan Zapatista yang secara organisasi sangat mirip dengan milisi anarkis bersenjatanya <em>kamerad</em> <strong>Buenaventura Durruti</strong> (1896-1936) di Spanyol atau milisi anarkis di masa penindasan fasis Jendral Franco di Spanyol 1940-an awal.</p>
<p>Dalam demonstrasi besar-besaran menentang WTO di Seattle, beberapa waktu lalu, sebagian kelompok anarkis melakukan pelemparan terhadap gedung-gedung pemerintah dan gedung milik perusahaan besar. Mereka memunyai buku panduan yang dikenal “Anarchist Cookbook” yang berisi teknik-teknik boikot dan membuat bom-bom sederhana.</p>
<p><strong>Anarkisme, (Neo) Liberalisme, dan Perlawanan Terhadap Kapitalisme</strong></p>
<p>Ada sebentuk kecurigaan terhadap Anarkisme karena dalam pergerakannya mengutamakan pembebasan dari belenggu negara dan pemerintah. Di satu sisi ada kemiripan dengan ajaran Neo-liberalisme yang menghendaki berkurangnya peran negara dalam memajukan persaingan pasar murni. Tetapi, ada perbedaan mendasar antara keduanya. Sebagai teori politik varian dari sosialisme, Anarkisme memerangi kepemilikan individu dan memperjuangkan kepemilikan bersama atas alat-alat produksi ekonomi dalam tatanan sosialisme. Tetapi berbeda dengan sosialisme otoritarian seperti Marxis-Leninisme atau sosial demokrat, anarkis tidak percaya bahwa masyarakat sosialis yang menghargai keberadaan individu akan terbentuk melalui pemerintahan sebagian orang yang memiliki hak istimewa terhadap sebagian lainnya. Kaum Anarkis mengakui ajaran bahwa “Kebebasan tanpa sosialisme adalah eksploitasi; Sosialisme tanpa kebebasan adalah tirani” (Mikhail Bakunin) [4]. Monopoli ekonomi, entah dalam bentuk penguasaan negara atas semua sarana produksi ekonomi maupun penguasaan pemilik modal atas ekonomi, sama-sama diperangi Anarkis karena melakukan penindasan.</p>
<p>Perbedaan dasar Neo-liberalisme dengan Anarkisme adalah bahwa sejak awal neoliberalisme melalaikan atau tidak memperhitungkan syarat-syarat ekonomi-sosial bagi disposisi rasional. Padahal struktur-struktur sosial-ekonomi itu mengondisikan produksi dan reproduksi disposisi-disposisi dan struktur-struktur ini. Semua ini atas nama konsepsi rasionalitas yang sempit dan kaku yang disamakan begitu saja dengan rasionalitas individu [5].</p>
<p>Peran kelompok-kelompok Anarkis dalam perang melawan perdagangan bebas dan globalisasi a la neoliberalisme yang direpresentasikan WTO memang saling tumpang tindih dan sulit dipisah dengan gerakan sosial lain yang menentang, termasuk enviromentalis, pasifis, Marxis baru, intelektual dan agamawan radikal, pemberontakan anakmuda, nativisme, dll. Tetapi anarkis memunyai perhatian terhadap kecenderungan monopoli kapitalisme gaya neoliberal yang menindas, seperti misalnya kelompok Black Bloc dalam demonstrasi besar-besaran di sidang WTO di Seattle atau di Cancun, Mexico.</p>
<p><strong>Ekonomi Parsitipatoris: Teori Ekonomi Anarkis</strong></p>
<p>Dengan runtuhnya apa yang disebut ‘ekonomi sosialis’ di Eropa Timur dan bekas Uni Soviet, dan mulai masuknya negara-negara ‘sosialis’ seperti China atau Vietnam ke dalam ekonomi pasar, para pegiat kapitalisme seperti menemukan pembenaran empiris untuk melangsungkan kerangka ekonomi kapitalisme di semua penjuru dunia [6]. Mereka keliru. Selama bertahun-tahun kaum Anarkis telah mengkritik kekurangan-kekurangan dan menolak, baik sistem kapitalisme korporasi maupun sosialisme komando. Bagi kaum Anarkis, kapitalisme telah melembagakan ketaksetaraan, meningkatkan kemiskinan, memperparah perang upah, dan merendahkan martabat manusia hanya sekadar sumber daya atau modal!; dan ekonomi sosialis yang didasarkan pada hirarki birokratis dan perencanaan pusat yang otoriter juga tidak lebih baik.</p>
<p>Anarkis mengusahakan sebuah masyarakat tanpa kelas yang dicipta lewat pengaturan kembali produksi, konsumsi, dan alokasi yang memberi prioritas pada solidaritas sosial, pengaturan diri kolektif, dan keragaman produksi. Mereka meyakinkan, transformasi masyarakat menjadi sebuah kibbutz raksasa yang di sana kerja ditata secara adil dan semua berbagi secara setara dalam konsumsi hasil kerja. Uang tidak akan digunakan lagi sebagai media pertukaran dan tidak ada perbedaan kelas, tidak ada pewarisan kekayaan atau hak milik pribadi.</p>
<p>Anarkis berusaha mengorganisasi kerja kembali yang akan mengikis hirarki di dalamnya. Contoh-contoh organisasi kerja demokratis, dikenal juga sebagai koperasi, telah ada dalam ekonomi kapitalis dan juga dalam ekonomi komando sosialis. Koperasi-koperasi akan menjadi unit pendukung sebuah ekonomi partisipatoris dengan keragaman organisasi kerja, yang tiap-tiapnya ditata secara demokratis juga dalam memilih dewan tempat kerja. Untuk memaksimalkan keikutsertaan pengambilan keputusan, setiap organisasi beranggotakan tidak lebih dari seratus orang.</p>
<p>Ekonomi partisipatoris juga akan menjalankan penggiliran pekerjaan, dan kompleks-kompleks pekerjaan atau pencampuran kerja diseimbangkan untuk memenuhi kesenangan orang-orang yang bekerja dan pemberdayaan mereka. Hal ini untuk menghindarkan pengasingan individu pekerja dengan pekerjaannya dan pemilikan pengetahuan dan keterampilan kerja yang luas. Sebagai misal, dalam sebuah perusahaan penerbitan buku setiap pekerja akan memunyai sebagian tanggung jawab editorial, sebagian produksi, dan sebagian tanggung jawab bisnis lainnya. Orang yang sama bisa bekerja paruh waktu di dua organisasi, yang lebih kurang menyenangkan.</p>
<p>Konsumsi dalam ekonomi partisipatoris akan didasarkan pada norma-norma kesetaraan pembagian dan hak individual atas privasi dalam konsumsi mereka sejauh mereka tidak mengambil secara tak adil bagian besar. Akan ada sistem-sistem dewan-dewan konsumen dimulai dengan dewan ketetanggaan, meluas ke wilayah yang lebih luas hingga federasi nasional. Beberapa jenis produk seperti rumah sakit, taman, sistem transportasi, dll., akan dikonsumsi secara kolektif. Dewan-dewan konsumen dan federasi-federasinya akan mendiskusikan kebutuhan-kebutuhan kolektif mereka terlebih dahulu untuk pembagian produksi sosial, dimulai di tingkatan nasional dan turun ke tingkatan di bawahnya. Setelah kebutuhan-kebutuhan kolektif tertangani, dewan-dewan menangani pengeluaran untuk konsumsi rata-rata individu dan keluarga.</p>
<p>Penyeimbangan apa yang diproduksi dan disalurkan dalam sebuah ekonomi partisipatoris dengan apa yang dikonsumsi atau dibutuhkan dilakukan lewat sebuah kompleks alokasi dan sistem perencanaan terdesentralisasi didasarkan pada penyebarluasan komputer dan umpan balik informasi antara tempatkerja dan konsumen, dan unit-unit terkecil dan terbesar tingkatan georgrafis tempat mereka berada. Jalan lain penggunaan uang dan harga adalah sebuah sistem informasi yang dijaga jaringan komputer. Antarfederasi pekerja, antara federasi pekerja dengan federasi konsumen, dan individu-individu saling tukar informasi mengenai pasokan dan permintaan, harga ‘infikatif’, dll.</p>
<p>Orang yang menginginkan pembagian konsumsi lebih harus bekerja sedemikian rupa sehingga lebih dari yang bisa dikerjakan orang lain. Prinsipnya adalah memperoleh bergantung pada kemampuan, dan dibagi berdasarkan kebutuhan. Karenanya, selain penyebarluasan teknologi informasi ke semua komune/kolektif pekerja dan jaringan konsumen perlu dilakukan, juga otonomi diri guna mengikis kerakusan.</p>
<p>Diktum “from each according to ability, to each according to need” yang juga dianut para sosialis demokrat agak berbeda dipahami oleh anarkis. Dalam pemikiran sosialis demokrat, diktum pertama diartikan bahwa setiap orang menyumbang ke negara sesuai dengan kemampuannya seperti penerapan pajak progresif di negara-negara sosial demokrat, misalnya (contohnya di Inggris di bawah Partai Buruh dan negara-negara Skandinavia). Semakin kaya seseorang, maka pajak yang diwajibkan atasnya ke negara semakin besar prosentasenya. Diktum kedua diartikan sebagai peran negara dalam menyediakan kebutuhan dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan tunjangan pangan-papan bagi semua warga negara lewat subsidi.</p>
<p>Anarkis menolak keberadaan negara sebagai institusi yang menangani redistribusi dalam upaya <em>“from each according to ability, to each according to need”</em>. Bagi anarkis peran negara harus digantikan kolektif –kolektif seperti yang digambarkan di atas.</p>
<p><strong>Kritik atas Anarkisme</strong></p>
<p>Sejarah menampakkan kenyataan bahwa hingga saat ini Anarkisme, baik sebagai filsafat sosial maupun sebagai teori dan praktik politik tidak pernah menyebar secara luas seperti halnya Marxisme atau Sosialis demokrat. Ada banyak tafsir atas kenyataan ini. Bisa jadi memang ajaran-ajaran dan teorinya tidak masuk akal dan terlalu mengawang-awang. Atau mungkin karena taktik pemasarannya yang kurang bagus.</p>
<p>Ada beberapa ajaran dan teori Anarkis yang mungkin menyumbang keadaan Anarkisme saat ini. Pertama, ajaran bahwa manusia pada dasarnya baik dan bisa menggalang solidaritas kemanusiaan untuk kesejahteraan manusia tanpa penindasan oleh sebagiannya. Ini tentu saja membuat ekonom terbahak. Sebagian besar orang percaya bahwa inti terdalam manusia adalah <em>homo economicus</em> yang rakus dan selalu mementingkan diri sendiri. Machiavelli juga bisa terkencing-kencing mendengar teori anarkis tentang organisasi.</p>
<p>Ajaran lainnya adalah bahwa setiap manusia lahir bebas setara. Ini juga yang bisa membuat para sosiolog sakit perut. Kenyataan telah menunjukkan bahwa manusia lahir tidak dalam dan dari ruang kosong seperti mitos kelahiran para dewa, tetapi dalam suatu struktur dan organisasi sosial yang sedemikian rupa sehingga menempatkan manusia yang lahir tersebut pada kedudukan di salah satu tangga hirarki dalam masyarakat. Penyetaraan bukan kodrat manusia. Manusia selalu butuh pembedaan dan tingkatan-tingkatan. Bahkan di awal evolusi homo sapiens. Kerangka pikir ini sepertinya menjadi inti terdalam kerangka menusia memandang realita. Lihat saja epistemologi, dari Aristoteles hingga Bourdeau: kodrat kesadaran manusia adalah pembedaan dan penggolongan.</p>
<p>Dari kedua ajaran inilah teori organisasi tanpa otoritas lahir; teori organisasi anarkis yang menghendaki organisasi partisipatoris sukarela tanpa pelanggengan otoritas secara formal yang ditentukan ‘dari luar’. Bagaimana mungkin organisasi demikian bisa terbentuk sedangkan setiap orang punya kecenderungan untuk menguasai orang lain, baik dengan cara yang kasar maupun lewat penguasan halus. Selain itu, para penentang teori anarkis ini, menyatakan bahwa tidak semua manusia memiliki kemampuan sedemikian rupa sehingga bisa membentuk sebuah organisasi secara sukarela dan partisipatoris langsung. Perlu adanya sebagian kecil ‘pemikir’ yang dijuluki intelektual yang memiliki pengetahuan lebih dari sebagian besar orang untuk mengorganisasi orang lain mencapai tujuannya.</p>
<p>Sistem ekonomi atau organisasi partisipatoris yang diajukan anarkis tampaknya terlalu menyederhanakan kenyataan dan persoalan yang ada. Nyatanya kehidupan sosial begitu rumit, struktur-struktur sosial yang menata kehidupan orang pun saling tumpang tindih dalam kehidupan sehari-hari dengan kecenderungan individual dengan segala kepentingannya. Bagaimana demokrasi partisipatoris dilakukan sebenar-benarnya dalam masyarakat dengan jumlah penduduk jutaan? Bagaimana juga menjamin keberadaan kolektif produksi dan konsumsi tidak menciptakan ‘pemegang’ otoritas atau tirani baru? Bagaimana dengan kian kompleksnya kebutuhan (dan pembutuhan) akan barang dan jasa konsumsi serta pola hidup masyarakat bisa membangun masyarakat yang otonomi?<em></em></p>
<p><em><strong>Sindikat Belajar Filsafat, Toko Buku &amp; Perpustakaan Taman Bunga Jatinangor</strong></em></p>
<p><strong>Bacaan:</strong></p>
<ul>
<li> Bourdieu, Pierre. 2003. Kritik Terhadap Neoliberalisme: Utopia Eksploitasi tanpa Batas Menjadi Kenyataan; dalam Majalah Basis No. 11-12, Tahun ke-52, Nopember-Desember, 24-30.</li>
<li> Ehrlich, Howard J. 1995. Toward a General Theory of Anarchafeminism.</li>
<li> Ervin, Lorenzo K. 2000. Anarchism and the Black Revcolution. Kalamzoo: Illegalvoices.</li>
<li> Guerin, Daniel. 1998. No Gods No Masters; an anthology of Anarchism (book one). London: AK Press.</li>
<li> &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;. 1998. No Gods No Masters: an anthology of Anarchism (book two). London: AK Press.</li>
<li> Guest, Krysti. tt. Feminism and Anarchism: toward a Politics Engagement. www.cat.or.au</li>
<li> Highleyman, Liz A.  1995.  An Introduction to Anarchism. Boston: Black Rose Collectives.</li>
<li> Itoh, Makoto. 1995.  Political Economy for Socialism. New York: St. Martin Press.</li>
<li> Meltzer, Albert. 1996. Anarchism: Arguments for and Against. London: Mid-Atlantic dan AK Press.</li>
<li> McElroy, Wendy. 2000. The Schism Between Individualist and Comunnist Anarchism; dalam Journal of Libertarian Studies, vol. 15, no. 1.</li>
<li> Moglen, Eben. 1999. Anarchism Triumphant: free software and the death of copyright. Peer-reviewed, Journal on the Internet.</li>
<li> O’Brien, James. 2003. Which Way To The Revolution: Anarchism or Leninism; dalam Jurnal Workers Solidarity Movement edisi Juli.</li>
<li> Rocker, Rudolf. 1989. Anarcho-Syndicalism. London: Pluto Press.</li>
<li> Rowbotham, Sheila. 1992. Women in Movement: feminism and social action. New York, London: Routledge.</li>
<li> Truscello, Michael. 2003. The Architecture of Information: Open source software and tactical Postructuralist Anarchism. novel_t@roger.com.</li>
<li> Wenzer, Kenneth C. 1995. Godwin’s Place in the Anarchist Tradition: A Bicentennial Tribute; dalam  Social Anarchism No. 20.</li>
</ul>
<p><strong>Catatan:</strong></p>
<ol>
<li>Bagian ini disari dari bab 1 buku Anarco-syndicalism karya Rocker (1989) dan tulisan Wenzer (1995)</li>
<li>Lihat misalnya artikel Moglen (1999) dan Trucello (2003)</li>
<li>Rowbotham (1992: 152)</li>
<li>dikutip Ervin (2000)</li>
<li>Bourdieu (2003)</li>
<li>Itoh (1995:83 dst)</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2007/05/17/anarkisme-sosial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anarkisme : Paham Yang Tak Pernah Padam</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2006/08/30/anarkisme-paham-yang-tak-pernah-padam/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2006/08/30/anarkisme-paham-yang-tak-pernah-padam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Aug 2006 14:54:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anarkisme]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/v2/2006/08/30/anarkisme-paham-yang-tak-pernah-padam/</guid>
		<description><![CDATA[Meskipun pada umumnya orang hanya secara intuitif, tanpa tidak pernah mencoba menggali lebih seksama tentang apa yang disebut sebgai pandangan Anarkis tersebut, Namun istilah anarki sendiri sudah terlanjur menimbulkan kemarahan dan terlanjur secara luas disimpulkan bahwa anarkisme adalah sebagai suatu paham yang menakutkan karena jahat.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Alm. Mansour Fakih</strong></p>
<p>Selama ini, mendengar kata Anarkisme disebut, banyak orang segera merasa gelisah dan cemas, terbayang suatu kelompok manusia bringas yang siap menebarkan keonaran, kekacauan, kehancuran dan malapetaka. Meskipun pada umumnya orang hanya secara intuitif, tanpa tidak pernah mencoba menggali lebih seksama tentang apa yang disebut sebgai pandangan Anarkis tersebut, Namun istilah anarki sendiri sudah terlanjur menimbulkan kemarahan dan terlanjur secara luas disimpulkan bahwa anarkisme adalah sebagai suatu paham yang menakutkan karena jahat. Orangpun tanpa berpikir panjang percaya bahwa Anarkisme adalah negatif dan berbahaya, titik. Pendek kata, dalam memandang anarkisme, tidak hanya apparatus negara, bahkan masyarakat akademia, bersepakat bahwa Anarkisme adalah musuh umat manusia. Dengan demikian keyakinan yang mendominasi pemikiran masyarakat luas adalah bahwa “anarkisme” tidak lebih dari penyakit sosial yang bertentangan dengan segala norma sosial yang baik dan pantaslah jika anarkisme dianggap musuh masyarakat. leh karena itu dianggap wajar juga untuk menganjurkan untuk memberantas Anarkisme sampai keakar-akarnya. Anjuran untuk senantiasa waspada terhadap segala bentuk anarki saat ini telah menjadi hampir kesepakatan sosial. Pendek kata, Anarkisme perlu di amputasi atau dilenyapkan, untuk selamanya.</p>
<p><span id="more-120"></span>Lantas mengapa Anarkisme menjadi paham yang sangat ditakuti sehingga perlu dibrantas habis? Jangan-jangan letak persoalannya hanya karena kita tidak paham betul apa sebenarnya yang menjadi cita cita Anarkisme. Lebih ironis lagi, jangan-jangan secara diam-diam kita, anda dan saya tanpa menyadari, juga dalam beberapa hal bersimpati bahkan untuk banyak hal berbagi keyakinan dengan anarkisme Atas alasan itu semua, perlunya untuk memperdebatkan, merenungkan dan mempertimbangkan anarkisme sehingga akan melahirkan sikap kritis masyarakat sebagai alternatif dari sikap apriori menerima maupun apriori menolak, ataupun membenci secara membabi buta ataupun sikap secara taklid buta untuk menerima atau menolak tanpa suatu kesadaran mengapa dan untuk apa. Oleh karena itu lahirnya sikap dan kesadaran kritis yang didorong oleh suatu keterbukaan, dialog kritis adalah sesuatu yang yang harus difasilitasi oleh karena tema yang umumnya dianggap tabu untuk dibicarakan, bahkan tidak layak untuk diapresiasi, justru yang seharusnya perlu diapresiasi dan yang pertama tama perlu diacungkan jempol.</p>
<p>Lantas, apa sebenarnya dan mengapa Anarkisme begitu kontroversial? Anarkisme sebagai suatu paham atau pendirian filosofis maupun politik yang percaya bahwa manusia sebagai anggota masyarakat akan membawa pada manfat yang terbaik bagi semua jika tanpa diperintah maupun otoritas, boleh jadi merupakan suatu keniscayaan. Pandangan dan pemikiran anarkis yang demikian itu pada dasarnya menyuarakan suatu keyakinan bahwa manusia pada hakekatnya adalah mahluk yang secara alamiah mampu hidup secara harmoni dan bebas tanpa intervensi kekuasaan juga tidaklah ssuatu keyakinan yang sangat salah. Lalu dari mana datangnya persepsi bahwa anarkisme berarti mendorong pada kehancuran dan keberantakan? Padahal sangat jelas dari pengertian diatas sesungguhnya Anarkisme tidak identik dengan keyakinan pecinta kehancuran. Bahkan tidak ada indikasi bahwa anarkisme serta merta merupakan cita acita yang menjurus kearah kekacauan ataupun kehanacuraan dan keberantakan. Namun yang jelas memang anarkisme merupakan suatu pemikiran yang mendambakan suatu “orde” yang bersifat spontan. Mereka umumnya menolak segala prinsip otoritas politik, pada saat yang sama sangat percaya bahwa keteraturan sosial niscaya terwujud justru jikalau tanpa otoritas politik. Secara sepintas dapat dilihat, bahwa musuh gerakan anarki adalah segala bentuk otoritas, maupun segala bentuk simbol otoritas, dan bentuk otoritas yang bagi kaum anarkis sangat jelas adalah otoritas yang dimiliki oleh negara moderen. Itulah sebabnya bagi kaum anarkis, negara dipandang memonopoli otoritas kekuasaan yang perlu dibatasi, misalnya seperti kekuasaan territorial yang mereka miliki, kekuasaan yuridiksi atas rakyat termasuk kekuasaan menguasai kekayaan sumber daya didalam wilayah yang mereka kuasai. Kekuasaan negara juga muncul dalam bentuk pemanfaatan sistim hukum positive yang eksistensinya serta merta menundukkan dan menyingkirkan semua bentuk hukum yang “dianggap negatif”, seperti hukum adat dan banyak hukum lainnya. Dan akhirnya gagasan bangsa sebagai suatu bentuk puncak dari politisasi masyarakat juga menghancurkan segala bentuk kelompok kelompok masyarakat. Semua otoritas tersebut dipelihara melalui monopoli penguasaan alat alat pertahanan dan keamanan, bahkan negara memonopoli cara untuk menundukkan rakyat. Sebaliknya anarkisme memang mengidamkan suatu visi social tentang “masyarakat alami” yakni suatu masyarakat swakelola yang mandiri dari para invidual yang secara swadaya membentuknya. Anarkisme bahkan menjadi sikap politik bahwa pemerintahan selain tidak perlu juga destruktif. Ini memang sesuai dengan makna harfiah Anarki, yang konon asal katanya memang berakar dari kata Yunani yang artinya kurang lebih “tanpa aturan atau without a rule”, dan memang dalam perkembangannya telah digunakan.</p>
<p>Apa sebenarnya pandangan, visi dan pendirian filosofis kaum anarkis? Anarkisme mengambil berbagai bentuk dan spektrum, yakni dari Anarkisme aliran kiri dan eskrim kiri, maupun anarkisme aliran kanan bahkan sampai anarkisme ekstrem kanan yang berwatak individualistik. Meskipun anarkisme kelihatannya berakar pada paham kebebasan individual yang liberal, namun lokasi konflik pahamnya justru pada pada titik yang terletak antara negara dan masyarakat. Meskipun terdapat berbagai aliran pemikiran kaum narkisme dalam berpendirian terhadap lokasi konflik negara-masyarakat tersebut. Namun pendirian pendirian mereka sesungguhnya secara sederhana dapat dikatagorikan kedalam Anarki individualistik dan anarki sosialistik. Anarki Individualistik berangkat dari cita cita kebabasan individual, serta berpangkal juga dari kedaulatan individual atas pemilikan harta dan kekayaan pribadi, serta pemilikan privat. Dengan demikian arah anarki individualis ini adalah suatu bentuk dari anarki kapitalisme. Sementara anarki kiri yang berwatak sosialistik justru berangkat dari penolakan kekayaan pribadi dan negara yang menurut mereka sebagai sumber penyebab dari ketidakadilan sosial. Golongan anarki ini justru berpendirian perlunya pembatasan kekuasaan dan keperkasaan negara atas individu dalam kelompok kelompok masyarakat. Pendek kata paham ini adalah perkawinan antara paham bercorak liberalistik dan sosialisme. Itulah mereka juga disebut sebagai Sosialisme Libertarian.</p>
<p>Kalau kita telaah perkembangan pemikiran dan gerakannya, Anarkisme sudah lama sekali berkembang dan pemikiran tersebut masing berkembang hingga saat ini dengan nama, gaya dan bentuk yang berbeda-beda. Meskipun sudah lama berkembang, misalnya William Godwin (1756-1836) telah melontarkan gagasan yang diduga menjadi inspirasi paham Kooperasi sosialis model Owen, namun membincangkan paham anarkisme tidak dapat melupakan bagitu saja tokoh pemikir Proudhon yang pada dasarnyaa mengadaaopsi gagaan koperasi sosialis. Dia melihat bahka kekuasaan negara dan kekuasaan Modal adalah sinonim, sehingga mustahil baginya menggunakan negara untuk memperjuangan kaum proletar. Belakangan Bakunin melanjutkan gagasan tersebut, bedanya Bakunin menempuh jalan pengambilalihan secara revolusioner dan kekerasan untuk membangun kolektivisme. Peter Kropotkin salah seorang pengikutnya Bakunin melanjutkan gagasan tersebut secara lebih komunistik, yakni dengan menganjurkan gagasan “segala sesuatu milik setiap orang, dan pembagian didasarkan pada kebutuhan tertentu masing-masing.</p>
<p>Perkembangan praktek anarkisme demikian juga penentangnya dimana mana dan para buruhpun mulai mengadopsinya yang melahirkan suatu sempalan baru yang dikenal dengan “Anarcho-Syndicalism”, atau Revolutionary Syndicalism. Mulai dari pikiran bahwa fungsi serikat buruh yang secara tradisional memperjuangkan kenaikan upah dan perbaikan kondisi kerja dianggap sudah lagi tidak memadai. Serikat buruh harus menjadi organisasi militan untuk menghancurkan Kapitalisme dan negara. Buruh harus ambil alih pabrik-pabrik dan dikuasai. Dengan demikian, serikat buruh juga dituntut mampu untuk menjadi pengelola manajemen pada saat pasca revolusi. Pendek kata bagi mereka serikat buruh pada dasarnya berfungsi sebagai badan perlawanan, namun pada era pasca revolusi serikat buruh harus juga berfungsi dalam administrasi menjemen untuk mengelola industri. Untuk menjaga stamina militansi, suasana lingkungan perlu secara terus menerus dikembangkan untuk itu. Mereka, para anarki sindikalis dimasa lalu sangat percaya bahwa suatu aksi perlawanan yang massif akan mampu melumpuhkan negara dan bahkan sistim kapitalisme.</p>
<p>Bagaimana gerakan anarki saat ini dan masa mendatang? Saat ini sesungguhnya gerakan anarkisme tengah mengalami kemunduran. Kecuali di Spanyol gerakan anaki dihancurkan dimana-mana. Meskipun dua tokoh Anarki besar seperti Bakunin dan Kropotkin berasal dari Rusia, namun gerakan itu disana justru dikerdilkan oleh rezim totaliter disana maupun idenya dikooptasi oleh Partai Sosialia Revolusioner Narodniki.</p>
<p>Sementara ditempat lain dimasa lalu gerakan Anarkisme pernah mengalami kejayaannya. Contohnya, gerakan perlawanan sosio kultural yang dipelopori oleh Mahatma Gandhi dianggap sebagai realitas dari pengaruh Anarkisme di Asia. Gandhi berhasil mengembangkan gerakan resistensi dan pembangkangan social yang bersifat anti-kekerasan di Afrika Selatan dan India. Orang percaya bahwa Gandhi banyak membaca pikiran Anarkis seperti Leo Tolstoy dan Thoreau maupun Kropotkin. Meskipun impian Gndhi tentang suatu masyarakat komunal berbasis desa swadaya belum pernah terwujud, tetapi pemikirannya dilanjutkan orang orang sepahamnya dengan mengembangkan gerakan Sardovaya yang dipimpin oleh Vinoba Bhave Jaya Prakash Narayan yang mengembangkan gerakan pemilikan tanah secara kolektif yang dikenal dengan gramdan, dimana pada tahun 60-an menjadi gerakan yang mendapat sambutan secara luas di India.</p>
<p>Di Barat Anarkisme memang menjadi daya tarik kaum intelek. Anarkisme dianggap menjadi pendorong gerakan Civil rights di Amerika akhir tahun 1950-an, dimana warga kulit hitam Amerika melakukan resistensi terhadap ketidakadilan yang dilegalisir dalam konstitusi dengan menggunakan gerakan moral. Gerakan itulah yang dianggap sebagai picu gerakan social selanjutnya, dimana gerakan sosial makin meluas dan meruncing, tidak hanya terbatas sebagai gerakan civil rights tapi telah berkembang menjadi gerakan umum menentang struktur elitisme dan gerakan kritik terhadap gaya hidup materialisme masyarakat industri baik di negara negara Kapitalis maupun negara Komunis. Gerakan itu terus berlangsung hingga tahun tahun 1960-an dan 1970-an. Anarkisme dengan demikian telah menjadi identik dengan gerakan “counter culture” atau budaya tanding yang sangat popular dikalangan anak muda dan Mahasiswa dan kelompok kiri secara umum di Amerika dan Eropa serta Jepang. Namun watak anarkisme generasi ini memang lebih merupakan pemberontakan budaya ketimbang suatu hal yang berwatak ideologis.</p>
<p>Pendirian akan penolakan kaum anarki terhadap negara, serta desakan untuk desentalisasi dan otonomi lokal, sangat gaung kuat terhadap mereka yang bercita cita menegakkan demokrasai participatory. Jika gerakan sosial ditahun 60-an memendam semangat “buruh menguasai industri” maka kelihatannya pikiran Anarcho-Syndicalisme masih hidup. Tetapi Anarkisme generasi tahun 60-an dan 70-an memprakarsai suatu perlawanan masif dan berskala global melalui aksi langsung dengan membentuk parlemen jalanan mempunyai agenda yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Gerakan anarkisme era tersebut menunjukkan adanya indikasi kuat bahwa mereka menerima warisan pemikiran Bakunin tentang “pan-destructionisme” dimana mereka percaya bahwa sistim masyarakat yang ada saat itu sudah sangat rusak, korup dan munafik sehingga sudah tidak layak lagi untuk diperbaiki dan harus dibersihkan secara total.</p>
<p>Dari perbincangan ini, kita dapat memahami ternyata paham anarkisme tidak sesederhana yang selama ini diprsepsikan oleh banyak orang. Anarkisme juga memiliki anatomi dan bentuk gerakan yang bermacam macam. Menganggap tungal terhadap anarkisme yang sebenarnya beragam tersebut dapat memunculkan suatu kesalahpahaman yang tidak perlu. Karena memang paham anarkisme dalam perkembangannya pernah menjadi pendorong terhadap perubahan sosial menuju suatu masyarakat bebas dari otoritarianisme menuju pada suatu masyarakat egaliter, tanpa dominasi dan demokratis. Bahkan paham Anarkisme telah menjadi inspirasi terhadap lahirnya banyak karya sastra tentang kemanusiaan yang sangat berbudaya. Misalnya saja kritik Ivan Illich terhadap “sekolah” di awal tahun 70-an merupakan salah satu karya seorang anarkis yang memberi isnpirasi bagi berbagai upaya pembaharuan pemikiran dan metodologi pendidikan. Pendek kata sudah lama masyarakat luas menjadi semakin manusiawi dan beradab, justru karena inspirasi dari para pemikir anarkis.</p>
<p>Bagaimana masa depan Anarkisme? Pada saat ini rakyat secara global mnghadapi tantangan besar akibat dari menguatnya paham Neo-Liberalsime. Indikasi menguatnya paham ini telah mendorong tata ekonomi, politik, sosial dan budaya kedalam suatu zaman yang dikenal dengan era Globalisasi. Globalisasi yang merupakan suatu formasi sosial untuk pengintegrasian ekonomi nasional bangsa bangsa kedalam suatu sistim ekonomi Kapitalisme global, juga telah memincu munculnya gerakan anarkisme baru diawal abad ini. Proses Globalisasi yang memaksakan pembentukan sistim, tata relasi dunia baru ini membawa akibat semakin menguatnya institusi modal dan Negara-negara Kapitalis melalui WTO dan Lembaga Keuangan Internasional terdapat indicator telah membangkitkan semngat anarkisme lagi. Berbagai perlawanan rakyat secara global diberbagai tempat menentang WTO dan Bank Dunia menjadi saksi dari kebangkitan gerakan anarkisme lagi yang secara global dikenal yakni The World Bank dan International Monetary Fund (IMF). IMF inilah organisasi yang paling dianggap berkuasa di abad 20.</p>
<p>Justru pada era globalisasi inilah terdapat suatu gejala lahirnya kembali gerakan anarkisme global yang selama ini tidak banyak kedengaran. Globalisasi justru seakan membangunkan kaum anarkis dari tidur, atau paling tidak membangunkan gerakan sosial yang mendapat inspirasi dari kaum anarkis secara global, seperti gerakan anti WTO, gerakan anti Hutang seolah meneruskan gerakan Hijau, gerakan feminisme, gerakan masyarakat Adat ataupun gerakan rakyat kaum miskin kota dan sebagainya. Gerakan rakyat menentang pembangunan Dam dibeberapa tempat di Asia, seperti gerakan anti proyek pembangunan Dam Narmada di India tahun 1980-an, pada dasarnya merupakan suatu bentuk dari “New Social Movement” yang mendapat inspirasi dari pikiran anarkisme. Pada tahun 1992, gerakan untuk menyelamatkan Narmada ini berhasil mendesak Bank Dunia untuk mencabut dukungannya terhadap proyek tersebut. Gerakan yang “mewarisi sikap Kritis dan semangat anarkisme Mahatma Gandhi” ini adalah merupakan gerakan sosial yang menantang watak otoritarian kekuasaan negara dan sikap ekstraktif dari proses ekonomi yang dominan. Gerakan anarkisme yang dalam era itu juga disebut sebgai “New Social Movement” tumbuh dimana mana, dalam skala lokal, nasional, bahkan global.</p>
<p>Saat ini, sekali lagi kita menyaksikan suatu gerakan “koalisi global menentang WTO dan gerakan “Anti Hutang” Jubilee 2000, serta berbagai koalisi global menentang Bank Dunia, yang ditunjukkan dengan turunnya kembali kaum muda di jalan jalan kota-kota besar dunia setiap diselenggarakan pertemuan Globalisasi adalah fenomena resistensi sosial yang mengingatkan bangkitnya kembali gerakan anarkis atau bahkan terjaganya dari tidur panjang watak anarkis dari gerakan sosial. Gelombang sentimen untuk menentang watak dominasi Neo Liberalisme dan rezim Globalisasi yang mendunia saat ini, bukankah fenomena yang merupakan indikasi lahirnya kembali anarkisme. Masih banyak kasus yang saat ini tidak terungkap, bagaimana gerakan masyarakat di tingkat akar rumput melakukan resistensi terhadap Globalisasi yang pada dasarnya memiliki watak sebagai reinkarnasi pemikiran anarkisme. Misalnya saja gerakan para aktivis untuk membela para petani dari invasi budaya modernisasi pertanian revolusi hijau serta gerakan sosial untuk reformasi agraria dan hak hak petani (peasant rights) di Indonesia saat ini, apakah tidak dapat secara luas dianggap sebagai bangkitnya kembali falsafah anarkisme?.</p>
<p><strong>Biografi</strong></p>
<p>Mansour Faqih, almarhum lulusan Fakultas Filsafat dan Teologi, IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Hampir selama duapuluh tahun menekuni perannya sebagai fasilitator program pendidikan kerakyatan di berbagai ornop di Indonesia, kecuali masa jeda empat tahun (1988-1992) untuk menyelesaikan program magister dan doktoralnya di Universitas Massachusets, AS, dalam bidang pendidikan dan perubahan sosial, serta empat tahun berikutnya (1992-1996) sebagai Country Representative OXFAM-GB di Indonesia. Juga pernah menjabat sebagai Chairman of Advisory Board Insist, dan aktif sebagai fasilitator pelatihan, pengarah penelitian di ReaD, dewan redaktur jurnal Wacana, menyunting dan menulis beberapa buku terbitan Insist Press, Pustaka Pelajar, dan konsultan senior di Remdec-Jakarta.(biografi singkat ini dikutip dari Kata Zine # 02, Februari-Maret 2007)]</p>
<p><strong>Referensi</strong></p>
<p>Tulisan diatas telah saya edit dan saya muat dengan maksud agar dipahami bahwasanya ‘destruktif adalah destruktif dan anarkis adalah anarkis janganlah dicampuradukkan destruktif adalah anarkis’, sekian.</p>
<p>Sumber tulisan : <a href="http://dhant.wordpress.com/2006/07/29/anarkisme-paham-yang-tak-pernah-padam/#comment-174" class="external text" title="http://dhant.wordpress.com/2006/07/29/anarkisme-paham-yang-tak-pernah-padam/#comment-174" rel="nofollow">dhant.wordpress.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2006/08/30/anarkisme-paham-yang-tak-pernah-padam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Proudhon</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2006/08/23/tentang-proudhon/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2006/08/23/tentang-proudhon/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Aug 2006 13:11:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anarkisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/v2/2006/08/23/tentang-proudhon/</guid>
		<description><![CDATA[Karyanya yang pertama, What is Property?, tentunya adalah karyanya yang terbaik. Karya itu membuat sejarah, jika bukan karena kebaruan isinya, setidak-tidaknya karena cara baru dan berani yang dipakainya untuk menyatakan hal-hal yang lama. Di dalam karya-karya kaum Sosialis dan Komunis Perancis yang diketahuinya, "milik", sudah tentu, bukan saja telah dikritik dengan berbagai jalan tetapi "ditiadakan" pula dengan cara yang utopis.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Surat kepada J.B. Schweitzer, 24 Januari 1865</strong></p>
<p><strong>Oleh : Karl Marx</strong></p>
<hr />Saudara yang tercinta,Kemarin saya menerima sepucuk surat dan dalam surat itu saudara mengajukan permintaan kepada saya untuk memberikan penilaian yang mendetail tentang Proudhon. Ketiadaan waktu merupakan penghalang bagi saya untuk memenuhi keinginan saudara itu. Tambahan pula, sekarang ini saya tidak memiliki satupun karya-karyanya. Meskipun demikian, untuk menunjukkan maksud baik saya terhadap saudara, maka saya dengan tergesa-gesa menuangkan suatu kerangka yang amat ringkas. Kemudian saudara bisa melengkapinya, menambahnya, menguranginya-pendek kata, perbuatlah apa yang saudara inginkan dengan kerangka itu.Usaha-usaha Proudhon yang pertama sekali saya tidak ingat lagi. Tulisannya ketika dia masih duduk di bangku sekolah, Bahasa Universal, menunjukkan bahwa dia tidak mempunyai keragu-raguan sedikitpun dalam menghadapi persoalan-persoalan yang untuk pemecahannya dia sama sekali tidak mempunyai dasar-dasar pokok pengetahuan.<span id="more-103"></span>Karyanya yang pertama, <em>What is Property?</em>, tentunya adalah karyanya yang terbaik. Karya itu membuat sejarah, jika bukan karena kebaruan isinya, setidak-tidaknya karena cara baru dan berani yang dipakainya untuk menyatakan hal-hal yang lama. Di dalam karya-karya kaum Sosialis dan Komunis Perancis yang diketahuinya, &#8220;milik&#8221;, sudah tentu, bukan saja telah dikritik dengan berbagai jalan tetapi &#8220;ditiadakan&#8221; pula dengan cara yang utopis. Di dalam bukunya itu hubungan Proudhon dengan Saint-Simon dan Fourier adalah hampir sama dengan hubungan Feurbach dengan Hegel. Jika dibandingkan dengan Hegel, Feuerbach amat kerdil. Meskipun demikian sesudah Hegel dia membuat sejarah, karena dia memberikan tekanan pada hal-hal tertentu yang tidak menyenangkan bagi kesadaran Kristen di samping hal-hal itu penting bagi kemajuan kritik, dan yang ditinggalkan Hegel di dalam setengah-kegelapan yang mistik.</p>
<p>Di dalam buku Proudhon itu masih terdapat, jika saya diperbolehkan menggunakan pernyataan, langgam yang berotot kuat. Dan menurut pendapat saya langgamnya itu adalah keunggulannya yang utama. Orang melihat bahwa di tempat dia hanya mengulangi kembali bahan-bahan lama sekalipun, Proudhon menemukan penemuan-penemuan yang berdiri sendiri: bahwa apa yang diucapkannya adalah baru bagi dia sendiri dan maka itu termasuk dalam hal-hal yang baru. Tantangan yang bersifat provokatif, menggunakan &#8220;yang tersuci di antara yang suci&#8221; dari hal-hal ekonomi, paradoks yang amat baik yang menjadikan common sense borjuis suatu tertawaan, kritik yang melajukan, ironi yang getir, dan, di sana-sini, terloncat perasaan amarah yang dalam dan sejati terhadap kekejian yang ada, ke sungguh-sungguhan revolusioner-karena semua itulah maka <em>What is Property?</em> mempunyai pengaruh yang mempesona dan menimbulkan kesan yang besar ketika pertama kali terbit. Dalam sejarah ekonomi politik yang betul-betul ilmiah buku itu untuk disebutkan pun tidak akan pantas. Tetapi karya-karya sensasionil yang semacam itu melakukan peranannya di bidang ilmu sebanyak yang dilakukannya di bidang literatur sopan. Ambillah sebagai misal, buku Malthus <em>On Population</em>. Pada edisinya yang pertama buku itu tidak lebih daripada &#8220;pamflet sensasional&#8221; dan dari awal hingga akhir merupakan plagiarisme. Tetapi, meskipun demikian betapa besarnya rangsang ditimbulkan oleh tulisan yang bersifat fitnahan atas ras manusia itu!</p>
<p>Seandainya di depan saya ada buku Proudhon maka dengan mudah saya dapat memberikan beberapa contoh untuk mengilustrasikan caranya yang pertama itu. Di dalam bagian-bagian yang dia sendiri menganggap bagian-bagian yang amat penting dia meniru perlakuan Kant terhadap antinomi-pada waktu itu Kant adalah satu-satunya ahli filsafat Jerman yang dikenalnya lewat terjemahan-dan meninggalkan kesan yang kuat pada seseorang bahwa baginya, seperti bagi Kant, pemecahan atas antinomi itu adalah sesuatu yang berada &#8220;di luar&#8221; pemahaman manusia, yaitu, sesuatu yang pemahamannya sendiri tentang itu berada di dalam kegelapan.</p>
<p>Tetapi meskipun dia mengadakan serangan pura-pura terhadap surga, di dalam <em>What is Property?</em> sudah dapat ditemukan kontradiksi-kontradiksi bahwa, di satu pihak, Proudhon mengkritik masyarakat dari segi dan dengan mata kaum tani pemilik kecil Perancis (kemudian borjuis-kecil) dan, di fihak lain, menggunakan ukuran yang diwarisinya dari kaum Sosialis.</p>
<p>Kelemahan buku itu ditunjukkan oleh judulnya itu sendiri. Masalah itu diajukan sebegitu salahnya sehingga ia tidak bisa dijawab dengan tepat. &#8220;Hubungan milik&#8221; kuno menemukan kehancurannya pada hubungan milik feodal, dan hubungan milik feodal itu pada hubungan milik &#8220;borjuis&#8221;. Dengan demikian maka sejarah itu sendiri telah melaksanakan kritiknya terhadap hubungan-hubungan milik masa lampau. Dengan Proudhon soalnya sesungguhnya ialah milik borjuis modern sebagaimana adanya sekarang ini. Masalah apa milik borjuis modern itu hanya dapat dijawab dengan mengadakan analisa yang kritis atas &#8220;ekonomi politik&#8221; yang meliputi hubungan-hubungan milik itu dalam keseluruhannya, bukan dalam pernyataan hukumnya sebagai hubungan kemauan tetapi dalam bentuknya yang sesungguhnya, yaitu, sebagai hubungan produksi. Tetapi karena Proudhon mengacaukan seluruh hubungan ekonomi itu di dalam konsepsi yuridis yang umum dari &#8220;milik&#8221;, maka dia tidak bisa melampaui jawaban yang telah diberikan Brissot sebelum tahun 1789 dalam karya yang sama, dan diajukan dengan kata-kata yang sama: &#8220;Milik adalah pencurian.&#8221;</p>
<p>Paling banyak yang dapat ditarik dari situ ialah bahwa konsepsi yuridis borjuis tentang &#8220;pencurian&#8221; sama berlakunya bagi keuntungan-keuntungan &#8220;yang jujur&#8221; dari borjuis itu sendiri. Di pihak lain, karena &#8220;pencurian&#8221; sebagai pelanggaran yang bersifat paksa atas milik bersyarat pada adanya milik, Proudhon melibatkan dirinya dalam segala macam kemauan yang bersifat khayalan, yang baginya pun tidak jelas, tentang milik borjuis yang sesungguhnya.</p>
<p>Selama saya berada di Paris dalam tahun 1844 saya mengadakan kontak pribadi dengan Proudhon. Hal itu saya sebutkan di sini karena hingga batas-batas tertentu saya pun bersalah atas &#8220;tiruan&#8221;-nya, seperti orang Inggris menamakan pemalsuan barang-barang yang diperdagangkan. Selama berlangsung perdebatan yang lama, sering sampai semalam suntuk, saya menularinya dengan Hegelianisme, hal yang menyebabkan dia merasa tersinggung, dan yang, karena dia tidak begitu menguasai bahasa Jerman, tidak bisa dipelajari dengan selayaknya. Setelah saya diusir dari Paris Herr Karl Grün meneruskan apa yang telah saya mulai. Sebagai seorang guru filsafat Jerman, dia mempunyai segi yang menguntungkan jika dibandingkan dengan saya, yaitu bahwa dia sendiri sama sekali tidak mengetahui hal itu.</p>
<p>Tidak lama sebelum terbit karya penting Proudhon yang kedua, <em>The Philosophy of Poverty or System of Economic Contradictions</em>, dan sebagainya, dia sendiri memberitahukan hal itu kepada saya dalam sepucuk surat yang mendetil yang didalamnya dia mengatakan, antara lain: &#8220;Saya menunggu kritik saudara yang keras.&#8221; Hal itu segera tiba padanya (dalam buku saya <em>Poverty of Philosophy</em>, dan seterusnya, Paris 1847), sedemikian rupa sehingga mengakhiri persahabatan kami untuk selama-lamanya.</p>
<p>Dari apa yang telah saya katakan tadi akan dapat saudara lihat bahwa <em>The Philosophy of Poverty or System of Economic Contradictions</em> Proudhon pertama nyatanya mengandung jawaban atas pertanyaan, &#8220;Apa milik itu?&#8221; Nyatanya hanyalah sesudah terbit karyanya itu baru dia memulai studi ekonominya; dia telah menemukan bahwa masalah yang diajukannya tidak dapat dijawab dengan cacian, tetapi hanya dengan analisa atas &#8220;ekonomi-politik&#8221; modern. Bersamaan dengan itu dia mencoba mengajukan sistem kategori-kategori ekonomi secara dialektik. Sebagai ganti &#8220;antinomi&#8221; Kant yang tidak bisa dipecahkan &#8220;Kontradiksi&#8221; Hegel dimasukkan sebagai cara perkembangan.</p>
<p>Untuk mengadakan penilaian terhadap bukunya yang terdiri dari dua jilid yang amat tebal, saya terpaksa menunjuk saudara pada karya yang saya tulis sebagai jawaban. Dalam karya itu saya menunjukkan, antara lain betapa dangkalnya dia menyelami rahasia dialektika ilmiah; bagaimana, di pihak lain, dia mempunyai juga ilusi tentang filsafat spekulatif, karena dia bukannya memikirkan kategori ekonomi sebagai pernyataan teoritis dari hubungan produksi yang mengalami sejarah, yang sesuai dengan tingkat tertentu dari perkembangan produksi material, tetapi sebaliknya dia memalsunya menjadi ide-ide yang ada sebelumnya, yang abadi; dan bagaimana dengan cara yang berbelit-belit itu sekali lagi dia sampai pada pendirian ekonomi borjuis.[1]</p>
<p>Selanjutnya saya menunjukkan juga bagaimana mutlaknya kurangnya dan dalam bagian-bagian bahkan betapa keanak-sekolahan pengetahuannya tentang &#8220;ekonomi politik&#8221; yang dikritiknya, dan bagaimana dia dan kaum utopis bukannya menjadikan ilmu bersumber dari pengetahuan kritis terhadap gerakan sejarah, gerakan yang menghasilkan sendiri syarat-syarat material pembebasan, tapi mencari-cari sesuatu yang dinamakan &#8220;ilmu&#8221; yang dengannya suatu rumus untuk &#8220;pemecahan masalah sosial&#8221; a priori dipikirkan. Tetapi secara khusus harus disebutkan tentang bagaimana tetap kacaunya, salah dan setengah matanya ide-ide Proudhon mengenai basis seluruh soal itu, nilai tukar, dan bagaimana dia bahkan memahami secara salah interpretasi yang utopis dari teori nilai Ricardo sebagai dasar ilmu baru. Mengenai pendiriannya pada umumnya, saya mengadakan penilaian yang menyeluruh sebagai berikut ini:</p>
<p>&#8220;Setiap hubungan ekonomi mempunyai segi baik dan segi jeleknya: itulah satu-satunya soal tentang mana M. Proudhon tidak menipu dirinya sendiri. Dia melihat segi baik yang ditekankan oleh ahli-ahli ekonomi; dia melihat segi jelek yang dikutuk kaum Sosialis. Dari ahli-ahli ekonomi dia meminjam kebutuhan akan hubungan-hubungan abadi; dari kaum Sosialis dia meminjam ilusi bahwa dalam kemiskinan tidak ada sesuatu pun yang dapat dilihat kecuali kemiskinan (dia bukannya melihat dalam kemiskinan segi revolusioner, subversif yang akan menggulingkan masyarakat lama). Dia sependapat dengan mereka keduanya dalam usahanya mengutip otoritas ilmu untuk mendukungnya. Baginya ilmu merendahkan diri pada ukuran yang sempit yang terdiri dari rumus-rumus ilmiah; dia adalah seorang pemburu rumus. Oleh karena itu maka M. Proudhon menepuk dadanya bahwa dia telah mengkritik baik ekonomi politik maupun Komunisme-dia berada lebih rendah daripada ke dua-duanya. Lebih rendah daripada ahli-ahli ekonomi, karena sebagai seorang filsuf yang mempunyai rumus sakti sebagai kekuatannya, dia berpikir bahwa dia dapat meniadakan usaha menyelami soal-soal ekonomi semata sampai kepada yang sekecil-kecilnya; lebih rendah daripada kaum Sosialis, karena tidak mempunyai cukup keberanian maupun cukup pengertian untuk bisa mengangkat dirinya, meskipun secara spekulatif saja, di atas penilaian borjuis. Dia ingin terbang tinggi sebagai sarjana di atas borjuis dan kaum proletar; dia tidak lain dari borjuis-kecil yang senantiasa terombang-ambing antara kapital dan kerja, antara ekonomi politik dan Komunisme.&#8221;</p>
<p>Meskipun penilaian di atas kedengarannya tajam, saya tetap harus membenarkan setiap katanya kini. Tetapi, bersamaan dengan itu, harus diingat bahwa ketika saya menyatakan bukunya sebagai kode Sosialisme borjuis-kecil dan membuktikan hal itu secara teori, Proudhon masih tetap dicap sebagai seorang ultra-maha-revolusioner baik oleh ahli-ahli ekonomi politik maupun oleh kaum Sosialis. Itulah pula alasannya mengapa saya tidak pernah ikut serta dalam teriakan yang terjadi kemudian tentang &#8220;pengkhianatan&#8221;-nya terhadap revolusi. Sejak awalnya salah dipahami oleh yang lain-lain serta oleh dia sendiri, maka bukanlah kesalahannya jika dia mengecewakan harapan-harapan yang tiada beralasan.</p>
<p>Dalam The Philosophy of Poverty segenap kelemahan metode mengajukan dari Proudhon muncul dengan sangat tidak menguntungkan jika dibandingkan dengan <em>What is Property?</em> Langgamnya ialah langgam yang sering disebut orang Perancis ampoule (bombastis). Logat spekulatif yang lantang-suaranya, yang dianggap sebagai filsafat Jerman, secara teratur muncul di atas panggung ketika kelincahan Gallicnya dalam memahami sesuatu tidak bisa menyelamatkannya. Nada yang membusungkan dada, yang mengagung-agungkan diri sendiri, yang angkuh, dan terutama racauan yang tak henti-henti tentang &#8220;ilmu&#8221; dan pertunjukan yang palsu tentang hal itu, yang selalu begitu tidak bermanfaat, terus-menerus berdengung di telinga orang. Di dalam buku itu secara sistematis bagian-bagian tertentu diolah melalui kata-kata yang mentereng menjadi demam panas yang berlangsung sementara, berbeda dengan kehangatan yang asli yang membara dalam tulisannya yang pertama. Sebagai tambahan, pertunjukan yang kikuk, memuakan dari pengetahuan orang yang belajar sendiri, yang keangkuhan pembawaannya pada fikiran-fikiran yang asli, merdeka telah dipatahkan dan yang sekarang, sebagai parvenu[2] ilmu, mengganggap perlu menggembar-gemborkan apa yang dia bukan atau apa yang tidak dimilikinya. Kemudian mentalitas borjuis-kecil, yang dengan cara kebinatangan yang tidak sopan sedikitpun-dan tidak tajam maupun tidak mendalam serta tidak pula tepat-menyerang orang seperti Cabet, agar dihargai karena sikap praktisnya terhadap proletariat Perancis, di pihak lain bersikap sopan terhadap orang seperti Dunoyer (seorang Kanselir Negara, sudah tentu); dan lagi seluruh arti Dunoyer itu terletak dalam keseriusan yang lucu dengan mana, di seluruh tiga jilid yang tebal, yang sangat membosankan, dia mengkotbahkan kekerasan yang dikarekterisasi oleh Helvetius sebagai berikut: dari yang malang dituntut keharusan menjadi sempurna.</p>
<p>Revolusi Pebruari pasti tiba pada saat yang amat tidak menyenangkan bagi Proudhon, karena hanya beberapa minggu sebelumnya dia telah membuktikan secara tak tersangkal bahwa &#8220;zaman revolusi&#8221; telah berlalu untuk selama-lamanya. Ucapan-ucapannya di dalam Dewan Nasional, betapa pun dangkal pandangannya terhadap syarat-syarat yang ada, pantas mendapat pujian. Sesudah pemberontakan Juni ucapan-ucapan itu merupakan perbuatan yang penuh dengan keberanian yang tinggi. Tambahan pula ucapan-ucapan itu mempunyai akibat yang menguntungkan, yaitu bahwa M. Thiers, dengan pidatonya yang menentang usul-usul Proudhon, yang pada waktu itu diterbitkan dalam penerbitan tersendiri, membuktikan kepada seluruh Eropa katekisme[3] kekanak-kanakan yang bagaimana yang mengabdi sebagai sokoguru spiritual borjuis Perancis. Sungguh, jika dibandingkan dengan M. Thiers, Proudhon melembung sehingga dia menjadi sebesar kolossus sebelum-dilivium.[4]</p>
<p>Penemuan Proudhon tentang &#8220;kredit bebas&#8221; dan &#8220;bank Rakyat&#8221; yang didasarkan pada &#8220;kredit bebas&#8221; itu adalah &#8220;karya&#8221; ekonominya yang terakhir. Di dalam buku saya, A Contribution To The Critique of Political-Economy, bagian I, Berlin 1859 (hal. 59-64), dapat ditemukan bukti bahwa basis teori dari idenya timbul dari kegagalan memahami unsur-unsur pertama &#8220;ekonomi politik&#8221; borjuis, yaitu, tentang hubungan antara barang-dagangan dengan uang, sedangkan bangunan atas praktisnya hanyalah reproduksi skema yang jauh lebih tua dan berkembang lebih baik. Bahwa dalam keadaan ekonomi dan politik tertentu sistem kredit dapat berlaku dalam mempercepat pembebasan klas buruh, seperti, misalnya, di awal abad ke delapanbelas, dan lagi kemudian, pada awal abad ke sembilanbelas, di Inggris, ia mengabdi dalam memindahkan kekayaan klas yang satu ke klas yang lain, tanpa keraguan sedikitpun adalah dengan sendirinya jelas. Tetapi menganggap kapital mengandung rente sebagai bentuk pokok kapital, tetapi ingin menggunakan sistem kredit secara istimewa, yang dianggap penghapusan atas rente dasar bagi pengubahan masyarakat, adalah sepenuhnya khayalan filistin. Maka itu khayalan itu, jika diulur lebih jauh, nyatanya telah terdapat di kalangan juru-bicara ekonomi klas tengah Inggris lapisan bawah abad ke tujuhbelas. Polemik Proudhon dengan Bastiat (1850) tentang kapital mengandung-rente berada pada tingkat yang jauh lebih rendah daripada The Philosophy of Poverty. Dia berupaya menjadikan dirinya terpukul bahkan oleh Bastiat dan memuntahkan racauan yang membanyol ketika musuhnya memberikan pukulan yang menyadarkan.</p>
<p>Beberapa tahun yang lalu Proudhon-atas permintaan, menurut fikiran saya, pemerintah Lausanne-menulis esai berhadiah tentang &#8220;Pajak&#8221;. Pada esai itu semangatnya telah padam. Tiada yang tersisa kecuali borjuis-kecil semata.</p>
<p>Mengenai tulisan-tulisan politik dan filsafatnya seluruhnya menunjukkan sifat yang mengandung kontradiksi, ganda seperti karya-karya ekonominya. Lagi pula nilainya pun bersifat lokal, terbatas pada Perancis. Meskipun demikian serangannya terhadap agama, gereja, dan sebagainya pada saat kaum Sosialis Perancis menganggap cukup mempunyai syarat untuk menjadi unggul dalam hal-hal religi daripada Voltairisme borjuis abad ke delapanbelas dan ketidak-percayaan Jerman akan Tuhan dari abad ke sembilanbelas secara lokal mempunyai manfaat yang besar. Jika Peter Agung mengalahkan kebiadaban Rusi dengan kebiadaban, maka Proudhon berusaha sekuat tenaga menaklukan omong-kosong Perancis dengan kata-kata.</p>
<p>Karyanya tentang &#8220;Kudeta&#8221;, yang di dalamnya dia bermesraan dengan L. Bonaparte dan, menurut kenyataannya, berusaha membuat Bonaparte makanan lezat bagi kaum buruh Perancis, dan dalam karyanya yang terakhir, yang ditulisnya menentang Polandia, dia untuk keagungan yang lebih besar dari tsar secara berlebih-lebihan meperbolehkan dirinya terlibat dalam sinisme yang amat tak berdaya, harus dikarakterisasi bukan sebagai karya yang jelek saja, tetapi sebagai karya yang hina; hanya, kehinaan yang sesuai dengan pendirian borjuis-kecil.</p>
<p>Di masa yang lalu Proudhon sering dibandingkan dengan Rosseau. Tidak ada sesuatu yang lebih salah daripada itu. Dia lebih menyamai Nic. Linquet, yang Teori Hukum Sipil-nya, sepintas lalu, merupakan buku yang amat cemerlang.</p>
<p>Proudhon mempunyai kecenderungan alamiah akan dialektika. Tetapi karena dia tidak pernah menguasai dialektika ilmiah yang sejati, maka dia tidak pernah melangkah lebih jauh dari sofistri.[5] Sesungguhnya hal itu bersatu dengan pendirian borjuis-kecilnya. Seperti halnya sejarawan Raumer, borjuis-kecil itu terdiri dari di satu sisi dan di lain sisi. Hal itu begitu itu untuk kepentingan ekonominya dan maka itu untuk kepentingan politiknya, untuk kepentingan pendirian agama, ilmu dan artistiknya. Begitu pula dalam hal moralnya, dalam segala-galanya. Dia merupakan kontradiksi yang hidup. Jika, seperti Proudhon, dia juga seorang yang cerdik, segera dia akan belajar bermain dengan kontradiksi-kontradiksinya sendiri dan sesuai dengan keadaan mengembangkan kontradiksi-kontradiksi itu menjadi paradoks yang menyolok, menakjubkan, kadang-kadang menimbulkan fitnah, kadang-kadang brilian. Carlatanisme (penipuan) di bidang ilmu dan menyesuaikan diri dalam politik merupakan hal-hal yang tidak terpisahkan dari pendirian yang semacam itu. Akan tinggal hanya satu motif yang menentukan, keangkuhan subyeknya, dan satu-satunya masalah baginya, seperti halnya bagi semua orang yang angkuh, ialah sukses di saat itu, sensasi di hari itu. Maka itu kebijaksanaan etika yang sederhana, yang selalu menempatkan seorang Rousseau, misalnya, di tempat yang sama sekali tidak mengandung kompromi dengan kekuasaan yang ada, seharusnya melenyap.</p>
<p>Ada kemungkinan bahwa manusia dikemudian hari akan membuat ikhtisar tentang tingkat terakhir perkembangan Perancis dengan mengatakan bahwa Louis Bonaparte adalah Napoleon-nya dan Proudhon Rousseau-Voltaire-nya.</p>
<p>Saudara sendirilah sekarang yang harus memikul tanggung-jawab membebani saya, segera setelah orangnya meninggal, dengan peranan hakim <em>postmortem</em> (pemeriksa mayat).</p>
<p><strong>Hormat Saya,<br />
Karl Marx</strong></p>
<p><strong>Catatan</strong></p>
<ol>
<li> &#8220;Jika mereka katakan bahwa hubungan-hubungan masa kini-hubungan-hubungan produksi borjuis-adalah wajar, yang dimaksudkan ahli-ahli ekonomi itu ialah bahwa hubungan-hubungan itu adalah hubungan yang di dalamnya kekayaan diciptakan dan tenaga-tenaga produktif berkembang sesuai dengan hukum-hukum alam. Jadi hubungan-hubungan itu dengan sendirinya merupakan hukum-hukum alamiah lepas dari pengaruh waktu. Hubungan-hubungan itu adalah hukum-hukum abadi yang harus senantiasa mengatur masyarakat. Jadi di masa yang silam ada sejarah, tetapi sekarang tidak ada lagi.&#8221; (hal. 113 karya saya)</li>
<li> Orang yang mendadak menjadi kaya atau mendapat kedudukan tinggi dan menjadi angkuh.</li>
<li> Cara mengajar, biasanya agama Kristen, melalui tanya-jawab. Yang terjadi adalah pengetahuan yang dihafalkan dan sepotong-sepotong.</li>
<li> Patung yang amat besar di masa sebelum terjadinya banjir-bandang di jaman nabi Nuh.</li>
<li> Berpikir cepat namun salah.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2006/08/23/tentang-proudhon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anarki dan Anarkisme</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2006/08/02/anarki-dan-anarkisme/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2006/08/02/anarki-dan-anarkisme/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Aug 2006 09:14:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anarkisme]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[anarki]]></category>
		<category><![CDATA[ideologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/v2/2006/08/02/anarki-dan-anarkisme/</guid>
		<description><![CDATA[Di awal awal abad keduapuluh satu ini, teori anarki telah mengalami perkembangan dan pembaharuan, seiring dengan persinggungannya dengan teori-teori dari beragam displin ilmu sosial, diantaranya pengadopsian dan pengadaptasian pendekatan yang dikembangkan beragam wacana post-strukturalis . Gerakan dan teori anarki dalam beberapa dekade ini, menjadi cukup lentur untuk “berbaur” dengan beragam gerakan yang secara umum disebut sebagai gerakan anti otoritarian dan gerakan sosial/politk baru, yang secara fundamental didasari pada politik non hirarkis, desentralis, otonom dan swa kelola.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Anarki<br />
Oleh: Tjuan Gempa</strong></p>
<blockquote><p><em>It’s a long walk to the gallows<br />
It’s a small step to swing free<br />
The crying in the tower<br />
For my conspirators and me<br />
Gunpowder and modem<br />
And a dream of liberty<br />
</em></p>
<p><em><strong> Chumbawamba</strong></em></p></blockquote>
<p><strong>Anarkisme dan Anarki</strong></p>
<p>Di awal abad kedua puluh, Peter Kropotkin, salah seorang propagandis anarki (sme) yang paling berpengaruh, diminta untuk menulis definisi anarkisme untuk Ensiklopedia Britannica :</p>
<p><em>“[…] dimana masyarakat yang dicita-citakan adalah yang tanpa pemerintahan—keharmonisan dalam masyarakat dicapai bukan dengan mematuhi undang-undang, atau suatu otoritas, namun melalui kesepakatan bebas yang dicapai diantara berbagai kelompok, wilayah dan profesi, yang bergabung secara sukarela—untuk produksi dan konsumsi—dan juga untuk pemenuhan berbagai macam kebutuhan dan aspirasi mahluk yang beradab.”</em></p>
<p><span id="more-102"></span>Di sini anarkisme mengartikulasikan tatanan sosial dimana tidak seorangpun bisa menindas atau mengekspolitasi orang lain; sebuah tatanan dimana setiap orang mempunyai kesempatan yang setara untuk mencapai perkembangan material dan moralnya secara maksimal. Definisi tradisional tentang anarkisme seperti yang ditunjukkan di atas, harus dipahami sebagai sebuah titik tolak, suatu artikulasi untuk merespon secara positif konteks suatu tatanan masyarakat dimana minoritas masyarakat (yang memegang otoritas dalam institusi negara, institusi agama, institusi pendidikan, institusi ekonomi dan beragam institusi elitis lainnya) memiliki wewenang untuk mengontrol beragam aspek kehidupan mayoritas masyarakat.</p>
<p>Visi-visi anarki tersebut adalah ideal-ideal yang kemudian harus dijelaskan sebagai kemungkinan dan potensi eksistensi umat manusia. Pada perkembangan selanjutnya, melalui beragam reinterpretasi, kita menemui beragam artikulasi anarki yang menekankan pada kontinuitas perjuangan yang tanpa batas untuk memperluas lingkup kebebasan, yang secara konsiten didasari pada:</p>
<ol>
<li> Penentangan terhadap otoritas. Pada umumnya penentangan anarkis terhadap otoritas dikaitkan pada penentangannya terhadap institusi negara dan institusi agama. Namun penentangan anarkis terhadap otoritas adalah suatu penolakan terhadap keterasingan manusia (yang diatur oleh otoritas tersebut) terhadap kemampuan, potensi dan hasrat/kehendak manusia itu). Maka penolakan terhadap keterasingan ini juga mencakup penolakan terhadap segala bentuk otoritas yang tidak dapat dilegitimasikan dengan alasan rasional, termasuk bentuk-bentuk kepemimpinan dan perwakilan. Meskipun pada dasarnya anarki menentang otoritas, tentunya terjadi pengecualian-pengecualian-pengecualian dalam kondisi-kondisi kritis ketika kepemimpinan dan perwakilan yang bersifat temporer tidak dapat dihindari.</li>
<li> Pada konstruksi relasi-relasi manusia berdasarkan asosiasi bebas. Anarki bukan sekedar suatu proposisi negatif yang berkutat pada penolakan, tapi juga menggagas konstruksi relasi manusia yang (lebih) membebaskan. Elaborasi tentang konstruksi relasi sosial adalah perbedaan mendasar dalam praksis anarki dengan aliran-aliran politik lainnya. Proyek-proyek anarkis selalu menekankan pada relasi horisontal diantara para partisipannya, penekanan pada inisiatif individual dan pengembangan potensi individual. Anarki yang terbatas dalam ruang dan waktu, dipraktekan dalam proyek-proyek anarkis &#8211; dimana cara (untuk mencapai tujuan) dan tujuan anarki menjadi terintegrasi dalam konteks-konteks tersebut.</li>
</ol>
<p>Di sini pentingnya memaknai anarki, secara berbeda dengan isme-isme lainnya – bahwa anarki menolak doktrin absolut. Sekaligus ini adalah juga kritik terhadap anarki(sme) tradisional yang absolutis dengan cetak biru masa depannya. Bahkan kita dapat menemui artikulasi anarki sebagai kontinuitas perjuangan untuk memperluas lingkup kebebasan yang terus menerus tanpa suatu definisi akhir, dari sejarawan anarkis di awal abad keduapuluh, Rudolf Rocker:</p>
<p><em>“ Saya adalah seorang anarkis bukan karena saya percaya dengan anarkisme, tapi karena saya percaya bahwa tidak ada suatu tujuan akhir”</em></p>
<p>Di awal awal abad keduapuluh satu ini, teori anarki telah mengalami perkembangan dan pembaharuan, seiring dengan persinggungannya dengan teori-teori dari beragam displin ilmu sosial, diantaranya pengadopsian dan pengadaptasian pendekatan yang dikembangkan beragam wacana post-strukturalis . Gerakan dan teori anarki dalam beberapa dekade ini, menjadi cukup lentur untuk “berbaur” dengan beragam gerakan yang secara umum disebut sebagai gerakan anti otoritarian dan gerakan sosial/politk baru, yang secara fundamental didasari pada politik non hirarkis, desentralis, otonom dan swa kelola.</p>
<p><strong>Genealogi Kekuasaan</strong></p>
<p>Anggapan umum yang menyederhanakan anarki sebagai suatu aliran pemikiran yang hanya berurusan dengan pemusnahan negara adalah suatu bentuk pemiskinan terhadap kekayaan intelektual dan wawasan anarki. Anarki bukanlah semata-mata penentangan terhadap negara, tapi merupakan artikulasi tentang kekuasaan yang melandasi relasi manusia, tentang kritik terhadap hubungan-hubungan antara kekuasaan dan keterasingan manusia terhadap dirinya sendiri, tentang rekonstruksi kekuasaan dan relasi-relasi sosial.</p>
<p>Anarki bertitik tolak dari antagonisme antara kekuasaan/dominasi pada satu sisi dan kooperasi dan subyektifitas manusia (kekuasaan positif) pada sisi lainnya.</p>
<p>Monarki-monarki merupakan bentuk kekuasaan absolut yang mendominasi rakyatnya pada zaman feodalisme; disusul oleh negara nasion (sebagai fenomena dominan dalam zaman modern) dalam bentuknya, oligarki dan totalitarian; sedangkan di sebagian besar wilayah di Asia dan Afrika terjadi dominasi oleh pemerintahan kolonial, sebelum wilayah-wilayah ini mencanangkan perjuangan-perjuangan kemerdekaan nasional, yang akhirnya juga membentuk negara nasion-negara nasion baru; saat ini, negara nasion dan neo liberal yang mengglobal, merupakan rezim-rezim yang mendominasi masyarakat secara simultan.</p>
<p>Anarkis awal di wilayah-wilayah di Eropa, melontarkan banyak kritiknya terhadap negara, karena memang negara merupakan mode dominasi yang dominan pada waktu itu. Meskipun sebenarnya anarki melontarkan kritik-kritiknya terhadap konsentrasi kekuasaan, pada segala bentuk hirarki yang dikonstruksi secara sosial – pada hirarki laki-laki atas perempuan, tua terhadap muda, atasan terhadap bawahan dalam dunia kerja, pemimpin dan institusi moral terhadap konstituennya dan lain sebagainya.</p>
<p>Negara menjadi tema sentral anarki karena negara memayungi beragam bentuk hirarki dan kekuasaan elitis, yang mempunyai dampak luas dan mendalam terhadap kehidupan sosial. Negara, dalam beragam bentuknya baik itu oligarki ataupun totalitarian, melalui birokrasi, menggunakan wewenangnya yang mengatur kehidupan mayoritas masyarakat, dan memonopoli kekerasan teroganisir (tentara dan polisi). Meskipun di tiap-tiap negara terdapat perbedaan-perbedaan spesifik pada derajat wewenang birokrat negara, partisipasi masyarakat, keragaman jenis institusi sektoral di tiap-tiap negara dan bentuk-bentuk monopoli kekerasan, pada dasarnya negara merupakan bentuk sentralisasi kekuasaan oleh minoritas untuk mengatur kehidupan populasi mayoritas.</p>
<p>Dalam negara dengan demokrasi yang paling liberal sekalipun, sistem-sistem pemilihan wakil rakyat tetap tidak dapat mengubah wajah negara. Sejarah parlementarisme Amerika, negara yang dianggap demokratis, menyingkap fakta bahwa parlemen pada awalnya merupakan tidak lebih dari kumpulan para tuan tanah (yang pada waktu itu masih lengkap dengan budaknya). Dan mereka berbicara bagaimana sistem parlementarian merupakan sebuah sistem yang akan menjamin kebebasan tiap-tiap orang dan pada saat bersamaan dapat melanggengkan previlase-previlase politik dan ekonomi mereka.</p>
<p>Elitisme sistem parlementarian ditunjukkan pada abad ke19 di Eropa. Di awal pembangunan sistem parlementarian, mayoritas anggota parlemen, adalah mereka yang ditunjuk oleh elit-elit yang berkekuasaan – anak-anak para tuan tanah, pengusaha, dan pengacara. Ini tentunya bukanlah demokrasi bagi ‘massa yang bodoh’.</p>
<p>Walter Lippmann seorang demokrat Amerika, ternyata juga seorang perintis apa yang dinamakan konsep mengenai rekayasa opini publik yang dia namakan order demokratis baru, yaitu demokrasi parlementer. Pertama ada peran yang diusung oleh mereka dari ‘kelas khusus’ , ‘orang yang bertanggung jawab’, yang mempunyai akses terhadap informasi dan pemahaman – baginya orang-orang inilah yang ‘bertanggung jawab’ untuk membentuk ‘opini publik’ yang baik’… mereka (yang tergabung dalam kelas khusus) berinisiatif, mengadministrasi dan menyelesaikan’ dan harus dilindungi dari ‘orang luar yang tidak mempunyai kesadaran dan rusuh’. Bagi Lippmann, bukanlah pada tempatnya untuk publik memberikan penilaian, tapi cukup untuk sekedar memberikan ‘kekuasaan’ pada ‘orang-orang yang bertanggung jawab’.</p>
<p>Pada tahap lanjut perkembangan Negara-nasion dan kapitalisme modern, praktek-praktek pengontrolan yang semakin sistematis diterapkan pada populasi, melalui beragam teknik pengontrolan, terutama ditujukan pada pengontrolan populasi dan kehidupan manusia/tubuh, melalui statistik dan probabilitas, terutama dalam bidang kesehatan masyarakat dan regulasi ancaman (resiko terhadap kehidupan populasi). Bentuk-bentuk pengontrolan yang termasuk pengelolaan keturunan (keluarga), pengumpulan dan pemetaan sistematis etnisitas dan agama masyarakat.</p>
<p>Negara, sebagai bentuk kekuasaan adalah relasi sosial – dari dirinya sendiri, negara tidak mempunyai kekuasaan – seluruh kekuasaannya berasal dari akumulasi kekuasaan yang diberikan warga negaranya dan dari waktu ke waktu negara mengambil alih lebih banyak kekuasaan dari warganya. Hukum, undang-undang, ritual kenegaraan dan seluruh citra kenegaraan – hanya bisa menjadi bermakna ketika terjadi “konsensus” (melalui pemaksaan, hegemoni dan secara subliminal ) antara negara dan warganya. Seluruh asumsi tentang kekuasaan negara, terlepas dari kekuasaan yang diberikan oleh atau diambil alih dari masyarakat, berarti bahwa secara bersamaan warga (negara)/masyarakat telah kehilangan kekuasaannya.</p>
<p>Negara/nasionalisme menggunakan loyalitas pada kesamaan bahasa, etnisitas, kultural dan tradisi dan mengerucutkannya pada bentuk-bentuknya yang chauvinis untuk melegitimasikan eksistensi negara dalam landasan yang seolah-olah merupakan pijakan bersama. Bentuk chauvinis, loyalitas tanpa batas inilah, yang menjadi esensi dari patriotisme, suatu bentuk keterasingan manusia (yang mengidap patriotisme) dari kesadarannya – kesadaran bahwa dia dan minoritas yang melanggengkan negara tidak mempunyai kepentingan-kepentingan umum. Seperti yang kita ketahui bahwa banyak sekali terjadi kontradiksi-kontradiksi dalam klaim-klaim negara nasion sebagai perluasan komunitas yang berpijak pada kesamaan biologis dan tradisi. Di sini kita dapat mengutip Benedict Anderson mendefinisikan nasion sebagai konstruksi sosial yang hanya berada pada tataran “dapat dibayangkan”, bagi mereka yang merasa menjadi bagian dari sebuah nasion. Negara nasion bisa dikatakan sebagai sebuah artefak yang mewarisi sejarah sistem dominasi manusia oleh manusia, tapi yang sampai sekarang masih mempunyai daya tarik yang sangat kuat dan belum dapat dilampaui.</p>
<p><strong>Transformasi</strong></p>
<p>Anarkisme merupakan sebuah arus yang cukup besar dalam gerakan kiri internasional dari tahun 1880 sampai 1920 an (Revolusi Rusia). Revolusi Spanyol 1936 merupakan gerakan anarkis terbesar yang pernah terjadi di dunia. Anarkisme secara tiba-tiba “menghilang” dari arus perlawanan terhadap kapital. Pasca Perang Dunia Dua, masyarakat dunia hanya mengenal dua ideologi besar yaitu &#8220;demokrasi representatif&#8221; (kapitalisme pasar bebas) atau komunisme (yang secara esensi adalah kapitalisme negara, ketika representasi yang dikenal adalah Rusia, Cina dan berbagai negara komunis yang menjadi satelit-satelitnya).</p>
<p>Penemuan kembali anarkisme adalah salah satunya berkat jasa dari orang-orang kiri yang sedang melakukan pencarian alternatif-alenatif dari marxisme ortodoks.</p>
<p>Situationist International yang berkembang di tahun 1960-1970-an merupakan kelompok-kelompok intelektual dan seniman-seniman avant-garde yang mencoba menjelaskan kapitalisme yang sedang mengalami transformasi. Menurut situasionis, alienasi yang dicermati oleh Marx telah menyusup ke setiap celah dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat tidak hanya terasing dari barang-barang yang diproduksinya, lebih jauh lagi masyarakat juga teralienasi dari kehidupannya dan hasratnya. Komoditas sebagai ciptaan yang mengalienasi, telah menguasai kehidupan sehari-hari. Kapitalisme moderen menciptakan &#8220;masyarakat tontonan&#8221; atau masyarakat konsumen yang menjanjikan kepuasan, tapi yang tidak pernah dipenuhinya. Revolusi Paris 1968 merupakan momen bagi para situasionis.</p>
<p>Di samping itu, adalah kritik Situasionist International terhadap anarkisme, pada kecenderungan beberapa pemikir anarkis yang bereksperimentasi dengan ide-ide melampaui realisasi praksis, sehingga seringkali teori anarkisme menjadi artikulasi teori yang tidak mempunyai koherensi.</p>
<p>Di Eropa, Autonomen Jerman Barat menciptakan militansi baru dalam resistensi urban. Para Autonomen adalah revolusioner anti otoritarian yang mengenyahkan seluruh label ideologis termasuk anarkis. Gerakan mereka diwarnai praksis direct action, seperti pertarungan jalanan dengan elemen-elemen represif dan fasistik dalam masyarakat (seperti neo-nazi), pendudukan gedung-gedung kosong untuk dijadikan ruang-ruang otonom komunal. Di tahun 1988, dalam sebuah aksi merespon pertemuan IMF/Bank Dunia, Autonomen menggunakan taktik bercadar dalam protes dan melakukan pengrusakkan properti &#8211; Black Bloc pelopor yang kemudian menginspirasi anarkis.</p>
<p>Hakim Bey menerbitkan bukunya <em>“Temporary Autonomous Zone : Ontological Anarchy,Poetic Terorism”</em> di pertengahan tahun 80-an. Boleh dikatakan bahwa buku ini menjadi suatu tonggak dalam diskursus dan praktek anti otoritarian. <em>“Berhentilah berpikir tentang revolusi sosial yang akan datang”</em>. Setiap revolusioner bisa mengobral janji revolusi tanpa bisa memberikan kepastian kapan ia akan datang. Sedangakan Hakim Bey bisa “menjanjikan” apa yang disebut uprising (yang bagi sejarawan adalah suatu revolusi cacat dan gagal ). Uprising yang diartikan disini bukan hanya sebatas even-even politik spektakular, tapi juga mencakup hal-hal seperti penciptaan komunitas-komunitas otonom dan ruang-ruang yang dibebaskan – dimana komunitas dan individu dapat menerapkan utopia temporer. Temporary autonomous zone (zona otonom temporer) menjadi suatu konsep dimana ideal bertemu dengan realita – ketika konsep “revolusi yang akan datang” menjadi suatu hal yang absurd yang deminya manusia kembali mereproduksi hirarki, elitisme dan dominasi (seperti dalam “partai revolusioner”, “serikat buruh birokratis” dan bahkan serikat buruh sindikalis). Mungkin juga tidak ada sesuatu yang benar-benar baru yang ditawarkan disini ketika anarkis sejak lama telah menerapkan konsep tentang pentingnya praksis anarki dalam kehidupan sehari-hari. Bey hanya membahasakannya dengan lebih lugas, menawarakan sintesa-sintesa baru tentang konsep anarki dan kaitannya dengan sejarah dan revolusi, menemukan kosa-kosakata yang lebih pas dan meluaskan penjelasannya dengan data-data yang lebih lengkap tentang contoh-contoh TAZ yang terjadi sepanjang sejarah.</p>
<p>Anarkisme tradisional merupakan doktrin sosial yang menyerap ide-ide Pencerahan – penekanannya pada esensi tentang “sifat alamiah” manusia yang mulia dan rasional dan doktrinnya yang mencetuskan tujuan-tujuan yang positivis. Poststrukturalisme, sebagai wacana kritis menantang ide-ide tentang sifat alamiah, esensi dan positivisme. Anarkisme juga mengintegrasikan analisis-analisis poststrukturalis tentang simbol, representasi dan pemaknaan dalam pengelolaan komunikasi dan informasi oleh kekuasaan dominan. Pendekatan-pendekatan postrukturalis menggagas pandangan kritis terhadap bahasa dalam konstruksi identitas, penyajian dan pendistorsian isu-isu.</p>
<p><strong>Kekuatan Kontra dan Konstruksi Resistensi</strong></p>
<p>Bagi kebanyakan orang, &#8220;neo-anarkisme&#8221; lahir dari rintik-rintik hujan dingin dan kabut beracun yang menyambut Protes terhadap WTO, November 1999. Neo anarkisme bukanlah anak haram dari gerakan sosial yang banyak bermunculan saat ini. Anarkisme sendiri telah bertransformasi selama beberapa abad. Aksi langsung di Seattle hanya merupakan sebuah momen yang memunculkan anarkisme kembali menjadi wacana publik. Anarkisme telah menyumbangkan praksis yang menarik perhatian banyak orang dalam momen historis Seattle. Sejak saat itu, anarkisme bukan saja turut membentuk gerakan anti kapitalis saat ini; anarkisme juga telah menunjukkan bahwa prinsip-prinsip kebebasan berpotensi untuk menggantikan demokrasi representatif dan kapitalisme. Ke manakah anarki setelah Seattle?</p>
<p>Ketidakpastian-ketidakpastian muncul ketika kita tidak lagi ingin berpretensi tentang harapan berdasarkan determinisme positif pencerahan, dan juga ketika kita menolak segala bentuk pesimisme superior yang menihilkan seluruh kapasitas, potensi dan kemungkinan umat manusia mengkonstruksi masa depan yang lebih baik. Namun tanpa bersikap terlalu optimistis, setidaknya cukup beralasan untuk mengatakan dinamika yang ada masih terus menerus menghadirkan peluang dan potensi.</p>
<p>Ketika kita menolak determinisme sejarah/ narasi megah, genealogi menyingkap sejarah sebagai antagonisme, diskontinuitas, ledakan-ledakan peristiwa, yang tidak memiliki logika universal. Di sini sejarah lepas dari segala bentuk determinisme, yang berarti bahwa masa depan berada dalam relung potensi dan kemungkinan &#8211; bahwa batas-batas tidak terdefinisikan. Kemudian memahami pembebasan sebagai suatu proses produksi dan reproduksi terus menerus yang berada dalam relung potensi untuk pengembangan dan artikulasi hasrat beragam subyektifitas. Narasi pembebasan ini harus menyediakan ruang-ruang yang berlimpah bagi eksperimentasi dan konstruksi, dekontruksi dan rekonstruksi, dalam teori dan praksis.</p>
<p>Dinamika pembebasan ini menolak ketunggalan dalam gerak, arah dan tujuan; menolak seluruh komando sentral; menolak segala jenis subordinasi pada hirarki; menolak seluruh jenis politik representasi dan mediasi. Tujuannya adalah pluralitas maksimum. Secara fundamental, konstruksi resistensi ini terkait dengan pembebasan kehidupan kontemporer. Ia bukan cakrawala mesianistis yang memberi janji penebusan, bukan suatu mesin politik, yang demi mencapai mencapai tujuannya (nanti) akan mengorbankan yang sekarang. Ia adalah kendaraan kemanusiaan, yang ingin berpijak pada kondisi sekarang; yang ingin melampaui alienasi kehidupan sehari-hari manusia (hirarki, identitas representatif, separasi antara kehidupan sehari-hari dan hasrat-hasrat).</p>
<p>Setiap gerakan resistensi saat ini harus menjadikan dirinya sebagai proyek konstruksi komunitas-komunitas yang mampu menjadi wadah untuk mengelaborasi dan mengartikulasikan hasrat kemanusian. Bahwa segala jenis proyek resistensi ini harus mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan yang memang layak untuk dikembalikan dan mencipta nilai-nilai baru seiring dinamika dan konteks.</p>
<p>Zona otonom temporer &#8211; penciptaan komunitas-komunitas otonom dan ruang-ruang yang dibebaskan. Self valorization adalah konsep yang dipakai marksis otonomis untuk merujuk pada penciptaan kesadaran, relasi sosial dan beragam swa-aktifitas yang merupakan alternatif dari yang berlaku dalam kapitalisme. Self valorization merupakan hal-hal yang menyangkut konstruksi atau titik tolak penataan masyarakat pasca kapitalis: “anarki bukanlah sesuatu yang dikonstruksikan nanti, tapi merupakan sesuatu yang berkali-kali tercetus dalam sejarah dan kehidupan kontemporer”.</p>
<p>Kita merujuk pada sejarah penerapan dan elaborasi tatanan berdasarkan relasi sosial non hirarkis, pengorganisasian masyarakat secara desentralisasi dan penerapan swa kelola dan otonomi. Mulai dari akhir abad 19 di Paris (1871), di Rusia (1917), Ukraine (1918-1921), Spanyol (1936), Hunggaria (1956). Beberapa contoh kontemporer rekonstruksi masyarakat yang bersifat anarkis adalah Zapatista di Meksiko dan pemberontakan di Argentina (2001-2004).</p>
<p>Dunia dikejutakan pada tahun baru 1994. Tentara Pembebasan Nasional (EZLN) yang dikenal dengan Zapatista mengguncang dunia dengan gerakan bersenjata pasca modern &#8211; yang berhasil melampaui catatan-catatan sejarah perjuangan bersenjata yang berideologi Maois dan Leninis – yang pada kenyataannya adalah penerapan rezim penindas baru terhadap rakyat yang mereka klaim akan mereka selamatkan. Gerilya bersenjata Zapatista ini disandingkan dengan pembentukan zona-zona otonom di tiga puluh komunitas tradisional di Chiapas (Meksiko Selatan).</p>
<p>Pasca modern karena gerakan ini mengembalikan otonomi dan kedaulatan pada masyarakat melalui demokrasi langsung dan konsensus dan BUKAN sentralisasi. Apa yang dilakukan Zapatista dari tahun 1994 adalah mengkonstruksi sebuah sistem demokrasi langsung. Mereka membentuk organisasi-organisasi dan jaringan pembuatan keputusan, yang melibatkan ratusan ribu orang. Seluruhnya terdapat 32 komunitas setara dengan kecamatan (municipalities), dimana dalam setiap municipality terdapat antara 50-100 komunitas.</p>
<p>Di Argentina, apatisme terhadap sistem politik yang ada memang telah terjadi sejak lama, namun di lain sisi kebangkitan kesadaran politik terjadi dengan begitu cepat menyusul krisis neo liberalisme pada Desember 2001. Krisis ekonomi dan politik yang berkepanjangan dan perkembangan-perkembangan dari protes-protes sosial yang terjadi telah melahirkan perubahan karakter dalam politik kerakyatan: tumbuhnya kekuatan rakyat yang terorganisir secara spontan yang bebasiskan demokrasi langsung dan yang indipenden dari kekuatan politik tradisional (partai politik dan serikat buruh) dan penyatuan antara kelas pekerja bawahan dengan apa yang dianggap sebagai kelas menengah Argentina. Seperti dinyatakan oleh salah satu kelompok sosiologis dan aktivis dari Buenos Aires bahwa bukanlah suatu kebetulan ketika organisasi-organisasi serikat dan politik menjadi termajinalkan selama protes-protes pada bulan Desember .</p>
<p>Asambleas Popular (dewan rakyat) dan Piqueteros (kelompok pekerja menganggur) merupakan dua jenis bentuk pengorganisiran kerakyatan yang paling signifikan perkembangannya selama krisis di Argentina. Kedua jenis gerakan tersebut, meskipun mempunyai banyak perbedaan, namun keduanya merupakan pengorganisiran yang dilakukan secara otonom oleh para pesertanya dan mampu menjalankan kegiatannya dalam jangka waktu yang cukup panjang, tanpa membangun sebuah struktur birokrasi (hirarkis) di dalamnya.</p>
<p>Piqueteros dan dewan-dewan rakyat yang terbangun menjadi tulang punggung radikalisme. Mereka yang terlibat di dalamnya sangat berhati-hati untuk terus-menerus mempertahankan sistem pengorganisasian horisontal. Evan Henshaw-Plath, aktivis media dari New York yang telah beberapa bulan membantu Indymedia Argetina menjelaskan :</p>
<p><em>Orang-orang tidak menemukan demokrasi langsung melalui kritik intelektual terhadap hakikat pemaksaan dalam sistem representasi, tetapi karena mereka menginginkan dan membutuhkan perubahan nyata dan mereka hanya melihat bahwa inilah (demokrasi langsung) satu-satunya jalan keluar.</em></p>
<p>Agenda-agenda dewan-dewan rakyat diantaranya adalah perencanaan anggaran partisipatif dan pengaktifan kembali sentra-sentra produksi lokal. Di beberapa wilayah lain, suatu sistem “politik-mikro” nampaknya telah merubah wajah perlawanan tradisional:</p>
<p>Piqueteros di beberapa wilayah telah mengakibatkan ketidak-berdayaan pejabat pemerintah lokal. Di bagian barat laut kota General Mosconi, para pekerja yang menganggur telah menjalankan sejumlah 300 proyek, yang termasuk, perkebunan sayur organik, sentra proses air dan klinik P3K. Sebagian dari proyek tersebut telah menunjukkan keberhasilannya .</p>
<p>Kebun-kebun sayur organik bermunculan di taman-taman publik dan di lahan-lahan terlantar – sebagai suatu tanggapan terhadap kelaparan yang berlangsung Dapur-dapur umum diadakan di bekas bangunan bar-bar dan rumah makan-rumah makan. Gerakan piqueteros telah menciptakan sistem ekonominya sendiri. Misalnya, Serikat Pekerja Menganggur (MTD) memproduksi batu bata sendiri untuk digunakan membangun rumah-rumah pada lahan-lahan yang telah mereka duduki .</p>
<p>Serikat Pekerja Menganggur di Solano (MTD de Solano), merupakan salah satu fenomena tentang konstruksi horisontal dan kekuatan kontra yang paling signifikan. Serikat ini mengartikulasikan politik radikal dengan cakupan lebih dari 800 keluarga &#8211; dengan pengembangan beragam proyek ekonomi, politis dan kultural, untuk mengatasi pengangguran, kelaparan dan pendidikan.</p>
<p>Tantangannya adalah untuk melanjutkan narasi insureksi yang memungkinkan – yang mungkin akan berkembang dari beragam ledakan temporer (uprising) dan ruang-ruang dimana praksis-praksis kontra kekuasaan dibangun. Saat ini kita menunggu suatu momen ketika intensitas resistensi temporer dan pembangunan kekuatan kontra mendorong proses menuju titik tolak-titik tolak selanjutnya. Seluruh proses ini hanya akan terdefinisikan oleh eksperimentasi-eksperimentasi para militan dalam artikulasi dan elaborasi desentralisasi, otonomi dan swa kelola.</p>
<p><strong>Catatan Kaki</strong></p>
<ol>
<li> Post-strukturalis yang dimaksud pada konteks ini, adalah wacana-wacana yang sebagian besar merujuk pada reinterpretasi pemikiran-pemikiran Marx, contohnya yang dilakukan oleh gerakan Marxis Otonom di Itali dan Situationist International di Prancis; dan juga pengintegrasian teori dari para pemikir dari beragam disiplin ilmu social, seperti Michel Foucalt, Félix Guattari, Gilles Deleuze dan Jacques Lacan.</li>
<li> Transmisi pesan yang disampaikan melalui bawah sadar manusia dan tidak terdeteksi oleh panca indera.</li>
<li> Kolektif-kolektif anarkis yang menggunakan aksi langsung dalam pengrusakan properti dan vandalisme. Black Bloc menjadi terkenal dalam protes anti WTO, November 1999, di Seattle, Amerika.</li>
<li> Benjamin Blackwell. “Micropolitics and The Cooking-Pot Revolution in Argentina”. Z-Net, August 29, 2002 [online] &lt;<a href="http://www.zmag.org/ZNET.htm" class="external free" title="http://www.zmag.org/ZNET.htm" rel="nofollow">http://www.zmag.org/ZNET.htm</a>&gt;.</li>
<li> Evan Henshaw-Plath.” The People&#8217;s Assemblies in Argentina”, Z-Net, March 08, 2002 [online], &lt;<a href="http://www.zmag.org/ZNET.htm" class="external free" title="http://www.zmag.org/ZNET.htm" rel="nofollow">http://www.zmag.org/ZNET.htm</a>&gt;.</li>
<li> Blackwell, “Micropolitics”.</li>
<li> Naomi Klein. ‘IMF Go To Hell’. Toronto Globe and Mail,  March 19, 2002. [online] &lt;<a href="http://www.zmag.org/ZNET.htm" class="external free" title="http://www.zmag.org/ZNET.htm" rel="nofollow">http://www.zmag.org/ZNET.htm</a>&gt;</li>
</ol>
<p><strong>Sumber-sumber Informasi</strong></p>
<p><strong>Anarki</strong></p>
<ul>
<li> Jurnal Anarki (<a href="http://anarkia.blogdrive.com/" class="external free" title="http://anarkia.blogdrive.com" rel="nofollow">http://anarkia.blogdrive.com</a>)</li>
<li> Jakarta Anarchist Resistance (<a href="http://www.jakartaresistance.net/" class="external free" title="http://www.jakartaresistance.net/" rel="nofollow">http://www.jakartaresistance.net/</a>)</li>
<li> Pustaka Anti Otoritarian (<a href="http://www.jakartaresistance.net/librari/index.php/Halaman_Utama" class="external free" title="http://www.jakartaresistance.net/librari/index.php/Halaman_Utama" rel="nofollow">http://www.jakartaresistance.net/librari/index.php/Halaman_Utama</a>)</li>
<li> Infoshop (<a href="http://www.infoshop.org/" class="external text" title="http://www.infoshop.org" rel="nofollow">www.infoshop.org</a>)</li>
<li> Anarchist People of Colour (<a href="http://www.illegalvoices.org/" class="external free" title="http://www.illegalvoices.org/" rel="nofollow">http://www.illegalvoices.org/</a>)</li>
<li> Institute for Anarchist Studies (<a href="http://www.anarchist-studies.org/" class="external free" title="http://www.anarchist-studies.org/" rel="nofollow">http://www.anarchist-studies.org/</a>)</li>
<li> Newbabylonian (<a href="http://www.newbabylon.tk/" class="external text" title="http://www.newbabylon.tk" rel="nofollow">www.newbabylon.tk</a>)</li>
<li> CrimethInc (<a href="http://www.crimethinc.net/" class="external text" title="http://www.crimethinc.net" rel="nofollow">www.crimethinc.net</a> | <a href="http://www.crimethinc.com/" class="external text" title="http://www.crimethinc.com" rel="nofollow">www.crimethinc.com</a>)</li>
<li> Anarchy Archive (<a href="http://dwardmac.pitzer.edu/Anarchist_Archives/archivehome.html" class="external free" title="http://dwardmac.pitzer.edu/Anarchist_Archives/archivehome.html" rel="nofollow">http://dwardmac.pitzer.edu/Anarchist_Archives/archivehome.html</a>)</li>
</ul>
<p><strong>Situasionist Internasional</strong></p>
<ul>
<li> Bureau of Public Secrets (<a href="http://www.bopsecrets.org/" class="external text" title="http://www.bopsecrets.org" rel="nofollow">www.bopsecrets.org</a>)</li>
</ul>
<p><strong>Marxist Otonomis</strong></p>
<ul>
<li> Prole.info (<a href="http://www.prole.info/" class="external text" title="http://www.prole.info" rel="nofollow">www.prole.info</a>)</li>
<li> Texas Archives of Autonomist Marxism (<a href="http://www.eco.utexas.edu/faculty/Cleaver/txarchintro.html" class="external text" title="http://www.eco.utexas.edu/faculty/Cleaver/txarchintro.html" rel="nofollow">www.eco.utexas.edu/faculty/Cleaver/txarchintro.html</a>)</li>
</ul>
<p><strong>Inter Aktifis</strong></p>
<ul>
<li> Interactivist Info Exchange (<a href="http://www.autonomedia.org/" class="external text" title="http://www.autonomedia.org" rel="nofollow">www.autonomedia.org</a>)</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2006/08/02/anarki-dan-anarkisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anarkisme dan Harmoni</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2006/08/02/anarkisme-dan-harmoni/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2006/08/02/anarkisme-dan-harmoni/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Aug 2006 09:06:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anarkisme]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/v2/2006/08/02/anarkisme-dan-harmoni/</guid>
		<description><![CDATA[Ada berbagai filosofi hidup di planet bernama bumi ini, Marxisme pada saatnya pernah menjadi sebuah filosofi hidup yang disalah artikan di barat, saat ini filosofi hidup yang di salah artikan secara luas di barat adalah Islam yang dipandang berkecendrungan antidemokrasi. Namun bila ingin menyebut sebuah filosofi hidup yang disalah artikan bahkan diseluruh belahan bumi, oleh para penentangnya bahkan oleh mereka yang menganutnya, filosofi yang sial itu bernama Anarkisme!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Anarkisme?</strong><br />
<strong>Oleh : Irvan Irawan Pulungan</strong></p>
<p><em>I am an anarchist! wherefore I will</em><br />
<em>Not rule, and also ruled I will not be!</em><br />
<em>(John Henry Mackay)</em></p>
<p><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>Sabtu 1 Juli 2006 lalu, saya menyaksikan sebuah diskusi publik yang diadakan oleh stasiun televisi ANTV. Diskusi publik tersebut bertajuk ‘Tindakan Anarkis Berkelompok” diskusi ini menampilkan berbagai stakeholder. Namun lucunya diskusi publik ini sama sekali tidak menampilkan pembicara bahkan peserta dari kaum anarki tulen. Menurut hemat saya para pembicaranya adalah mereka yang kita kenal sebagai praktisi hukum positivistik, sedangkan para pesertanya adalah mereka yang kita kenal sebagai kelompok organizes religion dan atau social banditri.</p>
<p><span id="more-101"></span>Bertahun-tahun saya menjadi seorang yang aktif mengkonsumsi berita dari media massa baik elektronik dan tulis. Ada sebuah kata yang begitu menggelitik keingin tahuan saya. Kata itu adalah anarki/anarksime/anarkis. Kita begitu akrab dengan perkataan “tindakan anarkis” untuk menyebutkan tindak kekerasan apapun bentuknya dan siapapun pelakunya, dalam pemberitaan media massa, kata ini digunakan secara luas dari intelektual sampai masyarakat awam. Tapi apakah anarkisme itu sebenarnya? Akhirnya secara komprihensif dan kritis saya mulai mempelajari dan mendiskusikan bahan-bahan anarkisme. Dari kaum oldschool Kropotkin, Kaum 1st International Bakunin dan Praudhon, Emma Goldman sampai William Goodwin, ke para New Shcooler si intelektual Noam Chomsky, Michel Albert, and para Black Block dan Pink Fairy, kubu aliran musik Punk – hardcore – Ska dan membaca/menelaah/mendiskusikan publikasi &#8211; publikasi kaum anarki, otonomis dan situasionis lokal dari Konspirasi Kontra Kultura, Jakarta Resistance Movement, sayap Ikarus sampai Kelompok Bawah Atap, diskusi panas dengan para anarkis muda di Semarang Codot Setiadi, Syailendra dari kubu musik dan Angga Bleki yang blanquist.</p>
<p>Ada berbagai filosofi hidup di planet bernama bumi ini, Marxisme pada saatnya pernah menjadi sebuah filosofi hidup yang disalah artikan di barat, saat ini filosofi hidup yang di salah artikan secara luas di barat adalah Islam yang dipandang berkecendrungan antidemokrasi. Namun bila ingin menyebut sebuah filosofi hidup yang disalah artikan bahkan diseluruh belahan bumi, oleh para penentangnya bahkan oleh mereka yang menganutnya, filosofi yang sial itu bernama Anarkisme!</p>
<p><strong>Perkembangan Anarkisme</strong></p>
<p>Dalam perkembangannya kapitalisme mendapat kritik atas pola produksinya, namun akhirnya gerakan kritik tersebut pecah menjadi bebrapa faksi. Faksi pertama dipimpin oleh Marx dan Engels dengan pola perebutan kekuasaan politiknya, faksi ini mendapat bentuknya di tangan intelektual revolusioner V.I Lenin dengan konsep partai pelopor yang sentralisme demokratik. Menurut Lenin dan para bolshevik tua gerakan revolusioner bertumpu pada kaum buruh, yang dipimpin oleh segelintir revolusioner profesional yang menyuntikkan kesadaran, isu dan memimpin kaum buruh sebagai garda depan revolusioner, garda depan ini haruslah mereka yang bergerak klandestin, ringan dalam bergerak, mampu berpropaganda/agitasi dan mampu bertempur (bandingkan dengan kaum baju coklat fasime nazi dan fasci de Combatimento Mussolini). Merekalah yang akan memimpin kaum buruh dalam perjuangan politik. Kepentingan kolektif sehari &#8211; hari kaum buruh menjadi alat politik dalam konsep ini. Munculnya Mao di Cina merevisi doktrin dasar ini dengan menambahkan kaum tani dalam konfigurasi utama garda depan revolusioner, sedangkan trio Fidel, Raul dan Che Guevara dengan kepemimpinan intelektual yang angkat senjata. Faksi – faksi lainnya seperti sosialisme demokrasi dibawah Edward Brenstain, kubu Rosa Luxemburg yang keduanya mengawali tradisi SDP Jerman (di Indonesia faksi ini terepresentasi dalam PSI pimpinan Syahrir) tidak akan dibahas dalam tulisan kecil ini.</p>
<p>Faksi kedua lebih dikenal dengan pola gerakan anarko sindikalisnya, yang kedua inilah yang dikenal lebih luas sebagai kaum anarkis. Anarko menggabungkan dua visi revolusioner, pertama adalah visi perjuangan politik dan visi kekuatan ekonomi. Anarko memiliki metode aksi yang terdiri dari : pertama adalah Delegation, kedua Sabotase, ketiga aksi langsung (direct action), kemudian General Strike atau bisa digabungkan satu sama lain atau beberapa diantaranya sesuai kebutuhan. Emma Goldman menyatakan elemen &#8211; elemen tersebut hanya akan mencapai kemampuan maksimal dalam transformasi sosial bila didukung dengan kekuatan organisasi massa kaum marginal yang kuat secara ekonomi, kemampuan organisasi, kemampuan politik dan staminta untuk bertahan dalam tekanan koalisi penguasa dan pengusaha.</p>
<p>Dalam perkembangannya tradisi anarkis memang beberapa kali tercebur dalam pola perjuangan aksi kekerasan, seperti yang di lakukan oleh Blanqui, aksi langsung Squammiss Five di Canada era ’80, serta Zengakuren di Jepang. Seorang anarkis tulen Emma Goldman juga pernah melakukan tindak kekerasan, besama dengan Alexander Barkman mencoba membunuh seorang kapitalis industrialis, setelah menjalani pembuangan Emma merevisi tradisi anarkisnya, dengan lantang Emma menyatakan sebuah upaya transformasi sosial menuju kesejahteraan manusia tidak akan dapat mencapai tujuannya bila di lakukan dengan cara-cara kekerasan. Kekerasaan terhadap mahluk hidup menurut Emma adalah hal yang diperangi oleh anarkisme.</p>
<p><strong>Anarkisme saat ini</strong></p>
<p>Revolusi kapitalisme memang masih terus berjalan dengan demikian dahsyat, kita menyaksikan revolusi teknologi informasi dan komunikasi yang demikian masif. Walaupun revolusi (evolusi?) kaum anti-globalisasi-pun berjalan dengan pendulum yang mengayun demikian kencang, kita melihat bagaimana Seatte bergolak, kebangkitan Zapatista, dan yang paling mutakhir adalah pengorganisasian ekonomi anternatif Participatory Economic (ParEcon) dengan visi The Life After Capitalism teori yang dikembangkan oleh Michel Albert. Sungguh mengejutkan! Perkembangan ini menunjukkan bahwa praksis – praksis tersebut adalah tradisi anarkisme selain mungkin Zapatista yang lebih condong pada penguatan negera dan pengakuan eksistensi masyarakat adat dalam pengambilan kebijakan, penentuan prioritas dan tujuan negara Meksiko yang berdaulat dan bermartabat. Namun tetap saja kita dengan mudah melihat tradisi anarkisme pada Zapatista dimana Kaum penutup muka ini menjalankan rezim pemerintahan baiknya, nanpa menunggu dan tanpa peduli dengan pemerintah dan praktek politik praktis yang memuakkan.</p>
<p>Industri humas, informasi dan hiburan adalah salah satu batu penjuru penopang kekuasaan rezim kapitalisme. Bahkan semenjak sebelum 1919, tepatnya saat perang dunia pertama meletus. Rezim kapitalisme yang mulai kokoh di Amerika Serikat dengan John Dewey, sang filsuf pragmatisme memimpin sekelompok intelektual dalam Creel Commision. Komisi inilah dengan Walter Lippman mengembangkan teori demokrasi progresif dimana dalam demokrasi adalah sebuah rezim dengan pemerintahan untuk melindungi kapitalisme pragmatis. Kita dapat melihat bahwa Industri humas, informasi dan hiburan digunakan sebagai alat propaganda yang demikian efektif dalam mendistorsi esensi dari sebuah fenomena masyarakat.</p>
<p>Bila kita dengan kritis membaca koran, mendengarkan radio, menonton berita televisi bahkan dalam tanyangan gosip infotaiment, begitu pula bila kita menonton film – film (biasanya produksi holywood) kita seakan berada dalam sebuah dunia yang demikian brutal, dimana anarkisme/anarkis/anarki menjadi sebuah kata yang bemakna kekerasan/kebrutalan/penghancuran dan atau tindakan protes dengan kemarahan yang merusak. Berita–berita tentang protes akan selalu dengan penayangan visualisasi para pemerotes yang bergandengan tangan mendorong pagar dan atau barikade polisi atau polisi yang memukuli mereka dengan kayu, melontarkan gas air mata atau kadang tembakan peluru karet. Inilah hal–hal yang dianggap memiliki nilai informasi oleh para cukong media dan wartawannya yang demikian tanggung pemahaman jurnalistiknya. Dalam pengalaman penulis bahkan ada seorang wartawan yang berkali–kali memprovokasi dalam berbagai aksi, wartawan tersebut meminta untuk dilakukannya pembobolan gerbang, memberi informasi palsu tentang kesepakatan yang dibangun sebuah faksi dalam aliansi dengan kekuasan (?). Dalam industri hiburanpun kita dapat melihat dengan jelas distorsi makna yang terjadi, dimana band–band yang menganut filososi Anarki digambarkan dengan brutalisme dan keburukan–keburukan kebebasan berpikir dan keburukan kebebasan tanpa tanggung jawab. Yang dengan sangat lucu begitu bertentangan dengan filososi anarki itu sendiri.</p>
<p>Kaum anarki berlandaskan pada pandangan yang bebas dan spontan, tidak ada kebekuan ideologi ataupun dogmatisme praksis. Pengalaman–pengalaman gerakan hanyalah pisau bedah analisis dalam evaluasi dan perumusan aksi langsung. Dengan keadaan media yang demikian rupa, dan pengalaman–pengalaman dengan pilihan kekerasan seperti Blanqui, Hypermarket, Genoa, Krostand, Mahknovist, pengalaman 1936 sampai pengalaman Anne Hansen. Gerakan anarkis merumuskan sebuah pola baru dalam aksi. Dalam aksi–aksi barisan dipisahkan menurut kepercayaannya dan fungsinya masing–masing, barisan kekerasan berbaris dibawah panji–panji biru. Dengan kepercayaan tersebut barisan ini berfungsi sebagai pelindung keseluruhan demonstran dari luka–luka dan penangkapan, barisan ini berisi kelompok–kelompok paramiliter dan garis keras, mereka bertugas berkonfrontasi dengan polisi dan militer, kemudian mereka yang moderat disampingnya dengan warna kuning dan barisan yang menolak kekerasan dalam barisan pink dan perak dibawah pimpinan para bidadari dan malaikat berwarna pink mereka melemparkan kertas berwarna–warni ke udara, membawa pistol air untuk melawan bedil–bedil dan bahkan membawa bulu ayam untuk menggelitik para polisi dan militer ( saya jelas berada dalam barisan ini, kalo si Angga mungkin bersama barisan biru).</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Anarkisme adalah sebuah proses pembangunan organik. Sebuah filosofi perdamaian yang mendasari kritik-kritiknya pada kemampuan manusia untuk mengatur dirinya sendiri dan hubungan-hubungan antar individu dalam komunitas yang otonom. Pondasinya adalah kepercayaan bahwa manusia terlahir dengan kemampuan– kemampuan bawaan seperti salah satunya kemampuan linguistik, fenomena ini dengan indah dijelaskan oleh Chomsky dalam Teori Linguistik Generatif. Selain kemampuan– kemampuan tersebut saya demikian percaya bahwa manusia juga dilengkapi dengan naluri – naluri dasar yang menurut kami adalah:</p>
<ol>
<li> <strong>Naluri harmonisasi Umat manusia</strong><br />
Kita akan sangat terkejut mungkin dulu kita teringat sewaktu kecil, kita mendambakan sebuah dunia yang demikian penuh warna dan kebahagiaan. Seiring waktu tahun demi tahun berlalu, kita demikian terdistorsi dengan dunia melalui propaganda dunia. Kita terdistorsi dengan patriotisme yang kadang demikian brutal, kekacauan dan rasa frustasi yang menggelapkan logika dan menghilangkan kemampuan dasar manusia untuk saling bicara dan mendengar.</li>
<li> <strong>Naluri Kegotong royongan (mutual aid)</strong><br />
Dengan demikian anarki adalah sebuah filosofi hidup yang berdasarkan pada komunitas–komunitas bebas dalam bahasa Malastesta Komune Pembebasan (semoga terjemahan saya tentang Komune Pembebasan Errico Malastesta segera selesai) tujuan dari komune–komune ini adalah kesejahteraan sosial yang genuine, dimana seluruh manusia memiliki akses terhadap kehidupan yang layak. Harmonisasi umat manusia adalah satu – satunya tujuan hidup!</li>
</ol>
<p>Terima kasih, semoga kita semua lekas sembuh.</p>
<p><strong>Referensi</strong></p>
<ul>
<li> <strong>Bahan Bacaan</strong>
<ol>
<li> Emma Goldman : Anarchism : What it Realy Stands For.</li>
<li> David Graeber : The New Arachist.</li>
</ol>
</li>
<li> <strong>Bahan Dengaran</strong>
<ol>
<li> Wall of Blood Wall Of Steel</li>
<li> Ode to Bicycle massenger.</li>
</ol>
</li>
<li> <strong>Bahan Tontonan</strong>
<ol>
<li> Rebel Without A Pause.</li>
<li> Recleming the Street.</li>
</ol>
</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2006/08/02/anarkisme-dan-harmoni/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teori Positif Anarkisme</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2006/08/02/teori-positif-anarkisme/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2006/08/02/teori-positif-anarkisme/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Aug 2006 08:53:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anarkisme]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/v2/2006/08/02/teori-positif-anarkisme/</guid>
		<description><![CDATA[Perlawanan kaum Anarkis menitikberatkan kepada penghancuran segala bentuk institusi yang bersifat menekan. Walaupun kapitalisme merupakan sebuah format besar dalam organisasi kemasyarakatan yang bertujuan dalam hal produktifitas, kaum kapitalisme tidak akan dapat berkembang tanpa adanya sebuah kekuatan dari institusi lain yang dapat mengontrol dan menekan masyarakat. Institusi itulah yang disebut Negara.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Joshua Andrew</strong></p>
<dl>
<dd><em>“Saya ingin bebas! Saya berharap untuk bisa berbahagia! Tapi kebebasan saya hanya dapat diperoleh bila orang di sekitar saya merasa bebas. Saya hanya dapat merasa bahagia apabila orang disekitar saya pun merasa bahagia. Saya hanya bisa nyaman, apabila orang-orang yang saya temui dan saya lihat di dunia ini merasa nyaman. Dan saya hanya dapat makan dengan nyaman apabila orang lain juga dapat merasa nyaman dengan makan seperti saya. Dan untuk alasan tersebut, dari diri saya sendiri, saya memberontak menantang setiap bahaya yang mengancam kebahagiaan dan kebebasan saya&#8230;”</em> (The Brickbunner Magazine, B. Traven). </dd>
</dl>
<p>Anarkisme/Anarki. Sebuah kata yang kerap kali didengar dan diucapkan, tetapi selalu dalam konotasi makna yang negatif. Berbagai tindakan kekerasan, penghancuran mal maupun toko, pembunuhan, selalu dikonotasikan sebagai tindakan Anarkis. Makna filosofis dan idealisme yang terdapat dalam kata Anarkisme hilang sama sekali. Sebuah pemikiran intelektual yang merupakan sebuah filsafat pemusnahan sebuah monopoli ekonomi, institusi politik dan sosial dihapus dengan sebuah asumsi yang bodoh bahwa Anarkisme/Anarki hanyalah sebuah aksi atau tindakan brutal dari sekelompok orang yang melakukan pemberontakan fisik.</p>
<p><span id="more-97"></span>Kata Anarkisme / Anarchy berasal dari bahasa Yunani : an-archos, yang berarti tanpa pemerintah atau tanpa penguasa. Interpretasi dari kaum Anarkis sendiri berarti “Tidak ada yang menjadi penguasa diatas semua orang (Nobody being boss over anybody else)”. Anarkisme sangat mengutamakan perbaikan peningkatan kesempatan individual yang dapat berguna bagi masyarakat. Penentangan terhadap segala bentuk hegemoni dari sebuah sistem –terutama yang terkontaminasi oleh budaya kapitalisme&#8211; terhadap setiap individu menjadi prioritas agenda perlawanan masyarakat Anarkis. Anarkisme bukanlah sebuah ide utopia yang disampaikan oleh pemikir-pemikir yang imaginatif, tetapi merupakan kesimpulan logika dari penelitian mengenai kebobrokan sistem sosial yang ada pada saat ini.</p>
<p>Perlawanan kaum Anarkis menitikberatkan kepada penghancuran segala bentuk institusi yang bersifat menekan. Walaupun kapitalisme merupakan sebuah format besar dalam organisasi kemasyarakatan yang bertujuan dalam hal produktifitas, kaum kapitalisme tidak akan dapat berkembang tanpa adanya sebuah kekuatan dari institusi lain yang dapat mengontrol dan menekan masyarakat. Institusi itulah yang disebut Negara. Negara itu sendiri akhirnya memiliki ketegori terselubung sebagai sebuah otoritas yang mengekang segala kebebasan individu yang justru tidak pernah disadari oleh setiap orang yang merasa dirinya bagian dari yang tertindas. Manusia yang selama ini dikatakan mempunyai hak penuh untuk hidup sebagaimana layaknya manusia yang bebas, secara tidak sadar ia tidak lagi hidup seperti manusia tetapi justru seperti robot yang bergerak atau tidaknya diatur oleh remote control yang berada di tangan negara. Karena itu secara teknis untuk menggantikan organisasi negara, akan dibentuk sebuah federasi yang beranggotakan komunita-komunita bebas, yang akan berasosiasi antara satu sama lain untuk kepentingan bersama dalam masalah ekonomi dan sosial. Asosiasi antara komunita-komunita tersebut akan didasari oleh perjanjian dan kontrak yang bebas. Penggantian dari semua kebobrokan sistem ekonomi kapitalis dilakukan dengan mendirikan asosiasi yang bebas berdasarkan ko-operasi antara semua pihak yang produktif.</p>
<p>Kekuasaan birokrat yang semakin berkembang dalam menjaga dan mengamankan kehidupan seseorang dari bayi sampai ajal merupakan halangan yang semakin besar bagi ko-operasi antar manusia dan menghancurkan setiap kemungkinan untuk perkembangan setiap sistem yang baru. Sebuah sistem yang dalam setiap tindakannya mengorbankan kesejahteraan sebagian besar masyarakat demi memenuhi kerakusan untuk kekuasaan dan kekayaan kaum minoritas, sudah pasti akan memusnahkan semua hubungan sosial, yang kemudian menuju kepada perang (yang abadi) antara sesama manusia. Dari sistem ini juga timbul reaksi sosial dalam bentuk fasisme, sebuah paham yang mempunyai obsesi untuk kekuasaan, melebihi monarki absolut berabad-abad yang lalu, dan yang ingin menggunakan institusi negara untuk mengontrol setiap aspek kehidupan manusia. Sama seperti berbagai macam sistem teologi agama, Tuhan adalah segalanya sedangkan manusia tidak ada apa-apanya, untuk teologi politik moderen ini, negara adalah segalanya dan manusia tidak ada apa-apanya. Dan juga seperti “keinginan Tuhan”, selalu ada keinginan kaum minoritas yang terselubung di balik “keinginan (kepentingan) negara”, yang dipaksakan kepada mayoritas masyarakat.</p>
<p>Karenanyalah Anarkisme hadir untuk menjawab dilema arogansi otoritas negara dan segala bentuk kekuasaan yang absolut. Eksistensi Anarkisme adalah sebagai kontra arogansi yang otoriter.</p>
<p>(Joshua Andrew)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2006/08/02/teori-positif-anarkisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anarkis Yunani</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2006/05/29/anarkis-yunani/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2006/05/29/anarkis-yunani/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 May 2006 12:13:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anarkisme]]></category>
		<category><![CDATA[Direct Action]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/v2/2006/05/29/anarkis-yunani/</guid>
		<description><![CDATA[17 November 1973: Pasukan khusus, tank-tank dan polisi bersenjata mengevakuasi Politeknik Athena (universitas teknik) yang berlokasi di tengah kota. Mahasiswa, pekerja, dan petani menduduki universitas tersebut dan mengadakan protes terhadap rezim militer yang mulai berkuasa semenjak 21 April 1967. Tuntutan mereka adalah kebebasan. Setelah kejadian, desas-desus menyimpullkan 200 orang mati pada peristiwa tersebut;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>POLITEKNIK 1973-1990</strong></p>
<p>Sebuah sejarah singkat gerakan perlawanan di Yunani:</p>
<p><strong>17 November 1973</strong>: Pasukan khusus, tank-tank dan polisi bersenjata mengevakuasi Politeknik Athena (universitas teknik) yang berlokasi di tengah kota. Mahasiswa, pekerja, dan petani menduduki universitas tersebut dan mengadakan protes terhadap rezim militer yang mulai berkuasa semenjak 21 April 1967. Tuntutan mereka adalah kebebasan. Setelah kejadian, desas-desus menyimpullkan 200 orang mati pada peristiwa tersebut; sementara informasi resmi menyebutkan 30 orang. Selama terjadinya pendudukan, slogan-slogan dan grafiti anarkis muncul untuk pertama kalinya semenjak tahun 1920an. Junta militer akhirnya di tumbangkan setelah pemberontakan besar-besaran.</p>
<p><span id="more-104"></span> <strong>17 November 1974</strong>: Rejim &#8216;demokratik&#8217; baru merayakan kemenangan pertama dari pemberontakan tahun 1973 dengan mengadakan sebuah pemilihan umum: pemilihan ini di menangkan oleh Partai Konservatif, &#8216;Nea Dimokratia&#8217;.</p>
<p><strong>17 November 1975</strong>: Serikat Nasional Pelajar Yunani (EFEE) mengorganisir sebuah aksi untuk memberi penghormatan pada pemberontakan 1973, dengan berjalan menuju kedutaan Amerika Serikat. Gedung kedutaan tersebut menjadi sasaran pelemparan telur dan cat merah oleh aktifis-aktifis sayap-kiri dan anarkis. Semenjak tahun ini dan setelahnya, 17 november di peringati dengan aksi berjalan dari universitas Politeknik menuju kedutaan AS.</p>
<p><strong>1975</strong>: sebuah organisasi bersenjata revolusioner bernama &#8216;17 Noemvri&#8217; (17 november) melakukan aksi pertamanya; mereka membunuh Richard Welch, seorang agen CIA yang bertugas di Athena.</p>
<p><strong>17 November 1980</strong>: Pemerintah melarang aksi berjalan mendekati kedutaan AS. Sejumlah besar kekuatan polisi di kerahkan untuk memblokade aksi di Syntagma square. Aktifis sayap kiri dan anarkis mencoba menerobos blokade dan polisi pun mulai melakukan penyerangan. Dua orang anarkis, Stamatina Kanellopoulou dan Lakovos Koumis di pukuli sampai tewas oleh polisi. Ratusan lainnya terluka secara serius dan di larikan ke rumah sakit. Para anarkis kembali ke Universitas Politeknik dan memulai pendudukan. Polisi kemudian mengepung wilayah tersebut, Dua orang mahasiswa terkena serangan tembakan. Ironisnya bukanlah polisi yang menyerang para anarkis agar menghentikan pendudukan, tapi pemuda &#8216;komunis&#8217; (KNE). Perdana menteri, G.Rallis, mengatakan bahwa insiden tersebut di lakukan dan di rencanakan oleh polisi resmi pro-PASOK (PARTAI SOSIALIS).</p>
<p><strong>17 November 1985</strong>: Setelah melakukan aksi berjalan dari Politeknik menuju kedutaan AS, para anarkis kembali ke Exarchia square. Pada pukul 11.30 siang, tiga polisi memprovokasi 3 kamerad di tempat tersebut. Sekitar 50an orang kemudian mengikuti polisi-polisi tadi yang sedang berjalan menuju bus mereka yang di parkir dekat situ. Dengan sekejap sebuah molotov di lemparkan ke bus polisi; satu dari antara polisi tersebut, yang bernama Athanasios Melistas, meresponnya dengan menjongkok dan mulai mengarahkan tembakan. Salah satu teman kami yang sedang berjalan meninggalkan tempat tersebut, Mihalis Kaltezas, yang baru berumur 15 tahun, tewas karena dua peluru bersarang di kepalanya. Polisi kemudian malah menyerang para anarkis di square bukannya mengamankan si penembak dan mencari pelaku pelempar molotov. Setelah itu para anarkis melakukan pendudukan di fakultas kimia dan melawan serangan polisi sampai pukul 10 malam. Pagi harinya pasukan khusus menyerang pendudukan dan menahan 39 orang kamerad. Mereka dilepaskan setelah terjadi mogok makan dan minum selama 18 hari. (di tahun 1989, 39 orang tersebut di jatuhi hukuman enam bulan penjara dengan tuduhan &#8216;mengacaukan keamanan&#8217;). Sementara itu, Melistas, sang polisi pembunuh, tetap bebas. Kamerad-kamerad lainnya melakukan pendudukan di Politeknik lalu mulai mengorganisir aksi berjalan dan demonstrasi. Anggota Partai Sosialis PASOK, birokrat serikat-serikat, fasis-fasis dari organisasi EPEN dan ENEK, dan juga polisi berkolaborasi untuk mengevakuasi Politeknik, mereka menyerang apapun yang bergerak disitu. Bantuan terbesar untuk polisi, bagaimanapun, di berikan oleh grup-grup sayap-kiri disitu, mereka &#8216;meyakinkan&#8217; para pelaku pendudukan untuk membuat aksi berjalan dan meninggalkan gedung.</p>
<p><strong>17 November 1986</strong>: Polisi dengan pakaian sipil di dapati berada di dalam aksi berjalan. Para polisi ini kemudian dipukuli dan pistol mereka direbut. Terjadi pertempuran jalanan dan pelemparan gas air mata di dekat hotel Hilton. (beberapa bulan kemudian, polisi menangkap Sotiris Deliyiannis karena ketahuan memiliki salah satu pistol milik polisi yang di pukuli). Sotiris di kenakan hukuman penjara 11 tahun dan 6 bulan penjara dengan tuduhan &#8220;perampokan&#8221;).</p>
<p><strong>17 November 1987</strong>: Para anarkis melempar molotov ke kedutaan AS. Polisi meresponnya dengan melempar gas air mata dan mengerahkan tank-tank air.</p>
<p><strong>September 1988</strong>: Di dalam sebuah parodi pengadilan, Melistas di nyatakan ‘bersalah karena telah melampaui prosedur pembelaan diri ‘di bawah kondisi panik’, dan di jatuhi hukuman 2 setengah tahun penjara. Melistas naik banding dan pengadilan menunda hukuman kemudian membebaskannya untuk kembali pada tugas kepolisian. Para anarkis mengorganisir protes atas kebijakan tersebut, dan di respon dengan tindakan kekerasan yang hebat dari polisi. Tiga orang kamerad di tangkap karena menyimpan Molotov, mereka di ancam hukuman 36 tahun penjara. Mereka di bebaskan ketika naik banding di setujui.</p>
<p><strong>17 November 1988</strong>: Pertempuran jalanan rutin antar anarkis dan polisi terjadi; polisi menggunakan gas air mata dan tongkat kayu juga mengejar para demonstran dengan motor.</p>
<p><strong>12 Januari 1989</strong>: Di karenakan tekanan dari media massa dan para politisi, Melistas kembali di tangkap.</p>
<p><strong>18 Juni 1989</strong>: Partai konservatif, ‘Nea Demokratia’ memenangkan pemilihan umum, namun tidak dengan mayoritas mereka di dalamnya; sebuah koalisi partai di bentuk dengan Partai Komunis. Dua anggota (pengacara) keluarga Kaltezas menjadi menteri. Sidang banding bagi Melistas akan di langsungkan pada bulan September.</p>
<p>Meskipun merupakan anggota keluarga korban yang telah menjadi menteri, pengadilan kembali di tunda dan Melistas di bebaskan kembali.</p>
<p><strong>5 November 1989</strong>: Sebuah pemilihan umum di adakan dan menghasilkan sebuah koalisi baru antara aliran konservatif, sosialis (PASOK), dan komunis. Pemerintahan koalisi ini berada di bawah kendali Xenophon Zolotas, seorang mantan professor dan Bankir yang berumur 85 tahun.</p>
<p><strong>17 November 1989</strong>: Pertempuran jalanan terjadi.</p>
<p><strong>26 Januari 1990</strong>: Sidang banding yang di hadiri oleh hakim-hakim yang bernama Hadjakis, Smirneos, Karagiannopoulos dan empat anggota juri mengampuni sang pembunuh (Melistas). Para anarkis melakukan protes di jalan-jalan Athena. Polisi menggunakan gas C.S yang di larang secara internasional untuk merepresi protes. Lebih dari 2000 kamerad menduduki Politeknik dan melawan penyerangan polisi dengan menggunakan molotov. Lima polisi terbakar. 3 kamerad terluka. Bus-bus di hentikan dan di jadikan barikade. Pemerintah menolak untuk menarik mundur polisi.</p>
<p><strong>26 Januari 1990</strong>: Para pelaku pendudukan di Politeknik membentuk sebuah badan permanen baru; mengajak bergabung pelajar-pelajar smu dan smp, serta pekerja. Pada malam harinya diadakan acara musik terbuka yang di hadiri sebanyak 5000 orang. Universitas-universitas di Thessaloniki, Loannina, dan Rethmno di duduki oleh pelajar dan anarkis. Di Thessaloniki para anarkis menyerang kantor-kantor International Expo dengan Molotov.</p>
<p>Sehubungan dengan pengampunan Melistas, pemerintah menyatakan bahwa konstitusi Yunani melarang adanya kritisisme terhadap keputusan pengadilan. Kedua menteri yang merupakan anggota keluarga Kaltezas menuruti maklumat ini.</p>
<p><strong>31 Januari 1990</strong>: Aksi berjalan yang di organisir oleh Serikat Nasional Pelajar Yunani (EFEE) di ikuti lebih dari 10.000an orang.</p>
<p><strong>4 Februari 1990</strong>: Aksi berjalan yang di organisir oleh pelaku pendudukan di Politeknik merangsang 6000 orang bergabung; graffiti-graffiti anarkis Turki muncul di dinding-dinding sebagai wujud solidaritas.</p>
<p><strong>5 Februari 1990</strong>: Pelajar smu menduduki lebih dari 50 sekolah di wilayah Athena. Beberapa dari pelaku pendudukan memblok jalan-jalan. Beberapa individu dan kelompok anarkis (diantaranya beberapa pengacara anarkis) menduduki kantor-kantor asosiasi pengacara Athena dan membuat sebuah konferensi pers yang menekankan permasalahan di dalam sistem Judisial di Yunani dan menyerukan solidaritas pada para tahanan yang berjuang. Mereka di bawa ke kantor polisi dan dipaksa untuk meneriakan “panjang umur polisi Yunani” dan “Melistas adalah pahlawan” sembari di siksa secara brutal. Di hari-hari berikutnya, EFEE merubah sikap mereka terhadap pelaku pendudukan, menyuruh mereka membiarkan mahasiswa lainnya yang ingin mengikuti ujian.</p>
<p><strong>7 Februari 1990</strong>: <em>‘Nea Demokratia’</em> menghimpun organisasi pelajarnya untuk menghajar pendudukan. Hanya 20 orang yang muncul. Menteri pendidikan meminta polisi untuk melakukan intervensi – Dekan dan rektor memiliki status ‘dilindungi’.</p>
<p><strong>9 Februari 1990</strong>: Konfederasi Umum Pekerja Yunani (GSEE) menggerakan kaum kelas pekerja untuk mendatangi dan mengakhiri pendudukan. 500 polisi dengan pakaian sipil, orang-orang serikat pekerja, dan fasis datang menyerang – sebanyak 2500 pelaku pendudukan masih berada di sana untuk merespon para penyerang. Meski para pelaku pendudukan sangat bersikeras dan tangguh, media mulai membuat disorientasi pada opini publik, berbohong bahwa ‘status dilindunginya’ Politeknik merupakan akar dari masalah. Media menyerukan agar polisi melakukan intervensi. Dekan dan Rektor datang untuk melakukan negosiasi pada para pelaku pendudukan.</p>
<p><strong>11 Februari 1990</strong>: Dekan dan para professor mengatakan kalau mereka sudah tidak tahan lagi dengan tekanan yang di berikan oleh media dan negara. Mereka mengatakan kalau Politeknik tidak lagi dapat berfungsi sebagai sebuah sekolah, dan ini membuat polisi bebas untuk menyerang. Para pelaku pendudukan berpendapat bahwa situasi semacam ini akan membuat jatuhnya korban lebih besar dari dua pihak. Mereka memutuskan untuk mengevakuasi gedung pada malam harinya, namun masih bersiteguh untuk melanjutkan perjuangan melawan kebijakan yang melepaskan Melistas juga melawan sistem ‘Keadilan’ sebagai sebuah institusi.</p>
<p><strong>12 Februari 1990</strong>: Konser di adakan pada waktu sore hari. Evakuasi yang damai berlangsung di malam hari. (tanpa kehadiran polisi)</p>
<p><strong>13 Februari 1990</strong>: Pelajar dan anarkis mengevakuasi universitas-universitas di Joannina dan Rethimno. Pelajar dari universitas Ionian di Corfu menduduki perumahan polisi, sebagai protes terhadap kondisi pelajar, kasus Melistas dan tindak represi negara. Pendudukan berlangsung selama beberapa jam. Jam-jam sebelum pendudukan terjadi, mobil-mobil di bakar di wilayah Thessaloniki dan Patra.</p>
<p><strong>14 Februari 1990</strong>: 25 gedung smu masih di duduki oleh para pelajar di wilayah Athena, dan sebuah aksi berjalan di organisir. Kostas Kefalas (yang di tangkap pada tanggal 9 februari karena tindakan pencurian medali olah raga di Politeknik) di tahan untuk menunggu sidang. Jaksa umum mengumumkan keputusan untuk menuntut anggota-anggota komite Politeknik antara lain: seorang professor, dan seorang pelajar karena telah mendukung para kriminal dengan menolak memberi jalan masuk pada polisi. (di hari yang sama, sang Dekan menerima sumpahnya dan di nobatkan sebagai Menteri Transportasi dan Komunikasi!) Media masih melancarkan propaganda untuk menyudutkan para anarkis, menghendaki di tangkapnya ‘pemimpin para anarkis’ – agar bertanggung jawab atas kerusakan-kerusakan yang terjadi.<br />
Anarkisme mengalami kebangkitan kembali di Yunani. Di sebuah wilayah dimana otoritas dan negara menjadi sangat represif, dan dengan tradisi lama akan aksi langsung, anarkisme menerima dukungan popular yang semakin meluas, terutama pada kaum mudanya. Ini adalah sejarah singkat perlawanan di Yunani semenjak di jatuhkannya kediktatoran militer yang berpusat di Politeknik, Athena.<br />
<em><strong>Pengumpulan/terjemah: Eat</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2006/05/29/anarkis-yunani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asal Kata Anarki</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2006/05/22/asal-kata-anarki/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2006/05/22/asal-kata-anarki/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 May 2006 14:35:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anarkisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/v2/2006/05/22/asal-kata-anarki/</guid>
		<description><![CDATA[Maka, sejak pemikiran bahwa pemerintah itu penting dan kondisi tanpa pemerintah maka dari itu hanyalah keadaan kacau dan membingungkan, maka amatlah wajar dan logis bahwa anarki, yang berarti absennya pemerintah, akanlah kedengaran seperti absennya keteraturan. Tak satupun fenomena ini tak berkaitan dengan omong kosong belaka.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>KATA &#8220;<strong>anarki</strong>&#8221; seringkali digunakan secara luas untuk menggambarkan suatu keadaan yang tak beraturan dan membingungkan; dan hingga hari ini kata itu digunakan oleh lawan-lawan politiknya dengan maksud untuk mengaburkan kebenaran.</p>
<p>Kita tak akan masuk dalam suatu diskusi filosofis, karena pertanyaannya menyangkut sejarah dan bukanlah filsafat. Interpretasi umum akan kata itu memang mengandung kebenaran dari makna etimologisnya; tetapi interpretasi tersebut menjadi derivatif sampai-sampai menjadi pandangan sangkaan bahwa pemerintah merupakan organ yang penting dalam kehidupan sosial, dan bahwa masyarakat tanpa pemerintah tentu saja merupakan satu bentuk ketidakteraturan, dan berfluktuasi antara arogansi liar dan balas dendam buta terhadap sesama.</p>
<p><span id="more-81"></span>Eksistensi sangkaan ini dan pengaruhnya definisi masyarakat umum akan kata &#8220;anarki&#8221; dapat dengan mudah dijelaskan. Manusia, seperti halnya mahluk hidup lain, beradaptasi dan menyesuaikan dirinya dengan kondisi tempat ia hidup dan atas dasar adat perilaku yang berlaku. Jadi, manakala ia terlahir dan dibesarkan di dalam batasan, jika ia merupakan garis keturunan dari budak, ia akan berpikir bahwa perbudakan itu merupakan kondisi perlu dalam kehidupan dan kemerdekaan tanpak tak mungkin bagi mereka. Hal serupa juga berlaku bagi para buruh yang telah beradab-abad dibebani dan oleh karenanya menyesuaikan diri untuk bergantung pada pekerjaan, yakni pada upah, pada kebaikan hati si tuan, dan melihat bahwa hidupnya selalu bergantung pada kebaikan hati si tuan yang memberinya makan, dan tak tertarik untuk bertanya pada orang bagaimana mungkin mereka bisa hidup jika tak ada tuan-tuan tersebut.</p>
<p>Maka, sejak pemikiran bahwa pemerintah itu penting dan kondisi tanpa pemerintah maka dari itu hanyalah keadaan kacau dan membingungkan, maka amatlah wajar dan logis bahwa anarki, yang berarti absennya pemerintah, akanlah kedengaran seperti absennya keteraturan. Tak satupun fenomena ini tak berkaitan dengan omong kosong belaka. Beberapa kali dan di beberapa negara dimana masyarakat percaya akan dibutuhkannya pemerintah yang dijalankan oleh satu orang (monarki), kata &#8220;republik&#8221; yang artinya pemerintah dijalankan oleh orang banyak dianggap sebagai suatu yang kacau dan membingungkan &#8211;dan pengertian ini masih dapat bisa ditemukan dalam bahasa populer di hampir setiap negara.</p>
<p>Pergantian pendapat meyakinkan masyarakat bahwa pemerintah tak hanya tak penting tetapi amatlah berbahaya, dan kemudian kata anarki, hanya karena berarti absennya pemerintah, akan menjadi sarana bagi banyak orang: keteraturan yang alami, persatuan atas dasar kebutuhan dan kepentingan semua manusia, kebebasan penuh di dalam solidaritas yang penuh.</p>
<p>Maka dari itu, bagi yang menyakatan bahwa para anarkis telah salah memiliki nama karena seringkali diartikan salah oleh massa rakyat dan membuat interpretasi yang salah, merupakan juga kesalahan. Kesalahan tidaklah berasal dari kata, tetapi dari kebendaannya; dan kesulitan yang dihadapi oleh kaum anarkis atas propaganda mereka tak akan bersandar pada nama yang mereka ambil, tetapi pada fakta bahwa konsep mereka bertentangan dengan semua sangkaan yang telah lama ada dalam masyarakat akan fungsi pemerintah, atau biasanya mereka sebut dengan Negara.</p>
<p><strong>Referensi</strong></p>
<ul>
<li> Judul : Asal Kata &#8220;Anarki&#8221;</li>
<li> Penulis : <a href="http://pustaka.otonomis.org/index.php?title=Errico_Malatesta" title="Errico Malatesta">Errico Malatesta</a></li>
<li> Sumber : Anarchy, pertamakali dipublikasikan di Italia tahun 1891.</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2006/05/22/asal-kata-anarki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
