Published on May 23, 2006 by HarisX
Film “Mary Poppins” (1964) yang dibintangi oleh Julie Andrews adalah film yang mentertawakan soal uang dan para bankir, seraya merayakan kebebasan dan kebahagiaan dari nanny, pengamen jalanan yang bernama Bert (diperankan oleh Dick van Dijk), pembersih cerobong asap, pengemis dan merpati-merpati di katedral, serta anak-anak kecil dengan mata yang masih jernih. Disitu ada adegan orang terbahak-bahak dan mereka yang terbahak-bahak akan ditinggikan. Kemudian muncul pertanyaan, yang mungkin cukup fundamental untuk diajukan sebagai pertanyaan dalam kehidupan modern masyarakat, terutama masyarakat urban. Masalahnya, kita tak pernah memikirkan berbagai hal-hal yang kecil dan sudah terlanjur dianggap sebagai sebuah kewajaran dalam hidup kita.
(more…)
Print This Post
Published on May 23, 2006 by HarisX
SELALU MENYEBARKAN KEMISKINAN
Kapitalisme berlaku bak seorang yang baik hati yang berkata, “Saya begitu cinta terhadap orang miskin, sehingga saya berpikir bahwa tidak pernah ada cukup banyak orang miskin.” Di Brazil, sistem ini membunuh ribuan anak setiap tahun akibat penyakit dan kelaparan. Dengan atau tanpa proses pemilihan, kapitalisme adalah anti demokrasi, karena mayoritas orang menjadi terpenjara oleh kebutuhan-kebutuhan.
Empat-perlima penduduk dunia ‘secara resmi’ hidup dalam kemiskinan, dan sistem ini tetap mempertahankan mereka pada posisi kemiskinan itu. Sebagian besar dari Dunia Ketiga dihambat untuk berkembang maju secara ekonomi. Negara-negara Dunia Ketiga dibuat tergantung pada bantuan dari negara-negara industri, dan kekayaan alam mereka dikering tandaskan oleh kekuatan-kekuatan imperialis ini. Pada tahun 1990, Dunia Ketiga menerima bantuan resmi sebesar 44 milyar dolar AS. Di tahun yang sama, 165 milyar dollar AS mengalir dari Dunia Ketiga ke negara-negara imperialis hanya untuk melayani pembayaran hutang luar negeri.
(more…)
Print This Post
Published on May 22, 2006 by HarisX
PEMIKIRAN NOAM CHOMSKY TERHADAP MARXISME, ANARKISME DAN HARAPAN UNTUK MASA DEPAN
- Noam Chomsky terkenal luas karena kritikannya terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat, dan untuk karya-karyanya sebagai seorang ahli linguistik. Sedikit kurang dikenal adalah dukungannya yang berlanjut untuk tujuan-tujuan sosialis libertarian. Dalam wawancara khusus dengan Red and Black Revolution (RBR), Chomsky memaparkan pandangannya mengenai Anarkisme dan Marxisme, dan prospek sosialisme kini. Wawancara ini dilaksanakan pada bulan Mei 1995 oleh Kevin Doyle.
(more…)
Print This Post
Published on May 22, 2006 by HarisX
oleh Reko Ravela (anarkis dari Finlandia yang pada awal-awal reformasi sering mengunjungi kami)
Tulisan ini dibuat untuk mengomentari masa-masa awal perubahan setelah pemilu tahun 1999. Jadi dokumen ini cukup penting untuk menggambarkan pandangan jaman itu.
(more…)
Print This Post
Published on December 9, 2005 by HarisX
oleh: Sasha/Tjuan
Dari Rio de Jenairo, Buenos Aires, Mexico City, Kalkuta, Manila, Dhaka, Bangkok, sampai ke Jakarta, dan di ribuan kota-kota besar lainnya – ratusan juta orang menduduki lahan-lahan kosong ‘bukan miliknya”- membentuk suatu dunia informal, yang lepas dari domestikasi masyarakat properti, hukum dan komoditi.
Beberapa hari yang lalu terjadi penggusuran wilayah pemukiman di Cengkareng, Jakarta. Mungkin kalian semua sudah tau mengenai kasus ini. Seribuan aparat yang termasuk Brimob dan tentara angkatan darat, bentrok dengan warga di wilayah tersebut. Sebulanan yang lalu pemukiman di Tambora, Jakarta Barat juga mengalami hal yang sama. Baru-baru ini pedagang kaki lima di Jogja harus menghadapi penggusuran dengan dalil ketertiban dan tamanisasi kota (tertib? Whatever the fuck that means?). Sekitar dua minggu yang lalu kami juga menerima kabar penggusuran PKL di kota Kendal. Tahun lalu, kita mungkin masih dapat mengingat, represi brutal oleh Forum Betawi Rempug terhadap ibu-ibu dan anak-anak yang ikut dalam aksi Urban Poor Consortium. Catatan-cataan di atas hanyalah proporsi kecil penggilasan masyarakat informal – orang-orang yang tidak berkomunikasi dengan bahasa resmi (properti, hukum dan komoditi)23.
(more…)
Print This Post
Published on July 7, 2005 by HarisX
oleh Felix Frost, Nihil Press
terahir lacak modifikasi 13 Desember 1999
Kita hidup di jaman modern, dan tampaknya tak ada lagi yang lebih modern dari negara Amerika Serikat -tanah kebebasan dan tanah bagi para pemberani. Tetapi apa yang menyebabkan ‘impian Amerika’ secara fundamental berbeda dari setiap masyarakat yang telah eksis sebelum kita? Jawabannya adalah konsumerisme massa atau lebih tepatnya sering disebut komodifikasi. Dalam masyarakat kita segala sesuatu dibuat sebagai sebuah komoditi; barang maupun juga jasa yang dapat diperjualbelikan dalam sebuah pasar. Sebenarnya pasar dan uang telah lama eksis, bahkan sudah ratusan tahun lamanya, tetapi selalu saja hanya menjadi milik dari sebagian kecil saja dari seluruh masyarakat.
(more…)
Print This Post
Published on May 30, 2005 by HarisX
Oleh : Noam Chomsky
Berbagai pertanyaan kini beredar di antara orang-orang yang khawatir tentang perang. Pada tanggal 1 September 2002, Michael Albert mengajukan selusin dari pertanyaan-pertanyaan itu kepada Noam Chomsky lewat e-mail. Inilah tiga pertanyaan pertama beserta jawaban-jawaban Chomsky… wawancara lengkapnya akan muncul di Z Magazine edisi Oktober.
A : Apakah Saddam Hussein memang telah menjadi sangat jahat seperti yang dikatakan oleh media mainstream? Di dalam negeri? Secara internasional?
C : Ya, dia memang sangat jahat, kira-kira sama jahatnya dengan Soeharto dan monster-monster lainnya di era modern ini. Tak ada seorang pun yang mau berada dalam cengkeramannya. Tetapi, untungnya, jangkauannya tidaklah membentang sangat jauh. Secara internasional, Saddam meng-invasi Iran (dengan dukungan Barat), dan ketika perang itu berlangsung makin sengit, dia pun mulai menggunakan senjata kimia (juga dengan dukungan Barat). Saddam pernah meng-invasi Kuwait dan dengan cepat diusir.
(more…)
Print This Post
Published on May 28, 2005 by HarisX
Apakah patriotisme itu ? Apakah cinta dengan tempat lahir seseorang, tempat seseorang mengenang masa kecil, mimpi dan aspirasinya ? Dengan sebuah tempat, dimana kita dengan jiwa kekanak-kanakan memandang awan yang bergerak dan bertanya mengapa kita tak dapat begerak secepat awan itu ? Dengan tempat dimana kita melihat bintang-bintang betebaran di langit ? Dengan tempat dimana kita mendengar kicauan burung dan berangan-angan ingin bisa terbang seperti burung ke tempat nun jauh ? Atau, apakah cinta dengan tempat kita dipangku ibu mendengar dongeng-dongengnya ? Singkatnya, apakah patriotisme itu adalah cinta dengan setiap jengkal tempat dimana kita dibesarkan dan bermain, dimana kita dapat mengenang masa kecil yang penuh dengan kegembiraan ?
Kalau itu adalah patriotisme, hanya sedikit orang Amerika yang bisa menjadi patriotik, karena tempat bermainnya sudah dibangun menjadi pabrik-pabrik dan dengungan mesin telah menggantikan musik (kicauan) burung.
(more…)
Print This Post
Published on May 26, 2005 by HarisX
Oleh : Anonim
Tulisan ini merupakan hasil diskusi informal beberapa orang yang pada waktu itu sedang membahas tentang fenomena politik nasional, khsusnya yang berkaitan dengan ramainya aksi protes kenaikan BBM. Di satu sisi diskusi ini mengkritisi protes-protes yang sedang berlangsung (lihat tulisan: Melampaui Ilusi Protes Kenaikan BBM), di sisi lainnya, beberapa orang ini juga mencoba melihat hal-hal apa saja yang mungkin dilakukan sebagai bentuk protes sosial yang berkelanjutan, yang anti otoritarian dan yang paling efektif bagi kebanyakan orang yang terkena imbas kenaikan harga.
(more…)
Print This Post
Published on May 25, 2005 by HarisX
Oleh : Anonim
Protes terhadap kenaikan BBM, jika memang hanya sebatas pada penolakkan terhadap kenaikan BBM, hanya akan berhasil menaikkan profil dan eksistensi kelompok-kelompok oposisi formal – segelintir anggota DPR, organ-organ kampus reformis dan beragam jenis oposisi legal lainnya. Protes-protes ini hanya bergerak pada suatu siklus protes yang bersifat rutin, dimana setelah terjadi gelombang protes yang reaksioner terhadap keputusan pemerintah, gelombang protes akan kebingungan mencari isu-isu lain – dan kemudian akan berujung pada protes-protes lain yang seluruhnya bersifat reaktif. Dan di akhir setiap gelombang aksi, kondisi berada pada titik awal tersebut lagi, tidak ada suatu arah menuju titik yang menawarkan lepas landas menuju suatu kondisi yang baru atau setidaknya melalui proses dan tahapan yang tidak absurd.
(more…)
Print This Post