<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pustaka Otonomis &#187; Sejarah</title>
	<atom:link href="http://pustaka.otonomis.org/category/sejarah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pustaka.otonomis.org</link>
	<description>Sekedar sebuah weblog WordPress lainnya</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Feb 2009 06:21:27 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>HUBUNGAN MARXISME LIBERTARIAN DAN ANARKISME</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2008/01/30/hubungan-marxisme-libertarian-dan-anarkisme/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2008/01/30/hubungan-marxisme-libertarian-dan-anarkisme/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jan 2008 08:09:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nikholas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anarki Komunisme]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/2008/01/30/hubungan-marxisme-libertarian-dan-anarkisme/</guid>
		<description><![CDATA[Adalah kualitas dari bentuk libertarian - demokratik, humanis, dan anti-negara yang memungkinkan kalangan anarkis memakai aspek-aspek yang berasal dari Marxisme (seperti analisis ekonomi ataupun teori perjuangan kelas). Walau masih mengandung beberapa kelemahan mendasar dari Marxisme. Dan dalam beberapa hal bahkan juga sebagai kelemahan dari banyak varian anarkisme, ketimbang menjadi alternatif.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>oleh : Wayne Price</em></strong></p>
<p><em>…Kusimpulkan sekali lagi, dan lagi ,bahwa apa yang secara perlahan dan tidak sempurna kutuju secara penuh dan terang-terangkan (bisa saya katakana, begitu indah) adalah apa yang dikatakan oleh Karl Marx. Jadi, aku juga adalah seorang Marxis! Aku memutuskannya secara tegas, bahwa hal ini sangat baik menjadi tradisi dan memiliki kawan-kawan yang bijak. Ini adalah Marx sebagai seorang psikolog sosial. Tapi sebagaimana aksi politik yang terhormat … saya tidak melihat slogan-slogan para Marxian, termasuk Marx sendiri, yang menuju ke sosialisme yang damai (yaitu hilangnya negara dan kekuatan koersif lainnya); justru mereka menghindari hal ini. Bakunin memang benar. Dan saya sepakat dengan Kropotkin.</em> (Paul Goodman, 1962; 34)</p>
<p>Saat ini arus kebangkitan kembali anarkisme di seluruh dunia dijadikan landasan atas kemunduran Marxisme. Meski demikian, ini menyisakan sebuah pertalian antara Marxisme (Marxisme libertarian atau otonomis) dengan kaum anarkis yang memiliki kedekatan dan bahkan menjadi pengikut anarkisme.</p>
<p><span id="more-131"></span>Adalah kualitas dari bentuk libertarian &#8211; demokratik, humanis, dan anti-negara yang memungkinkan kalangan anarkis memakai aspek-aspek yang berasal dari Marxisme (seperti analisis ekonomi ataupun teori perjuangan kelas). Walau masih mengandung beberapa kelemahan mendasar dari Marxisme. Dan dalam beberapa hal bahkan juga sebagai kelemahan dari banyak varian anarkisme, ketimbang menjadi alternatif. Versi Marxisme yang ini memiliki banyak kesamaan dengan pandangan kaum anarkis walau tetap masih ada yang secara mendasar cacat, sebagaimana yang akan kujelaskan.</p>
<p>Sejak kurang lebih dari era 30-an hingga 80-an, posisi anarkisme adalah marjinal di tengah dominasi gereakan kiri international oleh Marxisme. Di saat yang sama di tahun 60-an, di Amerika Serikat dimulai dengan apa yang disebut “demokrasi partisipatoris” , periode yang diakhiri dengan nyanyian “Ho,Ho,Ho Chi Minh, The NLF pasti menang” serta pendekatan pada buku Mao Little Red – untuk mendukung negara barbaris Stalinis. Bahkan aspek-aspek libertarian dalam Marxisme justru diabaikan, seperti organisasi kelas pekerja atau tujuan akan sebuah masyarakat tanpa pekerja yang teralienasi.</p>
<p>Namun di 1989 Tembok Berlin runtuh, berturut setelahnya Uni Sovyet. China memeluk sistem pasar terbuka berbasis kapitalisme. Secara luas, Marxisme didiskreditkan. Bagaimanapun kapitalisme global tidaklah berkembang, kolapsnya kapitalisme negara di Rusia sesunggunya adalah bagian dari krisis global kapitalisme. Dengan bertumbuhnya oposisi yang sebelumnya adalah varian-varian dari Marxisme, telah menyalurkan dirinya ke dalam radikalisme lain: anarkisme.</p>
<p>Sejarah akan kekalahan dan penghianatan dalam Marxisme memasuki dua gelombang besar. Sejak masa Engels, dengan pembentukan partai-partai Sosial Demokraasi di Eropa. Dimana mengambil strategi kecil selain mengupayakan untuk duduk di parlemen, mereka membangun partai-partai massa dan serikat-serikat yang birokratik, hingga kehancurannya dalam PD I. banyak dari partai-partai tersebut mendukung pemerintahan imperialis di masing-masing negaranya dan berperang melawan negara-negara anggota Sosialis Inetrnational. Pada PDI I mereka menentang Revolusi Rusia dan menyabot revolusi di negara mereka, terutama Jerman. Era 30-an, mereka kalah melawan fasisme, dalam hal ini Nazisme. Dukungan yang sama sekali tidak kritis juga terhadap Sekutu pada PD II, mereka kemudian menjadi agen-agen imperialisme Amerika Serikat pada Perang Dingin. Lalu sekarang, partai-partai Sosdem dan Buruh di Eropa mempercayai dengan kuat akan sebuah bentuk masyarakat baru, dengan mengadvokasi sebuah bentuk terlemah dari liberalisme, yang tidak lain adalah neo-liberalisme.</p>
<p>Dalam Perang Dunia I, Lenin, Trotsky dan lainnya berkeinginan untuk sebuah permulaan baru, yakni kembali ke akar revolusioner Marxisme dalam International yang baru. Dan hasilnya sebagaimana setiap orang tahu, negara kapitalis stalinis di Rusia, dan pembentukan partai-partai Stalinis di berbagai negara. Para Stalinis sepenuhnya gagal dalam revolusi kelas pekerja di Eropa maupun di tempat lain (sebagai sasaran asli proyek tersebut). Partai Komunis yang baru hanya dibentuk oleh tentara Rusia dan laskar tani yang dipimpin oleh elit-elit intelektual – mereka yang berasal dari kekuatan non-pekerja. Setelah menciptakan tumpukan-tumpukan mayat, Kapitalisme Negara Rusia terjebak dalam inefisiensinya sendiri yang kemudian pada akhirnya kolaps. Ini kemudian mewariskan penderitaan di Eropa Timur dan sebagian besar Asia. Partai-partai Komunis yang ada kini sama liberalnya dengan partai-partai Sosdem.</p>
<p>Sebagai pelengkap dari dua kegagalan besar Marxisme ini, upaya Trotsky untuk membangun kembali Marxisme Leninisme dalam International Keempat adalah termasuk dari kegagalan tersebut. kecenderungan berbagai Trotskyist hari ini adalah bentuk varian dari Stalinisme, nasionalisme, dan atau sosdem reformis.</p>
<p>Sejarah tersebut akan memperlihatkan Marxisme sebagai hal yang diragukan sepenuhnya. Betapa pun, Marxisme bukanlah hanya pemikiran-pemikiran yang bagus, seperti Kristianitas. Ia harus dipraksiskan, sebuah teori dan praktek. Seperti perkataan Engels, “Untuk mengetahui rasa kue puding kita mesti memakannya.” Kegagalan besar haruslah meragukan hal ini.</p>
<p>Bagaimanapun, Marxisme melanjutkan hal yang menarik dari gerakan Kiri, terutama memudarnya ingatan akan “Komunisme negara-kapitalis” . Hal tersebut memiliki tubuh teori – keseluruhan pustaka teori &#8211;  dan sebuah sejarah akan pengalaman dalam berbagai revolusi besar sejak 1848. Anarkisme, di sisi lain, terkenal tipis akan sumber teori sementara pengalaman revolusionernya mendua. Oleh karenanya banyak penganut anarkisme mencari tambatan dari Marxisme yang mungkin bisa konsisten dengan nilai-nilai dalam anarkisme.</p>
<p>Minoritas ini menjadi kecenderungan dalam Marxisme yang disebut Marxisme Libertarian, atau menurut Harry Cleaver (2000) Marxis Otonomis (makna ‘libertarian’ disini tidak ada hubungannya dengan kelompok Kanan, pro-kepemilikan, libertarian amerika). Secara historis, tendensi-tendensi yang memiliki kontribusi dalam  perkembangan ini adalah kaum “Komunis Konsilis” Eropa setelah PD I, dan “Jhonson-Forest Tendency” (C.L.R James dan Raya Dunayevskya) di era 40 – 50-an, yang keluar dari gerakan Trotskyis, sebagaimana kelompok Socialisme atau Barbarisme-nya Castroardis di Perancis. Ada juga para Situasionis Perancis, dan gerakan-gerakan “Otonomis” terkini di Jerman dan Italia (yang mengejutkan, saya jarang mendapatkan referensi di AS mengenai William Morris, seorang Marxis utopis Inggris yang termasyhur pada 1880-an). Para pengikut Dunayevkya masih menjalankan Komite The News and Letter. Dalam beberapa hal, Castoriadis sangat menarik bahwa dia dan kelompoknya berupaya keras Marxisme Libertarian keluar dari Marxisme secara umum (Curtis, 1997; Dunayevskaya, 1992; Glaberman, 1999; Rachleff, 1976).</p>
<p>Banyak kaum anarkis dapat dilihat sebagai varian dari Marxisme libertarian. Noam Chomsky dalam pengantar sebuah buku anarkisme, mengutip Anton Pannekoek tokoh Komunisme Konsil dan menyimpulkan, “Faktanya, Marxisme radikal bergabung dengan arus-arus anarkis” (1970; xv). Namun, beberapa kalangan Marxis menolak hubungan tersebut. Antonio Negri, pemikir terkemuka dari Otonomis Italia, mengungkapkan dengan tegas dalam bukunya yang berpengaruh, Empire, “…kami bukan anarkis, tetapi komunis…” (Hardt &amp; Negri, 2001; 350). Sementara Cleaver, sang Marxis otonomis (dan mungkin dialah yang menemukan istilah tersebut) menulis di papernya (1993) yang membahas kesamaan yang kuat antara Kropotkin dan Marxisme Cleaver. Dua orang pengikut C.L.R. James menulis, “Marxisme dapat diartikan dengan berbagai bentuk dari anarkisme libertarian sampai kediktatoran totaliter Stalinis. Dan kami cenderung pada yang pertama…” (Glaberman &amp; Faber, 1998;2). Dalam pengertian, inilah kesempatan terakhir dari Marxisme untuk membuktikan ia bisa membebaskan… atau hanya baru saja pantas.</p>
<p>Kaum anarkis boleh saja sepakat atau tidak dengan analisis ekonomi politik Marx. Bagi anarkis, apa yang menjadi hal paling baik dari kecenderungan libertarian dalam Marxisme adalah keyakinan atas bentuk swa-aktifitas kelas pekerja. Mereka menolak anggapan bahwa seorang elit (dalam bentuk sebuah partai) dapat berdiri atas nama pekerja dan berkuasa atasnya. Sebagai gantinya, mereka menekankan pembangunan dewan (council) pekerja dan dewan rakyat dalam pergolakan revolusioner (Root &amp; Branch, 1975). Dewan-dewan inilah yang menurut mereka, yang seharusnya bersatu sebagai kekuatan baru, menggantikan bentuk-bentuk dari negara lama. Ketimbang memfokuskan diri dalam jajaran petinggi serikat pekerja yang besar dan birokratik, mereka lebih memilih perjuangan dari bawah, untuk menunjukkan bagaimana inisiatif kelas pekerja dapat berdampak pada proses produksi harian (Glaberman &amp; Faber, 1998). Mereka mempelajari bagaimana caranya sebuah aksi massa yang dapat mengambil alih kendali, melampaui apa yang digariskan oleh pejabat serikat pekerja (Brecher, 1972). Ketertarikan mereka adalah pada kreatifitas kelas pekerja dan seluruh kelas tertindas, yang dalam istilah Negri dan Cleaver disebut ‘self-valorization’ . Beberapa pemikiran revolusioner yang terpenting dari Perjuangan Pembebasan Kaum Kulit Hitam dikembangkan oleh C.L.R. James – walaupun ide-idenya lebih banyak berkembang sebelum perpecahannya dengan Trotskyisme (McLernee, 1996).</p>
<p>Selama masa Depresi Besar dan Perang Dingin, ketika kaum anarkis masih sedikit, Marxis otonomis tetap mempertahankan gagasan-gagasan akan swa-aktifitas dari para pekerja. Mereka tetap mempertahankan oposisi revolusioner terhadap Stalinisme sebagai hal yang serupa dengan kapitalisme Barat. Mereka menganalisis Stalinisme dengan baik sebagai bentuk Kapitalisme Negara, alih-alih sebagai jenis masyarakat menuju sosialisme (negara pekerja, masyarakat paska kapitalis, negara transisi, dll). Mereka mengumumkan bahwa paska PD II, kemenangan kapitalis tersebut sesungguhnya mengandung cacat. Prediksinya adalah keruntuhan – sebagaimana terbukti di tahun 60-an (Mattick, 1969). Para anarkis menghargai semua ini.</p>
<p>Para Marxis libertarian terus mengupayakan reinterpretasi Marxisme dari versi ortodoks yang diajarkan oleh kaum sosial demokrat maupun para Stalinis. Marxisme kebanyakan melihat proses sejarah berjalan dengan sendirinya, tahap demi tahap, antitesis setelah tesis, hingga kapitalisme mencapai tahapan akhirnya (secara optimis disebut dengan kapitalisme lanjut, atau kapitalisme tahap akhir), yang kemudian dengan tidak terelakkan akan digantikan sosialisme, lalu komunisme. Sejarah bagi Marxis ortodoks adalah sesuatu yang terjadi terhadap manusia sebagai lawan dari apa yang manusia lakukan. Bagi mereka, ‘kesadaran kelas’ berarti para pekerja menjadi sadar akan apa yang harus dilakukannya berdasarkan proses sejarah. Ini senantiasa dikutip dari perkataan Hegel, “Kebebasan adalah pengenalan atas keterpaksaan” . Dengan senantiasa mengacu bahwa sosialisme “tidak terelakkan”, pemikir Marxisme mainstream melihat sosialisme sebagai hasil atas proses otomatis dari pembangunan sosial. Secara alami, lawan-lawan Marxisme dari kiri sampai kanan, sudah menunjukkan bahwa sekalipun hal tersebut dikatakan tidak bisa dihindari tapi bukan berarti hal tersebut mesti diupayakan. Apa yang ditawarkan sosialisme sehingga mengharuskan para pekerja (dan membiarkan yang lainnya) berjuang dan berkorban? Marxisme ortodoks tidak bisa menjawab semua ini.</p>
<p>Upaya kaum Marxis libertarian untuk mengguncang otomatisasi Marxis (sebagaimana yang saya rujuk) belumlah bisa dikatakan berhasil penuh. Terutama mereka belum sepenuhnya berhasil menjelaskan bahwa ini bukanlah misinterpretasi atas Marxisme, tetapi justru pusat dari Marxisme-nya Marx. Seluruh poin dalam Das Kapital merujuk bahwa sosialisme pasti terjadi. Namun kau dapat membaca di semua volume dari tulisan-tulisan Marx (saya juga punya) tidak ada satupun pernyataan tentang mengapa sosialisme itu baik atau begitu berharga untuk dicapai. Bagaimanapun, Marx banyak mengkritisi kaum utopis dan anarkis atas mencuatnya pertimbangan moral dalam mencapai sosialisme.</p>
<p>Konsepsi otomatis dan amoral dari Marxisme menghasilkan dampak negatif. Bagi Bolshevik, hal tersebut menjadi pembenaran atas tiraninya.  Mempercayai bahwa partailah yang paling tahu akan kebenaran absolut mengenai apa yang mesti dilakukan (yakni, memiliki kesadaran kelas yang benar), dan tentu saja ini hanyalah penjabaran tugas-tugas sejarah yang mendesak, mereka merasa benar untuk membunuh atau melakukan penindasan – dengan alasan pembebasan umat manusia tentunya. Betapapun, mereka mengetahui kelak hal tersebut akan dibenarkan.</p>
<p>Untuk kaum sosial demokrat, keotomatisan amoral ini memberikan pembenaran akan sikap pasif dan kebijakan yang tidak revolusioner. Mereka membentuk partai politik yang berlaga dalam pemilu, dan mendukung organisasi massa yang bernegosiasi dengan modal. Padahal mereka tak punya strategi apapun kecuali terus menerus berjalan seperti itu. Sementara itu, mereka terus melakukan penindasan dengan mendukung imperialisme negaranya. Mereka juga berfikir bahwa kelak ini dapat dibenarkan.</p>
<p>Hal ini juga menerima pembangunan kapitalis, yang dipercaya dapat mendorong ke arah sosialisme, kebanyakan Marxis menerima aspek-aspek lain dalam kapitalisme. Teknologi anti-lingkungan, yang ditempa untuk tujuan  eksploitasi, telah dikuasai. Begitu pula dengan tendensi sentralis dalam ekonomi, politik, dan organisasi militer yang diciptakan untuk kesengsaraan umat manusia.</p>
<p>Ini bukanlah untuk mengingkari bahwa ada sebuah kecenderungan dalam kapitalisme yang berpotensi mendorong ke arah kebebasan sosialis, khususnya perjuangan kelas pekerja, seperti halnya yang dipikirkan Marx. Namun ada kecenderungan sebaliknya (seperti kecenderungan akan disuap atau pekerja yang lebih miskin untuk menyerah). Tidak ada otomatisasi disini, tidak hal yang tidak dapat dihindari, mengenai revolusi sosialis. Kapitalisme tidak mungkin menciptakan sosialisme untuk kita.</p>
<p>Beberapa Marxis libertarian, seperti James dan Dunayevskya serta pengikutnya, telah berupaya keluar dari Marxisme versi mekanik tersebut dan kembali pada filsafat Hegel. Inilah akhir yang mematikan. Memang benar bahwa dialektika Hegel menggambarkan dunia yang bergerak dinamis, kontradiktori, dan menunjukkan saling keterhubungan (menyerupai ekologi), bukannya mekanik dan kaku. Namun dia melihat bahwa sejarah tetap ikut proses otomatis, bergerak ke akhir yang tidak bisa dihindari. Ujung tersebut adalah ciptaan dari filsafat Hegel – dan, pada masyarakat, monarki Prusia – sebagai titik kulminasi sejarah. Organisasi The News and Letters sekilas memandang keberadaannya dalam rangka untuk menjelaskan kepada pekerja hubungan aksi-aksi mereka dengan filsafat Hegel. Juga untuk mengorganisir para aktifis agar lebih mendalami studi atas versi realitas (membawa Hegel ke pekerja) yang otoritarian dan mengalienasi ini sebagai bentuk dari elitisme. Marx membebaskan dirinya dari Hegel dan ini adalah kesalahan untuk mundur kembali.</p>
<p>Cleaver (yang tidak terlalu banyak mengikuti Hegel) juga menunjukkan kegagalan yang sama bagi otomatisasi Marxis, bahkan ketika dia telah berfikir melewati semua itu. Sebagai contoh, ia memuji Kropotkin (Cleaver, 1993) untuk menunjukkan bagaimana aspek masa depan telah muncul, dan menunjukkan bagaimana kekuatan hari ini dapat menjelma di masa mendatang. Berkebalikan dengan itu, Cleaver secara spesifik menolak interpretasi George Woodcock bahwa Kropotkin mengungkapkan berbagai hal kemungkinan yang bisa terjadi. Cleaver juga menolak  analisis apapun yang terkait dengan apa yang seharusnya atau sebaiknya terjadi di masa mendatang. Sebagai gantinya, Kropotkin menurut Cleaver memfokuskan pada indikasi-indikasi hari ini yang dapat dipastikan dan sah dikembangkan dalam anarkisme komunis.</p>
<p>Sungguh menarik bahwa hal ini adalah aspek dari Kropotkin yang dikritik Malatesta. Errico Malatesta, anarkis besar Italia menuliskan dalam “Recollections and Criticisms of an Old Friend&#8221; (1977; pp. 257-268), sebagai sebuah penghormatan atas Kropotkin. “Dua kekeliruan” utama Kropotkin, yang dikritiknya secara khusus adalah “fatalisme mekanistik” dan “optimismenya yang berlebihan”. Malatesta secara tersirat mengungkapkan bahwa kekeliruan ini mengantar Kropotkin menghianati anarkisme atas dukungannya pada Sekutu di PD I (Jerman diduga bertentangan dengan pengembangan kerjasama dan asosiasi bebas dalam negara-negara sekutu). Cleaver tidak menyebutkan ini, hal yang semestinya bagi seorang pengagum Kropotkin.</p>
<p>Otomatisitas mekanik dari Marxis libertarian tidak melalui sebuah konsep partai tapi dalam pemikiran mereka, yakni melalui massa. Mereka percaya diri bahwa pada akhirnya para pekerja akan melakukan hal yang benar. Kaum libertarian menunjukkan sedikit penghargaan atas kesadaran yang bercampur diantara pekerja, yang dipengaruhi gegap gempitanya media massa. Mereka mengingkari kebutuhan untuk mengorganisir dalam rangka melawan kaum konservatif atau sosial demokrat maupun kekuatan Stalinis di dalam kelas pekerja. Sebagai Marxis, para otonomis justru adalah pasif sebelum kekuatan sejarah.</p>
<p>Sama halnya dengan itu, komunis konsil menolak ide bahwa sosialisme dapat berhasil di negara tertindas, karena mereka terlalu miskin dan secara teknologi tertinggal untuk mengembangkan sebuah masyarakat luas yang diperlukan sosialisme (komunisme). Oleh karena itu, komunis konsil menerima kapitalisme (atau kapitalisme negara) sebagai bentuk terbaik dari penindasan sebuah negara yang paling mungkin di era ini. Mereka tidak melihat bhawa negara-negara neo-kolonial adalah bagian dari sistem kapitalisme dan oleh karena itu esensi dari revolusi proletariat adalah revolusi sosialis di seluruh dunia.</p>
<p>Dalam kaitannya dengan penerimaan otomatisitas Marxis, kaum Marxis libertarian sungguh sayang berada dalam posisi lemah, seperti banyak kaum anarkis, bahkan lebih buruk. Terdapat barisan anarkisme yang menuju pembangunan organisasi revolusioner yang dapat berfungsi dalam organisasi massa seperti (tapi bukan hanya) serikat buruh (Malatesta, atau gerakan platformis Makhno). Tapi Marxis libertarian sangat trauma dengan Leninisme dimana mereka menolak segala organisasi revolusioner – membuat hal ini hampir mustahil memahami mengapa mereka mengorganisir, jika mereka mengorganisir. (dan jangan lupa, Catroriadis juga membangun sebuah organisasi dan Socialism or Barbarism juga dibahas dalam tulisan ini).</p>
<p>Meyakini bahwa pekerja pada akhirnya akan membuat segala sesuatunya menjadi baik, para Marxis libertarian justru cenderung menjadi pasif dalam hubungannya dengan isu atas strategi atau organisasi. Contoh paling aneh adalah pernyataan seorang otonomis Italia, Antonio Negri (dan M. Hardt, 2000): “Menolak anggapan umum bahwa para proletariat AS lemah dikarenakan rendahnya perhatian partai dan serikat pekerja terhadap Eropa … mungkin kita seharusnya melihat ini lebih kuat demi tepatnya alasan-alasan tersebut. kekuatan kelas pekerja tidak berada dalam institusi representatif tetapi justru dalam antagonisme dan otonomi pekerja sendiri” (h. 269). Melalui pendapat ini, kemunduran drastis beberapa serikat pekerja di AS, dan keberhasilan para penghancur kekuatan serikat pekerja, telah berhasill membuat pekerja AS lebih kuat. Bilamana semua serikat pekerja dihancurkan, maka pekerja akan lebih kuat dari semuanya! Lalu mengapa para kapitalis terus menerus menekan serikat pekerja?</p>
<p>Kaum komunis konsil memang tepat menolak Lenin dalam hal melawan negara-partai dan mengupayakan sebuah sistem melalui dewan-dewan pekerja. Namun ini tidak membuktikan bahwa mereka benar pada hal lain, seperti misalnya dalam fleksibilitas strategi dan taktik yang diusung Lenin. Mereka juga benar melawan Lenin dalam menolak elektoralisme namun keliru dalam menolak berpartisipasi dalam serikat pekerja. Saya tidak sedang berargumen disini sekarang, namun saya menekankan bahwa tidak ada keterkaitan yang jelas antara masing-masing masalah. Masalah-masalah tersebut perlu dipecahkan secara terpisah-pisah.</p>
<p>Marxis otonomis, sementara itu, sama lemahnya dengan kelemahan anarkisme. Tidak melihat kebutuhan akan organisasi mandiri yang revolusioner. Ini jelas tidak fleksibel secara strategis, terutama dengan menolak bekerja dalam serikat pekerja, organisasi massa utama dalam kelas pekerja. Ini belum bisa melampaui kelemahan kunci dari Marxisme, utamanya pandangan otomatisasi Marxis atas sejarah.</p>
<p>Ada banyak hal dalam Marxisme yang dapat digali oleh kaum anarkis. Di antaranya, Marxisme menunjukkan hubungan antara fungsi kapitalisme dengan pengembangan kapasitas kelas pekerja dalam swa-aktifitasnya, dan mendorong pada penciptaan masyarakat sosialis yang revolusioner. Namun Marxisme, ya Marxisme, bukanlah sekedar kumpulan konsep-konsep yang bisa diambil atau ditinggalkan begitu saja. Ini bermakna sebagai sebuah cara pandang yang total dan menyeluruh atas sebuah kelas baru. Termasuk dalam ekonomi (teori nilai), strategi politik (elektoralisme) , sebuah metode tentang analisis kelas (materialisme historis), serta filsafat alam (materialisme dialektika) – semuanya kecuali pandangan etik dan moral. Kesemuanya berdiri maupun runtuh atas satu hal. Seperti biasanya, Marxisme bukan program dari kelas pekerja, seperti yang dimaksudkan, namun hanya program kelas berkuasa dari negara kapitalis.</p>
<p>Dalam beberapa hal, ini dapat disamakan dengan liberalisme. Banyak hal dari anarkisme diambil dari liberalisme klasik. Para anarkis sepakat dengan gagasan liberal seperti kebebasan berbicara, berserikat, pluralisme, federalisme, demokrasi dan hak menentukan nasib. Namun liberalisme hari ini adalah wajah kiri dari kapitalisme imperialis dan kita bukanlah kaum liberal! Sama halnya dengan sebelumnya, disaat beberapa hal diambil dari Marxisme, maka kaum sosialis yang percaya akan pembebasan akan lebih baik untuk menjadi seorang anarkis.</p>
<p>Brecher, J. (1972). Strike! San Francisco: Straight Arrow(Rolling Stone).<br />
Chomsky, N. (1970). Introduction. In D. Guerin (1970).<br />
Anarchism. NY: Monthly Review Press.<br />
Cleaver, H. (2000). Reading Capital Politically. San Francisco, CA: AK Press.<br />
Cleaver, H. (1993). In T.V. Cahill, ed. Anarchist Studies. Lancaster, UK: Lancaster University (2/24/93).<br />
Curtis, D.A. (1997). (Ed. and trans.). The Castoriadis Reader. Oxford, UK: Blackwell.<br />
Dunayevskya, R. (1992). The Marxist-Humanist Theory of State Capitalism. Chicago: News and Letters.<br />
Glaberman, M. (1999). Marxism for Our Time: C.L.R. James on Revolutionary Organization. Jackson: University Press of Mississippi.<br />
Glaberman, M. &amp; Faber, S. (1998). Working for Wages: The Roots of Insurgency. Dix Hills, NY: General Hall.<br />
Goodman, P. (1962). Drawing the Line: A Pamphlet. NY: Random House. Partially reprinted in P. Goodman (1979) Drawing the Line: The Political Essays of Paul Goodman (T. Stoehr, ed.). NY: E.P. Dutton.<br />
Hardt, M., &amp; Negri, A. (2000). Empire. Cambridge, MA: Harvard University Press.<br />
Malatesta, E. (1984). Errico Malatesta: His Life and Ideas. V. Richards, ed. London: Freedom Press.<br />
Mattick, P. (1969). Marx and Keynes: The Limits of the Mixed Economy. Boston: Porter Sargent. McLemee, S. (1996). (Ed.). C.L.R. James on the &#8220;Negro Question.&#8221; Jackson: University Press of Mississippi.<br />
Rachleff, P. J. (1976). Marxism and Council Communism: The Foundation for Revolutionary Theory for Modern Society. New York: Revisionist Press.<br />
Root and Branch (1975). Root and Branch: The Rise of the Workers&#8217; Movements. Greenwich, CN: Fawcett Publications</p>
<p>Penerjemah : Ipang<br />
Sumber : <a href="http://libcom.org/library/libertarian-marxisms-relation-anarchism" target="_blank">http://libcom.org/</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2008/01/30/hubungan-marxisme-libertarian-dan-anarkisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENUJU GERAKAN MAHASISWA SINDIKALIS, Atau Meninjau Ulang Reforma Universitas</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2008/01/20/menuju-gerakan-mahasiswa-sindikalis-atau-meninjau-ulang-reforma-universitas/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2008/01/20/menuju-gerakan-mahasiswa-sindikalis-atau-meninjau-ulang-reforma-universitas/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jan 2008 06:33:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anarki Sindikalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Kolektif&Organisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/2008/01/20/menuju-gerakan-mahasiswa-sindikalis-atau-meninjau-ulang-reforma-universitas/</guid>
		<description><![CDATA[Selama beberapa tahun terakhir, kita telah melihat berbagai gerakan kampus yang berkembang di seputar isu ‘reforma universitas.’ Sebagian kecil dari gerakan ini mampu memiliki basis massa selama periode yang singkat. Beberapa diantaranya membawa perubahan-perubahan kecil dalam hal peraturan dan regulasi kampus. Namun hampir seluruhnya gagal merubah secara radikal komunitas universitas, atau bahkan untuk sekedar mempertahankan eksistensi mereka sendiri.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Carl Davidson</strong></p>
<p>Selama beberapa tahun terakhir, kita telah melihat berbagai gerakan kampus yang berkembang di seputar isu ‘reforma universitas.’ Sebagian kecil dari gerakan ini mampu memiliki basis massa selama periode yang singkat. Beberapa diantaranya membawa perubahan-perubahan kecil dalam hal peraturan dan regulasi kampus. Namun hampir seluruhnya gagal merubah secara radikal komunitas universitas, atau bahkan untuk sekedar mempertahankan eksistensi mereka sendiri. Apa makna dari fenomena ini? Bagaimana kita menghindari hal serupa di masa mendatang? Mengapa harus repot-repot dengan reforma universitas?</p>
<p><span id="more-125"></span>Merupakan suatu keyakinan diantara para anggota Students for a Democratic Society bahwa semua isu itu saling terkait. Meski demikian, kita seringkali gagal mengaitkannya dengan cara yang sistematis. Apa sebenarnya hubungan antara peraturan jam asrama dengan perang di Vietnam? Apakah ada satu sistem yang bertanggung jawab atas terjadinya kedua hal ini? Kalau ada, bagaimana sifat dari sistem itu? Dan akhirnya, bagaimana sebaiknya kita menyikapinya? Ini adalah pertanyaan-pertanya an yang akan saya coba jawab dengan analisis berikut.</p>
<p>Mengapa reforma universitas?</p>
<p>SDS menamai sistem yang kini ada di negeri ini sebagai ‘liberalisme korporat.’ Dan, kalau kita mau sedikit repot untuk memperhatikan, penetrasinya ke dalam komunitas kampus sungguh mengagumkan. Kalangan elitnya dilatih di akademi-akademi administrasi bisnis kita. Para pembelanya dilatih di sekolah-sekolah hukum kita. Para apologisnya dapat dijumpai di fakultas-fakultas ilmu politik. Akademi-akademi ilmu sosial menghasilkan para manipulatornya. Untuk propagandisnya, sistem ini bertumpu pada sekolah jurnalisme. Ia memastikan pertumbuhannya di masa mendatang lewat akademi-akademi pendidikan. Kalau sebagian dari kita tidak begitu cocok dengan ini semua, maka kita akan dicuci otak dalam divisi-divisi konseling. Dan kita semua mengetahui dengan sangat baik apa yang terjadi di dalam ruang-ruang kelas pengembangan ilmu kemiliteran.</p>
<p>Situasi ini membawa percabangan yang lebih buruk bila kita menyadari bahwa semua fungsionaris ‘bisnis swasta’ ini tengah dilatih dengan mengorbankan kepentingan masyarakat. Perusahaan-perusaha an Amerika tidak begitu kesulitan untuk menaikkan gaji pekerja, terutama ketika mereka bisa mengambilnya kembali dalam bentuk pajak sekolah dan uang kuliah yang dipakai untuk melatih para calon pekerja mereka. Untuk memastikan hal ini, banyak perusahaan memberi beasiswa dan bantuan kepada universitas- universitas. Namun semua bantuan ini hampir selalu mengandung maksud tertentu dari kepentingan mereka sendiri, kalau bukan malah hanya untuk menghindari pajak.</p>
<p>Lebih jauh lagi, kehadiran korporat di kampus dengan sangat aneh mentransformasikan sifat dari komunitas universitas. Contoh paling terang-terangan adalah sistem nilai. Banyak profesor akan sependapat bahwa nilai itu tidak ada gunanya bagi—kalau bukan malah secara positif mengganggu—proses belajar. Namun seluruh komunitas yang telah termanipulasi ini menjawab serentak: “Selain pengambilalihan oleh mahasiswa Universitas Columbia pada tahun 1968, bagaimana lagi perusahaan-perusaha an bisa mengetahui siapa yang layak dipekerjakan (atau untuk siapa Dinas Selektif dirumuskan)?” Dan kita dengan sukaria membelanjakan uang publik untuk mensubsidi usaha-usaha pengujian untuk bisnis swasta.</p>
<p>Yang harus kita lihat dengan jelas adalah hubungan antara universitas dan masyarakat liberal korporat secara luas. Kebanyakan dari kita merasa marah ketika para administrator universitas kita ataupun antek-anteknya berupa Senat Mahasiswa dan BEM menyamakan universitas dan akademi kita dengan perusahaan. Dengan pahit kita menanggapinya dengan pembicaraan tentang ‘komunitas cendikiawan.’ Akan tetapi, kenyataannya mereka itu benar. Lembaga-lembaga pendidikan kita adalah perusahaan dan pabrik pengetahuan. Yang kemarin gagal kita lihat ialah betapa vitalnya pabrik-pabrik ini bagi negara liberal korporat.</p>
<p>Apa yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik ini? Apa saja komoditasnya? Jawaban paling jelas adalah ‘pengetahuan.’ Pabrik-pabrik kita ini menghasilkan keahlian yang memungkinkan negara korporat untuk berkembang, tumbuh dan mengeksploitasi masyarakat secara lebih efisien dan lebih luas, baik di negeri kita sendiri maupun di dunia ketiga. Tetapi pengetahuan barangkali terlalu abstrak untuk dipandang sebagai sebuah komoditas. Konkretnya, komoditas pabrik-pabrik kita adalah hal-hal yang berpengetahuan. Para pejabat AID (<em>Agency for International Development / Agensi Pembangunan Internasional</em>) , orang-orang Korps Perdamaian, petugas-petugas militer, para pejabat CIA, hakim-hakim segregasionis, pengacara perusahaan, segala macam politisi, pekerja kesejahteraan, manajer industri, birokrat buruh (dan masih banyak lagi yang dapat saya sebutkan): Dari mana mereka berasal? Mereka adalah produk dari pabrik-pabrik tempat kita tinggal dan bekerja.</p>
<p>Di jurusan-jurusan perakitan di universitas- universitas kitalah mereka dicetak menjadi apa adanya mereka sekarang. Sebagai bagian integral dari sistem pabrik pengetahuan, kita adalah sekaligus penghisap dan yang terhisap. Sebagai sekaligus pengelola dan yang dikelola, kita menghasilkan dan menjadi produk paling vital dari liberalisme korporat: manusia birokratik. Singkat kata, kita adalah semacam pekerja-pengkhianat baru.</p>
<p>Tapi mari kita kembali ke pertanyaan kita semula. Apa hubungan antara peraturan asrama dengan perang di Vietnam? Kasarnya, keduanya merupakan aspek-aspek dari liberalisme korporat, sebuah sistem yang tidak manusiawi dan menindas. Tapi mari lebih kita spesifikasi lagi. Siapakah para penindas dan orang-orang yang melakukan dehumanisasi itu? Singkatnya, mereka adalah para alumnus kita di masa lalu, masa kini dan masa mendatang: produk jadi dari pabrik-pabrik pengetahuan kita.</p>
<p>Bagaimana mereka menjadi seperti sekarang ini? Mereka dibentuk berdasarkan sebuah jalur perakitan yang dimulai dengan anak-anak saat mereka masuk SLTP, dan berakhir saat mereka menjadi birokrat yunior yang mengenakan jubah pelantikan. Dan aturan-aturan serta regulasi <em>in loco parentis</em> merupakan alat yang esensial bersama dengan seluruh jalur perakitan tersebut. Tanpa itu, akan sulit kiranya untuk menghasilkan jenis manusia-manusia yang bisa menciptakan, menyokong, mentolerir, ataupun mengabaikan situasi-situasi seperti Watts, Missisipi dan Vietnam.</p>
<p>Akhirnya, barangkali kita akan bisa melihat hubungan vital antara pabrik-pabrik kita dengan kondisi-kondisi liberalisme korporat sekarang ini bila kita bertanya kepada diri kita sendiri, apa yang akan terjadi jika militer mendapati dirinya tanpa ada mahasiswa ROTC, CIA tidak mendapat rekrutan baru, departemen-departem en kesejahteraan yang paternalistik kehilangan pekerja sosialnya, atau Partai Demokrat kehilangan generasi muda apologis liberal dan para juru kampanyenya? Singkat kata, apa yang akan terjadi pada sebuah masyarakat yang manipulatif jika sarana-sarana yang digunakan untuk menciptakan orang-orang yang bisa dimanipulasi itu sudah tak lagi berlaku (sudah lenyap)?</p>
<p>Jawabannya ialah, bahwa pada saat itu mungkin kita akan punya kesempatan untuk melawan dan merubah sistem itu. Sebagian besar dari kita pernah terlibat dalam gerakan-gerakan reforma universitas dari satu jenis atau lainnya. Pada sebagian besarnya, upaya-upaya kita baru menelurkan sangat sedikit hasil. Gerakan Bebas Berpendapat menyala cukup singkat, lalu padam. Pernah ada beberapa lusin komite ad hoc untuk penghapusan aturan ini atau aturan itu. Beberapa dari komite-komite ini sukses, lalu bubar. Sebagian lainnya malah tak pernah bisa berkembang.</p>
<p>Meski begitu, sekurangnya kita telah sedikit berpengaruh. Ketidakpuasan itu ada. Meski apatisme cukup luas dan berakar mendalam, bahkan orang-orang apatis itu berkali-kali mengomel. Para administrator kita kini khawatir. Mereka mengamati kita dengan seksama, mengadakan seminar-seminar tentang Paul Goodman untuk para stafnya, dan mempelajari literatur kita dengan lebih teliti daripada kita sendiri. Mereka menangani ledakan emosi kita dengan sangat hati-hati, mencoba semampu mereka untuk tidak memberi kita peluang mendapatkan isu.</p>
<p>Kita punya satu lagi faktor yang menguntungkan: kita telah melakukan banyak kesalahan, hal mana dapat kita tarik pelajaran darinya. Saya akan mencoba menyebutkannya satu per satu dan menganalisis beberapa diantaranya.</p>
<p>1.) Membentuk kelompok-kelompok yang fokus pada satu isu. Contoh utama disini adalah mengorganisir sebuah komite untuk menghapuskan peraturan jam asrama bagi mahasiswa perempuan diatas usia 21 tahun. Taktik ini punya dua kesalahan. Pertama, sejauh relevansi dipertimbangkan, ini adalah isu yang hanya dirasakan oleh kurang dari 10 persen rata-rata mahasiswa di kampus. Karena itu, nyaris mustahil kiranya untuk memobilisasi sejumlah besar mahasiswa di seputar isu ini dalam rentang waktu tertentu. Kritik yang sama berlaku untuk serikat mahasiswa pekerja (hanya ada ratusan mahasiswa yang bekerja untuk universitas) , peraturan tentang pakaian (hanya kaum hippies yang merasa terganggu), ataupun diskriminasi dalam hal tempat tinggal di luar kampus (banyak mahasiswa kulit hitam yang terlalu borjuis untuk peduli). Kesalahan kedua ialah bahwa sebagian besar dari isu-isu ini dapat diakomodir oleh pihak administrasi. Setelah berbulan-bulan kita melakukan pertemuan-pertemuan , ceramah dan agitasi, petugas disiplin mahasiswa perempuan merubah peraturan itu, sehingga perempuan diatas 21 tahun, dengan izin orang tua dan nilai rata-rata yang cukup tinggi, bisa mengajukan permohonan, kalau dia mau, untuk memegang kunci asramanya sendiri. Masalah besar. Pada tahap ini, organisasi kecil yang bekerja untuk mengangkat isu ini biasanya langsung tenggelam.<br />
2.) Mengorganisir di seputar isu-isu kosong. Para mahasiswa sering mencoba menghapuskan aturan-aturan yang sebenarnya juga tidak ditegakkan. Hampir setiap sekolah punya aturan yang melarang perempuan mengunjungi apartemen laki-laki. Namun aturan ini jarang sekali ditegakkan, kendatipun dilanggar secara terbuka. Karena kebanyakan mahasiswa tidak terbatasi oleh aturan tersebut, biasanya mereka tidak mau berjuang untuk merubahnya. Seringkali malah mereka akan bereaksi negatif, karena merasa bahwa jika isu itu diangkat, pihak admisnistrasi justru akan menegakkannya.<br />
3.) Takut menjadi radikal. Dari waktu ke waktu, kita melembekkan tuntutan-tuntutan kita, dan mengkompromikan diri bahkan sebelum kita memulainya. Dalam rapat-rapat kita, kita berdebat tentang sikap pihak administrasi terhadap kita sebelum mereka benar-benar bersikap seperti itu, bahkan kita membayangkannya secara lebih dahsyat. Kita membiarkan diri kita terintimidasi oleh kata ”bertanggung jawab”. (Sudah berapa kali kita merubah sebuah “Deklarasi Hak-hak Mahasiswa” menjadi “Resolusi tentang Hak dan Tanggung jawab Mahasiswa” yang lembek?) Kita menghabiskan lebih banyak energi untuk meyakinkan para dekan kita bahwa kita tidak menghendaki lahirnya “semacam Berkeley lagi” ketimbang mencoba berbicara kepada para mahasiswa tentang persoalan-persoalan riil.<br />
4.) Bekerja melalui saluran-saluran yang telah ada. Frasa ini sesungguhnya berarti, “Mari kita menangguhkan semuanya sampai akhir tahun.” Kalau kita mendengarkannya, maka kita cukup melakukannya satu kali saja dan sedemikian rupa untuk menunjukkan kepada setiap orang bahwa ini hanya buang-buang waktu.<br />
5.) Menunggu dukungan dari fakultas. Ini sama saja seperti meminta kaum Negro di Selatan untuk menunggu dukungan dari kaum moderat kulit putih. Kita sering gagal menyadari bahwa fakultas itu lebih tak berdaya daripada kita: mereka masih harus memikirkan kesejahteraan keluarganya.<br />
6.) Persoalan legalitas. Kita menghabiskan waktu berjam-jam berdebat diantara kita sendiri mengenai apakah universitas bisa secara legal menghapuskan in loco parentis. Bisa saja kalau mereka mau, atau kalau mereka terpaksa harus menghapuskannya. Lagipula, misalkan itu illegal, apakah kemudian kita harus berhenti, lalu memunguti kelereng kita dan pulang ke rumah?<br />
7.) Mengisolasi diri kita. Dari waktu ke waktu, kita kembali jatuh ke dalam perangkap untuk mencoba mengorganisir orang-orang independen di seputar ”perpecahan antara kubu Greek dan kubu Independen”. Ini seharusnya dipandang sebagai skenario administrasi untuk memecah-belah dan menguasai. Di sisi lain, kita seharusnya tidak membuang-buang waktu untuk berusaha memenangkan dukungan kubu Greek ataupun “pimpinan kampus.” Mereka tidak lagi memiliki kekuasaan riil yang lebih besar daripada siapapun lainnya. Juga, anggota SDS seringkali memandang dirinya sebagai kantong-kantong intelektual di kampus, padahal seharusnya mereka melihat dirinya sebagai komite pengorganisir untuk kampus secara keseluruhan. Bukannya meluangkan waktu untuk berada di serikat mahasiswa guna membangun obrolan dengan yang lain, kita malah mundur kembali ke “tongkrongan hippies” kita.<br />
8.) Membentuk Universitas- universitas Bebas. Tindakan ini bisa jadi bagus, tergantung bagaimana ia diorganisir. Tapi kita menghadapi risiko bisa terjebak menjadi seperti kaum sosialis utopis yang menarik diri dari perjuangan pekerja di fase-fase awal. Kita bisa merasa terbebaskan di Universitas- universitas Bebas kita; namun, sementara itu, universitas “tidak bebas” yang kita tinggalkan terus-menerus menghasilkan kaum liberal korporat. Kenyataannya, keadaan menjadi lebih mudah bagi mereka karena kita tidak ada di sekitar sana untuk membuat masalah.<br />
9.) Bekerja di dalam badan pemerintahan mahasiswa (Senat dan BEM). Kita hendaknya melakukan ini dengan—dan semata hanya—satu alasan: untuk menghapuskan badan pemerintahan mahasiswa. Kini kita seharusnya sudah menarik pelajaran bahwa Senat dan BEM tidak punya kekuasaan dan, dalam banyak hal, administrasi telah mengorganisir mereka sedemikian rupa sehingga mustahil bagi kita untuk memanfaatkan organ tersebut guna mendapatkan kekuatan kendali. (Dalam sedikit kasus, bisa saja mungkin bagi kita untuk mengambil alih Senat/BEM dan mengancam akan menghapuskannya jika kendali-oleh- mahasiswa tidak dipenuhi). Dari kritik-kritik terhadap kesalahan-kesalahan kita selama beberapa tahun terakhir ini, saya fikir arah kemana kita hendak bergerak kini menjadi lebih jelas. Juga, bila kita pertimbangkan fakta bahwa universitas- universitas kita telah menjadi agen utama bagi perubahan sosial dalam arah 1984, saya kira kita dapat mengerti mengapa kita harus mengorganisir kampus-kampus. (Saya tidak bermaksud menyiratkan bahwa kita harus mengabaikan pengorganisiran di sektor-sektor lain.)</p>
<p>Menuju Sindikalisme Mahasiswa</p>
<p>Dalam analisis sebelumnya tentang universitas (yang tentu saja bukan orisinal pemikiran saya), kita dapat menemukan suatu antagonisme implisit, atau, kalau anda lebih ingin mengatakannya begini, suatu kontradiksi fundamental. Yakni, para administrator akan meminta kita untuk sekaligus berpartisipasi dan tidak berpartisipasi dalam sistem pendidikan kita. Dikatakan kepada kita bahwa kita harus membuat keputusan-keputusan yang bertanggung jawab, namun kita tidak diperkenankan untuk membuat keputusan-keputusan yang sebenarnya. Kita diberitahu bahwa pendidikan adalah suatu proses yang aktif, namun kita dilatih secara pasif. Kita dikritik sekaligus untuk apatisme dan aktivisme kita. Atas nama kebebasan, kita dilatih untuk patuh.</p>
<p>Sistem ini mensyaratkan agar kita secara pasif menyetujui untuk dimanipulasi. Namun visi kita adalah partisipasi yang aktif. Dan ini adalah tuntutan yang tidak dapat dipenuhi oleh para administrator kita tanpa memposisikan diri mereka hingga kehilangan pekerjaan. Itulah sebabnya mengapa kita justru harus mengajukan tuntutan ini.</p>
<p>Apa yang harus dilakukan?</p>
<p>Jelas kita perlu mengorganisir untuk membangun, di kampus-kampus, sebuah gerakan yang tujuan utamanya adalah mentransformasikan komunitas universitas secara radikal. Terlalu sering kita kehilangan kemampuan untuk melihat tujuan ini. Untuk setiap program, setiap tindakan, setiap sikap dan setiap tuntutan, kita harus mengajukan pertanyaan: Bagaimana hal ini dapat secara radikal merubah kehidupan setiap mahasiswa di kampus ini? Dengan mempertimbangkan hal ini, saya menawarkan usulan-usulan tindakan sebagai berikut:</p>
<p>1.) Setiap cabang SDS mengorganisir sebuah gerakan mahasiswa sindikalis di kampusnya masing-masing. Saya menggunakan istilah “sindikalis” untuk sebuah alasan yang krusial. Dalam perjuangan pekerja, serikat-serikat sindikalis berjuang lebih untuk mencapai demokrasi industrial dan kendali oleh pekerja ketimbang untuk perbaikan upah dan kondisi kerja. Serupa dengan itu, dan saya tidak mau terlalu sering mengulang menyebut ini, isu bagi kita adalah kendali oleh mahasiswa (serta yang masih harus diwujudkan, fakultas yang terbebaskan di beberapa wilayah). Yang tidak kita inginkan adalah gerakan mahasiswa yang bertipe serikat-perusahaan yang melihat dirinya sebagai sebuah badan yang, berdasarkan prosedur “liberalisasi,” membantu sebuah administrasi yang paternal untuk membuat aturan-aturan yang lebih baik bagi kita. Yang kita inginkan adalah sebuah serikat mahasiswa dimana para mahasiswa sendirilah yang memutuskan aturan macam apa yang mereka inginkan atau tidak inginkan. Atau apakah mereka memerlukan/tidak memerlukan aturan sama sekali. Hanya organisasi semacam inilah yang memungkinkan adanya desentralisasi dan partisipasi langsung mahasiswa dalam semua keputusan yang mempengaruhi kehidupan mereka sehari-hari.<br />
2.) Agar gerakan sindikalis mahasiswa mengambil bentuk berupa dua struktur yang mungkin: sebuah Partai Demokratik Kebebasan Kampus atau sebuah Serikat Mahasiswa Bebas.</p>
<p>a.) Partai Demokratik Kebebasan Kampus (Campus Freedom Democratic Party/CFDP). Ini mungkin di kampus-kampus dimana senat mahasiswa/BEM yang ada sekurangnya secara formal demokratik (yakni, satu mahasiswa satu suara). Idenya adalah mengorganisir sebuah kampanye elektoral untuk putaran satu tahun dengan tujuan untuk mendidik mahasiswa mengenai sistem mereka; membangun keanggotaan massal di asrama dan halaman-halaman tempat mahasiswa tinggal dan beraktivitas; terus-menerus mengejek dan mengganggu rapat-rapat Senat/BEM (misalnya, muncul serentak di sebuah pertemuan dan menyanyikan jingle yang kini sudah jarang terdengar, ”Mickey Mouse Club”); dan pada akhirnya, memenangkan mayoritas kursi dalam pemilihan Senat/BEM. Selama CFDP hanya mendapat kursi yang minoritas, kursi tersebut hendaknya digunakan untuk mengekspos badan yang ada sebagai parodi terhadap ide tentang pemerintahan. Harus diingat bahwa tujuan dari aktivitas ini adalah untuk membangun suatu kesadaran radikal diantara semua mahasiswa dalam perjuangan yang akan berlangsung berhadapan dengan administrasi.</p>
<p>Apa yang akan terjadi jika sebuah CFDP memenangkan mayoritas kursi? Ia harus segera mendesakkan serangkaian tuntutan (yang sifatnya akan saya bahas nanti) dalam bentuk RUU tentang Hak-hak atau Deklarasi Independensi, atau keduanya. Resolusi semacam ini hendaknya mengindikasikan suatu tenggat waktu kepada pihak administrasi (atau pengawas, atau apapun namanya) untuk menanggapi. Apabila tuntutan dipenuhi, mahasiswa harus langsung merayakan kemenangan revolusi. Kalau tidak dipenuhi, maka CFDP harus langsung membubarkan Senat/BEM, atau membentuk sebuah Senat/BEM di pengasingan. Kedua, CFDP hendaknya segera memulai demonstrasi- demonstrasi massa: melakukan aksi menduduki gedung-gedung administrasi, tempat parkir fakultas, ruang-ruang perawatan/pemelihar aan, dan lainnya; memboikot semua kelas perkuliahan; dan mogok dari kegiatan menjadi asisten pengajar. Singkat kata, keberhasilan aksi-aksi ini (terutama ketika polisi datang) akan menjadi ujian mengenai seberapa maksimal CFDP telah meradikalisasi konstituennya selama dua atau tiga tahun terakhir.</p>
<p>b.) Serikat Mahasiswa Bebas (Free Student Union/FSU). Perbedaan antara FSU dan CFDP terutama terletak pada taktiknya. Di banyak kampus, Senat/BEM bahkan tidak demokratis secara formal; malah, mereka dibentuk hanya dengan pers kampus punya satu suara, dewan interfraternity satu suara, dan seterusnya. Dalam situasi seperti ini, kita harus mengabaikan atau mengecam politik kampus atau politik elektoral dari kata ‘oke, ayo’, dan, dengan mengikuti strategi para Wobblies, mengorganisir satu serikat besar dari seluruh mahasiswa. Tujuan pertama dari FSU adalah membangun sebuah lembaga yang merupakan tandingan atas Senat/BEM, yang pada akhirnya akan merangkul mayoritas yang sehat dari badan mahasiswa tersebut. Serikat ini harus mendorong agar para mahasiswa tidak berpartisipasi dalam Senat/BEM, dan agar terlibat dalam agitasi yang aktif, non-elektoral, dan dilakukan dengan praktek langsung. Ini akan mengambil langkah berupa mengorganisir dan mendukung pelanggaran terhadap aturan-aturan yang ada. Pelanggaran- pelanggaran ini dapat mencakup tidur diluar asrama dan mengadakan pesta-pesta “kebebasan” di apartemen-apartemen terbatas, dengan tanpa kekerasan mengambil alih gedung tempat menyimpan mesin-mesin IBM yang digunakan untuk menentukan nilai ujian, mengkampanyekan untuk merusak kartu-kartu IBM, menganggu kelas-kelas perkuliahan yang dihadiri sangat banyak mahasiswa, mengambil-alih, dan dengan tanpa kekerasan berusaha menduduki dan membebaskan pers dan stasiun radio kampus. Semua ini hendaknya dilakukan dengan cara sedemikian rupa sehingga bisa meraih makin dan makin banyak dukungan. Begitu FSU mendapat lebih banyak dukungan daripada yang didapat Senat/BEM, ia harus mendeklarasikan bahwa Senat/BEM tak lagi berlaku, mengajukan tuntutan-tuntutan mengenai administrasi, dan, jika ditolak, mendeklarasikan pemogokan umum.</p>
<p>Jelasnya, keberhasilan entah CFDP atau FSU tergantung pada kemampuan kita untuk mengorganisir suatu basis massa radikal yang memiliki kapasistas untuk perlawanan, dedikasi dan daya tahan yang berjangka panjang. Dengan mengingat kebutuhan akan hal-hal ini, orang dapat dengan mudah melihat mengapa sebuah gerakan mahasiswa sindikalis harus bersifat nasional (atau bahkan internasional) dalam lingkupnya. Akan ada kebutuhan untuk adanya pengorganisir- pengorganisir fulltime yang berkemampuan jelajah tinggi untuk bepergian dari kampus ke kampus. Ketika meletus konfrontasi- konfrontasi kritis, akan dibutuhkan demonstrasi solidaritas dan pemogokan di kampus-kampus lain. Bahkan mungkin akan muncul kebutuhan untuk mengirim bus-bus bermuatan mahasiswa ke sebuah kampus dimana, karena terjadi penangkapan- penangkapan massal, dibutuhkan tenaga-tenaga pengganti. Kembali, kita bisa belajar banyak dari taktik-taktik pengorganisiran Wobblies dan CIO.</p>
<p>3.) Agar gerakan mahasiswa sindikalis mengadopsi penghapusan sistem nilai sebagai isu pokok dan sentralnya. Ini bukan bermaksud mengatakan bahwa isu-isu lain, seperti kekuasaan untuk pengambilan keputusan di dalam Senat/BEM, tidak penting. Isu-isu itu bukan tidak penting; dan dalam situasi-situasi tertentu, isu tersebut bisa jadi sangat penting. Tapi, saya pikir, penghapusan sistem nilai adalah isu yang paling signifikan untuk membangun sebuah gerakan radikal di kampus. Ada tiga alasan mengapa saya berpikir demikian:</p>
<p>c.) Sistem nilai merupakan suatu kondisi umum dari keseluruhan mahasiswa dan komunitas fakultas. Ia adalah penyebab langsung dari sebagian besar kecemasan dan frustrasi mahasiswa. Juga, ia merupakan penyebab alienasi kebanyakan anggota fakultas dari kerjanya. Di kalangan para pendidik kita yang lebih baik dan di hampir semua fakultas, ada suatu konsensus bahwa nilai itu, paling banter, tidak ada artinya, dan kemungkinan besar malah bersifat merusak bagi pendidikan yang sesungguhnya.<br />
d.) Sebagai sebuah isu yang dapat diangkat untuk melakukan pengorganisiran, kehadiran sistem nilai selalu dirasakan. Ujian pada jam pelajaran, ujian tengah semester dan ujian akhir semester selalu muncul seperti tak diharapkan (sedangkan pemilihan pengurus Senat/BEM berlangsung hanya sekali dalam setahun). Setiap kali kita melihat kawan-kawan kita sesama mahasiswa sibuk mempersiapkan diri untuk ujian (sebenarnya, untuk nilai), kita dapat menunjukan kepada mereka bahwa mereka sedang dieksploitasi, dan berusaha mengorganisir mereka. Dalam setiap kelas pelajaran yang kita ambil, sepanjang tahun ajaran, setiap kali dosen kita menilai makalah dan ujian kita, kita bisa melakukan agitasi di ruang-ruang kelas, mengekspos tentang sistem nilai dan mendorong baik kawan-kawan sekelas kita maupun para pengajar agar bergabung dengan kita untuk menghapuskan sistem tersebut.<br />
e.) Penghapusan sistem nilai adalah tuntutan yang tidak bisa dipenuhi oleh pihak administrasi tanpa secara radikal merubah bentuk dan tujuan sistem pendidikan kita. Pertama-tama, jika tidak ada sistem nilai, suatu bagian yang signifikan dari para administrator kita akan kehilangan pekerjaan karena tidak ada lagi yang bisa mereka kerjakan. Juga, banyak kelas pelajaran yang diproduksi dalam bentuk program televisi dan semacamnya tidak lagi diperlukan. Karena pendidikan nantinya akan berlangsung melalui kontak personal antara mahasiswa dan dosennya, maka kelas-kelas akan dibatasi jumlah pesertanya. Karena evaluasi terhadap karya mahasiswa tak lagi harus diatur dan distandarisasi secara temporal, maka kecendikiaan (kesarjanaan) independen akan didorong, malah mungkin niscaya dibutuhkan. Akibatnya, negara korporat akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan birokrat-birokrat yunior yang mudah dimanipulasi (dikontrol). Akhirnya, Dinas Selektif akan perlu waktu yang sangat panjang (akan sangat kerepotan) untuk menseleksi kita berdasarkan peringkat.</p>
<p>Dengan alasan-alasan ini, menurut saya penghapusan sistem nilai hendaknya berfungsi sebagai isu ”payung” bagi sebuah gerakan mahasiswa sindikalis, cukup serupa halnya dengan fungsi penghapusan sistem upah bagi gerakan serikat pekerja sindikalis. Di bawah payung ini, banyak isu lain bisa diangkat, tergantung segmen mana dari komunitas mahasiswa yang akan kita ajak, dan tergantung seberapa besar kekuatan yang kita punya pada suatu waktu tertentu.</p>
<p>4.) Agar gerakan mahasiswa sindikalis memasukkan ideologi demokrasi partisipatoris ke dalam isu-isu sekunder. Ini bisa dipandang sebagai upaya kita untuk mensabotase mesin-mesin pabrik pengetahuan yang menghasilkan para pengatur (manajer) dan yang diatur (yang dimanajeri) seperti digambarkan dalam novel tulisan George Orwell,1984. Ada banyak cara untuk melakukannya. Saya akan menyusun daftar beberapa diantaranya:</p>
<p>a.) Mendekati mahasiswa di akademi-akademi keguruan dengan membawa sebuah kurikulum tandingan yang didasari ide-ide Paul Goodman dan AS Neil mengenai pendidikan radikal untuk anak-anak.<br />
b.) Di awal setiap semester, mengajukan permintaan (atau tuntutan) kepada para dosen agar kamu dan kawan-kawan sekelasmu bisa berpartisipasi dalam membentuk struktur, format dan muatan dari pelajaran tertentu.<br />
c.) Mendaftar, menghadiri, mengecam, dan kemudian melakukan aksi meninggalkan (memboikot) kelas-kelas pelajaran yang sangat padat.<br />
d.) Mengorganisir para mahasiswa dan anggota fakultas lainnya yang terbebaskan di jurusan-jurusan tertentu untuk menyusun sebuah model kurikulum tandingan, kemudian mengagitasikannya agar dipakai, terutama lebih karena mahasiswa ikut serta membuatnya, ketimbang dikarenakan keutamaan/kegunaann ya.<br />
e.) Adakanlah persidangan olok-olok yang mengadili wali (ketua senior) mahasiswa laki-laki dan wali mahasiswa perempuan atas ‘kejahatannya terhadap kemanusiaan.’<br />
f.) Dalam kasus mahasiswa perempuan, mengorganisir sebuah federasi desentralis dewan-dewan asrama (soviet?), dimana setiap unit tempat tinggal akan merumuskan seperangkat aturan dan regulasi tandingan; kemudian menggunakannya untuk menggantikan aturan-aturan yang ada, dengan pijakan bahwa para perempuan sendirilah yang membuat aturan tersebut.</p>
<p>Saya yakin bahwa kalau kita menggunakan imajinasi kita, maka kita akan bisa memperluas daftar ini hingga tak terbatas. Dan karena menyertakan filsafat demokrasi partisipatoris di dalamnya, maka saya pikir usulan langkah-langkah ini bernilai intrinsik (esensial). Dan saya juga yakin bahwa langkah-langkah tersebut dapat membawa pengaruh yang menjangkau jauh, karena demokrasi partisipatoris itu seringkali seperti penyakit yang kronis dan menular. Begitu terkena, ia akan menjalari keseluruhan hidup si orang itu serta hidup orang-orang lain di sekitarnya. Efeknya sangat mengacau-balaukan dan bersifat total. Dan dalam sebuah sistem yang manipulatif serta birokratis, artikulasi dan ekspresinya setara dengan sabotase. Merupakan harapan saya kiranya bahwa orang-orang yang terpapar pada ide ini selama masa mereka membangun sebuah gerakan sindikalisme mahasiswa, hidupnya tidak akan sama lagi seperti sebelumnya, terutama setelah mereka meninggalkan komunitas universitas.<br />
***<br />
Makalah tentang sikap yang disampaikan pada konvensi SDS, Agustus 1966.</p>
<p><strong>Translated by: Vetuyara Krishna</strong></p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2008/01/20/menuju-gerakan-mahasiswa-sindikalis-atau-meninjau-ulang-reforma-universitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Komune Paris</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2006/08/02/komune-paris/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2006/08/02/komune-paris/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Aug 2006 08:56:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Komune Paris]]></category>
		<category><![CDATA[Paris Commune]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/v2/2006/08/02/komune-paris/</guid>
		<description><![CDATA[Para pemberontak menemukan Paris terbuka untuk pengambil-alihan, tetapi kekhawatiran utama komite Pusat Tentara Nasional ialah 'melegalisasi' situasi dengan melepas kekuatan yang tidak disangka-sangka jatuh ke tangan mereka. Oleh karena itu untuk mengikuti pergerakan para pasukan dengan berbaris ke Versailles disaat para Blanquist terburu-buru mendorong Komite untuk melakukan negosiasi dengan satu-satunya badan konstitusi yang ada di kota --yaitu Mayor-- untuk mengatur pemungutan suara.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh Aillen O&#8217;Carroll, Oktober 1993</em><br />
<strong><br />
Akhir dari perang</strong></p>
<p>Tahun 1871 Perancis berperang melawan Prussia dan ternyata mengalami kekalahan. Kepala pemerintahan nasional, Adolphe Thiers, telah bernegosiasi detail tentang perdamaian dengan Prussia. Setelah melakukan semua ini, dia dihadapkan dengan masalah pengambil alihan kembali kontrol dari Paris, dan meyakinkan Paris bahwa perang dengan Prussia telah berakhir serta pembubaran tentara nasional. Thiers hanya tinggal mempunyai 12.000 pasukan setelah gencatan senjata melawan ribuan pasukan nasional. Pos keluar kota yang terbesar telah berpindah dari Bordeaux dimana tempat pertemuan untuk yang pertama kalinya diselenggarakan untuk pembersihan dari Prussia, ke Versailles, dekat Paris.</p>
<p><span id="more-98"></span>Orang-orang Prussia masih tetap menduduki Perancis utara, sebagai pembayaran dari ganti rugi yang telah disetujui Perancis untuk membayar kondisi damai. Untuk dapat membayar cicilan yang pertama dari ganti rugi itu, dan untuk keselamatan evakuasi dari Perancis utara oleh pasukan Prussia, pemerintah Perancis harus menaikkan pinjaman. Pinjaman hanya bisa dinaikkan dengan meningkatnya kepercayaan publik di dalam pemerintahan yang baru itu. Dalam kepemerintahan Thiers, masalahnya adalah perbaikan kepercayaan. Semua harus bermula dengan pemapanan ulang, pembukaan kembali toko-toko, pemulihan sistem bisnis, dan kehidupan yang kembali ke keadaan normal. Dengan semua yang telah disebutkan di atas, sejak Paris telah menjadi ibukota, maka Paris harus dapat diambil alih di bawah kontrol dari Pemerintah Nasional.</p>
<p>Bagaimanapun juga Paris bersikap menentang, dimana tidak dapat menerima kemenangan Prussia. Ini artinya Paris tidak puas dengan penyerahan pemerintahan ke tangan Prussia. Kemarahan patriotik Perancis mengalahkan ketidakmampuan kemarahan pemerintahan baru di Versailles. Pasukan nasional Paris tetap bersiaga, siap untuk menolak segala macam pemasukan dengan paksa dari para Prussia ke Paris. Meriam-meriam yang digunakan pengepungan kota Paris telah dibawa ke berbagai tempat di Paris. Akhirnya semua meriam itulah yang dibawa ke berbagai daerah, sehingga menjadi isu yang kritis. Seperti yang dikatakan oleh Thiers setelah itu, &#8220;&#8230;para orang-orang bisnis akan dengan konstan akan tetap mengulang bahwa pembenahan keuangan tak akan pernah berjalan lagi sampai semua keadaan buruk berhenti (selesai) dan meriam mereka telah dibawa pergi.&#8221;</p>
<p>Ini adalah usaha pemerintah yang berusaha untuk merebut senjata dari para penjaga nasional pada hari sabtu dini hari, yang meninggalkan jejak bagi revolusi. Rencananya adalah dengan menduduki titik-titik strategis di kota, merebut persenjataan dan menangkap para revolusioner yang sudah dikenal. Thiers sendiri bersama beberapa menterinya pergi ke Paris untuk mengawasi jalannya operasi. Pertama-tama semua operasi yang ada di Paris memang berjalan dengan lancar, tetapi kemudian orang-orang di sana mulai mengejek dan mencemooh para serdadu. Tentara-tentara nasional mulai berbalik, tidak lagi mendukung pemerintah, tapi juga tetap tidak tahu harus berbuat apa. Para tentara-tentara yang masih menunggu transportasi yang akan membawa senjata-senjata pergi, mulai mendapati diri mereka tak dihargai. Even-even pertama kali berbalik menjadi serius di Montmarte, dimana para tentara menolak untuk menembak kerumunan massa dan berbalik menangkap komandan mereka, yang kemudian ditembak. Di lain tempat di pusat kota, para perwira menyadari bahwa mereka tidak dapat lagi mengandalkan anak buahnya, dan sebelum sore hari tiba Thiers telah memutuskan untuk meninggalkan ibukota. Pada saat menunggu itu, dia mengeluarkan perintah untuk menyelesaikan evakuasi para tentara ke Versailles dan memerintahkan kepada semua sisa menterinya untuk mengikuti dirinya. Kemunduran tentara ke Versailles itu sangat kacau. Para pasukan itu menjadikan para perwiranya tunduk kepada mereka dan tinggal hanya para polisi militer yang dapat memberi semacam perintah kepada mereka. Jadi mereka dengan sangat terburu-buru menarik kembali beberapa resimen yang terlupakan dan tertinggal di Paris (sekitar 20 ribu orang). Para perwira dijadikan tahanan, sementara sekitar 1.500 orang tertinggal tanpa perintah dan hanya duduk-duduk selama periode komune. Orang-orang yang duduk di pemerintahan meninggalkan kota.</p>
<p>Jam 11 tepat pada malam itu, komite pusat dari Tentara Nasional akhirnya dapat mengumpulkan anggotanya beserta cukup keberanian untuk mengambil alih Hotel de Ville yang ditinggalkan, sementara komandan Tentara Nasional lainnya dan anak buahnya tetap tinggal di gedung-gedung umum di pusat kota.</p>
<p>Para Blanguist-lah yang akhirnya mengambil inisiatif saat Brunell membiarkan keragu-raguan Bellevois (kepala komite Tentara Nasional) dalam kesunyian Hotel de Ville. Saat pada akhirnya komite pusat sampai di Hotel de Ville, terjadi kebingungan besar, dimana para Tentara Nasional dan pasukannya berada di mana-mana tanpa ada yang punya kewenangan untuk memimpin. Revolusi ini secara spontan merebak ke pusat kota, dimana tidak ada tujuan central oleh berbagai komite dari Tentara Nasional.</p>
<p>Komite Duval, Eudes, Brunel, dan semua komite Montmartre semuanya berbaris ke Versaille, walaupun para Blanguist tidak tergerak. Para pemberontak menemukan Paris terbuka untuk pengambil-alihan, tetapi kekhawatiran utama komite Pusat Tentara Nasional ialah &#8216;melegalisasi&#8217; situasi dengan melepas kekuatan yang tidak disangka-sangka jatuh ke tangan mereka. Oleh karena itu untuk mengikuti pergerakan para pasukan dengan berbaris ke Versailles disaat para Blanquist terburu-buru mendorong Komite untuk melakukan negosiasi dengan satu-satunya badan konstitusi yang ada di kota &#8211;yaitu Mayor&#8211; untuk mengatur pemungutan suara. Seperti yang ditanyakan oleh seorang komunard (anggota komune) pada hari pemungutan suara, &#8220;Apa arti legalisasi saat terjadinya revolusi?&#8221; Hal ini membuat pengkajian kembali mengenai legalisasi yang selama ini memoderasi para revolusioner. Banyak anggota dari Komite Pusat merasa bahwa banyak even yang telah menelanjangi mereka. Seperti yang dikatakan oleh salah satu dari mereka, &#8220;pada sore hari itu kami semua tidak tahu harus berbuat apa; kami tidak mau memiliki Hotel de Ville, yang kami mau hanyalah membentuk barikade. Kami merasa malu dengan kewenangan yang kami miliki.&#8221; Semua itu tinggal sastra Bohemian dari Edourard Moreau, untuk meyakinkan komite pusat ditengah-tengah teriakan &#8220;Hidup komune&#8221; untuk mempertahankan pendudukan Hotel de Ville paling tidak untuk beberapa hari hingga segala sesuatu yang berhubungan dengan pemungutan suara dapat terselenggara.</p>
<p>Delapan hari kemudian pemungutan suara di Paris diadakan dengan 227.000 suara yang terhitung. Ini hanyalah setengah dari jumlah pendaftar yang mendaftar sebelum perang, semenjak terjadi pengurangan populasi besar-besaran. Eksodus ini berjalan untuk mengambil keuntungan dari &#8216;area kelas pekerja&#8217; yang pada saat itu menjadi daerah yang sangat makmur yang masih ada. Juga dengan sistem representatif yang proporsional yang diadopsi oleh Komute Pusat yang memberikan lebih banyak representasi bagi distrik dimana banyak populasi kelas pekerja daripada sistem yang sebelumnya. Hasil menunjukkan kelebihan ada pada kelompok kiri, hanya sekitar 15-20 dari kaum republik moderat yang dipilih dimana mereka segera meletakkan jabatan.</p>
<p>Distrik kelas pekerja yang paling padat adalah distrik dimana para pro-komunard tinggal. Data dari para komite Vigilance, para pemungut suara di pemilihan umum sebulan hanya sedikit sekali yang berminat akan hal tersebut tetapi lalu menemukan bahwa diri mereka saat ini menjadi mayoritas. Hal ini bukan karena keterburu-buruan &#8216;posisi sosialis revolusioner&#8217;, tapi karena mayoritas kaum republik di Paris sekarang bersedia untuk memilih komune atas dasar sikap bertahan untuk melawan Thiers dan kaum monarkis National Assembly di Versailles. Di distrik kelas pekerja kemenangan menjadi sesuatu yang sangat berarti, sesuatu yang diharapkan akan dapat dilaksanakan dengan sangat serius dengan tidak mempedulikan pemerintah pada saat itu.</p>
<p>Secara formal, komune diterapkan di Hotel de Ville dua hari kemudian pada saat teriknya musim panas yang penuh kejayaan di hari Selasa tanggal 28 Maret. Batalyon Tentara Nasional berkumpul, nama-nama yang baru pilih akhirnya dibacakan, dengan mengenakan pakaian merah, mereka berbaris ke Hotel de Ville dengan kebanggaan yang mengerumuni dan menyingkirkan republik. Bendera merah dikibarkan tinggi-tinggi sejak mulai tanggal 18 Maret dan rentetan senjata dibunyikan menyambut Proklamasi Komune Paris.</p>
<p><strong>Komposisi Dalam Komune</strong></p>
<p>Komune pada akhirnya terdata memiliki sebanyak 81 orang anggota, dengan rata-rata berusia 38 tahun, 5 orang anggota berusia lebih dari 60. Raoul Rigault, perwira polisi dalam komune, berusia 25 tahun dan merupakan yang termuda dari sejumlah 15 orang yang berada di usia 20-an, dan 18 anggota yang lain baru berusia 30.</p>
<p>Para anggota dari komune itu banyak yang tidak berpengalaman dalam bidang politik. Debat mereka seringkali menyimpang dari masalah sesungguhnya, lebih banyak masalah yang dianggap hilang bukannya terus didiskusikan untuk mendapatkan pemecahannya dan secara lengkapnya banyak point-point yang tidak berhubungan dengan diskusi malahan terus dibicarakan. Hal-hal tersebut menyebabkan banyak sekali omongan buruk diantara mereka sendiri dan lambat laun hal ini yang membawa mereka kepada perpecahan. Komune ini pada keseluruhannya kekurangan sudut yang politis. Hal ini menjadi sangat serius, karena mereka seharusnya memenangkan perang sipil untuk dapat bertahan hidup. Mulai muncul pertanyaan-pertanyaan mengenai bidang pendidikan pengajaran atau pembangunan kembali kondisi kerja karena pengalaman dalam serikat kerja yang pernah dialami beberapa anggota komune memperlihatkan hasil yang terbaik.</p>
<p>Blanqui, sebagai revolusioner yang berpengalaman mungkin hanya menyediakan sedikit kohesi politik, tetapi sayangnya dia terlebih dahulu ditangkap polisi dan menghabiskan waktu revolusi kedua di dalam penjara.</p>
<p>Charles Deleschulz adalah figur politikus yang paling terkemuka dimasa lampau yang mendapat kedudukan di kursi komune. Dia pernah menjadi figur radikal Jacobean pada revolusi tahun 1848 hingga kemudian dipaksa untuk hidup dalam pengasingan dan dimasukkan ke dalam penjara saat ia berusaha melarikan diri dengan sembunyi-sembunyi. Bagaimanapun juga bertahun-tahun di kepulauan Devil telah menghancurkan kesehatan tubuhnya. Dia hanya bisa berbicara dengan suara yang parau dan berkutat dengan persoalan pribadinya dan menimbulkan pertengkaran dalam komune sampai dipanggil untuk bersikap hormat yang tetap menemui kegagalan pada akhirnya. Menuju kematiannya dengan tenang di barikade di tempat dimana sekarang tempat tersebut bernama Place de la Republic.</p>
<p>Delapan belas orang anggota komune datang dari latar belakang kelas menengah dimana mereka memerdekakan diri di masa sekolah dan saat masih menjadi pelajar. Dari semuanya, 30 orang anggota komune bisa dikelompokkan dari beberapa propinsi, setengah dari mereka adalah jurnalis dari koran kaum republik. Sisanya termasuk tiga orang dokter, hanya tiga orang pengacara, tiga orang guru, satu orang dokter hewan, satu arsitek dan sebelas orang yang pernah menjadi juru tulis.</p>
<p>Sekitar tiga puluh lima orang anggota adalah pekerja manual atau setidaknya bekerja sebelum terlibat dalam politik revolusioner. Terdapat beberapa juru tulis di tempat kerja kecil yang telah memapankan pusat dagang di kota besar. Tipikal kelompok ini adalah para pengrajin perunggu dan pandai besi, tukang kayu, dekorator rumah, dan pembundel buku. Apa yang mengejutkan kita adalah bagaimana beberapa dari mereka yang datang dari industri berat yang baru, telah berkembang di banyak tempat di kota Paris. Pada keseluruhannya, para pekerja dalam industri yang berskala besar di pabrik-pabrik dan daerah pinggiran Paris belum membentuk organisasi dan pasukan gaya mereka sendiri. Tampaknya kepemimpinan lokal yang sudah berkembang meresa tidak yakin akan diri mereka sendiri, terlalu tidak cocok untuk menjalankan peran penting dalam skala yang lebih besar. Masalah seperti ini mereka limpahkan pada para militan dari banyak distrik-distrik borjuis kecil.</p>
<p>Sekitar empat puluh orang anggota telah terlibat dalam gerakan Buruh Perancis dan kebanyakan dari mereka telah bergabung dalam gerakan internasional. Pengalaman mereka dalam serikat dagang dan asosiasi pekerja telah membuat mereka mencurigai kekuatan politik dan hal itu membuat mereka berpikir dengan warna-warna anarkis (lebih banyak dengan tradisinya Proudhon daripada Mikhail Bakunin). Sekitar selusin anggota komune adalah Blanquists. Harapan utama mereka adalah menyelamatkan revolusi dengan membebaskan Blanqui, baik dengan membantu dia meloloskan diri dengan cara pertukaran sandera&#8230; Archbishop dari Paris adalah seseorang yang masuk dalam daftar.</p>
<p>Komune telah diterapkan pada tanggal 28 Maret dan pada tanggal 2 April pasukan Thiers mulai menyerang. Pertama kali, pertemuan komune di ruang rahasia bawah tanah adalah membicarakan sebuah &#8216;dewan perang&#8217;, bagaimanapun juga kerahasiaan bukanlah sesuatu yang diharapkan oleh pertemuan pada umumnya. Komite pusat terdiri dari paling tidak 20 distrik, dari Internasional dan beberapa perkumpulan yang popular, semua terpaksa membuat publik session sendiri. Mengikuti penekanan ini, komune bersepakat untuk mempublikasikan debat tersebut dalam Jurnal Resmi harian, dan pada prinsipnya setuju kepada publik soal debat tersebut. Bagaimanapun juga itu membuktikan bagaimana sulitnya untuk menemukan ruang yang yang cukup besar dan karenanya permasalahan yang tidak pernah benar-benar dapat terselesaikan.</p>
<p>Beberapa teori yang pernah dikemukakan pada tahun 1871 berdasarkan pada ide-ide di tahun 1793 dari kedaulatan popular: mereka yang terpilih untuk merepresentasikan rakyat bertindak sebagai delegasi, bukan sebagai anggota parlemen. Perkumpulan-perkumpulan popular yang beberapa kali menuntut pembagian kedaulatan yang adil selama mereka berada di sana bersama-sama Komune di Hotel de Ville. Mereka yang terpilih oleh rakyat menjadi subyek untuk di recall oleh rakyat dan hal tersebut adalah kewajiban dari mereka yang terpilih untuk melaporkan kembali dan tetap berhubungan secara konstan dengan sumber kedaulatan popular. Hal tersebut dibicarakan dalam beberapa perkumpulan tersebut mengenai bahwa merekalah yang dapat memberikan tekanan-tekanan pada komune, dan mereka memutuskan untuk mengumpulkan kekuatan perkumpulan itu sehingga dapat melakukan semuanya dengan lebih baik. Beberapa anggota Komune tetap berusaha untuk berhubungan dengan kekuatan yang membawa mereka ke dalam perkumpulan.</p>
<p><strong>Politik Dalam Komune</strong></p>
<p>Perundang-undangan sosial yang baru tampaknya lebih bersifat reformis bukannya revolusioner, mengambil tuntutan yang telah diformulasikan oleh gerakan buruh semenjak 20-30 tahun yang lalu. Masalah hak menyewakan kepemilikan dibatalkan selama periode pengepungan, tetapi hak atas private property tidak pernah dipertanyakan. Setelah perdebatan yang panjang, 3 tahun menjadi tenggat waktu yang dijamin untuk pembayaran pelunasan hutang-hutang. Diangkatnya secara bersamaan masalah ini telah membuat kaget opini para kaum borjuis di luar Paris. Komune menyusun pertukaran pengangguran di balai kota dan menghapuskan kerja malam bagi tukang roti yang menghadapi tentangan dari mereka yang tidak menganggur. Pertanyaan sosial paling mendesak bagi komune diajukan oleh para penganggur dan mengambil langkah radikal untuk membiarkan serikat dagang dan pekerja untuk berkerjasama mengambil alih pabrik-pabrik yang tidak berjalan untuk kemudian memulainya kembali. Bagaimanapun juga saran-saran yang ekstrim yang mengatakan bahwa &#8217;semua pabrik-pabrik besar yang memonopoli&#8217; harus diambil alih oleh semua pekerja, ditolak. Pada tanggal 14 Mei, empat puluh tiga produksi bersama telah dibentuk diantara industri-industri manual di kota.</p>
<p>Di bidang pendidikan, tujuan utamanya adalah menyediakan pendidikan dasar untuk semua orang. Gerakan reformasi melawan dengan kuat sekolah-sekolah gereja yang melingkupi lebih dari setengah sekolah-sekolah di Paris. Tentara Nasional digunakan untuk mengusir para pendeta dan suster dan menggantikan mereka dengan kaum republik. Pendidikan perempuan diberi perhatian khusus karena pada sistem sebelumnya telah diabaikan. Komisi khusus dengan keanggotaan seluruhnya perempuan, dibentuk untuk mengamati usaha-usaha yang dibangun untuk membuat sekolah-sekolah perempuan. Balai pengobatan harian yang dibangun di dekat pabrik-pabrik juga diajukan sebagai bagian untuk membantu para pekerja perempuan. Tidak ada dari semua aksi ini &#8211;dari sikap berkerjasamanya organisasi industrial atau reformasi pendidikan yang dapat berhasil secara sempurna. Hal itu dikarenakan sangat sedikitnya waktu yang dimiliki sementara mereka juga harus memenangkan perang.</p>
<p>Yang lebih penting lagi dari semua itu adalah keberadaan komune sebagai pemerintah yang mencakup sebuah proporsi yang substansial bagi para pekerja laki-laki dan satu hal yang sangat serius diperhatikan untuk mengimprovisasikan sebagian besar populasi.</p>
<p>Thiers dan para menterinya di Versailles sangat yakin bahwa Komune Paris adalah sebuah deklarasi perubahan sosial yang harus dihancurkan dengan perang sipil. Hal ini merupakan sebuah pandangan yang sama dari para pemerintah di luar Perancis, bahwa keberadaan Komune telah membangkitkan kemarahan para borjuis Eropa. Tanggal 29 Maret, harian London Times mendeskripsikan revolusi tersebut sebagai &#8220;awal dominasi proletariat atas kelas orang-orang kaya, dari para pekerja atas majikannya, dari para buruh atas pemodal.&#8221; Kerajaan Rusia menekan pemerintah Jerman untuk tidak menghalangi tekanan Perancis atas komune karena pemerintah di Versailles adalah &#8216;penyelamat baik bagi Perancis maupun bagi seluruh Eropa&#8217; dan Bismarck mengancam akan menggunakan tentara Jerman apabila Thiers tidak bertindak cepat. Dalam komune dapat terlihat munculnya sikap sosial secara alamiah baik dari kelompok kanan maupun dari kelompok Leftis.</p>
<p><strong>Sebuah Festival Kaum Tertindas</strong></p>
<p>Dalam banyak cara, aspek yang paling menarik dari Komune adalah sikap alamiah Paris yang penuh suka cita; hal tersebut menjadi sebuah &#8216;Festival Kaum Tertindas&#8217;. Atmosfir yang ada bukanlah sebuah ibukota yang didominasi oleh perang, melainkan sebuah kota dimana &#8217;semua menandakan seakan hari libur&#8217;.</p>
<p>Beberapa lama kemudian saat mood mulai menurun. Pemakaman dari Tentara Nasional yang telah terbunuh di medan perang menjadi prosesi besar di sepanjang kota, dipimpin oleh anggota-anggota komune dan semua yang menolak hadir terpaksa harus turut karena teriakan-teriakan massa. Kejadian lain yang dramatis terjadi pada saat para anggota kebathinan yang berbaris menuju komune dan bergerak membawa spanduk-spanduk, sebuah hal yang tidak pernah terlihat sebelumnya di depan publik hingga ke tembok kota, dimana mereka mengirimkan beberapa orang untuk melihat Thiers (yang menolak bertemu mereka sehingga mereka kembali ke Paris). Seremoni publik yang besar diadakan dengan pembakaran guillotine dan penghancuran Verdoone Column (sebuah simbol kekuasaan). &#8220;Keceriaan sangat jelas terlihat&#8221; kata salah satu pengamat Inggris menulis, &#8220;bahwa orang-orang bergerak seperti dalam mimpi&#8221;. Meskipun pada hari dimana kekuatan Versailles terpecah ke Paris &#8211;Minggu tanggal 21 Mei ditemui kerumunan massa yang besar di taman Tuileries memperdengarkan salah satu dari satu seri konser yang ditujukkan untuk membantu para janda dan anak yatim piatu.</p>
<p>Bagi perluasan daerah, komune mennjajaki ulang kota dengan populasi yang lebih besar yang telah disisihkan ke daerah pinggiran oleh kebijakan pemapanan dari Haussmans. Selama waktu yang belum pasti, sebagian besar dari populasi menjadi sangat aktif terlibat dalam kepentingan-kepentingan umum baik dalam level distrik mereka sendiri ataupun dalam level kota.</p>
<p><strong>Akhir dari Komune</strong></p>
<p>Komune pada akhirnya memperkuat diri dengan mensubstansikan kekuatan militer untuk dipersiapkan melawan Thiers dan pasukannya untuk 2 bulan, walaupun pada tanggal 21 Mei pasukan pemerintahan telah memasuki Paris. Hal ini diikuti dengan pertumpahan darah yang penuh kepahitan pertempuran jalanan dan menjadi lebih pahit karena tidak adanya lagi harapan bagi para Parisian untuk menang.</p>
<p>Beberapa persiapan telah diadakan untuk menghadapi pasukan pemerintahan yang akan memasuki Paris dan kebanyakan pembicaraan tentang adanya barisan kedua untuk pertahanan ternyata tidak ada. Bagi semua yang bertanggung jawab atas barikade tersebut bersikap terlalu methodis dan lamban, sehingga hanya beberapa barikade yang muncul. Sepanjang malam dan memasuki hari Senin pagi para pasukan memasuki Paris dengan lima jalan yang berbeda. Mereka dengan cepat menduduki dua distrik borjuis di barat daya kota. Darisana dua kelompok menyerang, satu di sepanjang jalan dari sisi kiri Seine dan yang lainnya di sisi kanannya. Di jalan-jalan besar Haussmans memperlihatkan jumlah mereka dalam membangun kekuatan yang solid dari sejumlah besar laki-laki untuk mengepung distrik-distrik revolusioner dan barikade-barikadenya. Pada paginya Senin, tanggal 22 Mei sepertiga bagian barat Paris telah jatuh ke tangan pemerintah setelah melalui pertempuran yang berat dan sekitar 1.500 Tentara Nasional menyerah.</p>
<p>Komune mengadakan rapat pada jam 9.00, dua puluh orang anggota ditemukan berada di Hotel de Ville, sebuah poster yang telah digambar untuk mengajak penduduk mengangkat senjata dan bergabung dalam barikade.</p>
<p>Beberapa-barikade dengan cepat terbentuk di tengah-tengah kota Paris. Di Rude de Rivoli 50 tukang batu bertahan beberapa jam membangun sebuah barikade setinggi 18 kaki dan dengan kedalaman beberapa yards. Banyak anak-anak membawakan berbagai benda yang bisa dijadikan barikade dan para pelacur dari La Halle menolong dengan mengisi barikade dengan kantong-kantong pasir. Lebih dari 160 barikade terbentuk pada hari pertama, dari keseluruhan yang berjumlah enam ratus barikade. Kebanyakan dari mereka mempunyai ketinggian 5 sampai 6 kaki dengan konstruksi yang baik dari batu yang diambil dari jalanan dan kadang beberapa besi-besi yang digunakan untuk membuat bagian bawah, dipersenjatai dengan sebuah senapan mesin atau sebuah cannon atau senapan mesin serta bendera merah dikibarkan di puncaknya.</p>
<p>Barikade di Rue de Gaubourg dibuat dari matras-matras yang ditemukan dari penginapan-penginapan terdekat, dan dibangun oleh para perempuan. Yang lain membangun barikade tersebut dengan menggunakan bus-bus dan taksi-taksi, kantung pasir, batu bata, atau apa saja yang dapat mereka gunakan untuk membangun barikade tersebut. Semua orang yang lewat dipaksa untuk membantu. Di Place Blanch, sebuah batalyon yang terdiri dari 120 perempuan menjadi barikade bersejarah dimana mereka membela dan bertahan dengan teguh pada hari Selasa dimana banyak diantara mereka yang gugur setelah kekalahan mereka. Para federal yang ditempatkan di barisan depan tentara Perancis meminta untuk dibalikkan dan lebih memilih untuk gugur di daerah masing-masing.</p>
<p>Kritikan keras dari Blangui yang dibuat pada bulan Juni 1868 tentang kebangkitan Juni 1848 berdampak juga pada barikade-barikade dalam komune. Taktik pertempuran yang digunakan dalam masing-masing area tanpa organisasi sentral membuat pasukan mudah untuk mebelah kekuatan mereka dan menundukkan barikade satu per satu.</p>
<p>Pada Selasa pagi, pasukan Versailles bergerak melalui zona netral di luar Paris, orang-orang Prussia berubah menjadi &#8216;buta&#8217;, mereka memasuki Paris dari jembatan lain dan menduduki dua daerah pinggiran Paris. Pembunuhan besar-besaran mulai mengembangkan ketakutan dimana pembantaian dimulai, 42 laki-laki, 3 perempuan, dan 4 anak-anak ditembak di depan sebuah tembok, sebuah sidang diadakan di sebuah rumah di Rue de Rosiers dan selama waktu di minggu tersebut para tahanan dibawa ke sana untuk dieksekusi.</p>
<p>Pada Selasa malam para komunard mulai membakar gedung-gedung yang dianggap mengancam keamanan barikade karena dapat menjadi tempat perlindungan bagi para sniper. Seluruh Rue de Rivoli berada dalam kobaran api, begitu juga dengan Tuluise Palace dan tempat Ministry of Finance (menteri keuangan) semuanya terbakar. Pada pemadam kebakaran dikirimkan ke sana untuk berusaha memadamkan api tapi gagal, dan dimana-mana berterbangan dokumen-dokumen yang terbakar berwarna merah dan hitam sehingga terlihat seperti langit terpenuhi dengan hujan kertas yang terbakar. Dengan adanya angin, pecahan-pecahan kertas yang terbakar tersebut terbawa sampai ke Saint German 10 mil jauhnya sehingga massa di mana-mana dapat menyaksikan kejadian saat terbakarnya Paris. Barikade yang tidak terambil alih hingga Rabu pagi, dan seorang perempuan berdiri mengibarkan bendera merah di hadapan barisan pasukan penyerang di salah satu dari barikade terakhir tersebut.</p>
<p>Sebanyak tigapuluh yang bertahan dijadikan tahanan dan ditembak, mayat mereka dibuang di parit di depan barikade. Pada pukul 8.00 hari Rabu pagi, disepakati untuk menutup Hotel de Ville dan dibakar untuk menutupi kekalahan. Paris yang terbakar masih sering menjadi gambaran yang digunakan oleh komune, daftar gedung yang terbakar tak dapat dihitung, beberapa gedung yang masih dapat digunakan, seperti Prefecture of Police dan The Palace of Justice dibakar oleh massa komune, dan sebagian lagi oleh orang-orang dari Versailles. Kabar angin telah tersebar, bahwa tidak ditemukan bahan peledak yang digunakan, dan para perempuanlah yang mengobarkan api dari lantai dasar serta banyak tersiar kabar bahwa banyak juga perempuan yang tidak bersalah ditembak. Bagaimanapun juga banyak komunard yang mengetahui bahwa hal ini adalah saat-saat terakhir mereka dan mereka memohon untuk membawa Paris bersama mereka. Pada hari Rabu, seorang perwira Tentara Nasional mencoba untuk membujuk anak buahnya untuk bergabung bersamanya ke dalam depot penyimpanan amunisi Arsenal dan meledakkan semuanya (termasuk diri mereka), dan meyakinkan dengan berkata, &#8220;kita semua akan bekerja sama sebagai tim yang tangguh dan kuat.&#8221;</p>
<p>Sementara kabar yang beredar tentang pembantaian besar-besaran mulai beredar, massa mulai menekan agar diadakan eksekusi para sandera sebagai pembalasan dendam atas pembantaian yang terjadi di Paris. Ferre setuju untuk menandatangani perjanjian yang isinya berisi tentang penyerahan enam orang sandera. Kepala penjara sendiri telah berkomitmen dengan komune untuk menolak menyerahkan Archbishop yang sangat diinginkan oleh masa karena namanya tidak tercantum dalam daftar. Sekretaris Ferre dengan terburu-buru segera menambahkan dalam daftar, &#8220;..dan juga dengan Archbishop&#8221;, hingga akhirnya Archbishop juga ditembak.</p>
<p>Sementara itu di Paris pembantaian dengan tidak pandang bulu terjadi, setiap saat dimana barikade jatuh, orang-orang yang mempertahankan barikade tersebut dihadapkan ke tembok dan ditembak; 300 orang ditembak setelah mereka mencoba menyelamatkan diri ke gereja Medelaine. Seminari yang diadakan oleh Saint-Suplice telah berubah menjadi rumah sakit, pasukan Versailles tiba dan menembak semua staff medis beserta para pasiennya, dan meninggalkan 80 mayat di sana, kejadian yang sama terjadi juga di rumah sakit Beaujon. Pertempuran demi mempertahankan Latin Quarter bertahan selama dua hari, pada hari Selasa dan Rabu. Selama hari Kamis dan Jumat para komunard dipaksa mundur, dan secara beangsur-angsur kehilangan kontrol atas kota.</p>
<p>Pada hari Sabtu pagi yang berkabut dan hujan turun di hari kedua, beberapa pertempuran masih terjadi di kuburan The Pere-Lachise dimana kira-kira 200 Tentara Nasional dengan bodohnya gagal untuk menempatkan diri dalam posisi pertahanan yang benar. Para tentara meledakkan jembatan dan di sana terjadi pertarungan hampir satu lawan satu di bawah hujan deras dan cahaya yang temaram. Bagi yang tidak terbunuh dalam pertarungan tersebut, dibariskan menghadap tembok di bagian pojok timur kuburan dan ditembak, dan pembunuhan terjadi selama beberapa hari. Barikade yang paling akhir dijatuhkan dengan memakan waktu kira-kira 15 menit karenan tertahan oleh pertahanan dari satu orang saja. Dia menembakkan peluru terakhirnya dan pergi meninggalkan tempat tersebut pada hari Minggu tanggal 28 Mei dan komune pada keseluruhannya telah runtuh.</p>
<p>Apabila dibilang pertempuran itu telah berakhir, tapi tidak halnya dengan penembakan. Kemenangan Versailles dengan cepat berubah menjadi lautan darah, siapa saja yang terlibat dengan komune atau hanya berada di tempat yang salah pada waktu yang salah segera ditembak. Setiap orang yang berada di Paris selalu dicurigai, dan dituduh bersalah. Reaksi dari para perwira ini memperlihatkan sikap yang umum dari para tentara Perancis.</p>
<p>Banyak yang tewas pada minggu terakhir di bulan Mei itu dibandingkan dengan pertempuran yang manapun dari perang Franco Prussian, dan juga dari pembantaian besar-besaran yang terjadi dalam sejarah Perancis. Teror yang terjadi dalam revolusi Perancis terhitung mengakibatkan sekitar 19.000 kematian dalam waktu setahun setengah. Tidak disebutkan berapa banyak tepatnya yang tewas dalam satu daerah dari 30.000 Parisian yang terbunuh selama komune dibandingkan dengan Versailles dengan angka kematian sekitar 900 dan 6.500 yang terluka.</p>
<p>Sekitar 50.000 orang ditahan, termasuk diantara mereka adalah Louise Michel. Pada pengadilannya, dia lebih memilih untuk ditembak mati dan mengatakan, &#8220;Dari tampaknya di dalam setiap jantung yang berdetak demi kebebasan, hak untuk memimpin sangatlah kecil, aku lebih memilih untuk berbagi dengan mereka semua.&#8221; Tapi dia tidak ditembak, melainkan dideportasi ke Kaledonia Baru, dimana terdapat koloni Perancis dari pesisir Australia, bersama-sama dengan 4.500 orang lainnya. Banyak dari antara mereka yang meninggal dalam penjara atau dalam perjalanan. Bagi mereka yang berusaha melarikan diri, dibuang ke dalam pengasingan di Switzerland, Belgia, Inggris atau dimana saja. Dua diantara mereka bahkan dalam kenyataan malahan menikah dengan dua orang putri dari Marx di Inggris. Seperti dimana Marx menulis kepada Engels, &#8220;Longuet adalah Proudhonist yang terakhir, Lafargue adalah Bakuninist yang terakhir. Setan telah mengambil mereka berdua.&#8221;</p>
<p>Sembilan tahun kemudian, amnesti diberikan. Ini adalah hasil dari kemenangan kaum republik dan sosialis dalam pemilihan umum, mendapat hasil yang tertinggi di pemilihan sebagai pembuat sepatu, bekas anggota komune Paris sebagai Deputy dari Belleville yang seorang sosialis. Dengan cepatnya 25.000 orang menanggapi kehadiran para sosialis, dan hal ini memicu serangan polisi terhadap demonstrasi pertama di &#8216;tembok&#8217; Pierre-Lachaise.</p>
<p><strong>Warisan dari komune</strong></p>
<p>Konsekuensi yang segera dari kalahnya komune adalah bencana bagi momen Buruh Perancis selama periode penekanan yang diikuti dengan pertumpahan darah yang terjadi minggu lalu. Paris tetap berada di bawah hukum keadaan perang selama 5 tahun dan hubungan internasionalnya ditiadakan. Bersenjatakan kekuatan politik yang baru, para polisi bergerak aktif dalam menangkapi para aktivis dan kemudian dihukum berat. Dunia internasional praktis dipaksa kehilangan eksistensinya. Para pimpinan aktivis kelas pekerja diperkirakan tewas, di dalam penjara atau di dalam pembuangan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2006/08/02/komune-paris/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anarkis Yunani</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2006/05/29/anarkis-yunani/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2006/05/29/anarkis-yunani/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 May 2006 12:13:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anarkisme]]></category>
		<category><![CDATA[Direct Action]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/v2/2006/05/29/anarkis-yunani/</guid>
		<description><![CDATA[17 November 1973: Pasukan khusus, tank-tank dan polisi bersenjata mengevakuasi Politeknik Athena (universitas teknik) yang berlokasi di tengah kota. Mahasiswa, pekerja, dan petani menduduki universitas tersebut dan mengadakan protes terhadap rezim militer yang mulai berkuasa semenjak 21 April 1967. Tuntutan mereka adalah kebebasan. Setelah kejadian, desas-desus menyimpullkan 200 orang mati pada peristiwa tersebut;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>POLITEKNIK 1973-1990</strong></p>
<p>Sebuah sejarah singkat gerakan perlawanan di Yunani:</p>
<p><strong>17 November 1973</strong>: Pasukan khusus, tank-tank dan polisi bersenjata mengevakuasi Politeknik Athena (universitas teknik) yang berlokasi di tengah kota. Mahasiswa, pekerja, dan petani menduduki universitas tersebut dan mengadakan protes terhadap rezim militer yang mulai berkuasa semenjak 21 April 1967. Tuntutan mereka adalah kebebasan. Setelah kejadian, desas-desus menyimpullkan 200 orang mati pada peristiwa tersebut; sementara informasi resmi menyebutkan 30 orang. Selama terjadinya pendudukan, slogan-slogan dan grafiti anarkis muncul untuk pertama kalinya semenjak tahun 1920an. Junta militer akhirnya di tumbangkan setelah pemberontakan besar-besaran.</p>
<p><span id="more-104"></span> <strong>17 November 1974</strong>: Rejim &#8216;demokratik&#8217; baru merayakan kemenangan pertama dari pemberontakan tahun 1973 dengan mengadakan sebuah pemilihan umum: pemilihan ini di menangkan oleh Partai Konservatif, &#8216;Nea Dimokratia&#8217;.</p>
<p><strong>17 November 1975</strong>: Serikat Nasional Pelajar Yunani (EFEE) mengorganisir sebuah aksi untuk memberi penghormatan pada pemberontakan 1973, dengan berjalan menuju kedutaan Amerika Serikat. Gedung kedutaan tersebut menjadi sasaran pelemparan telur dan cat merah oleh aktifis-aktifis sayap-kiri dan anarkis. Semenjak tahun ini dan setelahnya, 17 november di peringati dengan aksi berjalan dari universitas Politeknik menuju kedutaan AS.</p>
<p><strong>1975</strong>: sebuah organisasi bersenjata revolusioner bernama &#8216;17 Noemvri&#8217; (17 november) melakukan aksi pertamanya; mereka membunuh Richard Welch, seorang agen CIA yang bertugas di Athena.</p>
<p><strong>17 November 1980</strong>: Pemerintah melarang aksi berjalan mendekati kedutaan AS. Sejumlah besar kekuatan polisi di kerahkan untuk memblokade aksi di Syntagma square. Aktifis sayap kiri dan anarkis mencoba menerobos blokade dan polisi pun mulai melakukan penyerangan. Dua orang anarkis, Stamatina Kanellopoulou dan Lakovos Koumis di pukuli sampai tewas oleh polisi. Ratusan lainnya terluka secara serius dan di larikan ke rumah sakit. Para anarkis kembali ke Universitas Politeknik dan memulai pendudukan. Polisi kemudian mengepung wilayah tersebut, Dua orang mahasiswa terkena serangan tembakan. Ironisnya bukanlah polisi yang menyerang para anarkis agar menghentikan pendudukan, tapi pemuda &#8216;komunis&#8217; (KNE). Perdana menteri, G.Rallis, mengatakan bahwa insiden tersebut di lakukan dan di rencanakan oleh polisi resmi pro-PASOK (PARTAI SOSIALIS).</p>
<p><strong>17 November 1985</strong>: Setelah melakukan aksi berjalan dari Politeknik menuju kedutaan AS, para anarkis kembali ke Exarchia square. Pada pukul 11.30 siang, tiga polisi memprovokasi 3 kamerad di tempat tersebut. Sekitar 50an orang kemudian mengikuti polisi-polisi tadi yang sedang berjalan menuju bus mereka yang di parkir dekat situ. Dengan sekejap sebuah molotov di lemparkan ke bus polisi; satu dari antara polisi tersebut, yang bernama Athanasios Melistas, meresponnya dengan menjongkok dan mulai mengarahkan tembakan. Salah satu teman kami yang sedang berjalan meninggalkan tempat tersebut, Mihalis Kaltezas, yang baru berumur 15 tahun, tewas karena dua peluru bersarang di kepalanya. Polisi kemudian malah menyerang para anarkis di square bukannya mengamankan si penembak dan mencari pelaku pelempar molotov. Setelah itu para anarkis melakukan pendudukan di fakultas kimia dan melawan serangan polisi sampai pukul 10 malam. Pagi harinya pasukan khusus menyerang pendudukan dan menahan 39 orang kamerad. Mereka dilepaskan setelah terjadi mogok makan dan minum selama 18 hari. (di tahun 1989, 39 orang tersebut di jatuhi hukuman enam bulan penjara dengan tuduhan &#8216;mengacaukan keamanan&#8217;). Sementara itu, Melistas, sang polisi pembunuh, tetap bebas. Kamerad-kamerad lainnya melakukan pendudukan di Politeknik lalu mulai mengorganisir aksi berjalan dan demonstrasi. Anggota Partai Sosialis PASOK, birokrat serikat-serikat, fasis-fasis dari organisasi EPEN dan ENEK, dan juga polisi berkolaborasi untuk mengevakuasi Politeknik, mereka menyerang apapun yang bergerak disitu. Bantuan terbesar untuk polisi, bagaimanapun, di berikan oleh grup-grup sayap-kiri disitu, mereka &#8216;meyakinkan&#8217; para pelaku pendudukan untuk membuat aksi berjalan dan meninggalkan gedung.</p>
<p><strong>17 November 1986</strong>: Polisi dengan pakaian sipil di dapati berada di dalam aksi berjalan. Para polisi ini kemudian dipukuli dan pistol mereka direbut. Terjadi pertempuran jalanan dan pelemparan gas air mata di dekat hotel Hilton. (beberapa bulan kemudian, polisi menangkap Sotiris Deliyiannis karena ketahuan memiliki salah satu pistol milik polisi yang di pukuli). Sotiris di kenakan hukuman penjara 11 tahun dan 6 bulan penjara dengan tuduhan &#8220;perampokan&#8221;).</p>
<p><strong>17 November 1987</strong>: Para anarkis melempar molotov ke kedutaan AS. Polisi meresponnya dengan melempar gas air mata dan mengerahkan tank-tank air.</p>
<p><strong>September 1988</strong>: Di dalam sebuah parodi pengadilan, Melistas di nyatakan ‘bersalah karena telah melampaui prosedur pembelaan diri ‘di bawah kondisi panik’, dan di jatuhi hukuman 2 setengah tahun penjara. Melistas naik banding dan pengadilan menunda hukuman kemudian membebaskannya untuk kembali pada tugas kepolisian. Para anarkis mengorganisir protes atas kebijakan tersebut, dan di respon dengan tindakan kekerasan yang hebat dari polisi. Tiga orang kamerad di tangkap karena menyimpan Molotov, mereka di ancam hukuman 36 tahun penjara. Mereka di bebaskan ketika naik banding di setujui.</p>
<p><strong>17 November 1988</strong>: Pertempuran jalanan rutin antar anarkis dan polisi terjadi; polisi menggunakan gas air mata dan tongkat kayu juga mengejar para demonstran dengan motor.</p>
<p><strong>12 Januari 1989</strong>: Di karenakan tekanan dari media massa dan para politisi, Melistas kembali di tangkap.</p>
<p><strong>18 Juni 1989</strong>: Partai konservatif, ‘Nea Demokratia’ memenangkan pemilihan umum, namun tidak dengan mayoritas mereka di dalamnya; sebuah koalisi partai di bentuk dengan Partai Komunis. Dua anggota (pengacara) keluarga Kaltezas menjadi menteri. Sidang banding bagi Melistas akan di langsungkan pada bulan September.</p>
<p>Meskipun merupakan anggota keluarga korban yang telah menjadi menteri, pengadilan kembali di tunda dan Melistas di bebaskan kembali.</p>
<p><strong>5 November 1989</strong>: Sebuah pemilihan umum di adakan dan menghasilkan sebuah koalisi baru antara aliran konservatif, sosialis (PASOK), dan komunis. Pemerintahan koalisi ini berada di bawah kendali Xenophon Zolotas, seorang mantan professor dan Bankir yang berumur 85 tahun.</p>
<p><strong>17 November 1989</strong>: Pertempuran jalanan terjadi.</p>
<p><strong>26 Januari 1990</strong>: Sidang banding yang di hadiri oleh hakim-hakim yang bernama Hadjakis, Smirneos, Karagiannopoulos dan empat anggota juri mengampuni sang pembunuh (Melistas). Para anarkis melakukan protes di jalan-jalan Athena. Polisi menggunakan gas C.S yang di larang secara internasional untuk merepresi protes. Lebih dari 2000 kamerad menduduki Politeknik dan melawan penyerangan polisi dengan menggunakan molotov. Lima polisi terbakar. 3 kamerad terluka. Bus-bus di hentikan dan di jadikan barikade. Pemerintah menolak untuk menarik mundur polisi.</p>
<p><strong>26 Januari 1990</strong>: Para pelaku pendudukan di Politeknik membentuk sebuah badan permanen baru; mengajak bergabung pelajar-pelajar smu dan smp, serta pekerja. Pada malam harinya diadakan acara musik terbuka yang di hadiri sebanyak 5000 orang. Universitas-universitas di Thessaloniki, Loannina, dan Rethmno di duduki oleh pelajar dan anarkis. Di Thessaloniki para anarkis menyerang kantor-kantor International Expo dengan Molotov.</p>
<p>Sehubungan dengan pengampunan Melistas, pemerintah menyatakan bahwa konstitusi Yunani melarang adanya kritisisme terhadap keputusan pengadilan. Kedua menteri yang merupakan anggota keluarga Kaltezas menuruti maklumat ini.</p>
<p><strong>31 Januari 1990</strong>: Aksi berjalan yang di organisir oleh Serikat Nasional Pelajar Yunani (EFEE) di ikuti lebih dari 10.000an orang.</p>
<p><strong>4 Februari 1990</strong>: Aksi berjalan yang di organisir oleh pelaku pendudukan di Politeknik merangsang 6000 orang bergabung; graffiti-graffiti anarkis Turki muncul di dinding-dinding sebagai wujud solidaritas.</p>
<p><strong>5 Februari 1990</strong>: Pelajar smu menduduki lebih dari 50 sekolah di wilayah Athena. Beberapa dari pelaku pendudukan memblok jalan-jalan. Beberapa individu dan kelompok anarkis (diantaranya beberapa pengacara anarkis) menduduki kantor-kantor asosiasi pengacara Athena dan membuat sebuah konferensi pers yang menekankan permasalahan di dalam sistem Judisial di Yunani dan menyerukan solidaritas pada para tahanan yang berjuang. Mereka di bawa ke kantor polisi dan dipaksa untuk meneriakan “panjang umur polisi Yunani” dan “Melistas adalah pahlawan” sembari di siksa secara brutal. Di hari-hari berikutnya, EFEE merubah sikap mereka terhadap pelaku pendudukan, menyuruh mereka membiarkan mahasiswa lainnya yang ingin mengikuti ujian.</p>
<p><strong>7 Februari 1990</strong>: <em>‘Nea Demokratia’</em> menghimpun organisasi pelajarnya untuk menghajar pendudukan. Hanya 20 orang yang muncul. Menteri pendidikan meminta polisi untuk melakukan intervensi – Dekan dan rektor memiliki status ‘dilindungi’.</p>
<p><strong>9 Februari 1990</strong>: Konfederasi Umum Pekerja Yunani (GSEE) menggerakan kaum kelas pekerja untuk mendatangi dan mengakhiri pendudukan. 500 polisi dengan pakaian sipil, orang-orang serikat pekerja, dan fasis datang menyerang – sebanyak 2500 pelaku pendudukan masih berada di sana untuk merespon para penyerang. Meski para pelaku pendudukan sangat bersikeras dan tangguh, media mulai membuat disorientasi pada opini publik, berbohong bahwa ‘status dilindunginya’ Politeknik merupakan akar dari masalah. Media menyerukan agar polisi melakukan intervensi. Dekan dan Rektor datang untuk melakukan negosiasi pada para pelaku pendudukan.</p>
<p><strong>11 Februari 1990</strong>: Dekan dan para professor mengatakan kalau mereka sudah tidak tahan lagi dengan tekanan yang di berikan oleh media dan negara. Mereka mengatakan kalau Politeknik tidak lagi dapat berfungsi sebagai sebuah sekolah, dan ini membuat polisi bebas untuk menyerang. Para pelaku pendudukan berpendapat bahwa situasi semacam ini akan membuat jatuhnya korban lebih besar dari dua pihak. Mereka memutuskan untuk mengevakuasi gedung pada malam harinya, namun masih bersiteguh untuk melanjutkan perjuangan melawan kebijakan yang melepaskan Melistas juga melawan sistem ‘Keadilan’ sebagai sebuah institusi.</p>
<p><strong>12 Februari 1990</strong>: Konser di adakan pada waktu sore hari. Evakuasi yang damai berlangsung di malam hari. (tanpa kehadiran polisi)</p>
<p><strong>13 Februari 1990</strong>: Pelajar dan anarkis mengevakuasi universitas-universitas di Joannina dan Rethimno. Pelajar dari universitas Ionian di Corfu menduduki perumahan polisi, sebagai protes terhadap kondisi pelajar, kasus Melistas dan tindak represi negara. Pendudukan berlangsung selama beberapa jam. Jam-jam sebelum pendudukan terjadi, mobil-mobil di bakar di wilayah Thessaloniki dan Patra.</p>
<p><strong>14 Februari 1990</strong>: 25 gedung smu masih di duduki oleh para pelajar di wilayah Athena, dan sebuah aksi berjalan di organisir. Kostas Kefalas (yang di tangkap pada tanggal 9 februari karena tindakan pencurian medali olah raga di Politeknik) di tahan untuk menunggu sidang. Jaksa umum mengumumkan keputusan untuk menuntut anggota-anggota komite Politeknik antara lain: seorang professor, dan seorang pelajar karena telah mendukung para kriminal dengan menolak memberi jalan masuk pada polisi. (di hari yang sama, sang Dekan menerima sumpahnya dan di nobatkan sebagai Menteri Transportasi dan Komunikasi!) Media masih melancarkan propaganda untuk menyudutkan para anarkis, menghendaki di tangkapnya ‘pemimpin para anarkis’ – agar bertanggung jawab atas kerusakan-kerusakan yang terjadi.<br />
Anarkisme mengalami kebangkitan kembali di Yunani. Di sebuah wilayah dimana otoritas dan negara menjadi sangat represif, dan dengan tradisi lama akan aksi langsung, anarkisme menerima dukungan popular yang semakin meluas, terutama pada kaum mudanya. Ini adalah sejarah singkat perlawanan di Yunani semenjak di jatuhkannya kediktatoran militer yang berpusat di Politeknik, Athena.<br />
<em><strong>Pengumpulan/terjemah: Eat</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2006/05/29/anarkis-yunani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Statement Final Mengenai Bubarnya Red Army Fraction ‘Baader-Meinhof’</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2006/05/22/statement-final-mengenai-bubarnya-red-army-fraction-%e2%80%98baader-meinhof%e2%80%99/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2006/05/22/statement-final-mengenai-bubarnya-red-army-fraction-%e2%80%98baader-meinhof%e2%80%99/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 May 2006 14:19:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Direct Action]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/v2/2006/05/22/statement-final-mengenai-bubarnya-red-army-fraction-%e2%80%98baader-meinhof%e2%80%99/</guid>
		<description><![CDATA[Apakah babi-babi tersebut yakin bahwa kami akan membiarkan kamerad Baader berdiam di penjara untuk dua atau tiga tahun? Apakah babi-babi tersebut yakin kami akan berbicara mengenai pengembangan perjuangan kelas, re-organisasi proletariat, tanpa mempersenjatai diri pada saat yang sama? Apakah babi-babi tersebut yang pertama kali menembak, yakin bahwa kami akan membiarkan diri kami yang tanpa kekerasan ditembaki seperti di rumah jagal? Siapapun yang tidak mempersenjatai dirinya akan mati. Mulailah perlawanan bersenjata! Bangun Tentara Merah!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Deklarasi Pembentukan Tentara Merah (Red Army)<br />
Dirilis pada akhir Mei 1970</strong><br />
<em></em></p>
<p><em></em></p>
<p><em><strong>MEMBANGUN TENTARA MERAH</strong></em></p>
<p><em>Apakah babi-babi tersebut yakin bahwa kami akan membiarkan kamerad Baader berdiam di penjara untuk dua atau tiga tahun? Apakah babi-babi tersebut yakin kami akan berbicara mengenai pengembangan perjuangan kelas, re-organisasi proletariat, tanpa mempersenjatai diri pada saat yang sama? Apakah babi-babi tersebut yang pertama kali menembak, yakin bahwa kami akan membiarkan diri kami yang tanpa kekerasan ditembaki seperti di rumah jagal? Siapapun yang tidak mempersenjatai dirinya akan mati. Mulailah perlawanan bersenjata! Bangun Tentara Merah!</em></p>
<p><em>Red Army Fraction<br />
Mei 1970</em></p>
<p><span id="more-116"></span><strong>Statement Final Mengenai Bubarnya Red Army Fraction ‘Baader-Meinhof’</strong><br />
Dirilis tanggal 20 April 1998</p>
<p><strong>GERILYA KOTA TINGGAL SEJARAH&#8230;</strong></p>
<p>Hampir 28 tahun yang lalu, pada tanggal 14 Mei 1970, RAF secara resmi telah lahir sebagai sebuah bentuk dari aksi pembebasan, dan hari ini kami menyatakan bahwa kami mengakhiri proyek tersebut. Gerilya kota yang telah menjadi sikap dan dasar dari RAF telah menjadi sejarah. Kami, yaitu semua yang telah menjadi bagian dari organisasi ini hingga saat terakhir, telah mengambil langkah ini secara bersama-sama. Mulai kini, kami, seperti juga semua yang tergabung dalam asosiasi ini adalah anggota-anggota yang militan dari RAF. Kami berpijak pada sejarah kami dimana RAF adalah salah sebuah usaha revolusioner dari sekelompok kecil orang-orang untuk menolak dan melawan tendensi-tendensi tatanan mayarakat saat ini dan berkontribusi dalam melawan kapitalisme. Kami bangga telah menjadi bagian dari usaha tersebut walaupun pada akhirnya proyek ini memperlihatkan kepada kami bahwa kami tidak akan mungkin meraih sukses dengan menggunakan jalur ini.</p>
<p>Tetapi hal ini bukanlah penentangan kami terhadap revolusi. RAF adalah merupakan keputusan kami untuk memilih berdiri disamping rakyat dalam perjuangan melawan dominasi kapitalisme demi kemerdekaan seluruh dunia. Bagi kami, keputusan yang kami buat ini adalah benar. Ancaman hukuman penjara ratusan tahun bagi para anggota-anggota RAF yang tertangkap tidak menjadikan kami takluk ataupun membuat kami menyerah. Kami tetap menginginkan sebuah konfrontasi dengan kekuatan dari para penguasa. 27 tahun yang lampau kami bertindak sebagai subyek dari konfrontasi tersebut, dan hingga saat inipun kami tetap berpijak bahwa kami harus tetap menjadi subyek. Bagaimanapun hasilnya, RAF -seperti juga semua organisasi grass-roots yang masih berdiri hingga saat ini- tidaklah lebih dari sebuah fase transisi dalam jalur menuju kebebasan yang sesungguhnya. Setelah era perang dan fasisme, RAF membawa sesuatu yang baru kepada masyarakat yaitu: sebuah momen dimana kita dapat mempertajam kontradiksi antara proletar dengan tatanan sistem yang secara sistematis telah menjadi subyek dan mengeksploitasi proletar sebagai obyek dari struktur tersebut dimana proletar diciptakan dan dipaksa untuk berperang melawan sesama proletar.</p>
<p>Sebuah perjuangan dalam tatanan sosial, yang telah menempatkan kami sebagai oposisi, yang telah mendorong kebebasan sosial-politik beberapa langkah ke depan. Dan momen ini adalah saat kami mengambil saat untuk memilih keluar dari sistem, sebuah sistem yang menempatkan profit sebagai subyek dari segalanya dan menempatkan proletar sebagai obyek. Kami bergerak berawal dari penolakan, kepada penyerangan, hingga menuju kebebasan.</p>
<p><strong>Tumbuhnya RAF Dari Secercah Harapan Akan Sebuah Kemerdekaan</strong></p>
<p>Berlatar belakang dari tindakan-tindakan para gerilyawan dari daerah selatan melawan penduduk yang kaya raya di daerah utara, RAF muncul sebagai sebuah solidaritas pada pergerakan kebebasan dengan menggunakan taktik dan strategi perjuangan yang serupa. Di seluruh dunia, jutaan orang telah terlibat dan mengambil pilihan dalam perjuangan resistansi dalam usahanya meraih kemerdekaan dan melihatnya sebagai sebuah kesempatan bagi diri mereka sendiri. Di berbagai tempat di dunia ini, perjuangan bersenjata adalah salah satu harapan untuk tercapainya kemerdekaan. Begitupun di Jerman, ratusan orang telah menempatkan diri mereka dalam perjuangan bersenjata dari organisasi militan seperti Second Of June Movement, Revolutionary Cells (RZ), RAF dan juga Rote Zora. RAF muncul sebagai hasil dari diskusi-diskusi ratusan orang di Jerman yang mulai berpikir tentang perjuangan bersenjata sebagai jalan menuju kemerdekaan pada akhir tahun 1960 dan awal tahun 1970. RAF mengambil bagian dalam perjuangan melawan negara, sebuah negara yang tak akan pernah berubah dengan sistem sosialis nasionalnya yang muncul mengikuti fasisme partai Nazi. Perjuangan bersenjata adalah sebuah pemberontakan bersenjata melawan penguasa, melawan alienasi dan kompetisi. Perjuangan tersebut adalah pemberontakan demi tercapainya sebuah tatanan nyata dari sosial, politik maupun budaya. Dalam eforia dari usaha-usaha global untuk tercapainya kebebasan, sudah saatnya bagi sebuah perjuangan yang tegas untuk secara serius mengangkat senjata dan merubah strategi dan taktik, serta tidak lagi hanya menerima legitimasi pseudo-natural dari sistem yang berlaku.</p>
<p><strong>Era 1975 &#8211; 1977</strong></p>
<p>Dengan aksi pendudukan kedutaan Jerman di Stockholm tahun 1975, RAF meluncurkan sebuah fase selama waktu yang dianggap mungkin untuk membebaskan tapol/napol dari penjara. Aksi pertama kami yang dinamai “1977 Offensive” (Serangan 1977) dilakukan, dimana anggota-anggota RAF menculik Schleyer. RAF mengambil sikap untuk mempertanyakan struktur kekuasaan negara. Hal ini mulai menjadi sebuah sikap yang radikal dan tegas dalam usahanya untuk menyudutkan negara melalui posisi sebagai penyerang bagi kaum leftist revolusioner, melawan kekuasaan negara. Dan sudah sangat jelas bahwa negara akan berusaha untuk menghalangi usaha tersebut. Konflik yang meningkat secara cepat, walau bagaimanapun, kemudian juga berkontradiksi dengan latar belakang sejarah Jerman: yaitu terus berlangsungnya Nazisme di negara Jerman Barat, dimana kami memerangi hal tersebut dengan sangat ofensif. Schleyer, yang pernah menjabat sebagai anggota pasukan SS pada waktu rezim Nazi masih berkuasa penuh, seperti juga sisa-sisa Nazi yang masih ada di semua tingkatan masyarakat, mendapat kemudahan untuk kembali bekerja di kantor-kantor pemerintahan justru karena negara merasa berkewajiban untuk menghormati apa-apa yang pernah dia lakukan pada masa kejayaan Nazi. Kaum Nazi membangun karir bagi sisa-sisa anggotanya di Jerman Barat dengan menempatkan mereka pada posisi-posisi penting pada jabatan-jabatan di kantor pemerintahan, dalam kantor-kantor pengadilan negara, dalam aparatus kepolisian, dalam jabatan militer, media massa dan dalam perusahaan-perusahaan besar nasional. Sisa-sisa para anti-semit, rasis dan para pembantai di era Nazi dan juga orang-orang yang seharusnya bertanggung jawab atas banyak pembantaian pada era tersebut, justru kembali menjadi elit-elit pemegang kekuasaan. Schleyer-pun semenjak akhir era kejayaan Nazi bekerja bersama-sama dengan para kapitalis Jerman untuk berusaha membentuk sebuah region ekonomi Eropa yang akan berada dibawah dominasi Jerman.</p>
<p>Kaum Nazi menginginkan Eropa untuk berada dibawah kekuasaan mereka dengan cara berjuang melalui sistem industri dan penanaman modal. Dengan demikian, mereka ingin mengakhiri perjuangan kelas dengan cara memanfaatkan buruh-buruh berkebangsaan Jerman dan juga buruh-buruh yang dapat “menjadi seperti seorang Jerman”, serta kemudian memasukkan mereka kedalam masyarakat. Dengan seakan sudah terbebasnya rakyat dari fasisme rezim Nazi, hal tersebut sebenarnya justru mengilusi kesadaran rakyat dari kenyataan bahwa sebenarnya tak akan pernah ada kebebasan di bawah sistem kapitalisme. Setelah tahun 1945, Schleyer bekerja untuk menggolkan kepentingan-kepentingan yang sama dengan pada waktu era Nazi tetapi melalui bentuk yang lebih modern. Bentuk modern ini datang pada tahun 1970 dengan model sosial-demokrat. Sebagai kepala bagian industri negara, Schleyer kembali melanjutkan pembangunan sebuah sistem yang memandulkan setiap pergerakan resistansi sosial &#8211;sebagai contohnya, antara lain dengan cara memenjarakan para aktifis buruh atau dengan cara mengintegrasikan dan memberikan kontrak-kontrak jaminan keamanan.</p>
<p>Integrasi ini bertujuan untuk memasukkan sebanyak-banyaknya buruh berkebangsaan Jerman ke dalam segala sektor masyarakat. Disaat yang sama, para buruh imigran dikurangi jatah fasilitasnya di berbagai tempat kerjanya dan lebih dieksploitasi dalam berbagai bidang garapannya, hal ini jugalah yang menimbulkan bencana kelaparan di daerah-daerah pemukiman kaum imigran. Kontinuitas dari sistem yang oleh Schleyer terapkan &#8211;di tahun 1970 dengan model sosial-demokrat&#8211; adalah sebuah momen penting dalam pembangunan dan pemapanan Republik Federasi Jerman.</p>
<p>Represifitas Pada Setiap Suara Yang Kritis Dan Meningkatnya Tapol/Napol &#8212; Teknik Reaksioner Yang Sama Dengan Yang Diterapkan Oleh Kaum Nazi.</p>
<p>Aksi dari “1977 Offensive” mempertegas bahwa masih ada sebagian elemen rakyat yang tidak terintegrasikan dan terkontrol oleh sistem. Setelah kaum Nazi mengeliminir setiap resistansi, aksi-aksi dari kelompok-kelompok gerilya kota setelah tahun 1968 kembali kepada perjuangan kelasnya dan tidak lagi berintegrasi dengan kekuatan pemerintah manapun. Kasus penculikan Schleyer tidak membuat negara menjadi panik, tetapi hal ini justru memperkuat reprsifitas yang diberikan kepada siapapun yang mengekspresikan perbedaan pandangannya dengan sistem negara yang kemudian dinyatakan dalam keadaan darurat. Negara memerintahkan semua media massa untuk mengikuti jalur perkembangan dari Crisis Staff (badan negara yang bertugas saat negara dinyatakan dalam keadaaan darurat), dimana hampir semua media massa menyetujui hal tersebut untuk menghindari konfrontasi yang beresiko besar dengan tatanan sistem.</p>
<p>Kaum intelektual, yang telah diketahui oleh semua orang bahwa mereka tidak bersimpati kepada gerakan RAF, tetap mendapat perlakuan represif dari negara untuk menghindarkan sikap kritis dari mereka yang akan berefek menyebarnya dukungan terhadap RAF. Anggota-anggota dari Crisis Staff, dengan beberapa diantaranya merupakan wakil dari kaum militer, menerapkan cara yang sama dengan cara yang pernah Nazi gunakan &#8211;walaupun memang kaum Nazi lebih brutal dalam penerapannya&#8211; untuk menghapuskan setiap tindak perjuangan anti-fasis dan anti kapitalis. Dibawah rezim Nazi maupun di tahun 1977, negara menerapkan kebijakan-kebijakan yang tidak menyisakan pilihan diantara memberikan loyalitas dan rasa patriotisme kepada negara atau memilih untuk mendapat tindak represif.</p>
<p>Saat negara gagal untuk memaksa RAF mengembalikan Schleyer, negara kemudian mengambil kebijakan untuk membiarkannya dan menggantikan kedudukan Schleyer. Saat mencium akan adanya kecenderungan tersebut, kami memberikan aksi mengejutkan lainnya dengan membajak sebuah pesawat penumpang sipil dalam sebuah aksi gerilya yang merupakan bagian dari taktik penyerangan kami. Hal ini semakin menjelaskan bahwa RAF tidak berasosiasi dengan siapapun baik itu golongan dari sektor pemerintahan oposisi maupun dari sektor masyarakat &#8211;dimana keputusan RAF untuk mengklaim bahwa RAF bukanlah merupakan aksi rakyat kebanyakan adalah agar negara mengurangi represifitasnya pada orang-orang yang dianggap tidak bersalah. Walaupun tuntutan-tuntutan kami yang menginginkan agar semua tapol/napol di Jerman &#8211;yang hampir semuanya ditangkap atas aktifitasnya menentang penempatan eks-Nazi dalam kursi-kursi pemerintahan&#8211; untuk dibebaskan terlihat mulai menemui titik terang, dimensi perjuangan revolusi sosial justru tidak lagi bertambah jelas.</p>
<p><strong>Dari 1970 Hingga 1980</strong></p>
<p>Kami telah mempertaruhkan segalanya dan menderita berbagai kekalahan yang berat. Selama proses perjuangan mereka hingga akhir tahun 1970, telah tampak bahwa RAF tinggal menyisakan beberapa orang saja yang berasal dari periode awal di tahun 1968. Banyak anggota-anggota RAF dari pergerakan awal tahun 1968 telah menyerah dari pergerakan politik dan menggunakan sisa kesempatan mereka untuk membangun karir dan kembali kepada masyarakat biasa. RAF, sebagai bagian dari perjuangan anti-imperialis global, telah mengangkat senjata demi tercapainya kebebasan di Jerman Barat. Tahun 1977 telah memperlihatkan bahwa bagaimanapun juga RAF yang tidak termasuk kepada kekuatan politik oposisi legal maupun kekuatan militer, telah menciptakan situasi perang domestik kepada kekuatan neo-Nazi dan anti-kapitalis anti-imperialis. Sudah saatnya bagi kami untuk membuka lembaran baru dalam usaha perjuangannya untuk mencapai kemerdekaan yang sesungguhnya.</p>
<p>Pengalaman dari kekalahan kami di tahun 1977 telah membuktikan bahwa kami harus menggunakan strategi dan taktik baru selain menggunakan taktik gerilya kota cara kami. Telah dibutuhkan sebuah konsep baru untuk perjuangan menuju kemerdekaan. Kami membutuhkan sebuah basis baru yang bersedia bergabung dalam perjuangan sebagai segmen-segmen radikal dari pergerakan resistansi yang telah terbit diakhir tahun 1970an, yaitu basis massa rakyat. Tetapi konsep pembentukan front rakyat terhambat karena berbenturan dengan dasar pergerakan dari RAF di tahun 1970an. Aksi-aksi bersenjata nyatanya tetap menjadi fokus utama mereka dalam proses revolusioner yang dilihat sebagai sebuah perang demi sebuah kemerdekaan.</p>
<p><strong>Pembentukan Front Anti Imperialis Di Tahun 1980an</strong></p>
<p>Di sekitar tahun 1980an, terjadi beberapa perjuangan langsung melawan proyek-proyek yang tidak manusiawi dari sistem, perjuangan tersebut juga mengekspresikan pencarian akan sebuah bentuk baru dari tatanan kehidupan yang bebas. Sebuah revolusi sosiallah yang akan memperlihatkan sebuah kenyataan sosial baru, saat ini juga. Ribuan orang dari gerakan-gerakan baru tersebut turun ke jalan-jalan dalam tahun 1980 untuk memprotes hal-hal yang sama dengan apa yang RAF pernah berusaha serang sejak tahun 1979, yaitu: kebijakan militer dari negara-negara NATO, yang akan memungkinkan negara-negara Barat untuk membiayai berbagai perang secara simultan, perang melawan Soviet Union dan, dalam saat yang sama, seperti juga perang yang berupa intervensi melawan gerakan pembebasan dan revolusi, seperti di Nikaragua, dimana telah ditempuh satu langkah ke depan menuju pembebasan dari kediktatoran Barat.</p>
<p>RAF berasumsi bahwa kami tidak akan sendirian selama fase tersebut. Konsep yang ada dipenuhi dengan harapan bahwa sektor-sektor militan dari berbagai gerakan akan bergabung dalam sebuah front. Tetapi konsep ini gagal saat mendapati bahwa dalam proses membentuk sebuah situasi sosial, hanya beberapa orang saja yang dapat melihat hasil-hasil yang bisa dicapai bila dalam sebuah perjuangan menuju kebebasan ditempuh dengan cara setingkat level perang. Perjuangan menuju kebebasan, dimana momen sentralnya adalah perang, hanya mungkin apabila terdapat kekuatan-kekuatan dalam massa yang bergerak menuju ke arah itu &#8211;setidaknya dalam bentuk elemen radikal dari sebuah gerakan.</p>
<p>Tetapi hingga bagi mereka yang telah melakukan aksi solidaritaspun &#8211;yang memang sangat sedikit jumlahnya&#8211; sama sekali tidak berpikiran mengenai perjuangan setingkat pemikiran dari RAF dalam benak mereka. Sebuah perang gerilya membutuhkan sebuah ekspansi pada perspektif massa hingga semuanya &#8211;setidaknya sebagian besar massa&#8211; ke tahap pemikiran dalam level perjuangan bersenjata. Hal ini sangatlah esensial dari penerapan taktik gerilya tersebut, sementara RAF tidak mampu untuk menerapkan hal tersebut. Gagasan RAF dengan taktik perjuangan bersenjatanya, dalam point-point penting perjuangan telah menempatkan proses perubahan politik dan budaya menjadi seakan kurang penting. Pada akhirnya, pembentukan front tetap tidak dapat menghilangkan batasan antara sebuah gerakan massa dengan gerilya.</p>
<p>Di tahun 1980, RAF beroperasi dengan asumsi bahwa sebuah revolusi sosial akan mungkin apabila dilakukan serangan-serangan dalam inti strutur kekuasaan dari imperialisme. Dengan pendekatan seperti ini, politik-politik yang dilakukan oleh RAF menjadi semakin abstrak. Hal ini malah memisahkan apa yang seharusnya berada dalam satu konteks menjadi dua konteks yaitu: anti-imperialis dengan revolusi sosial. Konteks revolusi sosial menghilang dari teori-teori dan praksis dari RAF. Orientasinya menjadi sekedar membuat barisan anti-imperialis yang dalam hasilnya adalah pembentukan front anti imperialis. RAF bukan menjadi sebuah jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan sosial. Inilah yang menjadi kesalahan fundamental bagi RAF.</p>
<p>Gema yang ditimbulkan dalam massa tetap terbatas, karena usulan untuk membentuk sebuah kesadaran dalam massa dan mendorong timbulnya kontradiksi pokok antara massa proletar dengan negara &#8211;sebuah momen sentral dari setiap proses revolusioner&#8211; telah menghilang. Selain bahwa RAF terlihat berusaha menghancurkan kontrol yang didominasi negara dengan meningkatkan intensitas serangan-serangannya, prioritasnya meningkat dalam dimensi militer. Penekanan tersebut tetap berlanjut selama tahun 1980an dan itulah yang mendefinisikan perjuangan RAF.</p>
<p>Kami melakukan serangan-serangan melawan proyek-proyek NATO seperti komplek-komplek industri penting milik militer, bersama-sama dengan grup-grup gerilya lainnya di Eropa Barat; sebagai sebuah usaha menggabungkan semuanya kedalam satu Front Gerilya Eropa Barat, dimana di dalamnya tergabung RAF, Action Directe di Perancis, dan Red Brigades/PCC di Italia. RAF berkonsentrasi &#8211;sekuat kemampuan mereka&#8211; dalam menyerang proyek-proyek NATO dan setelah 1984, menyerang formasi dari kekuatan baru blok-blok barat dari negara-negara Eropa Barat. Yang menjadi fokus serangan tetaplah disesuaikan dengan kekuatan kami yang terbatas dan yang sesuai dengan identifikasi RAF. Usaha-usaha untuk membentuk sebuah front dengan grup-grup lain dari perjuangan resistansi diatas ternyata tidak terealisasikan. Dengan demikian maka front yang sedang dibangun itu hancur, karena terlalu banyak energi yang dihabiskan hanya untuk memutuskan bagaimana membuat front dengan benar. Selama usaha pembentukan front ini, terjadi pemapanan di sisi kami sendiri yang sama karakternya dengan mendemonstrasikan politik yang lebih kecil resikonya, memapankan politik lama, bukannya membuat sebuah politik baru, hal ini jelas sangat berseberangan dengan usaha menuju kearah kebebasan.</p>
<p>Dan ini adalah juga merupakan waktu dimana RAF dan mereka yang telah tertangkap, mengabaikan berbagai kesulitan dan tetap tak mau menyerah, memperlihatkan bagaimana kami tetap bertahan tidak termoderasi oleh berbagai keadaan dan tetap berkomitmen untuk membuat sebuah kondisi melawan kekuatan penguasa. Hal ini memberikan harapan yang baik bagi mereka yang menginginkan perjuangan melalui kolektifitas dan kebersamaan dalam melawan isolasi dan alienasi yang terbentuk dalam tatanan masyarakat.</p>
<p>Perjuangan mereka yang ditahan melawan isolasi penjara dan demi bergabungnya mereka semua kembali, demi perjuangan, demi harkat dan martabat dan demi kebebasan, yang juga sama dengan apa yang telah sejak lama pernah dilakukan oleh banyak orang, adalah sesuatu yang dapat dengan mudah dikenali oleh banyak orang. Sikap non-kompromis dari RAF dan mereka yang ditahan melawan kekuatan penguasa tampak sangat jelas dihadapan para penguasa yang telah berusaha menekan setiap perjuangan menuju kehidupan baru yang bebas.</p>
<p><strong>Kami, Yang Hampir Sebagian Besar Sangat Terlambat Berorganisasi Dalam RAF&#8230;</strong></p>
<p>&#8230;bergabung dalam harapan bahwa perjuangan kami dapat mengkontribusikan sebuah masukan baru bagi revolusi global dalam merubah kondisi saat ini. Kami membawa perubahan bagi perjuangan menuju kebebasan, sebagai sebuah jalan baru dimana kami dapat menggabungkan diri kami dengan mereka yang berada di jalan lain. Dan kami ingin memberikan sesuatu bagi mereka yang telah berjuang sebelum kami, dan bagi mereka yang telah gugur atau dikirm ke penjara. Perjuangan dengan taktik ilegal telah secara atraktif memberikan efek yang jelas kepada kami. Kami ingin menghancurkan batas yang menghalangi kami untuk bebas dari apapun yang telah mengikat kami dengan sistem.</p>
<p>Perjuangan bersenjata yang memang jelas-jelas ilegal, bagi kami, tidak lebih sebagai sebuah jalan yang cocok dan sangat mungkin dalam sebuah proses menuju kebebasan. Tetapi juga, terlebih lagi dalam menanggapi krisis gerakan leftist di seluruh dunia, kami ingin menggunakan gerilya kota sebagai sebuah kemungkinan dan membuatnya tetap ilegal sebagai sebuah proses menuju kebebasan. Tapi kami juga sadar bahwa kami sendiri sangatlah tidak cukup. Taktik gerilya sendiri, juga merupakan sesuatu yang harus terus berubah, berevolusi. Harapan kami adalah untuk dapat membuat garis baru antara taktik gerilya dengan taktik berbagai sektor lain yang merupakan gerakan resistansi di tengah-tengah massa. Untuk merealisasikan hal ini, kami mencari sebuah proposal baru, dimana semua perjuangan dari berbagai bentuk hingga perjuangan gerilya dapat berdiri bersama-sama.</p>
<p>Hal Itu Sangat Penting Bagi Kami, Menyusul Runtuhnya Jerman Timur, Untuk Membawa Perjuangan Kami Sejalan Dengan Situasi Sosial Yang Baru.</p>
<p>Kami ingin untuk mengambil langkah untuk berkorelasi dengan mereka yang mimpinya berakhir dengan hancurnya DDR dan penggabungannya dengan Jerman Barat. Sebagian telah melihat kenyataan bahwa ‘sosialisme yang benar-benar eksis’ bukanlah pembebasan sama sekali. Sedangkan sebagian lainnya, yang menjadi bagian dari oposisi bagi sosialisme yang benar-benar eksis di Jerman Timur, telah memimpikan mengenai sesuatu yang berbeda baik itu dari kapitalisme maupun dari sosialisme yang benar-benar eksis. Banyak orang yang tinggal di DDR dan mereka yang menuntut reunifikasi dengan Jerman Barat mulai mempelajari sesuatu yang baru, sebuah situasi sosial yang tertekan lengkap dengan seluruh jaminan keamanan yang secara drastis eksis.</p>
<p>Kami ingin berhubungan dengan orang-orang tersebut, selama situasi historis yang sangatlah tidak jelas bagi semua orang, yang telah berjuang demi pembebasan dalam konfrontasinya dengan negara Jerman Barat dan juga dengan mereka yang telah dijejali dengan kemapanan reaksioner yang benar-benar rasis dalam Jerman timur yang sudah tidak eksis lagi. Kami tidak ingin membuat orang-orang tersebut menjadi golongan sayap kanan atau juga menyepelekan mereka. Kami melihat bahwa dimensi ini dapat berubah dan diselesaikan dengan sebuah proyek baru yang bersifat pembebasan internasionalis dimana semua kenyataan yang ada baik itu di Jerman Timur ataukah di Jerman Barat akan saling berhubungan. RAF, yang memiliki akar sejarah dalam gerakan perlawanannya di Jerman Barat, tidak dapat menerima hal ini.</p>
<p><strong>Usaha Untuk Membangkitakan Kembali RAF Pada Tahun 1990 Adalah Sebuah Proposal Yang Tidak Realistis</strong></p>
<p>Kami ingin mentransformasikan sebuah konsep yang terbit pada gerakan tahun 1968 kepada konsep internasionalis dan berwawasan revolusi sosial sebagai sebuah bentuk yang baru disesuaikan dengan kondisi obyektif dalam tahun 1990an. Saat inilah waktu dimana kami mencari sesuatu yang baru, tetapi masih terikat oleh dogma-dogma dari tahun-tahun terakhir. Kami tidak menjadi seradikal seperti saat kami mulai dulu. Karenanya kami telah membuat kesalahan yang sama yang pernah kami lakukan di tahun 1977: kami mengharapkan secara berlebihan dukungan untuk melanjutkan perjuangan dengan cara ini ini.</p>
<p>Secara fundamental, adalah berbahaya apabila taktik perjuangan bersenjata didiskreditkan sementara pada saat yang sama tidak pernah sama sekali diterangkan bagaimana sebuah perjuangan bersenjata dapat memperkuat perjuangan menuju pembebasan. Sangatlah perlu untuk melihat kembali pada issue ini dalam konteks yang lebih dapat dipertanggung jawabkan karena hampir selalu perjuangan-perjuangan bersenjata didiskreditkan &#8211;walaupun situasinya berbeda, karenanya perlu lagi sebuah penerangan mengenai hal tersebut. Krisis yang terjadi, saat kami yang tersisa mencapai batasnya pada tahun 1980an dan mulai berpencar sedikit demi sedikit, membuat kami terpaksa memutuskan untuk berusaha membuat jaringan terhadap RAF kepada beberapa proyek yang merupakan sebuah proposal yang sangat-sangat tidak realistis. Kami sudah terlalu terlambat &#8211;walaupun untuk sekedar mentransformasikan RAF kedalam bentuknya yang baru setelah sebuah periode refleksi. Kritik dan oto-kritik tidaklah bertujuan untuk mengakhiri sesuatu, tetapi lebih kepada memperkuat sesuatu yang telah ada. Pendeknya, akhir dari RAF bukanlah sama sekali merupakan hasil akhir dari proses kami mengkritisi diri dan mempertimbangkan kritik yang ada serta refleksinya, tetapi lebih merupakan karena pemikiran bahwa hal tersebut memang perlu, karena konsep RAF tidak mencakup elemen-elemen baru yang penting dan berguna dimana sesuatu yang baru dapat muncul.</p>
<p>Saat kami memperhatikan segmen ini melalui sejarah kami pada khususnya bersamaan dengan proses sejarah pad umumnya, usaha untuk membuat RAF kembali menjadi sebuah proses politis yang kuat, lebih merupakan sebuah perpanjangan saja dari sesuatu yang pada perpsektifnya memang sudah seharusnya berakhir. Kami perlu untuk melihat kenyataan bahwa bentuk-bentuk perjuangan, diatas semua hal tersebut, tetaplah memiliki konsep-konsep lama. Tidak ada artian-artian baru, sesuatu yang mungkin dapat menawarkan sebuah prespektif alternatif bagi masyarakat kelas pekerja dan kondisi ekonomi yang berorientasi pada akumulasi modal yang jelas sangat tidak manusiawi. Sebuah perspektif alternatif sebagai sesuatu yang dapat dijadikan fondasi bagi perjuangan pembebasan masa depan yang dapat menyatukan rakyat bersama.</p>
<p>Mengikuti kekalahan yang diderita pada tahun 1993, kami tahu bahwa kami tidak dapat berjalan seperti saat kami dulu bermula, dan dengan demikian kami mengistirahatkan perjuangan kami pada tahun 1992. Kami yakin bahwa kami telah memiliki tujuan yang benar dengan apa yang kami yakini, tapi kami telah melakukan beberapa kesalahan taktis yang sangat serius. Kami ingin memikirkan lagi hal ini sekali lagi berbarengan dengan mereka yang ada di penjara, untuk kemudian mengambil sebuah langkah baru. Tetapi pada akhirnya, adalah sangat menyakitkan saat sebuah kelompok narapidana politik dari anggota-anggota kami yang memisahkan diri, kemudian mendeklarasikan bahwa kami adalah musuh, yang dengan demikian menghapus kondisi penting yang dulu telah membuat RAF bertahan, yaitu solidaritas dan perjuangan secara kolektif.</p>
<p><strong>Proses Pembebasan Diri Kami Sendiri&#8230;</strong></p>
<p>&#8230;adalah sesuatu hal yang penting bagi kami, juga karena kami selalu terlihat menjadi stagnan. Kami memiliki hasrat kolektif sebagai sebuah hasrat untuk menembus batas dan bentuk-bentuk alienasi. Tetapi kontradiksi antara perang dan pembebasan seringkali diabaikan dan tidak pernah kami bicarakan sama sekali. Perang revolusioner juga menghasilkan alienasi dan struktur pemerintahan, yang jelas merupakan kontradiksi bagi kebebasan. Melihat hal tersebut, seharusnya hal tersebut tidak dilihat sebagai pemapanan sebuah struktur, melainkan sebagai sebuah kemungkinan untuk timbulnya sebuah kesadaran. Disisi lain tanpa mengatakan bahwa sebuah struktur pemerintahan yang baru akan muncul, dapat dikatakan bahwa harus adanya penguatan baik dalam segi politik maupun dalam hubungan personal. Fakta menunjukkan sendiri hal tersebut dalam kejadian-kejadian saat struktur hirarkis dari front anti imperialis pada tahun 1980 yang seringkali berubah serta kecenderungan munculnya struktur pemerintahan selama perpecahan pada tahun 1993. Dan hal itu juga menunjukkan bagaimana melalui pemikiran-pemikiran dan analisa-analisa mainstream, dimana dalam sejarahnya, RAF malahan mendorong mereka yang berjuang disini bersama kami tidak lagi melihat adanya tujuan untuk menuju kepada sebuah revolusi total.</p>
<p>Adalah Sebuah Kesalahan Strategis Untuk Tidak Membentuk Organisasi Sosial-Politik Bersamaan Dengan Organisasi Bersenjata Ilegal</p>
<p>Tak ada fase dalam sejarah kami yang meraup pemikiran bahwa organisasi politis seharusnya ada bersamaan dengan perjuangan politis-militan yang bersenjata. Konsep dari RAF hanya melihat perjuangan bersenjata yang terfokuskan pada penyerangan-penyerangan yang bersifat politis-militan. Dalam communique-communique formatif dari RAF pada pertengahan tahun 1970an, pertanyaan-pertanyaan penting seperti ini tidak pernah diekspos sama sekali. Secara khususnya di Jerman, belum pernah ada pengalaman-pengalaman sebelumnya mengenai taktik gerilya kota. Berbagai hal dilakukan dan dipelajari langsung melalui aksi-aksi dimana kesalahan dan kegagalan kami sadari secara langsung.</p>
<p>Setidaknya, tidak pernah terdapat sebuah orientasi yang menuju pada pertanyaan yang timbul tersebut, entah itu bahwa bagaimana sebuah gerakan menuju pembebasan dapat dimapankan melalui sebuah organisasi ilegal dan perjuangan bersenjata ataukah bahwa pembangunan gerakan gerilya harus bersamaan dengan pembangunan struktur politis yang bermula sebagai sebuah proses yang mendasar. Bulan Januari 1976, beberapa kamerad kami yang tertangkap dan dipenjara, pernah menulis mengenai hal ini, menyatakan bahwa hanya sebuah perjuangan bersenjata ilegallah yang dapat menjadi oposisi nyata bagi imperialisme.</p>
<p>Konsep yang diajukan pada bulan Mei 1982 juga memapankan posisi ini, mengesampingkan semua kontradiksi serta fakta bahwa hal tersebut adalah usaha untuk menemukan sebuah asosiasi politik berbarengan dengan orang lain. Karena konsep ini pulalah maka tidak pernah terjabarkan bagaimana sebuah perjuangan bersenjata seharusnya berada di pusat metropolis. Aktifitas politik yang muncul dari terbentuknya front mengkomunikasikan penyerangan dalam struktur radikal para leftist.</p>
<p>Kekurangan sebuah organisasi politik selama lebih dari 20 tahun menghasilkan semakin melemahnya proses politis secara berkesinambungan. Aksi-aski politis-militan di metropolis selama beberapa dekade terakhir hanyalah merupakan pra-kondisi untuk konsep ini. Strategi dasar RAF adalah pada sebuah perjuangan bersenjata, dalam berbagai cara yang berbeda selama fase tersebut, tetapi tak ada point dimana aksi-aksi militan dapat menuju kepada: bahwa aksi tersebut adalah pilihan taktis dari strategi pembebasan yang komprehensif. Kelemahan ini juga yang mengarah kepada fakta bahwa organisasi kami tidak dapat mentransformasikan dirinya setelah melalui dua dekade. Pra-kondisi untuk menempatkan fokus dari perjuangan dalam level politik &#8211;yang merupakan apa yang kami ingin lakukan pada tahun 1992&#8211; tidak tercapai. Tetapi pada akhirnya, jelas sekali bahwa hal tersebut menghasilkan kegagalan strategis yang sangat fundamental.</p>
<p>Kurangnya organisasi sosial-politik adalah kesalahan fatal bagi RAF. Hal tersebut bukanlah satu-satunya kesalahan, tetapi itulah alasan terpenting mengapa RAF tidak dapat menjadi proyek pembebasan yang semakin kuat, dan pada akhirnya pentingnya pra-kondisi yang terlupakan adalah untuk membangun sebuah gerakan perjuangan yang mengarah kepada pembebasan, satu hal yang dapat memiliki pengaruh yang kuat dalam ruang lingkup sosial. Kesalahan juga terdapat pada konsepnya sendiri, seperti contohnya, bahwa bagaimana sejarah RAF sebenarnya juga memperlihatkan bahwa konsep RAF tidak relevan lagi dalam proses pembebasan di masa depan.</p>
<p>Akhir Dari RAF Datang Bertepatan Dengan Masa Dimana Seluruh Dunia Berkonfrontasi Dengan Efek-Efek Dari Neo-Liberalisme &#8212; Perjuangan Internasional Melawan Pemindahan, Alienasi, Dan Bagi Sebuah Tujuan Dan Kenyataan Sosial Yang Berbeda Secara Fundamental Sebagai Sebuah Oposisi Bagi Seluruh Kemapanan Kapitalisme</p>
<p>Hubungan sosial yang bersifat kedalam maupun yang bersifat global memperkuat turbulansi bagi pemapanan sejarah yang diikuti oleh berakhirnya sosialisme nyata yang eksis. Meskipun demikian, hal tersebut bukanlah merupakan sebuah kontradiksi bagi kami untuk menghentikan proyek kami ini disaat kami masih melihat kebutuhan bahwa apapun yang berguna dan mungkin harus dilakukan sehingga sebuah dunia tanpa kapitalisme dapat datang, sebuah dunia dimana emansipasi bagi manusia dapat direalisasikan.</p>
<p>Mengingat efek yang menghancurkan dari runtuhnya sosialisme nyata yang eksis di seluruh dunia, dan kemiskinan dari jutaan rakyat di daerah-daerah ex-Uni Soviet, sangatlah tidak cukup pada hari ini berbicara mengenai berbagai kesempatan yang dibawa dengan berakhirnya sosialisme nyata yang eksis. Meskipun demikian, kami juga menemukan bahwa pembebasan yang nyata tidaklah mungkin dibawah model dari sosialisme nyata yang eksis. Adalah mungkin untuk menggariskan konsekwensi dari pengalaman anti-emansipatoris dengan konsep sosialisme nyata yang eksis yang penuh dengan birokrasi negara dan bersifat otoriter, sehingga ditemukan jalur pembebasan di masa depan.</p>
<p>Dengan runtuhnya sosialisme nyata yang eksis, kompetisi diantara sistem yang ada turut berakhir, yang berarti bahwa para pendukung sistem kapitalis merasa tidak perlu lagi untuk membuat sistem mereka jadi tampak ‘lebih baik’. Dalam ketiadaan pengecekan secara ideologis pada para pemodal, sebuah proses pengglobalan kapitalisme telah dihasilkan, yaitu bahwa segala bentuk kemanusiaan ditujukan hany bagi kepentingan para pemodal. Neo-liberalisme adalah fondasi ekonomi ideologis bagi seluruh dunia yang didorong ke depan melalui optimalisasi dan evaluasi masyarakat dan alam demi kepentingan pada pemodal. Para representatif dari sistem ini menamakan hal ini sebagai ‘reformasi’ atau ‘modernisasi’.</p>
<p>Sudah semakin jelas bahwa pemapanan sistem saat ini akan membawa sebagian besar umat manusia kedalam kesulitan eksistensial dan sosial. Bagi mayoritas terbesar rakyat di dunia ini, neo-liberalisme membawa dimensi baru yang mengancam kehidupan mereka. Dalam perjuangan demi hegemoni politik dan kekuatan ekonomis, hanya bentuk ekonomi-ekonomi yang dapat bertahan adalah yang dapat meningkatkan kapasitas melalui korporasi-korporasi yang menjadi segmen masyarakat yang lebih kecil. Efek samping dari sistem ini mengarah kepada perubahan mendalam dalam kondisi masyarakat.</p>
<p>Secara jauh ke depan, hal tersebut akan meningkatkan kemiskinan dan kebrutalan hingga pada jauh ke depannya lagi akan dijumpai perang dan barbarianisme. Jika kepentingan ekonomi politik ada pada urutan pertama dari segala kepentingan, bangsa-bangsa yang kaya akan berintervensi dalam konflik dengan perang yang mereka ciptakan sendiri dalam kepentingan untuk melindungi akses tak terbatas pada bahan baku di seluruh dunia ini dan memapankan kedudukan mereka yang memegang tampuk kekuatan. Mereka tidak akan pernah peduli bagaimana mereka akan menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi dalam masyarakat, mereka akan memilih untuk mengontrol kehancuran dimana sistem mereka akan menggerakkan semua keuntungan kepada hanya sebagian kecil masyarakat saja.</p>
<p>Hal ini bukanlah sebuah kontradiksi, melainkan lebih merupakan sebuah bagian dari sistem yang logis dimana korporasi transnasional dan multinasional akan mendapat kekuatan yang lebih besar daripada sebelumnya, dengan keuntungan yang jauh lebih besar daripada sebelumnya, dalam fase sistem politik yang menciptakan krisis di seluruh dunia, memilah-milahkan masyarakat, dan memiskinkan sektor-sektor terbesar dari massa dan memakmurkan sejumlah kecil masyarakat yang tinggal di metropolitan yang tinggal jauh dari sumber-sumber bahan baku.</p>
<p>Dalam paradoksnya, kesuksesan dalam memaksimalisasikan keuntungan oleh para pemodal dan runtuhnya berbagai bentuk sosial berarti juga memaksa kapitalisme hingga titik batasnya. Kemapanan mereka sendiri justru terancam bahaya diatas segalanya, dimana juga dihasilkan barbarianisme yang mencolok. Dari pemapanan sistem tersebut, proses negatif akan berlanjut, hingga suatu saat dimana sebuah proposal menuju pembebasan yang dapat mengajak kekuatan-kekuatan baru bersama-sama menggulingkan sistem yang ada sekarang ini. Tetapi hari ini, tidak hanya kekalahan historis yang tertinggal bersama dengan kekerasan hubungan sosial yang mengglobal, tetapi juga terdapat gerakan-gerakan pemberontakan yang dapat menggariskan berbagai pengalaman perlawanan dalam sejarah global.</p>
<p>Dalam pemapanan yang bersifat global, kapitalisme, yang juga terdapat di metropolis, berusaha membeli kedamaian sosial yang disebut sebagai ‘welfare system’. Dimana bagaimanapun juga sebagian besar segmen masyarakat termarginalkan karena tidak lagi dibutuhkan proses produksi di pusat-pusat metropolis. ‘Kekuatan dunia’ dan ‘welfare state’ tidak dapat lagi eksis dibawah satu atap. Di Eropa sebagai contohnya, ‘welfare state’ yang lama menjadi terhegemoni secara ekonomi dan politik dari Jerman, dengan Jerman berperan sebagai sebuah negara rasis di garis depan dalam seluruh kontinen yang berubah menjadi sebuah ‘police-state’. Polisi dan militer dikirim untuk melawan mereka-mereka yang berusaha memutuskan mata rantai dari lingkaran kemiskinan, perang dan penindasan. Masyarakat penuh dengan penjara. Polisi dan petugas keamanan memaksa para gelandangan keluar dari area perbelanjaan para konsumen, tidak ketinggalan juga memaksa keluar mereka para generasi muda yang marah pada kondisi konsumtif dan kelas borjuis. Pengenalan kembali dengan berbagai fasilitas yang mengarah kepaa sifat konsumtif segera berubah menjadi penjara bagi anak-anak. Usaha untuk mengontrol jumlah populasi dan pengungsi dalam waktu dekat akan dilakukan dengan kartu-kartu sosial dan dikomputerisasi, akan segera diberlakukan. Polisi dipersenjatai untuk melawan gerakan-gerakan penentangan hingga batas akhir. Pengeluaran, represifitas dan pemindahan. Walaupun kesempurnaan manusia yang berarti juga merupakan rekayasa genetik tidak lagi merupakan sesuatu yang tak mungkin. Pengeluaran dan represifitas melalui hilangnya rasa sosial dalam masyarakat akan terjadi baik disini maupun dimanapun juga. Rasisme yang berasal dari bawah mengancam kehidupan jutaan massa, dimana Jerman yang telah mendapat reputasi rasis dalam sejarah akan berkelanjutan membawa masyarakat dengan sikap rasisme ini. Pengeluaran orang-orang yang ditunjuk dari kalangan atas dan agresi melawan mereka dari kalangan bawah adalah ekspresi kebrutalan masyarakat yang terus berkembang dari hari ke hari. Hanya mereka yang tidak berkontradiksi dengan efisiensi dari sistem ekonomi yang merasa diuntungkan dimana segala sesuatu akan dapat digunakan sebagai modal, dapat dikapitalkan dan dijadikan komoditi. Apapun yang berada diluar kepentingan para pemodal tidak akan diberi lahan untuk dapat hidup dan berkembang. Mereka-mereka yang tidak dapat hidup disini dan tak mempunyai lagi keinginan untuk hal tersebut &#8211;dan mereka yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya setiap hari&#8211; berbicara tentang kekosongan sistem yang ada saat ini dan mengenai betapa kerasnya kehidupan di masyarakat.</p>
<p>Dipasarkannya masyarakat dan kekerasan di rumah-rumah dan di jalanan, adalah merupakan kekerasan yang sistematis, kebekuan sosial diantara sesama masyarakat, kekerasan terhadap perempuan &#8211;semuanya adalah ekspresi dari kondisi yang patriarkis dan rasis. RAF selalu berdiri dalam kontradiksi bagi mentalitas terbesar dari segmen masyarakat saat ini. Hal itu adalah merupakan hal yang terpenting dalam proses menuju pembebasan, karena bukan hanya kondisi yang bersifat reaksioner, tetapi karakter orang-orangnyalah yang reaksioner sebagai hasil kondisi yang ada, dan secara berkala hal seperti inilah yang melemahkan kemungkinan-kemungkinan menuju pembebasan.</p>
<p>Tak disangsikan lagi, ini semua mengenai eksistensi untuk melawan dan berjuang melawan rasisme dan segala bentuk penindasan. Garis tegas di masa depan demi pembebasan harus mulai dibuat dan mencakup juga hal-hal ini, harus ditemukan sebuah kunci untuk membuka apa-apa yang selama ini tertutup, kesadaran reaksioner dan dapat membangkitkan hasrat untuk menuju emansipasi dan pembebasan.</p>
<p><strong>Kenyataan Dunia Saat Ini Membuktikan Bahwa Akan Lebih Baik Apabila Gelombang Revolusi Global, Dimana RAF Adalah Merupakan Bagian Dari Hal Tersebut, Dapat Berhasil</strong></p>
<p>Gelombang revolusi global, dimana RAF juga muncul dari adanya tujuan untuk hal tersebut, tidak sukses dimasa lampau, yang tapi bukan berarti bahwa destruktifitas dan ketidak adilan yang semakin mapan hingga saat ini tidak dapat digulingkan. Fakta bahwa kami masih belum melihat jawaban yang untuk hal tersebut yang dapat menggantikan dan menutupi kesalahan-kesalahan yang pernah kami buat. RAF datang dari sebuah gerakan revolusioner dekade lampau yang belum melihat bagaimana sistem ini akan semakin mapan dengan caranya sendiri sekarang ini, tetapi setidaknya ditemukan sebuah ancaman terhadap sistem yang telah ditunjukkan. Kami tahu bahwa sistem ini akan menyisakan semakin sedikit dan semakin sedikit saja orang-orang yang berusaha hidup dengan keyakinan dan harga dirinya. Dan kami juga mengerti bahwa sistem ini mencari akses penuh pada masyarakat sehingga mereka dapat menguasai seluruh sistem yang berlaku dan mengarahkan segalanya demi kepentingan pribadi mereka sendiri. Radikalisme kami berangkat dann berkembang dari kenyataan yang ada. Bagi kami, kami tidak mengalami kerugian apa-apa dari perjuangan kami melawan sistem ini. Perjuangan kami &#8211;dengan kekerasan&#8211; mengalami masa yang penuh dengan kesulitan, mengalami masa yang berat.</p>
<p>Perang pembebasan memiliki bayangannya sendiri juga. Menyerang orang-orang yang berfungsi sebagai abdi negara merupakan kontradiksi bagi pemikiran dan perasaan hampir seluruh para revolusioner di seluruh dunia &#8211;yang bagi mereka merupakan kontradiksi dengan inti dari gerakan pembebasan itu sendiri. Walaupun ada saat dimana fase-fase tersebut yang terdapat dalam proses menuju pembebasan dipandang sebagai sesuatu yang diperlukan, karena masih ada orang-orang yang berada pada posisi penindas mempertahankan kekuatan mereka sendiri dan juga mempertahankan kekuatan sesamanya. Para revolusioner berpendapat bahwa sebuah dunia yang seharusnya adalah sebuah dunia dimana tak seorangpun berhak menentukan siapa saja yang berhak hidup ataupun yang tidak. Meskipun demikian, kekerasan kami telah menmbuat marah beberapa orang dengan cara yang tidak rasional. Teror yang sesungguhnya adalah sesuatu yang normal dalam sistem ekonomi saat ini.</p>
<p><strong>RAF Bukanlah Jawaban Untuk Pembebasan &#8212; Tetapi Merupakan Salah Satu Aspek Dari Hal Tersebut</strong></p>
<p>Walaupun banyak pertanyaan yang tetap tak terjawab hingga hari ini, kami yakin bahwa dari ide-ide pembebasan hingga ke masa depan, benih-benih dari sebuah tatanan masyarakat yang bebas akan terus muncul dan tumbuh, jika hal itu benar-benar mencakup berbagai varietas yang dibutuhkan untuk merubah kondisi-kondisi yang ada saat ini. Sangatlah tidak berguna untuk membicarakan ‘jalan yang benar’, aspek-aspek diluar kehidupan dimana segala sesuatu dianggap tidak efisien, hanya demi mencari sebuah subyek revolusioner. Proyek pembebasan di masa yang akan datang akan ditemukan melalui berbagai amcam subyek dan varietas dari aspek dan kemungkinan-kemungkinan yang ada. Kami membutuhkan sebuah proposal baru dimana individual-individual atau kelompok-kelompok sosial yang terlihat sangat berbeda dapat menjadi subyeknya, dan bisa bergerak bersama-sama. Dalam cara ini, proyek pembebasan dimasa depan tidak membawa konsep-konsep tua yang ditinggalkan oleh Jerman pada tahun 1968, atau konsep yang digunakan oleh RAF maupun organisasi lainnya. Kenikmatan untuk membangun sebuah proyek pembebasan yang meliputi segala aspek, anti-otoritarian, dan dapat menyatukan kita semua tergantung kepada diri kita saat ini, walaupun dengan sedih kami katakan bahwa hal tersebut saat ini sangat jarang ditemui. Kami melihat bahwa orang-orang dimana-mana di seluruh dunia ini yang berjuang demi hal ini, akan menemukan cara setelah mereka mempelajari banyak cara. Kami menggariskan harapan dari fakta yang ada, bahwa dimanapun, walaupun itu di sudut negara yang paling ketat sekalipun &#8211;dimana hegemoni kultural dari kaum fasis mengikat sangat kuat&#8211; masih terdapat orang-orang yang telah berani bergabung bersama melawan rasisme dan neo-nazisme, untuk melindungi diri mereka sendiri beserta yang lainnya dan juga untuk berjuang.</p>
<p>Sangatlah penting untuk menemukan kenyataan bahwa kita semua ada di sebuah jalan buntu dan kita harus menemukan jalan keluar. Maka akan sangat berharga apabila kita mengabaikan hal-hal yang hanya mengarah kepada tingkatan teoritikal saja. Keputusan kami untuk mengakhiri sesuatu adalah juga sebuah ekspresi dari pencarian kami akan jawaban-jawaban yang baru. Kami tahu bahwa kami bergabung bersama banyak sekali orang di seluruh dunia ini dalam pencarian yang sama. Akan terjadi banyak diskusi di masa yang akan datang hingga semua pengalaman akan dibawa bersama dan kami akan memiliki sebuah gambaran yang realistis dan merefleksikan sejarah.</p>
<p>Kami ingin menjadi bagian dari tulang sendi gerakan pembebasan. Kami ingin menjadikan beberapa proses yang telah kami alami dipelajari, dan kami juga ingin mempelajari proses-proses dari yang lain. Hal ini tidak menempatkan akan pentingnya vanguard yang akan memimpin perjuangan. Walaupun konsep sebagai vanguard telah kami hapuskan dari pengertian-pengertian kami selama perjuangan kami bertahun-tahun, konsep lama dari RAF ternyata tidak dapat menghapuskan benar-benar hal tersebut. Hal inilah yang menjadi alasan lain mengapa kami harus memotong konsep ini dari diri kami sendiri.</p>
<p><strong>Gerilya Di Metropolis Telah Membawa Perang Kembali Kedalam Perut Sang Monster, Kepada Negara-Negara Imperialis Yang Membiayai Perang Mereka Diluar Pusat Kekuatan Mereka Sendiri</strong></p>
<p>Mengabaikan segala sesuatu dimana kami dapat melakukannya dengan lebih baik, sangatlah benar secara fundamental untuk melawan kondisi-kondisi di Jerman Barat dan mencari cara yang lebih baik dalam gerakan perlawanan sebagai tindak kelanjutan perlawanan dalam sejarah Jerman. Kami ingin untuk membuka kesempatan yang baik bagi perjuangan revolusioner di metropolis. RAF mengambil lapangan sosial untuk perjuangannya dan berusaha mengembangkannya selama lebih dari dua dekade, sebuah lapangan perjuangan yang secara historis sangatlah jarang ditemui, dengan kurangnya gerakan-gerakan melawan fasisme, dan dimana mayoritas populasi masih merasa perlu untuk memberikan loyalitasnya pada fasisme dan barbarianisme.</p>
<p>Tidak seperti di negeri-negeri lain, di Jerman, pembebasan dari fasisme telah berdatangan dari luar negeri. Tidak ada penentuan sendiri cara melepaskan diri dari fasisme ‘dari bawah’ di negeri ini sendiri. Sangat sedikit sekali orang-orang di negeri ini yang menolak fasisme, terlalu sedikit dibandingkan dengan perkembangan manusianya. Mereka yang berjuang dengan perlawanan dari kaum yahudi, perlawanan dari kaum komunis &#8211;dan dalam apapun bentuk perlawanan anti-fasisme&#8211; ditemukan berjuang disini. Dan mereka akan selalu dapat dibenarkan. Mereka adalah secercah cahaya dalam sejarah negeri ini yang sejak tahun 1933, fasisme mulai membunuh segala aspek sosial masyarakat negeri ini.</p>
<p>Dalam kontrasnya bagi rakyat banyak, trend yang berlaku dalam masyarakat selalu secara kurang lebih menerima apa yang dikatakan oleh mereka yang ada di tampuk kekuasaan; penguasa memutuskan apa yang harus dilegitimasi. Dalam kehancuran nilai sosial dari masyarakat ini, dimana sebuah pra-kondisi telah dimulai oleh pembantaian yang dilakukan oleh kaum Nazi, tidak ada bedanya dengan berbagai momen esensial yang terjadi hingga hari ini. RAF menghancurkan tradisi Jerman setelah fasisme Nazi dan menolak untuk menerima hal tersebut dilegitimasikan. RAF muncul sebagai sebuah kebangkitan melawan hal tersebut. Hal tersebut dilakukan tidak hanya menolak kelanjutan sebagai gerakan nasional dan sosial, tapi lebih diutamakan sebagai perjuangan internasionalis dalam tempat negasi ini, sebuah perjuangan dimana praksisnya menolak kondisi penguasa di negara Jerman dan menyerang struktur militer yang beraliansi dengan NATO. Di seluruh dunia, aliansi ini, yang merupakan struktur hirarkis dari Amerika Serikat, adalah kekuatan yang menggerakkan tanpa pernah ada pertanyaan tentang siapakah sebenarnya yang memimpin, yang kemudian hanya bertujuan untuk memerangi pemberontakan-pemberontakan dan gerakan-gerakan pembebasan dengan cara yang militeristik atau perang.</p>
<p>Gerilya yang dilakukan di metropolis membawa perang &#8211;dimana para imperialis membiayai perang dan membawanya keluar dari titik pusat sentral kekuasaannya&#8211; kembali kedalam perut sang monster. Kami menjawab kondisi kekerasan dengan revolusi yang menggunakan kekerasan juga. Tidaklah mungkin bagi kami untuk melihat kembali kepada cara-cara yang lebih halus dan sempurna dalam sejarah Jerman. Tapi kami berusaha untuk melakukan sesuatu, dan dengan melakukannya kami melangkahi banyak hukum-hukum yang diciptakan oleh penguasa dan memasuki dan melewati batas-batas dari masyarakat borjuis.</p>
<p>RAF tidak mungkin untuk menyediakan jalan menuju pembebasan. Tapi apa yang telah dikontribusikan selama lebih dari dua dekade pada faktanya memberikan banyak masukan dan pemikiran mengenai pembebasan hingga hari ini. Meletakkan sistem sebagai sesuatu yang perlu dipertanyakan &#8211;walaupun masih juga dilegitimasi&#8211; selama masih terdapatnya dominasi dan penindasan diatas kebebasan, emansipasi dan harga diri bagi semua orang di dunia ini.</p>
<p>Masih ada sembilan anggota militan dari perjuangan RAF yang masih mendekam di penjara. Walaupun perjuangan demi pembebasan masih jauh dari titik akhir, konflik-konflik yang ada telah menajdi bagian dari sejarah. Kami mendukung segala usaha dan cara untuk membawa mereka para narapidana konlik tersebut keluar dari penjara.</p>
<p>Saat ini kami ingin menyampaikan salam dan rasa terima kasih bagi semua yang menawarkan solidaritas pada kami di jalan kami untuk selama 28 tahun yang lalu, yang telah mendukung kami dalam berbagai cara, dan bagi yang telah berjuang bersama kami dengan cara yang mereka dapat lakukan. RAF telah memutuskan untuk mengkontribusikan segala perjuangannya demi pembebasan. Intervensi revolusioner di negeri ini dan sejarahnya tidak akan pernah mendapat tempat jika saja banyak orang yang tidak mau berorganisasi dalam tubuh RAF sendiri, dan tidak mengambil bagian bagi diri mereka sendiri pada perjuangan ini. Sebuah jalur yang sama telah tergariskan dibelakang diri kita semua. Kami berharap bahwa kami akan menemukan diri kami bersama lagi dalam masa yang tidak diketahui dalam hembusan nafas pembebasan.</p>
<p>Pemikiran kami ada bersama mereka di seluruh dunia yang kehilangan hidup mereka dalam perjuangan melawan dominasi dan demi pembebasan. Tujuan yang mereka gariskan adalah tujuan dari hari ini dan hari esok &#8211;hingga semua hubungan akan berubah dimana seseorang sebagai obyek rendahan, yang diabaikan akan menjadi sangat dihargai. Sangat menyedihkan saat banyak dari mereka yang telah memberikan hidupnya, tetapi kematian mereka sama sekali tidak dihargai. Mereka telah hidup demi perjuangan dan pembebasan di masa yang akan datang.</p>
<p>Kami tidak akan pernah melupakan kamerad-kamerad kami yang tergabung dalam Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLP) yang kehilangan hidupnya dalam musim gugur tahun 1977 dalam aksi solidaritas internasional, yang bertujuan untuk membebaskan para tahanan dan narapidana politik. Hari ini kami secara spesial ingin memberikan kenangan pada mereka yang telah memutuskan untuk menyerahkan segalanya demi perjuangan bersenjata disini dan telah kehilangan hidupnya. Kenangan kami dan segala respek kami dipersembahkan bagi mereka yang namanyapun kami tidak tahu, karena kami memang tidak mengenal mereka, dan juga bagi&#8230;</p>
<p>Petra Schelm<br />
Georg von Rauch<br />
Thomas Weissbecker<br />
Holger Meins<br />
Katharina Hammerschmidt<br />
Ulrich Wessel<br />
Siegfried Hausner<br />
Werner Sauber<br />
Brigitte Kuhlmann<br />
Wilfried Bose<br />
Ulrike Meinhof<br />
Jan-Carl Raspe<br />
Gudrun Ensslin<br />
Andreas Baader<br />
Ingrid Schubert<br />
Willi-Peter Stoll<br />
Michael Knoll<br />
Elisabeth van Dyck<br />
Juliane Plambeck<br />
Wolfgang Beer<br />
Sigurd Debus<br />
Johannes Timme<br />
Jurgen Peemoeller<br />
Ina Siepmann<br />
Gerd Albartus<br />
Wolfgang Grams</p>
<p><strong><em>Revolusi berkata&#8230; dulu Aku&#8230; sekarang Aku&#8230; dan Aku akan muncul kembali&#8230;</em></p>
<p>Red Army Fraction<br />
Maret 1998  </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2006/05/22/statement-final-mengenai-bubarnya-red-army-fraction-%e2%80%98baader-meinhof%e2%80%99/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Komunisme Primitif Hingga Komunisme Libertarian</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2006/05/22/dari-komunisme-primitif-hingga-komunisme-libertarian/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2006/05/22/dari-komunisme-primitif-hingga-komunisme-libertarian/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 May 2006 13:27:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anarki Komunisme]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/v2/2006/05/22/dari-komunisme-primitif-hingga-komunisme-libertarian/</guid>
		<description><![CDATA[KOMUNISME, bagi banyak orang, merupakan kata yang memiliki implikasi negatif. Hingga akhir abad ke-20 ini, komunisme diasosiasikan dengan Rusia atau Uni Soviet, sebuah negara yang sama sekali bukan negara sosialis maupun komunis, melainkan suatu bentuk kapitalisme negara yang amat totaliter dan kejam.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>KOMUNISME, bagi banyak orang, merupakan kata yang memiliki implikasi negatif. Hingga akhir abad ke-20 ini, komunisme diasosiasikan dengan Rusia atau Uni Soviet, sebuah negara yang sama sekali bukan negara sosialis maupun komunis, melainkan suatu bentuk kapitalisme negara yang amat totaliter dan kejam. Kaum sosialis sejati maupun komunis libertarian memiliki tugas yang berat untuk menunjukkan bahwa komunisme maupun sosialisme sama sekali tidak pernah terdapat di negara-negara seperti Uni Soviet, Kuba atau bahkan Yugoslavia. Mereka juga harus menerangkan bahwa komunisme, dalam bentuknya yang primitif, pernah ada sebagai suatu bentuk masyarakat, dalam jangka waktu yang panjang &#8211;hingga dua juta tahun atau lebih&#8211; sejak munculnya manusia di bumi.</p>
<p><span id="more-76"></span>Sejak lenyapnya komunisme primitif, dan timbulnya masyarakat yang mengakui kepemilikan pribadi &#8211;pertama perbudakan, kemudian feodalisme dan terakhir kapitalisme&#8211; <em>&#8220;kantung-kantung&#8221;</em> komunisme kerakyatan bertahan hingga masa baru-baru ini. Kelompok komunis kecil telah dibentuk, sering kali oleh <em>&#8220;intelektual&#8221;</em> borjuis maupun borjuis-kecil, dengan berbagai tingkat keberhasilan. Namun sepanjang masa, ide mengenai komunisme, yang biasanya memiliki kecenderungan utopis atau anti-teknologi, tumbuh &#8211;dan kadang kala dikembangkan&#8211; oleh kelompok-kelompok kecil yang idealis. Baru setelah pertengahan abad ke-19, individu dan kelompok politik menyarankan suatu bentuk komunisme yang baru dan maju sebagai masyarakat yang akan menggantikan kapitalisme; suatu masyarakat yang lebih &#8220;tinggi&#8221;, memajukan kepentingan orang banyak, bukan hanya sekelompok kecil kelas seperti kapitalisme; dan yang terpenting, akan timbul dari sebagian terbesar rakyat &#8211;kaum buruh&#8211; melalui suatu revolusi sosial. Beberapa tokoh komunisme modern, terutama dalam dekade-dekade awal abad ke-19 dianggap sebagai komunis &#8220;utopis&#8221;; yang lain, para pengikut Marx dan Engels, menyebut dirinya &#8220;komunis ilmiah&#8221;, namun mereka dituduh sebagai &#8220;komunis otoriter&#8221; oleh lawan-lawan anarkis mereka, yang dalam banyak kesempatan, berusaha menumbuhkan suatu bentuk sosialisme atau kolektivisme non-otoriter, yang kemudian muncul sebagai komunisme libertarian.</p>
<p><strong>Komunisme Primitif</strong></p>
<p>Ciri-ciri utama keprimitifan adalah ketergantungan pada sumber-sumber makanan &#8220;liar&#8221;, dengan segala keterbatasannya. Masyarakat primitif sering kali mengalami malnutrisi dan dihantui kelaparan. Komunitas-komunitas berukuran kecil. Hanya pada saat-saat tertentu sajalah terdapat cukup banyak makanan. Namun, bentuk kehidupan tersebut mendorong tumbuhnya kode etik yang amat sederhana. &#8220;Kepemilikan pribadi&#8221;, demikian Grahame Clark dalam Dari Perbudakan ke Peradaban (From Savagery to Civilisation), <em>&#8220;&#8230;terbatas pada benda-benda seperti senjata, tongkat untuk menggali, kantung dan benda-benda kecil lainnya, meskipun dalam pembagian daging, misalnya, bagian tiap orang didefinisikn secara sosial. Hak-hak komunal berlaku pada seluruh wilayah tempat pencarian makanan, tempat anggota masyarakat berkelana, dan batas-batas wilayah kelompok lain.&#8221;</em> Menurut Peter Kropotkin, &#8220;Dalam kelompok, segalanya dibagi bersama-sama, semua potong makanan dibagikan untuk semua yang ada, dan jika seseorang berada di dalam hutan, ia tidak akan mulai makan sebelum tiga kali memanggil rekan-rekan yang mungkin mendengarnya untuk membagi makanannya.&#8221; &#8220;Singkatnya&#8221;, lanjut Kropotkin, <em>&#8220;&#8230;dalam kelompok, aturan &#8217;segalanya untuk semua&#8217; merupakan aturan tertinggi, selama belum ada masyarakat yang berkelompok berdasar pada keluarga, yang memecahkan persatuan kelompok itu&#8221;</em> (Mutual Aid).</p>
<p>Mengenai komunisme primitif, Paul Lafargue dalam Evolusi Kepemilikan dari Perbudakan Hingga Peradaban (Evolution of Property from Savagery to Civilisation) berkomentar: &#8220;Jika manusia primitif tidak mampu membayangkan ide kepemilikan pribadi terhadap benda-benda yang tidak langsung berkaitan dengan dirinya, itu karena ia tidak memiliki konsepsi mengenai individualitasnya secara terpisah dari kelompok masyarakatnya. Manusia primitif dikelilingi bahaya yang terus mengancamnya, yang konkrit, dan ia dicemaskan oleh ancaman-ancaman yang ia bayangkan, sehingga ia tidak dapat hidup sendiri: ia bahkan tidak dapat membayangkan kemungkinan terjadinya hal tersebut. Bila manusia primitif dibuang dari masyarakatnya, sama sajalah dengan membunuhnya; …untuk berpisah dari rekan-rekannya,untuk hidup sendiri, menakutkan bagi manusia primitif, yang biasa hidup dalam kelompok…perburuan dan penangkapan ikan, mode-mode produksi primitif, dilakukan secara bersama-sama, dan hasilnya dinikmati bersama…&#8221;.</p>
<p>Ketika manusia primitif tidak lagi hidup secara berpindah-pindah, dan mulai membangun tempat tinggal yang permanen atau semi-permanen, bangunan rumah tersebut biasanya bukanlah rumah pribadi seperti kita kenal sekarang ini, melainkan dihuni bersama-sama. Dalam rumah-rumah seperti itu, barang-barang yang ada dipakai dan dimiliki bersama. Pada masa yang lebih belakangan (dalam beberapa masyarakat asli Amerika), Lewis H. Morgan mengamati: &#8220;Keluarga syndasmian merupakan ciri-ciri khusus. Beberapa keluarga tersebut tinggal di satu rumah, mendirikan rumah tangga komunal, dan di dalamnya melaksanakan prinsip-prinsip komunisme&#8221; (Masyarakat Kuno). Pengamatan Morgan ini dilakukan pada kaum Iroquis, yang pernah hidup bersamanya. Kemudian, dengan timbulnya keluarga patriarkis, rumah tangga menjadi milik keluarga tunggal. Namun, dalam masa ini, tanah tetap dimiliki secara bersama-sama.</p>
<p>Tetapi, lanjut Lafargue, &#8220;Perlahan-lahan pemikiran mengenai kepemilikan pribadi, mulai timbul dalam pikiran manusia. Manusia mengalami proses perkembangan yang lama dan menyakitkan hingga mencapai kepemilikan tanah secara pribadi. Bahkan, pembagian tanah yang paling awal adalah pembagian untuk lahan dan wilayah berburu untuk seluruh kelompok. Perkembangan pertanian menjadi sebab utama pembagian tanah bersama, kadang kala menjadi lahan-lahan kecil, kadang-kadang bersifat permanen, namun lazimnya tahunan. Lafargue mencatat bahwa umumnya &#8220;kepemilikan tanah pada awal-awalnya berada pada kaum perempuan&#8221;. Dan, tentang peran permpuan dalam komunisme primitif, Frederick Engels menulis, &#8220;Rumah tangga komunis berarti supremasi perempuan di rumah, sebagaimana pengakuan eksklusif terhadap orang tua perempuan &#8211;karena tidak mungkinnya mengenali orang tua laki-laki secara pasti&#8211; memberikan posisi yang tinggi kepada ibu atau perempuan. Salah satu anggapan yang paling absurd yang berasal dari Zaman Pencerahan di abad ke-18 adalah bahwa pada awal peradaban, perempuan merupakan budak laki-laki. Dalam semua masyarakat primitif pada tingkat rendah dan menengah, bahkan hingga sebagian masyarakat berperadaban tinggi, posisi perempuan tidak saja bebas, namun dihargai pula&#8221;. (Asal-Usul Keluarga, Hak Milik Pribadi dan Negara). Dan Lafargue mencatat bahwa &#8220;Kepemilikan tanah, yang pada akhirnya memberikan pemiliknya suatu cara emansipasi dan supremasi sosial, pada awalnya merupakan penyebab penindasan; perempuan disingkirkan untuk melakukan pekerjaan kasar di ladang, hingga mereka terbebaskan oleh adanya buruh kasar. Pertanian, yang mendorong kepemilikan pribadi atas tanah, menciptakan buruh kasar yang selama berabad-abad dikenal sebagai budak, pekerja paksa dan pegawai&#8221;.</p>
<p>Singkatnya, menurut Engels, &#8220;Pada semua tahap-tahapan awal masyarakat, produksi pada hakekatnya merupakan kegiatan bersama, sebagaimana konsumsi bergantung pada distribusi langsung produk-produk dalam komunitas komunis kecil atau besar. Produksi kolektif ini sangat terbatas, namun inheren di dalamnya adalah kontrol para produsen terhadap proses produksi dan produknya. Mereka tahu apa yang dilakukan terhadap produknya: mereka mengkonsumsinya; produk-produk tidak meninggalkan tangan mereka. Dan selama produksi berlangsung demikian, produksi tak dapat meningkat amat pesat, ataupun menumbuhkan kekuasaan dari luar terhadap mereka, seperti selalu terdapat dalam peradaban.&#8221;</p>
<p>Singkatnya, itulah Komunisme Primitif.</p>
<p><strong>Komunisme Utopis</strong></p>
<p>Gejala komunisme utopis atau komunisme yang mengidamkan masa lampau dapat ditemukan sejak revolusi budak pada tahun 71 SM. Spartakus dikatakan berkata, &#8220;Apapun yang kita ambil, kita miliki bersama-sama, dan tidak ada yang boleh memiliki apapun selain senjata dan pakaiannya. Kita akan berlaku seperti manusia di masa lampau.&#8221; (Spartacus, oleh Howard Fast).</p>
<p>Kebencian kelas dan suatu bentuk komunisme utopis dijalankan oleh banyak kaum Kristen Purba, yang pada masa itu sebagian besar terdiri dari kaum plebeia atau bekas budak. Kisah Para Rasul menunjukkan bahwa &#8220;…semua memiliki segalanya bersama-sama&#8221;. Dan dalam khotbah kesebelas dalam kitab tersebut, dikatakan, &#8220;Terberkatilah mereka, karena tidak seorang pun dari mereka berkekurangan, dan karena mereka memberi dengan ikhlas, tak seorang pun dari mereka miskin. Mereka tidak memberikan sebagian milik mereka; mereka memberikan semuanya… Apa yang diperlukan seseorang diperoleh dari milik bersama, bukan dari milik pribadi salah seorang dari mereka. Maka mereka yang berderma tidak menjadi sombong… Semua memberikan semua yang mereka miliki menjadi milik bersama…&#8221; Dalam tulisannya, Pondasi Kekristenan (Foundations of Christianity), Karl Kautsky berkomentar bahwa dalam Injil St. Yohanes, kehidupan komunis Yesus dan para rasulnya diterima sebagai suatu fakta yang biasa. Namun komunisme ini utamanya hanya dalam konsumsi. Kaum Yahudi Esseni juga mempraktikkan komunisme serupa. Komunisme Kristiani segera berkurang dan hilang. &#8220;Penerimaan perbudakan, juga meningkatnya pembatasan untuk makan bersama dalam komunitas, bukan sebab satu-satunya halangan bagi komunitas Kristiani untuk mengefektifkan tendensi komunisnya&#8221;, tulis Kautsky. Kaum simpatisan yang kaya bergabung dengan Gereja, uang menjadi penting, terjadilah konsesi-konsesi peraturan, dan mereka yang kaya menemukan kunci Surga &#8211;dengan harga tertentu! Singkatnya, menurut Kautsky, &#8220;Para kaisar Roma tunduk kepada komunitas Kristiani, bukan komunisme Kristiani. Kemenangan Kristianitas bukanlah kediktatoran proletariat, namun kediktatoran para tuan yang menjadi besar dalam masyarakatnya. Para pejuang dan martir komunitas awal, yang telah membaktikan miliknya, kerja-kerja mereka, bahkan jiwa mereka demi keselamatan mereka yang miskin dan menderita, hanyalah memberikan dasar untuk suatu penindasan dan eksploitasi yang baru&#8221;. Namun, pemikiran dan ideal komunisme tidak sama sekali hilang, bahkan dari Gereja Kristiani.</p>
<p>Komunisme kadang kala timbul dalam masa yang dikenal sebagai Abad Pertengahan. Ini sering kali dikenal sebagai &#8220;komunisme agraria&#8221;; namun sebagaimana ditunjukkan Frank Ridley dalam Tradisi Revolusioner di Inggris (The Revolutionary Tradition of England), &#8220;Komunisme dalam Abad Pertengahan pada hakekatnya adalah komunisme religius: yang mengambil bentuk pelanggaran tradisi dan hirarki agama yang baku, baik di Barat maupun di Timur… ia merupakan salah satu kekuatan utama yang mendorong revolusi sosial selama masa tersebut. Para propagandisnya yang tak kenal lelah merupakan para murtad, dari dunia bawah tanah yang tak terkenal, yang selalu bergolak di bawah permukaan masyarakat Abad Pertengahan.&#8221; Komunisme ini, tentu saja, dari kondisi masa itu, merupakan komunisme konsumsi agraria, dan bukan komunisme produksi industrial modern. Ia juga religius, maka juga merupakan komunisme yang memandang-ke-belakang. Tapi kalau tidak begitu, lantas apa lagi yang bisa menjadi contoh? Semua komunisme dan revolusi yang bertujuan komunisme sebelum Revolusi Industri selalu memandang ke belakang sebagai modelnya. Namun satu contoh menarik adalah komunisme John Ball dan para petani penggarap yang ikut serta dalam revolusi besar-besaran pada tahun 1381.</p>
<p>Tulisan ini tidak membahas lebih lanjut sebab-sebab revolusi tersebut, yang mencakup Perang Seratus Tahun, kekurangan tenaga kerja penggarap karena wabah pes, penderitaan para penggarap dan propaganda komunis religius-agraria dari para Lollard.</p>
<p>Sebelum revolusi besar tersebut, seorang pastor, yang berbasis di Colchester, bernama John Ball, berkeliling negeri, dan berbicara kepada orang-orang di manapun mereka berkumpul. Ball mungkin &#8220;agitator&#8221; komunis pertama. Khotbahnya merupakan syair, &#8220;Ketika Adam mencari-cari dan Hawa berjalan, Siapakah sang tuan?&#8221; Setelah dibebaskan dari penjara Rochester, Ball berbicara dalam sebuah pertemuan penggarap di Blackheath, pada tanggal 12 Juni 1381. Apa yang ia katakan tidak diketahui secara tepat, namun Charles Poulson dalam Episode Inggris (English Episode) dan William Morris dalam Sebuah Mimpi John Ball (A Dream of John Ball) memberikan gambaran demikian. Demikian John Ball, menurut Poulson: <em>&#8220;…Pada awalnya semua manusia setara, semuanya saudara. Mengapa ada orang yang berkata &#8216;Aku lebih mulia daripada kamu&#8217;? Mengapa seseorang bekerja sepanjang hari di ladang, dan masih tak dapat memberi makan anak-anaknya, sedangkan seorang lain mengambil kehidupan dari kaum miskin dan menjadikannya jubah bermutiara untuk punggungnya?…Aku katakan kepada kalian, meskipun penuh dengan kebanggaan, pakaian yang indah, tangan yang bersih dan wewangian, Kebangsawanan itu jahat… Dan sebenarnya inilah waktu untuk berseru. Aku melihat kalian di depanku, wahai saudaraku, dan tidak seorangpun dari kalian tidak bekerja sepanjang hidup kalian, dari terbitnya sang surya hingga tenggelamnya. Dan kalian kini mengenakan gombal sebagai pakaian. Gabah dan ternak kalian gemukkan, tapi kalian kurus kering. Segenggam kacang saja, makanan kalian hari ini. Semua yang kalian rawat, semua yang kalian buat dan bangun, diambil dari kalian. Denda ini, pajak itu, dan tenaga kalian. Tuan kalian yang mulia menghisap darah kalian seperti vampir. Tidakkah kalian akan makmur dan bahagia, bila tidak ada yang diambil dari kalian? Maka aku berkata, saudaraku, mari kita beri makan anak-anak kita di muka para tuan. Mari kita hentikan perampokan ini.&#8221;</em><br />
Dan menurut Morris, Ball berkata demikian: <em>&#8220;…terlalu banyak orang kaya di daerah ini; bahkan bila hanya ada satu orang kaya pun, masih terlalu banyak, karena semua akan dikuasainya… Dan bila para tuan tersebut telah tiada, apa yang berkurang dalam diri kalian? Kalian tak akan kehilangan ladang yang kalian bajak, tidak pula rumah yang kalian bangun, bukan juga pakaian yang kalian tenun: semuanya akan menjadi milik kalian, dan semua yang diberikan bumi menjadi milik bersama; ia yang menyemai akan menuai, dan si penuai akan makan bersama dalam persaudaraan… tak seorangpun harus membajak ladang seorang lainnya…&#8221;</em></p>
<p>Pada kesempatan lain, Ball menyatakan bahwa, <em>&#8220;Keadaan Inggris tak akan menjadi baik, dan tak akan pernah demikian, hingga semua menjadi milik bersama&#8221;</em> (Lihat A People&#8217;s History of England, oleh A.L. Morton). Pandangan serupa tumbuh di tempat lain di Eropa, terutama di kalangan Jacquerie di Perancis sekitar empat puluh tahun sebelumnya. Di Inggris, pandangan ini kemudian terkubur selama berabad-abad. Barulah pada &#8220;Pemberontakan Besar&#8221; &#8211;Revolusi Inggris&#8211; pada abad ke-17 kita menemukan kembali ide dan eksperimen komunisme.</p>
<p>Pemikiran komunisme utopis diterima pada kalangan &#8220;Perata&#8221; (Levellers), namun pada saat itu komunisme belum diterima di kalangan warga kota, yang belum memiliki proletariat industrial. Dalam Cromwell dan Komunisme (Cromwell and Communism), Eduard Berstein berkata, &#8220;Rencana-rencana komunisme paling-paling hanya bisa menarik kaum pekerja pedesaan pada saat-saat tertentu. Bahkan, dalam Pemberontakan Besar, tidak sekalipun terdapat gerakan kelas independen pada kaum buruh perkotaan, meskipun pada puncak gerakan tersebut terdapat beberapa usaha pemberontakan komunisme agraria.&#8221;</p>
<p>Seorang rekan John Liburne, bernama William Walwyn, menyerang ‘ketidaksetaraaan pembagian benda-benda dalam kehidupan’, dan mengklaim, seperti John Ball sebelumnya, bahwa &#8220;dunia tak akan pernah menjadi baik hingga semuanya dimiliki bersama&#8221;. Dan terhadap penentang komunisme, ia berkomentar, &#8220;Nanti kebutuhan kita akan pemerintahan akan berkurang, karena tidak akan ada lagi pencuri, pengingin milik orang lain, penipu dan perlakuan buruk satu terhadap yang lain, maka pemerintah tidak akan diperlukan lagi.&#8221; William Walwyn tampaknya anarkis-komunis pertama di Inggris! Terdapat pula lainnya yang menyarankan pemikiran serupa, sering kali dengan mengutip dari Kitab Suci Kristiani.</p>
<p>Dan ada pula yang mengkonkritkan pemikirannya dalam praksis. Di antaranya terdapat &#8220;Perata yang Benar&#8221; (True Levellers) seperti mereka menyebut dirinya, atau &#8220;para penggali&#8221; sebagaimana dikatakan orang-orang lainnya.</p>
<p>Pada hari Minggu, tanggal 8 April 1649, tiba-tiba di dekat Cobham di Surrey, muncul sekelompok orang yang membawa sekop, yang mulai menggali lahan tidur di samping bukit St. George. Mereka bertujuan menanam gandum dan tanaman lainnya. Mereka menerangkan kepada warga sekelilingnya bahwa jumlah mereka pada saat itu masih kecil, namun akan segera meningkat menjadi empat ribu orang. Mereka menyarankan bahwa &#8220;rakyat biasa seharusnya bisa menggali, membajak, menanam dan berdian di tanah milik bersama tanpa menyewa atau membayar biaya apapun&#8221;. Setelah mereka mendirikan tenda, mengolah tanah dan bersiap-siap untuk menggali di bukit lainnya, juga untuk ditanami (jumlah mereka kini sekitar 50 orang), mereka diserang tentara dan banyak yang ditangkap. Winstanley, pemimpin mereka, diadili. Tidak seorang pun dari para &#8220;penggali&#8221; siap untuk mempertahankan diri mereka dengan kekerasan. Hampir semua didenda tinggi. Kemudian, mereka berusaha lagi untuk mengambil alih lahan tidur lainnya, namun mereka ditangkap lagi &#8211;dan didenda lagi. Mereka juga menerbitkan pamflet, yang beberapa di antaranya &#8220;ditulis dalam bahasa yang rumit&#8221;, yang dikatakan Bernstein sebagai &#8220;tabir untuk menyembunyikan rencana revolusioner para penulisnya&#8221;. Salah satu pamflet tersebut menyatakan bahwa &#8220;pada awal mula, Sang Pencipta menjadikan bumi milik bersama&#8221;. Mereka juga menggubah sebuah &#8220;Lagu Penggali&#8221; dengan isi serupa.</p>
<p>Pada wahun 1651, Gerrard Winstanley menulis The Law of Freedom on a platform yang di dalamnya ia tulis: Tidakkah jual beli hak yang sah dalam hukum? Tidak, itu merupakan hukum sang penakluk, namun bukan hukum sang Pencipta: bagaimana sesuatu yang salah bisa menjadi benar?… Ketika manusia memulai jual beli, ia kehilangan kesuciannya, karena pada saat itu ia mulai menindas dan menipu satu sama lain dari hak-hak mereka yang sah.&#8221;</p>
<p>Ia melanjutkan bahwa meskipun tanah negara dan gereja seharusnya digunakan bersama, kenyataannya tanah-tanah ini dirampas oleh para perwira dan berbagai macam spekulator. Ia mengatakan bahwa seharusnya tiada lagi orang kaya maupun orang miskin; tidak ada lagi ketidaksetaraan; seluruh &#8220;tanah dan gudang makanan menjadi milik bersama&#8221;; tidak ada lagi jual beli dan terakhir, tidak ada lagi profesi di bidang hukum. Namun, Winstanley tidak menentang organisasi &#8220;Semua pejabat dalam peradilan bersama yang benar harus dipilih. Setiap tahun harus dipilih pejabat baru untuk menggantikan yang lama&#8221;. &#8220;Ketika masa jabatan lama&#8221;, demikian menurutnya, &#8220;mereka menjadi busuk&#8221;. Bahkan, kelompok &#8220;Perata yang Benar&#8221; ini memiliki sebuah platform yang penuh dengan &#8220;pasal&#8221; dan &#8220;klausa&#8221;! Utopis, memang kelompok &#8220;Perata&#8221; ini, namun paling tidak pemikiran dan organisasi mereka lebih maju dan praktis daripada beberapa anarkis &#8220;modern&#8221;! Lebih lagi, hanya sedikit komunis utopis pada masa itu merupakan pasifis. Di dalam angkatan perang Cromwell, terjadi sejumlah pemberontakan mulai dari tahun 1647. Sayangnya, gerakan-gerakan pada masa itu tampaknya kemudian berkembang (atau menyusut) menjadi Quakerisme (yang memiliki ciri religius yang amat kuat) dan kecenderungan perulangan.</p>
<p><strong>Marxisme</strong></p>
<p>Masyarakat pada tahap awal pra-peradaban adalah komunis primitif. Namun beberapa ribu tahun lalu, sejak pengolahan tanah dan surplus produksi yang terjadi, perbedaan kelas menjadi tampak. Peperangan mulai diorganisir; suatu Negara yang represif timbul. Tawanan perang sering kali dipaksa untuk mengolah tanah atau membangun kuil-kuil dan piramid untuk tuan-tuan mereka yang baru. Demikianlah imperium budak pada masa lampau. Kekayaan cenderung terakumulasi pada beberapa orang kaya. Keruntuhan imperium budak yang terakhir &#8211;Imperium Romanum yang telah dekaden&#8211; mengawali suatu masa baru. Sekitar seribu tahun lalu, di Eropa dan berbagai tempat lain, suatu bentuk baru masyarakat berkepemilikan dan suatu bentuk baru perbudakan, secara bertahap timbul. Masyarakat ini disebut feodalisme. Si budak kini menjadi penggarap. Tuannya memiliki tanah, dan si penggarap mengerjakan tanah tuannya, memperkaya sang tuan, dan sebagai balas jasa ia boleh menggarap sedikit tanah untuk dirinya sendiri. Ia hanya mendapatkan sedikit untuk hidup, biasanya, bahkan kurang. &#8220;Diperlukan beberapa ribu tahun perbudakan untuk menyiapkan jalan menuju feodalisme. Dan kemudian diperlukan beberapa abad feodalisme untuk menyiapkan jalan menuju suatu bentuk masyarakat baru &#8211;kapitalisme&#8211; yang benihnya telah tumbuh dalam masyarakat feodal&#8221; (Socialist Manifesto, S.P. of C).</p>
<p>Kekayaan dan kekuasaan warga kota, paling tidak sebagian dari mereka, meningkat, dan kekayaan serta kemakmuran kaum bangsawan pemilik tanah menurun. Kaum bangsawan menjadi semata-mata parasit bagi masyarakat. Tuan-tuan baru dalam masyarakat &#8211;setelah perjuangan yang panjang, kemunduran dan pula revolusi&#8211; adalah para penduduk kota yang kemudian dikenal sebagai borjuasi. Perdagangan dan pertukaran meningkat. &#8220;Begitu terbebas dari kekangan feodalisme, gerak maju kapitalisme menjadi suatu pacuan yang gila. Di manapun, pabrik dan tanur tumbuh. Asap dan bau mereka mengubah lahan-lahan yang semula subur dan berpenduduk padat menjadi tanah-tanah miskin yang tak dapat dihuni; limbah mereka meracuni dan mencemari sungai-sungai hingga mereka berbau busuk ke langit…&#8221; (Socialist Manifesto).</p>
<p>Suatu kondisi baru perbudakan menggantikan feodalisme. Kaum sosialis, baik Marxis maupun non-Marxis menyebutnya &#8220;perbudakan-demi-upah&#8221;. Mantan penggarap, dan kadang kala, petani bebas, digusur dari tanah mereka dan digiring menuju kota-kota, tempat mereka terpaksa (karena bila mereka menolak, mereka terancam kelaparan &#8211;dan memang demikianlah adanya!) untuk bekerja di pabrik-pabrik dan tambang-tambang milik tuan-tuan mereka yang baru, kaum borjuis, para pemilik modal &#8211;para kapitalis. Para buruh itu menciptakan, sebagaimana para budak dan penggarap, surplus produksi untuk para tuan, jauh di atas apa yang mereka perlukan untuk dapat bertahan hidup. Kapitalisme, sebagai suatu masyarakat, berdasar pada upah kerja dan modal.</p>
<p>Dengan perkembangan kapitalisme, para ekonom dan lainnya, termasuk reformis sosial dan &#8220;intelektual&#8221; sosialis utopis mulai menganalisis masyarakat yang baru berkembang ini. Suatu alur pemikiran baru mulai timbul, yang membahas sifat-sifat kapitalisme. Utamanya, sejak tahun 1844, pemikiran ini diasosiasikan dengan dua orang Jerman, yang telah bertahun-tahun hidup di Inggris, yang pada masa itu merupakan negara yang kapitalismenya paling maju. Mereka adalah Karl Marx dan Frederick Engels &#8211;meskipun mereka mengakui hutang pemikiran mereka kepada ekonom dan filsuf yang telah ada, baik Marx maupun Engels sangat keras menentang apa yang mereka anggap sebagai sosialisme dan komunisme yang &#8220;tidak ilmiah&#8221;, juga terhadap mereka yang menyebut dirinya &#8220;Sosialis Sejati&#8221;.</p>
<p>Hingga tahun 1845, Engels masih terpengaruh pemikiran komunis utopis. Pada paragraf terakhir dalam Kondisi Kelas Buruh di Inggris (The Condition of the Working Class in England), pada tahun 1844 ia menulis &#8220;Komunisme pada prinsipnya melampaui batasan antara borjuasi dan proletariat… Komunisme merupakan masalah kemanusiaan, dan bukan hanya masalah para buruh saja… Dan sebagaimana komunisme mengatasi pertikaian antara borjuis dan proletar, akan lebih mudah bagi elemen-elemen yang lebih baik dari dalam borjuasi… untuk bergabung dengannya…&#8221; Namun pada tahun 1847, ketika ia merancang Prinsip-Prinsip Komunisme (Principles of Communism) &#8212; yaitu draft pertama Manifesto Komunis yang terkenal itu &#8211;Engels memulai dengan menyatakan bahwa &#8220;Komunisme merupakan doktrin mengenai kondisi terbebasnya proletariat&#8221;. Dalam Prinsip-Prinsip Komunisme, Engels menyatakan bahwa kaum buruh tidak memiliki apapun dan terpaksa menjual kerja mereka kepada borjuis; namun kemudian setelah Marx mempelajari moda produksi kapitalis, ia menyataan bahwa buruh tidak menjual kerja mereka, melainkan tenaga mereka, kemampuan mereka untuk bekerja.</p>
<p>Pada tahun 1845, Marx menulis Ideologi Jerman (German Ideology), yang antara lain membahas dan menyerang pikiran para pemikir idealis Jerman, dan pada bagian kedua buku itu, para sosialis &#8220;sejati&#8221; dan komunis utopis seperti Saint-Simon, Fourier dan Proudhon. Ia juga menyerang Proudhon dalam Kemiskinan Filsafat (Poverty of Philosophy). Namun, buku &#8220;klasik&#8221; pertama dari komunisme &#8220;ilmiah&#8221; &#8211;yang kemudian dikenal pula dengan komunisme otoriter&#8211; tentu saja adalah Manifesto Komunis. Untuk seterusnya, buku ini tetap menjadi pegangan utama, meskipun Engels menulis dalam prakatanya untuk tahun 1872 bahwa bagian-bagian tertentu dari program &#8220;dalam beberapa hal telah ketinggalan zaman&#8221;.</p>
<p>Manifesto Komunis bermula dengan menyatakan bahwa &#8220;Suatu hantu sedang menjadi momok Eropa &#8211;ialah hantu Komunisme&#8221;. Sejarah semua masyarakat yang telah dan pernah ada, menurutnya, adalah sejarah perjuangan kelas. Namun masyarakat kita kini &#8211;kapitalisme&#8211; telah menyederhanakan permusuhan kelas. &#8220;Semua masyarakat kini terbagi menjadi dua pihak yang bertentangan, dua kelas besar yang saling bermusuhan: borjuasi dan proletariat.&#8221;, demikian Manifesto. Marx dan Engels, dalam Manifesto (yang pertama kali terbit pada tahun 1848) secara terbuka menunjukkan perbedaan mereka dengan kaum utopis dan sosialis &#8220;sejati&#8221;, dengan menyatakan bahwa kaum proletarlah &#8211;meskipun melalui Partai Komunis&#8211; yang akan meruntuhkan masyarakat borjuis. Menurut Manifesto, &#8220;Semua gerakan sejarah yang telah ada merupakan gerakan minoritas, atau memajukan kepentingan minoritas. Gerakan kaum proletar merupakan gerakan yang sadar dari mayoritas, demi kepentingan mayoritas&#8221;. Ini patut dicatat karena banyak dari mereka yang mengaku Marxis pada masa kini dan semua Leninis menganut garis &#8220;partai pelopor&#8221;. Marx dan Engels menekankan bahwa kaum buruh tidak memiliki negara. Dalam hal apapun mereka dapat dianggap tidak memiliki apapun. Patut dicatat bahwa pada tahun 1848 dan untuk seterusnya, Marx dan Engels menggabungkan propaganda mereka tentang komunisme dengan suatu daftar kondisi-kondisi yang harus direformasi. Seperti banyak yang lain, mereka merasa bahwa mereka dapat menyarankan penghapusan masyarakat borjuis sekaligus pada saat yang sama melakukan &#8220;reformasi&#8221; pada masyarakat yang sama! Manifesto, antara lain menuntut pajak pendapatan progresif yang tinggi, penghapusan hak waris, penyitaan hak milik imigran dan pemberontak, pemusatan kredit pada negara, pemusatan alat-alat transportasi pada negara, organisasi angkatan perang modern dan pendidikan masyarakat yang gratis. Dengan kata lain: kapitalisme-negara!</p>
<p>Pandangan mereka mengenai komunisme di masa depan, terangkum demikian: &#8220;Ketika dalam perkembangannya perbedaan kelas telah lenyap, dan seluruh produksi terkonsentrasi pada individu-individu yang terkait, kekuasaan publik akan kehilangan sifat politiknya. Kekuasaan politik, secara spesifik, merupakan kekuasaan suatu kelas yang diorganisir untuk menindas kelas lainnya. Jika proletariat, yang dipaksa dalam perjuangannya melawan borjuasi untuk mengorganisir diri sebagai suatu kelas, menjadikan dirinya suatu kelas penguasa melalui revolusi, dan sebagai kelas penguasa menghancurkan kondisi-kondisi produksi yang telah usang; ia menghancurkan bersama kondisi-kondisi tersebut, kondisi-kondisi antagonisme kelas, kelas-kelas pada umumnya, dan dengan demikian, dominasinya sebagai sebuah kelas.</p>
<p>Sebagai ganti masyarakat borjuis yang usang, dengan kelas dan pertentangan kelasnya, suatu hubungan kemasyarakatan muncul, yang dalamnya perkembangan bebas anggota-anggotanya merupakan syarat perkembangan bebas bagi seluruh masyarakat tersebut.&#8221;</p>
<p>Manifesto Komunis diakhiri dengan kalimat &#8220;Kaum buruh di seluruh dunia, bersatulah&#8221; yang kini terkenal itu.</p>
<p>Dalam makalahnya yang ditujukan untuk Sidang Umum Internasional Pertama (yang kemudian diterbitkan sebagai Nilai, Harga, dan Keuntungan (Value, Price and Profit), bukan Upah, Harga, dan Keuntungan (Wages, Price and Profit), seperti seringkali dikatakan, terutama di Rusia), Marx menyerukan kepada kelas buruh untuk menghapuskan sistem upah, sebagai tujuan jangka panjang, dan bukan dalam waktu dekat. Ini terjadi pada tahun 1865. Sepuluh tahun kemudian, dalam Kritik Program Gotha (Critique of the Gotha Program), Marx mengelaborasi pandangannya mengenai masyarakat komunis.</p>
<p>Demikian menurut Marx, &#8220;Di dalam masyarakat kooperatif, yang berdasarkan pada kepemilikan bersama alat-alat produksi, para produsen tidak saling menukarkan produk mereka…Yang kita bahas di sini adalah sebuah masyarakat komunis, bukan ketika ia telah berkembang dan matang, sebaliknya, ketika ia baru timbul dari masyarakat kapitalis. Ia adalah suatu masyarakat yang masih memiliki ciri-ciri ekonomi, moral dan intelektual masyarakat lama yang melahirkannya&#8221; Di sini, Marx menyatakan bahwa produsen menerima kembali tepat sebanyak yang ia berikan; ia menerima alat tukar yang senilai jumlah kerja yang ia lakukan. &#8220;Persamaan hak dalam hal ini masih pada prinsipnya hak kapitalis…&#8221; Hal ini masih memiliki keterbatasan kapitalis. Jadi, menurut Marx, hak ini adalah sebuah &#8220;hak untuk tidak setara&#8221;. Namun ia menyatakan, &#8220;masalah ini tak dapat dihindari dalam tahapan pertama masyarakat komunis&#8221;. Tetapi &#8211;dan ini merupakan pernyataan yang sangat penting dan terkenal dalam Critique, &#8220;Dalam tahap yang lebih lanjut dalam masyarakat komunis, setelah lenyapnya penindasan individual dalam pembagian kerja, dan demikian pula pertentangan antara kerja tangan dan otak; setelah kerja tidak hanya menjadi cara mempertahankan hidup namun juga keinginan tertinggi dalam hidup; ketika perkembangan semua keahlian individual meningkatkan kekuatan-kekuatan produksi, dan semua sumber-sumber kemakmuran mengalir dengan deras bagi semua&#8211; barulah cakrawala hak-hak kapitalis yang terbatas itu dapat ditinggalkan, dan dalam masyarakat akan terdengar seruan “Dari setiap orang berdasar keahliannya, untuk semua orang berdasar kebutuhannya!&#8217;&#8221;.</p>
<p>Pada bagian kedua Critique, Marx bertanya, &#8220;Lalu apa perubahan yang akan dialami institusi negara dalam masyarakat komunis?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Antara sistem kemasyarakatan kapitalis dan komunis terdapat masa perubahan revolusioner. Ini merujuk pada masa transisi politik, ketika Negara tidak bisa tidak merupakan kediktatoran proletariat yang revolusioner&#8221;. Marx pada masa ini tidak pernah berpikir mengenai &#8220;kematian&#8221; atau &#8220;kelayuan&#8221; negara. Untuk pemikiran-pemikiran itu, kita harus mendengarkan Engels &#8211;lama setelah itu.</p>
<p>Karya-karya Engels terpenting mengenai komunisme/sosialisme adalah Anti-Duhring, yang pertama kali terbit pada tahun 1878, dan Asal-Mula Keluarga, Kepemilikan Pribadi dan Negara (Origin of te Family, Private Property and the State), pertama terbit 1884. Bagian-bagian dari Anti-Duhring telah dikenal sebagai Socialism:Utopian and Scientific. Dalam bagian ketiga Anti-Duhring, Engels mula-mula membicarakan teori-teori dan koloni-koloni komunis Robert Owen, demikian pula pemikiran Saint-Simon dan Fourier. Orang-orang tersebut dituduh Engels sebagain utopis, namun ia juga menjelaskan bahwa &#8220;para utopis itu menjadi utopis karena memang pada masa produksi kapitalis belum begitu berkembang, tak ada jalan lain selain menjadi utopis&#8221;. Setelah menganalisis masyarakat borjuis dengan cara serupa &#8211;namun lebih jelas daripada&#8211; Marx, Engels kemudian memberikan gambaran metode Marxis &#8220;klasik&#8221; mengenai pencapaian sosialisme.</p>
<p>&#8220;Proletariat merebut kekuasaan negara, dan menjadikan alat-alat produksi sesegera mungkin menjadi milik negara. Namun dengan melakukan ini, ia tidak lagi menjadi proletar; ia menghentikan semua perbedaan dan permusuhan kelas; ia mengakhiri negara sebagai negara.&#8221; Dan &#8220;Ketika pada akhirnya (negara) benar-benar mewakili masyarakat secara keseluruhan, ia menjadikan dirinya tidak diperlukan lagi. Begitu tidak ada lagi kelas dalam masyarakat yang perlu dikekang; begitu pertentangan dan akibat buruk yang timbul dari dominasi kelas dan perjuangan eksistensi individu yang berdasar pada moda produksi lama yang anarkis telah hilang, tiada lagi yang perlu ditindas yang memerlukan suatu kekuatan represif, yakni suatu negara. Tindakan pertama negara yang menunjukkan dirinya sebagai perwakilan masyarakat secara keseluruhan &#8211;yaitu pengambilalihan alat-alat produksi atas nama masyarakat&#8211; sekaligus juga merupakan tindakan terakhirnya yang independen sebagai negara. Pemerintahan atas orang-orang digantikan dengan pengelolaan hal-hal dan arah proses produksi. Negara tidaklah &#8220;dihapuskan&#8221;, ia layu dan mati.&#8221; Dalam Sosialisme: Utopia dan Keilmuan (Socialism:Utopian and Scientific), dikatakan &#8220;Ia (negara) mati&#8221;. Pada bagian tentang produksi, Engels menyatakan bahwa produksi harus direvolusionerkan dari &#8220;atas ke bawah&#8221;; kerja produktif akan menjadi kesenangan, bukan beban, produksi dengan memanfaatkan industri modern, akan berdasar pada &#8220;suatu rencana luas&#8221;; dan akan terjadi penghapusan perbedaan kota dan desa, demikian pula pembagian kerja yang usang.</p>
<p>Dalam Asal Mula Negara (Origin of the State), Engels menyatakan bahwa proletar harus menyusun partainya sendiri dan memilih wakil-wakilnya untuk duduk dalam parlemen. &#8220;Keikutsertaan dalam pemilihan umum secara menyeluruh&#8221;, menurutnya, &#8220;menjadi tolok ukur kematangan kelas buruh. Ia tidak bisa dan tidak akan bisa lebih baik, namun sudah cukup&#8221;. Mengenai negara, ia menyatakan bahwa negara tidak selalu ada dari dulu. Ada masyarakat yang bisa bertahan tanpa negara. Negara pada akhirnya akan runtuh. Bahkan ia berkata, &#8220;Masyarakat yang mengorganisir produksi secara baru pada dasar asosiasi bebas dan setara para produsen akan menempatkan negara dan alat-alatnya ke tempatnya yang layak &#8211;museum artefak masa lampau, bersama dengan roda pemintal dan kapak tembaga&#8221;.</p>
<p>Sebelum meninggalkan pandangan Marxian tentang komunisme/sosialisme, perlu diingat bahwa Marx dan Engels membayangkan suatu kondisi masyarakat yang cenderung otoriter, paling tidak pada masa-masa awalnya. Dalam esainya mengenai kekuasaan, Engels menulis, &#8220;Kekuasaan… berarti pemaksaan keinginan orang lain terhadap kita; di pihak lain, otoritas mensyaratkan ketundukan. Sekarang, karena kedua istilah tersebut berkesan buruk dan hubungan yang ditunjukkannya tidak disepakati pihak yang tertindas, pertanyaannya adalah untuk meyakinkan apakah terdapat jalan untuk menghilangkannya, apakah &#8211;dengan melihat kondisi masyarakat masa kini&#8211; kita tidak akan menciptakan sebuah sistem sosial baru, yang di dalamnya otoritas ini tidak lagi memiliki lingkup dan akibatnya harus menghilang…</p>
<p>Di mana pun aksi bersama…mengalahkan aksi independen oleh individu; sekarang, mungkinkah membuat organisasi tanpa otoritas?</p>
<p>Bayangkan suatu revolusi sosial menjatuhkan para kapitalis, yang hingga kini memegang kekuasaan atas produksi dan sirkulasi kekayaan. Bayangkan pula, dengan mengambil seluruh pandangan para anti-otoritarian, bahwa tanah dan alat-alat kerja menjadi milik bersama para buruh yang menggunakannya. Akankah otoritas lenyap, atau hanya berubah bentuknya?”</p>
<p>Engels kemudian mencontohkan sebuah pabrik yang besar, sebuah pemintalan benang. Ia berkata, <em>&#8220;…pertanyaan-pertanyaan penting timbul di masing-masing ruangan dan pada setiap saat mengenai moda produksi, produksi bahan-bahan dan lain-lain, yang harus segera diselesaikan dengan resiko terhentinya produksi; apakah diselesaikan melalui keputusan seorang wakil yang merupakan kepala suatu cabang pekerjaan, atau bila mungkin, melalui suara terbanyak, keinginan individu tunggal selalu akan menjadi subordinat, yang berarti bahwa pertanyaan akan dijawab dengan cara yang otoriter.&#8221;</em></p>
<p>Kesimpulan Engels mengenai &#8220;delegasi fungsi&#8221; tentu saja perlu diperdebatkan; namun ia lebih jauh lagi memuji-muji kekuasaan. Ia melanjutkan, &#8220;Namun pentingnya kekuasaan, terutama kekuasaan yang mutlak, tak akan mendapat contoh yang lebih baik daripada di atas sebuah kapal di samudra luas. Di sana, pada saat-saat bahaya, kehidupan semua akan tergantung pada ketaatan yang langsung dan absolut pada keinginan seseorang&#8221;.</p>
<p>Engels tentu saja keliru pada saat itu, dan juga sekarang! Sebagai bukti, misalnya pengelolaan angkatan laut Spanyol oleh para pelaut biasa selama masa revolusioner pada tahun 1936, dalam tulisan Peter E. Newell berjudul Anarchy in the Navy, dalam Anarchy 14.</p>
<p>Kita akan meninggalkan Engels dan &#8220;kekuasaan mutlak&#8221;-nya, meskipun perlu juga dijelaskan bahwa bahkan William Morris pun, yang dapat dianggap sebagai seorang sosialis libertarian dan kuasi-anarkis, memiliki pandangan serupa Engels tentang pengelolaan kapal &#8220;dalam kondisi sosialis&#8221; dalam esainya, Communism.</p>
<p>Terakhir, kita akan membahas pandangan libertarian atau anarkis, yang pada abad ke-19 terutama diasosiasikan dengan dua orang Rusia &#8211;Mikhail Bakunin dan Kropotkin, meskipun terdapat pula orang lain yang berpendapat serupa.</p>
<p><strong>Komunisme Libertarian</strong></p>
<p>Antara tahun 1842 dan 1861, Bakunin paling banter bisa dianggap sebagai seorang pan-Slavis revolusioner, meskipun sejak sebelum tahun 1861 sudah terdapat tendensi libertarian dalam pemikirannya. Namun, ia baru bisa dianggap sebagai seorang libertarian atau anarkis mulai tahun 1866, ketika ia menulis Katekisme Revolusioner (Revolutionary Catechism).</p>
<p>Dalam Catechism, Bakunin menganggap bahwa &#8220;Kebebasan merupakan hak absolut semua orang dewasa, baik laki-laki maupun perempuan&#8221;, bahwa, &#8220;kebebasan masing-masing orang hanya mungkin terjadi bila terdapat kesetaraan dalam seluruh masyarakat&#8221;. Ia menyatakan penolakan absolut terhadap segala bentuk kekuasaan &#8220;termasuk yang mengorbankan kebebasan demi negara&#8221;; &#8220;Tatanan dalam masyarakat&#8221;, demikian menurutnya, &#8220;harus timbul dari realisasi sejauh mungkin kebebasan individual, demikian pula kebebasan dalam semua tingkat organisasi sosial&#8221;. Ia menyerukan &#8220;pembentukan persemakmuran&#8221; dan &#8220;penghapusan kelas, jabatan dan privilese&#8221; dan secara agak mengejutkan, &#8220;pemberian hak pilih universal&#8221;, meskipun menurut tafsiran Max Nettlau, bukan dalam negara, melainkan dalam masyarakat yang baru. Bakunin juga menyerukan penghapusan &#8220;negara yang merasuk ke semua bidang, mengekang dan tersentralisasi&#8221; dan untuk &#8220;reorganisasi internal dalam tiap negara berdasarkan kebebasan absolut para individu, serikat-serikat produksi dan komune-komune&#8221;. Kebebasan hanya bisa dipertahankan dengan kebebasan pula, menurutnya. &#8220;Unit dasar semua organisasi politik dalam tiap negara haruslah berupa komune yang sama sekali otonom, yang tersusun dari pilihan mayoritas semua orang dewasa dari semua jenis kelamin. Tak seorang pun bisa memiliki kekuasaan atau hak untuk mencampuri urusan internal komune tersebut…&#8221; Negara, lanjut Bakunin, haruslah tidak lebih dari sebuah federasi propinsi-propinsi yang otonom. Tanpa kesetaraan politik, tak akan terdapat kebebasan politik, namun kesetaraan politik hanya akan mungkin terjadi apabila terdapat kesetaraan sosial dan ekonomi. Mayoritas, menurut Bakunin, hidup dalam perbudakan, dan &#8220;Perbudakan ini akan bertahan hingga kapitalisme diruntuhkan oleh aksi kolektif para buruh&#8221;. Dan kemudian, tanah dan semua kekayaan alam (akan) menjadi milik bersama semua orang…. Ia menutup Catechism demikian, &#8220;Revolusi secara singkat memiliki tujuan ini: kebebasan bagi semua, untuk individu maupun badan-badan kolektif, asosiasi, komune, propinsi, wilayah dan negara, dan adanya jaminan bersama terhadap kebebasan ini oleh federasi&#8221;.</p>
<p>Kemudian, juga dalam tahun 1866, Bakunin menulis sebuah Catechism lain yang serupa, yang di dalamnya sekali lagi ia menyatakan bahwa tanah harus menjadi milik bersama semua, dan bahwa &#8220;Revolusi harus dilaksanakan bukan untuk &#8211;namun oleh&#8211; rakyat, dan tidak akan pernah berhasil bila ia tidak secara antusias melibatkan massa rakyat, baik di pedesaan maupun di perkotaan.&#8221;</p>
<p>Dalam Federalism, Socialism, Anti-Theologism, Bakunin menyatakan bahwa sosialisme berarti &#8220;mengorganisir masyarakat sedemikian rupa sehingga semua individu yang hidup, laki-laki maupun perempuan, dapat menemukan cara-cara berkembang yang nyaris setara untuk masing-masing keahliannya… untuk mengorganisir masyarakat yang tidak memungkinkan bagi individu apapun untuk mengeksploitasi hasil kerja orang lain, yang tidak mengizinkan siapapun untuk bergabung dalam menikmati kekayaan masyarakat &#8211;yang hanya diproduksi oleh kerja saja&#8211; kecuali ia memberikan kontribusi terhadap penciptaannya dengan kerjanya sendiri&#8221;. Ia berpikir bahwa penyelesaian yang menyeluruh terhadap masalah-masalah yang ditimbulkan kapitalisme &#8220;tentu saja akan memerlukan berabad-abad&#8221;. Namun, &#8220;sejarah telah menempatkan masalah tersebut di depan kita, dan kita tak dapat menghindarinya lagi&#8221;.</p>
<p>Bakunin selalu menekankan bahwa rakyat harus melaksanakan revolusi itu sendiri, bahwa negara harus lenyap dahulu: bahwa masyarakat harus &#8220;diorganisir dari bawah ke atas oleh delegasi-delegasi revolusioner…&#8221;; bahwa &#8220;aliansi revolusioner&#8221; rakyat harus menghindari segala bentuk kediktatoran. Namun, paling tidak pada tahun 1869, Bakunin menyatakan bahwa sebuah &#8220;masyarakat&#8221; revolusioner yang diorganisir dengan baik dapat membantu &#8220;kelahiran revolusi dengan menyebarluaskan di antara massa pemikiran-pemikiran yang memungkinkan mereka mengekspresikan insting mereka, dan untuk mengorganisir suatu staf umum angkatan perang revolusioner (bukan angkatan perang itu sendiri, yang harus disusun oleh rakyat itu sendiri), yang trediri dari orang-orang yang berdedikasi, penuh tenaga, cerdas dan terutama benar-benar seiring dengan rakyat…yang mampu berperan sebagai penengah antara pemikiran revolusioner dan insting rakyat&#8221;. Tidak diperlukan banyak jumlah orang-orang demikian, menurut Bakunin. Dua atau tiga ratus, sarannya untuk organisasi di negara-negara yang besar.</p>
<p>Bakunin terutama mengkritik keras mereka yang disebutnya &#8220;komunis (pro) negara&#8221; (State Communists). Ia juga menyerang keras mereka yang dianggapnya ingin memaksakan komunisme, atau sering kali ia sebut, kolektivisme, pada rakyat kecil. Mereka dianggapnya sebagai Jacobin. Bakunin dan Marx tentu saja bertentangan pemikiran, bahkan bermusuhan. Ini sebagian bersifat pribadi, sebagian lain politis. Dalam Letter to La Liberte, Bakunin menyerang Marx, menyatakan bahwa para Paus paling tidak memiliki alasan untuk menganggap bahwa mereka memiliki &#8220;kebenaran absolut&#8221;, namun &#8220;Tuan Marx tidak memiliki alasan tersebut&#8221;. Dalam pandangan Bakunin, &#8220;kebijakan proletariat, yang tentu saja revolusioner, harus memiliki tujuan jangka pendek penghancuran negara&#8221;. Namun Bakunin tidak dapat memahami mengapa Marx dan para Marxis ingin mempertahankan atau memanfaatkan negara sebagai alat pembebasan. &#8220;Negara sama dengan dominasi, dan dominasi apapun mensyaratkan tunduknya massa, dan akibatnya, eksploitasi mereka untuk kepentingan suatu minoritas penguasa&#8221;, demikian kritikan Bakunin terhadap Marx. &#8220;Para Marxis memiliki pemikiran yang bertentangan (dengan kami)&#8221;, menurut Bakunin. &#8220;Antara para Marxis dan kami terdapat jurang yang dalam. Mereka governmentalis, sedangkan kami anarkis, meski mungkin ada keserupaan antara kami&#8221;, demikian Bakunin.</p>
<p>Pada dasarnya, inilah pertengkaran besar antara Bakunin dan Marx; yang masih menjadi pertengkaran antara para anarkis revolusioner dengan para Marxis; antara komunis otoriter dan komunis libertarian.</p>
<p>Tentang Bakunin, Kropotkin menulis, &#8220;Bakunin pada dasarnya seorang komunis, namun serupa dengan kawan-kawan Federalisnya dalam Internasional, dan akibat antagonisme yang ditimbulkan para komunis otoriter di Perancis, ia menyatakan diri sebagai &#8220;anarkis kolektivis&#8221;. Namun, tentu saja ia bukan seorang kolektivis dalam artian serupa Vidal atau Pecqueur atau murid-murid mereka, yang pada dasarnya menginginkan kapitalisme negara. (Keilmuan Modern dan Anarkisme (Modern Science and Anarchism)). Namun, sejak tahun 1869, sejumlah &#8220;Bakuninis&#8221; menyatakan diri mereka sebagai komunis.</p>
<p>Kropotkin sangat membantu mengembangkan pemikiran yang diajukan &#8211;sering kali dalam cara yang tidak ilmiah dan tidak terkoordinasi&#8211; oleh Bakunin. Sebelum menjadi seorang anarkis, Kropotkin memiliki latar belakang dan pelatihan ilmiah. Dalam Memoar seorang Revolusioner (Memoirs of a Revolutionist), ia melihat, suatu bentuk masyarakat baru yang mulai tumbuh dalam &#8220;negara-negara beradab&#8221;, suatu masyarakat yang harus, pada suatu hari, menggantikan masyarakat yang lama: suatu masyarakat yang setara, &#8220;yang tidak akan dipaksa untuk menjual tangan dan otak mereka kepada mereka yang mempekerjakan mereka seenaknya, yang akan mampu menerapkan pengetahuan dan kemampuan mereka untuk produksi, dalam sebuah organisme yang dibentuk sedemikian untuk menggabungkan semua usaha untuk mendapatkan semaksimal mungkin kemakmuran bersama, sementara memungkinkan pula lingkup yang bebas untuk inisiatif individual&#8221;. Kropotkin menyatakan bahwa masyarakat demikian akan tersusun dari sejumlah besar asosiasi, yang berfederasi untuk keperluan-keperluan yang memerlukan federasi &#8212; komune-komune produksi, konsumsi, semua jenis organisasi, yang melampaui batasan negara. Semua ini akan bergabung melalui kesepakatan bebas antara mereka. &#8220;Akan terdapat&#8221;, menurutnya, &#8220;kebebasan penuh untuk mengembangkan bentuk-bentuk baru produksi, penemuan dan organisasi.&#8221; Rakyat akan menggabungkan diri untuk segala macam pekerjaan &#8220;secara bersama&#8221;. Arahan menuju keseragaman dan sentralisasi akan dihindari, catat Kropotkin. Kepemilikan pribadi dan sistem upah harus hilang. Pemerintah tidak akan diperlukan lagi, karena federasi bebas dan &#8220;kesepakatan bebas&#8221; antar organisasi akan menggantikan perannya. Dan dalam Keilmuan Modern dan Anarkisme, Kropotkin secara khusus menyerang para &#8220;sosialis (pro) negara&#8221;, yang atas nama kolektivisme (sekarang dikenal sebagai nasionalisasi) menyarankan, bukan komunisme maupun sosialisme, namun kapitalisme negara. Ini, menurutnya, bukan hal yang baru, namun merupakan bentuk sistem pengupahan yang mungkin diperbaiki, namun tidak lebih baik.</p>
<p>Kropotkin, dalam tulisan yang sama, merujuk pada &#8220;revolusi sosial yang akan datang&#8221; yang dibedakannya dari revolusi Jacobin atau kediktatoran. Dan tentang revolusi demikian, ia menyatakan, &#8220;Selama terjadinya revolusi, suatu bentuk kehidupan yang baru akan tumbuh di atas reruntuhan bentuk-bentuk yang lama, namun tidak ada pemerintahan yang akan muncul selama bentuk-bentuk ini belum mengambil bentuk yang pasti selama masa rekonstruksi itu sendiri, yang harus terjadi pada ribuan titik pada saat yang sama&#8221;. Demikianlah komunisme-libertarian-federalis dan sosialisme Kropotkin.</p>
<p>Sejak Bakunin dan Kropotkin memformulasikan pemikiran mereka mengenai komunisme libertarian, anarkis, federalis dan bebas, orang-orang lain mengikuti dan mengembangkan pemikiran tersebut. Malatesta mempopulerkan mereka, demikian pula Alexander Berkman, terutama dalam Apa itu Anarkisme Komunis (What Is Communist Anarchism). Pada tahun 1926, Archinov, Makhno, Ida Me dan lain-lainnya mengembangkan pemikiran komunisme anarkis libertarian dan organisasinya dalam Organisational Platform of the Libertarian Communists. Kita tidak akan membicarakan pemikiran Malatesta, Berkman dan platformis di sini, karena mungkin banyak dari Anda lebih paham daripada saya. Tentu saja, formulasi pemikiran komunisme dan sosialisme libertarian, dan bentuk-bentuk organisasi akan berlanjut untuk, dalam kata-kata Kropotkin, &#8220;untuk bertunas&#8221;.</p>
<p><strong>Referensi</strong></p>
<ul>
<li> Judul : <strong>Dari Komunisme Primitif Hingga Komunisme Libertarian</strong></li>
<li> Judul asli : <strong>From primitive to libertarian communism</strong></li>
<li> Penulis : <strong>Peter E. Newell</strong></li>
<li> Diterbitkan pertama kali : <strong>Libertarian Communist Review</strong></li>
<li> Penerbit : <strong>Organisation of Revolutionary Anarchists</strong></li>
<li> Edisi : No. 2, 1976. , Februari</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2006/05/22/dari-komunisme-primitif-hingga-komunisme-libertarian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kerusuhan Haymarket</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2006/05/08/kerusuhan-haymarket/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2006/05/08/kerusuhan-haymarket/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 May 2006 13:07:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/v2/2006/05/08/kerusuhan-haymarket/</guid>
		<description><![CDATA[Peristiwa ini bermula pada tanggal 1 Mei 1886 (Kemudian dikenal sebagai May Day), saat itu sebanyak 350.000 orang buruh yang diorganisir oleh Federasi Buruh Amerika melakukan pemogokan di banyak tempat di Amerika Serikat untuk menuntut waktu kerja 8 jam sehari. Pada saat bersamaan aksi pemogokan juga dilakukan oleh banyak buruh di Chicago, pemogokan pada tanggal 1 Mei 1886 itu demikian menyeluruh sehingga semua bisnis di kota itu pun lumpuh.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Peristiwa Kerusuhan Haymarket terjadi pada tanggal 4 Mei 1886 di Chicago, Illinois merupakan asal usul lahirnya perayaan Hari Buruh internasional atau biasa disebut May Day. Penyebab terjadinya insiden ini masih menyimpan kontroversi.</p>
<p><strong>Aksi pemogokan menuntut 8 jam kerja dalam sehari</strong></p>
<p>Peristiwa ini bermula pada tanggal 1 Mei 1886 (Kemudian dikenal sebagai May Day), saat itu sebanyak 350.000 orang buruh yang diorganisir oleh Federasi Buruh Amerika melakukan pemogokan di banyak tempat di Amerika Serikat untuk menuntut waktu kerja 8 jam sehari.</p>
<p>Pada saat bersamaan aksi pemogokan juga dilakukan oleh banyak buruh di Chicago, pemogokan pada tanggal 1 Mei 1886 itu demikian menyeluruh sehingga semua bisnis di kota itu pun lumpuh. Dua hari kemudian polisi dengan membabi-buta menembaki pemogok yang berhamburan, pada saat kejadian ini terdapat empat orang tewas dan jauh lebih banyak lagi luka-luka. Ini menimbulkan amarah di kalangan kaum buruh, sebagian menganjurkan supaya mereka membalas dengan mengangkat senjata.</p>
<p><span id="more-73"></span><strong>Lapangan Haymarket</strong></p>
<p>Pada keesokan harinya (4 Mei 1886), para buruh kembali menggelar aksi mogoknya dengan skala yang lebih besar lagi, aksi ini jaga ditujukan sebagai bentuk protes tindakan represif yang diterima oleh buruh dari polisi. Semula aksi ini berjalan dengan damai.</p>
<p>Ketika polisi berusaha membubarkan aksi damai di Lapangan Haymarket di kota Chicago, sebuah bom dilemparkan orang ke tengah para polisi, sehingga 70 orang terluka. Polisi pun kembali dengan membabi-buta menembaki peserta aksi, sehingga sampai 200 orang terluka, dan banyak yang tewas. Meskipun tidak dapat menemukan siapa yang melemparkan bom tadi, polisi menangkap delapan orang pemimpin buruh revolusioner, meskipun tujuh di antara mereka tidak berada di situ waktu kejadian itu. Kedelapan pemimpin itu ditangkap hanya karena keyakinan politik mereka. Kebanyakan dari mereka dijatuhi hukuman mati dan banyak yang akhirnya dieksekusi.</p>
<p><strong>Para terdakwa</strong></p>
<p>Delapan orang pemimpin buruh yang didakwa dan dijatuhi hukuman mati adalah :</p>
<ul>
<li>August Spies, imigran berkebangsaan Jerman, tewas digantung</li>
<li>Albert Parsons, warga Amerika Serikat|A.S., tewas digantung</li>
<li>Adolph Fischer, imigran berkebangsaan Jerman, tewas digantung</li>
<li>George Engel, imigran berkebangsaan Jerman, tewas digantung</li>
<li>Louis Lingg, imigran berkebangsaan Jerman, bunuh diri dengan menggunakan dinamit saat berada didalam penjara</li>
<li>Michael Schwab imigran berkebangsaan Jerman, diberi keringanan hukuman dari hukuman mati menjadi hukuman kurungan penjara seumur hidup, kemudian diampuni pada tahun 1893</li>
<li>Samuel Fielden imigran berkebangsaan Inggris, diberi keringanan hukuman dari hukuman mati menjadi hukuman kurungan penjara seumur hidup, kemudian diampuni pada tahun 1893</li>
<li>Oscar Neebe warga A.S. keturunan Jerman, dihukum 15 tahun penjara kemudian diampuni pada tahun 1893.</li>
</ul>
<p><strong>Pranala luar</strong></p>
<ul>
<li><a href="http://www.kentlaw.edu/ilhs/haymkmon.htm" target="_blank">Para martir Haymarket</a></li>
<li><a href="http://www.graveyards.com/IL/Cook/foresthome/ne-haymarket.html" target="_blank">Monumen Haymarket</a></li>
<li><a href="http://www.chicagohs.org/hadc/manuscripts/mantoc.htm" target="_blank">Arsip digital Haymarket</a></li>
<li><a href="http://dwardmac.pitzer.edu/Anarchist_Archives/haymarket/Haymarket.html" target="_blank">Arsip Kerusuhan Haymarket</a></li>
<li><a href="http://www.libcom.org/history/articles/mayday-haymarket-martyrs/" target="_blank">May Day dan para martir haymarket</a></li>
<li><a href="http://recollectionbooks.com/anow/history/haymarket.html" target="_blank">Pembunuhan massal Haymarket</a> di halaman Anarchy Now!</li>
<li><a href="http://www.odmp.org/" target="_blank">Officer Down Memorial Page</a></li>
<li><a href="http://memory.loc.gov/ammem/award98/ichihtml/hayhome.html" target="_blank">halaman pustaka kongres</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2006/05/08/kerusuhan-haymarket/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gerilya Eropa</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2005/12/09/gerilya-eropa/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2005/12/09/gerilya-eropa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Dec 2005 15:02:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/v2/2007/11/08/gerilya-eropa/</guid>
		<description><![CDATA[Perjuangan Bersenjata di Eropa Barat Tulisan berikut merupakan pengantar yang bersifat umum terhadap sejarah perlawanan bersenjata di Jerman Barat (sekarang Jerman --penj), diterjemahkan dari buku yang berjudul "Art As Resistance". Dengan berjalannya waktu, kami berencana untuk memperluas tulisan ini, menggabungkan teks-teks dari gerakan gerilya perkotaan di seluruh Eropa Barat]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Terjemah oleh: arm_da_spirit@yahoo.com</p>
<p>No: 1</p>
<p>SERI &#8211; SEJARAH</p>
<p><strong>Melawan Artinya Menyerang : Perjuangan Bersenjata di Eropa Barat</strong></p>
<p>Alih bahasa : Blue</p>
<p>Diterbitkan oleh : perjuangan_rakyat</p>
<p>Bunga-bunga telah berguguran,<br />
Kelopaknya jatuh berderai satu-satu,<br />
Menyibakkan masa depan buah dan biji,</p>
<p>Rentang penerjemahan : 16:53 27 September 2002 hingga Kamis, 10 Oktober 2002 atau 10/10/2002 10:27:15</p>
<hr /><strong>Melawan Artinya Menyerang</strong>Perjuangan Bersenjata di Eropa Barat Tulisan berikut merupakan pengantar yang bersifat umum terhadap sejarah perlawanan bersenjata di Jerman Barat (sekarang Jerman &#8211;penj), diterjemahkan dari buku yang berjudul &#8220;Art As Resistance&#8221;. Dengan berjalannya waktu, kami berencana untuk memperluas tulisan ini, menggabungkan teks-teks dari gerakan gerilya perkotaan di seluruh Eropa Barat, dalam rangka menyediakan sebuah arsip yang komprehensif mengenai sejarah perjuangan bersenjata di eropa semenjak 1970-an hingga 1990-an.</p>
<p><span id="more-67"></span> <strong>Gerakan Dua Juni</strong></p>
<p>Diberi nama dari tanggal ketika Benno Ohnesorg dibunuh, “Gerakan Dua Juni” muncul dari kancah anti-otoritarian militan di Berlin Barat pada 1971. Pada Juni 1972, kelompok tersebut mempublikasikan program politik mereka. Butir ketiga berbunyui sebagai berikut: &#8220;Gerakan melihat dirinya sebagai vanguard hanyalah sejauh bahwa ia berada diantara yang pertama yang mengangkat senjata. Ia bukan vanguard karena menyebut dirinya demikian.&#8221;</p>
<p>Strategi Gerakan Dua Juni dipetik dari konsep gerilya di Amerika Latin dan mengkombinasikannya dengan perjuangan &#8220;legal&#8221;. Butir kesepuluh dari program mereka berbunyi: &#8220;&#8230;Bagi kami, praxis bermakna: Menciptakan kelompok legal yang militan, menciptakan milisi, menciptakan gerilya perkotaan &#8211; hingga kita memiliki rakyat yang bersenjata.&#8221;</p>
<p>Gerakan Dua Juni memandang dirinya sebagai kelompok gerilya kota, terbatas pada wilayah Berlin Barat. Secara khusus dengan cara-cara aksi spektakuler, semacam membagi-bagikan permen coklat selama perampokan bank, kelompok tersebut mendapat perhatian yang besar. Capaian tertinggi Gerakan Dua Juni adalah penculikan pemimpin wilayah CDU Peter Lorenz tahun 1975. Hasil dari aksi ini, kelompok tersebut mampu memenangkan kebebasan bagi lima anggota Red Army Fraction (RAF) yang dipenjara.</p>
<p>Dalam jangka waktu yang pendek setelah penculikan Lorenz, anggota-anggota penting Gerakan Dua Juni ditangkap. Selama pencarian anggota-anggota kelompok tersebut, tembak-menembak dengan polisi berlangsung di Cologne bulan Mei 1975. Werner Sauber, seorang anggota Gerakan Dua Juni, dan seorang polisi terbunuh. Setelah kesuksesan negara dalam pembasmian terhadap kelompok ini, Gerakan Dua Juni hanya terdengar suaranya lewat statemen pembelaan di pengadilan dan teks para aktivis yang dipenjara. Pada Juni 1980, kelompok tersebut membubarkan diri dan menjadi bagian dari RAF. Di bulan yang sama, tiga anggota tiga anggota Gerakan Dua Juni yang ditahan di Penjara Moabit Prison di Berlin, Ralf Reinders, Klaus Viehmann, dan Ronald Fritsch, mengeluarkan surat menegaskan oposisi mereka terhadap keputusan ini.</p>
<p><strong>The Red Army Fraction (RAF)</strong></p>
<p>Tahun 1968, sebagai protes terhadap perang di Vietnam, empat orang, diantaranya Andreas Baader dan Gudrun Ensslin, meledakkan suatu peralatan yang dapat mengeluarkan api didalam pusat perbelanjaan di Frankfurt. Keempat tak lama kemudian ditangkap dan dikirim ke penjara. Saat di penjara, Andreas Baader membangun hubungan yang erat dengan seorang jurnalis bernama Ulrike Meinhof. Dari hubungan ini muncul ide untuk meloloskan Andreas Baader keluar dari penjara di bulan Mei 1970, aksi pertama yang dilakukan RAF. Diakhir 1970-an, kelompok tersebut berangkat ke Yordania untuk berlatih bersama organisasi Palestina &#8220;Al Fatah&#8221;. Di musim semi 1971, sebuah surat dikeluarkan diberi judul, &#8220;Red Army Fraction &#8211; Konsep Gerilya Kota&#8221;. Teks tersebut bertulis sebagai berikut: &#8220;Konsep gerilya kota timbul datangnya dari Amerika Latin. Apa yang terjadi disana bisa juga terjadi disini: sebagai sarana intervensi revolusioner oleh kekuatan revolusioner yang relatif lemah.&#8221; RAF menjelaskan dirinya sebagai &#8220;kelompok perlawanan anti-imperialis, yang bukan merupakan bagian perjuangan yang ada disini, namun lebih merupakan perjuangan yang berlangsung di Dunia Ketiga.</p>
<p><strong>Aksi Pertama yang dilakukan RAF</strong></p>
<p>Setelah dua tahun bergerak dibawah tanah, RAF menjalankan enam serangan di bulan Mei 1972. Dua dari serangan ini adalah terhadap tentara A.S, tiga terhadap polisi dan pengadilan, dan satu terhadap korporasi Springer. Beberapa minggu setelah serangan ini, sejumlah anggota RAF ditangkap. Bulan September 1974, tahanan RAF memulai aksi mogok makan mereka yang ketiga terhadap kondisi penjara mereka. Setelah 56 hari, Holger Meins meninggal sebagai akibat dipaksa menelan makanan. Setelah ini, &#8220;Kommando Holger Meins&#8221; RAF menduduki Kedutaan Jerman di Stockholm di bulan April 1975 dan menawarkan untuk menukar sandera-sandera tersebut sebagai ganti pembebasan 26 anggota RAF yang dipenjara. Dalam rangka memberi gambaran ketetapan hati mereka, kommando RAF mengeksekusi atase militer Jerman pada permulaan pendudukan. Saat unit kepolisian menyerbu kedutaan, komando memasang serangan bahan peledak. Selama pengrebekan, satu diplomat dan satu anggota RAF, Ulrich Wessel, terbunuh, dan bangunan tersebut terbakar api. Lima anggota komando yang lain ditangkap oleh polisi. Diantara mereka Siegfried Hausner, yang walaupun sedang terluka secara serius diterbangkan ke Penjara Stammheim, dan tak beberapa lama meninggal dunia.</p>
<p>Satu tahun kemudian, di malam 8 Mei, 1976, Ulrike Meinhof diketemukan tergantung di selnya. Pada 1977, RAF melancarkan suatu ofensif besar-besaran. Di bulan April, Penuntut Federal Siegfried Buback dan dua pegawalnya ditembak mati di jalanan. Komando RAF yang bertanggungjawab menyebut tindakan pengeksekusian Buback, karena ia bertangungjawab atas pembunuhan Holger Meins, Ulrike Meinhof, and Siegfried Hausner. Di bulan Juli, sebuah komando RAF menembak dan menewaskan Jurgen Ponto, seorang eksekutif puncak Bank Dresdner . Di bulan September, sebuah komando RAF menculik Hanns-Martin, Schleyer Presiden Asosiasi Pengusaha Jerman.</p>
<p>Selama penculikan Schleyer, empat pengawalnya tewas. RAF menginginkan menukar Schleyer dengan kamerad-kamerad RAF yang dipenjara. Untuk menambah bobot pada tuntutan ini, sebuah komando Palestina membajak sebuah jet Lufthansa berisi penuh dengan turis Jerman di Mallorca. Komando tersebut menembak pilot dan mengancam membunuh seluruh sandera. Unit polisi anti-teroris khusus GSG-9 menyerbu pesawat saat menunggu di landasan pacu di Mogadishu, Somalia. Semua anggota komando Palestina ditembak dan terbunuh, kecuali seorang perempuan yang selamat, terluka parah. Segera menyusul kejadian ini, tahanan RAF Jan Carl Raspe, Andreas Baader, dan Gudrun Ensslin ditemukan tertembak mati atau tergantung di sel isolasi mereka di Stammheim. Irmgard Moller selamat, dengan luka sangat serius. Hari berikutnya, 19 Oktober, 1977, polisi menemukan mayat Hanns-Martin Schleyer di bak belakang sebuah mobil.</p>
<p><strong>Musim Gugur Jerman (German Autumn)</strong></p>
<p>Reaksi negara Jerman terhadap ofensif RAF terkenal dengan Musim Gugur Jerman. Periode ini ditandai dengan kampanye media yang belum pernah terjadi sebelumnya mencoreng orang-orang yang diduga keras “simpatisan” RAF. Tiap-tiap dan semua orang yang dicurigai bersimpati kepada RAF dianggap anggota potensial atau paling kurang pendukung bagi organisasi tersebut. Pengawasan polisi, pengrebekkan rumah, dan penangkapan merupakan merupakan keadaan sehari-hari. Undang-undang kejahatan politik sangat dipertajam. Antara 1977 dan 1981, RAF hanya menjalankan satu kali serangan. Di bulan Juni 1979, sebuah komando RAF meledakkan bom didekat iring-iringan Jenderal A.S Alexander Haig, kepala NATO, di Mons, Belgia. Haig selamat tanpa luka. Dari Pebruary hingga April 1981, para tahanan RAF mengorganisir sebuah mogok makan, yang dibatalkan menyusul kematian Sigurd Debus. Dua aksi RAF menggiringi musim panas: serangan bom di bulan Agustus pada kantor pusat angkatan udara AS di Eropa, pangkalan NATO di Ramstein, dan serangan roket terhadap Jenderal AS Kroesen, yang tak terluka.</p>
<p><strong>Konsep Front</strong></p>
<p>Di Mei 1982, RAF mengeluarkan sebuah komunike yang diberi judul, &#8220;Gerilya, Perlawanan, Dan Front Anti-Imperialis&#8221;, which expanded upon the group&#8217;s ideological and strategic concept. &#8220;Dokumen Mei&#8221; ini mengkritik ofensif 1977, secara khusus tindakan pembajakan pesawat, dan menyebut upaya itu sebuah kesalahan. Namun kritik-diri RAF masih membatasi diri. RAF mengatakan 1977 mencapai suatu dimensi historis, tahun dengan efek positif atas gerakan perlawanan. Suatu kemenangan dilihat dalam kenyataan bahwa negara tak mampu menghancurkan RAF. Dan akibatnya gelombang represi dari aparatus negara dianggap positif juga, karena hal tersebut memaksa seluruh perlawanan untuk membuat pilihan bersama atau melawan RAF. RAF melihat suatu perbedaan jelas semacam itu sebgai bukti akan kedudukan kepeloporannya. Dari sudut pandang ini, semua kekuatan oposisi sejati mengarahkan diri kepada RAF &#8211; atau mereka tak eksis sama sekali. <em>&#8220;Musim Gugur 1977 memberi semua kelompok oposisi fundamental relasi dan syarat-syarat baru bagi kelangsungan hidupnya &#8211; sebagai pengalaman aktual dan prespektif bagi perjuangan masa depan, semuanya telah dipaksa untuk secara mendasar mereorientasi dirinya terhadap kekuasaan &#8211; atau menyerah. &#8230; Dari pengalaman yang baru ini, kebutuhan akan aksi gerilya merupakan satu langkah yang mudah bagi kesadaran: Jika perjuangan gerilya merupakan perjuanganmu sendiri, maka satu-satunya keinsyafan yang logis dari hal ini adalah dengan secara politis dan praktis menggabungkan dirimu dalam strategi gerilya, pada tingkat yang manapun.&#8221;</em> (Dokumen Mei)</p>
<p>RAF mengembangkan ide tentang &#8220;front anti-imperialis&#8221; ini di metropolitan sebagai bagian dari perjuangan global untuk pembebasan. Practically speaking, ini berarti tiga-bagian pendekatan. Pada bagian pusat adalah &#8220;aksi militer&#8221; dari komando RAF, disertai dengan kegiatan dan serangan oleh para &#8220;militan&#8221; dan agitasi lebih jauh oleh spektrum yang lebih luas dari para pendukungnya. Hal tersebut tidak, walaupun begitu, menyatakan secara tidak langsung suatu hubungan organisasional. Kelompok-kelompok dari gerakan perlawanan beroperasi secara independen akan mengorientasikan dirinya pada aktivitas RAF. Konsep ini di buat ringkas dalam slogan: &#8220;Front Dibentuk Sebagai Sebagai Gerakan Yang Bertempur!&#8221;</p>
<p>&#8220;Strategi Front&#8221; RAF tak memberi suatu kesuksesan yang penting. Hanya selama mogok makan oleh para tahanan RAF dimungkinkan memobilisasi kekuatan dari gerakan perlawanan yang lebih luas. &#8220;Aksi militer&#8221; RAF hanya dijalankan oleh lapisan menegah dari para pendukungnya. Kelompok ini, berbagai &#8220;Komite-komite Anti-Penyiksaan&#8221; dan kelompok-kelompok anti-fasis, dibentuk di tahun 1970-an untuk melakukan kerja-kerja membantu para tahanan bagi RAF.</p>
<p>Kelompok-kelompok antifa pada saat itu memahami fasisme sebagai &#8220;fasisme&#8221; nya Jerman Barat, terisrimewa sekali sebagaimana yang digambarkan oleh kondisi penjara dan kelakuan-kelakuan polisi negara. Dari sini muncul &#8220;kelompok anti-imperialis&#8221; yang berkembang diawal 1980-an. Titik fokus yang terbesar bagi “antiimp” adalah layanan pada tahanan. Sebagai tambahan untuk hal ini, komunike RAF dan aksi-aksinya didiskusikan dan sebuah upaya diciptakan untuk mengkomunikasikan hal ini didalam gerkan perlawanan yang lebih luas dan mendukung inisiatif yang serupa.</p>
<p>Tambahan untuk konsep fron, dalam 1980-an RAF juga membuat teori atas masalah &#8220;jaringan industrial-militer&#8221;. Hubungan yang tak terpisahkan dilihat antara militer, industri, dan elit politik di negara-negara imperialis. Oleh sebab itu, target serangan, dapat bukan hanya aparat militer dan represi, namun juga kaum industrialis dan politisi.</p>
<p>Tak lama setelah mempublikasikan Dokumen Mei, RAF menderita serangan yang berat pada bulan Nopember 1982. Dengan penangkapan Adelheid Schulz, Brigitte Mohnhaupt, dan Christian Klar, tiga anggota komando hilang. Kejadian sesudah penemuan tempat penyimpanan 13 senjata telah menghilangkan dari kelompok ini banyak dari infrastrukturnya. Tahun berikutnya juga ditandai dengan penindasan yang serius. Pada 1984, lagi 9 anggota RAF dipenjara, dan tak ada serangan dilakukan selama periode ini.</p>
<p><strong>Ofensif Baru</strong></p>
<p>Baru hingga Desember 1984 RAF menjalankan aksinya yang lagi, serangan bom yang gagal pada sekolah perwira NATO di Oberammergau. Mogok makan yang lain juga dimulai pada Desember 1984, dan berakhir hingga Pebruari 1985. Mogok makan ini barengi oleh gelombang serangan yang hingga sekarang dianggap unik didalam sejarah RAF. Bukan hanya spektrum antiimp, kancah autonomist juga dimobilisir mendukung mogok makan. Dalam waktu delapan minggu dari Desember sampai Pebruari paling kurang terdapat 39 pembakaran bangunan besar-besaran dan serangan bom dan juga sejumlah aksi yang lebih kecil. Pada 20 Januari 1985, terjadi serangan bom pada sebuah pusat komputer di Stuttgart-Vaihingen. Bom meledak secara prematur dan membunuh Johannes Thimme. Komradnya Claudia Wannersdorfer terluka serius dan ditangkap.</p>
<p><strong>&#8220;Gerilya Eropa Barat&#8221;</strong></p>
<p>RAF dan kempok Perancis “Action Directe” (AD) mengeluarkan sebuah komunike bersama bulan Januari 1985. Berjudul “Untuk Persatuan Kaum Revolusioner di Eropa Barat!”, dokumen tersebut mempropaganda pembentukan sebuah “gerilya di Eropa Barat”. Di akhir Januari, AD mengeksekusi Jenderal Rene Audran. Pada 1 Pebruari, sebuah komando RAF menembak dan membunuh industrialis senjata Ernst Zimmermann. Kedua Komando mengarahkan aksi mereka diarahkan untuk membantu yang lainnya. Dalam komunike menyusul penyerangan Zimmermann, RAF menyerukan para tahanan mengakhiri mogok makan mereka, yang segera terjadi. &#8220;Gerilya Eropa Barat Sedang Mengoyang Sistem Imperialis merupakan slogan yang menyatukan RAF, AD, dan kelompok tempur Belgia Sel-sel Tempur Komunis (CCC) tahun 1985. Meskipun terdapat sejumlah perbedaan ideologis dengan kelompok yang terakhir, aksi kelompok-kelompok tersebut diarahkan untuk membantu satu sama lain, dan kelompok-kelompok tersebut saling berkerjasama dalam hal logistik. Dalam media, &#8220;gerilya Daerah Eropa Barat&#8221; menjadi musuh publik nomor satu, dan konsep tersebut sangat kontroversial didalam kaum militan kiri. Dengan penangkapan anggota terkemuka CCC bulan Desember 1985 dan penangkapan empat anggota AD Pebruari 1987, dua kelompok tersebut terhenti kehadirannya. Itu mengakhiri sejarah pendek &#8220;gerilya daerah Eropa Barat&#8221;.</p>
<p><strong>Penyerangan Pangkalan Udara</strong></p>
<p>Bulan Agustus 1985, RAF membom Pangkalan Undara Rhein Main Angkatan Udara AS. Agar mendapat akses ke pangkalan, komando RAF membutuhkan sebuah Kartu Identitas orang Amerika, jadi mereka menyeret seorang prajurit AS bernama Pimental keluar dari sebuah diskotik disuatu larut malam. Dia kemudian dibunuh didalam hutan untuk menghindari menjadi seorang saksi. Dua orang yang lain tewas dalam serangan bom di pangkalan tersebut.</p>
<p>Spektrum kaum militan melihat secara kritis serang tersebut, terutama sekali mengenai kematian Pimental, yang disebut RAF “kebutuhan saat praktek”. Semua pencapaian gerakan perlawanan yang telah diciptakan selama mogok makan sekarang hilang. Kritisisme menjadi sangat hebat hingga memaksa RAF meresponnya. Pada Januari 1986, RAF engeluarkan sebuah dokumen yang diberi judul “Kepada Mereka Yang Berjuang Bersama Kami”. Dimulai dengan baris yang berbunyi: “Hari ini, kami katakan bahwa penembakan prajurit AS tersebut dalam situasi konkrit di musim panas lalu merupakan sebuah kesalahan yang telah menghalangi efek serangan ke pangkalan dan perbincangan mengenai orientasi aksi politik-militer, dan ofensif secara keseluruhan.”</p>
<p>Latar belakang konsesi oleh RAF adalah Konggres Anti-Imperialis Internasional yang diadakan di Frankfurt dari 31 Januari hingga 4 Februari, 1986. Konferensi ini, diorganisir oleh spektrum antiimp, dihadiri oleh perwakilan dari seluruh Eropa dan Amerika Latin dan menjadi sumber perhatian/great interest karena lebih dari seribu orang mengambil bagian. Walaupun ada ancaman pelarangan, konggres tersebut dilangsungkan juga, namun tidak sukses. Kalangan Autonomists secara khusus menyuarakan kritisisme yang hebat, terutama berkaitan dengan penembakan prajurit AS tersebut, tapi kitik mereka ditujukan pada konsep RAF secara keseluruhan.</p>
<p>Di musim panas 1986, RAF memulai kembali kampanye pembunuhannya: Beckurts, kepala korporasi Siemens, dan supirnya tewas dalam serangan bom bulan; pada Oktober, Braunmuhl, direktur kementerian pada Kementerian Luar Negeri, ditembak. Dengan kata lain, tidak ada perubahan fundamental dalam strategi RAF dan kelompok tersebut tetap terisolasi dari sektor-sektor yang luas dari gerkan kaum militan. Tapi represi dari aparatus negara: pada 1986, anggota RAF Eva Haule-Frimpong ditangkap. Sampai 1993, negara tidak mampu menangkap anggota RAF yang lain. Tapi kancah anti-imperialis menderita rangkaian pengrebekan, penangkapan dan pengaduilan tanpa.</p>
<p><strong>Lereng Terakhir Ke Penghabisan</strong></p>
<p>Setelah tergelincir aksi tahun 1987, RAF merubah strateginya mulai 1988. Target penyerangan serangan meiliki beberapa hubungan dengan tema gerakan perlawanan di Jerman.</p>
<p>Serangan yang gagal atas Sekretaris Keuangan, Tietmeyer di bukan September 1988 dihubungkan dengan keterlibatannya dalam konggres tahunan IMF. Dan saat kepala Deutsche Bank, Herrhausen, tewas dalam serangan bom di bulan Nopember 1989, komunike RAF untuk aksi tersebut juga mengarah kepada IMF dan Bank Dunia. Hingga 1991 terdapat serangkaian serangan gagal yang terjadi kadang-kadang oleh RAF, dan komunike-komunikenya menjadi bertambah tidak terpusat. Pada 1 April, 1991, sebuah komando RAF menembak dan menewaskan Rohwedder, kepala “Treuhandanstalt”, badan negara yang ditugaskan menjual aset-aset industri di bekas Jerman Timur. RAF menyatakan dalam komunike mereka bahwa mereka dimasa-masa akan datang, akan, mengarahkan dirinya lebih kepada menceburkan diri dalam perjuangan sosial. Serangan atas Rohwedder dimaksudkan sebagai sarana untuk mempengaruhi perlawanan yang dibayangkan dilakukan orang-orang Jerman Timur terhadap restrukurisasi kapitalis.</p>
<p>Juga pada waktu-waktu itu kontak-kontak antara RAF dan Kementerian Keamanan Negara DD, atau “Stasi” sejak permualaan 1980-an diketahui. Bekas-bekas anggota RAF yang menjadi perlindungan di Jerman Timur ditangkap dan menjadi saksi negara dalam pengadilan melawan kawan-kawanya dulu. Kontak-kontak Stasi, saksi negara ini, ketaksepakatan diantara para tahanan, dan penampakan kekurangan kejernihan diantara mereka-mereka yang masih bergerak dibawah tanah membawa kepada pembubaran banyak kelompok-kelompok anti-imperialis. Pada April 1992, RAF mengeluarkan statemen mengemukakan re-orientasi politik mereka. Runtuhnya sosialisme yang telah berdiri dan mundurnya gerakan pembebasan di Tiga Benua telah menciptakan situasi yang benar-benar berbeda. Pendekatan vanguard kelompok telah digantikankan dengan penciptaan “kekuatan-kontra dari bawah”. Statemen tersebut meneruskan dengan mengatakan: &#8220;Kami telah memutuskan untuk menarik mundur ekskalasinya. Itu berarti kami akan menahan serangan atas perwakilan modal dan negara selama masa, proses yang sangat diperlukan ini.&#8221; (Komunike RAF, 10 April, 1992) Serangan terakhir RAF dijalankan Maret 1993. Segera sebelum penyelesaiannya, penjara Weiterstadt yang baru diledakkan.</p>
<p>Pukulan terakhir berhubungan dengan RAF terjadi bulan Juni 1993. Selama lebih dari setahun, negara Jerman mampu untuk mengupayakan salah satu mata-matanya, Klaus Steinmetz, mendekati tingkat komando dari RAF. Pada Juni 1993, Steinmetz menemui anggota RAF di restoran stasiun kereta api didalam kota Bad Kleinen. Pertemuan tersebut diintai oleh polisi. Selama penangkapan yang menyusul, anggota RAF Wolfgang Grams terbunuh dan Birgit Hogefeld ditangkap.</p>
<p><strong>Fron Militant</strong></p>
<p>Fron anti-imperialis dipropagandakan dalam Dokumen Mei RAF di tahun 1982 tak menemukan banyak gaung dalam kancah kaum kiri. Dalam rangka keluar dari situasi ini, RAF mengambil inisiatif sebuah “ofensif total”. Pada 4 Desember, 1984, tahanan-tahanan RAF, sebagaimana juga para tahanan lain yang bersolidaritas dengan mereka, melancarkan aksi mogok makan sembilan minggu. Perjuangan oleh para tahanan disertai oleh gelombang serangan. Untuk pertama kalinya, spektrum anti-imperialis menjalankan serangan bom besar-besaran. Sebagai banntuan atas usaha ini, sebuah surat kabar bawah tanah foto-kopian yang dinamakan “Zusammen Kaempfen” (“Berjuang Bersama”) muncul pada akhir 1984. Topik keluaran pertama adalah aksi mogok makan, dan serangkaian komunike aksi yang dilakukan “kaum militan bawah tanah” dari sembilan kelompok diterbitkan.</p>
<p>Militan-militan ini melihat dirinya sebagai bagian dari fron anti-imperialis Eropa Bagian Barat, mereka bertindak dalam konteks politik RAF. Konsep mereka mengenai “proyek-proyek militan yang terkoodinasi”, untuk membuka tingkatan baru dalam konfrontrasi, berada dalam satu garis dengan yang dikemukankan dalam Dokumen Mei. Kaum militan, seperti RAF, melihat dirinya sebagai kaum internasionalis. Itulah mengapa mereka menamakan komando-komando mereka dengan nama para martir anti-imperialis luar negeri. Mulai tahun 1986, militant mulai menandatangani komunike-komunike mereka sebagai “Unit Tempur”, dengan nama komando yang serupa sama seperti RAF.</p>
<p>Para aktivis bawah tanah ini terutama sekali menjalankan serangan bahan peledak dan pembakaran dengan tingkat teknis yang matang. Sebagai contoh, satu “Unit Tempur” meledakkan sebuah bom mobil diluar kantor pusat “Verfassungsschutz”, badan intelejen federal, di Cologne. Militan-militan ini tak pernah menjalankan serangan penembakan tidak juga mengarahkan aksi mereka terhadap orang tertentu</p>
<p>Militan melancarkan sembilan serangan di tahun 1986. Capaian tertinggi ini dalam aktivitas mereka diikuti gelombang represi. Pada 1986, banyak orang dari spektrum antiimp ditangkap dan dijatuhi hukuman karena serangan Unit Tempur. Ini dengan sementara menghentikan serangan oleh militan. Tapi surat kabar <em>&#8220;Zusammen Kämpfen&#8221;</em> masih dipublikasikan secara berkala hingga 1991. Setelah serangan RAF atas kepala Deutsche Bank Nopember 1989, Unit Tempur melancarkan empat serangan antara Desember 1989 dan Februari 1990. Dua bom terdeteksi dan dilucuti. Setelah itu tak ada lagi aksi Unit Tempur.</p>
<p><strong>&#8216;De Knipselkrant&#8217;</strong></p>
<p>Publikasi menyangkut kelompok-kelompok bersenjata juga diterbitkan di Belanda, “De Knipselkrant”. Dokumen tersebut mendefinisikan diri sebagai militan, terbitan revolusioner dengan fokus internasionalis. Surat kabar tersebut berisikan kumpulan artikel surat kabar, komunike, dan laporan-laporan dari seluruh dunia. Jarang terdapat suatu editorial. Sebagai sarana dokumentasi, komunike dari negeri-negeri berbeda diterbitkan dalam bahasa asli mereka. Ada teks dalam bahasa Inggris, Belanda dan Jerman, well as terjemahan bahasa Jerman dari banyak teks. “De Knipselkrant” menjadi organ gerilya Eropa Bagian Barat dan menampilkan posisi RAF. Diterbitkan setiap dua kali seminggu, surat kabar tersebut membuat dimungkinkannya mendapatkan pertukaran informasi yang terus menerus. Komunike dan teks dari RAF dan kelompok lain dapat dikirim ke langganan di Jerman, sambil menghindari represi dari pihak otoritas Jerman. Pada 1988, terjadi konflik diantara editor “De Knipselkrant” dan persengketaan dengan kaum autonomists di Amsterdam. Konflik ini membawa berakhirnya proyek tersebut di awal 1989.</p>
<p><strong>Sel Revolusioner (RZ)</strong></p>
<p>Di tahun 1973, Sel Revolusioner (RZ) menjadi kelompok ketiga di Jerman Barat yang mengangkat senjata. Walaupun RZ mengikuti konsep yang berbeda dibanding Gerakan Dua Juni dan RAF, ketiga-tiganya berbagi akar yang sama. Perang Vietnam merupakan penggerak utama yang membawa kepada pembentukkan RZ. Mereka, juga, ingin mengembangkan sebuah gerilya, dan sama seperti RAF, mereka memiliki hubungan erat dengan gerakan perlawanan orang-orang Palestina. Seperti apa tepatnya kedekatan hubungan RAF dan RZ tersebut dengan orang-orang Palestina diperlihatkan oleh aksi pertama yang memberikan RZ pengakuan international. Dibawah kepemimpinan salah satu “teroris peringkat atas” yang paling dicari diseluruh dunia, Ilich Ramirez-Sanchez, dikenal dengan nama lain sebagai “Carlos”, satu komando berkebangsaan campuran Jerman-Palestina menyerbu Pertemuan Puncak OPEC di Wina bulan Desember 1975 dan mengambil 11 menteri puncak pemerintahan sebagai sandera. Saat komando menyerbu bangunan tersebut, tiga anggota kesatuan keamanan tewas, dan anggota RZ Hans-Joachim Klein terluka parah. Sebagai tambahan untuk terlukanya Klein, anggota RAF Gabriele Krocher-Tiedemann juga mengambil bagian dalam aksi tersebut. Aksi penculikan didesain untuk meletakkan tekanan pada negara-negara Arab untuk mengambil kedudukan yang tegas melawan Israel. Para menteri tersebut kesemuanya dibebaskan di Afrika Utara, dan komando menghilang. Pada akhir Juni 1976, sebuah komando terdiri dari dua orang Palestina dan anggota RZ Brigitte Kuhlmann dan Wilfried Bose membajak pesawat penumpang Air France dengan 257 orang diatasnya. Aksi ini didesain untuk memenangkan kebebasan tahanan politik didalam penjara Jerman dan Israel.</p>
<p>Pesawat berangkat dari Tel Aviv dan sejumlah besar penumpangnya adalah orang Israel. Aksi tersebut didesain untuk memberi tekanan pada pemerintahan di Jerusalem. Setelah memaksa pesawat mendarat di Entebbe, Uganda, semua sandera bukan Yahudi dibebaskan. Pada 4 Juli 1976, satu unit pasukan khusus Israel menyerbu pesawat dan membebaskan para sandera. Semua anggota komando terbunuh.</p>
<p><strong>Rote Zora</strong></p>
<p>Didalam konteks RZ, sebuah organisasi perempuan yang bersifat otonom yang dinamakan “Rote Zora” berkembang. Meskipun Rote Zora mengikuti konsep fundamental yang sama dengan RZ, kelompok tersebut merupakan ekspresi feminis radikal dari gerakan perempuan. Tapi kelompok tersebut tidak hanya semata-mata memfokuskan diri pada isu-isu perempuan, dan Rote Zora menjalankan aksinya sebagai bagian dari kampanye RZ, sebagai contoh melawan pertemuan puncak NATO tahun 1982.</p>
<p>Salah satu dari aksi Rote Zora yang paling terkenal dan sukses muncul tahun 1987: Sementara buruh perempuan Korea sedang melakukan mogok melawan korporasi tekstil Adler, yang mendorong produksinya karena harga tenaga buruh yang murah di Korea, Rote Zora mendukung usaha pemogokan para perempuan tersebut. Satu malam di Juni 1987, terjadi serangkaian peledakan bom api yang ditujukan melawan rantai pertokoan Adler. Korporasi segera menyerah pada tuntutan buruh perempuan Korea yang sedang mogok.</p>
<p><strong>Represi Terhadap RZ di Jerman</strong></p>
<p>Sebuah film yang berjudul “Operasi Entebbe” dibuat mengenai drama penyanderaan Entebbe dan aksi tentara Israel. RZ berusaha menghentikan pemutaran film dengan serangan bom api. Setelah satu aksi pada Januari 1977, Enno Schwalm dan Gerhard Albartus ditangkap. Polisi menemukan persenjataan, amunisi, identitas palsu, dan rencana untuk aksi mendatang. Kedua lelaki tersebut dikenai hukuman karena “keanggotaan dalam organisasi teroris” dan dijatuhi hukuman beberapa tahun didalam penjara.</p>
<p>Menyusul gelombang serangan Rote Zora terhadap Adler, serangkaian pengrebekan di rumah dilaksanakan terhadap 33 orang diseluruh Jerman dibulan Desember 1987. Ingrid Strobl dan Ulla Penselin ditangkap dan dijatuhi hukuman penjara Juni 1989 karena memberi dukungan kepada Rote Zora. Hanya ini dua kali kesempatan ketika individu dihukum karena keanggotaan dalam atau mendukung RZ.</p>
<p><strong>Perubahan</strong></p>
<p>RZ mengalami perubahan pada strukturnya pada akhir 1970-an. Menyusul aksi Entebbe, yang diakui dilakukan oleh “Seksi Internasional” RZ, salah satu bagian dari gerakan RZ memutuskan kontak dengan gerakan perlawanan Palestina. Terjadi konflik internal, yang didiskusikan dalam dokumen “Gerd Albartus telah Mati”, dipublikasikan di bulan Desember 1991: “He shared the criticisms of other comrades, dengan siapa kami telah melakukan diskusi yang sengit, hingga ke tingkat perpecahan, karena keputusan kami untuk memutuskan kontak internasional. Ia merasa the reduction pada struktur kami merupakan sebuah kelemahan, bahwa mendiskusikan perbedaan politik menunjukkan suatu perpecahan. &#8230; For the deceptive advantage, ia katakan, of a &#8216;clean slate&#8217;, kami telah membawa RZ to the level of leftist small group militancy and abandoned all claims of guerrilla struggle.&#8221;</p>
<p>Sekelompok kecil aktifis RZ tetap setia kepada pendekatan mereka yang sebelumnya. Kontak-kontak dengan PFLP (Popular Front for the Liberation of Palestine), sebuah kelompok perlawanan Palestina kecil, tetap dipelihara. Tapi RZ di Jerman membuat pemutusan secara tuntas dengan tradisi ini. Tak ada hubungan apapun antara keduanya, baik dalam konsep juga dalam logistik. Pada 1982, sejumlah orang berkebangsaan Jerman ditangkap di Roma dan Paris karena membawa bahan peledak dan senjata untuk gerakan perlawan Palestina. Gerd Albartus kembali ke Lebanon di bulan Desember 1987 dan, denga sebab-sebab yang sampai saat ini belum jelas, diadili dan dieksekusi oleh kelompoknya sendiri.</p>
<p><strong>Popularitas RZ</strong></p>
<p>Popularitas RZ diantara kaum militan kiri sebagian disebabkan variasi bentuk-bentuk aksi mereka, dengan segala dari/ with everything from membagi-bagikan tiket kereta api yang telah dipalsukan hingga melakukan pemboman. Faktor lainnya yang penting adalah strategi RZ di tahun 1980-an adalah tidak membunuh manusia. Ketika Menteri Ekonomi untuk negara bagian Hesse, seorang laki-laki yang bernama Karry, meninggal selama penyerangan RZ memprotes konstruksi landasan pacu bandara Startbahn West, kelompok tersebut mendapat banyak kritik. Tak ada lagi kematian dari serangan-serangan RZ setelah peristiwa tersebut.</p>
<p><strong>Konsep atau Organisasi?</strong></p>
<p>RZ lebih menyerupai konsep dibanding sebuah organisasi. Slogan “Ciptakan Banyak Sel-sel Revolusioner!” merupakan sebuah seruan bagi setiap orang untuk menjalankan aksi-aksi RZ. Orientasi politiknya adalah kepada gerakan yang sedang berlangsung, dan diskusi-diskusi digalakkan dengan alat komunike-komunike dan teks-teks lain. Ini berbeda dari konsepsi RZ yang awal. Pada awalnya, RZ menginginkan menjadi sebuah inti yang terorganisir, berkait dengan gerakan dengan tujuan meradikalisir mereka dan akhirnya membentuk gerakan gerilya. Dengan tanpa benar-benar membuang tujuan awal ini, pandangan lama bertansformasi. Terdapat juga perkembangan yang tidak seimbang didalam RZ. Ada sejumlah RZ, sering disebut RZ Tradisional, yang mengadaptasi model lama, kemudian ada orang-orang yang hanya sekedar menggunakan nama RZ untuk menjalankan aksi-aksi &#8211; dengan kata lain, itu hampir seperti terdapat RZ yang terorganisir dan tak terorganisir sekaligus</p>
<p><strong>Konsep RZ di tahun 1980-an</strong></p>
<p>RZ menolak politik kepeloporan dari kelompok-kelompok semacam RAF. Berikut adalah sebuah kutipan dari “Delapan tahun RZ &#8211; Two Steps Forward In The Struggle For The Minds Of People, And Our Own”, sebuah teks RZ yang disiarkan di 1981: “&#8230;Kami pikir tidak mungkin untuk menjalankan serangan terhadap lembaga-lembaga pusat pemerintahan: We can&#8217;t pose the question of power! Kami tidak sedang melangsungkan peperangan! Sebaliknya, kami sedang berada pada permulaan perjuangan yang panjang dan sulit untuk memenangkan hati dan pikiran rakyat &#8211; bukannya langkah pertama menuju sebuah kemenangan militer”. RZ menganjurkan perjuangan bersenjata dari status legalitas. Hal itu menunutun penyelidik negara untuk menyebut mereka “weekend terrorists”, tapi pendekatan RZ terbukti berhasil. Anggota-anggota RZ yang anonim dapat mengikuti efek dari aksi-aksi mereka secara langsung dan membawanya kedalam pergerakan. Karena anggota-anggota RZ tidak diketahui, tetapi juga tidak hidup dibawah tanah, mereka lebih terlindung dari represi. Hal demikian tidak berlaku bagi anggota-anggota RAF, bagi mereka menghabiskan seluruh hidup dalam ilegalitas merupakan salah satu prasyarat.</p>
<p><strong>Akhir dari gerakan RZ</strong></p>
<p>Konsep RZ concept hanya dapat berfungsi in correspondence with pergerakan yang lebih luas. Tanpa pergerakan semacam itu, RZ terreduksi hingga menjadi sebuah bentuk aksi bersenjata, terisolir dan dekat dengan kepunahan. Itu tepatnya yang terjadi di pertengahan 1980-an dengan penurunan gerakan otonomis.</p>
<p>Di tahun 1986, RZ memulai sebuah kampanye militan melawan deportasi polisi dan otoritas dengan slogan, “For Free Floods! Berjuang Untuk Hak Tinggal bagi Pengungsi dan Immigran!” Ini merupakan sebuah perpisahan dari konsep baru RZ. Tidak terdapat pergerakan luas yang sedang mendukung para pengungsi dan kaum imigran dimana RZ dapat melakukan kerja-kerja, tidak juga sebuah gerakan luas didalam kiri radikal dengan fokus semcam ini. RZ mencoba memulai suatu pergerakan dengan tangan mereka sendiri. Dalam teks yang berjudul “Akhir dari Politik Kita” yang dikeluarkan January 1992, RZ menyatakan: “Kami melihat kemungkinan dalam hubungan kami dengan tema-tema sosial dan kampanye pengungsi untuk menciptakan sebuah lingkungan aksi baru untuk solidaritas internasional di metropolit-metropolit dan membukanya dengan tangan kami sendiri”.</p>
<p>Pada Januari 1991, RZ mengakhiri kampanye, dan setahun kemudian sebuah pernyataab mengenai pembubaran gerakan RZ dikeluarkan. Meskipun beberapa serangan masih dijalankan dengan nama RZ, itu tidak meluputkan fakta bahwa konsepsi RZ menemui jalan buntu dalam situasi-situasi 1990-an.</p>
<p><strong>Diterbitkan oleh:</strong></p>
<p><strong>Inisiatif &#8211; Internasionalis Marxis Otonomis</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2005/12/09/gerilya-eropa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Yang Dilakukan Franco Padaku</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2005/09/13/apa-yang-dilakukan-franco-padaku/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2005/09/13/apa-yang-dilakukan-franco-padaku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Sep 2005 19:39:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/v2/2005/09/13/apa-yang-dilakukan-franco-padaku/</guid>
		<description><![CDATA[Aku memasuki tahun ketiga dari hukuman dua puluh tahun penjara, setelah terbukti dengan dakwaan 'kejahatan dan terorisme' pada tahun 1964, ketika masih berusia 18 tahun. Aku ditangkap di Madrid dengan bahan peledak dan detonator dalam upaya terakhir dari 30 upaya pembunuhan diktator fasis Jenderal Franco. Rencana khusus ini antara lain mengincar Franco sebagai sasaran di stadion Santiago Bernabeu di Madrid]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pustaka.otonomis.org/images/5/5c/Granta.jpg" height="220" width="300" /></p>
<p>memoar Stuart Christie</p>
<p>Foto di atas diambil tanggal 6 Januari 1967, di gedung bundar penjara Carabanchel di Madrid. Aku di sebelah kiri dengan jumper sulaman putih. Bersamaku adalah tiga orang asal London, Jeff di sebelah kiriku dan dua orang lain yang namanya sudah hilang dari ingatan. Pria yang berjongkok adalah Alfredo, orang Argentina.</p>
<p>Peristiwanya adalah pesta Hispanis Katolik Roma ; Los Tres Reyes Magos (Tiga orang Bijak&#8211; Epipany), yang merupakan hari dimana anak-anak tahanan diijinkan masuk ke dalam gerbang jeruji dan dinding tinggi selama beberapa jam untuk menikmati kebersamaan dengan bapak atau saudara mereka, dan membuka hadiah kecil, dari sumber-sumber yang terbatas, kepada mereka.</p>
<p><span id="more-58"></span>Aku memasuki tahun ketiga dari hukuman dua puluh tahun penjara, setelah terbukti dengan dakwaan &#8216;kejahatan dan terorisme&#8217; pada tahun 1964, ketika masih berusia 18 tahun. Aku ditangkap di Madrid dengan bahan peledak dan detonator dalam upaya terakhir dari 30 upaya pembunuhan diktator fasis Jenderal Franco. Rencana khusus ini antara lain mengincar Franco sebagai sasaran di stadion Santiago Bernabeu di Madrid &#8211;markas Real Madrid&#8211; tempat Franco akan hadir menyerahkan piala kepada pemenang final liga sepakbola tahun itu.<br />
Yang aku tidak tahu adalah polisi rahasia Franco, Brigada Politico Social, melakukan infiltrasi ke dalam kelompok anarkis yang berada di belakang operasi ini, Defensa Interior, dan menunggu aku tiba di tempat yang dijanjikan di Madrid. Kontakku, yang merupakan &#8216;fasilitator,&#8217; adalah seorang tukang kayu Spanyol, dan dia bersama seorang kawan anarkis lainnya, Fernando Carballo Blanco, diganjar tiga puluh tahun penjara.<br />
Kami beruntung; hukuman terberat yang bisa dijatuhkan pengadilan adalah hukuman mati dengan garrote-vil, sebuah peralatan kuno jaman pertengahan dengan tenaga manual yang bisa mencekik dan sekaligus mematahkah leher pada saat yang sama. Tahun-tahun sebelumnya, pengadilan keadaan darurat yang sama memerintahkan untuk menghukum mati, dengan garrote-vil, dua orang anarkis muda, Delgado dan Granado. Beberapa bulan sebelumnya, seorang komunis, Julian Grimau, dibawa dari selnya di Carabanchel untuk dihukum mati dengan cara lebih &#8217;sopan&#8217; ; di hadapan regu tembak.<br />
Penjara Carabanchel, sekarang sudah tidak ada lagi, terletak di lembah Carabanchel Alto, di daerah pinggiran Selatan Madrid. Dibangun pada tahun 1940-an untuk penjara bagi orang-orang yang kalah dari rejim military-fasis-klerik yang baru menang, penjara ini berperan penting dalam sistem hukum Franco. Setelah perang saudara Spanyol berakhir tahun 1939, sedikitnya 100.000 pria dan wanita dieksekusi &#8211;beberapa orang memperkirakan angkanya jauh lebih tinggi&#8211; dan banyak diantara mereka menghabiskan jam-jam terakhir di balik dinding penjara ini.<br />
Namun tahun 1964, Carabanchel dipertimbangkan menjadi &#8216;model&#8217; penjara tanpa kekerasan maupun kelaparan seperti umumnya penjara pada tahun 1940-an hingga 1950-an. Para sipir penjara direkrut dari barisan Falange Espanola yang fasis maupun dari para veteran Divisi Biru yang berperang bersama Jerman ketiga bersiaga di Leningrad. Sebagian besar dari mereka sudah melembut pada saat aku masuk ke sana.<br />
Ketika foto ini diambil, aku baru saja menyelesaikan ijasah A-Level lewat kursus melalui surat (aku tinggalkan sekolah di Blantyre, di dekat Glasgow, Skotlandia, pada usia 14 tahun tanpa ijasah sekolah) dan mendapat pekerajan yang paling tidak sulit di penjara,. Sebagai practicante atau perawat pelaksana yang bertanggung jawab atas administrasi kesehatan di lantai lima, aku sebenarnya merupakan jenderalnya dokter. Aku bisa menggunakan ruang konsultasi dokter dan juga punya sedikit kebebasan untuk berkeliling di dalam penjara, sepanjang aku bisa meyakinkan setiap sipir penjara yang mempertanyakan urusan kesehatan yang sedang kulakukan.<br />
Tetangga sebelahku adalah jurutulis di lantai kami, atau escribiente, namanya Miguel de Castro de Castro. Pekerjaannya adalah mencatat data-data tiap tahanan dan memberikan hubungan antara tahanan itu dengan rejim yang berkuasa. Miguel, seorang pria sopan, adalah mentorku di penjara dan merupakan penaehat yang bijak dalam seni membuat sesuatu menjadi mungkin. Saya menduga hubungan kami mirip dengan tahanan tua Fletcher dan tahanan muda yang naif Godeber dalam film seri TV Inggris, Porridge.<br />
Miguel juga merupakan ahli pemalsu terbaik di Spanyol, yang sering mendapat order pemalsuan paspor, kartu ID, SIM, dan dokumen-dokumen resmi lainnya. Semua dokumen itu diseledupkan ke dalam dari dunia luar dan hasilnya kemudian diseludupkan kembali ke luar. Aku akan duduk berjam-jam di sampingnya sambil ngobrol saat dia menggunakan keahliannya untuk setiap kemungkinan dokumen. Pemeriksaan secara rutin membuat dia tidak bisa menyimpan dokumen dan bahan-bahan di dalam selnya. Disinilah aku membantu. Petugas kesehatan tidak pernah diperiksa dan jika Miguel sudah menyelesaikan kerjaan harian maka aku akan menyembunyikan dokumen itu di balik bantal kursi dokter, sedangkan bahan dan peralatan &#8211;seperti lilin, plaster gigi, dan bedak&#8211; di dalam lemari obat-obatan.<br />
Kekerasan amat sedikit di penjara. Aku tidak ingat insiden serius kecuali seorang pembunuh anak-anak didorong sampai mati dari lantai empat. Aku bahkan tidak punya ingatan khusus tentang kemarahan terhadap satu orang Spanyolpun, atau kemarahan yang diarahkan kepadaku, selain dari polisi rahasia yang menangkapku. Kadang kami memang saling teriak jika perdebatan tentang moralitas dalam aduan sapi jadi memanas.<br />
Tahun 1967 aku mengembangkan perasaan mendalam atas pertalianku dengan orang Spanyol. Dari tempramen mereka yang bersemangat dan kemurahan hatinya, mereka tampak seperti orang Irlandia. Mereka bangga dengan individualitas mereka, penuh dengan paradoks dan kontradiksi yang menyenangkan, dan secara alamiah tidak membenci perkantoran. Keriangan orang Spanyol tidak disembunyikan. Tidak ada bangsa di dunia ini yang, menurut orang Spanyol, begitu penuh daya cipta dengan sejarah dan budaya yang demikian kayanya. (Waktu itu aku berpendapat bahwa orang Skotlandialah &#8211;yaitu bangsaku&#8211; yang merupakan kekuatan penggerak dari peradaban modern). Namun walaupun mereka amat patriotik dan bangga atas budaya bersamanya, mereka tampak dimataku sebagai orang yang secara naluriah berpikiran parokial; mereka pertama-tama mendefinisikan diri bukan sebagai orang Spanyol tapi dalam level kampung mereka atau paroki atau barrio.<br />
Teman-temanku adalah &#8216;orang-orang keras&#8217; yang mengagumkan, dan nakal yang berasal dari seluruh Spanyol maupun luar Spanyol. Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah aku temui dalam situasi lain. Aku tidak pernah bertemu dengan orang yang bisa digambarkan sebagai Moriarty atau penjahat jenius. Sebagian besar adalah penjahat kelas teri yang oportunis, yang ditangkap karena kejahatan remeh. Beberapa tahanan Inggris masuk penjara karena menyeludupkan ganja dari Maroko, atau, seperti dua anak muda asal London di bagian sebelah kanan foto, masuk penjara karena urusan cek. Tapi Jeff, anak muda di sebelah kiriku, dituntut dengan upaya percobaan membunuh pacarnya. Keduanya bertengkar dan ceweknya menyerangnya dengan pisau dapur. Jeff mengatakan dia mencengkram tangannya dan ceweknya tertikam sendiri. Perempuan itu mengatakan kepada polisi dan hakim bahwa begitulah memang insiden itu terjadi, namun diperlukan waktu lama sebelum mereka percaya pada cerita perempuan itu, tepatnya berbulan-bulan sebelum Jeff dibebaskan.<br />
Sebagian kecil penjahat cukup imajinatif dan terlibat dalan kejahatan yang agak kreatif dan berskala besar, seerpti penipuan, penggelapan uang, perampokan bank atau penyeludupan rokok, namun tidak ada yang cukup cerdas karena tidak ada yang bisa meloloskan diri. Mereka umumnya menjadi korban dari keinginan yang berlebihan, perencanaan yang jelek, dan nasib yang amat buruk. Para pembunuh yang paling sial. Kebanyakan membunuh orang yang mereka cintai karena sedang amat marah dan kini harus hidup dengan perasaan bersalah.<br />
Sebelum aku masuk penjara pandanganku terhadap dunia amat sederhana, hitam atau putih; sebuah medan pertarungan moral dan semua orang adalah baik atau buruk. Itulah yang membuatku kenapa aku, seorang anarkis muda Skotlandia, berada di Spanyol dengan bahan peledak, yaitu untuk menyelesaikan apa yang tidak bisa dilakukan tentara sekutu setelah Perang Dunia ke II, yaitu membasmi tyran Franco dan menaruh perhatian pada dunia dengan berpusat pada tahanan politik Spanyol. Namun ambiguitas dari orang-orang yang aku temui di penjara membuatku tidak tenang, dan aku mulai mempertanyakan asumsi-asumsiku tentang kejahatan dan kebaikan.<br />
Setelah pengadilanku, aku dibebaskan dari sel pengasingan ke penjara umum. Keluguanku sebagai orang muda dan bahasa Sapnyol yang terbatas membuatku aku memerlukan waktu untuk menemukan teman-teman baru, dan kenapa mereka masuk penjara. Beberapa, seperti Miguel de Castro de Castro, merupakan orang baik yang solidaritasnya, pertemanannya dan pengarahannya memberikan arah bahwa hidup di penjara bisa dijalani. Namun ada juga orang-orang lain yang lebih kompleks, dengan karakter gelap yang masa lalunya jauh di luar penjelasan filosofis maupun psikologis yang bisa aku cerna.<br />
Jadi pada masa-masa awal, setelah pembicaraan berisi yang memuaskan di pekarangan dengan teman-teman baru, aku merasa telah menjalin pertemanan dengan orang-orang baik, namun mengetahui bahwa dia adalah perwira SS atau Gestapo yang sedang menunggu ekstradisi ke Jerman, Perancis, atau Belgia dengan dakwaan pembunuhan massal atau seorang pembunuh, atau tukang pukul (seperti Alfredo, yang berjongkok di foto) atau seorang pembunuh profesional bayaran, broker senjata, pemerkosa atau germo.<br />
Tahun 1967 aku ikut dalam upacara pelarian yang gagal dari Carabanchel dan kemudian dipindahkan ke penjara dengan pengamanan khusus di Alcala de Henares, sekitar 30 kilometer di sebelah utara Madrid. Aku di sana selama tiga bulan sampai Franco tanpa diduga memaafkanku. Dalam waktu beberapa hari saja aku sudah berada di dalam pesawat ke London. Aku ingat menyetir ke dalam kota London dari bandara Heathrow melalui wilayah Earls Court dan Chelsea, dengan pemandangan cewek-cewek menarik pakai rok mini dan sepatu bot tinggi. Inggris yang berbeda dibandingkan dengan yang aku tinggalkan tahun 1964; liar, muda, bebas &#8211;janji dari sebuah dunia baru. Namun di kantungku ada foto lima orang yang terlempar bersama karena nasib, dan Franco mengingatkanku bahwa dunia yang lebih tua masih tetap ada</p>
<p>*****</p>
<p><em>Dari Granta, Nomor 80</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2005/09/13/apa-yang-dilakukan-franco-padaku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Struktur Organisasi dan Struktur Kekuasaan dalam Kolektif</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2005/09/13/struktur-organisasi-dan-struktur-kekuasaan-dalam-kolektif/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2005/09/13/struktur-organisasi-dan-struktur-kekuasaan-dalam-kolektif/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Sep 2005 19:07:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Anarkisme]]></category>
		<category><![CDATA[revolusi anarkis]]></category>
		<category><![CDATA[revolusi spanyol]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/v2/2005/09/13/struktur-organisasi-dan-struktur-kekuasaan-dalam-kolektif/</guid>
		<description><![CDATA[Di Spanyol, ide-ide anarkis telah menjadi arus pemikiran yang berpengaruh pada paruh kedua abad ke sembilan belas. CNT (Confederacion Nacional del Trabajo), yang merupakan sebuah organisasi buruh anarko-sindikalis yang dibentuk pada tahun 1910 berkembang menjadi sangat kuat. Di tahun 1936, organisasi tersebut mewakili 1.5 juta anggotanya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Realitas mengenai implementasi sebuah masyarakat anarkis sering sekali diragukan. Dan kadang-kadang kita yang &#8220;setuju&#8221; dengan filosofis anarkisme pun menganggap masya-rakat anarkis sebagai utopia yang tidak dapat direalisasikan.</p>
<p>Sepertinya persepsi kita telah diracuni oleh pemikiran-pemikiran yang memberikan keabsahan kepada pemerintah negara dan hak perseorangan. Sistem pendidikan di kepulauan Nusantara sendiri cenderung menggalakkan kita untuk menghayati doktrin-doktrin yang mengakibatkan kita menjadi malas berpikir. Padahal dalam masyarakat tradisional tidak dikenal yang namanya pemerintah dan hak milik pribadi. Contohnya dalam masyarakat adat di Maluku, yang ada hanya hak pakai atas sebidang tanah tanpa kepemilikan oleh pihak swasta (1). Pada masyarakat tradisional pula, pemerintah, yang waktu dulu adalah kerajaan, lebih berfungsi sebagai mahluk yang parasitis yang selalu meminta (paksa) dari rakyat hasil kerja mereka. Penduduk terikat dengan perbudkan feodal dengan para bangsawan (2). Tidak ada juga yang namanya patriotisme -buktinya rakyat di Jawa tidak suka membantu rajanya berperang melawan penjajah Barat. Konsep nasionalisme patriotisme sama sekali tidak mempunyai akar dalam kehidupan masyarakat kepulauan Nusantara -konsep yang baru diperke-nalkan oleh kaum borjuis (priyayi) kepada masyarakat di akhir abad ke sembilan belas (3)</p>
<p><span id="more-55"></span>Anarkisme sendiri bukanlah sebuah konsep yang direkayasa atau dirumuskan oleh kaum intelektual tapi merupakan kecenderungan dalam perkembangan kehidupan manusia yang bebas. Kalau tidak diganggu-gugat oleh individ-individu atau organisasi-organisasi yang merasa dirinya pantas memerintah kehidupan masyarakat sehari-hari, kehidupan akan berjalan dengan efisien dan tanpa kelaliman (yang merupakan sifat alami negara) yang berarti.</p>
<p>Masyarakat pedesaan di Spanyol selama perang sipil (1936-39), memberikan contoh bagi kita yang menyangsikan realisasi kehidupan berdasarkan prinsip anarkis. Cuplikan bersejarah di Spanyol ini memberikan gambaran yang jelas mengenai implementasi prinsip anarkis dalam pengorganisasian eko-nomi dan kehidupan berpolitik. Meskipun demikian, anarkisme sendiri merupakan filosofis yang selalu mengakomodasikan dinamika dan perkembangan-perkembangan dalam kehidupan bermasyarakat -dan kami akan pasti bahwa masyarakat anarkis di masa mendatang akan banyak belajar dari pengalaman di Spanyol kendati juga mengakomodasikan perubahan-perubahan yang dituntut oleh zaman.</p>
<p>Semoga artikel ini dapat menjadi pemicu bagi debat dan pemikiran dan perkembangan masyarakat alternatif.</p>
<p>Kolektif Tanam Paksa, 1999.</p>
<p>*****</p>
<p>Banyak orang ketika mendengar konsep Anarkisme akan membayangkan sebuah masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip anarkis sebagai sesuatu yang tidak realistis, idealis dan naif &#8211; visi para pemimpi.</p>
<p>Media (masa) cenderung memberikan pandangan yang homogen mengenai dunia ini kepada masyarakat sehingga sangat sulit bagi mereka untuk membayangkan jika institusi-institusi yang telah diterima secara universil, seperti negara (state), sistem yuridis, polisi, tentara dan bangsa (nation) tidak eksis lagi.</p>
<p>Revolusi sosial di Spanyol yang berlangsung di tahun 1936, dapat memberikan amsal mengenai implementasi masyarakat anarkis. Selama dua tahun masyarakat menghibahkan kekuasaan ke tangan mereka sendiri dan menciptakan sebuah tatanan sosial berdasarkan prinsip-prinsip anarkis.</p>
<p>Di Spanyol, ide-ide anarkis telah menjadi arus pemikiran yang berpengaruh pada paruh kedua abad ke sembilan belas. CNT (Confederacion Nacional del Trabajo), yang merupakan sebuah organisasi buruh anarko-sindikalis yang dibentuk pada tahun 1910 berkembang menjadi sangat kuat. Di tahun 1936, organisasi tersebut mewakili 1.5 juta anggotanya. Pada saat itu juga, ide-ide anarkis mempunyai pengaruh yang besar terhadap pemikiran petani-petani gurem (peasants). Malahan kolektivisasi (pemusnahan hak milik perseorangan menjadi hak pakai umum) telah dilakukan di beberapa daerah sebelum revolusi dimulai.</p>
<p>Pada 17 Juli sebuah kup militer terjadi di Moroko dan menyebar keesokan harinya ke daerah-daerah di semenan-jung. Di berbagai daerah di perkotaan dan pedesaan, para buruh dan petani melakukan pengorganisasian diantara mereka sendiri untuk meredam kebangkitan militer. Dengan berani dan penuh inisiatif, mereka juga berhasil menghentikan pemberontakan kaum fasis di tiga perempat dari seluruh Spanyol. Para buruh tersebut bukan hanya perang untuk membasmi kaum fasis, tetapi juga untuk menciptakan tatanan sosial yang baru di Spanyol.</p>
<p>Setelah kaum fasis dikalahkan, milisi-milisi buruh (workers’ militias) yang indipenden dari pengaruh negara dibentuk. Pabrik-pabrik di berbagai kota diambil alih oleh para buruh dan di daerah pedesaan, tanah-tanah milik kaum fasis dan simpatisan mereka juga diambil alih. Di beberapa desa dibawah pengaruh anggota CNT dan FAI (Federasi Anarkis Iberia), kolektivisasi dilakukan secara besar-besaran. Selain itu, anggota-anggota FAI dan CNT juga menggagasi rapat-rapat umum di desa-desa untuk menggalakkan kolektivisasi.</p>
<p>Dalam rapat-rapat umum tersebut, masyarakat dengan sukarela mengumpulkan tanah, ternak dan alat-alat (pertanian) yang mereka miliki. Tanah-tanah yang teleh diambil alih dari para tuan tanah juga dijadikan hak pakai kolektif.</p>
<p>&#8220;Orang &#8211; orang yang tidak menyumbangkan sesuatu kepada kolektif juga diberikan hak dan kewajiban yang sama dengan yang lainnya &#8221; (4). Tidak lama kemudian dua per tiga dari seluruh luas tanah di daerah tersebut telah dikuasai oleh anti fasis dan menjadi milik (hak pakai umum) kolektif. Seluruhnya ada lima sampai tujuh juta orang yang terlibat dalam kolektif-kolektif yang dibentuk tersebut.</p>
<p>Struktur Organisasi dan Struktur Kekuasaan dalam Kolektif</p>
<p>Bagian terkecil dari setiap kolektif adalah ’kelompok kerja’, yang biasanya beranggotakan lima sampai sepuluh orang, tetapi kadang-kadang lebih. Setiap orang dalam kolektif tersebut sejauh mungkin diharuskan bekerja.</p>
<p>&#8220;Kolektif yang didirikan tersebut merupakan merupakan sebuah komunita bebas yang beranggotakan penduduk desaÉSebuah kelompok misalnya terdiri dari kawan-kawan, tetangga-tetangga atau sekelompok petani kecil, buruh tani atau pekerja harian.&#8221; (5)</p>
<p>Setiap kelompok diberi tanggung jawab oleh kolektif untuk mengelola sebidang tanah. Dalam setiap kelompok, seorang wakil yang juga diwajibkan untuk bekerja sama dengan yang lainnya, dipilih untuk ,mewakili kepentingan kelompok tersebut dalam rapat-rapat kolektif. Di beberapa kolektif, komisi administratif, yang berfungsi sebagai perencana kerja dibentuk.</p>
<p>Komisi administratif atau komite pengelola juga bertanggung jawab atas pengelolaan kolektif sehari-hari. &#8220;Mereka (yang bertugas di komite) mengatur pembelian dan pertukaran bahan baku dan berbagai produk dengan wilayah lain, pendistribusian di dalam kolektif dan pengaturan pembangunan sarana umum, misalnya pembangunan sekolah&#8221; (6)</p>
<p>Anggota-anggota komite pengelolaan dipilih oleh seluruh peserta kolektif dalam sebuah rapat umum. Suara peserta kolektif dalam rapat umum berdaulat dalam pengambilan keputusan-keputusan yang dianggap penting. Federasi kolektif-kolektif juga telah dibentuk. Federasi yang paling sukses berada di Aragon, yang beranggo-takan 450 kolektif (kurang lebih setengah juta orang). Di sana federasi distrik dan federasi regional dibentuk.</p>
<p>Kolektif-kolektif dalam wilayah yang sama bergabung untuk membentuk sebuah federasi distrik yang beranggotakan wakil-wakil terpilih dari setiap kolektif. Federasi distrik tersebut mengelola penyimpanan hasil pertanian dari kolektif-kolektif yang tergabung di dalamnya. Federasi tersebut juga mempunyai tanggung jawab untuk memfasilitasi perhubungan (komunikasi dan transportasi) bagi wilayah-wilayah yang bersangkutan dan mengurus masalah perkembangan kebudayaan.</p>
<p>Federasi regional yang mempunyai lingkup administratif yang lebih luas didirikan oleh wakil-wakil dari sebagian kolektif. Diantara fungsi-fungsi federasi regional adalah : pembentukan tim-tim teknis yang bertujuan untuk memajukan pertanian ; penghimpunan statistik produksi ; penciptaan persediaan pangan regional (regional reserves) ; dan pemberian kredit dan bantuan tanpa bunga kepada kolektif-kolektif.</p>
<p>Semua ini terjadi atas inisiatif para petani. Meskipun pemerintah eksis tetapi ia tidak mempunyai kekuasaan. &#8220;Sistem tatanan sosial yang dianut telah meniadakan organ-organ represif negara. Kekuasaan dipecah belah menjadi fragmen-fragmen yang ’bertaburan’ di ribuan kota dan desa, di mana komite-komite revolusioner telah mengambil alih tanah dan pabrik, sarana transportasi dan komunikasi, polisi dan tentara. Perjuangan militer, ekonomi dan politik berjalan tanpa campur tangan pemerintah&#8221; (7)</p>
<p>Kehidupan sehari-hari</p>
<p>Di beberapa kolektif makanan dan bahan-bahan lain untuk konsumsi lokal ditaruh di gereja-gereja yang merupakan gudang-gudang yang ideal. Metode pendistribusian bervariasi diantara kolektif-kolektif. Di sebagian kolektif, gaji keluarga diberlakukan. Di kolektif-kolektif yang lain setiap orang diberikan sejumlah gaji yang besarnya telah disepakati oleh kolektif.Pemberian gaji kepada seseorang dilakukan berdasarkan kebutuhannya dan bukan jumlah jam kerjanya.</p>
<p>Ada juga kolektif-kolektif yang mengha-puskan pemakaian mata uang negara dan menggatikannya dengan mata uang lokal atau dengan kupon yang dapat ditukar dengan barang-barang.</p>
<p>Seringkali para peserta kolektif diperbolehkan untuk mengambil bahan-bahan kebutuhan pokok seperti roti, sayur mayur dan kadang-kadang tembakau, sesuai dengan kebutuhannya dan tanpa pembatasan. Kolektif-kolektif tersebut beroperasi berdasarkan prinsip ’untuk setiap orang berdasarkan kebutuhannya, bagi setiap orang tergantung dengan kemampuannya’.</p>
<p>Jikalau bahan-bahan tertentu menjadi langka, pembagian bahan-bahan tersebut diatur oleh kolektif. &#8221; Setiap orang tanpa, tanpa pertimbangan kemampuan kerjanya mendapatkan bahan-bahan tersebut, sejauh mungkin kolektif tersebut dapat memberikannya&#8221; (8)</p>
<p>Peran Wanita dalam Kolektif</p>
<p>&#8220;Wanita yang belum menikah bekerja di pabrik-pabrik kolektif atau di cabang-cabang koperasi pendistrbusian. Mereka yang telah menikah (karena terpasung dengan kerja-kerja rumah tangga) dibebaskan dari tugas-tugas tersebut, walaupun kadang-kadang kontribusi mereka juga diperlukan. Wanita yang sedang mengandung diberikan pertimbangan khusus -setiap orang bekerja sesuai dengan kemampuan fisiknya&#8221; (9)</p>
<p>Apabila sebuah kolektif memberlakukan penggajian, biasanya kaum wanita dibayar lebih rendah. Meskipun wanita memainkan peranan yang sangat besar dalam revolusi di kota-kota, di daerah pedesaan peran tradisional wanita tidak berubah dengan drastis. Kami berharap untuk dapat menelaah lebih lanjut isu-isu seputar wanita di dalam kehidupan kolektif di Spanyol.</p>
<p>Perlakuan Terhadap Individualis</p>
<p>Tidak seperti di Soviet Rusia, kolektivisasi tidak dipaksakan kepada orang-orang. Mereka diperbolehkan untuk tidak bergabung dalam kolektif dengan satu syarat bahwa mereka tidak boleh menguasai tanah lebih luas dari yang mereka dan keluarga mereka mampu garap dan mereka juga tidak diperbolehkan untuk memperkerjakan buruh. Orang-orang yang tidak bergabung dalam kolektif disebut sebagai individualis.</p>
<p>Sesuai dengan prinsip anarkis, bahwa tidak ada kebebasan kecuali setiap orang bebas, orang-orang (anarkis) percaya bahwa partisipasi dalam kolektif harus didasari kesukarelaan. Kolektivis menjadi mayoritas di pedesaan, tetapi mereka juga menghor-mati pilihan para individualis. Di banyak daerah para individualis, digalakkan oleh contoh-contoh kehidupan kolektif, akhirnya memilih untuk bergabung dengan kolektif dan hal ini mengakibatkan penyusutan populasi individualis.</p>
<p>Lebih jauh lagi para individualis mendapatkan keuntungan-keuntungan dari kolektif. Di Calanda, mereka mendapatkan listrik dan kontrakan secara cuma-cuma. Mereka juga membeli barang-barang di kolektif dengan harga rendah.</p>
<p>Kebebasan Untuk Sukses</p>
<p>Tujuan dari pembentukan kolektif adalah &#8220;untuk memproduksi secara kolektif dan mendistribusikan produk hasil kerja mereka dengan adil untuk semua (peserta koletif)&#8221; (10). Pemusnahan hak milik perseorangan menyebabkan terjadinya transformasi yang mendalam dalam pemikiran orang banyak. Perilaku para kolektivis dalam tatanan sosial yang berprinsip anarkis tersebut, merupakan bukti bahwa sifat rakus manusia yang terlihat jelas dalam sistem kapitalis saat ini, bukanlah sifat alami manusia.</p>
<p>Komunitas-komunitas yang berada dalam berbagai kolektif tersebut tidak mempunyai keinginan untuk berekspansi -menguasai tanah lebih luas dari apa yang dapat mereka garap. Solidaritas diantara para kolektivis sangatlah tinggi. Umpamanya 1000 anggota dari kolektif di Levant, yang cukup makmur, pindah ke Castilla untuk memberikan bantuan tenaga. Ada juga kolektif-kolektif yang mengirimkan bahan pangan ke front peperangan dan ke kota-kota.</p>
<p>Dengan terbentuknya kolektif-kolektif tersebut, orang-orang tidak lagi berkompetisi antara satu sama lain. Mereka juga tidak perlu lagi menuruti perintah majikan atau menggarap tanah yang bukan milik mereka dengan imbalan yang kecil. Di dalam kolektif mereka mempunyai kontrol terhadap kerja yang mereka lakukan dan hak dalam pengambilan keputusan-keputusan mengenai pengorganisasian kerja dan pengelolaan sumber daya. Dalam kondisi yang penuh kebebasan itu, gagasan dan antusiasme petani-petani Spanyol tidak mengenal batasnya.</p>
<p>&#8220;Kolektivisasi merupakan sebuah bentuk gotong royong yang menghasilkan banyak nilai tambah dalam kehidupan bermasya-rakat -sebuah bentuk kerja kolektif (sama) yang manusiawi. Kebebasan dan persamaan hak merupakan asasnya&#8221; (11)</p>
<p>Metode pertanian moderen diterapkan dan banyak penelitian dalam bidang pertanian juga dilakukan. Berbagai sumber daya dipakai untuk memajukan pertanian. Komunita-komunita diuntungkan dengan penghimpunan sumber daya. Federasi regional mempunyai tenaga ahli yang dapat dipakai oleh masyarakat. Orang tengah yang parasitis, birokrasi yang boros dan mekanisme-mekanisme kontrol lainnya yang diperlukan untuk mempertahankan sistem kapitalis telah ditiadakan.</p>
<p>Produksi naik secara besar-besaran di dalam kolektif-kolektif tersebut. Di bebe-rapa daerah, hasil panen naik sampai lima kali dibandingkan dengan hasil yang diperoleh sebelum revolusi. Di Alcoriza, para kolektivis mendirikan sebuah pabrik susis di sebuah gereja tua.</p>
<p>&#8220;Produksi harian mencapai 500 kg yang sebagian dikirim untuk milisi anti fasis. Mereka juga telah mendirikan sebuah pabrik sepatu, yang tidak saja berproduksi untuk memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga untuk komunita-komunita tetangga.&#8221; (12).</p>
<p>Pengangguran tidak lagi menjadi masalah. Ini merupakan perubahan yang besar di Spanyol, dimana para petani gurem biasanya akan menganggur setengah tahun setiap tahunnya.</p>
<p>Kerja-kerja yang dilakukan di kolektif-kolektif tidak hanya difokuskan untuk kesejahteraan materi. Para anggota kolektif juga memberikan perhatian yang besar terhadap pendidikan dan dalam periode itu banyak sekolah yang didirikan, berdasarkan metode Fransisco Ferrer, tokoh pendidikan anarkis yang terkenal di dunia. Dengan usaha-usaha tersebut, banyak anak menerima pendidikan untuk pertama kalinya.</p>
<p>Di Calanda, &#8220;Sekolah merupakan program yang luar biasa di desa. Pendidikan di situ mengadopsi filsafat Fransisco Ferrer. Sekolah yang didirikan di atas tanah gereja tua tersebut menampung 1233 murid. Anak yang mempunyai kemampuan yang luar biasa dikirim ke Leyceum, di Capes, atas biaya kolektif &#8221; (13). Federasi Kaum Muda Libertarian, merupakan organisasi yang sangat aktif mengadakan aktivitas kebudayaan, seperti mendirikan perpustakaan, bioskop dan pusat-pusat kemasyarakatan.</p>
<p>Inisiatif-inisiatif dari petani-petani gurem, dapat dipertunjukan, misalnya ide-ide mereka untuk merubah bangunan-bangunan gereja menjadi bioskop, warung, bengkel kayu, rumah sakit, pabrik makanan dan barak. Contoh penggantian fungsi gereja dalam kolektif dapat disimak dari kejadian di Alcaniz :</p>
<p>&#8220;Para pendeta melarikan diri. Gereja-gereja yang ditinggali tidak dibakar tetapi dijadikan gudang untuk kepentingan kolektif. Daftar barang-barang yang tersedia ditulis di pilar-pilar bangunan tersebut : sepatu dan sendal ; sabun dan bahan pembersih lainnya ; daging dan susis ; pengawet dan persediaan pangan lainnya ; kain dan bahan lainnya. Kentang disimpan di altar utama.</p>
<p>Tidak ada barang yang dapat dibeli dengan uang, hanya dengan kupon. Setiap anggota kolektif mempunyai kartu keanggotaan dan sekeping buku kupon. Setiap barang yang mereka ambil akan dicatat di dalam buku kupon tersebut. (Bekas) Gereja tersebut telah diubah fungsinya menjadi pasar &#8221; (14).</p>
<p>Revolusi Spanyol mempunyai keunikan dalam sejarah karena, hanya pada saat itulah masa, secara sadar, menerapkan teori-teori anarkisme dalam praktek. Meskipun kolektif-kolektif tersebut tidak diberikan kesempatan untuk bekembang secara (lebih) penuh dan tidak sempurna, ia merupakan sebuah kesuksesan selama eksistensinya. Kolektif-kolektif tersebut menunjukan bagaimana orang awam mampu mengorganisasi sebuah masyarakat yang adil dan efisien jikalau keadaan mendukung. Para petani gurem dan buruh di Spanyol menunjukan bahwa anarkisme dapat direalisasikan.</p>
<p>Catatan</p>
<p>[1] Pengakuan Hak atas Sumberdaya Alam, Ton Dietz, 1996, hal.123.<br />
[2] 2. Masyarakat Indonesia dalam Transisi, W.I. Wertheim, 1999, hal.43.<br />
[3] Ibid, hal.31 KEBEBASAN UNTUK SUKSES &amp;emdash;Kolektif Anarkis di Pedesaan Selama Perang Sipil Spanyol.<br />
[4] Anarchists in The Spanish Revolution, Jose Peirats, hal. 139<br />
[5] 2. With the Peasants of Aragon, Augustin Souchy Bauer, hal. 20<br />
[6] 3. The Spanish Civil War, Anarchism in Action, Eddie conlon, hal.18<br />
[7] 4. ibid, hal.23<br />
[8] 5. With the Peasants of Aragon, Augustin Souchy Bauer, hal. 21<br />
[9] . Anarchists in The Spanish Revolution, Jose Peirats, hal. 141<br />
[10] 7. With the Peasants of Aragon, Augustin Souchy Bauer, hal. 28<br />
[11] 8. ibid, hal.71<br />
[12] 9. ibid, hal. 41<br />
[13] 10. ibid, hal. 37<br />
[14] ibid, hal. 29</p>
<p>terakhir diperbaiki, 16 maret 2003<br />
Kolektif Tanam Paksa, 1999</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2005/09/13/struktur-organisasi-dan-struktur-kekuasaan-dalam-kolektif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
