<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pustaka Otonomis &#187; Direct Action</title>
	<atom:link href="http://pustaka.otonomis.org/category/direct-action/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pustaka.otonomis.org</link>
	<description>Sekedar sebuah weblog WordPress lainnya</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Feb 2009 06:21:27 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Anarkis Yunani</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2006/05/29/anarkis-yunani/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2006/05/29/anarkis-yunani/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 May 2006 12:13:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anarkisme]]></category>
		<category><![CDATA[Direct Action]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/v2/2006/05/29/anarkis-yunani/</guid>
		<description><![CDATA[17 November 1973: Pasukan khusus, tank-tank dan polisi bersenjata mengevakuasi Politeknik Athena (universitas teknik) yang berlokasi di tengah kota. Mahasiswa, pekerja, dan petani menduduki universitas tersebut dan mengadakan protes terhadap rezim militer yang mulai berkuasa semenjak 21 April 1967. Tuntutan mereka adalah kebebasan. Setelah kejadian, desas-desus menyimpullkan 200 orang mati pada peristiwa tersebut;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>POLITEKNIK 1973-1990</strong></p>
<p>Sebuah sejarah singkat gerakan perlawanan di Yunani:</p>
<p><strong>17 November 1973</strong>: Pasukan khusus, tank-tank dan polisi bersenjata mengevakuasi Politeknik Athena (universitas teknik) yang berlokasi di tengah kota. Mahasiswa, pekerja, dan petani menduduki universitas tersebut dan mengadakan protes terhadap rezim militer yang mulai berkuasa semenjak 21 April 1967. Tuntutan mereka adalah kebebasan. Setelah kejadian, desas-desus menyimpullkan 200 orang mati pada peristiwa tersebut; sementara informasi resmi menyebutkan 30 orang. Selama terjadinya pendudukan, slogan-slogan dan grafiti anarkis muncul untuk pertama kalinya semenjak tahun 1920an. Junta militer akhirnya di tumbangkan setelah pemberontakan besar-besaran.</p>
<p><span id="more-104"></span> <strong>17 November 1974</strong>: Rejim &#8216;demokratik&#8217; baru merayakan kemenangan pertama dari pemberontakan tahun 1973 dengan mengadakan sebuah pemilihan umum: pemilihan ini di menangkan oleh Partai Konservatif, &#8216;Nea Dimokratia&#8217;.</p>
<p><strong>17 November 1975</strong>: Serikat Nasional Pelajar Yunani (EFEE) mengorganisir sebuah aksi untuk memberi penghormatan pada pemberontakan 1973, dengan berjalan menuju kedutaan Amerika Serikat. Gedung kedutaan tersebut menjadi sasaran pelemparan telur dan cat merah oleh aktifis-aktifis sayap-kiri dan anarkis. Semenjak tahun ini dan setelahnya, 17 november di peringati dengan aksi berjalan dari universitas Politeknik menuju kedutaan AS.</p>
<p><strong>1975</strong>: sebuah organisasi bersenjata revolusioner bernama &#8216;17 Noemvri&#8217; (17 november) melakukan aksi pertamanya; mereka membunuh Richard Welch, seorang agen CIA yang bertugas di Athena.</p>
<p><strong>17 November 1980</strong>: Pemerintah melarang aksi berjalan mendekati kedutaan AS. Sejumlah besar kekuatan polisi di kerahkan untuk memblokade aksi di Syntagma square. Aktifis sayap kiri dan anarkis mencoba menerobos blokade dan polisi pun mulai melakukan penyerangan. Dua orang anarkis, Stamatina Kanellopoulou dan Lakovos Koumis di pukuli sampai tewas oleh polisi. Ratusan lainnya terluka secara serius dan di larikan ke rumah sakit. Para anarkis kembali ke Universitas Politeknik dan memulai pendudukan. Polisi kemudian mengepung wilayah tersebut, Dua orang mahasiswa terkena serangan tembakan. Ironisnya bukanlah polisi yang menyerang para anarkis agar menghentikan pendudukan, tapi pemuda &#8216;komunis&#8217; (KNE). Perdana menteri, G.Rallis, mengatakan bahwa insiden tersebut di lakukan dan di rencanakan oleh polisi resmi pro-PASOK (PARTAI SOSIALIS).</p>
<p><strong>17 November 1985</strong>: Setelah melakukan aksi berjalan dari Politeknik menuju kedutaan AS, para anarkis kembali ke Exarchia square. Pada pukul 11.30 siang, tiga polisi memprovokasi 3 kamerad di tempat tersebut. Sekitar 50an orang kemudian mengikuti polisi-polisi tadi yang sedang berjalan menuju bus mereka yang di parkir dekat situ. Dengan sekejap sebuah molotov di lemparkan ke bus polisi; satu dari antara polisi tersebut, yang bernama Athanasios Melistas, meresponnya dengan menjongkok dan mulai mengarahkan tembakan. Salah satu teman kami yang sedang berjalan meninggalkan tempat tersebut, Mihalis Kaltezas, yang baru berumur 15 tahun, tewas karena dua peluru bersarang di kepalanya. Polisi kemudian malah menyerang para anarkis di square bukannya mengamankan si penembak dan mencari pelaku pelempar molotov. Setelah itu para anarkis melakukan pendudukan di fakultas kimia dan melawan serangan polisi sampai pukul 10 malam. Pagi harinya pasukan khusus menyerang pendudukan dan menahan 39 orang kamerad. Mereka dilepaskan setelah terjadi mogok makan dan minum selama 18 hari. (di tahun 1989, 39 orang tersebut di jatuhi hukuman enam bulan penjara dengan tuduhan &#8216;mengacaukan keamanan&#8217;). Sementara itu, Melistas, sang polisi pembunuh, tetap bebas. Kamerad-kamerad lainnya melakukan pendudukan di Politeknik lalu mulai mengorganisir aksi berjalan dan demonstrasi. Anggota Partai Sosialis PASOK, birokrat serikat-serikat, fasis-fasis dari organisasi EPEN dan ENEK, dan juga polisi berkolaborasi untuk mengevakuasi Politeknik, mereka menyerang apapun yang bergerak disitu. Bantuan terbesar untuk polisi, bagaimanapun, di berikan oleh grup-grup sayap-kiri disitu, mereka &#8216;meyakinkan&#8217; para pelaku pendudukan untuk membuat aksi berjalan dan meninggalkan gedung.</p>
<p><strong>17 November 1986</strong>: Polisi dengan pakaian sipil di dapati berada di dalam aksi berjalan. Para polisi ini kemudian dipukuli dan pistol mereka direbut. Terjadi pertempuran jalanan dan pelemparan gas air mata di dekat hotel Hilton. (beberapa bulan kemudian, polisi menangkap Sotiris Deliyiannis karena ketahuan memiliki salah satu pistol milik polisi yang di pukuli). Sotiris di kenakan hukuman penjara 11 tahun dan 6 bulan penjara dengan tuduhan &#8220;perampokan&#8221;).</p>
<p><strong>17 November 1987</strong>: Para anarkis melempar molotov ke kedutaan AS. Polisi meresponnya dengan melempar gas air mata dan mengerahkan tank-tank air.</p>
<p><strong>September 1988</strong>: Di dalam sebuah parodi pengadilan, Melistas di nyatakan ‘bersalah karena telah melampaui prosedur pembelaan diri ‘di bawah kondisi panik’, dan di jatuhi hukuman 2 setengah tahun penjara. Melistas naik banding dan pengadilan menunda hukuman kemudian membebaskannya untuk kembali pada tugas kepolisian. Para anarkis mengorganisir protes atas kebijakan tersebut, dan di respon dengan tindakan kekerasan yang hebat dari polisi. Tiga orang kamerad di tangkap karena menyimpan Molotov, mereka di ancam hukuman 36 tahun penjara. Mereka di bebaskan ketika naik banding di setujui.</p>
<p><strong>17 November 1988</strong>: Pertempuran jalanan rutin antar anarkis dan polisi terjadi; polisi menggunakan gas air mata dan tongkat kayu juga mengejar para demonstran dengan motor.</p>
<p><strong>12 Januari 1989</strong>: Di karenakan tekanan dari media massa dan para politisi, Melistas kembali di tangkap.</p>
<p><strong>18 Juni 1989</strong>: Partai konservatif, ‘Nea Demokratia’ memenangkan pemilihan umum, namun tidak dengan mayoritas mereka di dalamnya; sebuah koalisi partai di bentuk dengan Partai Komunis. Dua anggota (pengacara) keluarga Kaltezas menjadi menteri. Sidang banding bagi Melistas akan di langsungkan pada bulan September.</p>
<p>Meskipun merupakan anggota keluarga korban yang telah menjadi menteri, pengadilan kembali di tunda dan Melistas di bebaskan kembali.</p>
<p><strong>5 November 1989</strong>: Sebuah pemilihan umum di adakan dan menghasilkan sebuah koalisi baru antara aliran konservatif, sosialis (PASOK), dan komunis. Pemerintahan koalisi ini berada di bawah kendali Xenophon Zolotas, seorang mantan professor dan Bankir yang berumur 85 tahun.</p>
<p><strong>17 November 1989</strong>: Pertempuran jalanan terjadi.</p>
<p><strong>26 Januari 1990</strong>: Sidang banding yang di hadiri oleh hakim-hakim yang bernama Hadjakis, Smirneos, Karagiannopoulos dan empat anggota juri mengampuni sang pembunuh (Melistas). Para anarkis melakukan protes di jalan-jalan Athena. Polisi menggunakan gas C.S yang di larang secara internasional untuk merepresi protes. Lebih dari 2000 kamerad menduduki Politeknik dan melawan penyerangan polisi dengan menggunakan molotov. Lima polisi terbakar. 3 kamerad terluka. Bus-bus di hentikan dan di jadikan barikade. Pemerintah menolak untuk menarik mundur polisi.</p>
<p><strong>26 Januari 1990</strong>: Para pelaku pendudukan di Politeknik membentuk sebuah badan permanen baru; mengajak bergabung pelajar-pelajar smu dan smp, serta pekerja. Pada malam harinya diadakan acara musik terbuka yang di hadiri sebanyak 5000 orang. Universitas-universitas di Thessaloniki, Loannina, dan Rethmno di duduki oleh pelajar dan anarkis. Di Thessaloniki para anarkis menyerang kantor-kantor International Expo dengan Molotov.</p>
<p>Sehubungan dengan pengampunan Melistas, pemerintah menyatakan bahwa konstitusi Yunani melarang adanya kritisisme terhadap keputusan pengadilan. Kedua menteri yang merupakan anggota keluarga Kaltezas menuruti maklumat ini.</p>
<p><strong>31 Januari 1990</strong>: Aksi berjalan yang di organisir oleh Serikat Nasional Pelajar Yunani (EFEE) di ikuti lebih dari 10.000an orang.</p>
<p><strong>4 Februari 1990</strong>: Aksi berjalan yang di organisir oleh pelaku pendudukan di Politeknik merangsang 6000 orang bergabung; graffiti-graffiti anarkis Turki muncul di dinding-dinding sebagai wujud solidaritas.</p>
<p><strong>5 Februari 1990</strong>: Pelajar smu menduduki lebih dari 50 sekolah di wilayah Athena. Beberapa dari pelaku pendudukan memblok jalan-jalan. Beberapa individu dan kelompok anarkis (diantaranya beberapa pengacara anarkis) menduduki kantor-kantor asosiasi pengacara Athena dan membuat sebuah konferensi pers yang menekankan permasalahan di dalam sistem Judisial di Yunani dan menyerukan solidaritas pada para tahanan yang berjuang. Mereka di bawa ke kantor polisi dan dipaksa untuk meneriakan “panjang umur polisi Yunani” dan “Melistas adalah pahlawan” sembari di siksa secara brutal. Di hari-hari berikutnya, EFEE merubah sikap mereka terhadap pelaku pendudukan, menyuruh mereka membiarkan mahasiswa lainnya yang ingin mengikuti ujian.</p>
<p><strong>7 Februari 1990</strong>: <em>‘Nea Demokratia’</em> menghimpun organisasi pelajarnya untuk menghajar pendudukan. Hanya 20 orang yang muncul. Menteri pendidikan meminta polisi untuk melakukan intervensi – Dekan dan rektor memiliki status ‘dilindungi’.</p>
<p><strong>9 Februari 1990</strong>: Konfederasi Umum Pekerja Yunani (GSEE) menggerakan kaum kelas pekerja untuk mendatangi dan mengakhiri pendudukan. 500 polisi dengan pakaian sipil, orang-orang serikat pekerja, dan fasis datang menyerang – sebanyak 2500 pelaku pendudukan masih berada di sana untuk merespon para penyerang. Meski para pelaku pendudukan sangat bersikeras dan tangguh, media mulai membuat disorientasi pada opini publik, berbohong bahwa ‘status dilindunginya’ Politeknik merupakan akar dari masalah. Media menyerukan agar polisi melakukan intervensi. Dekan dan Rektor datang untuk melakukan negosiasi pada para pelaku pendudukan.</p>
<p><strong>11 Februari 1990</strong>: Dekan dan para professor mengatakan kalau mereka sudah tidak tahan lagi dengan tekanan yang di berikan oleh media dan negara. Mereka mengatakan kalau Politeknik tidak lagi dapat berfungsi sebagai sebuah sekolah, dan ini membuat polisi bebas untuk menyerang. Para pelaku pendudukan berpendapat bahwa situasi semacam ini akan membuat jatuhnya korban lebih besar dari dua pihak. Mereka memutuskan untuk mengevakuasi gedung pada malam harinya, namun masih bersiteguh untuk melanjutkan perjuangan melawan kebijakan yang melepaskan Melistas juga melawan sistem ‘Keadilan’ sebagai sebuah institusi.</p>
<p><strong>12 Februari 1990</strong>: Konser di adakan pada waktu sore hari. Evakuasi yang damai berlangsung di malam hari. (tanpa kehadiran polisi)</p>
<p><strong>13 Februari 1990</strong>: Pelajar dan anarkis mengevakuasi universitas-universitas di Joannina dan Rethimno. Pelajar dari universitas Ionian di Corfu menduduki perumahan polisi, sebagai protes terhadap kondisi pelajar, kasus Melistas dan tindak represi negara. Pendudukan berlangsung selama beberapa jam. Jam-jam sebelum pendudukan terjadi, mobil-mobil di bakar di wilayah Thessaloniki dan Patra.</p>
<p><strong>14 Februari 1990</strong>: 25 gedung smu masih di duduki oleh para pelajar di wilayah Athena, dan sebuah aksi berjalan di organisir. Kostas Kefalas (yang di tangkap pada tanggal 9 februari karena tindakan pencurian medali olah raga di Politeknik) di tahan untuk menunggu sidang. Jaksa umum mengumumkan keputusan untuk menuntut anggota-anggota komite Politeknik antara lain: seorang professor, dan seorang pelajar karena telah mendukung para kriminal dengan menolak memberi jalan masuk pada polisi. (di hari yang sama, sang Dekan menerima sumpahnya dan di nobatkan sebagai Menteri Transportasi dan Komunikasi!) Media masih melancarkan propaganda untuk menyudutkan para anarkis, menghendaki di tangkapnya ‘pemimpin para anarkis’ – agar bertanggung jawab atas kerusakan-kerusakan yang terjadi.<br />
Anarkisme mengalami kebangkitan kembali di Yunani. Di sebuah wilayah dimana otoritas dan negara menjadi sangat represif, dan dengan tradisi lama akan aksi langsung, anarkisme menerima dukungan popular yang semakin meluas, terutama pada kaum mudanya. Ini adalah sejarah singkat perlawanan di Yunani semenjak di jatuhkannya kediktatoran militer yang berpusat di Politeknik, Athena.<br />
<em><strong>Pengumpulan/terjemah: Eat</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2006/05/29/anarkis-yunani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Statement Final Mengenai Bubarnya Red Army Fraction ‘Baader-Meinhof’</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2006/05/22/statement-final-mengenai-bubarnya-red-army-fraction-%e2%80%98baader-meinhof%e2%80%99/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2006/05/22/statement-final-mengenai-bubarnya-red-army-fraction-%e2%80%98baader-meinhof%e2%80%99/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 May 2006 14:19:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Direct Action]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/v2/2006/05/22/statement-final-mengenai-bubarnya-red-army-fraction-%e2%80%98baader-meinhof%e2%80%99/</guid>
		<description><![CDATA[Apakah babi-babi tersebut yakin bahwa kami akan membiarkan kamerad Baader berdiam di penjara untuk dua atau tiga tahun? Apakah babi-babi tersebut yakin kami akan berbicara mengenai pengembangan perjuangan kelas, re-organisasi proletariat, tanpa mempersenjatai diri pada saat yang sama? Apakah babi-babi tersebut yang pertama kali menembak, yakin bahwa kami akan membiarkan diri kami yang tanpa kekerasan ditembaki seperti di rumah jagal? Siapapun yang tidak mempersenjatai dirinya akan mati. Mulailah perlawanan bersenjata! Bangun Tentara Merah!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Deklarasi Pembentukan Tentara Merah (Red Army)<br />
Dirilis pada akhir Mei 1970</strong><br />
<em></em></p>
<p><em></em></p>
<p><em><strong>MEMBANGUN TENTARA MERAH</strong></em></p>
<p><em>Apakah babi-babi tersebut yakin bahwa kami akan membiarkan kamerad Baader berdiam di penjara untuk dua atau tiga tahun? Apakah babi-babi tersebut yakin kami akan berbicara mengenai pengembangan perjuangan kelas, re-organisasi proletariat, tanpa mempersenjatai diri pada saat yang sama? Apakah babi-babi tersebut yang pertama kali menembak, yakin bahwa kami akan membiarkan diri kami yang tanpa kekerasan ditembaki seperti di rumah jagal? Siapapun yang tidak mempersenjatai dirinya akan mati. Mulailah perlawanan bersenjata! Bangun Tentara Merah!</em></p>
<p><em>Red Army Fraction<br />
Mei 1970</em></p>
<p><span id="more-116"></span><strong>Statement Final Mengenai Bubarnya Red Army Fraction ‘Baader-Meinhof’</strong><br />
Dirilis tanggal 20 April 1998</p>
<p><strong>GERILYA KOTA TINGGAL SEJARAH&#8230;</strong></p>
<p>Hampir 28 tahun yang lalu, pada tanggal 14 Mei 1970, RAF secara resmi telah lahir sebagai sebuah bentuk dari aksi pembebasan, dan hari ini kami menyatakan bahwa kami mengakhiri proyek tersebut. Gerilya kota yang telah menjadi sikap dan dasar dari RAF telah menjadi sejarah. Kami, yaitu semua yang telah menjadi bagian dari organisasi ini hingga saat terakhir, telah mengambil langkah ini secara bersama-sama. Mulai kini, kami, seperti juga semua yang tergabung dalam asosiasi ini adalah anggota-anggota yang militan dari RAF. Kami berpijak pada sejarah kami dimana RAF adalah salah sebuah usaha revolusioner dari sekelompok kecil orang-orang untuk menolak dan melawan tendensi-tendensi tatanan mayarakat saat ini dan berkontribusi dalam melawan kapitalisme. Kami bangga telah menjadi bagian dari usaha tersebut walaupun pada akhirnya proyek ini memperlihatkan kepada kami bahwa kami tidak akan mungkin meraih sukses dengan menggunakan jalur ini.</p>
<p>Tetapi hal ini bukanlah penentangan kami terhadap revolusi. RAF adalah merupakan keputusan kami untuk memilih berdiri disamping rakyat dalam perjuangan melawan dominasi kapitalisme demi kemerdekaan seluruh dunia. Bagi kami, keputusan yang kami buat ini adalah benar. Ancaman hukuman penjara ratusan tahun bagi para anggota-anggota RAF yang tertangkap tidak menjadikan kami takluk ataupun membuat kami menyerah. Kami tetap menginginkan sebuah konfrontasi dengan kekuatan dari para penguasa. 27 tahun yang lampau kami bertindak sebagai subyek dari konfrontasi tersebut, dan hingga saat inipun kami tetap berpijak bahwa kami harus tetap menjadi subyek. Bagaimanapun hasilnya, RAF -seperti juga semua organisasi grass-roots yang masih berdiri hingga saat ini- tidaklah lebih dari sebuah fase transisi dalam jalur menuju kebebasan yang sesungguhnya. Setelah era perang dan fasisme, RAF membawa sesuatu yang baru kepada masyarakat yaitu: sebuah momen dimana kita dapat mempertajam kontradiksi antara proletar dengan tatanan sistem yang secara sistematis telah menjadi subyek dan mengeksploitasi proletar sebagai obyek dari struktur tersebut dimana proletar diciptakan dan dipaksa untuk berperang melawan sesama proletar.</p>
<p>Sebuah perjuangan dalam tatanan sosial, yang telah menempatkan kami sebagai oposisi, yang telah mendorong kebebasan sosial-politik beberapa langkah ke depan. Dan momen ini adalah saat kami mengambil saat untuk memilih keluar dari sistem, sebuah sistem yang menempatkan profit sebagai subyek dari segalanya dan menempatkan proletar sebagai obyek. Kami bergerak berawal dari penolakan, kepada penyerangan, hingga menuju kebebasan.</p>
<p><strong>Tumbuhnya RAF Dari Secercah Harapan Akan Sebuah Kemerdekaan</strong></p>
<p>Berlatar belakang dari tindakan-tindakan para gerilyawan dari daerah selatan melawan penduduk yang kaya raya di daerah utara, RAF muncul sebagai sebuah solidaritas pada pergerakan kebebasan dengan menggunakan taktik dan strategi perjuangan yang serupa. Di seluruh dunia, jutaan orang telah terlibat dan mengambil pilihan dalam perjuangan resistansi dalam usahanya meraih kemerdekaan dan melihatnya sebagai sebuah kesempatan bagi diri mereka sendiri. Di berbagai tempat di dunia ini, perjuangan bersenjata adalah salah satu harapan untuk tercapainya kemerdekaan. Begitupun di Jerman, ratusan orang telah menempatkan diri mereka dalam perjuangan bersenjata dari organisasi militan seperti Second Of June Movement, Revolutionary Cells (RZ), RAF dan juga Rote Zora. RAF muncul sebagai hasil dari diskusi-diskusi ratusan orang di Jerman yang mulai berpikir tentang perjuangan bersenjata sebagai jalan menuju kemerdekaan pada akhir tahun 1960 dan awal tahun 1970. RAF mengambil bagian dalam perjuangan melawan negara, sebuah negara yang tak akan pernah berubah dengan sistem sosialis nasionalnya yang muncul mengikuti fasisme partai Nazi. Perjuangan bersenjata adalah sebuah pemberontakan bersenjata melawan penguasa, melawan alienasi dan kompetisi. Perjuangan tersebut adalah pemberontakan demi tercapainya sebuah tatanan nyata dari sosial, politik maupun budaya. Dalam eforia dari usaha-usaha global untuk tercapainya kebebasan, sudah saatnya bagi sebuah perjuangan yang tegas untuk secara serius mengangkat senjata dan merubah strategi dan taktik, serta tidak lagi hanya menerima legitimasi pseudo-natural dari sistem yang berlaku.</p>
<p><strong>Era 1975 &#8211; 1977</strong></p>
<p>Dengan aksi pendudukan kedutaan Jerman di Stockholm tahun 1975, RAF meluncurkan sebuah fase selama waktu yang dianggap mungkin untuk membebaskan tapol/napol dari penjara. Aksi pertama kami yang dinamai “1977 Offensive” (Serangan 1977) dilakukan, dimana anggota-anggota RAF menculik Schleyer. RAF mengambil sikap untuk mempertanyakan struktur kekuasaan negara. Hal ini mulai menjadi sebuah sikap yang radikal dan tegas dalam usahanya untuk menyudutkan negara melalui posisi sebagai penyerang bagi kaum leftist revolusioner, melawan kekuasaan negara. Dan sudah sangat jelas bahwa negara akan berusaha untuk menghalangi usaha tersebut. Konflik yang meningkat secara cepat, walau bagaimanapun, kemudian juga berkontradiksi dengan latar belakang sejarah Jerman: yaitu terus berlangsungnya Nazisme di negara Jerman Barat, dimana kami memerangi hal tersebut dengan sangat ofensif. Schleyer, yang pernah menjabat sebagai anggota pasukan SS pada waktu rezim Nazi masih berkuasa penuh, seperti juga sisa-sisa Nazi yang masih ada di semua tingkatan masyarakat, mendapat kemudahan untuk kembali bekerja di kantor-kantor pemerintahan justru karena negara merasa berkewajiban untuk menghormati apa-apa yang pernah dia lakukan pada masa kejayaan Nazi. Kaum Nazi membangun karir bagi sisa-sisa anggotanya di Jerman Barat dengan menempatkan mereka pada posisi-posisi penting pada jabatan-jabatan di kantor pemerintahan, dalam kantor-kantor pengadilan negara, dalam aparatus kepolisian, dalam jabatan militer, media massa dan dalam perusahaan-perusahaan besar nasional. Sisa-sisa para anti-semit, rasis dan para pembantai di era Nazi dan juga orang-orang yang seharusnya bertanggung jawab atas banyak pembantaian pada era tersebut, justru kembali menjadi elit-elit pemegang kekuasaan. Schleyer-pun semenjak akhir era kejayaan Nazi bekerja bersama-sama dengan para kapitalis Jerman untuk berusaha membentuk sebuah region ekonomi Eropa yang akan berada dibawah dominasi Jerman.</p>
<p>Kaum Nazi menginginkan Eropa untuk berada dibawah kekuasaan mereka dengan cara berjuang melalui sistem industri dan penanaman modal. Dengan demikian, mereka ingin mengakhiri perjuangan kelas dengan cara memanfaatkan buruh-buruh berkebangsaan Jerman dan juga buruh-buruh yang dapat “menjadi seperti seorang Jerman”, serta kemudian memasukkan mereka kedalam masyarakat. Dengan seakan sudah terbebasnya rakyat dari fasisme rezim Nazi, hal tersebut sebenarnya justru mengilusi kesadaran rakyat dari kenyataan bahwa sebenarnya tak akan pernah ada kebebasan di bawah sistem kapitalisme. Setelah tahun 1945, Schleyer bekerja untuk menggolkan kepentingan-kepentingan yang sama dengan pada waktu era Nazi tetapi melalui bentuk yang lebih modern. Bentuk modern ini datang pada tahun 1970 dengan model sosial-demokrat. Sebagai kepala bagian industri negara, Schleyer kembali melanjutkan pembangunan sebuah sistem yang memandulkan setiap pergerakan resistansi sosial &#8211;sebagai contohnya, antara lain dengan cara memenjarakan para aktifis buruh atau dengan cara mengintegrasikan dan memberikan kontrak-kontrak jaminan keamanan.</p>
<p>Integrasi ini bertujuan untuk memasukkan sebanyak-banyaknya buruh berkebangsaan Jerman ke dalam segala sektor masyarakat. Disaat yang sama, para buruh imigran dikurangi jatah fasilitasnya di berbagai tempat kerjanya dan lebih dieksploitasi dalam berbagai bidang garapannya, hal ini jugalah yang menimbulkan bencana kelaparan di daerah-daerah pemukiman kaum imigran. Kontinuitas dari sistem yang oleh Schleyer terapkan &#8211;di tahun 1970 dengan model sosial-demokrat&#8211; adalah sebuah momen penting dalam pembangunan dan pemapanan Republik Federasi Jerman.</p>
<p>Represifitas Pada Setiap Suara Yang Kritis Dan Meningkatnya Tapol/Napol &#8212; Teknik Reaksioner Yang Sama Dengan Yang Diterapkan Oleh Kaum Nazi.</p>
<p>Aksi dari “1977 Offensive” mempertegas bahwa masih ada sebagian elemen rakyat yang tidak terintegrasikan dan terkontrol oleh sistem. Setelah kaum Nazi mengeliminir setiap resistansi, aksi-aksi dari kelompok-kelompok gerilya kota setelah tahun 1968 kembali kepada perjuangan kelasnya dan tidak lagi berintegrasi dengan kekuatan pemerintah manapun. Kasus penculikan Schleyer tidak membuat negara menjadi panik, tetapi hal ini justru memperkuat reprsifitas yang diberikan kepada siapapun yang mengekspresikan perbedaan pandangannya dengan sistem negara yang kemudian dinyatakan dalam keadaan darurat. Negara memerintahkan semua media massa untuk mengikuti jalur perkembangan dari Crisis Staff (badan negara yang bertugas saat negara dinyatakan dalam keadaaan darurat), dimana hampir semua media massa menyetujui hal tersebut untuk menghindari konfrontasi yang beresiko besar dengan tatanan sistem.</p>
<p>Kaum intelektual, yang telah diketahui oleh semua orang bahwa mereka tidak bersimpati kepada gerakan RAF, tetap mendapat perlakuan represif dari negara untuk menghindarkan sikap kritis dari mereka yang akan berefek menyebarnya dukungan terhadap RAF. Anggota-anggota dari Crisis Staff, dengan beberapa diantaranya merupakan wakil dari kaum militer, menerapkan cara yang sama dengan cara yang pernah Nazi gunakan &#8211;walaupun memang kaum Nazi lebih brutal dalam penerapannya&#8211; untuk menghapuskan setiap tindak perjuangan anti-fasis dan anti kapitalis. Dibawah rezim Nazi maupun di tahun 1977, negara menerapkan kebijakan-kebijakan yang tidak menyisakan pilihan diantara memberikan loyalitas dan rasa patriotisme kepada negara atau memilih untuk mendapat tindak represif.</p>
<p>Saat negara gagal untuk memaksa RAF mengembalikan Schleyer, negara kemudian mengambil kebijakan untuk membiarkannya dan menggantikan kedudukan Schleyer. Saat mencium akan adanya kecenderungan tersebut, kami memberikan aksi mengejutkan lainnya dengan membajak sebuah pesawat penumpang sipil dalam sebuah aksi gerilya yang merupakan bagian dari taktik penyerangan kami. Hal ini semakin menjelaskan bahwa RAF tidak berasosiasi dengan siapapun baik itu golongan dari sektor pemerintahan oposisi maupun dari sektor masyarakat &#8211;dimana keputusan RAF untuk mengklaim bahwa RAF bukanlah merupakan aksi rakyat kebanyakan adalah agar negara mengurangi represifitasnya pada orang-orang yang dianggap tidak bersalah. Walaupun tuntutan-tuntutan kami yang menginginkan agar semua tapol/napol di Jerman &#8211;yang hampir semuanya ditangkap atas aktifitasnya menentang penempatan eks-Nazi dalam kursi-kursi pemerintahan&#8211; untuk dibebaskan terlihat mulai menemui titik terang, dimensi perjuangan revolusi sosial justru tidak lagi bertambah jelas.</p>
<p><strong>Dari 1970 Hingga 1980</strong></p>
<p>Kami telah mempertaruhkan segalanya dan menderita berbagai kekalahan yang berat. Selama proses perjuangan mereka hingga akhir tahun 1970, telah tampak bahwa RAF tinggal menyisakan beberapa orang saja yang berasal dari periode awal di tahun 1968. Banyak anggota-anggota RAF dari pergerakan awal tahun 1968 telah menyerah dari pergerakan politik dan menggunakan sisa kesempatan mereka untuk membangun karir dan kembali kepada masyarakat biasa. RAF, sebagai bagian dari perjuangan anti-imperialis global, telah mengangkat senjata demi tercapainya kebebasan di Jerman Barat. Tahun 1977 telah memperlihatkan bahwa bagaimanapun juga RAF yang tidak termasuk kepada kekuatan politik oposisi legal maupun kekuatan militer, telah menciptakan situasi perang domestik kepada kekuatan neo-Nazi dan anti-kapitalis anti-imperialis. Sudah saatnya bagi kami untuk membuka lembaran baru dalam usaha perjuangannya untuk mencapai kemerdekaan yang sesungguhnya.</p>
<p>Pengalaman dari kekalahan kami di tahun 1977 telah membuktikan bahwa kami harus menggunakan strategi dan taktik baru selain menggunakan taktik gerilya kota cara kami. Telah dibutuhkan sebuah konsep baru untuk perjuangan menuju kemerdekaan. Kami membutuhkan sebuah basis baru yang bersedia bergabung dalam perjuangan sebagai segmen-segmen radikal dari pergerakan resistansi yang telah terbit diakhir tahun 1970an, yaitu basis massa rakyat. Tetapi konsep pembentukan front rakyat terhambat karena berbenturan dengan dasar pergerakan dari RAF di tahun 1970an. Aksi-aksi bersenjata nyatanya tetap menjadi fokus utama mereka dalam proses revolusioner yang dilihat sebagai sebuah perang demi sebuah kemerdekaan.</p>
<p><strong>Pembentukan Front Anti Imperialis Di Tahun 1980an</strong></p>
<p>Di sekitar tahun 1980an, terjadi beberapa perjuangan langsung melawan proyek-proyek yang tidak manusiawi dari sistem, perjuangan tersebut juga mengekspresikan pencarian akan sebuah bentuk baru dari tatanan kehidupan yang bebas. Sebuah revolusi sosiallah yang akan memperlihatkan sebuah kenyataan sosial baru, saat ini juga. Ribuan orang dari gerakan-gerakan baru tersebut turun ke jalan-jalan dalam tahun 1980 untuk memprotes hal-hal yang sama dengan apa yang RAF pernah berusaha serang sejak tahun 1979, yaitu: kebijakan militer dari negara-negara NATO, yang akan memungkinkan negara-negara Barat untuk membiayai berbagai perang secara simultan, perang melawan Soviet Union dan, dalam saat yang sama, seperti juga perang yang berupa intervensi melawan gerakan pembebasan dan revolusi, seperti di Nikaragua, dimana telah ditempuh satu langkah ke depan menuju pembebasan dari kediktatoran Barat.</p>
<p>RAF berasumsi bahwa kami tidak akan sendirian selama fase tersebut. Konsep yang ada dipenuhi dengan harapan bahwa sektor-sektor militan dari berbagai gerakan akan bergabung dalam sebuah front. Tetapi konsep ini gagal saat mendapati bahwa dalam proses membentuk sebuah situasi sosial, hanya beberapa orang saja yang dapat melihat hasil-hasil yang bisa dicapai bila dalam sebuah perjuangan menuju kebebasan ditempuh dengan cara setingkat level perang. Perjuangan menuju kebebasan, dimana momen sentralnya adalah perang, hanya mungkin apabila terdapat kekuatan-kekuatan dalam massa yang bergerak menuju ke arah itu &#8211;setidaknya dalam bentuk elemen radikal dari sebuah gerakan.</p>
<p>Tetapi hingga bagi mereka yang telah melakukan aksi solidaritaspun &#8211;yang memang sangat sedikit jumlahnya&#8211; sama sekali tidak berpikiran mengenai perjuangan setingkat pemikiran dari RAF dalam benak mereka. Sebuah perang gerilya membutuhkan sebuah ekspansi pada perspektif massa hingga semuanya &#8211;setidaknya sebagian besar massa&#8211; ke tahap pemikiran dalam level perjuangan bersenjata. Hal ini sangatlah esensial dari penerapan taktik gerilya tersebut, sementara RAF tidak mampu untuk menerapkan hal tersebut. Gagasan RAF dengan taktik perjuangan bersenjatanya, dalam point-point penting perjuangan telah menempatkan proses perubahan politik dan budaya menjadi seakan kurang penting. Pada akhirnya, pembentukan front tetap tidak dapat menghilangkan batasan antara sebuah gerakan massa dengan gerilya.</p>
<p>Di tahun 1980, RAF beroperasi dengan asumsi bahwa sebuah revolusi sosial akan mungkin apabila dilakukan serangan-serangan dalam inti strutur kekuasaan dari imperialisme. Dengan pendekatan seperti ini, politik-politik yang dilakukan oleh RAF menjadi semakin abstrak. Hal ini malah memisahkan apa yang seharusnya berada dalam satu konteks menjadi dua konteks yaitu: anti-imperialis dengan revolusi sosial. Konteks revolusi sosial menghilang dari teori-teori dan praksis dari RAF. Orientasinya menjadi sekedar membuat barisan anti-imperialis yang dalam hasilnya adalah pembentukan front anti imperialis. RAF bukan menjadi sebuah jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan sosial. Inilah yang menjadi kesalahan fundamental bagi RAF.</p>
<p>Gema yang ditimbulkan dalam massa tetap terbatas, karena usulan untuk membentuk sebuah kesadaran dalam massa dan mendorong timbulnya kontradiksi pokok antara massa proletar dengan negara &#8211;sebuah momen sentral dari setiap proses revolusioner&#8211; telah menghilang. Selain bahwa RAF terlihat berusaha menghancurkan kontrol yang didominasi negara dengan meningkatkan intensitas serangan-serangannya, prioritasnya meningkat dalam dimensi militer. Penekanan tersebut tetap berlanjut selama tahun 1980an dan itulah yang mendefinisikan perjuangan RAF.</p>
<p>Kami melakukan serangan-serangan melawan proyek-proyek NATO seperti komplek-komplek industri penting milik militer, bersama-sama dengan grup-grup gerilya lainnya di Eropa Barat; sebagai sebuah usaha menggabungkan semuanya kedalam satu Front Gerilya Eropa Barat, dimana di dalamnya tergabung RAF, Action Directe di Perancis, dan Red Brigades/PCC di Italia. RAF berkonsentrasi &#8211;sekuat kemampuan mereka&#8211; dalam menyerang proyek-proyek NATO dan setelah 1984, menyerang formasi dari kekuatan baru blok-blok barat dari negara-negara Eropa Barat. Yang menjadi fokus serangan tetaplah disesuaikan dengan kekuatan kami yang terbatas dan yang sesuai dengan identifikasi RAF. Usaha-usaha untuk membentuk sebuah front dengan grup-grup lain dari perjuangan resistansi diatas ternyata tidak terealisasikan. Dengan demikian maka front yang sedang dibangun itu hancur, karena terlalu banyak energi yang dihabiskan hanya untuk memutuskan bagaimana membuat front dengan benar. Selama usaha pembentukan front ini, terjadi pemapanan di sisi kami sendiri yang sama karakternya dengan mendemonstrasikan politik yang lebih kecil resikonya, memapankan politik lama, bukannya membuat sebuah politik baru, hal ini jelas sangat berseberangan dengan usaha menuju kearah kebebasan.</p>
<p>Dan ini adalah juga merupakan waktu dimana RAF dan mereka yang telah tertangkap, mengabaikan berbagai kesulitan dan tetap tak mau menyerah, memperlihatkan bagaimana kami tetap bertahan tidak termoderasi oleh berbagai keadaan dan tetap berkomitmen untuk membuat sebuah kondisi melawan kekuatan penguasa. Hal ini memberikan harapan yang baik bagi mereka yang menginginkan perjuangan melalui kolektifitas dan kebersamaan dalam melawan isolasi dan alienasi yang terbentuk dalam tatanan masyarakat.</p>
<p>Perjuangan mereka yang ditahan melawan isolasi penjara dan demi bergabungnya mereka semua kembali, demi perjuangan, demi harkat dan martabat dan demi kebebasan, yang juga sama dengan apa yang telah sejak lama pernah dilakukan oleh banyak orang, adalah sesuatu yang dapat dengan mudah dikenali oleh banyak orang. Sikap non-kompromis dari RAF dan mereka yang ditahan melawan kekuatan penguasa tampak sangat jelas dihadapan para penguasa yang telah berusaha menekan setiap perjuangan menuju kehidupan baru yang bebas.</p>
<p><strong>Kami, Yang Hampir Sebagian Besar Sangat Terlambat Berorganisasi Dalam RAF&#8230;</strong></p>
<p>&#8230;bergabung dalam harapan bahwa perjuangan kami dapat mengkontribusikan sebuah masukan baru bagi revolusi global dalam merubah kondisi saat ini. Kami membawa perubahan bagi perjuangan menuju kebebasan, sebagai sebuah jalan baru dimana kami dapat menggabungkan diri kami dengan mereka yang berada di jalan lain. Dan kami ingin memberikan sesuatu bagi mereka yang telah berjuang sebelum kami, dan bagi mereka yang telah gugur atau dikirm ke penjara. Perjuangan dengan taktik ilegal telah secara atraktif memberikan efek yang jelas kepada kami. Kami ingin menghancurkan batas yang menghalangi kami untuk bebas dari apapun yang telah mengikat kami dengan sistem.</p>
<p>Perjuangan bersenjata yang memang jelas-jelas ilegal, bagi kami, tidak lebih sebagai sebuah jalan yang cocok dan sangat mungkin dalam sebuah proses menuju kebebasan. Tetapi juga, terlebih lagi dalam menanggapi krisis gerakan leftist di seluruh dunia, kami ingin menggunakan gerilya kota sebagai sebuah kemungkinan dan membuatnya tetap ilegal sebagai sebuah proses menuju kebebasan. Tapi kami juga sadar bahwa kami sendiri sangatlah tidak cukup. Taktik gerilya sendiri, juga merupakan sesuatu yang harus terus berubah, berevolusi. Harapan kami adalah untuk dapat membuat garis baru antara taktik gerilya dengan taktik berbagai sektor lain yang merupakan gerakan resistansi di tengah-tengah massa. Untuk merealisasikan hal ini, kami mencari sebuah proposal baru, dimana semua perjuangan dari berbagai bentuk hingga perjuangan gerilya dapat berdiri bersama-sama.</p>
<p>Hal Itu Sangat Penting Bagi Kami, Menyusul Runtuhnya Jerman Timur, Untuk Membawa Perjuangan Kami Sejalan Dengan Situasi Sosial Yang Baru.</p>
<p>Kami ingin untuk mengambil langkah untuk berkorelasi dengan mereka yang mimpinya berakhir dengan hancurnya DDR dan penggabungannya dengan Jerman Barat. Sebagian telah melihat kenyataan bahwa ‘sosialisme yang benar-benar eksis’ bukanlah pembebasan sama sekali. Sedangkan sebagian lainnya, yang menjadi bagian dari oposisi bagi sosialisme yang benar-benar eksis di Jerman Timur, telah memimpikan mengenai sesuatu yang berbeda baik itu dari kapitalisme maupun dari sosialisme yang benar-benar eksis. Banyak orang yang tinggal di DDR dan mereka yang menuntut reunifikasi dengan Jerman Barat mulai mempelajari sesuatu yang baru, sebuah situasi sosial yang tertekan lengkap dengan seluruh jaminan keamanan yang secara drastis eksis.</p>
<p>Kami ingin berhubungan dengan orang-orang tersebut, selama situasi historis yang sangatlah tidak jelas bagi semua orang, yang telah berjuang demi pembebasan dalam konfrontasinya dengan negara Jerman Barat dan juga dengan mereka yang telah dijejali dengan kemapanan reaksioner yang benar-benar rasis dalam Jerman timur yang sudah tidak eksis lagi. Kami tidak ingin membuat orang-orang tersebut menjadi golongan sayap kanan atau juga menyepelekan mereka. Kami melihat bahwa dimensi ini dapat berubah dan diselesaikan dengan sebuah proyek baru yang bersifat pembebasan internasionalis dimana semua kenyataan yang ada baik itu di Jerman Timur ataukah di Jerman Barat akan saling berhubungan. RAF, yang memiliki akar sejarah dalam gerakan perlawanannya di Jerman Barat, tidak dapat menerima hal ini.</p>
<p><strong>Usaha Untuk Membangkitakan Kembali RAF Pada Tahun 1990 Adalah Sebuah Proposal Yang Tidak Realistis</strong></p>
<p>Kami ingin mentransformasikan sebuah konsep yang terbit pada gerakan tahun 1968 kepada konsep internasionalis dan berwawasan revolusi sosial sebagai sebuah bentuk yang baru disesuaikan dengan kondisi obyektif dalam tahun 1990an. Saat inilah waktu dimana kami mencari sesuatu yang baru, tetapi masih terikat oleh dogma-dogma dari tahun-tahun terakhir. Kami tidak menjadi seradikal seperti saat kami mulai dulu. Karenanya kami telah membuat kesalahan yang sama yang pernah kami lakukan di tahun 1977: kami mengharapkan secara berlebihan dukungan untuk melanjutkan perjuangan dengan cara ini ini.</p>
<p>Secara fundamental, adalah berbahaya apabila taktik perjuangan bersenjata didiskreditkan sementara pada saat yang sama tidak pernah sama sekali diterangkan bagaimana sebuah perjuangan bersenjata dapat memperkuat perjuangan menuju pembebasan. Sangatlah perlu untuk melihat kembali pada issue ini dalam konteks yang lebih dapat dipertanggung jawabkan karena hampir selalu perjuangan-perjuangan bersenjata didiskreditkan &#8211;walaupun situasinya berbeda, karenanya perlu lagi sebuah penerangan mengenai hal tersebut. Krisis yang terjadi, saat kami yang tersisa mencapai batasnya pada tahun 1980an dan mulai berpencar sedikit demi sedikit, membuat kami terpaksa memutuskan untuk berusaha membuat jaringan terhadap RAF kepada beberapa proyek yang merupakan sebuah proposal yang sangat-sangat tidak realistis. Kami sudah terlalu terlambat &#8211;walaupun untuk sekedar mentransformasikan RAF kedalam bentuknya yang baru setelah sebuah periode refleksi. Kritik dan oto-kritik tidaklah bertujuan untuk mengakhiri sesuatu, tetapi lebih kepada memperkuat sesuatu yang telah ada. Pendeknya, akhir dari RAF bukanlah sama sekali merupakan hasil akhir dari proses kami mengkritisi diri dan mempertimbangkan kritik yang ada serta refleksinya, tetapi lebih merupakan karena pemikiran bahwa hal tersebut memang perlu, karena konsep RAF tidak mencakup elemen-elemen baru yang penting dan berguna dimana sesuatu yang baru dapat muncul.</p>
<p>Saat kami memperhatikan segmen ini melalui sejarah kami pada khususnya bersamaan dengan proses sejarah pad umumnya, usaha untuk membuat RAF kembali menjadi sebuah proses politis yang kuat, lebih merupakan sebuah perpanjangan saja dari sesuatu yang pada perpsektifnya memang sudah seharusnya berakhir. Kami perlu untuk melihat kenyataan bahwa bentuk-bentuk perjuangan, diatas semua hal tersebut, tetaplah memiliki konsep-konsep lama. Tidak ada artian-artian baru, sesuatu yang mungkin dapat menawarkan sebuah prespektif alternatif bagi masyarakat kelas pekerja dan kondisi ekonomi yang berorientasi pada akumulasi modal yang jelas sangat tidak manusiawi. Sebuah perspektif alternatif sebagai sesuatu yang dapat dijadikan fondasi bagi perjuangan pembebasan masa depan yang dapat menyatukan rakyat bersama.</p>
<p>Mengikuti kekalahan yang diderita pada tahun 1993, kami tahu bahwa kami tidak dapat berjalan seperti saat kami dulu bermula, dan dengan demikian kami mengistirahatkan perjuangan kami pada tahun 1992. Kami yakin bahwa kami telah memiliki tujuan yang benar dengan apa yang kami yakini, tapi kami telah melakukan beberapa kesalahan taktis yang sangat serius. Kami ingin memikirkan lagi hal ini sekali lagi berbarengan dengan mereka yang ada di penjara, untuk kemudian mengambil sebuah langkah baru. Tetapi pada akhirnya, adalah sangat menyakitkan saat sebuah kelompok narapidana politik dari anggota-anggota kami yang memisahkan diri, kemudian mendeklarasikan bahwa kami adalah musuh, yang dengan demikian menghapus kondisi penting yang dulu telah membuat RAF bertahan, yaitu solidaritas dan perjuangan secara kolektif.</p>
<p><strong>Proses Pembebasan Diri Kami Sendiri&#8230;</strong></p>
<p>&#8230;adalah sesuatu hal yang penting bagi kami, juga karena kami selalu terlihat menjadi stagnan. Kami memiliki hasrat kolektif sebagai sebuah hasrat untuk menembus batas dan bentuk-bentuk alienasi. Tetapi kontradiksi antara perang dan pembebasan seringkali diabaikan dan tidak pernah kami bicarakan sama sekali. Perang revolusioner juga menghasilkan alienasi dan struktur pemerintahan, yang jelas merupakan kontradiksi bagi kebebasan. Melihat hal tersebut, seharusnya hal tersebut tidak dilihat sebagai pemapanan sebuah struktur, melainkan sebagai sebuah kemungkinan untuk timbulnya sebuah kesadaran. Disisi lain tanpa mengatakan bahwa sebuah struktur pemerintahan yang baru akan muncul, dapat dikatakan bahwa harus adanya penguatan baik dalam segi politik maupun dalam hubungan personal. Fakta menunjukkan sendiri hal tersebut dalam kejadian-kejadian saat struktur hirarkis dari front anti imperialis pada tahun 1980 yang seringkali berubah serta kecenderungan munculnya struktur pemerintahan selama perpecahan pada tahun 1993. Dan hal itu juga menunjukkan bagaimana melalui pemikiran-pemikiran dan analisa-analisa mainstream, dimana dalam sejarahnya, RAF malahan mendorong mereka yang berjuang disini bersama kami tidak lagi melihat adanya tujuan untuk menuju kepada sebuah revolusi total.</p>
<p>Adalah Sebuah Kesalahan Strategis Untuk Tidak Membentuk Organisasi Sosial-Politik Bersamaan Dengan Organisasi Bersenjata Ilegal</p>
<p>Tak ada fase dalam sejarah kami yang meraup pemikiran bahwa organisasi politis seharusnya ada bersamaan dengan perjuangan politis-militan yang bersenjata. Konsep dari RAF hanya melihat perjuangan bersenjata yang terfokuskan pada penyerangan-penyerangan yang bersifat politis-militan. Dalam communique-communique formatif dari RAF pada pertengahan tahun 1970an, pertanyaan-pertanyaan penting seperti ini tidak pernah diekspos sama sekali. Secara khususnya di Jerman, belum pernah ada pengalaman-pengalaman sebelumnya mengenai taktik gerilya kota. Berbagai hal dilakukan dan dipelajari langsung melalui aksi-aksi dimana kesalahan dan kegagalan kami sadari secara langsung.</p>
<p>Setidaknya, tidak pernah terdapat sebuah orientasi yang menuju pada pertanyaan yang timbul tersebut, entah itu bahwa bagaimana sebuah gerakan menuju pembebasan dapat dimapankan melalui sebuah organisasi ilegal dan perjuangan bersenjata ataukah bahwa pembangunan gerakan gerilya harus bersamaan dengan pembangunan struktur politis yang bermula sebagai sebuah proses yang mendasar. Bulan Januari 1976, beberapa kamerad kami yang tertangkap dan dipenjara, pernah menulis mengenai hal ini, menyatakan bahwa hanya sebuah perjuangan bersenjata ilegallah yang dapat menjadi oposisi nyata bagi imperialisme.</p>
<p>Konsep yang diajukan pada bulan Mei 1982 juga memapankan posisi ini, mengesampingkan semua kontradiksi serta fakta bahwa hal tersebut adalah usaha untuk menemukan sebuah asosiasi politik berbarengan dengan orang lain. Karena konsep ini pulalah maka tidak pernah terjabarkan bagaimana sebuah perjuangan bersenjata seharusnya berada di pusat metropolis. Aktifitas politik yang muncul dari terbentuknya front mengkomunikasikan penyerangan dalam struktur radikal para leftist.</p>
<p>Kekurangan sebuah organisasi politik selama lebih dari 20 tahun menghasilkan semakin melemahnya proses politis secara berkesinambungan. Aksi-aski politis-militan di metropolis selama beberapa dekade terakhir hanyalah merupakan pra-kondisi untuk konsep ini. Strategi dasar RAF adalah pada sebuah perjuangan bersenjata, dalam berbagai cara yang berbeda selama fase tersebut, tetapi tak ada point dimana aksi-aksi militan dapat menuju kepada: bahwa aksi tersebut adalah pilihan taktis dari strategi pembebasan yang komprehensif. Kelemahan ini juga yang mengarah kepada fakta bahwa organisasi kami tidak dapat mentransformasikan dirinya setelah melalui dua dekade. Pra-kondisi untuk menempatkan fokus dari perjuangan dalam level politik &#8211;yang merupakan apa yang kami ingin lakukan pada tahun 1992&#8211; tidak tercapai. Tetapi pada akhirnya, jelas sekali bahwa hal tersebut menghasilkan kegagalan strategis yang sangat fundamental.</p>
<p>Kurangnya organisasi sosial-politik adalah kesalahan fatal bagi RAF. Hal tersebut bukanlah satu-satunya kesalahan, tetapi itulah alasan terpenting mengapa RAF tidak dapat menjadi proyek pembebasan yang semakin kuat, dan pada akhirnya pentingnya pra-kondisi yang terlupakan adalah untuk membangun sebuah gerakan perjuangan yang mengarah kepada pembebasan, satu hal yang dapat memiliki pengaruh yang kuat dalam ruang lingkup sosial. Kesalahan juga terdapat pada konsepnya sendiri, seperti contohnya, bahwa bagaimana sejarah RAF sebenarnya juga memperlihatkan bahwa konsep RAF tidak relevan lagi dalam proses pembebasan di masa depan.</p>
<p>Akhir Dari RAF Datang Bertepatan Dengan Masa Dimana Seluruh Dunia Berkonfrontasi Dengan Efek-Efek Dari Neo-Liberalisme &#8212; Perjuangan Internasional Melawan Pemindahan, Alienasi, Dan Bagi Sebuah Tujuan Dan Kenyataan Sosial Yang Berbeda Secara Fundamental Sebagai Sebuah Oposisi Bagi Seluruh Kemapanan Kapitalisme</p>
<p>Hubungan sosial yang bersifat kedalam maupun yang bersifat global memperkuat turbulansi bagi pemapanan sejarah yang diikuti oleh berakhirnya sosialisme nyata yang eksis. Meskipun demikian, hal tersebut bukanlah merupakan sebuah kontradiksi bagi kami untuk menghentikan proyek kami ini disaat kami masih melihat kebutuhan bahwa apapun yang berguna dan mungkin harus dilakukan sehingga sebuah dunia tanpa kapitalisme dapat datang, sebuah dunia dimana emansipasi bagi manusia dapat direalisasikan.</p>
<p>Mengingat efek yang menghancurkan dari runtuhnya sosialisme nyata yang eksis di seluruh dunia, dan kemiskinan dari jutaan rakyat di daerah-daerah ex-Uni Soviet, sangatlah tidak cukup pada hari ini berbicara mengenai berbagai kesempatan yang dibawa dengan berakhirnya sosialisme nyata yang eksis. Meskipun demikian, kami juga menemukan bahwa pembebasan yang nyata tidaklah mungkin dibawah model dari sosialisme nyata yang eksis. Adalah mungkin untuk menggariskan konsekwensi dari pengalaman anti-emansipatoris dengan konsep sosialisme nyata yang eksis yang penuh dengan birokrasi negara dan bersifat otoriter, sehingga ditemukan jalur pembebasan di masa depan.</p>
<p>Dengan runtuhnya sosialisme nyata yang eksis, kompetisi diantara sistem yang ada turut berakhir, yang berarti bahwa para pendukung sistem kapitalis merasa tidak perlu lagi untuk membuat sistem mereka jadi tampak ‘lebih baik’. Dalam ketiadaan pengecekan secara ideologis pada para pemodal, sebuah proses pengglobalan kapitalisme telah dihasilkan, yaitu bahwa segala bentuk kemanusiaan ditujukan hany bagi kepentingan para pemodal. Neo-liberalisme adalah fondasi ekonomi ideologis bagi seluruh dunia yang didorong ke depan melalui optimalisasi dan evaluasi masyarakat dan alam demi kepentingan pada pemodal. Para representatif dari sistem ini menamakan hal ini sebagai ‘reformasi’ atau ‘modernisasi’.</p>
<p>Sudah semakin jelas bahwa pemapanan sistem saat ini akan membawa sebagian besar umat manusia kedalam kesulitan eksistensial dan sosial. Bagi mayoritas terbesar rakyat di dunia ini, neo-liberalisme membawa dimensi baru yang mengancam kehidupan mereka. Dalam perjuangan demi hegemoni politik dan kekuatan ekonomis, hanya bentuk ekonomi-ekonomi yang dapat bertahan adalah yang dapat meningkatkan kapasitas melalui korporasi-korporasi yang menjadi segmen masyarakat yang lebih kecil. Efek samping dari sistem ini mengarah kepada perubahan mendalam dalam kondisi masyarakat.</p>
<p>Secara jauh ke depan, hal tersebut akan meningkatkan kemiskinan dan kebrutalan hingga pada jauh ke depannya lagi akan dijumpai perang dan barbarianisme. Jika kepentingan ekonomi politik ada pada urutan pertama dari segala kepentingan, bangsa-bangsa yang kaya akan berintervensi dalam konflik dengan perang yang mereka ciptakan sendiri dalam kepentingan untuk melindungi akses tak terbatas pada bahan baku di seluruh dunia ini dan memapankan kedudukan mereka yang memegang tampuk kekuatan. Mereka tidak akan pernah peduli bagaimana mereka akan menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi dalam masyarakat, mereka akan memilih untuk mengontrol kehancuran dimana sistem mereka akan menggerakkan semua keuntungan kepada hanya sebagian kecil masyarakat saja.</p>
<p>Hal ini bukanlah sebuah kontradiksi, melainkan lebih merupakan sebuah bagian dari sistem yang logis dimana korporasi transnasional dan multinasional akan mendapat kekuatan yang lebih besar daripada sebelumnya, dengan keuntungan yang jauh lebih besar daripada sebelumnya, dalam fase sistem politik yang menciptakan krisis di seluruh dunia, memilah-milahkan masyarakat, dan memiskinkan sektor-sektor terbesar dari massa dan memakmurkan sejumlah kecil masyarakat yang tinggal di metropolitan yang tinggal jauh dari sumber-sumber bahan baku.</p>
<p>Dalam paradoksnya, kesuksesan dalam memaksimalisasikan keuntungan oleh para pemodal dan runtuhnya berbagai bentuk sosial berarti juga memaksa kapitalisme hingga titik batasnya. Kemapanan mereka sendiri justru terancam bahaya diatas segalanya, dimana juga dihasilkan barbarianisme yang mencolok. Dari pemapanan sistem tersebut, proses negatif akan berlanjut, hingga suatu saat dimana sebuah proposal menuju pembebasan yang dapat mengajak kekuatan-kekuatan baru bersama-sama menggulingkan sistem yang ada sekarang ini. Tetapi hari ini, tidak hanya kekalahan historis yang tertinggal bersama dengan kekerasan hubungan sosial yang mengglobal, tetapi juga terdapat gerakan-gerakan pemberontakan yang dapat menggariskan berbagai pengalaman perlawanan dalam sejarah global.</p>
<p>Dalam pemapanan yang bersifat global, kapitalisme, yang juga terdapat di metropolis, berusaha membeli kedamaian sosial yang disebut sebagai ‘welfare system’. Dimana bagaimanapun juga sebagian besar segmen masyarakat termarginalkan karena tidak lagi dibutuhkan proses produksi di pusat-pusat metropolis. ‘Kekuatan dunia’ dan ‘welfare state’ tidak dapat lagi eksis dibawah satu atap. Di Eropa sebagai contohnya, ‘welfare state’ yang lama menjadi terhegemoni secara ekonomi dan politik dari Jerman, dengan Jerman berperan sebagai sebuah negara rasis di garis depan dalam seluruh kontinen yang berubah menjadi sebuah ‘police-state’. Polisi dan militer dikirim untuk melawan mereka-mereka yang berusaha memutuskan mata rantai dari lingkaran kemiskinan, perang dan penindasan. Masyarakat penuh dengan penjara. Polisi dan petugas keamanan memaksa para gelandangan keluar dari area perbelanjaan para konsumen, tidak ketinggalan juga memaksa keluar mereka para generasi muda yang marah pada kondisi konsumtif dan kelas borjuis. Pengenalan kembali dengan berbagai fasilitas yang mengarah kepaa sifat konsumtif segera berubah menjadi penjara bagi anak-anak. Usaha untuk mengontrol jumlah populasi dan pengungsi dalam waktu dekat akan dilakukan dengan kartu-kartu sosial dan dikomputerisasi, akan segera diberlakukan. Polisi dipersenjatai untuk melawan gerakan-gerakan penentangan hingga batas akhir. Pengeluaran, represifitas dan pemindahan. Walaupun kesempurnaan manusia yang berarti juga merupakan rekayasa genetik tidak lagi merupakan sesuatu yang tak mungkin. Pengeluaran dan represifitas melalui hilangnya rasa sosial dalam masyarakat akan terjadi baik disini maupun dimanapun juga. Rasisme yang berasal dari bawah mengancam kehidupan jutaan massa, dimana Jerman yang telah mendapat reputasi rasis dalam sejarah akan berkelanjutan membawa masyarakat dengan sikap rasisme ini. Pengeluaran orang-orang yang ditunjuk dari kalangan atas dan agresi melawan mereka dari kalangan bawah adalah ekspresi kebrutalan masyarakat yang terus berkembang dari hari ke hari. Hanya mereka yang tidak berkontradiksi dengan efisiensi dari sistem ekonomi yang merasa diuntungkan dimana segala sesuatu akan dapat digunakan sebagai modal, dapat dikapitalkan dan dijadikan komoditi. Apapun yang berada diluar kepentingan para pemodal tidak akan diberi lahan untuk dapat hidup dan berkembang. Mereka-mereka yang tidak dapat hidup disini dan tak mempunyai lagi keinginan untuk hal tersebut &#8211;dan mereka yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya setiap hari&#8211; berbicara tentang kekosongan sistem yang ada saat ini dan mengenai betapa kerasnya kehidupan di masyarakat.</p>
<p>Dipasarkannya masyarakat dan kekerasan di rumah-rumah dan di jalanan, adalah merupakan kekerasan yang sistematis, kebekuan sosial diantara sesama masyarakat, kekerasan terhadap perempuan &#8211;semuanya adalah ekspresi dari kondisi yang patriarkis dan rasis. RAF selalu berdiri dalam kontradiksi bagi mentalitas terbesar dari segmen masyarakat saat ini. Hal itu adalah merupakan hal yang terpenting dalam proses menuju pembebasan, karena bukan hanya kondisi yang bersifat reaksioner, tetapi karakter orang-orangnyalah yang reaksioner sebagai hasil kondisi yang ada, dan secara berkala hal seperti inilah yang melemahkan kemungkinan-kemungkinan menuju pembebasan.</p>
<p>Tak disangsikan lagi, ini semua mengenai eksistensi untuk melawan dan berjuang melawan rasisme dan segala bentuk penindasan. Garis tegas di masa depan demi pembebasan harus mulai dibuat dan mencakup juga hal-hal ini, harus ditemukan sebuah kunci untuk membuka apa-apa yang selama ini tertutup, kesadaran reaksioner dan dapat membangkitkan hasrat untuk menuju emansipasi dan pembebasan.</p>
<p><strong>Kenyataan Dunia Saat Ini Membuktikan Bahwa Akan Lebih Baik Apabila Gelombang Revolusi Global, Dimana RAF Adalah Merupakan Bagian Dari Hal Tersebut, Dapat Berhasil</strong></p>
<p>Gelombang revolusi global, dimana RAF juga muncul dari adanya tujuan untuk hal tersebut, tidak sukses dimasa lampau, yang tapi bukan berarti bahwa destruktifitas dan ketidak adilan yang semakin mapan hingga saat ini tidak dapat digulingkan. Fakta bahwa kami masih belum melihat jawaban yang untuk hal tersebut yang dapat menggantikan dan menutupi kesalahan-kesalahan yang pernah kami buat. RAF datang dari sebuah gerakan revolusioner dekade lampau yang belum melihat bagaimana sistem ini akan semakin mapan dengan caranya sendiri sekarang ini, tetapi setidaknya ditemukan sebuah ancaman terhadap sistem yang telah ditunjukkan. Kami tahu bahwa sistem ini akan menyisakan semakin sedikit dan semakin sedikit saja orang-orang yang berusaha hidup dengan keyakinan dan harga dirinya. Dan kami juga mengerti bahwa sistem ini mencari akses penuh pada masyarakat sehingga mereka dapat menguasai seluruh sistem yang berlaku dan mengarahkan segalanya demi kepentingan pribadi mereka sendiri. Radikalisme kami berangkat dann berkembang dari kenyataan yang ada. Bagi kami, kami tidak mengalami kerugian apa-apa dari perjuangan kami melawan sistem ini. Perjuangan kami &#8211;dengan kekerasan&#8211; mengalami masa yang penuh dengan kesulitan, mengalami masa yang berat.</p>
<p>Perang pembebasan memiliki bayangannya sendiri juga. Menyerang orang-orang yang berfungsi sebagai abdi negara merupakan kontradiksi bagi pemikiran dan perasaan hampir seluruh para revolusioner di seluruh dunia &#8211;yang bagi mereka merupakan kontradiksi dengan inti dari gerakan pembebasan itu sendiri. Walaupun ada saat dimana fase-fase tersebut yang terdapat dalam proses menuju pembebasan dipandang sebagai sesuatu yang diperlukan, karena masih ada orang-orang yang berada pada posisi penindas mempertahankan kekuatan mereka sendiri dan juga mempertahankan kekuatan sesamanya. Para revolusioner berpendapat bahwa sebuah dunia yang seharusnya adalah sebuah dunia dimana tak seorangpun berhak menentukan siapa saja yang berhak hidup ataupun yang tidak. Meskipun demikian, kekerasan kami telah menmbuat marah beberapa orang dengan cara yang tidak rasional. Teror yang sesungguhnya adalah sesuatu yang normal dalam sistem ekonomi saat ini.</p>
<p><strong>RAF Bukanlah Jawaban Untuk Pembebasan &#8212; Tetapi Merupakan Salah Satu Aspek Dari Hal Tersebut</strong></p>
<p>Walaupun banyak pertanyaan yang tetap tak terjawab hingga hari ini, kami yakin bahwa dari ide-ide pembebasan hingga ke masa depan, benih-benih dari sebuah tatanan masyarakat yang bebas akan terus muncul dan tumbuh, jika hal itu benar-benar mencakup berbagai varietas yang dibutuhkan untuk merubah kondisi-kondisi yang ada saat ini. Sangatlah tidak berguna untuk membicarakan ‘jalan yang benar’, aspek-aspek diluar kehidupan dimana segala sesuatu dianggap tidak efisien, hanya demi mencari sebuah subyek revolusioner. Proyek pembebasan di masa yang akan datang akan ditemukan melalui berbagai amcam subyek dan varietas dari aspek dan kemungkinan-kemungkinan yang ada. Kami membutuhkan sebuah proposal baru dimana individual-individual atau kelompok-kelompok sosial yang terlihat sangat berbeda dapat menjadi subyeknya, dan bisa bergerak bersama-sama. Dalam cara ini, proyek pembebasan dimasa depan tidak membawa konsep-konsep tua yang ditinggalkan oleh Jerman pada tahun 1968, atau konsep yang digunakan oleh RAF maupun organisasi lainnya. Kenikmatan untuk membangun sebuah proyek pembebasan yang meliputi segala aspek, anti-otoritarian, dan dapat menyatukan kita semua tergantung kepada diri kita saat ini, walaupun dengan sedih kami katakan bahwa hal tersebut saat ini sangat jarang ditemui. Kami melihat bahwa orang-orang dimana-mana di seluruh dunia ini yang berjuang demi hal ini, akan menemukan cara setelah mereka mempelajari banyak cara. Kami menggariskan harapan dari fakta yang ada, bahwa dimanapun, walaupun itu di sudut negara yang paling ketat sekalipun &#8211;dimana hegemoni kultural dari kaum fasis mengikat sangat kuat&#8211; masih terdapat orang-orang yang telah berani bergabung bersama melawan rasisme dan neo-nazisme, untuk melindungi diri mereka sendiri beserta yang lainnya dan juga untuk berjuang.</p>
<p>Sangatlah penting untuk menemukan kenyataan bahwa kita semua ada di sebuah jalan buntu dan kita harus menemukan jalan keluar. Maka akan sangat berharga apabila kita mengabaikan hal-hal yang hanya mengarah kepada tingkatan teoritikal saja. Keputusan kami untuk mengakhiri sesuatu adalah juga sebuah ekspresi dari pencarian kami akan jawaban-jawaban yang baru. Kami tahu bahwa kami bergabung bersama banyak sekali orang di seluruh dunia ini dalam pencarian yang sama. Akan terjadi banyak diskusi di masa yang akan datang hingga semua pengalaman akan dibawa bersama dan kami akan memiliki sebuah gambaran yang realistis dan merefleksikan sejarah.</p>
<p>Kami ingin menjadi bagian dari tulang sendi gerakan pembebasan. Kami ingin menjadikan beberapa proses yang telah kami alami dipelajari, dan kami juga ingin mempelajari proses-proses dari yang lain. Hal ini tidak menempatkan akan pentingnya vanguard yang akan memimpin perjuangan. Walaupun konsep sebagai vanguard telah kami hapuskan dari pengertian-pengertian kami selama perjuangan kami bertahun-tahun, konsep lama dari RAF ternyata tidak dapat menghapuskan benar-benar hal tersebut. Hal inilah yang menjadi alasan lain mengapa kami harus memotong konsep ini dari diri kami sendiri.</p>
<p><strong>Gerilya Di Metropolis Telah Membawa Perang Kembali Kedalam Perut Sang Monster, Kepada Negara-Negara Imperialis Yang Membiayai Perang Mereka Diluar Pusat Kekuatan Mereka Sendiri</strong></p>
<p>Mengabaikan segala sesuatu dimana kami dapat melakukannya dengan lebih baik, sangatlah benar secara fundamental untuk melawan kondisi-kondisi di Jerman Barat dan mencari cara yang lebih baik dalam gerakan perlawanan sebagai tindak kelanjutan perlawanan dalam sejarah Jerman. Kami ingin untuk membuka kesempatan yang baik bagi perjuangan revolusioner di metropolis. RAF mengambil lapangan sosial untuk perjuangannya dan berusaha mengembangkannya selama lebih dari dua dekade, sebuah lapangan perjuangan yang secara historis sangatlah jarang ditemui, dengan kurangnya gerakan-gerakan melawan fasisme, dan dimana mayoritas populasi masih merasa perlu untuk memberikan loyalitasnya pada fasisme dan barbarianisme.</p>
<p>Tidak seperti di negeri-negeri lain, di Jerman, pembebasan dari fasisme telah berdatangan dari luar negeri. Tidak ada penentuan sendiri cara melepaskan diri dari fasisme ‘dari bawah’ di negeri ini sendiri. Sangat sedikit sekali orang-orang di negeri ini yang menolak fasisme, terlalu sedikit dibandingkan dengan perkembangan manusianya. Mereka yang berjuang dengan perlawanan dari kaum yahudi, perlawanan dari kaum komunis &#8211;dan dalam apapun bentuk perlawanan anti-fasisme&#8211; ditemukan berjuang disini. Dan mereka akan selalu dapat dibenarkan. Mereka adalah secercah cahaya dalam sejarah negeri ini yang sejak tahun 1933, fasisme mulai membunuh segala aspek sosial masyarakat negeri ini.</p>
<p>Dalam kontrasnya bagi rakyat banyak, trend yang berlaku dalam masyarakat selalu secara kurang lebih menerima apa yang dikatakan oleh mereka yang ada di tampuk kekuasaan; penguasa memutuskan apa yang harus dilegitimasi. Dalam kehancuran nilai sosial dari masyarakat ini, dimana sebuah pra-kondisi telah dimulai oleh pembantaian yang dilakukan oleh kaum Nazi, tidak ada bedanya dengan berbagai momen esensial yang terjadi hingga hari ini. RAF menghancurkan tradisi Jerman setelah fasisme Nazi dan menolak untuk menerima hal tersebut dilegitimasikan. RAF muncul sebagai sebuah kebangkitan melawan hal tersebut. Hal tersebut dilakukan tidak hanya menolak kelanjutan sebagai gerakan nasional dan sosial, tapi lebih diutamakan sebagai perjuangan internasionalis dalam tempat negasi ini, sebuah perjuangan dimana praksisnya menolak kondisi penguasa di negara Jerman dan menyerang struktur militer yang beraliansi dengan NATO. Di seluruh dunia, aliansi ini, yang merupakan struktur hirarkis dari Amerika Serikat, adalah kekuatan yang menggerakkan tanpa pernah ada pertanyaan tentang siapakah sebenarnya yang memimpin, yang kemudian hanya bertujuan untuk memerangi pemberontakan-pemberontakan dan gerakan-gerakan pembebasan dengan cara yang militeristik atau perang.</p>
<p>Gerilya yang dilakukan di metropolis membawa perang &#8211;dimana para imperialis membiayai perang dan membawanya keluar dari titik pusat sentral kekuasaannya&#8211; kembali kedalam perut sang monster. Kami menjawab kondisi kekerasan dengan revolusi yang menggunakan kekerasan juga. Tidaklah mungkin bagi kami untuk melihat kembali kepada cara-cara yang lebih halus dan sempurna dalam sejarah Jerman. Tapi kami berusaha untuk melakukan sesuatu, dan dengan melakukannya kami melangkahi banyak hukum-hukum yang diciptakan oleh penguasa dan memasuki dan melewati batas-batas dari masyarakat borjuis.</p>
<p>RAF tidak mungkin untuk menyediakan jalan menuju pembebasan. Tapi apa yang telah dikontribusikan selama lebih dari dua dekade pada faktanya memberikan banyak masukan dan pemikiran mengenai pembebasan hingga hari ini. Meletakkan sistem sebagai sesuatu yang perlu dipertanyakan &#8211;walaupun masih juga dilegitimasi&#8211; selama masih terdapatnya dominasi dan penindasan diatas kebebasan, emansipasi dan harga diri bagi semua orang di dunia ini.</p>
<p>Masih ada sembilan anggota militan dari perjuangan RAF yang masih mendekam di penjara. Walaupun perjuangan demi pembebasan masih jauh dari titik akhir, konflik-konflik yang ada telah menajdi bagian dari sejarah. Kami mendukung segala usaha dan cara untuk membawa mereka para narapidana konlik tersebut keluar dari penjara.</p>
<p>Saat ini kami ingin menyampaikan salam dan rasa terima kasih bagi semua yang menawarkan solidaritas pada kami di jalan kami untuk selama 28 tahun yang lalu, yang telah mendukung kami dalam berbagai cara, dan bagi yang telah berjuang bersama kami dengan cara yang mereka dapat lakukan. RAF telah memutuskan untuk mengkontribusikan segala perjuangannya demi pembebasan. Intervensi revolusioner di negeri ini dan sejarahnya tidak akan pernah mendapat tempat jika saja banyak orang yang tidak mau berorganisasi dalam tubuh RAF sendiri, dan tidak mengambil bagian bagi diri mereka sendiri pada perjuangan ini. Sebuah jalur yang sama telah tergariskan dibelakang diri kita semua. Kami berharap bahwa kami akan menemukan diri kami bersama lagi dalam masa yang tidak diketahui dalam hembusan nafas pembebasan.</p>
<p>Pemikiran kami ada bersama mereka di seluruh dunia yang kehilangan hidup mereka dalam perjuangan melawan dominasi dan demi pembebasan. Tujuan yang mereka gariskan adalah tujuan dari hari ini dan hari esok &#8211;hingga semua hubungan akan berubah dimana seseorang sebagai obyek rendahan, yang diabaikan akan menjadi sangat dihargai. Sangat menyedihkan saat banyak dari mereka yang telah memberikan hidupnya, tetapi kematian mereka sama sekali tidak dihargai. Mereka telah hidup demi perjuangan dan pembebasan di masa yang akan datang.</p>
<p>Kami tidak akan pernah melupakan kamerad-kamerad kami yang tergabung dalam Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLP) yang kehilangan hidupnya dalam musim gugur tahun 1977 dalam aksi solidaritas internasional, yang bertujuan untuk membebaskan para tahanan dan narapidana politik. Hari ini kami secara spesial ingin memberikan kenangan pada mereka yang telah memutuskan untuk menyerahkan segalanya demi perjuangan bersenjata disini dan telah kehilangan hidupnya. Kenangan kami dan segala respek kami dipersembahkan bagi mereka yang namanyapun kami tidak tahu, karena kami memang tidak mengenal mereka, dan juga bagi&#8230;</p>
<p>Petra Schelm<br />
Georg von Rauch<br />
Thomas Weissbecker<br />
Holger Meins<br />
Katharina Hammerschmidt<br />
Ulrich Wessel<br />
Siegfried Hausner<br />
Werner Sauber<br />
Brigitte Kuhlmann<br />
Wilfried Bose<br />
Ulrike Meinhof<br />
Jan-Carl Raspe<br />
Gudrun Ensslin<br />
Andreas Baader<br />
Ingrid Schubert<br />
Willi-Peter Stoll<br />
Michael Knoll<br />
Elisabeth van Dyck<br />
Juliane Plambeck<br />
Wolfgang Beer<br />
Sigurd Debus<br />
Johannes Timme<br />
Jurgen Peemoeller<br />
Ina Siepmann<br />
Gerd Albartus<br />
Wolfgang Grams</p>
<p><strong><em>Revolusi berkata&#8230; dulu Aku&#8230; sekarang Aku&#8230; dan Aku akan muncul kembali&#8230;</em></p>
<p>Red Army Fraction<br />
Maret 1998  </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2006/05/22/statement-final-mengenai-bubarnya-red-army-fraction-%e2%80%98baader-meinhof%e2%80%99/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Italian Job</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2005/07/05/italian-job/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2005/07/05/italian-job/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jul 2005 17:38:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Direct Action]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/v2/2005/07/05/italian-job/</guid>
		<description><![CDATA[Florence pastilah merupakan salah satu kota terindah di Italia jika bukan di dunia. Berkedudukan di lembah Tuscan ia terletak ditengah-tengah antara Milan dan Roma. Terima kasih terhadap keramahan beberapa teman di Gerakan Anarkis Florence (MAF) baru-baru ini tiga anggota Workers Solidarity Movement dapat berkunjung ke kota ini. Selama seminggu yang kami habiskan disana...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>The Italian Job (soal Squateris)</p>
<p>Florence pastilah merupakan salah satu kota terindah di Italia jika bukan di dunia. Berkedudukan di lembah Tuscan ia terletak ditengah-tengah antara Milan dan Roma. Terima kasih terhadap keramahan beberapa teman di Gerakan Anarkis Florence (MAF) baru-baru ini tiga anggota Workers Solidarity Movement dapat berkunjung ke kota ini. Selama seminggu yang kami habiskan disana, di siang hari kami dapat bepesiar dan bertemu dengan kaum anarkis di malam harinya. Pada Jumat malam saat kami tiba di Florence MAF telah mengatur sebuah jamuan makan dan suatu sesi tanya jawab yang informal di markas besar mereka. Dijamu dengan makanan yang menyenangkan dan beberapa gelas anggur kami belajar banyak tentang aktivitas dan kondisi masing-masing saat ini. Pertanyaan yang diajukan kepada kami mulai dari hubungan pemerintah Irlandia dengan Sinn Féin saat ini hingga kepada kemungkinan untuk meningkatkan perjuangan kelas dengan adanya gencatan senjata? Kami juga ditanya pendapat kami tentang internet dan upaya yang dilakukan pemerintahah AS untuk memperoleh sejumlah kontrol atasnya.</p>
<p><span id="more-41"></span>COBAS</p>
<p>Kami bertanya tentang Cobas, yang merupakan sebuah kelompok payung yang cair bagi serikat-serikat buruh yang tak resmi. Mereka tumbuh dari ketidakpuasan terhadap pengurus serikat buruh resmi di tahun 1987-88, awalnya di sektor kereta api, pendidikan, dan kesehatan. Di 1991 mereka bergerak mengorganisir apa yang sekarang yang sekarang menjadi pemogokan umum sehari yang terkenal menentang Perang Teluk. Menjadi sangat menarik untuk berbicara dengan orang yang telah terlibat dalam gerakan ini. Pembicaraan berlanjut hingga subuh. Beribu terima kasih untuk penerjemah kami yang kelelahan di malam itu.</p>
<p>Balai Sosial/The Social Centres</p>
<p>Di hari sabtu kami seret dalam kunjungan singkat ke berbagai Social Centre yang ada di Florence. Social Centre ini kesemuanya berada di gedung-gedung yang diduduki dan dioperasikan oleh berbagai kelompok dengan agenda-agenda politik yang berbeda. DPRD setempat telah menendang orang-orang dari bangunan-bangunan yang telah di-squat tetapi kelihatannya mereka tak terlalu gigih dalam melakukannnya. Social Centre yang pertama kali saya kunjungi adalah balai “Autonomist”, yang sedang menjamu kelompok rock terkenal untuk bermain disana. Acaranya sendiri gratis walaupun anda dimohon untuk menyumbang sedikit uang receh dipintu depan. Dari luar tempat tersebut kelihatan seperti sebuah pabrik yang sepi dengan sejumlah graffiti keren di dindingnya. Didalam anda akan menemukan bar yang menghidangkan bir-tong, sound system yang bagus, sebuah area terpisah untuk karya seni, desain, dan properti teater jalanan. Tempat ini terasa hidup dengan sekitar 300 anak muda, musik yang keras dan sekitar 12 ekor anjing! Berikutnya kami pergi ke rumah-villa di pinggiran taman publik yang digunakan oleh kalangan Hijau (gerakan lingkungan), anarkis, dan orang-orang yang berkampanye bagi hak-hak Indian Amerika (karena sejumlah perusahaan Itali berupaya membangun observatorium diatas tanah mereka). Tak terlalu banyak orang disini namun disana paling kurang ada sebuah band rap yang hidup, sebuah galeri yang mempertontonkan sejumlah karya seni yang menarik, dan banyak anak muda yang sekedar minum-minum dan merokok. Terdapat beberapa buku dan pamplet politik dipajang berdampingan dengan kaset-kaset bajakan dari konser-konser.</p>
<p>The Blues Brothers, Che dan aku</p>
<p>Yang terakhir, kami pergi ke sebuah Leninist Social Centre di selatan kota. Disini sebuah konser baru saja usai dan musik rock yang luar biasa keras sedang dimainkan oleh DJ yang sangat lincah. Terdapat sebuah bar, seperti di semua Centres, minumannya sangat murah. Kaum muda duduk-duduk dan</p>
<p>berteriak satu sama lain agar bisa terdengar sementara satu pasangan yang dimabuk cinta saling mengenal lebih jauh satu sama lain. Di dinding ada bendera Cuba, palu arit (tentu saja) dan posterposter dari setiap perjuangan anti-imperialis dari Palestina hingga Guatemala. Di bagian atas dari semua suasana gembira yang ribut ini larut malam/subuh ini terpampang gambar apik dari Che Guevara, ditemani Blues Brother yang melirik kebawah dari dinding. Aku bertanya-tanya apa yang akan dikatakan Che tentang ini semua? The Social Centres menjadi pengalaman yang hebat melihatnya beroperasi. Karena berasal dari sebuah negeri yang membawa masuk hukum kedalam kepalamu bersama balasan yang dasyat jika kamu cobacoba berpikir untuk menguasaoi bangunan-bangunan yang tak dipakai, saya terkesan terhadap nafas kehidupan baru yang dimiliki oleh tempat-tempat ini. Saya membayangkan banyak bangunan di Dublin yang dapat dipergunakan dalam cara ini. The Centres menyediakan sebuah tempat dimana kaum muda dapat pergi dan tidak batasi bagaimana harus berpakaian atau tak dikenai harga yang terlalu tinggi untuk segelas minuman. Politik nampak tak diperdebatkan di malam minggu (jikapun diperdebatkan, aku nggak bisa bilang apa-apa). Lebih penting lagi, Centres menyediakan sebuah tempat dimana anda tahu disana terdapat kultur yang paling kurang anti-otoritarian.</p>
<p>Kaum Anarkis dalam serikat buruh</p>
<p>Di hari sabtu kami bertemu dengan anarkis-anarkis yang aktif didalam CGIL (sebuah federasi serikat buruh yang besar), mereka ini adalah pengurus serikat buruh di sektor Pendidikan. Mereka memandang sebagai hal yang penting menaikkan seorang anarkis agar dipilih sebagai pengurus tingkat lantai kerja sebagai upaya menghadapi birokrasi yang berat yang ada di serikat-serikat buruh resmi. Mereka juga berhadapan dengan serikat-serikat buruh besar yang para pemimpinnya sepenuhnya terpisah dari persoalan-persoalan yang mempengaruhi anggota-anggota biasa. Tujuan mereka adalah membangun gerakan orang-orang bawahan.</p>
<p>Gratzi, untuk masa depan</p>
<p>Demikianlah setelah seminggu penuh dengan sinar matahari, seni, budaya dan politik kami kembali ke Irlandia. Kami telah diperlakukan dengan penuh keramah-tamahan dan memperlihatkan persahabatan yang hangat, terutama sekali oleh kamrad-kamrad di MAF. Saya kembali dengan penuh harapan, mengetahui bahwa semangat untuk kebebasan sejati dan anarki menyala bukan hanya di dalam hati sejumlah orang Irlandia namun juga di hati kawan-kawan yang ada di Florence. Charlie Parker</p>
<p>Semula dipublikasikan dalam Workers Solidarity 45, 1995 Terjemah oleh: Yerry Nikholas | arm_da_spirit [at] yahoo [dot] com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2005/07/05/italian-job/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beyond Food Not Bombs</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2005/05/27/beyond-food-not-bombs/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2005/05/27/beyond-food-not-bombs/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 May 2005 15:48:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Direct Action]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/v2/2007/11/07/beyond-food-not-bombs/</guid>
		<description><![CDATA[FNB pertama kali dicetuskan sekitar tahun 80an, diawali dari pergerakan anti-nuklir. Semua ini berdasarkan pada pemikiran bahwa jika berbagai sumber daya tidak dialokasikan pada senjata untuk berperang, dan kepada ketamakan-ketamakan, maka kebutuhan mendasar dari manusia; pangan, papan, dan kesehatan, akan terpenuhi.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa yang gak tau tentang Food Not Bombs (FNB) ? Oke, saya juga gak bisa asumsiin bahwa semua orang yang baca ini tau FNB. Jadi mending saya bahas secara singkat tentang FNB.</p>
<p>FNB pertama kali dicetuskan sekitar tahun 80an, diawali dari pergerakan anti-nuklir. Semua ini berdasarkan pada pemikiran bahwa jika berbagai sumber daya tidak dialokasikan pada senjata untuk berperang, dan kepada ketamakan-ketamakan, maka kebutuhan mendasar dari manusia; pangan, papan, dan kesehatan, akan terpenuhi.</p>
<p>Berbagai grup FNB di seluruh dunia mengumpulkan makanan sehat dan segar setiap minggunya yang dibuang hanya karena sudah tidak cukup menarik untuk dijual dan menyiapkan makanan vegetarian untuk bisa berbagi dengan semua orang. Jadi mungkin intinya FNB adalah tentang bagi-bagi makanan gratis, kepada orang-orang yang gak mampu. selesai ? Gak. FNB bukan hanya sebatas sampai ke acara amal seperti itu. Artis ibukota dan para petinggi negara juga sering lakukan hal itu. Trus apa yang beda dari FNB ? Apa yang membuat FNB bukan sebuah acara amal ?</p>
<p><span id="more-21"></span>Kebanyakan gerakan sosial yang pernah ada telah terkooptasi oleh pemerintah,atau bahkan ada juga yang dibantai. Tapi hal ini tidak pernah terjadi pada FNB. Desentralisasi, struktur non-hirarki, demokrasi langsung adalah beberapa trik untuk bertahan dan menghindari kooptasi.</p>
<p>Ide awalnya adalah; planet bumi cukup kaya untuk menghidupi seluruh mahluk hidup yang ada. Lalu kenapa juga masih banyak orang yang kelaparan ? kenapa juga masih banyak orang yang masih merasa beruntung dengan hanya makan 2 kali sehari ? Mungkin karena semua bahan baku dan makanan telah dimonopoli. Semua tanah tak bertuan telah diklaim. Semua tumbuhan yang tumbuh di atasnya sudah menjadi hak milik. Dan untuk mendapatkan dan mengkonsumsi semua hasil alam tersebut, manusia harus membayar. Membayar sesuatu yang seharusnya menjadi hak semua manusia. Lucu ya ?</p>
<p>Pesan yang dibawa oleh FNB sebenernya sangat simpel pada awalnya ; Tak seorangpun yang pantas kelaparan di tengah-tengah dunia yang super kaya ini, dimana tanah, matahari, dan hasil bumi seharusnya tidak diperjualbelikan. Ide selanjutnya adalah, negara mengumpulkan dana kebanyakan untuk membeli senjata. Senjata untuk apa ? Ya tentu saja untuk berperang. Perang yang biasanya didasari perebutan hasil alam. Kalau di Indonesia contoh kasusnya mungkin hampir sama. Negara membelanjakan uangnya untuk membeli senjata (yang dipakai untuk latihan perang-perangan di aceh, dll), untuk membuat patung-patung gak berguna yang harganya milyaran, dll.</p>
<p>Ironisnya, masih banyak orang yang kelaparan dalam disini. Padahal kalo mampu bikin patung dan senjata, berarti sebenernya ada uang kan ? so.. people need food, not bombs! Kamu gak bisa menghidupi anak-anakmu dengan senjata. atau mungkin kalau di indonesia harus diganti menjadi food not statue !</p>
<p>Haha kidding. Balik ke topik, jadi sebenarnya FNB lebih dari sekedar acara amal, membantu yang tak mampu dll dll.. FNB sangat politis di mata saya. FNB bukan sinterklas yang selalu ditunggu-tunggu kedatangannya oleh si lapar. FNB adalah sebuah bentuk demonstrasi yang memperlihatkan apa yang sebenarnya diperlukan manusia. Bahwa semua manusia setuju tentang satu hal; distribusi makanan secara adil. bahwa makanan gratis adalah hak untuk semua orang. Maka FNB mencari dan mengumpulkan bahan-bahan serta makanan untuk diolah kembali dan didistribusikan kepada masyarakat, bukan hanya sekedar untuk memberi makan yang kelaparan tapi untuk memperlihatkan dan mengingatkan bahwa manusia seharusnya menagih apa yang menjadi haknya. FNB juga mendemonstrasikan bahwa sebuah kelompok dengan dana yang terbataspun bisa membuat sebuah perubahan besar bagi masyarakat. FNB juga mengekspos mengenai bagaimana kekerasan, militerisme dan imperialisme sangat mempengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat sekarang.</p>
<p>Lewat FNB, masyarakat juga akan belajar bagaimana isu-isu lain saling berhubungan dengan hidupnya. Setiap hari, banyak bahan mentah makanan atau makanan jadi dan layak makan yang terbuang. Untuk menyelamatkan bahan makanan yang terbuang dan mendistribusikannya kembali ke masyarakat, 3 unsur penting harus dikombinasikan :</p>
<p>* bahan makanan dikumpulkan<br />
* mengolah agar menjadi makanan siap makan<br />
* didistribusikan kepada siapapun yang menginginkannya.</p>
<p>Pastikan agar makanan ini mudah diakses oleh siapapun juga, tanpa birokrasi. Dalam setiap FNB, pada meja makanan selalu terdapat sebuah space khusus untuk menaruh leaflet, newsletter atau literatur lainnya dari berbagai isu, dari berbagai komunitas pula. Mulai dari vegetarianisme sampai ke anti-militerisme. Jadi ketika FNB menggelar mejanya, disitu bukan hanya terjadi acara bagi-bagi makanan saja, tapi ada sebuah tawaran wacana kepada masyarakat.</p>
<p>Dari literatur-literatur yang berbeda, akan terlihat ketertarikan masing-masing individu yang datang ke FNB, dan tentu saja akan bertemu dengan teman-teman barunya. Dengan kata lain, FNB juga membentuk sebuah jaringan luas antar manusia. Dikarenakan hubungan antara manusia sudah banyak teralienasi satu sama lain, maka dalam sebuah event FNB semua orang yang tak saling kenal akan berkenalan. Semua orang akan mengetahui ketertarikan teman barunya. Jadi jelas FNB bukan hanya acara makan-makan gratis. FNB bekerja keras untuk membangun komunikasi dengan cara mengajak masyarakat untuk saling berbagi dan saling membangun hubungan persaudaraan satu sama lain dan menghancurkan dinding alienasi.</p>
<p>Jadi secara gak langsung, FNB mempromosikan sebuah tatanan masyarakat alternatif kepada semua orang. Baik kepada orang yang datang, juga kepada setiap individu yang menjadi sukarelawan didalam FNB sendiri. Dari mulai mendorong orang untuk mengenal orang-orang di sekitarnya (menghancurkan alienasi) sampai ke pencarian keputusan yang dibuat dengan cara konsensus.</p>
<p>FNB selalu menyajikan makanan gratis tanpa produk-produk hewani, dalam artian menu vegetarian. Kenapa ? Selain bahan mentah organik lebih bisa bertahan lama untuk disimpan, FNB juga percaya bahwa mengkonsumsi produk hewani adalah sebuah pemborosan sumber daya alam. Satu hektar tanah yang ditanami dengan sayur-sayuran akan lebih bisa ngenyangin banyak perut dibandingin satu hektar tanah yang dibuat sebagai peternakan. Peternakan juga membutuhkan tanah tambahan untuk membuat ladang tanaman untuk memberi makan hewan-hewannya. Boros kan ? Belum lagi limbah yang dihasilkan oleh industri daging.</p>
<p>Namun banyak kegagalan yang pernah terjadi seperti acara FNB yang digelar hanya memberi makan pada orang-orang di jalanan. Sekedar itu. Nah setelah memberi makan gratis, lalu apa ? Apa yang membuat FNB berbeda ? Apa yang menjadi FNB begitu kuat dan tetap ada sampai sekarang ? Kamu pengen bikin FNB di tempat kamu ? mungkin dibawah ini adalah beberapa poin penting pada FNB yang sebelumnya udah dibahas secara singkat.</p>
<p>FNB itu tidak tersentral, non-hirarki dan semua keputusan berdasarkan demokrasi langsung (konsensus). Tidak tersentral, berarti tidak pernah ada grup pusat. Siapapun bisa membentuk grupnya sendiri dan bisa saling bekerja sama dengan grup lainnya. Dan setiap grup bisa membuat nilai-nilai dan politiknya masing-masing.</p>
<p>Non-hirarki berarti tidak ada kepemimpinan. dan semua keputusan diambil berdasarkan konsensus bukan voting. Karena voting berdasarkan kuantitas sementara konsensus berdasarkan kualitas. Dalam konsensus, setiap individu memiliki hak dan suara dalam mengambil keputusan, dan setiap keputusan yang diambil berdasarkan kesepakatan bersama-sama, bukan karena suara terbanyak. Konsensus juga menciptakan suasana nyaman dimana setiap individu yang memiliki opini yang berbeda-beda bisa mengekspresikan opininya masing-masing tanpa rasa takut, dimana konflik sebesar apapun bisa diselesaikan dengan cara saling menghargai. Jadi tidak ada kompetisi dalam pengambilan suara.. suara siapa yang harus menang dan lain-lain.</p>
<p>Konsensus juga memberi kesempatan kepada setiap ide untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan. Setiap individu yang ada tidak harus sepakat dalam satu hal. Itulah yang membedakannya dengan voting. Setiap individu yang saling tidak sepakatpun masih bisa mencari jalan dengan cara konsensus.</p>
<p>Bila dicari, banyak sekali makanan layak makan yang dibuang setiap harinya. FNB mencari, mengumpulkan, mengolah dan mendistribusikan makanan tersebut. FNB percaya bahwa vegetarianisme adalah cara makan yang ramah terhadap lingkungan, menggunakan lebih sedikit sumber daya alam dan lebih sehat. Maka FNB selalu medistribusikan makanan kepada masyarakat dalam menu-menu vegetarian. Semakin banyak orang menjadi vegetarian, maka akan lebih banyak orang yang dapat diberi makan. Bikin grup FNB di tempat kamu! Satu orang belum bisa disebut sebagai grup, tapi satu orang bisa memulai sebuah grup sendiri. Pertama, cari teman-teman kamu untuk bergabung. Ceritakan ide kamu.</p>
<p>Bila beberapa teman kamu tertarik, minta mereka juga untuk mencari teman-teman yang lain. Setelah itu, kalian tentukan tanggal, tempat, waktu untuk meeting pertama kalian. Ajak sebanyak mungkin orang untuk bergabung. Kamu juga bisa buat poster atau flyer atau leaflet mengenai idemu tersebut. Tempelkan di tempat-tempat yang kamu anggap cukup efektif untuk mencari teman baru. Jangan lupa cantumkan alamat atau nomor telpon yang bisa dihubungi. Poster dan flyer bertujuan untuk menambah sukarelawan di dalam grupmu, juga membuat orang lain membuat grupnya sendiri di daerahnya. Sehingga kamu bisa bekerja sama dengan grup lain di kotamu. Mulailah untuk mencari donasi bahan makanan. Coba cari tau mengenai makanan yang terbuang, atau mungkin ada yang mau rilisan band kamu, atau stiker dll untuk mencari dana.</p>
<p>Kamu juga bisa bikin gig di kota kamu untuk itu. FNB bisa digelar dimanapun kamu mau. Pada acara musik, atau di taman kota, di setiap event apapun, atau di jalanan pinggir trotoar. Jangan lupa bahwa tiap komunitas/grup yang bekerja sama dalam membuat FNB itu memiliki ketertarikan yang berbeda, maka sediakan space khusus untuk literatur. Setiap grup bisa membuat literaturnya dan isunya sendiri dan menaruhnya disana.</p>
<p>Ajak bicara dan kenalan dengan setiap orang yang datang dan mengambil makanan. Dengan cara itu kamu bisa memperluas jaringan dan persahabatan. Oh ya, salah satu ciri khas FNB yang membedakannya dengan acara amal biasa adalah : FNB berjalan secara rutin, entah itu seminggu sekali, atau sebulan sekali. ya udah, semoga membantu. Cuman itu yang saya tau mengenai FNB, selamat mencoba.</p>
<p>Oleh : Gerinda Wajah<br />
Sumber Tulisan : http://www.brontakzine.com/artikel/beyond_fnb.htm</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2005/05/27/beyond-food-not-bombs/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Food Not Bombs</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2005/05/23/food-not-bombs/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2005/05/23/food-not-bombs/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 May 2005 14:30:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Direct Action]]></category>
		<category><![CDATA[Food Not Bombs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/v2/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Di berbagai penjuru dunia saat ini telah terbangun puluhan kelompok-kelompok yang aktivitasnya adalah membagi-bagikan makanan vegetarian gratis untuk orang-orang miskin dan siapapun yang tidak mampu membeli makanan. Kelompok-kelompok ini selain mengkampanyekan sikap anti-kemiskinan mereka, secara lebih jauhnya bertujuan untuk menciptakan sebuah tatanan masyarakat yang non-kekerasan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Karena makanan adalah hak semua orang bukan hak istimewa segelintir orang saja!</p>
<p>Karena ada cukup makanan untuk semua orang dimana-mana! Karena kekurangan bahan makanan pokok adalah bohong! Karena disaat kita lapar atau kedinginan kita punya hak untuk mendapatkan apa yang kita inginkan dengan cara meminta, mengamen, atau menempati bangunan-bangunan kosong! Karena kapitalisme menjadikan makanan sebagai sumber keuntungan, bukan sebagai sumber nutrisi! Karena makanan tumbuh pada tanaman! Karena kita butuh lingkungan bukan kendali! Karena kita butuh rumah bukan penjara! Karena kita butuh makanan bukan bom!</p>
<p><span id="more-11"></span>Di berbagai penjuru dunia saat ini telah terbangun puluhan kelompok-kelompok yang aktivitasnya adalah membagi-bagikan makanan vegetarian gratis untuk orang-orang miskin dan siapapun yang tidak mampu membeli makanan. Kelompok-kelompok ini selain mengkampanyekan sikap anti-kemiskinan mereka, secara lebih jauhnya bertujuan untuk menciptakan sebuah tatanan masyarakat yang non-kekerasan. Dan walaupun memang banyak kelompok-kelompok yang melakukan aktivitas tersebut dalam berbagai nama, namun ada satu organisasi akar-rumput yang sangat konsisten melakukan aktivitas tersebut dan organisasi ini telah berkembang secara internasional, Food Not Bombs (FNB).</p>
<p>Bermula dari San Fransisco, FNB dengan aktifitasnya begitu cepat menyebar, dari Amerika Utara, Eropa, bahkan hingga ke negara-negara Asia seperti Malaysia dan Indonesia (seperti yang terjadi belakangan ini di beberapa kota). Kebanyakan dari kita benar-benar percaya bahwa FNB dan strukturnya beserta seluruh tujuannya sangat berkaitan erat dengan orientasi anarkis. Masalah ideologis ini sendiri pada akhirnya menjadi elemen formal dari politik FNB dan sebuah statement akan visi yang diadopsi secara terbuka oleh seluruh grup dan menempatkan aksi-aksi harian ke dalam konteks politik yang lebih radikal. Statement visi ini meliputi segalanya, dari dedikasi grup terhadap perjuangan anti-seksis, hingga pembangunan kebun komunitas dan pembuatan kompos sebagai sebuah aksi yang langsung menuju sebuah tatanan masyarakat yang seimbang dengan lingkungannya.</p>
<p>Diharapkan tulisan ini akan membuka diskusi tentang masa depan politis dari FNB dan gerakan-gerakan sejenis sebagai sebuah gerakan transnasional yang bekerja keras melawan dominasi global dari korporasi dan kemiskinan dunia. Tulisan ini juga diharapkan dapat membantu yang lainnya dalam gerakan sosial untuk mengerti aksi-aksi seperti diatas dan sisi politisnya. Adalah politik radikal yang telah membuat kita, mengisi aktifitas kita dengan sesuatu yang berarti, yang memberi energi dan vitalitas kepada usaha-usaha harian. Disaat kita melihat bagaimana aktifitas harian berkaitan dengan gerakan yang lebih besar demi keadilan sosial dan ekonomi, hal tersebut membantu memberikan inspirasi dan motivasi yang kita butuhkan untuk terus mengumpulkan dan membagi-bagikan makanan atau juga bergumul dengan kompos atau sekedar bangun tidur lebih awal, membuat kopi dan sepotong roti yang kita miliki untuk kemudian dibagikan kepada mereka yang melakukan pemogokan. Perubahan sosial yang radikal dibangun dari hari ke hari dengan menyadari bahwa diri kita adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dari diri kita sendiri, akan dapat membantu kita untuk melewati hari-hari dengan aktifitas yang lebih berguna.</p>
<p>Jadi apalagi yang perlu untuk dibahas?</p>
<p>Adalah sesuatu yang penting bagi sebuah grup dan gerakan untuk mempunyai pengertian yang luas tentang dimana posisi kita dan apa visi terbaiknya tentang sebuah dunia idaman. Membagi-bagikan makanan dengan gratis memiliki beberapa definisi prinsipil yang sangat jelas dan konteks politis yang lebih luas serta memberi tempat bagi prinsip-prinsip tersebut sebuah makna dan arti yang lebih dalam.</p>
<p>Anarkis membayangkan dunia bebas dimana tindakan diambil atas keputusan bersama, dunia yang tanpa kekerasan. Konsep-konsep itu sendiri cenderung ambigu dan sangat terbuka untuk diinterpretasikan dengan lebih luas. Saat kita menyadari bahwa dengan menempatkan prinsip-prinsip kita secara fleksibel dan inklusif, sangatlah baik, tetapi disaat yang sama sangatlah penting juga untuk menjaga agar ide-ide kita tidak termoderasi dan terkooptasi. FNB sendiri memiliki tiga prinsip, yang selain dua prinsip diatas (keputusan bersama dan dunia tanpa kekerasan) mereka menambahkan satu point lagi, yaitu vegetarianisme. Dan dengan bersikap seperti diatas tadi, mereka meletakkan prinsip-prinsip mereka ke dalam aksi, dan hal itulah yang memberi ide-ide mereka sebuah arti dan nilai yang mendalam. FNB mengkombinasikan ide-ide tersebut dengan prinsip desentralisasi, penguatan kolektif dan individual, feminisme dan strategi pengorganisiran anti hirarkis. Dengan ini kita juga harus mulai meniadakan konsep-konsep yang mendefinisikan aktifitas pembagian makanan gratis sebagai tindakan &#8216;amal&#8217;. Pola pikir &#8216;amal&#8217; telah gagal menemukan inti penyebab kelaparan dan kemiskinan, serta cenderung membantu mendanai sebuah krisis tanpa pernah berusaha menyerang struktur institusional yang menghasilkan ketidakadilan tersebut. Kita seharusnya lebih memfokuskan pada penentangan terhadap struktur kekuasaan yang patriarkis, didominasi kulit putih plus &#8216;budaya barat&#8217;nya dan berbagai bentuk dominasi lainnya -baik dalam masyarakat kita, dalam organisasi kita dan dalam kesadaran kita sendiri. Ide-ide dan keyakinan seperti itulah yang harus diekspresikan dalam berbagai pertemuan, dituliskan dalam literatur-literatur dan disuntikkan ke dalam cara kita mengorganisir kelompok kita sendiri, serta dalam membangun solidaritas dengan grup, organisasi ataupun perjuangan lain. Ini semua adalah tentang diri kita, tentang pandangan politis kita yang memiliki visi akan sebuah dunia yang lebih baik, sebuah dunia yang berusaha kita bangun saat ini. Dan inilah alasan mengapa pembahasan masalah seperti ini menjadi sangat penting.<br />
Untuk Anarkisme</p>
<p>Fokus pertama soal anarkisme biasanya berkutat disekitar kesalahpahaman atas pengertian anarkisme yang diartikan tidak lebih dari chaos dan perusakan. Prof. Howard Zinn, seorang pendukung FNB mendeskripsikan anarkisme dalam bukunya yang berjudul &#8220;Declaration Of Independent&#8221; sebagai berikut: &#8220;Anarkis, seperti yang saya amati dan pelajari, tidaklah percaya pada anarki seperti yang biasa dideskripsikan oleh banyak orang dan media -kekacauan, disorganisasi, chaos, kebingungan dan setiap orang bertindak semaunya. Sebagai kontrasnya, mereka percaya bahwa tatanan masyarakat dapat dan seharusnya terorganisir dalam berbagai bentuknya dimana orang-orang akan bekerja sama saat bermain dan bekerja, untuk membangun sebuah tatanan masyarakat yang lebih baik. Tapi anarkis juga menekankan bahwa setiap organisasi harus menghindari hirarki dan perintah dari atas; harus demokratis, keputusan bersama, meraih keputusan tersebut melalui diskusi yang konstan dan berbagi argumen.&#8221;</p>
<p>Dia juga menambahkan, &#8220;Apa yang membuat saya tertarik dengan anarkisme adalah juga bahwa penolakannya bersifat total terhadap segala bentuk otoritas-otoritas negara, gereja dan dalam dunia kerja. Anarkis percaya bahwa jika kita bisa membangun sebuah tatanan masyarakat egaliter tanpa kemiskinan dan kemakmuran yang jauh terpisah, kita tak akan membutuhkan polisi, penjara, tentara, ataupun perang, karena penyebab utama semua masalah tersebut sudah lenyap.&#8221;</p>
<p>Howard Zinn menulis beberapa pendahuluan dalam beberapa buku FNB dan secara konsisten terus menentang serangan polisi dan tindakan brutal dari pemerintah kota terhadap para anggota FNB di San Fransisco. Dalam beberapa artikel di koran-koran tentang kebrutalan pemerintah kota terhadap FNB, Zinn selalu tercantum di harian tersebut. Statement yang dia bacakan antara lain berkata, &#8220;FNB memprotes sebuah sistem yang gagal untuk memberi orang-orang kebutuhan dasarnya.&#8221;</p>
<p>Anarkisme adalah sebuah gerakan demi sebuah dunia dimana kekerasan rasis, seksis, homofobik, kapitalisme dan sejenisnya dilenyapkan dari kehidupan kita sehari-hari. Anarkisme adalah sebuah keyakinan akan terbentuknya sebuah dunia dimana perang dan kemiskinan tak akan ada lagi. Anarkisme adalah filosofi dan gerakan yang bertujuan membangun sebuah struktur ko-operasi, egaliter dan struktur sosial yang mempromosikan mutual-aid, kontrol demokrasi radikal atas keputusan politik dan ekonomi, serta berwawasan lingkungan. Jadi bagaimana hal-hal seperti diatas dapat diterapkan secara langsung melalui aksi-aksi FNB?<br />
Anarkisme dan Konsensus (Pengambilan Keputusan Bersama)</p>
<p>Konsensus adalah sebuah bentuk pengambilan keputusan yang berdasarkan pada prinsip-prinsip anarkis. Konsensus adalah sebuah bentuk pengambilan keputusan yang dalam prosesnya bertujuan untuk membagi kekuatan diantara orang-orang agar semua dapat berpartisipasi dalam memperkuat dan mengimplementasikan keputusan kolektif. Konsensus juga bertujuan untuk membangun sebuah organisasi non-hirarkis yang mengkounter rasisme, seksisme, homofobia dan berbagai bentuk penindasan serta dominasi yang hanya menguntungkan sebagian orang saja dan memposisikan orang lain tanpa memiliki kekuatan dan suara. Karena kita bertujuan membangun sebuah organisasi &#8211; dan juga komunitas dan tatanan masyarakat &#8211; yang saling berbagi kekuatan dan memapankan kesetaraan, kita harus terus melawan hirarki. Anarkisme dan konsensus berjalan beriringan seperti layaknya sop hangat dan roti yang baru.<br />
Anarkisme dan Vegetarianisme</p>
<p>Organisasi-organisasi yang membagi-bagikan makanan gratis seperti FNB hanya menyediakan makanan vegetarian sebagai aksi politis melawan industri daging beserta variannya, serta mempromosikan pendekatan lingkungan, distribusi makanan serta sumber bahan pangan ke seluruh dunia dengan merata, mempromosikan hidup lebih sehat, serta mendukung pembebasan hewan.</p>
<p>Komitmen kelompok-kelompok seperti FNB terhadap isu-isu seperti itu telah membangun koalisi yang kuat dengan organisasi lingkungan seperti Earth First! dan berbagai macam lainnya dan juga dengan organisasi-organisasi pembebasan hewan seperti ALF (Animal Liberation Front). Anarkisme menentang eksploitasi dan dominasi dunia yang merupakan karakteristik dari ekspansi kapitalisme. Anarkisme bertujuan tidak hanya merubah hubungan antar sesama manusia, tetapi juga hubungan antara manusia dengan bumi dan lingkungannya.<br />
Anarkisme dan Sikap Tanpa Kekerasan</p>
<p>Banyak orang mulai memperdebatkan apakah anarkisme dan sikap tanpa kekerasan saling berkaitan. Sebagian anarkis berpendapat bahwa anarkisme dan sikap tanpa kekerasan tidak dapat dipisahkan. Untuk membahas masalah diatas mari kita lihat kembali pada sejarah tentang terjadinya negara. Christopher Day dari Love and Rage Revolutionary Anarchist Federation menulis, &#8220;Negara &#8211; yang kita artikan dengan keberadaan polisi, tentara, penjara, pengadilan, berbagai birokrasi pemerintah baik legislatif dan eksekutif &#8211; adalah alat pengontrol dan penekan dari yang berkuasa. Negara mempertahankan kekerasan yang legal dan terorganisir.&#8221; Lebih lanjut Day menyatakan, &#8220;Negara telah selalu menjadi instrumen perang. Adalah sesuatu yang tak mungkin untuk membentuk sebuah tatanan masyarakat tanpa peperangan dalam sebuah tatanan masyarakat yang masih didominasi oleh negara.&#8221;</p>
<p>Dalam buku FNB yang berjudul &#8216;Feeding The Hungry and Building Community&#8217; dijelaskan, &#8220;Nama FNB menyatakan prinsip kami yang paling fundamental; tatanan masyarakat harus mempromosikan kehidupan bukan kematian. Tatanan masyarakat sudah mentolerir bahkan mempromosikan kekerasan dan dominasi. Kekuatan penguasa adalah hasil dari ancaman dan penggunaan kekerasan.&#8221;</p>
<p>Negara dan bentuk representasi dari kapitalisme, dominasi dan patriarki, mengkonsentrasikan kekuatan kepada beberapa orang saja yang secara sistematis mengesampingkan kekuatan mayoritas umat manusia. Kekerasan yang eksis dalam kehidupan sehari-hari merupakan hasil dari pengingkaran kekuatan atas hidup seseorang. Kekerasan terjadi dengan banyak cara, setiap hari, sebagai hasil dari ketidakaadilan sistem. Baik itu hadir melalui sistem sewa, makanan dengan pestisida dan label harga yang menyembunyikan penindasan terhadap para buruhnya, sistem pajak, bekerja pada seseorang yang sudah kaya, malnutrisi, sweeping polisi terhadap gelandangan, pemaksaan sterilisasi pada perempuan di negara Dunia Ketiga, pengasingan sosial terhadap orang miskin dan masih banyak problem lainnya.</p>
<p>Jadi apa hubungan antara anarkisme dan sikap tanpa kekerasan? Kita harus menelaah kembali sejarah yang panjang dari gerakan dan perlawanan anarkis yang pernah eksis dan kita akan menemukan fakta bahwa anarkisme dan perjuangan demi sebuah dunia yang tanpa kekerasan mempunyai sejarah yang panjang.</p>
<p>Dalam penelitian yang ditulis tahun 1932 dengan judul &#8216;Native (Born) American Anarchism&#8217; yang mendiskusikan tentang pengaruh Henry David Thoreau yang dikembangkan melalui pembangkangan sipil, Eunice Schuster menyebut Thoreau sebagai &#8220;bukan hanya anarkis dalam pemikirannya, tapi juga dalam aksinya&#8221;. Aksi pembangkangan sipil yang dilakukan Thoreau selama perang Amerika melawan Meksiko telah mempengaruhi banyak teori-teori dan praktek tanpa kekerasan.</p>
<p>Leo Tolstoy juga mengambil inspirasi dari Thoreau dan mengembangkan ide-idenya sendiri dalam sikap yang tanpa kekerasan. Robert L. Holmes dalam bukunya yang berjudul &#8216;Non-Violence In Theory and Practice&#8217; menuliskan, &#8220;Tolstoy menggabungkan pemahaman agama Kristen kepada apa yang dia lihat sebagai kesimpulan logis: pengingkaran ini bukan hanya berasal dari perang yang merupakan kekerasan terorganisir, tetapi juga dari pemerintah yang merupakan kekerasan institusional, dan hal inilah yang menimbulkan perang.&#8221; Dalam kata pengantar dari buku berjudul &#8216;Government Is Violence: Essays on Anarchism and Pacifism&#8217; karangan Leo Tolstoy tertulis, &#8220;Tolstoy menyarankan cara pencapaian anarki dengan sesuatu yang sekarang dikenal sebagai pembangkangan sipil dan aksi langsung tanpa kekerasan&#8230; Tolstoy mengadvokasikan perlawanan moral yang tanpa kompromi terhadap penguasa.&#8221;</p>
<p>Gandhi menulis tentang Tolstoy dalam autobiografinya, &#8220;40 tahun yang lalu, ketika saya melewati masa krisis skeptis dan keraguan yang hebat, saya membaca buku Tolstoy yang berjudul &#8216;The Kingdom Of God Is Within You&#8217; dan sangat terkesan. Saat itu saya masih percaya dengan kekerasan. Buku itu menyembuhkan sikap skeptis saya dan membuat saya menjadi seorang yang yakin akan ahimsa (tanpa kekerasan)&#8230; dia adalah tokoh anti kekerasan yang hebat yang lahir di abad ini.&#8221;</p>
<p>Ide-ide anarkis juga terinspirasi oleh ide-ide Gandhi tentang bentuk tatanan masyarakat yang diidam-idamkan. Dalam buku berjudul &#8216;Gandhi Today&#8217;, Mark Shepard menjelaskan: &#8220;India dapat menjadi kuat dan sehat hanya dengan merevitalisasi desa-desa dimana empat dari lima orang tinggal, seperti yang dituntut oleh Gandhi. Dia memimpikan sebuah tatanan masyarakat yang terdiri dari desa-desa yang kuat, dimana setiap desa memiliki otonomi politik dan ekonomi sendiri. Dalam kenyataannya Gandhi adalah tokoh terbesar dari desentralisasi di abad ini &#8211; menempatkan kekuatan politik dan ekonomi pada level lokal.&#8221;</p>
<p>Setelah Gandhi dibunuh, orang yang dikenal sebagai pewaris spiritual Gandhi, Vinoba Bhave memimpin beberapa kampanye besar untuk mengklaim kembali tanah bagi kaum miskin. Tahun 1951 Bhave dan banyak buruh dari Sarva Seva Sangh, memulai gerakan Bhoodon (Hadiah Tanah). Banyak yang menganggap bahwa Bhave adalah orang suci dalam tradisi Hindu, dan saat dia memulai perjalanan keliling negara untuk menuntut beberapa akre tanah dari para tuan tanah, dia menerima hadiah berupa tanah yang kemudian diberikan pada kaum miskin. Satu sepertiga juta akre yang diklaim oleh kaum miskin (lebih dari sekedar manajemen program Land-Reform yang diusulkan oleh pemerintah India). Bhave juga terlibat dalam proyek-proyek dan kampanye lainnya yang mempunyai prinsip revolusi tanpa kekerasan. Bhave adalah seorang anarkis.</p>
<p>Amerika mempunyai sejarah panjang tentang anarkisme tanpa kekerasan. Salah satu kelompok pertama yang tertulis dalam sejarah adalah New England Non-Resistance Society. Mereka menegaskan bahwa pemerintah, hukuman mati, perang dan ketidakadilan sangat bertentangan dengan ajaran Kristen. Kelompok tersebut, termasuk didalamnya William Llyod Garrison, terlibat dalam gerakan abolisionis yang berjuang untuk mengakhiri perbudakan di Amerika.</p>
<p>Saat Amerika memasuki Perang Dunia I, anarkis berada di garis depan gerakan anti perang. Tahun 1016, Emma Goldman, Alexander Berkman dan yang lainnya mengorganisir &#8216;No Conscription League&#8217;. Dengan kelompok tersebut mereka mengorganisir demostrasi, protes dan march. Mereka mempublikasikan sebuah manifesto yang didalamnya tertulis: &#8220;No Conscription League dibentuk dengan tujuan mendorong para anti wajib militer untuk menolak berpartisipasi dalam membunuh sesama mereka.&#8221; Berkman dan Goldman ditangkap karena dianggap melanggar hukum. Tahun 1918 pemerintah mengeluarkan undang-undang bernama &#8216;Espionage Act&#8217; yang membuat literatur anti-perang menjadi ilegal, dan undang-undang ini digunakan untuk melawan sebuah kelompok yang terdiri dari lima orang anarkis termasuk Mollie Steimer. Kelompok tersebut mendistribusikan koran dengan cara menyelipkan koran-koran tersebut ke kotak pos di setiap rumah pada malam hari, dan menulis beberapa leaflet yang isinya menentang UU tersebut. Salah satu dari terdakwa, Jacob Schwartez, tidak pernah diajukan ke pengadilan. Dia disiksa polisi selama interogasi dan meninggal saat dibawa ke rumah sakit. Sisa dari kelompok tersebut dianggap bersalah dan dideportasi ke Russia pada tahun 1921 atas aktivitas anti-perang mereka.</p>
<p>Selain mereka, masih ada yang menentang perang, antara lain Dorothy Day. Dia bersama dengan Peter Maurin, mempelopori gerakan buruh Katolik. Nancy Robert dalam anthologinya &#8216;American Radical&#8217; menulis tentang gerakan tersebut, &#8220;Mereka mempunyai rencana yang berdasarkan tiga point yang sesuai dengan nilai-nilai Kristen untuk melakukan aksi-aksi sosial yang radikal. Maurin memimpikan sebuah komunitarian, gerakan anarkis yang menawarkan diskusi, forum-forum dan ceramah, rumah sakit di setiap kota yang memberi makan dan tempat tinggal bagi kaum miskin dan gelandangan, dan peternakan komunal yang akan menghancurkan tatanan masyarakat industri dan membentuk unit-unti organik dimana semua orang hidup dan belajar dalam sebuah komunitas.&#8221;</p>
<p>Pada akhirnya, sekitar 200 rumah yang dijadikan rumah sakit dibuka di banyak negara khususnya di Amerika Serikat. Ide yang mendasari berdirinya rumah-rumah tersebut diterangkan oleh Walter Brueggman sebagai berikut, &#8220;perasaan kasihan mengangkat sebuah bentuk kritik yang radikal dimana mereka yang miskin dan kelaparan harus diperhatikan dengan serius, kondisi dimana mereka seharusnya tidak dianggap normal dan alami, tetapi dianggap sebagai kondisi yang tidak manusiawi yang tidak dapat diterima.&#8221; Rumah-rumah tersebut dalam struktur masyarakat yang berorientasi profit bukan hanya merupakan sebuah bentuk perlawanan tetapi juga merupakan sebuah alternatif. Pada 1 Mei 1933, gerakan buruh Katolik tersebut menerbitkan koran yang dijual dengan sangat murah. Koran tersebut menjelaskan kaitan antara perdamaian dan keadilan sosial, serta meliput banyak aksi-aksi pembangkangan sipil yang dilakukan oleh gerakan buruh Katolik dan berbagai kelompok buruh radikal lainnya melawan militerisme. Dalam bukunya yang berjudul &#8216;The Spirit of The Sixtiest: The Making of Post-War Radicalism&#8217;, James Farrell menulis, &#8220;Pasifisme, personalisme dan anarkisme dari gerakan buruh Katolik menempati halaman pertama koran mereka. Dan koran tersebut mempromosikan sebuah revolusi dengan ide-idenya.&#8221; Farrel menulis bahwa dalam beberapa tahun, sirkulasi koran tersebut mencapai oplah 100.000 eksemplar dan tahun 1938 oplah mereka mencapai 190.000 eksemplar. Selama Perang Dunia II gerakan buruh Katolik tersebut dilarang karena sikap pasifis mereka dan beberapa aktifisnya dipukuli di jalanan saat mendistribusikan korannya.</p>
<p>Selama lebih dari 50 tahun, Dorothy Day berkomitmen penuh terhadap perdamaian, keadilan sosial dan revolusi tanpa kekerasan. Pada tahun 1983, uskup Katolik Amerika melihat adanya indikasi pergeseran sejarah dalam pelajaran tentang perang dan perdamaian saat tertulis bahwa pasifisme tidak dapat diterima baik secara moral ataupun politik bagi umat Katolik. Dulu Day bersama dengan Martin Luther King Jr. dikenal sebagai &#8217;saksi tanpa kekerasan&#8217; yang memiliki &#8216;pengaruh kuat dalam kehidupan gereja di Amerika Serikat&#8217;.</p>
<p>Dorothy Day yang selalu dijuluki &#8216;Head Anarch&#8217; oleh editor koran gerakan buruh Katolik, dijuluki juga sebagai &#8216;First Lady of American Catholism&#8217; dan beberapa malah memberi petisi kepada Vatikan agar mendeklarasikan dia sebagai seorang Santa. Anarkisme menurut Day adalah, &#8220;Ditingkatkannya tanggung jawab seseorang kepada orang lain, dari individu kepada komunitas, dan disaat yang sama mengurangi ketergantungan terhadap sentralisme negara.&#8221;</p>
<p>Salah satu dari gerakan yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah Amerika Serikat adalah gerakan Civil Rights. Satu dari grup-grup kunci gerakan tersebut adalah Student Non-Violent Coordinating Committee (SNCC). Kelompok tersebut lahir dari gerakan &#8216;aksi duduk&#8217; yang pernah sempat populer di daerah selatan pada tahun 1060 dalam aksi protes menentang sistem Apartheid dari &#8216;Jim Crow Laws&#8217;. Saat SNCC tidak pernah secara formal mendeklarasikan diri mereka sebagai sebuah grup anarkis, struktur organisasi mereka bermodelkan anti-otoritarian, desentralisasikan dan demokrasi serta mereka menggunakan aksi langsung dalam perjuangan mereka bagi masyarakat egaliter. SNCC memainkan sebuah peran penting dalam aksi &#8220;Freedom Rides&#8221;, sebuah kampanye 1964 &#8220;Freedom Summer&#8221;, yang merupakan sebuah formasi dari partai politik &#8216;Mississippi Freedom Democratic Party&#8217; yang menentang rasisme dalam tubuh partai demokratik. Mereka telah meninggalkan sebuah ide dari aktivisme dan pengorganisiran radikal yang penting bagi siapapun yang berjuang demi perubahan sosial saat ini. Pola gerak mereka seperti pembangunan komunitas merupakan taktik aksi langsung tanpa kekerasan yang banyak digunakan oleh kelompok-kelompok seperti FNB.</p>
<p>Ella Baker adalah salah seorang yang menolong membentuk SNCC. Dia adalah seorang organisator selama bertahun-tahun dalam partai komunis NAACP dan membantu membangun &#8216;Southern Christian Leadership Conference&#8217; dimana Martin Luther King Jr. terpilih sebagai presidennya. Baker yakin akan dibutuhkannya aksi-aksi langsung dan demokrasi partisipatoris dalam membentuk sebuah perubahan sosial. Dia juga yakin bahwa sebuah grup yang sukses harus menerapkan pola kepemimpinan yang datang dari grup itu sendiri, bukannya kepemimpinan yang datang dari seorang pemimpin: orang yang kuat tidak membutuhkan pemimpin yang kuat. Dalam bukunya yang berjudul: &#8220;Women In The Civil Rights Movement&#8221;: Trailblazers dan Torchbearers, Carol Mueller menampilkan sebuah chapter tentang Ella Baker dan pengembangan demokrasi partisipatoris. Mueller mengidentifikasikan ide-ide Baker tentang demokrasi partisipatoris sebagai berikut: 1. Seruan bagi orang-orang yang bergerak di level grass root dalam masyarakat dimana mereka memiliki kontrol atas diri mereka sendiri. 2. Meminimalisir hirarki dan profesionalisme yang selalu menjadi dasar bagi masalah kepemimpinan. 3. Sebuah seruan akan perlunya aksi langsung sebagai sebuah jawaban atas ketakutan dan alienasi yang eksis dalam masyarakat. Eksperimentasi dari demokrasi partisipatoris dalam SNCC dipengaruhi oleh gerakan sosial yang sangat luas. Mueller juga menulis: &#8220;Demokrasi partisipatoris dan pengambilan keputusan secara konsensus dilakukan dari proyek pendaftaran pemilih bagi SNCC di Mississippi dan Georgia hingga proyek SDS (Student for a Democratic Society) yang berkembang di daerah kumuh kota-kota daerah utara pada pertengahan tahun 60-an, hingga kelompok kepedulian pembebasan perempuan di akhir tahun 60 dan awal 70-an, hingga group-group afinity yang tergabung dalam gerakan anti-nuklir di akhir 70-an dan awal 80-an&#8221;.</p>
<p>Anarkisme dan sebuah dunia tanpa kekerasan bukan hanya saling berkaitan tapi juga tidak dapat dipisahkan. Saat bagian ini didiskusikan dengan melihat berbagai contoh dari sejarah yang harus di klaim kembali dan di ingat bahwa contoh-contoh tersebut telah menawarkan kita inspirasi dalam perjuangan demi sebuah tatanan dunia baru saat ini. Tidak seharusnya kita mengesampingkan berbagai gerakan yang diwarnai dengan kekerasan dalam sejarah anarkisme, tapi selama ini taktik pasifis tertutupi oleh contoh-contoh aksi revolusioner yang penuh kekerasan. Lebih jauhnya lagi aksi-aksi dengan kekerasan harus dilihat dan diletakkan dalam konteks situasi dan waktu sehingga kita dapat mengerti kaitan gerakan tersebut dengan perlawanan terhadap institusi sistem yang penuh kekerasan. Kita tidak akan pernah menemukan perdamaian selama kekuatan tiap orang dipisahkan dari hidup mereka.</p>
<p>Tetapi anarkisme sangat tidak populer dan selalu di salah artikan. Ya. Hal tersebut memang tidak populer dan selalu di salah artikan, tetapi dengan tetap diam dan tidak mau menyatakan keyakinan akan politik yang kita miliki tidak akan menghasilkan apa-apa selain hanya memperkuat struktur sistem saat ini. Saat orang-orang menentang perbudakan, saat orang-orang menuntut persamaan bagi perempuan dan kulit berwarna, saat orang-orang mengorganisir diri mereka menentang perang, saat orang-orang berjuang untuk upah dan kondisi kerja yang lebih baik, saat orang-orang mulai berdiri mempertahankan hak-hak mereka yang ditindas, diserang, dipenjarakan, dan bahkan dibunuh, saat itulah kekuatan itu kembali pada diri kita.</p>
<p>Dalam bukunya yang berjudul &#8220;Anarchism and Black Revolution&#8221;, Lorenzo Ervin menulis: &#8220;Sebagai sebuah bentuk praktek, anarkis-komunis percaya bahwa kita harus membangun tatanan masyarakat baru saat ini juga disamping terus berusaha untuk menghancurkan kapitalisme. Kita harus terus berusaha menciptakan organisasi-organisasi mutual aid anti-otoritarian untuk makanan, pakaian, perumahan, pengumpulan dana bagi proyek komunitas, dan sebagainya diantara lingkungan bertetangga kita tanpa perlu berafiliasi dengan pemerintah atau korporasi bisnis, dan tidak menjalankannya dengan tujuan meraih profit, melainkan demi kebutuhan sosial. Beberapa organisasi telah terbangun saat ini dan memberikan kepada anggota-anggotanya pengalaman praktek manajemen diri yang akan mengurangi ketergantungan orang-orang pada sistem. Pendeknya kita dapat mulai membangun infrastruktur bagi masyarakat komunal, sehingga orang-orang dapat melihat apa yang mereka perjuangkan dan untuk apa, bukan hanya sekedar ide di kepala seseorang. Dan itulah jalan menuju kebebasan&#8221;.</p>
<p>Kita dapat membuat ide-ide ko-operasi, mutual-aid, solidaritas, egalitarianisme dan tatanan masyarakat tanpa kekerasan menjadi popular, tapi hanya melalui aksi yang kita lakukan dan politik yang kita terapkan yaitu politik dalam kehidupan sehari-hari. Politik yang dekat dengan realita dalam kehidupan yang dijalani oleh masyarakat kita, karena semakin jauh politik kita dengan yang kita hadapi sehari-hari maka semakin tidak dapat di mengerti dan tidak berhubungannya politik tersebut dengan hidup kita.</p>
<p>Salah satu cara menerapkan politik radikal dalam tatanan masyarakat di mana masih terdapat banyak sekali kemiskinan dan kelaparan, adalah dengan menyediakan makanan gratis.</p>
<p>Ditulis Oleh : Sayap_Imaji</p>
<p>Sumber Tulisan : Situs Brontak_Zine | http://www.brontakzine.com/artikel/fnb.htm</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2005/05/23/food-not-bombs/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
