<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pustaka Otonomis</title>
	<atom:link href="http://pustaka.otonomis.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pustaka.otonomis.org</link>
	<description>Sekedar sebuah weblog WordPress lainnya</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Feb 2009 06:21:27 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>ORGANISASIKAN KOMUNITASMU: JANGAN MEMILIH!</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2009/02/27/organisasikan-komunitasmu-jangan-memilih/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2009/02/27/organisasikan-komunitasmu-jangan-memilih/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 06:21:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/?p=139</guid>
		<description><![CDATA[Lalu kenapa kita tidak merasa ada sesuatu yang menggembirakan, jika demokrasi adalah solusi dari segala masalah kita dan dunia? Kenyataannya dunia masih juga berjalan di antara kemiskinan, pengangguran, penghancuran ekologi, penghancuran hak-hak warga oleh korporasi, dan masalah-masalah lainnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam demokrasi, harus ada yang menang dan kalah—Hillary Clinton, Program Musik Dahsyat di RCTI 19 Feb 09</p>
<p>Semua revolusi modern telah berakhir dengan kembalinya kekuatan negara—Albert Camus</p>
<p>Dewasa ini, “demokrasi” menguasai dunia. Runtuhnya rezim komunis Rusia, pendudukan di Afghanistan dan Irak yang mengatasnamakan demokrasi, sistem Pemilu multipartai yang semakin dipopulerkan di berbagai negara-negara miskin Dunia Ketiga, pertemuan-pertemuan tingkat dunia yang membahas persoalan demokrasi ekonomi, pembantaian warga sipil palestina di Jalur Gaza dan serangan balas dendam pada warga Israel yang tidak bersalah demi kekuasaan modal, juga jadwal Pemilu pada bulan April 2009 di Indonesia—yang selalu diklaim dan digembar-gemborkan sebagai pesta demokrasi. Lalu kenapa kita tidak merasa ada sesuatu yang menggembirakan, jika demokrasi adalah solusi dari segala masalah kita dan dunia? Kenyataannya dunia masih juga berjalan di antara kemiskinan, pengangguran, penghancuran ekologi, penghancuran hak-hak warga oleh korporasi, dan masalah-masalah lainnya. Lebih dari itu, kemandirian komunitas telah menjadi sesuatu yang benar-benar langka. Apakah ada yang salah dengan “demokrasi”? Apakah ada alternatif yang lebih memungkinkan dari “demokrasi”?</p>
<p><strong>Setiap Anak Kecil Dapat Tumbuh Menjadi Seorang Presiden</strong></p>
<p>Bohong. Menjadi seorang Presiden berarti memegang sebuah kekuatan dalam posisi yang hierarkis, sama halnya dengan menjadi seorang milyuner: untuk ada satu orang Presiden, harus ada milyaran orang yang memiliki kekuatan lebih rendah dari dirinya. Dan seperti halnya dengan milyuner, hal yang sama berlaku juga dengan keberadaan seorang Presiden: bukan sebuah kebetulan bahwa kedua tipe tersebut saling menguntungkan, semenjak keduanya datang dari dunia yang memiliki banyak hak-hak istimewa dengan cara membatasi hak-hak kita sebagai orang-orang yang bukan bagian dari mereka. Sistem ekonomi kita, juga sebenarnya tidaklah demokratis, kita semua sudah tahu bahwa sumber kekayaan didistribusikan dengan proporsi yang secara absurd sangatlah tidak adil. Untuk menjadi seorang Presiden engkau harus memulainya dengan memiliki sumber kekayaan, atau setidaknya memiliki kedudukan untuk mengumpulkan lebih banyak lagi sumber kekayaan. Walaupun apabila memang benar bahwa setiap orang dapat tumbuh menjadi seorang Presiden, hal tersebut tidaklah akan menolong milyaran dari kita yang kebetulan tidak menjadi seorang Presiden—yang masih harus hidup dalam bayang-bayang kekuasaannya. Hal inilah yang menjadi kesulitan mendasar, yang intrinsik, dalam sistem demokrasi representatif[1]—di mana kesulitan tersebut terjadi dalam level paling bawah maupun dalam level teratas. Sebagai contoh: Walikota, bersama beberapa orang politisi profesional, dapat mengagendakan pertemuan-pertemuan yang mendiskusikan masalah-masalah yang dialami oleh warga kota tersebut. Kemudian mereka menghasilkan berbagai keputusan setiap harinya untuk ditaati oleh setiap warga kota, tanpa sekalipun pernah mengkonsultasikannya dengan para warganya. Masalahnya, masalah yang dialami oleh tiap warga pasti berbeda-beda, sehingga mereka yang tidak mengalami masalah yang sama jelas akan merasa keberatan dengan diberlakukannya keputusan sepihak dari Walikota. Tidak perlu heran apabila ketidakpuasan akan terus terjadi. Para warga kota dapat memilih Walikota yang lain, walaupun pilihannya hanya akan kembali ke lingkaran yang itu-itu saja: mereka yang telah disediakan dalam daftar politisi atau calon politisi yang sudah dipilihkan untuk warga kota. Dari pilihan itu, tetap saja kepentingan dan kekuatan kelas dari para politisi tersebut akan selalu bertentangan dengan kepentingan warga kota. Lagipula, para loyalis partai politik selalu saja hanya melakukan hal-hal yang dianggap baik demi mendapatkan kursi kekuasaan dan bagaimana caranya mempertahankan kursi tersebut. Apabila tidak ada Presiden, maka bukan berarti bahwa “demokrasi” kita tersebut kurang demokratis. Masalah mendasarnya adalah korupsi, kepemilikan hak-hak istimewa dan hierarki tidak akan pernah lenyap walaupun kita telah memilih jutaan Presiden; karena cacat tersebut tidak terletak secara personal pada siapa yang menjadi Presiden, melainkan bahwa hal-hal tersebut merupakan metode-metode pemerintahan yang telah melekat erat dalam bentuk pemerintahan apa pun.</p>
<p><strong>Tirani Mayoritas</strong></p>
<p>Apabila anda pernah mengalami suatu masa di mana anda menjadi bagian dari kelompok minoritas yang tidak masuk hitungan sama sekali, sementara kelompok mayoritas memutuskan bahwa anda harus kehilangan sesuatu yang sangat penting bagi diri anda sendiri tapi dianggap tidak penting oleh kelompok mayoritas, akankah anda hanya menurut demi kepentingan mayoritas? Saat hal tersebut terjadi, benarkah seseorang akan menyadari bahwa kekuasaan sekelompok orang ada karena mereka telah menyingkirkan hak-hak orang lainnya? Kita menerima kebenaran secara mutlak bahwa kepentingan mayoritas lebih penting karena kita tidak pernah percaya bahwa hal tersebut akan mengancam kepentingan kita—dan biasanya mereka, para minoritas yang telah terancam kepentingannya, telah ditutup dulu mulutnya sebelum kita sempat mendengar langsung tentang kondisi yang mereka alami. Tak ada “masyarakat biasa” yang mengakui bahwa dirinya terancam oleh aturan mayoritas, karena setiap orang berpikir ada sebuah “kekuasaan moral” yang menyatakan bahwa kepentingan mayoritas ada di atas segala-galanya: sesuatu yang di dalam kenyataan disebut sebagai fakta dengan merujuk pada standarisasi nilai-nilai yang tidak pernah ditanyakan terlebih dahulu, apakah kita sepakat atau tidak dengan aturan tersebut. Kalaupun hal tersebut tidak disebut sebagai fakta, setidaknya kita begitu sering mendengar hal tersebut dari berbagai teori, yang menyatakan bahwa ide tentang kepentingan mayoritas ada di atas segala-galanya. Dari demokrasi tersentral ala negara-negara Komunis, demokrasi Pancasila, sampai dengan demokrasi pasar yang eksis sekarang ini, kesemuanya tidak pernah mengakomodir kepentingan yang berbeda dari kepentingan mayoritas[2], bahkan jika itu adalah sesuatu yang keliru. Demokrasi dengan aturan mayoritas selalu berakhir dengan keputusan bahwa, apabila segala fakta telah terbukti benar, maka semua orang akan dibuat melihat bahwa hanya ada satu macam cara melakukan sesuatu yang bisa dikatakan benar alias hanya ada satu macam kebenaran. Tak heran jika pola demokrasi seperti demikian tak ada bedanya dengan kediktatoran. Masalahnya, dalam banyak kasus bahkan apabila “fakta” dapat dihadirkan secara jelas pada semua orang (yang jelas tak akan mungkin) beberapa hal tak dapat disetujui begitu saja, yang merupakan bukti bahwa sebenarnya kebenaran tidak hanya satu macam saja. Ada begitu banyak kebenaran di dunia ini, karena masing-masing individu dan lingkungan yang membentuknya punya keunikannya sendiri. Memaksa kebenaran yang bervariatif menjadi kebenaran tunggal akan menghilangkan keindahan yang mewarnai hidup ini. Kita semua membutuhkan bentuk-bentuk demokrasi yang mampu menghitung peristiwa-peristiwa tentang perbedaan kebenaran, di mana kita juga bebas dari sebuah sistem kediktatoran mayoritas sebagaimana kediktatoran kelas yang memiliki hak-hak istimewa.</p>
<p><strong>Aturan Hukum</strong></p>
<p>Perlindungan yang disediakan oleh institusi-institusi legal yang kita miliki sama sekali tidak cukup. “Aturan dan hukum yang adil”, yang dewasa ini diberhalakan oleh mereka yang memang memerlukan perlindungan atas kepentingannya (misalnya tuan tanah atau direktur bank), tidak dapat melindungi setiap orang dari kekacauan atau ketidakadilan; hal tersebut hanya menciptakan arena spesialisasi baru, di mana potensi dan kekuatan yang sebenarnya dimiliki oleh komunitas akan direduksi ke dalam sebuah arena jual beli yang mahal untuk membayar hakim atau pengacara. Masyarakat yang miskin, lemah, dan tidak berdaya, adalah kelompok yang paling akhir diperhatikan oleh aturan hukum yang ada. Di bawah kondisi demikian, potensi mandiri dan kekuatan yang dimiliki oleh kelompok masyarakat akan disibukkan pada persoalan pemenuhan kemampuan finansial untuk membiayai institusi pengadilan, bukan digunakan untuk merebut kembali hidup yang telah dirampas. Memapankan keadilan dalam masyarakat melalui penguatan dan pemaksaan kontrol oleh hukum tidak akan pernah berhasil: beberapa hukum hanya dapat menginstitusionalkan apa yang telah menjadi aturan dalam masyarakat. Apa yang kita butuhkan adalah meninggalkan demokrasi representatif, untuk sebuah demokrasi partisipatoris[3] sepenuhnya.</p>
<p><strong>Bukan Sebuah Kebetulan Apabila “Kebebasan” Tak Ada Dalam Kotak Pemilu</strong></p>
<p>Kebebasan bukanlah sebuah kondisi—melainkan sesuatu yang lebih dapat dikatakan sebagai sebuah sensasi—dan hal tersebut bukanlah sebuah konsep akan janji kesetiaan untuk dituju, sebuah sebab yang mendasari tindakan, ataupun sebuah standar yang mengharuskan kita berbaris di bawah satu bendera; melainkan sebuah pengalaman yang harus anda alami sehari-hari yang bila tidak dialami, maka kebebasan tersebut akan meninggalkan anda. Kebebasan bukanlah saat kita beraksi ketika bendera dikibarkan dan bom-bom dijatuhkan hanya demi “membuat dunia aman untuk demokrasi”, tak peduli apa pun warna bendera yang dikibarkan (bahkan juga bendera hitam). Kebebasan tak bisa diterapkan dalam sistem pemerintahan ataupun doktrin filosofis apa pun. Memberikan kebebasan pada orang lain tak akan mampu memperkuat kebebasan, selain hanya mengekang kemampuan orang tersebut untuk menemukan kebebasannya sendiri. Kebebasan muncul pada saat-saat yang sederhana; saat membuat anak kecil percaya pada sesuatu yang dilakukannya, pada momen-momen bersama dengan beberapa teman dekat dan kerabat, ataupun pada saat para pekerja menolak perintah pimpinan serikat buruhnya, dan kemudian mengorganisir pemogokan mandiri tanpa pemimpin. Apabila kita memang memperjuangkan kebebasan kita, maka kita harus mulai berjanji pada diri kita sendiri untuk selalu mengejar dan menghargai momen-momen tersebut dan berusaha semaksimal mungkin untuk mengembangkannya. Hal ini jelas lebih baik daripada menghabiskan waktu kita untuk melayani kepentingan partai atau ideologi (apa pun). Kebebasan yang nyata tak akan dapat ditemui dalam kotak Pemilu. Kebebasan bukan sekedar kemampuan untuk memilih satu dari beberapa pilihan, melainkan berpartisipasi aktif untuk membuat pilihan sendiri: membentuk dan mendekor ulang lingkungan di mana pilihan-pilihan tersebut dapat terbentuk. Tanpa hal ini, kita tak akan memiliki apa pun, selain hanya menerima pilihan yang telah ada berulang-ulang kali—membuat keputusan yang hasil akhirnya juga akan selalu sama. Apabila pilihan ada di tangan kita, maka segala sesuatu berarti kemungkinan baru. Dan ketika telah tiba saatnya untuk mengambilalih kekuatan dan kekuasaan atas diri kita sendiri, maka tak akan ada seorang pun yang dapat merepresentasikan diri kita—hal itu adalah sesuatu yang harus kita lakukan secara mandiri. Kedaulatan tak akan pernah bisa direpresentasikan, bukan?!</p>
<p><strong>“Lihat, Kotak Suara Pemilu—Demokrasi!”</strong></p>
<p>Apabila kebebasan adalah sesuatu yang berharga di mana telah banyak generasi yang berjuang dan mati untuknya, maka kotak suara Pemilu adalah sebuah pereduksian makna atas kebebasan itu sendiri; seseorang cukup memasukkan pilihan suaranya pada sebuah kotak, kemudian kembali ke tempat kerjanya di mana dirinya tak lagi memiliki kontrol atas hidupnya, yang juga berarti hal tersebut justru tidak dapat dibilang sebagai upaya untuk meneruskan perjuangan demi kebebasan yang telah dilakukan lebih dulu oleh generasi-generasi sebelum kita. Untuk gambaran yang lebih mudah mengenai kebebasan, lihatlah musisi yang sedang melakukan improvisasi musikal bersama beberapa partnernya; ia melakukannya dalam suasana yang menyenangkan, dengan kerjasama yang benar-benar tanpa paksaan, sehingga mereka dapat aktif mencari nada, tempo, dan suasana yang nyaman di mana mereka dapat eksis—semua berpartisipasi untuk mentransformasikan dunia yang sebaliknya juga mentransformasikan diri mereka. Ambil model tersebut dan terapkan pada setiap interaksi kita dengan orang lain, maka anda akan memiliki sesuatu yang secara kualitas jadi lebih baik daripada sistem yang ada saat ini: sebuah harmoni dalam hubungan dan kehidupan manusia—sebuah demokrasi yang sesungguhnya. Untuk mencapai titik tersebut, kita harus mulai menganggap Pemilu sebagai sebuah ekspresi kebebasan dan partisipasi yang telah ketinggalan zaman dan tak layak dilakukan untuk merengkuh kebebasan yang lebih nyata.</p>
<p><strong>Demokrasi Representatif Memiliki Kontradiksi Dalam Istilahnya Sendiri</strong></p>
<p>Tak ada seorang pun yang dapat merepresentasikan kekuatan dan ketertarikan yang anda miliki—anda hanya akan mendapat kekuatan dengan melakukan sesuatu, dan anda hanya akan dapat tahu apa ketertarikan anda dengan cara melibatkan diri secara langsung. Para politisi telah mengembangkan karirnya dengan mengklaim bahwa mereka merepresentasikan orang lain seolah-olah kebebasan dan kekuatan politis dapat diselenggarakan oleh seorang wakil. Sejujurnya, para politisi yang sering disebut sebagai wakil rakyat, hanya orang-orang yang mewakili kepentingannya sendiri—dan kepentingan kelasnya yang berbeda dengan kita, masyarakat kebanyakan. Kepentingan para politisi yang mencari suara kita adalah mempertahankan sistem yang membeda-bedakan manusia ke dalam kelas-kelas sosial, sehingga mereka dapat menikmati hak istimewa yang hanya tersentral di sekitar mereka saja. Kepentingan kita adalah menghancurkan tersentralnya akses-akses atas hak-hak hidup dan pembagian manusia ke dalam kelas-kelas sosial, di samping memberdayakan dan memandirikan diri kita sendiri. Pemilu adalah ekspresi dari ketidakberdayaan dan ketidakmandirian kita: sebuah ijin yang kita berikan yang menyatakan bahwa kita hanya dapat mengerti kemampuan masyarakat kita melalui orang lain yang nantinya akan mewakili kita. Saat kita membiarkan para politisi tersebut menyediakan pilihan bagi kita, maka hal tersebut tak ada bedanya dengan saat kita menyerahkan urusan teknologi pada para teknokrat, urusan kesehatan pada dokter, tata kota yang kita tinggali pada ahli planologi; kita akan berakhir dengan terus hidup di sebuah dunia yang asing bagi diri kita sendiri, yang walaupun tenaga kita yang menciptakannya, kita tetap tidak mengerti apa yang sedang kita lakukan selain hanya menunggu diberitahu oleh para pemimpin dan para spesialis tentang apa saja kemungkinan yang kita miliki. Faktanya adalah kita tak perlu memilih satu di antara beberapa kandidat Presiden, merk soft-drink, channel televisi, koran, ataupun ideologi politik. Kita dapat membuat keputusan kita sendiri sebagai individu dan komunitas, kita dapat membuat makanan yang enak dengan tangan kita sendiri, membuat koalisi sendiri, media sendiri, hiburan sendiri: kita dapat menciptakan pendekatan individual kita sendiri pada hidup yang memberi kita semua keunikan masing-masing.</p>
<p><strong>Konsensus</strong></p>
<p>Secara radikal, demokrasi partisipatoris juga dikenal sebagai demokrasi konsensus, sesuatu yang di belahan dunia lain telah dikenal cukup akrab dan bahkan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, dari komunitas adat di Amerika Latin sampai pada sel-sel aksi politis posmodern (grup affiniti atau kelompok affinitas[4]) di berbagai negara Dunia Pertama ataupun pertanian organik yang dioperasikan secara kooperatif di Australia. Demokrasi konsensus juga telah berlangsung selama sekian waktu dalam komunitas Sedulur Sikep[5] sampai pada aksi gotong-royong para petani di Kulon Progo yang menolak penambangan pasir besi. Demokrasi konsensus adalah sebuah bentuk demokrasi langsung, yang sangat berbeda dengan demokrasi representatif: para partisipan selalu terlibat dalam pengambilan keputusan harian, melalui desentralisasi ilmu pengetahuan dan kekuasaan, sehingga pengambilan kontrol atas hidup sehari-hari menjadi sesuatu yang sangat mungkin. Berbeda dengan demokrasi yang mengandalkan aturan mayoritas, nilai-nilai yang dianut demokrasi konsensus membutuhkan keterlibatan setiap individu secara setara; apabila ada satu saja orang yang tidak setuju dengan sebuah keputusan yang diambil, maka adalah tugas semuanya untuk menemukan solusi baru yang dapat diterima oleh semua. Demokrasi konsensus tidak menuntut agar seseorang menerima kekuatan orang lain atas hidupnya, walaupun hal ini juga bukan berarti bahwa tiap orang tidak membutuhkan orang lain; walaupun dalam soalan efisiensi, hal seperti ini amatlah lamban, tetapi dalam segi kebebasan dan itikad baik, hal tersebut akan mendapat poin yang sangat tinggi. Demokrasi konsensus tidak memaksa orang untuk mengikuti pemimpin ataupun standarisasi nilai, melainkan membiarkan orang lain untuk memiliki tujuannya dan cara pencapaiannya sendiri.</p>
<p><strong>Otonomi</strong></p>
<p>Agar demokrasi langsung dapat menjadi berarti, orang-orang harus memiliki kontrol atas hidup yang berkaitan dengan dirinya maupun sekelilingnya. Otonomi adalah ide di mana pilihan untuk menentukan apa yang terbaik bagi diri kita masing-masing ada di tangan kita, dan bukan orang lain—apalagi orang yang hanya kita kenal dari poster atau baliho yang dipasang menjelang Pemilu. Otonomi juga berarti bahwa tak ada seorang pun yang dapat menentukan pilihan tentang apa yang harus anda lakukan untuk mengisi waktu dan potensi yang anda miliki—ataupun menentukan bagaimana lingkungan sekitarmu harus dibentuk. Jangan kacaukan hal tersebut dengan “kemerdekaan” individual yang sempit—dalam kenyataannya tak ada seorang pun yang benar-benar merdeka dan mandiri sejak banyak hal dalam kehidupan kita saling terhubung dan tergantung dengan sesama kita (kita terbiasa bekerja dan menyebut diri kita mandiri, padahal kita tetap membutuhkan peran orang lain untuk membuat kita dapat hidup mandiri[6])—kedua hal tersebut hanyalah sebuah mitos individualis sempit yang membuat kita menolak mengakui perlunya keberadaan komunitas. Pemujaan yang berlebih terhadap istilah “mandiri” dalam masyarakat kompetitif menegaskan sebuah penyerangan terhadap siapa pun yang tak mau melakukan pengeksploitasian atas orang lain demi kepentingannya sendiri. Contoh jelasnya terdapat pada istilah otonomi dan mandiri seperti yang sering disebut-sebut oleh media massa dan pemerintah (seperti dalam kata “Otonomi Daerah”[7]). Otonomi yang kita tekankan adalah sebuah hubungan saling ketergantungan yang bebas di antara sesama kita yang berbagi konsensus, seperti pilihan dengan siapa kita bertindak secara bebas demi pembangunan swakelola atas seluruh aspek kehidupan, dll. Otonomi adalah sebuah antitesis dari birokrasi (sebuah hal yang jelas membuat kata “Otonomi Daerah” tampak sebagai sebuah lelucon). Agar otonomi dapat terwujud, segala aspek komunitas, dari teknologi hingga sejarah harus diorganisir ulang agar dapat diakses oleh siapa pun. Agar perjuangan ini menemui titik terang, semua orang harus menggunakan kesempatan akan akses tersebut. Grup-grup otonomis dapat dibentuk tanpa perlu sebuah agenda yang jelas, selama sesama anggotanya mendapat keuntungan dari partisipasi anggota lainnya. Beberapa grup dapat mengandung kontradiksinya sendiri, sebagaimana secara individu kita semua juga seperti itu, tetapi masih tetap dapat bekerja bersama-sama.</p>
<p>Momen-momen di mana kita semua harus diseragamkan di bawah satu bendera, satu model dan satu pola, sudah tak mampu lagi untuk menjawab kebutuhan kita akan kebebasan yang setara. Kita harus mencoba memasuki dunia baru. Grup-grup otonomis harus mengambil sikap yang jelas untuk melawan tekanan dari luar (maupun dari dalam) yang menyatakan bahwa tak ada hak bagi individu untuk menentukan hidupnya sendiri, atau mereka yang berusaha mengilfiltrasi otonomi dan konsensus dengan melakukan penghancuran struktur. Kekuasaan atas otonomi harus dilakukan dengan cara apa pun, termasuk penghancuran struktur status quo dan menggantikannya dengan struktur yang lebih demokratis secara radikal. Sangat tidak cukup saat kita menghancurkan jalanan karena menganggap pembangunan jalan hanya menimbulkan lebih banyak lagi polusi. Kita harus mampu mencari cara seperti menyediakan transportasi gratis, misalnya. Atau contoh lainnya, kita tak cukup sekedar mengkritik pola pendidikan di Indonesia tanpa mencoba membentuk sebuah sekolah dengan pola pendidikan yang berbeda. Tak perlu sekolah besar, cukup sekolah kecil non-formal yang menggunakan pola pengajaran yang progresif.</p>
<p><strong>Aksi Langsung</strong></p>
<p>Otonomi juga berarti aksi langsung, tidak menunggu proposal untuk disetujui oleh “jalur legal” yang selalu memakan waktu yang berkepanjangan dan dana yang mengalir terus menerus tanpa jelas ke mana akhirnya. Mari bangun jalur kita sendiri. Kalau kita ingin orang-orang yang kelaparan mendapatkan makanan, jangan berikan uangmu pada institusi legal yang biasanya membutuhkan biaya-biaya administrasi yang akhirnya uangmu akan habis untuk keperluan birokratis mereka—cari di mana sumber makanan murah dan cukup bergizi, kumpulkan, dan bagikan langsung pada mereka yang mengalami kelaparan. Kalau kamu membutuhkan makanan murah, jangan tunggu sampai ada orang kaya memberimu makanan ataupun mencari tanah kosong dan meminta ijin pada insitusi legal untuk menggunakan lahan tersebut—hal itu hanya akan memakan waktu bertahun-tahun dan jalur berbelit-belit yang malahan akan menghabiskan dana yang kamu miliki. Cari lahan-lahan kosong, tanami dengan tanaman pangan yang mampu tumbuh di tempat tersebut. Langkah berikutnya adalah memelihara dan menjaganya agar dapat tumbuh subur. Akan lebih baik jika dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut secara gotong-royong dengan lebih banyak orang. Kita akan mampu untuk memelihara dan menikmati hasilnya bersama-sama. Apabila ada tuan tanah berusaha meratakan lahan panganmu karena kamu dianggap menggunakan lahan kosongnya tanpa izin, pertahankanlah bersama-sama. Para tuan tanah tersebut terlihat benar hanya karena mereka memiliki uang yang jauh lebih banyak daripada dirimu dan hukum memang melindungi mereka, bukan kalian. Jangan tunggu sebuah ijin legal disahkan untukmu, jangan tunggu mereka yang memegang kekuasaan memberitahu padamu apa yang harus dilakukan dengan hidupmu. Lakukan sesuatu. Saat ini juga.</p>
<p><strong>Federasi Tanpa Pemimpin</strong></p>
<p>Grup-grup otonomis independen dapat bekerjasama dalam sebuah federasi tanpa satu kelompok pun yang memiliki hak lebih untuk memutuskan sesuatu yang merupakan kepentingan semua kelompok. Beberapa struktur sosial seperti demikian tampak seperti sebuah utopia. Tapi sebenarnya hal-hal seperti itu mampu direalisasikan—tak perlu berharap akan terjadi dalam skala besar, cukup kita lakukan dalam skala kecil terlebih dahulu. Hal-hal besar sendiri selalu lahir dari hal-hal kecil yang terus terakumulasi dan berkelanjutan. Individu-individu yang merasa setuju sepenuhnya dengan keputusan sebuah grup tidak boleh menutup dirinya untuk bergabung juga dengan grup lainnya untuk mengembangkan keinginannya. Agar hal-hal seperti itu dapat berjalan dalam jangka panjang, kita semua perlu untuk tetap mengembangkan sikap kooperatif, saling membutuhkan dan toleransi terhadap generasi yang muncul berikutnya—hal-hal seperti itulah yang kami usulkan saat ini.</p>
<p><strong>Bagaimana Menyelesaikan Perbedaan Masalah Tanpa Perlu Keberadaan Pemerintah Ataupun<br />
Pemimpin?</strong></p>
<p>Dalam struktur sosial di mana partisipasi tiap individu diutamakan, maka harus ada sebuah tekanan untuk mendorong pereduksian kebiasaan-kebiasaan yang merusak dan penuh kekerasan. Dibutuhkan sebuah pendekatan yang humanis, bukan yang penuh paksaan dan tekanan seperti yang selama ini pemerintah lakukan dengan ancaman penjara dan aparat keamanannya yang terkenal penuh kekerasan—yang hanya memupuk korupsi di antara para petugas hukum dan membenarkan tindakan kriminal yang ada. Mereka yang menolak untuk berintegrasi dengan komunitas manapun, serta menolak bantuan atau masukan dari yang lain, jelas akan menemukan kenyataan bahwa diri mereka akan tersisihkan dari interaksi manusia; tetapi hal tersebut pun lebih baik daripada pengasingan di penjara, seperti yang selama ini selalu berlaku dalam sistem sosial kita. Kekerasan seharusnya hanya dijadikan sebuah alat untuk mempertahankan diri bagi sebuah komunitas, bukannya sebagai alasan untuk menghancurkan komunitas lainnya atas pembenaran superioritas diri seperti yang selama ini juga selalu terjadi dalam sistem sosial kita. Hal ini juga diaplikasikan bagi kelompok masyarakat ataupun grup otonomis yang belum menjalin hubungan baik dengan komunitas kita. Ketidaksetujuan yang memasuki tahapan sangat serius dapat diselesaikan dengan berbagai cara seperti reorganisasi grup ataupun pembubaran. Seringkali individu-individu yang tidak dapat lagi mendapatkan kata setuju dalam sebuah grup ataupun komunitas, justru dapat lebih banyak meraih sukses dalam melakukan pola kooperatif yang dilakukan bersama individu lain di luar komunitasnya yang pertama. Apabila dalam konsensus tak dapat ditemukan kata setuju pada sebuah komunitas, maka grup tersebut perlu untuk dipecah menjadi bagian yang lebih kecil dan saling setuju dalam beberapa aktifitasnya. Hal tersebut memang kadang membuat frustrasi, tetapi hal itu tetap lebih baik daripada akhirnya keputusan dipaksakan oleh sebagian individu yang merasa memiliki kekuatan lebih dari yang lainnya. Semua komunitas independen harus selalu berurusan dengan hal tersebut, suka atau tidak suka, apabila memang tetap ingin membangun sebuah komunitas yang sehat dan terbuka.</p>
<p><strong>Hidup (Ternyata) Tak Memerlukan Ijin</strong></p>
<p>Ini adalah bagian tersulit, tentu saja. Tetapi bukankah kita tidak sedang membicarakan sebuah aturan sosial yang adil? Kita sedang mendiskusikan mengenai sebuah revolusi total atas hubungan manusia sehari-hari—sebuah solusi yang perlu dilakukan untuk menangani masalah-masalah yang dihadapi oleh spesies kita dewasa ini. Mari hadapi kenyataan—bahwa sebelum kita semua mampu menerapkan hal tersebut, maka tak perlu heran saat kekerasan yang terjadi dalam interaksi kita sehari-hari akan terus berlanjut, dan tak ada sistem ataupun hukum yang dapat menghentikannya dan melindungi kita. Alasan terbaik untuk menggantikan demokrasi representatif adalah dengan cara membangun demokrasi konsensus di mana tak akan ada lagi solusi palsu. Memang tak ada cara yang mudah untuk menekan angka konflik tanpa mencari akar konflik itu sendiri. Mereka semua yang terlibat harus mulai belajar untuk menjadi eksis tanpa harus merendahkan yang lain, serta mengeliminir kebiasaan-kebiasaan menyebalkan kita sendiri yang justru membuat kita lelah untuk membuat sesuatu yang lebih baik di dunia ini. Perkembangan pertama yang dapat diraih dalam dunia baru ini dapat ditemukan dalam hubungan pertemanan dan cinta kita. Saat kita semua terbebaskan dari hubungan yang dipaksakan, hubungan akan menjadi lebih nyaman. Ambil contoh ini, dan terapkan dalam seluruh masyarakat—ini arti yang dimaksud dengan kalimat “melampaui demokrasi”. Adalah sebuah prospek yang menantang untuk mencapai hal tersebut dari tempat kita berada saat ini… tetapi apa yang menjadi menarik dan indah dari konsensus dan otonomi adalah bahwa kita tidak perlu menunggu terpilihnya sebuah pemerintahan yang adil dan mengerti keinginan kita semua untuk mengaplikasikan konsep di atas—kita dapat mempraktekkannya saat ini juga, dengan orang-orang di sekitar kita dan secara langsung menerima keuntungan dari hal tersebut. Sekali saja hal tersebut dipraktekkan, maka akan terbuka jelas pola hidup tersebut bagi orang lainnya; tak perlu ada khotbah mengenai mana yang baik dan mana yang buruk saat kita menghidupi aktifitas-aktifitas secara langsung. Bentuk grup otonomismu sendiri untuk menjawab tantangan bahwa penguasa tak diperlukan untuk menentukan jalan hidupmu, dan untuk membentuk lingkungan di sekitarmu yang berarti juga hidupmu sendiri. Tak ada seorang wakil pun yang dapat melakukannya untukmu—seperti juga bahwa sejak dulu tak pernah ada seorang wakil pun yang mampu melakukan sesuatu untuk hidup kita. Dari hal-hal kecil seperti yang kita lakukanlah maka demokrasi yang sesungguhnya akan terbentuk. Maka, saat seseorang berkata kepada kita di suatu waktu, “Berterimakasihlah bahwa kamu telah hidup di dalam alam yang lebih demokratis dibanding masa lalu,” kita akan menjawabnya: “Tidak cukup sampai di situ! Kita harus mengetahui dengan lebih jelas apa yang kita inginkan dan apa yang harus kita lakukan, lewat pengalaman langsung kita sendiri.”</p>
<p><strong>Aksi Langsung Versus Pemilu<br />
Panduan Bagi Komunitas-Masyarakat Non-Partai</strong></p>
<p>Di Indonesia, Pemilu yang disebut sebagai pesta demokrasi di mana “masyarakat umum” akan memilih calon pemimpin mereka—yang diharapkan akan menciptakan perubahan—telah kehilangan pamornya. Ini bukan berarti bahwa masyarakat itu sendiri telah memiliki kesadaran bahwa sistem demokrasi elit ini sudah busuk dan sepatutnya diganti. Buktinya rutinitas ajang popularitas politisi dan elit borjuis terus saja berlangsung. Mengapa seperti ini? Jawaban yang mungkin paling mudah dan sederhana adalah bahwa, meskipun masyarakat “tidak percaya lagi” terhadap pemilu, mereka tidak punya pilihan lain mengenai pilihan macam apa yang dapat menciptakan perubahan yang berarti, selain memilih politisi.</p>
<p>Inilah mengapa banyak masyarakat merasa tak berdaya. Apalagi menimbang mentalitas budaya dominan masyarakat Indonesia di mana ketergantungan dan pendambaan akan pemimpin politik masih sangat kental. Artinya, rasa percaya diri masyarakat terhadap potensi diri mereka sendiri untuk membuat perubahan sangatlah rendah. Meski begitu, budaya sendiri merupakan sesuatu yang dibuat oleh relasi antar manusia, oleh aktivitas manusia itu sendiri, yang berarti mentalitas yang dihasilkan oleh budaya itu sendiri sangat mungkin untuk dirubah. Untuk merubahnya, kita harus terbiasa untuk melakukan aksi langsung.</p>
<p>Bila memang benar bahwa pemilu hanya akan memperbesar kantong para politisi dan elit borjuis, maka, adakah cara yang lebih efisien dan efektif untuk dapat merubah kehidupan kita? Jawaban yang paling mungkin dan berarti adalah bagaimana kita mewakilkan diri kita sendiri untuk memengaruhi setiap kebijakan yang akan dibuat mengenai kehidupan kita. Bagi sebagian orang, pilihan semacam ini disebut sebagai aksi langsung.</p>
<p>Untuk lebih menjelaskannya, aksi langsung bukanlah cara-cara melobi atau kembali memilih kandidat untuk partisipasi politik, sama sekali bukan. Aksi langsung adalah bagaimana kita membangun suatu cara di mana kita sendiri secara langsung berpartisipasi aktif dalam perencanaan hidup kita. Ini berarti kita memotong peranan para penengah. Aksi langsung adalah juga bagaimana kita menyelesaikan permasalahan tanpa harus kompromi atau mempercayai peranan para elit politik di DPR, kepanjangan tangan korporasi, atau siapa pun yang mengklaim memiliki kekuasaan di atas kita. Contoh konkrit aksi langsung ada di mana-mana. Ketika sekelompok orang mendistribusikan pangan secara cuma-cuma bagi tunawisma tanpa harus menunggu kucuran dana atau izin pemerintah, mereka telah melakukan aksi langsung. Ketika seseorang membuat dan mendistribusikan medianya sendiri tanpa harus tergantung pada media-media milik borjuis untuk memuatnya, dia telah melakukan aksi langsung. Ketika komunitas kampung membangun sekolah mandirinya sendiri dan menginisiatifkan pelajarnya untuk membuat kurikulum pelajaran menurut kebutuhan mereka masing-masing tanpa harus bersandar atau tergantung pada lembaga pendidikan resmi, itu adalah aksi langsung. Aksi langsung merupakan fondasi perjuangan masyarakat yang sebenarnya, ketika mereka ingin melakukan perubahan yang berarti. Artinya, aksi langsung adalah ketika kita tidak lagi menuntut atau mengemis agar perubahan dapat dilakukan oleh seseorang yang berada di luar dari kita dan komunitas kita—tapi bagaimana kita dan komunitas kita sendiri yang mengupayakan perubahan tersebut sekarang juga.</p>
<p>Dalam banyak hal, aksi langsung jelas lebih efektif dibandingkan pemilu. Pemilu itu seperti judi, bila salah satu kandidat tidak terpilih, maka energi yang telah diupayakan oleh komunitas-masyarakat untuk menggolkan kandidatnya akan terbuang sia-sia. Dengan aksi langsung, komunitas-masyarakat akan lebih yakin dengan kerjasama serta energi yang mereka keluarkan. Dan manfaat yang didapat dari aksi langsung akan membuat infrastruktur dalam masing-masing komunitas semakin kuat. Hubungan antar komunitas pun akan lebih hidup—serta manfaat-manfaat lainnya yang tidak akan sia-sia.</p>
<p>Pemilu memusatkan seluruh kekuatan masyarakat ke tangan segelintir politisi. Semua itu dilakukan dengan berbagai intrik, manipulasi politik, serta kongkalikong dengan para pengusaha. Mereka memaksa setiap masyarakat untuk tunduk dan tidak punya partisipasi apa-apa, selain apa yang mereka perintahkan lewat mobilisasi massa dan bayaran yang sangat kecil dibanding keuntungan yang mereka dapatkan. Dengan aksi langsung, engkau akan lebih mengenal kemampuan, inisiatif, serta sumber daya-sumber daya yang ada di sekitarmu, dan memahami sejauh mana kau bisa melakukan perubahan yang sebenarnya.</p>
<p>Pemilu juga memaksa semua orang agar menyepakati suatu landasan yang belum tentu cocok dengan kita. Berbagai bentuk koalisi akan dibangun untuk membuat kompromi—setiap faksi bersikukuh bahwa landasan merekalah yang paling benar dan faksi yang lainnya hanya menjadi perusak semenjak tidak dapat mengikuti landasan faksi tersebut. Namun dari kesemuanya, tak ada satu pun yang memperjuangkan kepentingan kita. Akan ada banyak energi yang terbuang sia-sia dalam rutinitas tuding-menuding ini. Dengan aksi langsung, kita tidak membutuhkan dagelan semacam itu: berbagai kelompok yang berbeda dapat menggunakan cara yang berbeda juga—semua itu dilakukan menurut apa yang mereka percayai dan mereka butuhkan. Berikutnya, yang lebih penting, mereka merasa nyaman melakukannya. Dengan demikian, kemungkinan untuk membangun kerjasama yang saling mengisi dapat terjadi. Masyarakat yang menggunakan aksi langsung yang berbeda-beda tidak perlu berdebat sengit, kecuali mereka memang sedang mencari konflik (mungkin karena ekses pengalaman pemilu bertahun-tahun yang membuat mereka sulit untuk menerima pendapat berbeda dari yang lain). Konflik yang terjadi di masa-masa pemilu seringkali menjadi pengalihan dari permasalahan-permasalahan yang nyata, sebagaimana ketika beberapa kelompok masyarakat terlibat dalam drama dan konflik dari partai politik tertentu. Dengan aksi langsung, permasalahan yang mendesak harus diangkat, dibahas, dan menuntut untuk diselesaikan.</p>
<p>Lagipula, Pemilu hanya dilakukan dalam kurun waktu lima tahun sekali. Aksi langsung dapat dilakukan kapan saja. Pemilu hanya mengangkat beberapa agenda politik yang dibuat oleh elit politik, sementara aksi langsung dapat dilakukan di setiap aspek kehidupanmu dan di mana saja engkau berada. Pemilu dan voting sering dilebih-lebihkan sebagai “kebebasan” yang sedang beraksi. Pemilu bukanlah kebebasan, karena kebebasan berarti secara aktif memikirkan dan memutuskan sesuatu dari awal—bukan sekedar kebebasan dalam memilih apa yang hanya disediakan oleh mereka, para elit politik yang tak pernah kita kenal. Tak ada yang dapat menggantikan aksi langsung. Dengan aksi langsung, engkau sendirilah yang membuat rencana, mencoba pilihan-pilihan dan resiko-resikonya. Dan batas dari semua itu hanyalah langit.</p>
<p><strong>Catatan:</strong><br />
[1] Demokrasi representatif atau demokrasi perwakilan, adalah jenis demokrasi yang paling umum kita ketahui—dari yang dipraktekkan dalam kenegaraan, sampai pada komunitas kecil pada umumnya. Demokrasi model seperti ini sangat rentan terhadap pengkhianatan yang dilakukan oleh para wakil yang diklaim dipilih oleh banyak orang. Selain itu, kendali terhadap pilihan yang akan diambil sangat terpusat hanya pada para pemimpinnya, sehingga mayoritas orang, sebenarnya hanya dijadikan alat saja bagi para pemimpin tersebut. Tak heran jika kemudian demokrasi representatif melahirkan pengkhianatan-pengkhianatan yang dilakukan oleh para pemimpinnya. Demokrasi representatif, secara mudahnya dapat diidentifikasi berbentuk piramida di mana keputusan yang dibuat berasal dari atas (minoritas) ke bawah (mayoritas).</p>
<p>[2] Pada kenyataannya, kepentingan mayoritas ini juga memiliki kontradiksi. Contohnya, saat Partai Golkar memenangkan pemilu dengan suara paling banyak, mayoritas dari para pemilihnya tetap saja berkubang dalam kemiskinan dan rasa frustasi—hanya para pemimpin dan elit-elit partai tersebut saja yang dapat menikmati hak-hak istimewanya. Siapa pun pemimpinnya, selama masyarakat tidak mempunyai kontrol langsung terhadap keputusan-keputusan yang dibuat, masyarakat hanya akan dijadikan sebagai sapi perahan oleh para pemimpin.</p>
<p>[3] Demokrasi partisipatoris atau demokrasi akar-rumput atau biasa juga disebut demokrasi konsensus, adalah kebalikan dari demokrasi representatif. Demokrasi model ini sangat menekankan pada partisipasi aktif dari anggota komunitas bukan hanya untuk menentukan pilihan saja, tapi juga dalam pembuatan pilihan-pilihan. Demokrasi partisipatoris jelas tidak dapat dipraktekkan dalam kenegaraan karena negara membutuhkan birokrasi yang bertingkat, yang memisahkan para wakil dengan para pemilihnya. Demokrasi partisipatoris adalah demokrasi dalam artian sesungguhnya, di mana masing-masing orang memiliki hak untuk menentukan apa yang terbaik bagi dirinya. Jika demokrasi representatif menggunakan metode dari atas ke bawah (top-down), maka demokrasi partisipatoris lebih menekankan pengambilan keputusan dari bawah (bottom-up).</p>
<p>[4] Kelompok affinitas merupakan kelompok kecil berjumlah 5 sampai 20 orang yang bekerjasama secara otonom pada proyek-proyek aksi langsung ataupun proyek lain. Kelompok affinitas menantang pengambilan keputusan dari atas ke bawah, dan memberdayakan mereka yang terlibat untuk mengambil aksi langsung yang kreatif. Kelompok affinitas memampukan orang untuk melihat aksi mereka dengan kemerdekaan penuh dan kekuasaaan untuk pengambilan keputusan. Kelompok affinitas menggunakan prinsip-prinsip desentralis dan non-hierarki.</p>
<p>[5] Sedulur Sikep atau dikenal juga dengan sebutan Masyarakat Samin, adalah komunitas yang di awal kelahirannya memberontak untuk membayar pajak pada pemerintah kolonial Belanda. Metode perlawanan yang mereka lakukan adalah dengan melakukan pembangkangan sosial terhadap kepatuhan yang dipaksakan pada mereka. Komunitas ini menganggap setiap orang setara. Sampai sekarang komunitas ini masih eksis dan tersebar di beberapa wilayah seperti Blora, Pati, Pacitan, dll.</p>
<p>[6] Kemandirian dan keberdayaan yang kami maksud adalah kemandirian yang saling terhubung antar individu maupun antar komunitas—kemandirian yang tidak terpisah dengan hal-hal lainnya. Faktor-faktor ini perlu ditekankan karena sebenarnya setiap individu maupun komunitas punya keunikannya masing-masing. Bandingkan dengan individu maupun komunitas yang hanya bisa membebek pada komunitas-komunitas lainnya: semua hal akan menjadi seragam dan membosankan.</p>
<p>Di sisi lainnya, kemandirian yang dimaksud oleh para individualis sempit adalah kemandirian yang memutuskan relasi sosial dengan sesamanya. Mereka merasa dirinya sendiri jauh lebih baik dari orang lain. Kemandirian yang diklaim oleh para individualis sempit ini biasanya berujung pada tindakan kekerasan terhadap kelompok lain.</p>
<p>[7] Otonomi Daerah adalah sebuah parodi tak lucu akan kemandirian. Bagaimana mungkin sebuah daerah mampu otonom dalam konstelasi birokrasi yang terpusat, yang keputusannya tetap berada di tingkat paling atas? Otonomi daerah hanyalah sebuah restu yang diberikan pejabat-pejabat pusat di Jakarta agar para pejabat daerah bisa korupsi lebih banyak lagi, dan artinya, yang paling menderita lagi-lagi orang-orang seperti kita.</p>
<p>Sumber tulisan : <a href="http://timkatalis.blogspot.com/2009/02/organisasikan-komunitasmu-jangan.html" target="_blank">Tim Katalis</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2009/02/27/organisasikan-komunitasmu-jangan-memilih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Noam Chomsky: Marxisme, Anarkisme dan Harapan untuk Masa Depan</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2008/10/07/noam-chomsky-marxisme-anarkisme-dan-harapan-untuk-masa-depan/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2008/10/07/noam-chomsky-marxisme-anarkisme-dan-harapan-untuk-masa-depan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 11:14:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anarkisme]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Wawancara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/?p=136</guid>
		<description><![CDATA[Noam Chomsky dikenal luas karena kritikannya terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat, dan karya-karyanya sebagai seorang ahli linguistik. Yang justru kurang dikenal darinya adalah dukungannya yang terus menerus bagi tujuan-tujuan sosialis libertarian.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Pertama kali diterbitkan di Red &amp; Black Revolution No 2 1996</strong></em></p>
<p><strong>Noam Chomsky</strong> dikenal luas karena kritikannya terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat, dan karya-karyanya sebagai seorang ahli linguistik. Yang justru kurang dikenal darinya adalah dukungannya yang terus menerus bagi tujuan-tujuan sosialis libertarian. Dalam wawancara khusus dengan Red and Black Revolution (RBR), Chomsky memaparkan pandangannya mengenai Anarkisme dan Marxisme, dan prospek sosialisme kini. Wawancara ini dilaksanakan pada bulan Mei 1995 oleh Kevin Doyle.</p>
<p><span id="more-136"></span></p>
<p><strong>RBR:</strong> Pertama, Noam, Anda sudah cukup lama menjadi penganjur ide-ide anarkis. Banyak orang cukup akrab dengan kata pengantar yang Anda tulis pada tahun 1970 untuk Anarchism, tulisan Daniel Guerin, namun, baru-baru ini, misalnya  dalam film Manufacturing Consent, Anda mengambil kesempatan untuk menunjukkan kembali potensi anarkisme dan ide-ide anarkis. Apa sih yang membuat Anda tertarik pada anarkisme?</p>
<p><strong>CHOMSKY:</strong> Saya tertarik pada anarkisme sejak masih muda, segera setelah saya mulai berpikir tentang dunia melampaui secara lebih luas, dan saya belum melihat alasan yang cukup untuk mengubah pemikiran awal saya tersebut. Saya pikir, adalah benar untuk mencari dan mengidentifikasi struktur kekuasaan, hirarki dan dominasi dalam semua aspek kehidupan, dan untuk menentangnya; kecuali ada pembenaran yang bisa diberikan terhadap hal tersebut, struktur-struktur tersebut tidak sah, dan harus dihancurkan, untuk meningkatkan lingkup kebebasan manusia. Itu mencakup kekuasaan politik, kepemilikan dan manajemen, hubungan laki-laki dan perempuan, orang tua dan anak-anak, kontrol kita terhadap nasib generasi mendatang (dorongan moral mendasar di belakang gerakan lingkungan hidup, menurut pandangan saya), dan masih banyak lagi. Tentu saja ini merupakan tantangan terhadap institusi raksasa koersi dan kontrol: Negara, tirani privat yang tidak bertanggung jawab yang mengendalikan hampir seluruh ekonomi, dan sektor-sektor lain, domestik dan luar negeri. Tapi, tidak hanya itu saja. Itu adalah apa yang selalu saya anggap sebagai inti anarkisme: keyakinan bahwa beban pembuktian mesti diletakkan di pundak otoritas. Bila tak dapat membuktikan argumen keberadaannya, otoritas tersebut harus dihancurkan. Kadang-kadang beban tersebut dapat dipenuhi. Jika saya sedang berjalan-jalan dengan cucu-cucu saya dan mereka tibatiba berlari ke tengah jalan yang ramai, saya akan menggunakan tidak saja otoritas, melainkan juga paksaan fisik untuk menghentikan mereka. Tindakan tersebut harus ditantang, namun saya pikir, tindakan tersebut dapat menjawab tantangan tersebut. Dan terdapat pula berbagai kasus lain; kehidupan merupakan sesuatu yang kompleks, kita memiliki sangat sedikit pemahaman terhadap manusia dan masyarakat, dan pernyataan yang luas pada umumnya lebih mungkin salah daripada benar, bahkan bisa membahayakan. Namun perspektif ini tetaplah valid, menurut saya, dan bisa membantu kita cukup banyak.</p>
<p>Di luar generalisasi semacam itu, kita bisa mulai melihat permasalahan, dan di situlah pertanyaan mengenai kepentingan manusia dan keperdulian mulai muncul.</p>
<p><strong>RBR:</strong> Dapat dikatakan bahwa pemikiran dan kritik Anda semakin terkenal kini. Juga bisa ditambahkan bahwa pandangan Anda sangat dihargai. Bagaimana Anda pikir dukungan Anda terhadap anarkisme diterima dalam konteks ini? Khususnya, saya tertarik dengan respon yang Anda terima dari orang-orang yang mulai tertarik pada politik untuk pertama kalinya dan, mungkin, menemukan pemikiran Anda. Apakah orang-orang tersebut terkejut dengan dukungan Anda terhadap anarkisme? Apakah mereka tertarik?</p>
<p><strong>CHOMSKY:</strong> Sebagaimana anda ketahui, budaya intelektual pada umumnya mengasosiasikan &#8216;anarkisme&#8217; dengan kekacauan, kekerasan, pengeboman, gangguan dan lain-lain. Jadi orang kadang-kadang terkejut kalau saya membicarakan anarkisme secara positif dan mengidentifikasikan diri saya dengan tradisi utama di dalamnya. Namun kesan saya adalah bahwa dalam masyarakat luas, ide-ide dasarnya dapat diterima bila segalanya dijernihkan. Tentu saja, bila kita mulai membahas masalah yang lebih spesifik &#8211; katakanlah, sifat keluarga, atau bagaimana bentuk perekonomian dalam masyarakat yang lebih bebas dan adil &#8211; pertanyaan dan kontroversi timbul. Tapi memang seharusnya begitu. Fisika tidak dapat benar-benar menjelaskan bagaimana air mengalir dari keran di wastafel anda. Bila kita mulai mencoba menjawab pertanyaan yang lebih kompleks tentang kemanusiaan, pemahaman kita masih sangat minim, dan banyak ruang untuk perbedaan pendapat, percobaan, eksplorasi kemungkinan secara intelektual maupun kehidupan nyata, untuk membantu kita belajar lebih banyak.</p>
<p><strong>RBR:</strong> Mungkin, lebih dari pemikiran lainnya, anarkisme telah mengalami masalah penyalahartian. Anarkisme dapat berarti banyak hal bagi banyak orang. Apakah Anda sering kali harus menjelaskan apa yang Anda maksudkan dengan anarkisme? Apakah penyalahartian anarkisme merepotkan Anda?</p>
<p><strong>CHOMSKY:</strong> Semua penyalahartian merepotkan. Asal-muasalnya dapat ditelusuri dari struktur kekuasaan yang memiliki kepentingan untuk mencegah pemahamannya, untuk alasan-alasan yang jelas. Kita bisa merujuk pada Principles of Government karya David Hume. Ia merasa heran karena rakyat tunduk pada penguasanya. Ia menyimpulkan bahwa karena Kekuasaan selalu berada dipihak orang-orang yang diperintah, maka penguasa tidak memiliki dukungan bagi mereka sendiri kecuali opini. Maka, hanya atas opini didirikanlah pemerintahan; dan ini berlaku dari pemerintahan yang paling despotik dan militeristik hingga yang paling bebas dan merakyat. Hume sangat cerdik &#8211; meskipun bukanlah seorang libertarian menurut standar di masa itu. Ia jelas kurang memperhitungkan apa yang dapat dicapai oleh kekuatan rakyat, namun pengamatannya tampak bagi saya pada umumnya benar, dan penting, terutama dalam masyarakat yang lebih bebas, tempat seni mengendalikan opini jauh lebih canggih. Penyalahartian dan bentuk-bentuk pembingungan lainnya merupakan kawan seiring.</p>
<p>Jadi apakah penyalahartian merepotkan saya? Tentu saja, namun demikian pula cuaca yang buruk. Hal ini akan tetap ada selama konsentrasi kekuasaan menimbulkan sejenis kelas komisaris untuk mempertahankannya. Karena biasanya mereka tidak terlalu cerdas, atau cukup cerdas untuk tahu bahwa mereka sebaiknya menghindari ajang fakta dan argumentasi, mereka menggunakan penyalahartian, penjelek-jelekan dan cara-cara lain yang tersedia bagi mereka yang tahu bahwa mereka akan terlindungi oleh berbagai alat yang tersedia bagi yang kuat. Kita harus memahami mengapa ini semua terjadi, dan mengurainya sejauh kita mampu. Itu bagian dari usaha pembebasan &#8211; kita sendiri dan orang-orang lain, atau lebih mungkin, orang-orang yang bekerja bersama untuk mencapai tujuan tersebut.</p>
<p>Mungkin hal ini terdengar terlalu menyederhanakan, dan memang demikian. Namun saya masih belum pernah melihat pendapat mengenai kehidupan manusia dan masyarakat yang tidak menyederhanakan permasalahannya, setelah menyingkirkan absurditas dan pembenaran diri sendiri.</p>
<p><strong>RBR:</strong> Bagaimana dengan kelompok kiri yang lebih mapan, yang bisa diharapkan lebih mengenal apa sebenarnya yang diperjuangkan anarkisme? Apakah Anda mendapatkan kejutan akibat pandangan dan dukungan Anda pada anarkisme?</p>
<p><strong>CHOMSKY:</strong> Bila saya paham apa yang Anda maksud dengan kelompok kiri yang mapan, tidak terdapat banyak kejutan mengenai pandangan saya terhadap anarkisme, karena sangat sedikit yang diketahui orang lain tentang pandangan saya tentang apa pun. Mereka bukan kelompok tempat saya bergaul. Anda akan jarang sekali menemukan referensi tentang apa pun yang saya katakan atau tulis. Tentu saja, itu tidak sepenuhnya benar. Jadi, di AS (namun lebih jarang di Inggris atau di tempat-tempat lain), Anda akan menemukan sejumlah pemahaman tentang apa yang saya lakukan, pada sejumlah sektor yang lebih kritis dan independen dari apa yang dapat dikatakan sebagai kelompok kiri yang mapan, dan saya memiliki kawan-kawan pribadi dan rekan-rekan yang tersebar di sana-sini. Namun, lihatlah buku-buku dan jurnal-jurnal, dan Anda akan paham maksud saya. Saya tidak menganggap bahwa apa yang saya tulis atau katakan akan lebih diterima oleh kelompok-kelompok tersebut daripada di himpunan mahasiswa atau ruang editor &#8211; tentu saja dengan pengecualian. Pertanyaan ini muncul begitu terbatas, sehingga sukar dijawab.</p>
<p><strong>RBR: </strong>Sejumlah orang memperhatikan bahwa Anda menggunakan istilah &#8220;sosialis libertarian&#8221; dalam konteks yang sama dengan &#8220;anarkisme&#8221;. Apakah menurut Anda kedua istilah itu serupa? Apakah anarkisme menurut Anda sejenis sosialisme? Pernah dikatakan bahwa anarkisme adalah sosialisme dengan kebebasan. Setujukah Anda dengan pandangan sederhana ini?</p>
<p><strong>CHOMSKY:</strong> Pengantar buku Guerin yang Anda kutip itu diawali kutipan dari seorang pendukung anarkisme seabad lalu, yang mengatakan bahwa anarkisme memiliki punggung yang lebar, dan dapat memikul beban seberat apapun. Satu unsur penting anarkisme adalah apa yang secara tradisional disebut &#8220;sosialisme libertarian&#8221;. Saya telah mencoba untuk menjelaskan di sana dan di situasi-situasi lain apa yang saya maksudkan dengan itu, menekankan itu sangat original; saya mengambil ide itu dari pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh gerakan anarkis terkemuka yang saya kutip, dan secara konsisten menggambarkan diri mereka sebagai sosialis, dan pada saat yang sama mengutuk dengan kuat &#8220;kelas baru&#8221; intelektual radikal yang berusaha mendapatkan kekuasaan negara dalam arus perjuangan rakyat dan menjadi birokrasi Merah yang kejam sebagaimana diperingatkan Bakunin; yang sering disebut sebagai &#8220;sosialisme&#8221;. Saya cenderung setuju dengan persepsi Rudolf Rocker bahwa kecenderungan (penting) dalam anarkisme ini ditarik dari pemikiran terbaik Pencerahan dan liberal klasik, jauh melebihi yang digambarkannya. Bahkan, sebagaimana telah coba saya tunjukkan, mereka berbeda sangat tajam, bahkan bertentangan, dengan doktrin dan praktik Marxis-Leninis, doktrin &#8220;libertarian&#8221; yang populer di AS dan Inggris, dan dengan ideologi kontemporer lainnya, yang semuanya pada intinya tampak mendukung satu atau yang lain, bentuk otoritas yang tidak sah, bahkan cukup sering tirani betulan.</p>
<p><strong>Revolusi Spanyol</strong></p>
<p><strong>RBR:</strong> Dulu, bila Anda berbicara tentang anarkisme, Anda sering menekankan contoh Revolusi Spanyol. Bagi Anda, tampaknya ada dua aspek revolusi ini. Pertama, revolusi di Spanyol ini Anda katakan sebagai contoh bagus &#8220;anarkisme dalam praktik&#8221;. Kedua, Anda juga menekankan bahwa revolusi Spanyol merupakan contoh bagus mengenai apa yang bisa dicapai buruh melalui usaha mereka sendiri dengan menggunakan demokrasi partisipatoris. Apakah kedua aspek ini &#8211; anarkisme dalam praktik dan demokrasi partisipatoris &#8211; merupakan hal yang serupa? Apakah anarkisme merupakan filsafat kekuatan rakyat?</p>
<p><strong>CHOMSKY: </strong>Saya ragu-ragu menggunakan kata-kata rumit seperti filsafat untuk menjelaskan apa yang sebenarnya sederhana saja. Saya juga tidak nyaman dengan slogan-slogan demikian. Pencapaian buruh dan buruh tani Spanyol, sebelum revolusi ditindas, sangat mengesankan dalam berbagai hal. Istilah &#8220;demokrasi partisipatoris&#8221; merupakan istilah yang lebih baru, yang berkembang dalam konteks yang berbeda, namun terdapat beberapa kesamaan. Saya mohon maaf bila ini tidak jelas, namun itu karena saya menganggap baik konsep anarkisme maupun demokrasi partisipatoris cukup jelas untuk menjawab pertanyaan apakah keduanya sama.</p>
<p><strong>RBR:</strong> Salah satu pencapaian utama Revolusi Spanyol adalah tingkat demokrasi akar rumput yang dihasilkan. Lebih dari 3 juta orang terlibat. Produksi di wilayah perkotaan dan pedesaan dikelola para pekerja sendiri. Apakah merupakan kebetulan bila anarkis, yang dikenal atas dukungan mereka terhadap kemerdekaan individual, berhasil dalam bidang administrasi kolektif?</p>
<p><strong>CHOMSKY: </strong>Sama sekali bukan kebetulan. Gejala-gejala dalam anarkisme yang saya pandang paling persuasif mendorong tercapainya masyarakat yang sangat terorganisir, mengintegrasikan berbagai jenis struktur (tempat kerja, komunitas dan berbagai bentuk lain asosiasi suka rela), namun dikendalikan oleh para pesertanya, bukan oleh mereka yang berada pada kedudukan untuk memerintah (kecuali, lagi, bila otoritas bisa dianggap sah, sebagaimana pada beberapa hal tertentu).</p>
<p><strong>Demokrasi</strong></p>
<p><strong>RBR:</strong> Anarkis sering kali menghabiskan banyak tenaga membangun demokrasi akar rumput. Bahkan, mereka sering dituduh membawa demokrasi ke tingkatan ekstrim. Namun, banyak anarkis yang tidak mau menganggap demokrasi sebagai komponen penting dalam filsafat anarkis. Anarkis sering kali menggambarkan politik mereka sebagai &#8220;tentang sosialisme&#8221; atau &#8220;tentang individu&#8221; &#8211; jarang tentang demokrasi. Apakah Anda setuju bahwa pemikiran demokratik merupakan unsur utama anarkisme?</p>
<p><strong>CHOMSKY:</strong> Kritik terhadap &#8220;demokrasi&#8221; oleh para anarkis pada umumnya adalah kritik terhadap demokrasi parlementer, karena ia timbul dalam masyarakat dengan ciri-ciri yang amat represif. Misalkan AS, yang &#8220;bebas&#8221;, sejak awal mulanya. Demokrasi Amerika berdasarkan pada prinsip, ditekankan oleh James Madison dalam Konvensi Konstitusional tahun 1787, bahwa fungsi utama pemerintahan adalah untuk melindungi minoritas yang berkelebihan dari mayoritas. Kemudian ia mengingatkan bahwa di Inggris, satu-satunya model kuasi-demokratik pada masa itu, jika rakyat kebanyakan diizinkan memiliki peran dalam urusan publik, mereka akan menerapkan reformasi agraria atau &#8220;kekejaman&#8221; lain, dan bahwa sistem Amerika harus direkayasa sedemikian agar mencegah kejahatan terhadap hak-hak kepemilikan, yang harus dilindungi (bahkan, harus berjaya). Demokrasi parlementer dalam kerangka ini memang layak mendapatkan kritikan keras oleh kaum libertarian sejati, dan saya masih menyisakan berbagai cirinya yang sangat jelas &#8211; perbudakan, sebagai salah satu contoh, atau perbudakan demi upah yang sangat dikutuk oleh kaum buruh yang tidak pernah mendengar tentang anarkisme atau komunisme hingga abad ke-19 dan sesudahnya.</p>
<p><strong>Leninisme</strong></p>
<p><strong>RBR: </strong>Pentingnya demokrasi akar rumput untuk bagi setiap perubahan yang berarti dalam masyarakat jelas dengan sendirinya. Namun, kelompok kiri sendiri tidak memiliki pandangan yang jelas mengenai hal ini di masa lalu. Saya berbicara mengenai demokrasi sosialis pada umumnya, namun juga mengenai Bolshevikisme &#8211; tradisi-tradisi kiri yang memiliki lebih banyak kemiripan dengan pemikiran elitis daripada praktik demokratik yang sebenarnya. Lenin, sebagai contoh yang lazim, meragukan bahwa para buruh bisa mengembangkan lebih dari kesadaran serikat pekerja &#8211; yang saya artikan bahwa ia menganggap bahwa para buruh tidak bisa melihat jauh ke depan di luar keadaan mereka sendiri. Hampir sama dengan sosialis Fabian, Beatrice Webb, yang sangat berpengaruh di kalangan Partai Buruh di Inggris, berpandangan bahwa para buruh hanya tertarik pada taruhan pacuan kuda!. Dari mana elitisme ini timbul dan apa yang dikerjakannya di kalangan kiri?</p>
<p><strong>CHOMSKY:</strong> Saya kira, sukar menjawab pertanyaan ini. Jika kelompok kiri mencakup &#8220;Bolshevikisme&#8221;, maka saya akan terang-terangan memisahkan diri dari kelompok kiri. Dalam pandangan saya, Lenin adalah salah satu musuh terbesar sosialisme, karena alasan-alasan yang telah saya sampaikan. Pemikiran bahwa buruh hanya tertarik pada taruhan pacuan kuda merupakan absurditas yang akan terbukti kesalahannya dengan sedikit saja memperhatikan sejarah perburuhan atau pers kelas buruh yang independen dan aktif yang tumbuh di berbagai tempat, termasuk kota-kota manufaktur New England yang tidak jauh dari tempat saya menulis ini &#8211; ditambah lagi catatan inspirasional perjuangan berani rakyat yang ditindas sepanjang sejarah hingga kini. Tengok saja pojokan yang paling buruk di belahan dunia ini, Haiti, yang dianggap oleh para penakluk Eropa sebagai surga dan sumber kekayaan Eropa yang cukup penting, yang kini hancur, mungkin tanpa mungkin diperbaiki lagi. Dalam beberapa tahun belakangan, dalam kondisi yang sedemikian buruk sehingga tak terbayangkan oleh penduduk negara-negara kaya, rakyat jelata dan kaum miskin kota membangun gerakan demokratik kerakyatan yang berdasar pada organisasi akar rumput yang melampaui pencapaian di negeri manapun yang saya tahu; hanya komisaris yang sangat berkomitmen yang tidak jatuh terbahak-bahak apabila mendengar pernyataan sungguh-sungguh intelektual dan pemimpin politik AS mengenai rencana AS mengajari rakyat Haiti tentang demokrasi. Pencapaian mereka sedemikian besar dan mencemaskan penguasa sehingga mereka sekali lagi ditindas dengan teror yang kejam, dengan dukungan AS yang jauh lebih besar daripada yang ia akui, dan mereka tetap tidak menyerah. Apakah mereka (rakyat &#8212; ed) hanya tertarik pacuan kuda?</p>
<p>Saya menyarankan suatu kutipan dari Rousseau: ketika saya melihat segerombolan orang tak beradab yang telanjang bulat menertawakan kebejatan moral Eropa, dan  menahan lapar, api, pedang dan kematian untuk mempertahankan satu-satunya kemerdekaan mereka, saya merasa bahwa tidak pantas bagi para budak untuk berpikir tentang kebebasan.</p>
<p><strong>RBR:</strong> Berbicara mengenai hal umum kembali, karya-karya Anda &#8211; Deterring Democracy, Necessary Illusions dan lain-lain &#8211; secara konsisten membahas peran dan banyaknya pemikiran elitis dalam masyarakat seperti masyarakat kita. Anda menyatakan bahwa dalam demokrasi &#8220;Barat&#8221; (atau parlementer) terdapat antagonisme terhadap peran atau masukan konkrit dari massa rakyat, kalau-kalau ia mengancam distribusi kekayaan yang tidak adil, yang menguntungkan yang kaya. Karya-karya Anda cukup meyakinkan dalam hal ini, namun, terlepas dari ini, beberapa orang terkejut dengan pernyataan Anda. Sebagai contoh, Anda membandingkan politik Presiden J. F. Kennedy dengan Lenin, lebih kurang menyejajarkan keduanya. Ini, bisa saya tambahkan, mengejutkan pendukung kedua pihak!. Dapatkan Anda mengelaborasi lebih lanjut validitas perbandingan ini?</p>
<p><strong>CHOMSKY:</strong> Saya sebenarnya tidak mensejajarkan doktrin intelektual liberal administrasi Kennedy dengan Leninis, namun mencatat beberapa keserupaan yang mencolok &#8211; seperti diramalkan Bakunin seabad lalu dalam komentarnya mengenai kelas baru ini. Sebagai contoh, saya mengutip pernyataan McNamara mengenai perlunya meningkatkan pengendalian manajerial untuk benar-benar bebas, dan bahwa kurangnya manajemen menjadi ancaman bagi demokrasi, benar-benar suatu pembodohan. Ubahlah beberapa kata dalam pernyataan tersebut, dan kita mendapatkan doktrin Leninis yang standard. Saya menganggap bahwa akar masalah keduanya cukup dalam. Tanpa klarifikasi lebih lanjut tentang apa yang mengejutkan orang, saya tidak bisa berkomentar lebih lanjut. Perbandingan ini spesifik, dan saya pikir keduanya cukup layak dan tepat. Jika tidak, itu merupakan kesalahan, dan saya sangat tertarik untuk mendapat pencerahan akan masalah ini.</p>
<p><strong>Marxisme</strong></p>
<p><strong>RBR:</strong> Secara spesifik, Leninisme merujuk pada suatu bentuk Marxisme yang berkembang bersama V. I. Lenin. Apakah Anda secara tersirat membedakan karya-karya Marx dari kritikan khusus Anda terhadap Lenin bila Anda menggunakan istilah &#8220;Leninisme&#8221;? Apakah Anda melihat keberlanjutan antara pandangan Marx dengan praktik Lenin di kemudian hari?</p>
<p><strong>CHOMSKY:</strong> Pernyataan Bakunin tentang bahaya birokrasi Merah yang akan menjadi pemerintahan despotik yang terburuk diantara semua yang telah dikumandangkan jauh sebelum Lenin, dan diarahkan kepada pengikut Marx. Sebenarnya, terdapat banyak pengikut Marx dari berbagai jenis; Pannekoek, Luxembourg, Mattick dan lain-lainnya sangat berbeda dengan Lenin, dan pandangan mereka seringkali serupa dengan anarko-sindikalis. Bahkan, Korsch dan kawan-kawannya menulis secara simpatik mengenai revolusi anarkis di Spanyol. Terdapat keberlanjutan antara Marx dan Lenin, namun terdapat pula keberlanjutan ke kaum Marxis yang sangat kritis kepada Lenin dan Bolshevikisme. Karya Theodor Shanin mengenai sikap Marx di kemudian hari terhadap revolusi petani juga relevan di sini. Saya jauh dari seorang ahli Marx, dan tidak akan mencoba-coba memberikan penilaian serius mengenai mana yang merupakan kelanjutan &#8220;Marx sebenarnya&#8221;, bahkan bila pertanyaan tersebut bisa terjawab.</p>
<p><strong>RBR:</strong> Baru-baru ini, kami mendapatkan sebuah eksemplar Catatan tentang Anarkisme (yang diterbitkan kembali oleh Buletin Diskusi di AS tahun lalu). Di dalamnya Anda menunjukkan pandangan Marx muda, terutama mengenai pengembangan pemikirannya tentang alienasi di bawah kapitalisme. Apakah Anda sepakat dengan pembagian dalam kehidupan dan karya Marx ini &#8211; seorang sosialis muda yang lebih libertarian namun di kemudian hari seorang otoriter yang kaku?</p>
<p><strong>CHOMSKY: </strong>Marx muda mendapatkan banyak pengaruh dari lingkungan hidupnya, dan dapat ditemukan banyak keserupaan dengan pemikiran yang menghidupkan liberalisme klasik, berbagai aspek Pencerahan dan Romantisisme Perancis dan Jerman. Sekali lagi, saya tidak cukup paham Marx untuk memberikan penilaian yang mutlak. Kesan saya adalah bahwa Marx muda adalah seorang tokoh akhir Pencerahan, dan Marx tua adalah seorang pegiat otoriter dan analis kritis terhadap kapitalisme yang tidak memiliki banyak alternatif sosialis. Namun itu hanya kesan saya saja.</p>
<p><strong>RBR:</strong> Dari pemahaman saya, inti pemikiran Anda tergambar dari konsep Anda mengenai sifat manusia. Di masa lalu, pemikiran tentang sifat manusia mungkin dipandang sebagai terbelakang, bahkan mengekang. Sebagai contoh, aspek tetap dari sifat manusia seringkali digunakan sebagai alasan mengapa tidak mungkin terjadi perubahan mendasar ke arah anarkisme. Anda memiliki pendapat lain? Mengapa?</p>
<p><strong>CHOMSKY:</strong> Inti pandangan semua orang adalah sebuah konsep mengenai sifat manusia, seberapa pun jauh dari kesadarannya atau tidak dinyatakan secara tersurat. Paling tidak, itu berlaku pada orang-orang yang menganggap dirinya agen moralitas dan bukan monster. Apakah seorang mendorong reformasi atau revolusi, stabilitas atau kembali ke masa lalu, atau hanya merawat kebunnya sendiri, berdasar pandangan bahwa yang dilakukannya &#8220;baik bagi rakyat&#8221;. Namun penilaian itu berdasar pada suatu konsepsi mengenai sifat manusia, yang akan diusahakan agar bisa menjadi sejelas mungkin, agar bisa dilakukan penilaian. Jadi dalam hal ini saya tidak berbeda dengan orang lain.</p>
<p>Anda benar bahwa sifat manusia dianggap &#8220;terbelakang&#8221;, namun itu adalah hasil dari kebingungan. Apakah cucu saya tidak berbeda dari sebuah batu, seekor kadal, ayam atau monyet? Seseorang yang menganggap ini sebagai absurd akan sadar bahwa ada yang disebut &#8220;sifat manusia&#8221;.Kita tinggal menjawab pertanyaan mengenai apa itu &#8211; sebuah pertanyaan yang penting dan menarik, dengan daya tarik ilmiah maupun kemanusiaan yang tinggi. Kita memiliki cukup pengetahuan mengenai berbagai aspek darinya, namun bukan yang memiliki signifikansi kemanusiaan yang besar. Selebihnya, kita hanya memiliki harapan dan keinginan, intuisi dan spekulasi.</p>
<p>Tidak ada yang terbelakang dari fakta bahwa janin manusia sedemikian terbatas hingga ia tidak menumbuhkan sayap, atau sistem penglihatannya berbeda dengan serangga, atau tidak memiliki insting pulang merpati. Faktor-faktor yang sama dengan yang membatasi perkembangan organisme itu juga memungkinkannya memiliki struktur yang kaya dan rumit. Sebuah organisme yang tidak memiliki struktur intrinsik yang determinatif sedemikian, yang secara radikal akan membatasi arah perkembangannya, akan merupakan makhluk serupa amuba (itu pun jika ada). Lingkup dan batas perkembangan memiliki hubungan logis.</p>
<p>Ambil-lah bahasa, salah satu kapasitas khas manusia yang sudah cukup dipahami. Kita memiliki alasan-alasan kuat bahwa semua bahasa manusia sangatlah serupa; seorang ilmuwan dari luar bumi yang memperhatikan manusia akan berkesimpulan bahwa hanya ada sebuah bahasa, dengan variasi-variasi kecil. Alasannya adalah bahwa aspek khusus sifat manusia yang mendasari perkembangan bahasa hanya memungkinkan pilihan yang amat terbatas. Apakah ini membatasi? Tentu saja. Apakah ini membebaskan? Tentu, juga. Batasan-batasan inilah yang memungkinkan sistem ekspresi pemikiran yang kaya dan rumit untuk berkembang dalam cara-cara serupa pada dasar yang amat sederhana, terpisah-pisah dan berpengalaman berbeda.</p>
<p>Bagaimana dengan perbedaan manusia yang ditentukan oleh biologi? Bahwa ini ada, benar, dan merupakan sumber kebahagiaan, bukan kecemasan atau penyesalan. Kehidupan di antara klon tidaklah menyenangkan, dan seorang waras akan gembira bahwa orang lain memiliki kemampuan yang tidak ia miliki. Ini sangat dasar. Apa yang lazim dipercaya mengenai masalah ini bagi saya agak aneh.</p>
<p>Apakah sifat manusia, apapun itu, kondusif untuk pengembangan bentuk kehidupan anarkis atau menghalanginya? Kami tidak memiliki cukup jawaban untuk pertanyaan ini. Ini memerlukan eksperimen dan penemuan untuk menjawabnya.</p>
<p><strong>Masa Depan</strong></p>
<p><strong>RBR:</strong> Untuk mengakhiri wawancara ini, saya ingin bertanya sedikit tentang beberapa isu kiri baru-baru ini. Saya tidak tahu apakah situasi di AS serupa dengan di sini, namun dengan gagalnya Uni Soviet, terdapat demoralisasi kiri. Ini bukanlah bahwa mereka sangat mendukung apa yang terjadi di Uni Soviet, namun perasaan umum bahwa dengan bubarnya Uni Soviet, sosialisme ikut terseret. Apakah Anda menemukan demoralisasi serupa? Bagaimana jawaban Anda?</p>
<p><strong>CHOMSKY:</strong> Tanggapan saya terhadap berakhirnya tirani Soviet serupa dengan reaksi saya terhadap kekalahan Hitler dan Mussolini. Dalam semua kasus tersebut, itu adalah kemenangan semangat kemanusiaan. Ini seharusnya diterima sebagai kabar baik bagi para sosialis, karena sebuah musuh besar sosialisme telah runtuh. Seperti Anda, saya juga heran bahwa orang-orang &#8211; termasuk mereka yang menganggap dirinya anti-Stalinis dan anti-Leninis – merasa demoralisasi dengan runtuhnya tirani tersebut. Ini mengungkap bahwa mereka sebenarnya lebih memiliki komitmen pada Leninisme daripada yang mereka percayai.</p>
<p>Namun, terdapat alasan-alasan lain yang perlu diperhatikan dengan hancurnya sistem tirani yang brutal ini, yang sosialis sedemikian ia juga demokratik (ingat bahwa ia mengklaim keduanya, dan klaim kedua ditertawakan di Barat, sementara yang pertama diterima dengan senang hati, sebagai senjata melawan sosialisme &#8211; salah satu contoh jasa intelektual Barat pada penguasa). Satu alasannya terkait dengan sifat Perang Dingin. Dalam pandangan saya, ini merupakan contoh khusus &#8220;konflik Utara-Selatan&#8221;, bila kita menggunakan eufemisme untuk penaklukan Eropa terhadap sebagian besar dunia. Eropa Timur merupakan &#8220;Dunia Ketiga&#8221; yang asli, dan Perang Dingin sejak tahun 1917 tidak memiliki kemiripan apa pun dengan reaksi bagian-bagian lain dari Dunia Ketiga untuk mengambil jalannya sendiri, meskipun perbedaan skala memberikan ciri tersendiri bagi konflik ini. Untuk alasan ini, kita bisa beranggapan bahwa wilayah ini akan kembali seperti awalnya: Czek atau Polandia Barat akan bergabung kembali dengan Barat, sementara yang lain kembali ke perannya sebagai pelayan Eropa, bekas Nomenklatura menjadi elit dunia ketiga biasa (dengan kesepakatan dari penguasa negara-perusahaan Barat, yang memilih mereka dibandingkan alternatif lainnya). Ini bukan prospek yang menyenangkan, dan telah menimbulkan penderitaan yang luar biasa.</p>
<p>Sebuah alasan lain untuk kecemasan berkaitan dengan penangkalan nuklir (deterrence) dan non-blok. Seburuk-buruknya imperium Soviet, keberadaannya memberikan peluang untuk menjadi non-blok, dan untuk alasan yang sinis, kadang-kadang memberikan bantuan terhadap korban serangan Barat. Pilihan itu kini tiada, dan Selatan menderita akibatnya.</p>
<p>Alasan ketiga berkaitan dengan apa yang dinyatakan pers bisnis sebagai buruh Barat yang dimanjakan dengan gaya hidup mewah mereka. Dengan sebagian besar Eropa Timur di bawah kekuasaan mereka, pemilik perusahaan dan manajer memiliki senjata ampuh baru untuk menindas kelas buruh dan kaum miskin di Barat. GM dan VW bisa tidak hanya memindahkan produksi ke Meksiko dan Brazil (atau mengancam untuk melakukan itu, yang akibatnya sama saja), tapi juga ke Polandia dan Hungaria, tempat buruh yang memiliki ketrampilan dan terlatih dengan biaya yang jauh lebih rendah. Tentu saja mereka puas dengan itu, melihat nilainya.</p>
<p>Kita bisa belajar banyak tentang Perang Dingin (atau konflik lainnya) dengan melihat siapa yang gembira dan siapa yang tidak setelah akhirnya. Dengan kriteria ini, pemenang Perang Dingin adalah elit Barat dan mantan Nomenklatura, yang kini kaya melebihi impian terliar mereka, dan yang kalah adalah sebagian terbesar penduduk Timur dan kelas buruh serta kaum miskin di Barat, juga sektor kerakyatan di Selatan yang berusaha mengambil jalan yang independen.</p>
<p>Pemikiran barusan cenderung menimbulkan histeria di antara intelektual Barat, kalau mereka bisa membayangkannya, yang jarang terjadi. Ini mudah saja, juga bisa dipahami. Pengamatannya benar, dan membuka kedok kekuasaan dan hak-hak istimewa; itulah penyebab histeria mereka.</p>
<p>Secara umum, reaksi orang yang jujur terhadap berakhirnya Perang Dingin akan lebih rumit daripada sekedar puas atas jatuhnya tirani yang brutal, dan reaksi yang umum terinfeksi dengan kemunafikan yang sangat, dalam pandangan saya.</p>
<p><strong>Kapitalisme</strong></p>
<p><strong>RBR:</strong> Dalam banyak hal kiri sekarang berada pada titik awalnya pada abad lalu. Seperti pada waktu itu, ia menghadapi suatu bentuk kapitalisme yang sedang menanjak. Kini terdapat lebih banyak &#8220;konsensus&#8221;, lebih banyak daripada saat lain dalam sejarah, bahwa kapitalisme merupakan satu-satunya organisasi ekonomi yang valid, meskipun ketidaksetaraan kekayaan melebar. Terhadap latar belakang ini, bisa dikatakan bahwa kiri tidak yakin mengenai bagaimana cara untuk maju. Bagaimana pandangan Anda terhadap masa ini? Apakah ini menjadi pertanyaan &#8220;kembali ke dasar&#8221;? Apakah usaha yang dilakukan sekarang harus menekankan tradisi libertarian dalam sosialisme dan pemikiran demokratik?</p>
<p><strong>CHOMSKY:</strong> Saya anggap ini sebagian besar merupakan propaganda. Apa yang disebut sebagai &#8220;kapitalisme&#8221; pada dasarnya adalah sebuah sistem merkantilisme korporatis, dengan tirani privat yang besar dan tidak bertanggung jawab yang memiliki kendali besar terhadap ekonomi, politik, sosial dan kebudayaan, bekerja sama dengan negara yang kuat yang melakukan intervensi besar-besaran terhadap ekonomi domestik dan masyarakat internasional. Ini sangat tepat dalam kasus AS, bertentangan dengan banyak ilusi. Orang kaya dan berprivilese tidak lebih mau menghadapi disiplin pasar pada masa kini daripada masa lalu, meskipun mereka menganggapnya baik-baik saja bagi rakyat kebanyakan. Sebagai gambaran, pemerintahan Reagan yang berkubang dalam retorika pasar bebas, juga membanggakan bahwa rezim tersebut adalah yang paling proteksionis dalam sejarah AS pasca perang &#8211; bahkan lebih daripada gabungan semuanya. Newt Gingrich, yang memimpin &#8220;perjuangan&#8221; liberal kini, mewakili wilayah yang amat kaya yang mendapatkan lebih banyak subsidi federal daripada wilayah suburban lainnya di AS. Kelompok &#8220;konservatif&#8221; yang ingin mengakhiri makan siang gratis bagi anak-anak yang lapar juga menuntut naiknya anggaran Pentagon, yang menjadi seperti kondisi di akhir dekade 1940-an namun dalam bentuknya saat ini karena &#8211; sebagaimana dijelaskan pers bisnis &#8211; industri teknologi tinggi tidak bisa bertahan dalam sebuah sistem ekonomi pasar bebas yang murni, kompetitif dan tidak disubsidi, dan pemerintah harus menjadi penyelamatnya. Tanpa penyelamat ini, pendukung Gingrich akan menjadi buruh miskin (bila beruntung). Tidak akan ada komputer, peralatan elektronik, industri penerbangan, metalurgi, otomasi dan lain-lain. Anarkis jangan sampai tertipu kebohongan tradisional ini.</p>
<p>Lebih dari sebelumnya, pemikiran sosialis libertarian kini relevan, dan penduduk sangat terbuka terhadapnya. Meskipun terdapat sejumlah besar propaganda korporatik, di luar kelompok terdidik, rakyat masih memiliki sikap tradisionalnya. Di AS, misalnya, lebih dari 80% penduduk menganggap bahwa sistem ekonomi secara mendasar tidak adil dan sistem politik sebagai tipuan, yang hanya melayani kepentingan tertentu, bukan rakyat. Mayoritas menganggap bahwa kelas buruh memiliki peran yang terlalu kecil dalam masalah masyarakat (demikian pula di Inggris), bahwa pemerintah bertanggung jawab untuk membantu orang yang memerlukan, bahwa pengeluaran untuk pendidikan dan kesehatan harus diberikan prioritas di atas pemotongan anggaran dan potongan pajak, bahwa rencana Republikan yang kini melalui Kongres hanya menguntungkan yang kaya dan merugikan rakyat banyak, dan lain-lain. Kaum intelek bisa mendongengkan cerita yang berbeda, namun tidak terlalu sukar menemukan fakta-fakta yang sebenarnya.</p>
<p><strong>RBR:</strong> Hingga satu titik pemikiran anarkis dibenarkan dengan runtuhnya Uni Soviet &#8211; ramalan Bakunin terbukti kebenarannya. Apakah Anda berpikir bahwa kaum anarkis harus gembira dari perkembangan umum ini dan dari ketepatan analisis Bakunin? Apakah anarkis harus melihat masa depan dengan keyakinan lebih besar dalam pemikiran dan sejarah?</p>
<p><strong>CHOMSKY: </strong>Saya pikir &#8211; paling tidak, berharap &#8211; bahwa jawabannya tersirat di atas. Saya pikir bahwa masa kini memiliki ancaman yang besar dan tanda-tanda harapan yang juga besar. Apa yang akan terjadi bergantung pada bagaimana kita memanfaatkan kesempatan.</p>
<p><strong>RBR:</strong> Terakhir, Noam, pertanyaan yang agak berbeda. Kami telah memesan Guinness untuk Anda. Kapan Anda datang dan meminumnya?</p>
<p><strong>CHOMSKY: </strong>Siapkan saja Guinness-nya. Saya harap saya tak akan terlalu lama. Tidak bergurau, saya akan disana besok jika saya bisa. Kami (saya dan akan datang bersama istri saya, yang tidak terbiasa dengan perjalanan terus menerus) memperoleh waktu yang sangat luar biasa di Irlandia, dan berharap bisa pulang. Kenapa nggak ya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2008/10/07/noam-chomsky-marxisme-anarkisme-dan-harapan-untuk-masa-depan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Merah dan Yang Hijau</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2008/01/31/yang-merah-dan-yang-hijau/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2008/01/31/yang-merah-dan-yang-hijau/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Jan 2008 14:47:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anarkisme]]></category>
		<category><![CDATA[Ekologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/2008/01/31/yang-merah-dan-yang-hijau/</guid>
		<description><![CDATA[Gerakan pro lingkungan di AS, menurut perkiraan Murray Bookchin’s, “bisa jadi merupakan salah satu gerakan paling radikal dalam kurun waktu mulai dari tahun enam puluhan hingga sekarang.” Perspektif ekologi radikal, yang meliputi antara lain ekologi mendalam, ekologi sosial, bioregionalisme, ekofeminisme, maupun pandangan-pandangan Marxis, semuanya mengandung beberapa kritik mendasar atas tatanan politik/ekonomi/ sosial yang berkembang di dunia, yang karena itu membedakannya dari environmentalisme arus-utama (terkemuka).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Perspektif Kiri Dalam Memahami Ekologi</strong><br />
<em>Oleh: Katherine Yih</em></p>
<p>Gerakan pro-lingkungan di AS, menurut perkiraan Murray Bookchin, “bisa jadi merupakan salah satu gerakan paling radikal dalam kurun waktu sejak tahun enam puluhan hingga sekarang.” Perspektif ekologi radikal, yang meliputi ekologi mendalam, ekologi sosial, bioregionalisme, ekofeminisme, maupun pandangan-pandangan Marxis, semuanya mengandung beberapa kritik mendasar atas tatanan politik/ekonomi/ sosial yang berkembang di dunia, yang karena itu membedakannya dari environmentalisme arus-utama (terkemuka). Namun, sekalipun tanpa para environmentalis arus-utama (terkemuka), apakah “gerakan” tersebut—yang lebih merupakan pencampuradukan organisasi-organisasi yang terbangun oleh beragam idelogi dan menerapkan strategi yang jauh saling berbeda—benar- benar memiliki kemauan atau kemampuan untuk mewujudkan perubahan struktural yang dibutuhkan guna menunda dan memulihkan kehancuran lingkungan?</p>
<p><span id="more-135"></span> Perspektif kiri dalam ekologi—khususnya ekologi social dan pandangan-pandangan Marxis—paling menjanjikan dalam hal merumuskan dan memecahkan persoalan seputar hubungan antara manusia dengan isi alam yang lainnya. Mereka memberikan komitmen pada keadilan dan pemahaman bahwa kapitalisme pada akhirnya menghalangi kesetaraan sosial maupun rasionalitas ekologi. Kendati demikian, ada beberapa perbedaan penting di antara pandangan-pandangan tersebut, yang berhubungan dengan keampuhan politisnya.</p>
<p>Salah satu titik perbedaan mendasar antara penganut ekologi sosial dan kaum Marxis adalah tingkat penekanan yang mereka berikan untuk persoalan-persoalan ekologis dalam keseluruhan program politik mereka. Penganut ekologi sosial menempatkan ekologi sebagai elemen inti program mereka, dari situ semua yang lainnya dianggap kurang-lebih mengikuti. Bagi kaum Marxis yang memiliki kepekaan ekologis, rasionalitas ekologis lebih merupakan sasaran kritik yang terkait dengan persoalan lain dalam analisis dan program yang lebih luas—menjadi merah sama perlunya dengan menjadi hijau.</p>
<p>Perbedaan-perbedaan tersebut bukanlah hal sepele dan menimbulkan konsekuensi di lapangan. Sebagai contoh, di Burlington, <a href="http://www.carinsurancerates.com/states/223-vermont-car-insurance.html">Vermont</a> (di Burlington sebagian besar anggotanya penganut ekologis sosial), Partai Hijau mengajukan seorang kandidat dalam pemilu raya 1989, yang pertarungan utamanya adalah antara Partai Demokrat dan seorang kandidat independen yang didukung oleh kaum sosialis yang tergabung dalam Koalisi Progresif. Sehingga keikutsertaan Partai Hijau mengancam terpecahnya suara bagi Koalisi Progresif. Akhirnya, Koalisi Progresif menang dengan mudah; hanya 3,4 persen suaranya yang terbagi untuk Partai Hijau. Pada pemilihan anggota Dewan Kotapraja tahun 1990, kandidat Partai Hijau di satu daerah pemilihan jelas-jelas menyatakan bahwa tujuannya bukanlah kemenangan melainkan mengalahkan Koalisi Progresif; Koalisi Progresif kehilangan daerah pemilihan tersebut dengan selisih suara yang tipis dibandingkan dengan jumlah suara milik Partai Hijau.</p>
<p>Adalah penting untuk melihat ideologi dan analisis yang mendasari ekologi sosial dan pandangan-pandangan Marxis tentang ekologi secara lebih rinci guna mengevaluasi implikasi-implikasi politiknya dan potensi mereka dalam menghadirkan tatanan sosial serta ekologi yang didambakan.</p>
<p><strong>Ekologi Sosial</strong></p>
<p>Karena berakar dari pandangan anarkis, maka ekologi sosial sangat anti-kapitalis dan menolak semua bentuk dominasi. Banyak kaum Hijau-kiri merupakan pendukung ekologi sosial; yang cukup dikenal adalah Murray Bookchin, yang menggunakan pertama kali istilah tersebut di tahun 1964 dalam esainya &#8220;Ecology and Revolutionary Thought&#8221;.</p>
<p>Bookchin memandang kemerosotan kualitas lingkungan terkait erat dengan kebutuhan/keinginan kapitalisme. Jadi, bukan industri dan teknologi yang salah, melainkan sistem ekonomi yang tak pernah puas, yakni kapitalisme. Selebihnya, sama seperti Marxis, ia menyatakan bahwa “kelas, juga eksploitasi, merupakan landasan bagi akumulasi kapitalis dan keniscayaan menuju pembusukan serta penghancuran planet ini.”</p>
<p>Ekologi sosial memandang manusia terutama sebagai makhluk sosial, bukan sebagai spesies yang tidak dapat dibeda-bedakan— makhluk sosial, yang menurut Bookchin, “sangat berbeda-beda oleh karena status mereka sebagai orang kaya dan miskin, lelaki dan perempuan, hitam dan putih, gay dan ‘straight’, tertindas dan penindas.” Ekologi sosial “menekankan tuntutan keadilan dari kaum tertindas terhadap masyarakat yang secara semena-mena mengeksploitasi manusia, karenanya membutuhkan kemerdekaan kaum tertindas.”</p>
<p>Meski mereka tak diragukan lagi humanis, ekologis sosial tidak memandang alam semata-mata sebagai sarana untuk memuaskan kebutuhan material manusia. Jelas sekali ada penilaian estetis seperti terlihat pada kutipan ini: Lepas dari bayang-bayang keraguan apapun, kita sangat membutuhkan kepekaan ekologis—yang ditandai oleh ketakjuban pada evolusi alam dan semarak biosfer dengan beragam bentuknya… Lebih dari itu, alam merupakan suatu proses—proses mengagumkan yang dapat dinikmati dengan caranya sendiri….</p>
<p>Masyarakat ideal bagi penganut ekologi sosial, menurut pendapat Howard Hawkins, adalah sebuah “konfederasi non-hirarkis— masyarakat tanpa kenegaraan, terdesentralisasi, dan demokratis, yang berbasiskan kepemilikan bersama atas alat-alat produksi,” atau, dalam kata-kata Bookchin, “masyarakat berorientasi ekologis yang berbasiskan komunitas-komunitas dengan tata-nilai kemanusiaan yang bersifat bebas, terkonfederasi, yang di dalamnya manusia akan memiliki kendali langsung, tanpa perantara/ perwakilan, atas kehidupan sosial dan perorangannya.”</p>
<p>Hawkins mengkaji aspek langsung, tanpa perantara/perwakila n tersebut: Dengan melandaskan diri pada majelis kerakyatan sebagai kesatuan public non-hirarkis yang menangani semua kepentingan social seperti ekonomi [model anarko-komunis] , maka akan terbangun solidaritas sosial yang lebih solid ketimbang memfokuskan diri pada persoalan ekonomi secara lebih sempit seperti model dewan. Dengan menyatukan kembali produksi dan konsumsi, anarko-komunisme hendak menghindari pembagian antara satuan-satuan usaha dan konsumsi yang berbeda-beda, kepentingan- kepentingan ekonomi yang terpisah-pisah, dan kemungkinan munculnya hirarki di antara mereka.</p>
<p>Asumsi yang digunakan adalah bahwa dalam masyarakat tanpa kenegaraan, terdesentralisasi, demokratis, dan dengan tata-nilai kemanusiaan, maka manusia akan memiliki kendali yang lebih besar atas masyarakatnya dan saling memiliki rasa tanggung jawab yang lebih besar satu sama lainnya, yang akan membuat mereka mengelola lingkungan dan sumber daya alamnya secara rasional.</p>
<p>Tentang bagaimana cara untuk menuju ke sana, beberapa penganut ekologi sosial, seperti Brian Tokar, mengatakan bahwa caranya adalah dengan menciptakan alternatif-alternat if yang telah berjalan dengan baik, khususnya bioregionalisme, dikombinasikan dengan konfrontasi langsung dengan perangkat-perangkat /lembaga- lembaga kapitalis (contohnya demonstrasi di Wall Street setelah Hari Bumi, 23 April 1990) . Para bioregionalis, yang tidak semuanya mengaku sebagai ekologi sosial, mendukung penarikan diri yang lebih besar dari ekonomi pasar dan memantapkan kemandirian pencukupan kebutuhan regional serta hubungan ekonomi kerjasama di antara komunitas-komunitas yang disatukan.</p>
<p>Ketika strategi ini dijalankan, pandangan tentang masyarakat alternatif tersebut terjerumus dalam tradisi utopian, miskin akan teori yang teruji tentang bagaimana transisi terjadi di bawah hegemoni kapitalis. Bukannya menganggap negara sosialis sebagai tahap yang diperlukan menuju masyarakat tanpa kelas, misalnya, namun kaum ekologis sosial (seperti Bookchin dan Hawkins) justru menolak habis negara, yang menurut mereka sudah pasti merupakan lembaga hirarkis dan tidak demokratis. Juga tak ada pemikiran mengenai dunia ketiga—bagaimana dunia ketiga terkait dengan negeri-negeri maju dalam hubungan yang tidak setara dan bagaimana aksi di satu tempat mempengaruhi keadaan di tempat lain.</p>
<p><strong>Marxisme dan Ekologi</strong></p>
<p>Marxisme, sebagai filsafat dan teori ekonomi-politik, menyediakan kerangka yang lebih luas dan matang ketimbang ekologi sosial. Karena itu, keduanya lebih berguna untuk memahami dunia, termasuk dunia alam”, dan memberikan landasan yang lebih kokoh bagi tindakan politik. Dua aspek dari teori Marxis yang paling relevan untuk memahami dan melakukan aksi atas isu-isu tentang ekologi serta lingkungan adalah materialism dialektik dan teori akumulasi.</p>
<p>Materialisme dialektik, sebagai filsafat, menjadi ada dan menyadari relevansinya dengan diskusi ekologi karena implikasinya pada cara kita memahami alam. Kini sudah menjadi pemahaman umum di kalangan ekologis profesional bahwa alam tidaklah statis, bukan sesuatu yang selalu sama, sekalipun tanpa gangguan manusia. Dengan ukuran komunitasnya maupun dengan ukuran biosfernya, alam tidak berada dalam keseimbangan” , tidak juga berada dalam “keadaan terbaik”-nya. Kita tahu tidak ada kekuatan apapun yang dapat memastikan kesetimbangan stabil dari jumlah populasi ataupun komposisi spesies dari komunitas-komunitas . Jadi pernyataan tentang keseimbangan dan keselarasan bersifat idealis dan ideologis. ( “Keseimbangan alam” dinyatakan sebagai analog dari “tangan yang tak terlihat” dalam ekonomi—di mana persaingan di antara kekuatan-kekuatan yang berbeda dianggap akan meleburkan dirinya dalam sistem yang seimbang dan stabil.)</p>
<p>Dalam esai mereka Dialectics and Reductionism in Ecology (Dialektika dan Reduksionisme dalam Ekologi) Richard Levins dan Richard Lewontin melancarkan kritik atas idealisme dan juga menolak materialism reduksionis. Sebagai gantinya mereka mengajukan pendekatan materialis dialektik untuk mengkaji alam. Reduksionisme menggunakan asumsi dasar bahwa fenomena dapat digambarkan secara keseluruhan sebagai gejala dari obyek yang terisolasi, atau dengan kata lain, bahwa “yang keseluruhan” (misalnya komunitas), dapat dipahami semata sebagai penjumlahan dari “yang sebagian” (misalnya spesies dalam komunitas), yang tidak memiliki gejalanya sendiri. Namun, dalam reduksionisme, bagian maupun keseluruhan sama sekali tidak saling menentukan atau mempengaruhi. Keyakinan reduksionis akan dunia atomistik tersebut menyebabkan kegagalan teori ilmiah dan aplikasinya¾karena membenarkan penelitian atas bagian-bagian dalam sekat-sekat pembatas antara satu sama lainnya dan meremehkan kebutuhan untuk memahami saling keterhubungan, asal-usul saling keterkaitan, dan sifat-sifat dari keseluruhan yang rumit.</p>
<p><em>“Ekologi harus menjawab persoalan saling ketergantungan dan otonomi relatif, kemiripan dan perbedaan, umum dan khusus, kesempatan dan kebutuhan, keseimbangan dan perubahan, kontinuitas dan diskontinuitas, proses-proses kontradiktif,” tulis mereka. Menurut mereka filsafat yang efektif untuk memahami karakteristik dan proses-proses tersebut adalah materialisme dialektik, yang “tesis utamanya adalah pendapat bahwa alam mengandung kontradiksi- kontradiksi, bahwa ada kesatuan dan interpenetrasi dari apa yang kelihatannya eksklusif tak saling pengaruh, dan karenanya isu utama bagi ilmu pengetahuan adalah kajian tentang kesatuan dan kontradiksi tersebut.”</em>)</p>
<p>Mungkin berlebihan jika berpendapat bahwa seseorang harus menjadi Marxis terlebih dulu untuk menjadi ilmuwan yang baik, kritis, sadar akan kontradiksi dalam alam dan menyadari asumsi-asumsi perorangan. Namun Levins dan Lewontin memberi alasan kuat—dengan didukung oleh contoh-contoh ekologi populasi dan komunitas, mereka mengatakan bahwa, bagi kita, tak cukup sekadar menggunakan pendekatan materialis, melainkan harus menggunakan pendekatan materialis dialektik pada hal-hal khusus agar dunia menjadi masuk akal. Pendapat tersebut benar, khususnya dalam ekologi, karena melibatkan penelitian atas sistem yang kompleks secara intrinsik. Hal tersebut mendukung janji-janji materialisme dialektik untuk menjadi alat yang dapat lebih diandalkan ketimbang alat konvensional— yakni cara-cara reduksionis, yang menggunakan ilmu pengetahuan untuk mengalihkan teknologi padat modal dan energi menjadi teknologi yang lebih “padat-ide”.</p>
<p>Aspek khusus lain yang relevan dari Marxisme adalah teori akumulasi, yang menjelaskan bahwa syarat pertumbuhan kapitalisme dihasilkan dari upaya kekuatan-kekuatan (perusahaan) dalam menghadapi tekanan-tekanan kompetisi di antara mereka, sehingga memaksa mereka memotong biaya dan mengakumulasikan modal sebagai cara untuk bertahan hidup. Teori tersebut menjelaskan kebutuhan kekuatan-kekuatan kapitalis yang berkompetisi untuk mengeksternalkan sebanyak mungkin biaya produksi menjadi beban masyarakat dalam jumlah besar, termasuk biaya “cuci tangan”—(berupa) insentif tetap bagi aktivitas produksi dan konsumsi yang menghasilkan banyak limbah; dan ekspansi internasional kekuatan kapitalis ketika mereka mencari pasar baru, sumber daya baru dan, lebih banyak lagi tempat baru untuk membuang limbahnya.</p>
<p>Sehingga, terdapat konflik mendasar antara kapitalisme dan rasionalitas ekologis. Seperti yang dikatakan oleh Paul Sweezy, bahwa catatan buruk (di bidang lingkungan) kapitalisme disebabkan oleh sifat bawaannya yang mengusung proses akumulasi modal yang tak terkendali. Sistem tersebut tak memiliki mekanisme pengerem/pengendali selain krisis ekonomi berkala; satuan-satuan individual yang menyusunnya—modal yang terpisah-pisah— harus tanggap terhadap peluang-peluang meraup keuntungan dalam jangka pendek, atau tersingkir; tak ada bagian dalam sistem itu yang membuka diri atau sesuai dengan suatu perencanaan jangka panjang yang mutlak sangat penting bagi pelaksanaan sebuah program ekologi yang efektif.</p>
<p>Banyak yang berpendapat, merujuk pada catatan lingkungan negeri-negeri sosialis maju, bahwa sosialisme bukan solusi, dan menegaskan bahwa negeri sosialis juga berada di bawah tekanan besar untuk mengakumulasikan modal, mendorong perilaku yang sama dengan perusahaan-perusaha an kapitalis. James O’Connor membantah pendapat kebanyakan tersebut dengan mengatakan bahwa tekanan untuk mengurangi biaya lebih kecil di dalam negeri sosialis (maupun dalam satuan-satuan produksinya) ketimbang dalam perusahaan-perusaha an kapitalis—karena perusahaan-perusaha an kapitalis dibimbing oleh norma-norma pasar; sedangkan perusahaan-perusaha an sosialis dibimbing oleh norma-norma politik. Walaupun pertumbuhan ekonomi juga menjadi tujuan kunci dalam negeri sosialis, namun tak ada kebutuhan pertumbuhan sistemik dalam kadar yang sama. Pertumbuhan lebih cenderung menjadi sebuah keputusan politik…. Memang, watak pengerukan sumber daya yang berani dan tak terencananya bertujuan demi pemanfaatan, bukan demi keuntungan, dan pertumbuhan dipandang sebagai sarana, bukan merupakan tujuan antara maupun tujuan akhir, kendati dalam prakteknya tentu tidak selalu demikian.</p>
<p>O’Connor berpendapat bahwa ekonomi sosialis berpotensi menggunakan dan membuang sumber daya dalam jumlah yang lebih kecil ketimbang ekonomi kapitalis, dan konsumsi personal di bawah sosialisme menghasilkan lebih sedikit polusi. Karena dipaksa oleh permintaan, ekonomi kapitalis didasarkan pada pemenuhan kebutuhan berbentuk komoditi, melibatkan penciptaan “kebutuhan-kebutuhan” yang diindividualkan dalam semua jenis komoditi. Di lain pihak, ekonomi sosialis menekankan konsumsi kolektif, tempat pemberhentian massal, fasilitas rekreasi dan liburan bersama, penanganan kesehatan bersifat pencegahan, dan permukiman bersama. Sehingga, seperti juga dikemukakan oleh Sweezy dan Magdoff, negeri-negeri sosialis setidaknya berpotensi membuat beberapa kemajuan signifikan menuju produksi yang rasional secara ekologis.</p>
<p>Kendati demikian, negeri-negeri dengan kebijakan-kebijakan sosialis secara umum memiliki catatan lingkungan yang kurang baik. Sebagian karena keadaan tempat pemerintahan sosialis itu berada—relatif miskin, mendapat serangan-serangan dari luar dan, khususnya bagi yang kecil, mengalami ketergantungan ekonomi ala Dunia Ketiga, suatu posisi yang tidak menguntungkan dalam pasar internasional. Hambatan-hambatan yang saling berhubungan dalam memenuhi kebutuhan material penduduknya, mendorong pembentukan pertahanan militer yang cukup kuat, dan berlanjutnya produksi dan ekspor tanaman industry serta bahan mentah untuk perdagangan luar negerinya, sehingga pengambil kebijakan sosialis lebih menekankan pada akumulasi oleh negara¾suatu adopsi yang tidak kritis atas banyak bagian dari pembangunan kapitalis, yang catatannya sangat buruk saat berhadapan dengan lingkungan (meskipun, tentu saja, ada beberapa pengecualian).</p>
<p>Tapi factor-faktor yang melekat pada ideologi sosialis juga memberikan sumbangan terhadap karakter kebijakan ekonomi sosialis tersebut. Salah satunya adalah produksionisme Marxisme, yang dicatat oleh Arthur MacEwan sebagai kelemahan penting yang menyebabkan diutamakannya kemajuan dalam produksi di atas kemajuan dalam bidang lain, dan subordinasi tujuan-tujuan lain di bawah akumulasi sosialis.) Faktor lain, dalam pandangan Michael Redclift, adalah cara Marxisme mengkonseptualisasi kan nilai (value)—mendasarkann ya pada waktu kerja, karena memang begitu adanya, ketimbang mendasarkannya pada sifat-sifat bawaan dari material alam, sehingga membuat “nilai” lingkungan menjadi tak jelas.</p>
<p>Akhirnya, karena gagal menyadari demokrasi yang sepenuh-penuhnya maka ekonomi dan politik di bawah kapitalisme atau sosialisme menjadi persoalan mendasar dalam krisis ekologis. Seperti ditulis oleh Barry Commoner, “pemerintahan sosial produksi telah gagal diwujudkan baik dalam negeri kapitalisme maupun negeri sosialisme. Apa yang dibutuhkan adalah perluasan demokrasi hingga ke ajang di mana keputusan produksi dibuat.” Agak senada, Redclift mengatakan bahwa individu-individu baik dalam masyarakat industrial kapitalis maupun sosialis makin dibatasi dalam ikut bertanggung jawab atas lingkungan terdekat mereka sendiri dan lingkungan lain di masyrakat yang lain. Dalam penelitiannya tentang gerakan Hijau di Eropa Timur, ia menyimpulkan bahwa krisis ekologi berhubungan erat dengan penghargaan yang kurang terhadap hak-hak dasar manusia, kebebasan informasi, dan demokrasi partisipatoris.</p>
<p>Meskipun kecenderungan bawaan kapitalisme membuang sampah (ke lingkungan) adalah konsekuensi dari syarat-syarat pertumbuhannya, kita tidak boleh “meragukan kecerdikan kapitalisme dan kemampuannya untuk menyesuaikan diri,” seperti diperingatkan oleh Andre Gorz dalam Ecology in Politics.) Dalam tingkat tertentu, terlihat jelas bahwa kapitalisme bisa menerima keprihatinan ekologi, sejauh solusi-solusinya bisa dikomoditikan. Jika masyarakat akan puas dengan air minum yang bersih – sementara sungai dan air tanah berpolusi—maka kami akan menjual air dalam botol dan menyaringnya untuk disimpan. Jika agen pengontrol biologis dapat dikemas dan dijual demi keuntungan bagi produsen pertanian, hal itu akan dilakukan, dan mungkin penggunaan pestisida yang berbahaya akan berkurang. Perusahaan-perusaha an kapitalis, jauh-jauh hari sebelum dipaksa, bukan saja karena alasan politik tapi juga karena alasan ekonomi, sudah mmpertimbangkan sumber-sumber daya ekologi, seperti unsur hara tanah dan populasi serangga bermanfaat, sebagai persediaan modal dalam perhitungan mereka.</p>
<p>Kendati beberapa masalah lingkungan dapat dipermak di sana-sini dalam konteks kapitalisme, tapi tidak demikian halnya dengan masalah lingkungan secara keseluruhan. Itu karena kecenderungan capital untuk berekspansi secara internasional &#8211; ketika capital dibatasi di tingkat lokal (contohnya, ketika pemerintah setempat menanggapi tekanan dari para environmentalis dan menerapkan regulasi berbiaya tinggi pada industri swasta demi perlindungan lingkungan), maka ia akan pindah.</p>
<p><strong>Tindakan Politik</strong></p>
<p>Dalam pemahaman akhir, tuntutan akan rasionalitas ekologis dalam skala besar merupakan tuntutan radikal karena pemenuhannya membutuhkan perubahan structural yang mendasar. Hal itu tentu tidak dipahami sepenuhnya oleh gerakan lingkungan, banyak partisipannya melihat bahwa tuntutan dan tujuan aksi-aksi mereka hanyalah untuk menerapkan perangkat-perangkat khusus perlindungan lingkungan. Peran khusus dari sayap kiri (ekologis sosial dan Marxis) dalam gerakan lingkungan adalah untuk secara berkelanjutan mengekspresikan politik dari keprihatinan ekologis-bahwa kemerosotan lingkungan bukan lah masalah “industri” atau “modernisasi” yang lepas dari hubungan-hubungan social produksi dan pertukaran. Bukan pula persoalan ideologi, yang selesai dengan kesadaran lingkungan yang lebih besar atau perubahan dalam gaya hidup perorangan. Kemerosotan lingkungan adalah persoalan kontrol yang tidak demokratis atas sumber daya-sumber daya dan proses pengambilan keputusan.</p>
<p>Walaupun pandangan ekologi sosial dan Marxis memiliki kesamaan dalam humanisme dan anti kapitalismenya, sesungguhnya mereka berbeda dalam cara mewujudkannya. Dalam praktek politik, posisi tegas Marxisme adalah bahwa ekologi tidak dapat (secara tersendiri) menjadi tujuan khusus dari suatu masyarakat atau suatu program. Sebaliknya, ekologis sosial, seperti yang mereka tunjukkan dalam analisis-analisis dan peran politiknya dalam partai-partai Hijau dan organisasi-organisa sinya, mendefinisikan politiknya dalam konteks ekologi dan menurunkan model masyarakat mereka dari ekologi atau kriteria-kriteria ekologis. Misalnya, ekologis sosial melihat desentralisasi sebagai elemen kunci dari masyarakat yang rasional secara ekologis. Namun, seperti dinyatakan oleh O’Connor, merujuk pengalaman Cina, desentralisasi industri, dalam ukuran ekonomi, mempersulit upaya untuk mewujudkan pengelolaan limbah, dan menyebabkan permasalahan- permasalahan polusi yang parah di tingkat lokal. Terlebih lagi, menentukan ekologi sebagai satu-satunya kriteria untuk aksi, seseorang mungkin akan menolak kapitalisme tapi tak tahu ke mana harus pergi. Seperti dipahami oleh Gorz, “ekologi tidak perlu melakukan penolakan terhadap otoritarianisme, solusi-solusi teknofasis,” karena dengan itu aturan-aturan dan kegiatan-kegiatan perlindungan lingkungan dapat diterapkan pada penduduk secara paksa.</p>
<p>Konflik yang sering dikedepankan adalah, di satu sisi, antara lapangan kerja atau keberlangsungan ekonomi dan, di sisi lain, kualitas lingkungan. Konflik tersebut sebenarnya tidak ada. Contohnya, menghadapi perlawanan kaum pecinta lingkungan (environmentalist)— terakhir paling terlihat dalam kampanye Redwood Summer tahun 1990 untuk menyelamatkan Redwoods yang sudah lama tumbuh di California utara-industri kayu California menyalahkan upaya-upaya pelestarian atas hilangnya lapangan kerja perkayuan. Kenyataannya industri itu sendiri yang bertanggung jawab. Dalam dekade terakhir saat produksi kayu di Humboldt County (salah satu lokasi aksi-aksi Redwood Summer) meningkat hingga lebih 50%, jumlah pekerja perkayuan menurun hingga 35%. Otomatisasi dan ekspor gelondongan untuk digergaji di luar negeri menyebabkan hilangnya lapangan kerja, dan walau ada penebangan berlebihan lapangan kerja perkayuan akan tetap menurun di kemudian hari.</p>
<p>Analisis politik yang lebih besar diperlukan untuk bergerak menuju tatanan yang lebih sosial dan rasional secara ekologis. Program yang menghubungkannya harus mencakup baik tujuan rasionalitas ekologis maupun tujuan keadilan dan demokrasi yang lebih didefinisikan secara sosial. Perspektif Marxis menyediakan elemen penting dalam analisis politiknya yang lebih besar¾dengan kritiknya pada kapitalisme dan khususnya teori akumulasi. Akumulasi kapitalis tidak hanya mendasari dan menggerakkan perusakan lingkungan, tapi juga penderitaan- penderitaan yang lain, seperti penerapan kontrol ekonomi dan politik oleh kepentingan kapitalis atas manusia di seluruh dunia. Hasilnya, jika kapitalisme adalah masalahnya, maka secara logis tidak lengkap dan secara politis dangkal jika membangun gerakan semata berbasis utama pada keprihatinan ekologis.</p>
<p>Akumulasi kapitalis, dan mobilitas, ekspansi, serta kontrol yang mengikutinya, memiliki implikasi langsung terhadap aksi politik kita di seputar isu lingkungan. Aksi kita harus diluaskan secara geografis jika tidak ingin menghasilkan kualitas lingkungan (yang baik) dan keselamatan untuk sekelompok orang tapi dengan mengorbankan lingkungan, kesehatan, atau nyawa orang lain. Contohnya, agitasi oleh para pecinta lingkungan dan konsumen di AS dalam menolak residu dari pestisida yang mengendap dan menyebabkan kanker (organoklorin seperti DBCP) telah membuat perusahaan-perusaha an yang memproduksinya “membuang” pestisida-pestisida tersebut ke Dunia Ketiga dan menggantinya dengan pestisida yang tidak menetap di tubuh tapi lebih beracun (organofosfat seperti parathion). Hasilnya, buruh tani di AS dan di luar negeri, yang mengerjakan tanaman budidaya untuk pasar AS, kemudian menderita lebih banyak keracunan dan tingkat kematian yang lebih tinggi. Di AS sendiri, kaum pecinta lingkungan menghasilkan dampak yang tak merata—terdapat kecenderungan yang nyata untuk menempatkan sampah mematikan di lingkungan miskin orang-orang African-American, Latino dan penduduk asli Amerika berkaitan dengan rasisme dan kurangnya kekuatan politik komunitas-komunitas tersebut dibandingkan dengan warga yang lebih kaya atau tetangga kulit putih mereka.</p>
<p>Melemahnya negara-bangsa berhadapan dengan capital adalah alasan lain mengapa pengorganisasian lingkungan harus berlingkup internasional. Pada musim gugur 1989 misalnya, dalam menanggapi Belanda yang memberlakukan aturan emisi kendaraan, Prancis membawanya ke pengadilan Eropa. Pemerintah Prancis berargumen bahwa hukum Belanda menunjukkan pengingkaran terhadap kesepakatan Pasar Umum, karena mobil Prancis akan terhalangi untuk dijual di Belanda. Prancis memenangkan kasus tersebut.</p>
<p>Sebagai tambahan, untuk mengkonsolidasikan dan mempolitisir perlawanan-perlawan an lokal yang sudah ada—melawan pembuangan limbah beracun, pestisida, penambangan tak terkendali, dan lain sebagainya—demi kesatuan dan dampak politik yang lebih besar, kita perlu mulai mengkoordinasikanny a dalam gerakan nasional dan internasional. Itu sama dengan internasionalisasi pengorganisasian buruh, yang diperlukan karena alasan yang sama.</p>
<p>Banyak gerakan lingkungan di Dunia Ketiga terdiri dari orang-orang yang lingkungan hidupnya mengalami ancaman langsung dari polusi dan ekstraksi sumber daya. Beberapanya secara sadar anti imperialis dan atau sosialis. Tapi gerakan dan organisasi-organisa si Dunia Ketiga tersebut biasanya kekurangan sumber daya untuk melakukan lebih banyak koordinasi internasional. Organisasi-organisa si lingkungan progresif yang berbasis di negeri-negeri yang lebih kaya dapat memainkan peran penting dalam internasionalisasi aktivisme lingkungan, tidak hanya dengan kerja solidaritas jangka panjang, seperti pekerjaan New World Agriculture Group di Nikaragua, tapi juga melalui pembangunan jaringan organisasi-organisa si dan koordinasi aktivisme dalam skala internasional. Contoh dari organisasi yang membantu membangun jaringan internasional dan mengkoordinir aksinya adalah Pesticide Action Network, Greenpeace (yang sudah mengangkat dan melawan ekspor pestisida serta limbah beracun berbahaya), dan mereka yang membantu mengorganisir Fourth Internasional Congress in the Fate and Hope of the Earth yang diselenggarakan di Managua bulan Juni 1989, termasuk Earth Island Institute dan Environmental Project on Central America (EPOCA).</p>
<p>Karena mustahil menerapkan rasionalitas ekologis dalam skala luas di bawah kapitalisme, para pecinta lingkungan dan gerakan lingkungan dapat, dan di beberapa bagian dunia sudah, menjadi agen-agen perubahan revolusioner. Untuk mewujudkan potensi itu, para aktivis harus mengingat bahwa:</p>
<ul>
<li>permasalahan- permasalahan ekologi adalah masalah politis dalam makna bahwa masalah-masalah tersebut dihasilkan atau sangat dipengaruhi oleh kesenjangan- kesenjangan kontrol atas sumber daya dan kekuatan politik di antara kelompok-kelompok dan bangsa-bangsa;</li>
<li>ekologi tidak dapat menjadi program politik itu sendiri, melainkan harus menjadi bagian dari analisa dan program yang lebih luas;</li>
<li>perlu memehami kapitalisme, dan khususnya dinamika akumulasi modal, agar mengerti mengapa kerusakan lingkungan terjadi dan akan terus berlanjut dalam dunia yang kapitalistik;</li>
<li>oleh karena mobilitas dan ekspansi modal, serta melemahnya negara-bangsa, maka perlu mengkoordinasikan strategi secara internasional.</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2008/01/31/yang-merah-dan-yang-hijau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konsepsi Partai Politik dalam Marxisme (Non-Bolshevikisme)</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2008/01/31/konsepsi-partai-politik-dalam-marxisme-non-bolshevikisme/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2008/01/31/konsepsi-partai-politik-dalam-marxisme-non-bolshevikisme/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Jan 2008 14:39:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/2008/01/31/konsepsi-partai-politik-dalam-marxisme-non-bolshevikisme/</guid>
		<description><![CDATA[Saat seorang penulis di abad ke-19 menulis tentang “gerakan sosial”, yang mereka maksudkan adalah gerakan buruh dalam berbagai macam manifestasinya —klub-klub politis, serikat-serikat pekerja yang berdasarkan pada hasil produksinya, kooperatif, komuniti-komuniti utopia atau gerakan massa seperti Chartis—sebagaimana, dalam membahas mengenai “pertanyaan sosial”, yang mereka maksud adalah pertanyaan seputar isu buruh, kondisi kelas pekerja industrial.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Dyonisus</strong></p>
<p>Saat seorang penulis di abad ke-19 menulis tentang “gerakan sosial”, yang mereka maksudkan adalah gerakan buruh dalam berbagai macam manifestasinya —klub-klub politis, serikat-serikat pekerja yang berdasarkan pada hasil produksinya, kooperatif, komuniti-komuniti utopia atau gerakan massa seperti Chartis—sebagaimana, dalam membahas mengenai “pertanyaan sosial”, yang mereka maksud adalah pertanyaan seputar isu buruh, kondisi kelas pekerja industrial. Marx juga menulis mengenai gerakan buruh, atau gerakan pekerja, tetapi ia juga menggunakan terminologi “partai” dalam beberapa bentuknya; bagaimanapun juga, jelas bahwa ia sama sekali tidak membahas, pada intinya, pada tipe modern dari partai politik, dan dalam faktanya ia menggunakan terminologi tersebut untuk mendeskripsikan berbagai jenis organisasi yang berbeda. Misalnya, Marx membahas Liga Komunis (di mana ia menjadi anggota dari tahun 1847 hingga 1852) sebagai “partai kami” walaupun makna sebuah partai di sini adalah berarti sebuah klub politis. Dalam konteks yang berbeda, ia dan Engels memandang gerakan Chartis sebagai “partai kaum pekerja pertama di masa modern” dan melihat tradisi-tradisi Chartis sebagai sebuah dasar yang dapat dijadikan pijakan untuk membentuk sebuah partai kelas pekerja di Inggris.</p>
<p><span id="more-134"></span> Marx juga berbicara tentang “partai kami” dalam sebuah pengertian yang transendental, sebagaimana Monty Johnston telah catat: “Bagi Marx partai dalam pengertian ini membadani konsepsinya atas ‘misi’ kelas pekerja, mengonsentrasikan dirinya sebagai sebuah ‘kepentingan- kepentingan masyarakat’.” Dari sudut pandang ini, “partai” dan “kelas” jelas menjadi identik; partai adalah sebuah kelas yang terorganisir bagi sebuah perjuangan politis, tahapan tertinggi dari perkembangan “kelas itu sendiri”. Konsepsi ini, bagaimanapun juga, cukup cocok dengan pandangan yang secara umum diekspresikan oleh Marx: katakanlah, perkembangan politis dari kelas pekerja (organisasinya, dalam sebuah artian luas) akan memberi jalan bagi kebangkitan berbagai macam organisasi lain tertentu yang pada ujungnya akan tersatukan dalam identitas kelas itu sendiri, bukan tersatukan oleh partai yang terdisiplinkan dan tersentralisir. Dengan demikian, Komune Paris, yang jelas bukan sebuah pencapaian sebuah partai dalam artian modern, dideskripsikan oleh Marx sebagai “bentuk politik yang pada akhirnya diketemukan, yang bekerja demi emansipasi buruh.” Tema dominan dari seluruh tulisan-tulisan Marx tentang perkembangan politis kelas pekerja adalah bahwa semua hal tersebut akan berakhir dalam pembentukan organisasi-organisa si otonom, mandiri dari partai-partai dan gerakan-gerakan kaum borjuis; tidaklah penting untuk kemudian dikerucutkan dalam pemapanan sebuah organisasi tunggal utama yang akan menentukan perjuangan kelas pekerja secara keseluruhan.</p>
<p>Marx tidak sempat hidup lebih lama untuk melihat perkembangan pesat partai-partai politik massa, sehingga ia juga tidak sempat mengkritisinya, dalam bentuknya yang paling akut, problem dari pemisahan antara partai sebagai sebuah organisasi (yang memiliki kantor pusat, penyandang dana, koran dan jurnal-jurnalnya) dengan sejumlah besar organisasi yang telah dipersatukan oleh kelas sebagai sebuah komuniti atau gerakan sosial yang potensial yang membawa perubahan popular. Apabila dikaji, khususnya SPD (Social Democratic Party) Jerman karena itulah partai politik kelas pekerja modern dalam makna yang kita kenal sekarang, banyak para Marxis telah sampai pada kesimpulan bahwa terdapat sebuah pengkonsentrasian yang tak terelakkan di tingkat kekuasaan teratas, atau “oligarki”, dalam semua organisasi berskala besar, dan sebagai konsekuensinya akan terbagi-bagilah kepentingan antar para pemimpin, pejabat tinggi dan massa yang dikombinasikan untuk membentuk sebuah partai politik modern. Kepentingan pada pejabat tingginya, menurut para Marxis tersebut, akan selalu konservatif, dan dalam sebuah situasi politik tertentu kepentingan- kepentingan mereka akan mendiktekan sebuah kebijakan yang defensif atau bahkan reaksioner, sementara kepentingan- kepentingan kelas pekerja justru menuntut sebuah kebijakan yang tegas dan agresif. Tetapi sebagian besar kaum Marxis justru mendasarkan argumen-argumennya dengan menganalisa apa yang biasa sebut sebagai “inkompetensi massa”, yang dipandang “tak akan mampu mengambil bagian dalam proses pengambilan keputusan dan hasrat untuk kepemimpinannya sangat lemah.” Hal ini terlihat juga dalam konsepsi yang diformulasikan oleh Lenin, melalui sebuah perspektif dan konteks yang berbeda, yang mana juga memapankan sebuah pembedaan yang semakin tebal antara partai dan kelas dengan menekankan bahwa kelas pekerja sendiri tak akan pernah dapat mencapai lebih jauh daripada sekedar “kesadaran serikat buruh” (atau dengan kata lain dapat dijabarkan sebagai kesadaran yang hanya terfokus dan berhenti pada pertanyaan-pertanya an ekonomis yang temporer) dan bahwa sebuah kesadaran revolusioner harus diinjeksikan ke dalam kelas pekerja dari luar kelas tersebut, oleh para teoris Marxis dari sebuah partai. Dengan hal ini, yang diekspresikan oleh Lenin dalam terminologi- terminologi politik praksis, dielaborasikan dalam sebuah argumen filosofis oleh Georg Lukács (jangan dikaburkan dengan George Lucas sang sutradara film Star Wars) sebagai salah satu dari beberapa tema sentral yang telah memecah interpretasi atas Marxisme.</p>
<p>Argumen-argumen yang diajukan oleh Lenin (yang berdasarkan pada kasus keterbelakangan masyarakat Russia saat itu dan kegagalan para revolusioner Eropa pasca 1917) tampaknya justru apabila dikaji menggunakan sejarah jelas keliru, semenjak gerakan kelas pekerja sepanjang sejarah peradaban dan pra-peradaban yang dikenal manusia, telah tiba pada ide-ide sosialis jauh sebelum Marx sendiri menjadi seorang sosialis atau memformulasikan teori-teori sosialnya; argumen-argumen Lenin tersebut juga jelas menjadi tidak konsisten dengan orientasi fundamental dari pemikiran Marx sendiri, sebagaimana juga yang dialami oleh mayoritas Marxis hari ini. Hal-hal tersebut di atas mengajukan sejumlah pertanyaan serius yang sebagian besarnya tidak tereksplorasi dalam karya-karya Marx dan hanya mendapatkan sedikit saja perhatian dari para Marxis setelahnya.</p>
<p>Ada dua buah isu prinsipil berkaitan dengan konsepsi partai politik ini, yang perlu diperhatikan— tetapi lebih seringnya malah diabaikan baik oleh para Marxis setelahnya atau juga mereka yang anti-Marxis, seperti rata-rata anarkis (khususnya para Bakuninis).</p>
<p>Pertama, isu konteks “partai politik” dalam relasi partai sebagai sebuah organisasi terhadap kelas pekerja—problem- problem kepemimpinan, peran elit-elit revolusioner, oligarki dan birokrasi. Pandangan-pandangan Lenin tentang posisi dominan para pemimpin, pejabat tinggi partai dan “inkompetensi massa” sebagian dikarenakan atas perbedaan mencolok dari adukasi dan kultur yang memisahkan para pemimpin dengan anggota-anggota rendahannya dan kelas pekerja secara keseluruhan. Dengan menganalisa SDP, maka tak jarang beberapa Marxis sampai pada kesimpulan bahwa gerakan sosialis sesungguhnya adalah sebuah ideologi yang diekspresikan oleh para intelektual yang tidak puas, dan dengan demikian malah menciptakan sebuah kelas intelektual baru yang mampu mengarahkan dan memerintah—walau para intelektual dalam kelas tersebut terus menerus percaya bahwa masyarakat tanpa kelas tetap masih mungkin tercipta dengan cara tersebut. Tetapi setidaknya, hal tersebut juga mengajukan sebuah argumen baru, bahwa artinya dalam perjalanan menuju emansipasi kelas pekerja diperlukan juga pengembangan edukasi dan kultur popular (mohon jangan dikacaukan sebagai popular-culture atau kultur pop). Nicolai Bukharin, misalnya, mengajukan argumen bahwa “inkompetensi massa” adalah sebuah produk dari kondisi-kondisi teknis dan ekonomis, yang akan lenyap dengan sendirinya dalam sebuah masyarakat sosialis. Dapat dikatakan—melangkah melampaui argumen Bukharin, yang hanya memberi penekanan pada situasi pasca revolusi—bahwa sebuah tingkatan tertentu dari edukasi popular justru harus menjadi sebuah prakondisi bagi sebuah transformasi sosial yang akan menuju pada terciptanya tatanan masyarakat sosialis; dan hal ini beriringan dengan baik dengan ide-ide Marx tentang pentingnya perkembangan sosial dan intelektual dalam sebuah masyarakat kapitalis yang telah maju sebagaimana ia kemukakan dalam Grundrisse. Tetapi toh argumen seperti yang baru saja dipaparkan tidak lantas menyelesaikan problem-problem mengenai struktur organisasi-organisa si berskala besar yang membidani lahirnya elit birokrasi, sebuah kelompok elit yang dominan dan sebuah perbedaan yang tajam di antara para pemimpin dengan anggota rendahannya atau kelas pada keseluruhannya. Hal ini memang oleh Marx dirasa tidak perlu diberi perhatian, tetapi juga karena penyepelean hal-hal seperti inilah maka terjadi pertentangan yang sangat prinsipil dengan kawan seperjuangannya saat itu, Mikhail Bakunin. Dan toh fakta memang menunjukkan demikian, bahwa problem-problem tersebut justru menjadi semakin akut di kemudian hari pasca meninggalnya Marx. Skala dan kompleksitas organisasi-organisa si dalam masyarakat modern yang muncul setelahnya menjadi semakin meningkat dan rumit. Lagipula di sisi lain, berbagai kecenderungan oligarkis dalam partai-partai kelas pekerja juga muncul dalam bentuknya yang baru dan lebih mencolok; fenomena-fenomena seperti inilah yang kini harus dipelajari, walau telah diperingatkan oleh para anarkis pengikut Bakunin jauh sebelumnya, oleh partai-partai kelas pekerja, dan juga karena telah terbukti bahwa partai politik tipe Bolshevik yang menggunakan sistem partai tunggal juga tidak membawa kelas pekerja kemanapun selain pada jurang yang mematikan. Dan karena selama berdekade-dekade Marxisme sendiri telah terdominasi oleh ideologi Bolshevik, nyaris tak ada yang menyadari bahwa baik secara teoritis maupun empiris, Marxisme (-isme yang didasarkan pada karya-karya Marx sebagai teori-teori fundamentalnya) sangat berbeda dengan Marxisme yang kita kenal rata-rata saat ini, yang artinya, juga berbeda dalam banyak hal lainnya (misalnya konsepsi tentang makna “partai politik”).</p>
<p>Isu kedua yang tak kalah penting, yang sebagian besarnya diajukan oleh Lenin, yaitu ide tentang bagaimana kesadaran kelas pekerja dapat dikembangkan, yang terkait dengan relasi antar kelas, doktrin politik, dan teori sosial—dan dalam satu pengertian umum, isunya adalah tentang di mana posisi dan peran para intelektual dalam gerakan kelas pekerja. Sangat kontras dengan pandangan umum seputar Marxisme, Marx sendiri justru telah mengajukan peringatan (walau sedikit) atas pandangan bahwa sebuah partai kelas pekerja haruslah berupa sebuah “partai Marxis”. Telah jelas, bahwa di penghujung hidupnya, secara eksplisit Marx menjauhkan diri dari beberapa upaya pembentukan partai-partai sejenis yang telah disebut di atas, khususnya di Perancis, dengan cara mendeklarasikan diri bahwa ia bukanlah seorang “Marxis”. Teori Marx tentang masyarakat, tentu saja, mempengaruhi kesadaran kelas pekerja dan mampu masuk dengan berbagai cara ke dalam doktrin-doktrin politik kelas pekerja; sebagai sebuah teori, bagaimanapun juga, tujuan prinsipilnya adalah untuk membuka karakteristik alamiah relasi kelas dalam masyarakat kapitalis, untuk menganalisa kecenderungan- kecenderungan ekonomis dan sosial dalam perkembangan kapitalisme, dan untuk memperlihatkan bahwa kelas pekerja adalah sebuah kekuatan politik yang mandiri, yang mau tak mau telah terlibat dalam bentuk masyarakat yang eksis saat ini. Perilaku alamiah jugalah yang akan mendorong setiap kelas pekerja di setiap masyarakat yang berbeda-beda, untuk mengorganisir diri mereka sebagai sebuah organisasi dan gerakan politis, dan bentuk yang akan mengekspresikan oposisinya terhadap kapitalisme dan aspirasinya akan sebuah dunia baru, akan tergantung pada keadaan sekitar mereka, termasuk sejarah dan tradisi kulturalnya. Dan doktrin ini akan merasa perlu untuk melampaui segala macam sains, semenjak doktrin tersebut memeluk sebuah visi imajinatif tentang bentuk masyarakat masa depan.</p>
<p>Marx telah dengan jelas membuat perbedaan antara teori saintifik dan doktrin sosial (ideologi) dalam kritiknya terhadap ekonomi politik; doktrin-doktrin ekonomi borjuis jelas ideologis, dalam artian doktrin tersebut merepresentasikan sebuah gambaran masyarakat kapitalis yang melenceng dan terdistorsikan, tetapi justru di saat yang sama, ekonomi politiknya Adam Smith dan Richardo jelas merupakan sebuah sains teoritis sejati. Perbedaan ini terlihat jelas apabila diamati dalam konteks sejarahnya. Marx melihat bahwa sebuah kelas yang timbul (misalnya, kelas borjuis dalam masyarakat feodal) mampu berkembang melalui representasi para intelektual, sains yang realistis atas masyarakat, di mana pemikiran sosial sebuah kelas yang kemudian dimapankan melalui kekuasaan menjadi lebih ideologis, dibutuhkan bagi kepentingan khusus dan kemakmuran mereka yang duduk di tampuk kekuasaan dan untuk menghindari perubahan sosial yang akan menggulingkan posisi mereka. Dari sudut pandang ini, dapat dikatakan bahwa teori-teori Marx berdiri dalam sebuah relasi yang sama seperti di mana proletariat sebagai sebuah kekuatan ekonomi politik klasik berdiri di hadapan borjuasi. Tetapi lebih jauhnya lagi, ideologi Bolshevik kemudian dapat dilihat sebagai sebuah doktrin dari sebuah kelas baru yang berkuasa, yang mirip dengan apologi atas kapitalisme, sesuatu yang telah dikritik oleh Marx jauh sebelumnya, dalam karya klasiknya tentang kritik ekonomi politik. Tentu saja, dengan melihat dari sudut pandang demikian, maka perkembangan bersejarah ini (partai Bolshevik) bukanlah yang diharapkan oleh Marx. Ia berharap melihat masyarakat sosialis masa depan memiliki karakter rasional dan saintifik sehingga relasi manusia dengan sesama manusia, termasuk dengan alamnya, akan semakin transparan dan beralasan, sementara dengan mengandalkan lingkup pemikiran ideologis, maka pengaruh yang timbul jelas akan terdistoris, yang pada ujungnya hanya akan sepenuhnya menghapus kedua relasi tersebut.</p>
<p>Perlu ditekankan, bahwa walaupun Marx mendiskusikan teori dan ideologi dalam konteks kesejarahannya, toh ia juga memberikan pembedaan yang jelas, absolut serta universal di antara keduanya. Tak diragukan lagi apabila lantas Marx percaya bahwa kemajuan teoritis yang sejati memang mungkin dilakukan dalam masyarakat saintifik, dan ia sendiri telah berkontribusi dalam kemajuan ini melalui penyelidikannya terhadap ekonomi politik—sebuah sains yang mana, sebagaimana yang ia utarakan pada Engels, belum juga berkembang semenjak era Adam Smith dan Richardo hingga ia merasa harus melakukan penyelidikan tersebut. Ada sebuah perbedaan mencolok antara pandangan Marx dengan para interpretator Marxis setelahnya seperti Georg Lukács misalnya. Dalam karyanya yang terkenal, Sejarah dan Kesadaran Kelas, Lukács membuat perbedaan antara teori dan ideologi menjadi kabur, dan teori-teori marxis dipresentasikan sebagian besar dalam bentuk ideologis, dengan sekedar mengidentifikasikan dalam bentuk kesadaran kelas proletariat.</p>
<p>Pemikiran Marx, yang memisahkan (walaupun tetap saling terhubung) antara teori dan ideologi, dan mengaitkan keduanya pada perkembangan kelas-kelas sosial, menghadirkan sejumlah kesulitan yang membutuhkan pembelajaran kritis.</p>
<p>Satu dari berbagai kesulitan tersebut berpusat pada peran kelas sosial sebagai basis prinsipil keberadaan ideologi-ideologi. Dengan demikian perlu juga untuk mendefinisikan terlebih dahulu apa itu ideologi, dan dalam membahas mengenai Marxisme tentu amat sangat perlu untuk memahami definisi ideologi dari kacamata Marx sendiri. Ideologi, dalam pengertian Marx, adalah sejumlah konsepsi yang mana sebuah kelompok sosial menyistematiskan nilai-nilai yang diyakininya. Dengan demikian, tentu terdapat banyak sumber-sumber yang potensial bagi kemunculan sebuah ideologi—kelompok- kelompok berdasarkan etnis dan linguistik, berdasarkan regional tempat mereka tinggal, berdasarkan generasi, berdasarkan afiniti, tradisi, religi dan kultural, termasuk berdasarkan kelas sosial—dan pertanyaan tentang dari mana ideologi itu bermula harus dikaji dengan kajian yang sangat empiris, bukan dengan diskusi konseptual atau refleksi filosofis. Banyak para peneliti atas hal tersebut lantas melihat pentingnya gerakan dan ideologi nasionalis; dan selama pertengahan abad lalu, berbagai ideologi telah berkembang dari berbagai kelompok sosial yang sangat beragam, baik dalam bentuknya maupun dalam keterkaitannya yang sangat longgar dengan latar belakang kelas sosialnya (misalnya untuk tidak menyebutkan semuanya: gerakan mahasiswa, gerakan feminis, gerakan berdasarkan ras). Lebih jauh lagi, dengan demikian dapat diajukan sebuah argumen, bahwa produksi ideologi tampaknya tidak akan berakhir dengan sebuah penciptaan tatanan masyarakat tanpa kelas, sebagaimana justru semakin marak lahirnya kelompok-kelompok yang membangun ideologinya melampaui batas-batas kelas sosial.</p>
<p>Kesulitan lain yang juga timbul adalah mengenai peran para intelektual—para representatif “pemikir” dari sebuah kelas atau kelompok yang, diakui atau tidak, telah mengkonstruksi berbagai teori dan ideologi. Teori politik Marx menggunakan analogi antara muncul dan berkembangnya para borjuis dalam masyarakat feodal dengan muncul dan berkembangnya proletariat dalam masyarakat kapitalis. Perbedaannya, sebagaimana yang juga disadari oleh para intelektual itu sendiri, hanyalah bahwa para intelektual yang merepresentasikan para borjuis adalah para borjuis itu sendiri, yang sebagian besarnya memang berasal dari kalangan borjuis dan berpartisipasi langsung dalam kehidupan sosial kelas borjuis sesuai dengan pemikirannya; sementara para intelektual sosialis—yang mengaku merepresentasikan proletariat—bukanlah proletariat, yang sebagian besar bukan dari kalangan proletariat, memiliki perbedaan mencolok antara kehidupan sosial hariannya dengan aspirasi kelas pekerja yang seharusnya mendasari doktrin sosial yang diklaim selalu diembannya. Hal seperti ini yang lantas juga menjadikan ide Lenin bahwa kesadaran kelas sosialis harus diinjeksikan ke dalam kelas pekerja oleh mereka yang berada di luar kelas tersebut, menjadi masuk akal. Dan tentu saja, dengan melihat hal ini, maka tidak salah apabila lantas dikatakan bahwa sosialisme hanyalah sebuah ideologi yang dikembangkan oleh para intelektual dalam perjuangan mereka meraih dominasi.</p>
<p><strong>Referensi</strong></p>
<ul>
<li>Karl Marx dan Friedrich Engels, 2004. The Communist Manifesto. London, Inggris: Penguin.</li>
<li>Karl Marx, 2006. Grundrisse. MIA DVD</li>
<li>Karl Marx, 2006. The Civil War in France. MIA DVD</li>
<li>Tom Bottomore (ed.), 1973. Karl Marx. New Jersey, AS: Prentice-Hall, Inc.</li>
<li>Georg Lukács, 1990. History and Class Consciousness. Cambridge, Massachusetts, AS: The MIT Press.</li>
<li>Karl Marx, 2006. Grundrisse. MIA DVD</li>
<li>Karl Marx, (tanpa tahun). Naskah-Naskah Ekonomi dan Filsafat Tahun 1844. Jakarta: Hasta Mitra.</li>
<li>Tom Bottomore (ed.), 1973. Karl Marx. New Jersey, AS: Prentice-Hall, Inc.</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2008/01/31/konsepsi-partai-politik-dalam-marxisme-non-bolshevikisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HUBUNGAN MARXISME LIBERTARIAN DAN ANARKISME</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2008/01/30/hubungan-marxisme-libertarian-dan-anarkisme/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2008/01/30/hubungan-marxisme-libertarian-dan-anarkisme/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jan 2008 08:09:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nikholas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anarki Komunisme]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/2008/01/30/hubungan-marxisme-libertarian-dan-anarkisme/</guid>
		<description><![CDATA[Adalah kualitas dari bentuk libertarian - demokratik, humanis, dan anti-negara yang memungkinkan kalangan anarkis memakai aspek-aspek yang berasal dari Marxisme (seperti analisis ekonomi ataupun teori perjuangan kelas). Walau masih mengandung beberapa kelemahan mendasar dari Marxisme. Dan dalam beberapa hal bahkan juga sebagai kelemahan dari banyak varian anarkisme, ketimbang menjadi alternatif.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>oleh : Wayne Price</em></strong></p>
<p><em>…Kusimpulkan sekali lagi, dan lagi ,bahwa apa yang secara perlahan dan tidak sempurna kutuju secara penuh dan terang-terangkan (bisa saya katakana, begitu indah) adalah apa yang dikatakan oleh Karl Marx. Jadi, aku juga adalah seorang Marxis! Aku memutuskannya secara tegas, bahwa hal ini sangat baik menjadi tradisi dan memiliki kawan-kawan yang bijak. Ini adalah Marx sebagai seorang psikolog sosial. Tapi sebagaimana aksi politik yang terhormat … saya tidak melihat slogan-slogan para Marxian, termasuk Marx sendiri, yang menuju ke sosialisme yang damai (yaitu hilangnya negara dan kekuatan koersif lainnya); justru mereka menghindari hal ini. Bakunin memang benar. Dan saya sepakat dengan Kropotkin.</em> (Paul Goodman, 1962; 34)</p>
<p>Saat ini arus kebangkitan kembali anarkisme di seluruh dunia dijadikan landasan atas kemunduran Marxisme. Meski demikian, ini menyisakan sebuah pertalian antara Marxisme (Marxisme libertarian atau otonomis) dengan kaum anarkis yang memiliki kedekatan dan bahkan menjadi pengikut anarkisme.</p>
<p><span id="more-131"></span>Adalah kualitas dari bentuk libertarian &#8211; demokratik, humanis, dan anti-negara yang memungkinkan kalangan anarkis memakai aspek-aspek yang berasal dari Marxisme (seperti analisis ekonomi ataupun teori perjuangan kelas). Walau masih mengandung beberapa kelemahan mendasar dari Marxisme. Dan dalam beberapa hal bahkan juga sebagai kelemahan dari banyak varian anarkisme, ketimbang menjadi alternatif. Versi Marxisme yang ini memiliki banyak kesamaan dengan pandangan kaum anarkis walau tetap masih ada yang secara mendasar cacat, sebagaimana yang akan kujelaskan.</p>
<p>Sejak kurang lebih dari era 30-an hingga 80-an, posisi anarkisme adalah marjinal di tengah dominasi gereakan kiri international oleh Marxisme. Di saat yang sama di tahun 60-an, di Amerika Serikat dimulai dengan apa yang disebut “demokrasi partisipatoris” , periode yang diakhiri dengan nyanyian “Ho,Ho,Ho Chi Minh, The NLF pasti menang” serta pendekatan pada buku Mao Little Red – untuk mendukung negara barbaris Stalinis. Bahkan aspek-aspek libertarian dalam Marxisme justru diabaikan, seperti organisasi kelas pekerja atau tujuan akan sebuah masyarakat tanpa pekerja yang teralienasi.</p>
<p>Namun di 1989 Tembok Berlin runtuh, berturut setelahnya Uni Sovyet. China memeluk sistem pasar terbuka berbasis kapitalisme. Secara luas, Marxisme didiskreditkan. Bagaimanapun kapitalisme global tidaklah berkembang, kolapsnya kapitalisme negara di Rusia sesunggunya adalah bagian dari krisis global kapitalisme. Dengan bertumbuhnya oposisi yang sebelumnya adalah varian-varian dari Marxisme, telah menyalurkan dirinya ke dalam radikalisme lain: anarkisme.</p>
<p>Sejarah akan kekalahan dan penghianatan dalam Marxisme memasuki dua gelombang besar. Sejak masa Engels, dengan pembentukan partai-partai Sosial Demokraasi di Eropa. Dimana mengambil strategi kecil selain mengupayakan untuk duduk di parlemen, mereka membangun partai-partai massa dan serikat-serikat yang birokratik, hingga kehancurannya dalam PD I. banyak dari partai-partai tersebut mendukung pemerintahan imperialis di masing-masing negaranya dan berperang melawan negara-negara anggota Sosialis Inetrnational. Pada PDI I mereka menentang Revolusi Rusia dan menyabot revolusi di negara mereka, terutama Jerman. Era 30-an, mereka kalah melawan fasisme, dalam hal ini Nazisme. Dukungan yang sama sekali tidak kritis juga terhadap Sekutu pada PD II, mereka kemudian menjadi agen-agen imperialisme Amerika Serikat pada Perang Dingin. Lalu sekarang, partai-partai Sosdem dan Buruh di Eropa mempercayai dengan kuat akan sebuah bentuk masyarakat baru, dengan mengadvokasi sebuah bentuk terlemah dari liberalisme, yang tidak lain adalah neo-liberalisme.</p>
<p>Dalam Perang Dunia I, Lenin, Trotsky dan lainnya berkeinginan untuk sebuah permulaan baru, yakni kembali ke akar revolusioner Marxisme dalam International yang baru. Dan hasilnya sebagaimana setiap orang tahu, negara kapitalis stalinis di Rusia, dan pembentukan partai-partai Stalinis di berbagai negara. Para Stalinis sepenuhnya gagal dalam revolusi kelas pekerja di Eropa maupun di tempat lain (sebagai sasaran asli proyek tersebut). Partai Komunis yang baru hanya dibentuk oleh tentara Rusia dan laskar tani yang dipimpin oleh elit-elit intelektual – mereka yang berasal dari kekuatan non-pekerja. Setelah menciptakan tumpukan-tumpukan mayat, Kapitalisme Negara Rusia terjebak dalam inefisiensinya sendiri yang kemudian pada akhirnya kolaps. Ini kemudian mewariskan penderitaan di Eropa Timur dan sebagian besar Asia. Partai-partai Komunis yang ada kini sama liberalnya dengan partai-partai Sosdem.</p>
<p>Sebagai pelengkap dari dua kegagalan besar Marxisme ini, upaya Trotsky untuk membangun kembali Marxisme Leninisme dalam International Keempat adalah termasuk dari kegagalan tersebut. kecenderungan berbagai Trotskyist hari ini adalah bentuk varian dari Stalinisme, nasionalisme, dan atau sosdem reformis.</p>
<p>Sejarah tersebut akan memperlihatkan Marxisme sebagai hal yang diragukan sepenuhnya. Betapa pun, Marxisme bukanlah hanya pemikiran-pemikiran yang bagus, seperti Kristianitas. Ia harus dipraksiskan, sebuah teori dan praktek. Seperti perkataan Engels, “Untuk mengetahui rasa kue puding kita mesti memakannya.” Kegagalan besar haruslah meragukan hal ini.</p>
<p>Bagaimanapun, Marxisme melanjutkan hal yang menarik dari gerakan Kiri, terutama memudarnya ingatan akan “Komunisme negara-kapitalis” . Hal tersebut memiliki tubuh teori – keseluruhan pustaka teori &#8211;  dan sebuah sejarah akan pengalaman dalam berbagai revolusi besar sejak 1848. Anarkisme, di sisi lain, terkenal tipis akan sumber teori sementara pengalaman revolusionernya mendua. Oleh karenanya banyak penganut anarkisme mencari tambatan dari Marxisme yang mungkin bisa konsisten dengan nilai-nilai dalam anarkisme.</p>
<p>Minoritas ini menjadi kecenderungan dalam Marxisme yang disebut Marxisme Libertarian, atau menurut Harry Cleaver (2000) Marxis Otonomis (makna ‘libertarian’ disini tidak ada hubungannya dengan kelompok Kanan, pro-kepemilikan, libertarian amerika). Secara historis, tendensi-tendensi yang memiliki kontribusi dalam  perkembangan ini adalah kaum “Komunis Konsilis” Eropa setelah PD I, dan “Jhonson-Forest Tendency” (C.L.R James dan Raya Dunayevskya) di era 40 – 50-an, yang keluar dari gerakan Trotskyis, sebagaimana kelompok Socialisme atau Barbarisme-nya Castroardis di Perancis. Ada juga para Situasionis Perancis, dan gerakan-gerakan “Otonomis” terkini di Jerman dan Italia (yang mengejutkan, saya jarang mendapatkan referensi di AS mengenai William Morris, seorang Marxis utopis Inggris yang termasyhur pada 1880-an). Para pengikut Dunayevkya masih menjalankan Komite The News and Letter. Dalam beberapa hal, Castoriadis sangat menarik bahwa dia dan kelompoknya berupaya keras Marxisme Libertarian keluar dari Marxisme secara umum (Curtis, 1997; Dunayevskaya, 1992; Glaberman, 1999; Rachleff, 1976).</p>
<p>Banyak kaum anarkis dapat dilihat sebagai varian dari Marxisme libertarian. Noam Chomsky dalam pengantar sebuah buku anarkisme, mengutip Anton Pannekoek tokoh Komunisme Konsil dan menyimpulkan, “Faktanya, Marxisme radikal bergabung dengan arus-arus anarkis” (1970; xv). Namun, beberapa kalangan Marxis menolak hubungan tersebut. Antonio Negri, pemikir terkemuka dari Otonomis Italia, mengungkapkan dengan tegas dalam bukunya yang berpengaruh, Empire, “…kami bukan anarkis, tetapi komunis…” (Hardt &amp; Negri, 2001; 350). Sementara Cleaver, sang Marxis otonomis (dan mungkin dialah yang menemukan istilah tersebut) menulis di papernya (1993) yang membahas kesamaan yang kuat antara Kropotkin dan Marxisme Cleaver. Dua orang pengikut C.L.R. James menulis, “Marxisme dapat diartikan dengan berbagai bentuk dari anarkisme libertarian sampai kediktatoran totaliter Stalinis. Dan kami cenderung pada yang pertama…” (Glaberman &amp; Faber, 1998;2). Dalam pengertian, inilah kesempatan terakhir dari Marxisme untuk membuktikan ia bisa membebaskan… atau hanya baru saja pantas.</p>
<p>Kaum anarkis boleh saja sepakat atau tidak dengan analisis ekonomi politik Marx. Bagi anarkis, apa yang menjadi hal paling baik dari kecenderungan libertarian dalam Marxisme adalah keyakinan atas bentuk swa-aktifitas kelas pekerja. Mereka menolak anggapan bahwa seorang elit (dalam bentuk sebuah partai) dapat berdiri atas nama pekerja dan berkuasa atasnya. Sebagai gantinya, mereka menekankan pembangunan dewan (council) pekerja dan dewan rakyat dalam pergolakan revolusioner (Root &amp; Branch, 1975). Dewan-dewan inilah yang menurut mereka, yang seharusnya bersatu sebagai kekuatan baru, menggantikan bentuk-bentuk dari negara lama. Ketimbang memfokuskan diri dalam jajaran petinggi serikat pekerja yang besar dan birokratik, mereka lebih memilih perjuangan dari bawah, untuk menunjukkan bagaimana inisiatif kelas pekerja dapat berdampak pada proses produksi harian (Glaberman &amp; Faber, 1998). Mereka mempelajari bagaimana caranya sebuah aksi massa yang dapat mengambil alih kendali, melampaui apa yang digariskan oleh pejabat serikat pekerja (Brecher, 1972). Ketertarikan mereka adalah pada kreatifitas kelas pekerja dan seluruh kelas tertindas, yang dalam istilah Negri dan Cleaver disebut ‘self-valorization’ . Beberapa pemikiran revolusioner yang terpenting dari Perjuangan Pembebasan Kaum Kulit Hitam dikembangkan oleh C.L.R. James – walaupun ide-idenya lebih banyak berkembang sebelum perpecahannya dengan Trotskyisme (McLernee, 1996).</p>
<p>Selama masa Depresi Besar dan Perang Dingin, ketika kaum anarkis masih sedikit, Marxis otonomis tetap mempertahankan gagasan-gagasan akan swa-aktifitas dari para pekerja. Mereka tetap mempertahankan oposisi revolusioner terhadap Stalinisme sebagai hal yang serupa dengan kapitalisme Barat. Mereka menganalisis Stalinisme dengan baik sebagai bentuk Kapitalisme Negara, alih-alih sebagai jenis masyarakat menuju sosialisme (negara pekerja, masyarakat paska kapitalis, negara transisi, dll). Mereka mengumumkan bahwa paska PD II, kemenangan kapitalis tersebut sesungguhnya mengandung cacat. Prediksinya adalah keruntuhan – sebagaimana terbukti di tahun 60-an (Mattick, 1969). Para anarkis menghargai semua ini.</p>
<p>Para Marxis libertarian terus mengupayakan reinterpretasi Marxisme dari versi ortodoks yang diajarkan oleh kaum sosial demokrat maupun para Stalinis. Marxisme kebanyakan melihat proses sejarah berjalan dengan sendirinya, tahap demi tahap, antitesis setelah tesis, hingga kapitalisme mencapai tahapan akhirnya (secara optimis disebut dengan kapitalisme lanjut, atau kapitalisme tahap akhir), yang kemudian dengan tidak terelakkan akan digantikan sosialisme, lalu komunisme. Sejarah bagi Marxis ortodoks adalah sesuatu yang terjadi terhadap manusia sebagai lawan dari apa yang manusia lakukan. Bagi mereka, ‘kesadaran kelas’ berarti para pekerja menjadi sadar akan apa yang harus dilakukannya berdasarkan proses sejarah. Ini senantiasa dikutip dari perkataan Hegel, “Kebebasan adalah pengenalan atas keterpaksaan” . Dengan senantiasa mengacu bahwa sosialisme “tidak terelakkan”, pemikir Marxisme mainstream melihat sosialisme sebagai hasil atas proses otomatis dari pembangunan sosial. Secara alami, lawan-lawan Marxisme dari kiri sampai kanan, sudah menunjukkan bahwa sekalipun hal tersebut dikatakan tidak bisa dihindari tapi bukan berarti hal tersebut mesti diupayakan. Apa yang ditawarkan sosialisme sehingga mengharuskan para pekerja (dan membiarkan yang lainnya) berjuang dan berkorban? Marxisme ortodoks tidak bisa menjawab semua ini.</p>
<p>Upaya kaum Marxis libertarian untuk mengguncang otomatisasi Marxis (sebagaimana yang saya rujuk) belumlah bisa dikatakan berhasil penuh. Terutama mereka belum sepenuhnya berhasil menjelaskan bahwa ini bukanlah misinterpretasi atas Marxisme, tetapi justru pusat dari Marxisme-nya Marx. Seluruh poin dalam Das Kapital merujuk bahwa sosialisme pasti terjadi. Namun kau dapat membaca di semua volume dari tulisan-tulisan Marx (saya juga punya) tidak ada satupun pernyataan tentang mengapa sosialisme itu baik atau begitu berharga untuk dicapai. Bagaimanapun, Marx banyak mengkritisi kaum utopis dan anarkis atas mencuatnya pertimbangan moral dalam mencapai sosialisme.</p>
<p>Konsepsi otomatis dan amoral dari Marxisme menghasilkan dampak negatif. Bagi Bolshevik, hal tersebut menjadi pembenaran atas tiraninya.  Mempercayai bahwa partailah yang paling tahu akan kebenaran absolut mengenai apa yang mesti dilakukan (yakni, memiliki kesadaran kelas yang benar), dan tentu saja ini hanyalah penjabaran tugas-tugas sejarah yang mendesak, mereka merasa benar untuk membunuh atau melakukan penindasan – dengan alasan pembebasan umat manusia tentunya. Betapapun, mereka mengetahui kelak hal tersebut akan dibenarkan.</p>
<p>Untuk kaum sosial demokrat, keotomatisan amoral ini memberikan pembenaran akan sikap pasif dan kebijakan yang tidak revolusioner. Mereka membentuk partai politik yang berlaga dalam pemilu, dan mendukung organisasi massa yang bernegosiasi dengan modal. Padahal mereka tak punya strategi apapun kecuali terus menerus berjalan seperti itu. Sementara itu, mereka terus melakukan penindasan dengan mendukung imperialisme negaranya. Mereka juga berfikir bahwa kelak ini dapat dibenarkan.</p>
<p>Hal ini juga menerima pembangunan kapitalis, yang dipercaya dapat mendorong ke arah sosialisme, kebanyakan Marxis menerima aspek-aspek lain dalam kapitalisme. Teknologi anti-lingkungan, yang ditempa untuk tujuan  eksploitasi, telah dikuasai. Begitu pula dengan tendensi sentralis dalam ekonomi, politik, dan organisasi militer yang diciptakan untuk kesengsaraan umat manusia.</p>
<p>Ini bukanlah untuk mengingkari bahwa ada sebuah kecenderungan dalam kapitalisme yang berpotensi mendorong ke arah kebebasan sosialis, khususnya perjuangan kelas pekerja, seperti halnya yang dipikirkan Marx. Namun ada kecenderungan sebaliknya (seperti kecenderungan akan disuap atau pekerja yang lebih miskin untuk menyerah). Tidak ada otomatisasi disini, tidak hal yang tidak dapat dihindari, mengenai revolusi sosialis. Kapitalisme tidak mungkin menciptakan sosialisme untuk kita.</p>
<p>Beberapa Marxis libertarian, seperti James dan Dunayevskya serta pengikutnya, telah berupaya keluar dari Marxisme versi mekanik tersebut dan kembali pada filsafat Hegel. Inilah akhir yang mematikan. Memang benar bahwa dialektika Hegel menggambarkan dunia yang bergerak dinamis, kontradiktori, dan menunjukkan saling keterhubungan (menyerupai ekologi), bukannya mekanik dan kaku. Namun dia melihat bahwa sejarah tetap ikut proses otomatis, bergerak ke akhir yang tidak bisa dihindari. Ujung tersebut adalah ciptaan dari filsafat Hegel – dan, pada masyarakat, monarki Prusia – sebagai titik kulminasi sejarah. Organisasi The News and Letters sekilas memandang keberadaannya dalam rangka untuk menjelaskan kepada pekerja hubungan aksi-aksi mereka dengan filsafat Hegel. Juga untuk mengorganisir para aktifis agar lebih mendalami studi atas versi realitas (membawa Hegel ke pekerja) yang otoritarian dan mengalienasi ini sebagai bentuk dari elitisme. Marx membebaskan dirinya dari Hegel dan ini adalah kesalahan untuk mundur kembali.</p>
<p>Cleaver (yang tidak terlalu banyak mengikuti Hegel) juga menunjukkan kegagalan yang sama bagi otomatisasi Marxis, bahkan ketika dia telah berfikir melewati semua itu. Sebagai contoh, ia memuji Kropotkin (Cleaver, 1993) untuk menunjukkan bagaimana aspek masa depan telah muncul, dan menunjukkan bagaimana kekuatan hari ini dapat menjelma di masa mendatang. Berkebalikan dengan itu, Cleaver secara spesifik menolak interpretasi George Woodcock bahwa Kropotkin mengungkapkan berbagai hal kemungkinan yang bisa terjadi. Cleaver juga menolak  analisis apapun yang terkait dengan apa yang seharusnya atau sebaiknya terjadi di masa mendatang. Sebagai gantinya, Kropotkin menurut Cleaver memfokuskan pada indikasi-indikasi hari ini yang dapat dipastikan dan sah dikembangkan dalam anarkisme komunis.</p>
<p>Sungguh menarik bahwa hal ini adalah aspek dari Kropotkin yang dikritik Malatesta. Errico Malatesta, anarkis besar Italia menuliskan dalam “Recollections and Criticisms of an Old Friend&#8221; (1977; pp. 257-268), sebagai sebuah penghormatan atas Kropotkin. “Dua kekeliruan” utama Kropotkin, yang dikritiknya secara khusus adalah “fatalisme mekanistik” dan “optimismenya yang berlebihan”. Malatesta secara tersirat mengungkapkan bahwa kekeliruan ini mengantar Kropotkin menghianati anarkisme atas dukungannya pada Sekutu di PD I (Jerman diduga bertentangan dengan pengembangan kerjasama dan asosiasi bebas dalam negara-negara sekutu). Cleaver tidak menyebutkan ini, hal yang semestinya bagi seorang pengagum Kropotkin.</p>
<p>Otomatisitas mekanik dari Marxis libertarian tidak melalui sebuah konsep partai tapi dalam pemikiran mereka, yakni melalui massa. Mereka percaya diri bahwa pada akhirnya para pekerja akan melakukan hal yang benar. Kaum libertarian menunjukkan sedikit penghargaan atas kesadaran yang bercampur diantara pekerja, yang dipengaruhi gegap gempitanya media massa. Mereka mengingkari kebutuhan untuk mengorganisir dalam rangka melawan kaum konservatif atau sosial demokrat maupun kekuatan Stalinis di dalam kelas pekerja. Sebagai Marxis, para otonomis justru adalah pasif sebelum kekuatan sejarah.</p>
<p>Sama halnya dengan itu, komunis konsil menolak ide bahwa sosialisme dapat berhasil di negara tertindas, karena mereka terlalu miskin dan secara teknologi tertinggal untuk mengembangkan sebuah masyarakat luas yang diperlukan sosialisme (komunisme). Oleh karena itu, komunis konsil menerima kapitalisme (atau kapitalisme negara) sebagai bentuk terbaik dari penindasan sebuah negara yang paling mungkin di era ini. Mereka tidak melihat bhawa negara-negara neo-kolonial adalah bagian dari sistem kapitalisme dan oleh karena itu esensi dari revolusi proletariat adalah revolusi sosialis di seluruh dunia.</p>
<p>Dalam kaitannya dengan penerimaan otomatisitas Marxis, kaum Marxis libertarian sungguh sayang berada dalam posisi lemah, seperti banyak kaum anarkis, bahkan lebih buruk. Terdapat barisan anarkisme yang menuju pembangunan organisasi revolusioner yang dapat berfungsi dalam organisasi massa seperti (tapi bukan hanya) serikat buruh (Malatesta, atau gerakan platformis Makhno). Tapi Marxis libertarian sangat trauma dengan Leninisme dimana mereka menolak segala organisasi revolusioner – membuat hal ini hampir mustahil memahami mengapa mereka mengorganisir, jika mereka mengorganisir. (dan jangan lupa, Catroriadis juga membangun sebuah organisasi dan Socialism or Barbarism juga dibahas dalam tulisan ini).</p>
<p>Meyakini bahwa pekerja pada akhirnya akan membuat segala sesuatunya menjadi baik, para Marxis libertarian justru cenderung menjadi pasif dalam hubungannya dengan isu atas strategi atau organisasi. Contoh paling aneh adalah pernyataan seorang otonomis Italia, Antonio Negri (dan M. Hardt, 2000): “Menolak anggapan umum bahwa para proletariat AS lemah dikarenakan rendahnya perhatian partai dan serikat pekerja terhadap Eropa … mungkin kita seharusnya melihat ini lebih kuat demi tepatnya alasan-alasan tersebut. kekuatan kelas pekerja tidak berada dalam institusi representatif tetapi justru dalam antagonisme dan otonomi pekerja sendiri” (h. 269). Melalui pendapat ini, kemunduran drastis beberapa serikat pekerja di AS, dan keberhasilan para penghancur kekuatan serikat pekerja, telah berhasill membuat pekerja AS lebih kuat. Bilamana semua serikat pekerja dihancurkan, maka pekerja akan lebih kuat dari semuanya! Lalu mengapa para kapitalis terus menerus menekan serikat pekerja?</p>
<p>Kaum komunis konsil memang tepat menolak Lenin dalam hal melawan negara-partai dan mengupayakan sebuah sistem melalui dewan-dewan pekerja. Namun ini tidak membuktikan bahwa mereka benar pada hal lain, seperti misalnya dalam fleksibilitas strategi dan taktik yang diusung Lenin. Mereka juga benar melawan Lenin dalam menolak elektoralisme namun keliru dalam menolak berpartisipasi dalam serikat pekerja. Saya tidak sedang berargumen disini sekarang, namun saya menekankan bahwa tidak ada keterkaitan yang jelas antara masing-masing masalah. Masalah-masalah tersebut perlu dipecahkan secara terpisah-pisah.</p>
<p>Marxis otonomis, sementara itu, sama lemahnya dengan kelemahan anarkisme. Tidak melihat kebutuhan akan organisasi mandiri yang revolusioner. Ini jelas tidak fleksibel secara strategis, terutama dengan menolak bekerja dalam serikat pekerja, organisasi massa utama dalam kelas pekerja. Ini belum bisa melampaui kelemahan kunci dari Marxisme, utamanya pandangan otomatisasi Marxis atas sejarah.</p>
<p>Ada banyak hal dalam Marxisme yang dapat digali oleh kaum anarkis. Di antaranya, Marxisme menunjukkan hubungan antara fungsi kapitalisme dengan pengembangan kapasitas kelas pekerja dalam swa-aktifitasnya, dan mendorong pada penciptaan masyarakat sosialis yang revolusioner. Namun Marxisme, ya Marxisme, bukanlah sekedar kumpulan konsep-konsep yang bisa diambil atau ditinggalkan begitu saja. Ini bermakna sebagai sebuah cara pandang yang total dan menyeluruh atas sebuah kelas baru. Termasuk dalam ekonomi (teori nilai), strategi politik (elektoralisme) , sebuah metode tentang analisis kelas (materialisme historis), serta filsafat alam (materialisme dialektika) – semuanya kecuali pandangan etik dan moral. Kesemuanya berdiri maupun runtuh atas satu hal. Seperti biasanya, Marxisme bukan program dari kelas pekerja, seperti yang dimaksudkan, namun hanya program kelas berkuasa dari negara kapitalis.</p>
<p>Dalam beberapa hal, ini dapat disamakan dengan liberalisme. Banyak hal dari anarkisme diambil dari liberalisme klasik. Para anarkis sepakat dengan gagasan liberal seperti kebebasan berbicara, berserikat, pluralisme, federalisme, demokrasi dan hak menentukan nasib. Namun liberalisme hari ini adalah wajah kiri dari kapitalisme imperialis dan kita bukanlah kaum liberal! Sama halnya dengan sebelumnya, disaat beberapa hal diambil dari Marxisme, maka kaum sosialis yang percaya akan pembebasan akan lebih baik untuk menjadi seorang anarkis.</p>
<p>Brecher, J. (1972). Strike! San Francisco: Straight Arrow(Rolling Stone).<br />
Chomsky, N. (1970). Introduction. In D. Guerin (1970).<br />
Anarchism. NY: Monthly Review Press.<br />
Cleaver, H. (2000). Reading Capital Politically. San Francisco, CA: AK Press.<br />
Cleaver, H. (1993). In T.V. Cahill, ed. Anarchist Studies. Lancaster, UK: Lancaster University (2/24/93).<br />
Curtis, D.A. (1997). (Ed. and trans.). The Castoriadis Reader. Oxford, UK: Blackwell.<br />
Dunayevskya, R. (1992). The Marxist-Humanist Theory of State Capitalism. Chicago: News and Letters.<br />
Glaberman, M. (1999). Marxism for Our Time: C.L.R. James on Revolutionary Organization. Jackson: University Press of Mississippi.<br />
Glaberman, M. &amp; Faber, S. (1998). Working for Wages: The Roots of Insurgency. Dix Hills, NY: General Hall.<br />
Goodman, P. (1962). Drawing the Line: A Pamphlet. NY: Random House. Partially reprinted in P. Goodman (1979) Drawing the Line: The Political Essays of Paul Goodman (T. Stoehr, ed.). NY: E.P. Dutton.<br />
Hardt, M., &amp; Negri, A. (2000). Empire. Cambridge, MA: Harvard University Press.<br />
Malatesta, E. (1984). Errico Malatesta: His Life and Ideas. V. Richards, ed. London: Freedom Press.<br />
Mattick, P. (1969). Marx and Keynes: The Limits of the Mixed Economy. Boston: Porter Sargent. McLemee, S. (1996). (Ed.). C.L.R. James on the &#8220;Negro Question.&#8221; Jackson: University Press of Mississippi.<br />
Rachleff, P. J. (1976). Marxism and Council Communism: The Foundation for Revolutionary Theory for Modern Society. New York: Revisionist Press.<br />
Root and Branch (1975). Root and Branch: The Rise of the Workers&#8217; Movements. Greenwich, CN: Fawcett Publications</p>
<p>Penerjemah : Ipang<br />
Sumber : <a href="http://libcom.org/library/libertarian-marxisms-relation-anarchism" target="_blank">http://libcom.org/</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2008/01/30/hubungan-marxisme-libertarian-dan-anarkisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENUJU GERAKAN MAHASISWA SINDIKALIS, Atau Meninjau Ulang Reforma Universitas</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2008/01/20/menuju-gerakan-mahasiswa-sindikalis-atau-meninjau-ulang-reforma-universitas/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2008/01/20/menuju-gerakan-mahasiswa-sindikalis-atau-meninjau-ulang-reforma-universitas/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jan 2008 06:33:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anarki Sindikalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Kolektif&Organisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/2008/01/20/menuju-gerakan-mahasiswa-sindikalis-atau-meninjau-ulang-reforma-universitas/</guid>
		<description><![CDATA[Selama beberapa tahun terakhir, kita telah melihat berbagai gerakan kampus yang berkembang di seputar isu ‘reforma universitas.’ Sebagian kecil dari gerakan ini mampu memiliki basis massa selama periode yang singkat. Beberapa diantaranya membawa perubahan-perubahan kecil dalam hal peraturan dan regulasi kampus. Namun hampir seluruhnya gagal merubah secara radikal komunitas universitas, atau bahkan untuk sekedar mempertahankan eksistensi mereka sendiri.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Carl Davidson</strong></p>
<p>Selama beberapa tahun terakhir, kita telah melihat berbagai gerakan kampus yang berkembang di seputar isu ‘reforma universitas.’ Sebagian kecil dari gerakan ini mampu memiliki basis massa selama periode yang singkat. Beberapa diantaranya membawa perubahan-perubahan kecil dalam hal peraturan dan regulasi kampus. Namun hampir seluruhnya gagal merubah secara radikal komunitas universitas, atau bahkan untuk sekedar mempertahankan eksistensi mereka sendiri. Apa makna dari fenomena ini? Bagaimana kita menghindari hal serupa di masa mendatang? Mengapa harus repot-repot dengan reforma universitas?</p>
<p><span id="more-125"></span>Merupakan suatu keyakinan diantara para anggota Students for a Democratic Society bahwa semua isu itu saling terkait. Meski demikian, kita seringkali gagal mengaitkannya dengan cara yang sistematis. Apa sebenarnya hubungan antara peraturan jam asrama dengan perang di Vietnam? Apakah ada satu sistem yang bertanggung jawab atas terjadinya kedua hal ini? Kalau ada, bagaimana sifat dari sistem itu? Dan akhirnya, bagaimana sebaiknya kita menyikapinya? Ini adalah pertanyaan-pertanya an yang akan saya coba jawab dengan analisis berikut.</p>
<p>Mengapa reforma universitas?</p>
<p>SDS menamai sistem yang kini ada di negeri ini sebagai ‘liberalisme korporat.’ Dan, kalau kita mau sedikit repot untuk memperhatikan, penetrasinya ke dalam komunitas kampus sungguh mengagumkan. Kalangan elitnya dilatih di akademi-akademi administrasi bisnis kita. Para pembelanya dilatih di sekolah-sekolah hukum kita. Para apologisnya dapat dijumpai di fakultas-fakultas ilmu politik. Akademi-akademi ilmu sosial menghasilkan para manipulatornya. Untuk propagandisnya, sistem ini bertumpu pada sekolah jurnalisme. Ia memastikan pertumbuhannya di masa mendatang lewat akademi-akademi pendidikan. Kalau sebagian dari kita tidak begitu cocok dengan ini semua, maka kita akan dicuci otak dalam divisi-divisi konseling. Dan kita semua mengetahui dengan sangat baik apa yang terjadi di dalam ruang-ruang kelas pengembangan ilmu kemiliteran.</p>
<p>Situasi ini membawa percabangan yang lebih buruk bila kita menyadari bahwa semua fungsionaris ‘bisnis swasta’ ini tengah dilatih dengan mengorbankan kepentingan masyarakat. Perusahaan-perusaha an Amerika tidak begitu kesulitan untuk menaikkan gaji pekerja, terutama ketika mereka bisa mengambilnya kembali dalam bentuk pajak sekolah dan uang kuliah yang dipakai untuk melatih para calon pekerja mereka. Untuk memastikan hal ini, banyak perusahaan memberi beasiswa dan bantuan kepada universitas- universitas. Namun semua bantuan ini hampir selalu mengandung maksud tertentu dari kepentingan mereka sendiri, kalau bukan malah hanya untuk menghindari pajak.</p>
<p>Lebih jauh lagi, kehadiran korporat di kampus dengan sangat aneh mentransformasikan sifat dari komunitas universitas. Contoh paling terang-terangan adalah sistem nilai. Banyak profesor akan sependapat bahwa nilai itu tidak ada gunanya bagi—kalau bukan malah secara positif mengganggu—proses belajar. Namun seluruh komunitas yang telah termanipulasi ini menjawab serentak: “Selain pengambilalihan oleh mahasiswa Universitas Columbia pada tahun 1968, bagaimana lagi perusahaan-perusaha an bisa mengetahui siapa yang layak dipekerjakan (atau untuk siapa Dinas Selektif dirumuskan)?” Dan kita dengan sukaria membelanjakan uang publik untuk mensubsidi usaha-usaha pengujian untuk bisnis swasta.</p>
<p>Yang harus kita lihat dengan jelas adalah hubungan antara universitas dan masyarakat liberal korporat secara luas. Kebanyakan dari kita merasa marah ketika para administrator universitas kita ataupun antek-anteknya berupa Senat Mahasiswa dan BEM menyamakan universitas dan akademi kita dengan perusahaan. Dengan pahit kita menanggapinya dengan pembicaraan tentang ‘komunitas cendikiawan.’ Akan tetapi, kenyataannya mereka itu benar. Lembaga-lembaga pendidikan kita adalah perusahaan dan pabrik pengetahuan. Yang kemarin gagal kita lihat ialah betapa vitalnya pabrik-pabrik ini bagi negara liberal korporat.</p>
<p>Apa yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik ini? Apa saja komoditasnya? Jawaban paling jelas adalah ‘pengetahuan.’ Pabrik-pabrik kita ini menghasilkan keahlian yang memungkinkan negara korporat untuk berkembang, tumbuh dan mengeksploitasi masyarakat secara lebih efisien dan lebih luas, baik di negeri kita sendiri maupun di dunia ketiga. Tetapi pengetahuan barangkali terlalu abstrak untuk dipandang sebagai sebuah komoditas. Konkretnya, komoditas pabrik-pabrik kita adalah hal-hal yang berpengetahuan. Para pejabat AID (<em>Agency for International Development / Agensi Pembangunan Internasional</em>) , orang-orang Korps Perdamaian, petugas-petugas militer, para pejabat CIA, hakim-hakim segregasionis, pengacara perusahaan, segala macam politisi, pekerja kesejahteraan, manajer industri, birokrat buruh (dan masih banyak lagi yang dapat saya sebutkan): Dari mana mereka berasal? Mereka adalah produk dari pabrik-pabrik tempat kita tinggal dan bekerja.</p>
<p>Di jurusan-jurusan perakitan di universitas- universitas kitalah mereka dicetak menjadi apa adanya mereka sekarang. Sebagai bagian integral dari sistem pabrik pengetahuan, kita adalah sekaligus penghisap dan yang terhisap. Sebagai sekaligus pengelola dan yang dikelola, kita menghasilkan dan menjadi produk paling vital dari liberalisme korporat: manusia birokratik. Singkat kata, kita adalah semacam pekerja-pengkhianat baru.</p>
<p>Tapi mari kita kembali ke pertanyaan kita semula. Apa hubungan antara peraturan asrama dengan perang di Vietnam? Kasarnya, keduanya merupakan aspek-aspek dari liberalisme korporat, sebuah sistem yang tidak manusiawi dan menindas. Tapi mari lebih kita spesifikasi lagi. Siapakah para penindas dan orang-orang yang melakukan dehumanisasi itu? Singkatnya, mereka adalah para alumnus kita di masa lalu, masa kini dan masa mendatang: produk jadi dari pabrik-pabrik pengetahuan kita.</p>
<p>Bagaimana mereka menjadi seperti sekarang ini? Mereka dibentuk berdasarkan sebuah jalur perakitan yang dimulai dengan anak-anak saat mereka masuk SLTP, dan berakhir saat mereka menjadi birokrat yunior yang mengenakan jubah pelantikan. Dan aturan-aturan serta regulasi <em>in loco parentis</em> merupakan alat yang esensial bersama dengan seluruh jalur perakitan tersebut. Tanpa itu, akan sulit kiranya untuk menghasilkan jenis manusia-manusia yang bisa menciptakan, menyokong, mentolerir, ataupun mengabaikan situasi-situasi seperti Watts, Missisipi dan Vietnam.</p>
<p>Akhirnya, barangkali kita akan bisa melihat hubungan vital antara pabrik-pabrik kita dengan kondisi-kondisi liberalisme korporat sekarang ini bila kita bertanya kepada diri kita sendiri, apa yang akan terjadi jika militer mendapati dirinya tanpa ada mahasiswa ROTC, CIA tidak mendapat rekrutan baru, departemen-departem en kesejahteraan yang paternalistik kehilangan pekerja sosialnya, atau Partai Demokrat kehilangan generasi muda apologis liberal dan para juru kampanyenya? Singkat kata, apa yang akan terjadi pada sebuah masyarakat yang manipulatif jika sarana-sarana yang digunakan untuk menciptakan orang-orang yang bisa dimanipulasi itu sudah tak lagi berlaku (sudah lenyap)?</p>
<p>Jawabannya ialah, bahwa pada saat itu mungkin kita akan punya kesempatan untuk melawan dan merubah sistem itu. Sebagian besar dari kita pernah terlibat dalam gerakan-gerakan reforma universitas dari satu jenis atau lainnya. Pada sebagian besarnya, upaya-upaya kita baru menelurkan sangat sedikit hasil. Gerakan Bebas Berpendapat menyala cukup singkat, lalu padam. Pernah ada beberapa lusin komite ad hoc untuk penghapusan aturan ini atau aturan itu. Beberapa dari komite-komite ini sukses, lalu bubar. Sebagian lainnya malah tak pernah bisa berkembang.</p>
<p>Meski begitu, sekurangnya kita telah sedikit berpengaruh. Ketidakpuasan itu ada. Meski apatisme cukup luas dan berakar mendalam, bahkan orang-orang apatis itu berkali-kali mengomel. Para administrator kita kini khawatir. Mereka mengamati kita dengan seksama, mengadakan seminar-seminar tentang Paul Goodman untuk para stafnya, dan mempelajari literatur kita dengan lebih teliti daripada kita sendiri. Mereka menangani ledakan emosi kita dengan sangat hati-hati, mencoba semampu mereka untuk tidak memberi kita peluang mendapatkan isu.</p>
<p>Kita punya satu lagi faktor yang menguntungkan: kita telah melakukan banyak kesalahan, hal mana dapat kita tarik pelajaran darinya. Saya akan mencoba menyebutkannya satu per satu dan menganalisis beberapa diantaranya.</p>
<p>1.) Membentuk kelompok-kelompok yang fokus pada satu isu. Contoh utama disini adalah mengorganisir sebuah komite untuk menghapuskan peraturan jam asrama bagi mahasiswa perempuan diatas usia 21 tahun. Taktik ini punya dua kesalahan. Pertama, sejauh relevansi dipertimbangkan, ini adalah isu yang hanya dirasakan oleh kurang dari 10 persen rata-rata mahasiswa di kampus. Karena itu, nyaris mustahil kiranya untuk memobilisasi sejumlah besar mahasiswa di seputar isu ini dalam rentang waktu tertentu. Kritik yang sama berlaku untuk serikat mahasiswa pekerja (hanya ada ratusan mahasiswa yang bekerja untuk universitas) , peraturan tentang pakaian (hanya kaum hippies yang merasa terganggu), ataupun diskriminasi dalam hal tempat tinggal di luar kampus (banyak mahasiswa kulit hitam yang terlalu borjuis untuk peduli). Kesalahan kedua ialah bahwa sebagian besar dari isu-isu ini dapat diakomodir oleh pihak administrasi. Setelah berbulan-bulan kita melakukan pertemuan-pertemuan , ceramah dan agitasi, petugas disiplin mahasiswa perempuan merubah peraturan itu, sehingga perempuan diatas 21 tahun, dengan izin orang tua dan nilai rata-rata yang cukup tinggi, bisa mengajukan permohonan, kalau dia mau, untuk memegang kunci asramanya sendiri. Masalah besar. Pada tahap ini, organisasi kecil yang bekerja untuk mengangkat isu ini biasanya langsung tenggelam.<br />
2.) Mengorganisir di seputar isu-isu kosong. Para mahasiswa sering mencoba menghapuskan aturan-aturan yang sebenarnya juga tidak ditegakkan. Hampir setiap sekolah punya aturan yang melarang perempuan mengunjungi apartemen laki-laki. Namun aturan ini jarang sekali ditegakkan, kendatipun dilanggar secara terbuka. Karena kebanyakan mahasiswa tidak terbatasi oleh aturan tersebut, biasanya mereka tidak mau berjuang untuk merubahnya. Seringkali malah mereka akan bereaksi negatif, karena merasa bahwa jika isu itu diangkat, pihak admisnistrasi justru akan menegakkannya.<br />
3.) Takut menjadi radikal. Dari waktu ke waktu, kita melembekkan tuntutan-tuntutan kita, dan mengkompromikan diri bahkan sebelum kita memulainya. Dalam rapat-rapat kita, kita berdebat tentang sikap pihak administrasi terhadap kita sebelum mereka benar-benar bersikap seperti itu, bahkan kita membayangkannya secara lebih dahsyat. Kita membiarkan diri kita terintimidasi oleh kata ”bertanggung jawab”. (Sudah berapa kali kita merubah sebuah “Deklarasi Hak-hak Mahasiswa” menjadi “Resolusi tentang Hak dan Tanggung jawab Mahasiswa” yang lembek?) Kita menghabiskan lebih banyak energi untuk meyakinkan para dekan kita bahwa kita tidak menghendaki lahirnya “semacam Berkeley lagi” ketimbang mencoba berbicara kepada para mahasiswa tentang persoalan-persoalan riil.<br />
4.) Bekerja melalui saluran-saluran yang telah ada. Frasa ini sesungguhnya berarti, “Mari kita menangguhkan semuanya sampai akhir tahun.” Kalau kita mendengarkannya, maka kita cukup melakukannya satu kali saja dan sedemikian rupa untuk menunjukkan kepada setiap orang bahwa ini hanya buang-buang waktu.<br />
5.) Menunggu dukungan dari fakultas. Ini sama saja seperti meminta kaum Negro di Selatan untuk menunggu dukungan dari kaum moderat kulit putih. Kita sering gagal menyadari bahwa fakultas itu lebih tak berdaya daripada kita: mereka masih harus memikirkan kesejahteraan keluarganya.<br />
6.) Persoalan legalitas. Kita menghabiskan waktu berjam-jam berdebat diantara kita sendiri mengenai apakah universitas bisa secara legal menghapuskan in loco parentis. Bisa saja kalau mereka mau, atau kalau mereka terpaksa harus menghapuskannya. Lagipula, misalkan itu illegal, apakah kemudian kita harus berhenti, lalu memunguti kelereng kita dan pulang ke rumah?<br />
7.) Mengisolasi diri kita. Dari waktu ke waktu, kita kembali jatuh ke dalam perangkap untuk mencoba mengorganisir orang-orang independen di seputar ”perpecahan antara kubu Greek dan kubu Independen”. Ini seharusnya dipandang sebagai skenario administrasi untuk memecah-belah dan menguasai. Di sisi lain, kita seharusnya tidak membuang-buang waktu untuk berusaha memenangkan dukungan kubu Greek ataupun “pimpinan kampus.” Mereka tidak lagi memiliki kekuasaan riil yang lebih besar daripada siapapun lainnya. Juga, anggota SDS seringkali memandang dirinya sebagai kantong-kantong intelektual di kampus, padahal seharusnya mereka melihat dirinya sebagai komite pengorganisir untuk kampus secara keseluruhan. Bukannya meluangkan waktu untuk berada di serikat mahasiswa guna membangun obrolan dengan yang lain, kita malah mundur kembali ke “tongkrongan hippies” kita.<br />
8.) Membentuk Universitas- universitas Bebas. Tindakan ini bisa jadi bagus, tergantung bagaimana ia diorganisir. Tapi kita menghadapi risiko bisa terjebak menjadi seperti kaum sosialis utopis yang menarik diri dari perjuangan pekerja di fase-fase awal. Kita bisa merasa terbebaskan di Universitas- universitas Bebas kita; namun, sementara itu, universitas “tidak bebas” yang kita tinggalkan terus-menerus menghasilkan kaum liberal korporat. Kenyataannya, keadaan menjadi lebih mudah bagi mereka karena kita tidak ada di sekitar sana untuk membuat masalah.<br />
9.) Bekerja di dalam badan pemerintahan mahasiswa (Senat dan BEM). Kita hendaknya melakukan ini dengan—dan semata hanya—satu alasan: untuk menghapuskan badan pemerintahan mahasiswa. Kini kita seharusnya sudah menarik pelajaran bahwa Senat dan BEM tidak punya kekuasaan dan, dalam banyak hal, administrasi telah mengorganisir mereka sedemikian rupa sehingga mustahil bagi kita untuk memanfaatkan organ tersebut guna mendapatkan kekuatan kendali. (Dalam sedikit kasus, bisa saja mungkin bagi kita untuk mengambil alih Senat/BEM dan mengancam akan menghapuskannya jika kendali-oleh- mahasiswa tidak dipenuhi). Dari kritik-kritik terhadap kesalahan-kesalahan kita selama beberapa tahun terakhir ini, saya fikir arah kemana kita hendak bergerak kini menjadi lebih jelas. Juga, bila kita pertimbangkan fakta bahwa universitas- universitas kita telah menjadi agen utama bagi perubahan sosial dalam arah 1984, saya kira kita dapat mengerti mengapa kita harus mengorganisir kampus-kampus. (Saya tidak bermaksud menyiratkan bahwa kita harus mengabaikan pengorganisiran di sektor-sektor lain.)</p>
<p>Menuju Sindikalisme Mahasiswa</p>
<p>Dalam analisis sebelumnya tentang universitas (yang tentu saja bukan orisinal pemikiran saya), kita dapat menemukan suatu antagonisme implisit, atau, kalau anda lebih ingin mengatakannya begini, suatu kontradiksi fundamental. Yakni, para administrator akan meminta kita untuk sekaligus berpartisipasi dan tidak berpartisipasi dalam sistem pendidikan kita. Dikatakan kepada kita bahwa kita harus membuat keputusan-keputusan yang bertanggung jawab, namun kita tidak diperkenankan untuk membuat keputusan-keputusan yang sebenarnya. Kita diberitahu bahwa pendidikan adalah suatu proses yang aktif, namun kita dilatih secara pasif. Kita dikritik sekaligus untuk apatisme dan aktivisme kita. Atas nama kebebasan, kita dilatih untuk patuh.</p>
<p>Sistem ini mensyaratkan agar kita secara pasif menyetujui untuk dimanipulasi. Namun visi kita adalah partisipasi yang aktif. Dan ini adalah tuntutan yang tidak dapat dipenuhi oleh para administrator kita tanpa memposisikan diri mereka hingga kehilangan pekerjaan. Itulah sebabnya mengapa kita justru harus mengajukan tuntutan ini.</p>
<p>Apa yang harus dilakukan?</p>
<p>Jelas kita perlu mengorganisir untuk membangun, di kampus-kampus, sebuah gerakan yang tujuan utamanya adalah mentransformasikan komunitas universitas secara radikal. Terlalu sering kita kehilangan kemampuan untuk melihat tujuan ini. Untuk setiap program, setiap tindakan, setiap sikap dan setiap tuntutan, kita harus mengajukan pertanyaan: Bagaimana hal ini dapat secara radikal merubah kehidupan setiap mahasiswa di kampus ini? Dengan mempertimbangkan hal ini, saya menawarkan usulan-usulan tindakan sebagai berikut:</p>
<p>1.) Setiap cabang SDS mengorganisir sebuah gerakan mahasiswa sindikalis di kampusnya masing-masing. Saya menggunakan istilah “sindikalis” untuk sebuah alasan yang krusial. Dalam perjuangan pekerja, serikat-serikat sindikalis berjuang lebih untuk mencapai demokrasi industrial dan kendali oleh pekerja ketimbang untuk perbaikan upah dan kondisi kerja. Serupa dengan itu, dan saya tidak mau terlalu sering mengulang menyebut ini, isu bagi kita adalah kendali oleh mahasiswa (serta yang masih harus diwujudkan, fakultas yang terbebaskan di beberapa wilayah). Yang tidak kita inginkan adalah gerakan mahasiswa yang bertipe serikat-perusahaan yang melihat dirinya sebagai sebuah badan yang, berdasarkan prosedur “liberalisasi,” membantu sebuah administrasi yang paternal untuk membuat aturan-aturan yang lebih baik bagi kita. Yang kita inginkan adalah sebuah serikat mahasiswa dimana para mahasiswa sendirilah yang memutuskan aturan macam apa yang mereka inginkan atau tidak inginkan. Atau apakah mereka memerlukan/tidak memerlukan aturan sama sekali. Hanya organisasi semacam inilah yang memungkinkan adanya desentralisasi dan partisipasi langsung mahasiswa dalam semua keputusan yang mempengaruhi kehidupan mereka sehari-hari.<br />
2.) Agar gerakan sindikalis mahasiswa mengambil bentuk berupa dua struktur yang mungkin: sebuah Partai Demokratik Kebebasan Kampus atau sebuah Serikat Mahasiswa Bebas.</p>
<p>a.) Partai Demokratik Kebebasan Kampus (Campus Freedom Democratic Party/CFDP). Ini mungkin di kampus-kampus dimana senat mahasiswa/BEM yang ada sekurangnya secara formal demokratik (yakni, satu mahasiswa satu suara). Idenya adalah mengorganisir sebuah kampanye elektoral untuk putaran satu tahun dengan tujuan untuk mendidik mahasiswa mengenai sistem mereka; membangun keanggotaan massal di asrama dan halaman-halaman tempat mahasiswa tinggal dan beraktivitas; terus-menerus mengejek dan mengganggu rapat-rapat Senat/BEM (misalnya, muncul serentak di sebuah pertemuan dan menyanyikan jingle yang kini sudah jarang terdengar, ”Mickey Mouse Club”); dan pada akhirnya, memenangkan mayoritas kursi dalam pemilihan Senat/BEM. Selama CFDP hanya mendapat kursi yang minoritas, kursi tersebut hendaknya digunakan untuk mengekspos badan yang ada sebagai parodi terhadap ide tentang pemerintahan. Harus diingat bahwa tujuan dari aktivitas ini adalah untuk membangun suatu kesadaran radikal diantara semua mahasiswa dalam perjuangan yang akan berlangsung berhadapan dengan administrasi.</p>
<p>Apa yang akan terjadi jika sebuah CFDP memenangkan mayoritas kursi? Ia harus segera mendesakkan serangkaian tuntutan (yang sifatnya akan saya bahas nanti) dalam bentuk RUU tentang Hak-hak atau Deklarasi Independensi, atau keduanya. Resolusi semacam ini hendaknya mengindikasikan suatu tenggat waktu kepada pihak administrasi (atau pengawas, atau apapun namanya) untuk menanggapi. Apabila tuntutan dipenuhi, mahasiswa harus langsung merayakan kemenangan revolusi. Kalau tidak dipenuhi, maka CFDP harus langsung membubarkan Senat/BEM, atau membentuk sebuah Senat/BEM di pengasingan. Kedua, CFDP hendaknya segera memulai demonstrasi- demonstrasi massa: melakukan aksi menduduki gedung-gedung administrasi, tempat parkir fakultas, ruang-ruang perawatan/pemelihar aan, dan lainnya; memboikot semua kelas perkuliahan; dan mogok dari kegiatan menjadi asisten pengajar. Singkat kata, keberhasilan aksi-aksi ini (terutama ketika polisi datang) akan menjadi ujian mengenai seberapa maksimal CFDP telah meradikalisasi konstituennya selama dua atau tiga tahun terakhir.</p>
<p>b.) Serikat Mahasiswa Bebas (Free Student Union/FSU). Perbedaan antara FSU dan CFDP terutama terletak pada taktiknya. Di banyak kampus, Senat/BEM bahkan tidak demokratis secara formal; malah, mereka dibentuk hanya dengan pers kampus punya satu suara, dewan interfraternity satu suara, dan seterusnya. Dalam situasi seperti ini, kita harus mengabaikan atau mengecam politik kampus atau politik elektoral dari kata ‘oke, ayo’, dan, dengan mengikuti strategi para Wobblies, mengorganisir satu serikat besar dari seluruh mahasiswa. Tujuan pertama dari FSU adalah membangun sebuah lembaga yang merupakan tandingan atas Senat/BEM, yang pada akhirnya akan merangkul mayoritas yang sehat dari badan mahasiswa tersebut. Serikat ini harus mendorong agar para mahasiswa tidak berpartisipasi dalam Senat/BEM, dan agar terlibat dalam agitasi yang aktif, non-elektoral, dan dilakukan dengan praktek langsung. Ini akan mengambil langkah berupa mengorganisir dan mendukung pelanggaran terhadap aturan-aturan yang ada. Pelanggaran- pelanggaran ini dapat mencakup tidur diluar asrama dan mengadakan pesta-pesta “kebebasan” di apartemen-apartemen terbatas, dengan tanpa kekerasan mengambil alih gedung tempat menyimpan mesin-mesin IBM yang digunakan untuk menentukan nilai ujian, mengkampanyekan untuk merusak kartu-kartu IBM, menganggu kelas-kelas perkuliahan yang dihadiri sangat banyak mahasiswa, mengambil-alih, dan dengan tanpa kekerasan berusaha menduduki dan membebaskan pers dan stasiun radio kampus. Semua ini hendaknya dilakukan dengan cara sedemikian rupa sehingga bisa meraih makin dan makin banyak dukungan. Begitu FSU mendapat lebih banyak dukungan daripada yang didapat Senat/BEM, ia harus mendeklarasikan bahwa Senat/BEM tak lagi berlaku, mengajukan tuntutan-tuntutan mengenai administrasi, dan, jika ditolak, mendeklarasikan pemogokan umum.</p>
<p>Jelasnya, keberhasilan entah CFDP atau FSU tergantung pada kemampuan kita untuk mengorganisir suatu basis massa radikal yang memiliki kapasistas untuk perlawanan, dedikasi dan daya tahan yang berjangka panjang. Dengan mengingat kebutuhan akan hal-hal ini, orang dapat dengan mudah melihat mengapa sebuah gerakan mahasiswa sindikalis harus bersifat nasional (atau bahkan internasional) dalam lingkupnya. Akan ada kebutuhan untuk adanya pengorganisir- pengorganisir fulltime yang berkemampuan jelajah tinggi untuk bepergian dari kampus ke kampus. Ketika meletus konfrontasi- konfrontasi kritis, akan dibutuhkan demonstrasi solidaritas dan pemogokan di kampus-kampus lain. Bahkan mungkin akan muncul kebutuhan untuk mengirim bus-bus bermuatan mahasiswa ke sebuah kampus dimana, karena terjadi penangkapan- penangkapan massal, dibutuhkan tenaga-tenaga pengganti. Kembali, kita bisa belajar banyak dari taktik-taktik pengorganisiran Wobblies dan CIO.</p>
<p>3.) Agar gerakan mahasiswa sindikalis mengadopsi penghapusan sistem nilai sebagai isu pokok dan sentralnya. Ini bukan bermaksud mengatakan bahwa isu-isu lain, seperti kekuasaan untuk pengambilan keputusan di dalam Senat/BEM, tidak penting. Isu-isu itu bukan tidak penting; dan dalam situasi-situasi tertentu, isu tersebut bisa jadi sangat penting. Tapi, saya pikir, penghapusan sistem nilai adalah isu yang paling signifikan untuk membangun sebuah gerakan radikal di kampus. Ada tiga alasan mengapa saya berpikir demikian:</p>
<p>c.) Sistem nilai merupakan suatu kondisi umum dari keseluruhan mahasiswa dan komunitas fakultas. Ia adalah penyebab langsung dari sebagian besar kecemasan dan frustrasi mahasiswa. Juga, ia merupakan penyebab alienasi kebanyakan anggota fakultas dari kerjanya. Di kalangan para pendidik kita yang lebih baik dan di hampir semua fakultas, ada suatu konsensus bahwa nilai itu, paling banter, tidak ada artinya, dan kemungkinan besar malah bersifat merusak bagi pendidikan yang sesungguhnya.<br />
d.) Sebagai sebuah isu yang dapat diangkat untuk melakukan pengorganisiran, kehadiran sistem nilai selalu dirasakan. Ujian pada jam pelajaran, ujian tengah semester dan ujian akhir semester selalu muncul seperti tak diharapkan (sedangkan pemilihan pengurus Senat/BEM berlangsung hanya sekali dalam setahun). Setiap kali kita melihat kawan-kawan kita sesama mahasiswa sibuk mempersiapkan diri untuk ujian (sebenarnya, untuk nilai), kita dapat menunjukan kepada mereka bahwa mereka sedang dieksploitasi, dan berusaha mengorganisir mereka. Dalam setiap kelas pelajaran yang kita ambil, sepanjang tahun ajaran, setiap kali dosen kita menilai makalah dan ujian kita, kita bisa melakukan agitasi di ruang-ruang kelas, mengekspos tentang sistem nilai dan mendorong baik kawan-kawan sekelas kita maupun para pengajar agar bergabung dengan kita untuk menghapuskan sistem tersebut.<br />
e.) Penghapusan sistem nilai adalah tuntutan yang tidak bisa dipenuhi oleh pihak administrasi tanpa secara radikal merubah bentuk dan tujuan sistem pendidikan kita. Pertama-tama, jika tidak ada sistem nilai, suatu bagian yang signifikan dari para administrator kita akan kehilangan pekerjaan karena tidak ada lagi yang bisa mereka kerjakan. Juga, banyak kelas pelajaran yang diproduksi dalam bentuk program televisi dan semacamnya tidak lagi diperlukan. Karena pendidikan nantinya akan berlangsung melalui kontak personal antara mahasiswa dan dosennya, maka kelas-kelas akan dibatasi jumlah pesertanya. Karena evaluasi terhadap karya mahasiswa tak lagi harus diatur dan distandarisasi secara temporal, maka kecendikiaan (kesarjanaan) independen akan didorong, malah mungkin niscaya dibutuhkan. Akibatnya, negara korporat akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan birokrat-birokrat yunior yang mudah dimanipulasi (dikontrol). Akhirnya, Dinas Selektif akan perlu waktu yang sangat panjang (akan sangat kerepotan) untuk menseleksi kita berdasarkan peringkat.</p>
<p>Dengan alasan-alasan ini, menurut saya penghapusan sistem nilai hendaknya berfungsi sebagai isu ”payung” bagi sebuah gerakan mahasiswa sindikalis, cukup serupa halnya dengan fungsi penghapusan sistem upah bagi gerakan serikat pekerja sindikalis. Di bawah payung ini, banyak isu lain bisa diangkat, tergantung segmen mana dari komunitas mahasiswa yang akan kita ajak, dan tergantung seberapa besar kekuatan yang kita punya pada suatu waktu tertentu.</p>
<p>4.) Agar gerakan mahasiswa sindikalis memasukkan ideologi demokrasi partisipatoris ke dalam isu-isu sekunder. Ini bisa dipandang sebagai upaya kita untuk mensabotase mesin-mesin pabrik pengetahuan yang menghasilkan para pengatur (manajer) dan yang diatur (yang dimanajeri) seperti digambarkan dalam novel tulisan George Orwell,1984. Ada banyak cara untuk melakukannya. Saya akan menyusun daftar beberapa diantaranya:</p>
<p>a.) Mendekati mahasiswa di akademi-akademi keguruan dengan membawa sebuah kurikulum tandingan yang didasari ide-ide Paul Goodman dan AS Neil mengenai pendidikan radikal untuk anak-anak.<br />
b.) Di awal setiap semester, mengajukan permintaan (atau tuntutan) kepada para dosen agar kamu dan kawan-kawan sekelasmu bisa berpartisipasi dalam membentuk struktur, format dan muatan dari pelajaran tertentu.<br />
c.) Mendaftar, menghadiri, mengecam, dan kemudian melakukan aksi meninggalkan (memboikot) kelas-kelas pelajaran yang sangat padat.<br />
d.) Mengorganisir para mahasiswa dan anggota fakultas lainnya yang terbebaskan di jurusan-jurusan tertentu untuk menyusun sebuah model kurikulum tandingan, kemudian mengagitasikannya agar dipakai, terutama lebih karena mahasiswa ikut serta membuatnya, ketimbang dikarenakan keutamaan/kegunaann ya.<br />
e.) Adakanlah persidangan olok-olok yang mengadili wali (ketua senior) mahasiswa laki-laki dan wali mahasiswa perempuan atas ‘kejahatannya terhadap kemanusiaan.’<br />
f.) Dalam kasus mahasiswa perempuan, mengorganisir sebuah federasi desentralis dewan-dewan asrama (soviet?), dimana setiap unit tempat tinggal akan merumuskan seperangkat aturan dan regulasi tandingan; kemudian menggunakannya untuk menggantikan aturan-aturan yang ada, dengan pijakan bahwa para perempuan sendirilah yang membuat aturan tersebut.</p>
<p>Saya yakin bahwa kalau kita menggunakan imajinasi kita, maka kita akan bisa memperluas daftar ini hingga tak terbatas. Dan karena menyertakan filsafat demokrasi partisipatoris di dalamnya, maka saya pikir usulan langkah-langkah ini bernilai intrinsik (esensial). Dan saya juga yakin bahwa langkah-langkah tersebut dapat membawa pengaruh yang menjangkau jauh, karena demokrasi partisipatoris itu seringkali seperti penyakit yang kronis dan menular. Begitu terkena, ia akan menjalari keseluruhan hidup si orang itu serta hidup orang-orang lain di sekitarnya. Efeknya sangat mengacau-balaukan dan bersifat total. Dan dalam sebuah sistem yang manipulatif serta birokratis, artikulasi dan ekspresinya setara dengan sabotase. Merupakan harapan saya kiranya bahwa orang-orang yang terpapar pada ide ini selama masa mereka membangun sebuah gerakan sindikalisme mahasiswa, hidupnya tidak akan sama lagi seperti sebelumnya, terutama setelah mereka meninggalkan komunitas universitas.<br />
***<br />
Makalah tentang sikap yang disampaikan pada konvensi SDS, Agustus 1966.</p>
<p><strong>Translated by: Vetuyara Krishna</strong></p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2008/01/20/menuju-gerakan-mahasiswa-sindikalis-atau-meninjau-ulang-reforma-universitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agnes Inglis, Pustakawan Anarkis</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2007/06/26/agnes-inglis-pustakawan-anarkis/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2007/06/26/agnes-inglis-pustakawan-anarkis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jun 2007 12:48:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/v2/2007/06/26/agnes-inglis-pustakawan-anarkis/</guid>
		<description><![CDATA[Agnes Inglis (1870–1952) tak pernah berencana akan berkarir sebagai pustakawan. Pada umur 52 tahun di tahun 1924, dan setelah kerja kerasnya dalam kasus-kasus imigran radikal yang menghadapi pengejaran dan deportasi setelah Perang Dunia I, Inglis mengunjungi perpustakaan Universitas Michigan untuk mencari keterangan mengenai koleksi buku, jurnal, dokumen, kliping, dan berkas catatatan yang didonasikan kawannya Joseph Labadie di tahun 1911]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh Julie Herrada and Tom Hyry Diterbitkan di Progressive Librarian</p>
<p>Terjemah: Yerry Nikholas</p>
<p>Agnes Inglis (1870–1952) tak pernah berencana akan berkarir sebagai pustakawan. Pada umur 52 tahun di tahun 1924, dan setelah kerja kerasnya dalam kasus-kasus imigran radikal yang menghadapi pengejaran dan deportasi setelah Perang Dunia I, Inglis mengunjungi perpustakaan Universitas Michigan untuk mencari keterangan mengenai koleksi buku, jurnal, dokumen, kliping, dan berkas catatatan yang didonasikan kawannya Joseph Labadie di tahun 1911. &#8220;Jo&#8221; Labadie(1) merupakan seorang pemimpin buruh, reformis sosial dan anarkis individualis yang yang telah menghimpun sedemikian banyak bahan-bahan yang mendokumentasikan berbagai peristiwa dan pergerakan dimana ia terlah berpartisipasi selama lebih dari empat puluh tahun karirnya. Inglis menemukan koleksi asli Labadie dalam kondisi yang sama ketika mereka didonasikan: &#8220;dalam keadaan baik …meski belum dijilid.&#8221; (Inglis 1924). Dia memutuskan menyediakan sedikit waktu secara sukarela dalam perpustakaan untuk membongkar dan mensortir bahan-bahan tersebut. Waktu yang pendek itu berubah menjadi pelayanan tanpa gaji dan termasyur selama 28 tahun. Selama masa itu dia tak hanya menata sejumlah besar koleksi, namun meningkatkannya sehingga dua puluh kali lipat dari jumlah awal. Dia memolesnya menjadi bahan yang mudah dan dapat dinikmati hingga sekarang. Koleksi itu bahkan dihargai di antara perpustakaan lain yang mendokumentasikan sejarah dan filosofi anarkisme dan gerakan sosial dan politik yang lain. Kehidupan Inglis sebagai seorang anarkis dan pustakawan memberi contoh yang sangat baik mengenai persinggungan antara cita-cita politik dan kepustakwanan.</p>
<p><span id="more-122"></span>Dilahirkan sebagai anak termuda sebuah keluarga mapan di Detroit tahun 1872, Agnes menghabiskan kebanyakan masa-masa tiga dekade awal kehidupan dalam rumah keluarganya yang relijius, konservatif, dan terlindungi dengan baik. Ayahnya seorang fisikawan terkemuka meninggal saat dia berumur empat tahun. Kecuali setahun yang dihabiskannya di akademi perempuan yang ekslusif di Massachusetts, Inglis menghabiskan masa remajanya merawat saudara perempuannya yang sakit kanker, dan menganti ibunya yang meninggal sebelum Agnes berusia tiga puluhan. Dengan tanpa kewajiban keluarga dan pemasukan keuangan yang cukup besar, Agnes meninggalkan rumah untuk pergi dan kuliah di Universitas Michigan dimana dia belajar sejarah dan sastra.</p>
<p>Inglis meninggalkan sekolah sebelum memperoleh gelar dan menghabiskan beberapa tahun lama sebagai pekerja sosial di Hull House, Chicago, Franklin Street Settlement House di Detroit, dan Ann Arbor YWCA. Sementara bekerja dalam situasi ini, dia memperoleh pengetahuan mendalam mengenai kondisi kerja dan kehidupan yang tidak adil yang diderita kelas pekerja imigran baik perempuan maupun laki-laki. Dia juga semakin skepatis terhadap keefektifan kebijakan kaum liberal policies dan program-program yang disain untuk mengubah kehidupan kaum pekerja dan sesudah itu mulai mempertanyakan kondisi sosial, ekonomi, dan politik di Amerika Serikat.</p>
<p>Di saat yang sama, Inglis meneruskan studinya secara informal. Setelah banyak membaca dia terutama tertarik dan teryakinkan oleh penulis-penulis revolusioner. Dia menghadiri banyak ceramah oleh berbagai pengkritik sosial, di Ann Arbor dan kota Detroit. Banyak dari pembicara merupakan anarkis. Dia bertemu Emma Goldman tahun 1915 dan menjadi sahabat Emma. Melalui Emma, dia juga bertemu Alexander Berkman, kekasih dan kawan lama Goldman. Inglis mengorganisir ceramah anarkis di tenggara Michigan, memulai hubungan baik dan persahabatan dengan banyak kaum radikal setempat. Dia juga bergabung dalam Industrial Workers of the World cabang Detroit. Sebagai tambahan aktivitasnya, Inglis menggunakan sarana keuangan yang dimilikinya dengan murah hati untuk membantu upaya kaum radikal. Bantuannya mulai dari pendanaan pemogokan hingga membayar uang tebusan bagi mereka yang di penjara karena menyatakan pandangan politik yang kurang lazim.</p>
<p>materi diperoleh dari situs www.spunk.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2007/06/26/agnes-inglis-pustakawan-anarkis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anarkisme Sosial</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2007/05/17/anarkisme-sosial/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2007/05/17/anarkisme-sosial/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2007 11:08:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anarkisme]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/v2/2007/05/17/anarkisme-sosial/</guid>
		<description><![CDATA[Anarkis dan Anarkisme telah disalahpahami sepanjang sejarah hampir di seluruh dunia yang mengenal istilah ini. Kesan umum atas anarkis sebagai seorang dengan emosi yang tidak terkontrol, yang melakukan kekerasan hanya tertarik menghancurkan karena ketertarikannya semata, dan orang yang menentang semua bentuk organisasi, masih saja bertahan hingga hari ini. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh:  Zoro Sastrowardoyo</strong></p>
<p>Anarkis dan Anarkisme telah disalahpahami sepanjang sejarah hampir di seluruh dunia yang mengenal istilah ini. Kesan umum atas anarkis sebagai seorang dengan emosi yang tidak terkontrol, yang melakukan kekerasan hanya tertarik menghancurkan karena ketertarikannya semata, dan orang yang menentang semua bentuk organisasi, masih saja bertahan hingga hari ini. Lebih lanjut, kekeliruan kepercayaan bahwa anarki adalah kekacauan dan kebingungan, perkosaan, pembunuhan dan ketidakteraturan serta kegilaan sepenuhnya tanpa-akal secara luas, masih dipercaya oleh masyarakat awam pada umumnya. Sehingga sulit kiranya memulai diskusi tentang anarki, anarkisme, dan aktivisme politik tanpa menerangkan dahulu batasan anarkisme. Tulisan ini bertujuan menjelaskan apa dan bagaimana anarkisme dan beragam teori dan praktik anarkisme.</p>
<p><span id="more-121"></span> Ada beragam teori Anarkisme dengan beragam titik kesamaan dan juga ketidaksepakatannya. Wilayah utama perdebatan antaranarkis berkaitan dengan bentuk organisasi yang dipakai untuk perjuangan dan apa siasat yang digunakan. Misalnya, sebagian Anarkis memusatkan perhatian pada organisasi ekonomi masyarakat masa depan; sebagian Anarkis menolak uang dan menggantinya dengan sistem pertukaran yang di situ kerja ditukar untuk barang dan jasa. Sebagian lagi menolak segala bentuk perdagangan atau barter atau kepemilikan pribadi sebagai kapitalisme, dan yakin bahwa semua kepemilikan harus dimiliki bersama. Sebagian menggunakan perjuangan dengan cara kekerasan seperti terorisme dan pemberontakan bersenjata; sebagian yang lain menggunakan sarana pendidikan kesadaran mengenai otonomi diri dan solidaritas antarmanusia.</p>
<p>Seorang Anarkis adalah revolusioner sosial yang percaya bahwa revolusi sosial adalah proses yang melaluinya sebuah masyarakat bebas akan tercipta. Pengaturan diri ditegakkan di semua wilayah kehidupan sosial, termasuk hak penentuan diri yang terbebas dari pertarungan yang menekan. Penentuan diri adalah hak untuk mengatur diri. Lewat inisiatif mereka sendiri, individu-individu akan menerapkan pengaturan kehidupan sosial mereka sendiri melalui perkumpulan-perkumpulan (associations) sukarela. Mereka menolak menyerahkan pengarahan diri (self-direction) kepada negara, partai politik, atau sekelompok pemimpin baris depan yang punya hak istimewa. Semuanya itu hanya membantu melanggengkan atau melanggeng ulang dominasi yang ada.</p>
<p>Lalu apa sebenarnya Anarkisme? Mudahnya, Anarkisme adalah sosialisme libertarian atau sosialisme berperi kebebasan individual. Anarkisme menentang pemerintahan, negara, dan sekaligus kapitalisme. Karenanya, secara sederhana, Anarkisme adalah sebuah pemikiran dan gerakan politik sosialisme yang menentang segala bentuk otorianisme, terutama kekuasaan politik negara dan kekuasaan ekonomi kapitalis serta otoritas menindas lainnya terhadap individu. Oleh karena itu Brown (1993) menyatakan bahwa anarkisme sebenarnya adalah varian marxisme yang humanis.</p>
<p><strong>Ajaran-ajaran umum Anarkisme</strong> [1]</p>
<p>Untuk memerikan bentuk konsepsi Anarkis tentang kehidupan sosial dan untuk menghubungkannya dengan pemikiran Anarkisme pada umumnya, perlu dirunut ke mata air tempat sungai Anarkis mengalir hingga saat ini: <strong>William Godwin</strong> (1756-1836), seorang filsuf sosial Inggris. Hasil kerja pemikiran Godwin sebenarnya merupakan buah dari perjalanan panjang konsep-konsep radikalisme politik dan sosial di Inggris dan peradaban Eropa umumnya. Godwin memandang bahwa akar kejahatan sosial harus dicari tidak hanya dalam sebentuk organisasi bernama negara, tetapi dalam setiap keberadaannya di kehidupan sosial. Selama ini negara hanyalah pantulan atau karikatur masyarakat, maka hal itu membuat umat manusia yang tercengkram di bawah kekuasaan eksternalnya hanyalah karikatur dari diri mereka yang sebenarnya lewat pemaksaan secara terus-menerus dan menindas kecenderungan alami mereka yang bebas. Godwin berkeyakinan bahwa seorang manusia normal yang tidak terinfeksi dalam perkembangan alamiahnya akan membentuk diri mereka sendiri dan lingkungannya yang cocok dengan kebutuhan sejak lahirnya akan kedamaian dan kebebasan.</p>
<p>Godwin juga menyatakan bahwa umat manusia hanya bisa hidup bersama secara alamiah dan bebas ketika kondisi ekonomi yang tepat untuk hal ini diberikan, dan ketika individu bukanlah subjek untuk dieksploitasi oleh yang lain. Karenanya penghilangan keberadaan negara harus dilakukan. Ide Godwin tentang sebuah masyarakat tanpa negara menginginkan kepemilikan sosial atas semua kekayaan alamiah dan sosial, dan membawanya ke kehidupan ekonomi lewat kooperasi bebas para produsen; merupakan cikal bakal apa yang kemudian dikenal dengan Anarkisme.</p>
<p>Anarkisme adalah ajaran dan gerakan sosial-politik untuk menghilangkan monopoli ekonomi dan semua bentuk lembaga politik yang menindas dalam masyarakat. Di suatu masa ketika orde ekonomi kapitalistik berkuasa, Anarkis menawarkan perkumpulan yang bebas dari semua kekuatan produktif didasarkan atas kerja kooperatif, yang akan sebagai tujuan pada dirinya sendiri untuk memuaskan semua anggota masyarakat, dan tidak memandang khusus pada minoritas pemilik hak istimewa dalam satuan sosial. Di suatu masa ketika organisasi negara saat ini dengan mesin pranata politik dan birokrasi pemerintahannya yang teknokratis tanpa-kehidupan bak robot, Anarkis menghendaki sebuah federasi komuniti-komuniti bebas yang akan saling terikat pada masing-masing secara setara lewat kesamaan kepentingan mereka dalam ekonomi dan sosial, dan hendak menata hubungan-hubungan mereka melalui kesepakatan saling menguntungkan dan kontrak bebas.</p>
<p>Siapapun yang mempelajari semua perkembangan ekonomi dan politik secara mendalam mengenai sistem sosial saat ini akan dengan mudah mengerti bahwa tujuan-tujuan Anarkis ini tidak memancar dari ide-ide utopia tentang sedikit upaya perbaikan imajinatif, tetapi merupakan hasil logis dari sebuah penjelasan mengenai kesalahsuaian (maladjusments) yang terjadi saat ini, yang dengan setiap fase barunya kondisi sosial yang ada menampakkan diri mereka sendiri lebih terus terang dan lebih tidak sehat lagi dalam rupa: monopoli brutal modern, kapitalisme, dan negara totaliter yang nyatanya bukan bagian akhir dalam perkembangan dunia dan dapat memuncak dalam banyak hal lain yang lebih mengerikan.</p>
<p>Pertanda perkembangan sistem ekonomi kita sekarang, menghantar pada akumulasi besar kekayaan (ekonomi) dan kekuasaan (politik) di tangan-tangan minoritas dengan hak-hak istimewa menuju pemiskinan terus-menerus sebagian besar massa rakyat, menyiapkan jalan untuk reaksi politik dan sosial saat ini, dan melindunginya dengan segala cara lewat negara. Hal ini mengorbankan kepentingan bersama umat manusia untuk kepentingan pribadi individu-individu, sehingga secara sistematis menggerogoti hubungan antarmanusia yang sehat. Orang lupa bahwa industri bukan sebuah tujuan pada dirinya sendiri, tetapi haruslah hanya sebuah alat untuk menjamin subsistensi material manusia terpenuhi dan membuat mudah dijangkaunya berkah kebudayaan intelektual yang lebih tinggi tersebut oleh semua orang. Ketika industri adalah segala-galanya dan manusia tiada arti ketimbang penumpukkan modal, mulailah dunia mengalami despotisme ekonomi yang kejam yang bekerja tidak kalah mengerikannya ketimbang despotisme politik. Keduanya satu sama lain saling menguatkan, dan mereka minum dari mata air yang sama, yaitu penindasan manusia atas manusia lain. Menurut Godwin, akar segalanya adalah keberadaan negara yang melanggengkan keberadaan individu-individu dengan hak istimewa tertentu dan pemikiran berkembangnya ideologi individualisme yang picik; ayau yang oleh Brown (1993) disebut dengan individualisme instrumental.</p>
<p>Itulah ajaran umum Anarkisme dari Godwin yang menjadi akar sosialisme anti-otoritarian yang dianut Anarkisme. Frederich Engel pernah komentar bahwa ada &#8220;two great practical philosophers of latest date, Bentham and Godwin, are, especially the latter, almost exclusively the property of the proletariat.&#8221;</p>
<p><strong>Pemerintah dan Anarki</strong></p>
<p>Orang yang menggunakan istilah ‘Anarki’ sebagai rujukan ‘kekacauan’ atau ‘tanpa aturan’ tidaklah keliru. Jika mereka memandang Pemerintah sebagai yang niscaya harus ada, jika mereka pikir kita tidak dapat hidup tanpa Istana Presiden mengatur hubungan kita, jika mereka pikir politikus sangat esensial keberadaannya untuk kesejahteraan kita, dan bahwa kita tidak dapat berperilaku secara sosial tanpa polisi, mereka benar ketika mengandaikan bahwa Anarki artinya berlawanan dengan garansi keberadaan Pemerintah. Tetapi, opini orang yang kebalikannya, dan menganggap Pemerintah sebagai tirani, juga benar ketika memandang keadaan anarki, tanpa pemerintah, sebagai kebebasan. Jika pemerintah melangsungkan hak istimewa orang-orang tertentu dan menciptakan hubungan eksploitasi serta ketidakefisienan distribusi, Anarki berarti keteraturan.</p>
<p>Politik adalah hasil kerja manusia. Pemerintahan pun demikian. Keberadaannya pun bergantung pada usaha manusia: melanggengkannya atau menghapusnya dari muka bumi. Saat ini mungkin kita tertawa mendengar ide masyarakat tanpa negara yang mendasarkan hubungan sosial pada solidaritas dan keadilan sosial sekaligus penghargaan atas pribadi-pribadi, seperti halnya orang-orang di abad ke-18 di Amerika sebelumnya menertawakan ide untuk menghilangkan perbudakan dalam perekonomian mereka. Tetapi dari pengalaman sejarah, sistem sosial yang ada saat ini seperti perekonomian tanpa budak, perpolitikan tanpa kekuasaan absolut raja, peminggiran kekuasaan gereja dalam kehidupan politik, merupakan sesuatu yang jadi bahan tertawaan di abad-abad lalu bila dikemukakan di publik.</p>
<p><strong>Organisasi gerakan dan Anarkisme</strong></p>
<p>Orang yang mengakui atau datang dari kelompok otoritarian menemukan betapa sulitnya menerima bahwa kita dapat hidup teratur tanpa ‘sebentuk’ Pemerintahan. Karenanya mereka simpulkan, dan ini merupakan alasan umum melawan Anarkisme, bahwa ‘Anarkis tidak percaya organisasi’. Tapi, bukankah pemerintah adalah tentang orang, sedangkan organisasi adalah tentang sesuatu?</p>
<p>Ada kepercayaan bahwa Anarkis ‘merusak organisasi orang lain tetapi tidak mampu membangun organisasi mereka sendiri’. Hal ini bisa diakui bahwa sebagian orang di sebagian tempat telah gagal dalam tugasnya membangun organisasi Anarkis, tetapi di beberapa bagian dunia mereka juga bisa (IWW/Industrial Worker’s of the World di Amerika, NCT dan kolektif-kolektif di Spanyol tahun 1930-an, beberapa organisasi sindikalis di Prancis, gerakan Food Not Bomb di Amerika, dll). Suatu organisasi bisa jadi demokratik atau diktatorial, bisa juga otoritarian atau libertarian, dan ada banyak organisasi libertarian, yang memang tidak selalu anarkis, yang membuktikan bahwa tidak semua organisasi tidak harus butuh dijalankan dari atas ke bawah (top downwards). Ide-ide tentang ‘forum warga’ yang dibentuk secara ‘partisipatoris’, penyelesaian masalah setempat secara ‘partisipatoris’, pembangunan botom-up, dan semua yang sedang ngetrend tentang ‘community governance’, merupakan percikan ide anarkis yang meyakini bahwa keberadaan komuniti secara bebas tanpa campur tangan pihak luar secara ‘top-down’ dalam mengelola ekonomi dan hubungan sosial untuk kesejehteraan bersama mereka, bisa dilakukan.</p>
<p>Anarkis menawarkan keyakinan bahwa organisasi bisa terbentuk dari kesadaran semua pihak dalam suatu komuniti tanpa harus dimasukkan secara paksa oleh pihak luar dengan alasan penguatan atau pembangunan. Anarkis mewanti-wanti jangan sampai organisasi tersebut menjadi wahana pemupukkan keberadaan sebagian orang dengan hak istimewa yang bisa menghantar ke otorianisme dengan tujuan, karateristik, atau syarat-syarat keberadaannya yang tetap, tetapi dengan memelihara organisasi sebagai sesuatu yang jalan secara ad hoc saja.</p>
<p>Keberadaan organisasi dalam gerakan sosial itu perlu. Memang benar bahwa perjuangan yang tidak terorganisasi sulit akan berhasil. Tetapi sejarah pemberontakan kaum tertindas di banyak wilayah menunjukkan bahwa keberadaan organisasi permanen yang formal dalam gerakan sosial justru wahana paling mudah bagi negara atau kapitalis mengendalikannya. Selain itu dengan mengimingi janji bahwa perubahan hanya akan terjadi dengan dan melalui organisasi yang disiplin, para aktivis sosial justru menjebak kaum tersisih dan dirinya sendiri ke dalam mimpi dunia nyata yang menindas akar keberadaan mereka. Seperti semua organisasi otoritarian, disiplin yang dimaksudkan adalah disiplin heteronom berupa keberadaan struktur formal yang kuat yang bisa mendisiplinkan anggotanya dari atas dengan keberadaan ‘pemerintah’ yang terlembagakan secara formal. Dalam masyarakat yang otoritarian tentu saja usul ini terdengar masuk akal. Bagaimana mungkin bisa mengadakan kegiatan untuk perubahan tanpa organisasi yang kuat untuk melakukannya? Memang benar, tetapi keberadaan organisasi permanen yang otoritasnya terlembaga secara formal, dengan struktur perintah dan tujuan-tujuan yang relatif tetap justru akan memudahkan tangan-tangan otoriter yang lebih besar, entah dari negara maupun kapitalis, untuk memasukkan alat-alat peninaboboan. Yang terjadi kemudian adalah pembuyaran kesadaran kritis dan penyuburan tradisi ketundukan pada otoritas. Jadilah organisasi hanya sebagai wadah penjinakan (domestification) dan alat status quo mengendalikan potensi perubahan sosial yang bisa melenyapkan mereka dan lembaga. Atau menjadi oposisi terhadap pemerintahan negaranya lewat kritik yang justru melanggengkan otoritas kapitalis neoliberal. (misalnya oposisi lsm yang menginginkan otonomi daerah secara penuh sehingga memudahkan modal asing bisa langsung masuk daerah tanpa lewat pemerintah pusat).</p>
<p>Ada perkataan bahwa untuk menjinakkan ular, kuasai kepalanya. Resep ini ternyata manjur.</p>
<p>Organisasi formal dengan disiplin yang berasal dari sumber heteronomi akan melemahkan kesadaran otonomi anggotanya bahwa mereka yang tertindas bisa mengendalikan diri mereka sendiri untuk lepas dan menghancurkan penindasan tanpa campur tangan negara. Orde baru menjinakkan perempuan dengan organisasi Dharma Wanita atau PKK, PKI menjinakkan dan memanfaatkan perempuan secara politik lewat Gerwani, LSM dijinakkan kapitalis dengan organisasi formal lewat lembaga donor internasional. Dengan adanya lembaga otoritas dalam organisasi, para kapitalis yang bekerja sama dengan pemerintah mengeluarkan biaya lebih murah daripada ketika organisasi tersebut tanpa kepala. Pegang kepalanya, sekolahkan, masukan ide dan ‘inseminasi’ kesadaran sehingga program-program organisasi ditentukan dari atas sejalan tujuan kapitalis (lewat donor yang bisa saja berwajah revolusioner dalam istilah-istilahnya), lalu jinakkan semuanya. Tentu saja proyek besar penjinakan juga dilakukan dengan menebar mitos-mitos modern yang mendukung tujuan besar imperium kapitalis: rasionalitas organisasi modern a la Weber (yang kemudian diperdalam oleh konsep organisasi efektif dan efisien modern ala neo-liberalisme), human capital, atau pembagian kerja berdasarkan kompetensi.</p>
<p>Konsep organisasi modern rasional Weber disebar untuk menumbuhkan keyakinan bahwa organisasi di masa modern sekarang harus ditata lewat pengaturan otoritatif-birokratis yang anonim serta mengikis atau melenyapkan hubungan-hubungan pribadi dalam hubungan sosial. Hal ini dilakukan dengan alasan mengefisienkan kerja dan mengefektifkan pencapaian tujuan bersama. Hal ini pula yang diperjuangkan neoliberalis dalam hubungan-hubungan ekonomi. Dalam transaksi, yang ada adalah kategori-kategori: pedagang/pembeli; dan individu manusia dengan semua masalah pribadi, sosial, kedudukan, dan perasaannya, sedapat mungkin disingkirkan.</p>
<p>Konsep human capital menghantar kita, sadar ataupun tidak, menempatkan manusia sebagai barang dagangan: sumber daya yang bisa dieksploitasi! Dan ini berkait dengan upaya kapitalis neoliberal untuk meruntuhkan solidaritas antarmanusia dengan konsep ‘pembagian kerja berdasar kompetensi’. Pengasingan manusia-manusia dari keberadaannya sebagai makhluk sosial dan menenggelamkannya ke dalam kesibukan-kesibukan ‘spesialisasi’ mengendurkan ikatan solidaritas kemanusiaannya. Hubungan-hubungan kerja kontraktual terasa begitu masuk akal dalam logika kapitalis neoliberal: dengan pranata ini kekuasaan pekerja lemah. Hal ini juga harus didahului oleh prakondisi berupa tingginya pengangguran sehingga hubungan kerja ditekan oleh ketakutan akan diputuskan sewaktu-waktu. Toh banyak yang antri melamar kerja. Untuk menebar konsep hubungan kerja dan lembaganya ini, kapitalis-neoliberal telah menjalankan proyek besar berupa perendahan kualitas otonomi. Dengan berkembangnya kesadaran heteronomi, orang menjadi bergantung pada kendali dari luar. Waktu ada polisi tertib, tak ada polisi rusuh. Waktu ada pimpinan rajin, tak ada pemimpin malas-malasan. Juga menciptakan manusia-manusia rakus yang mementingkan diri sendiri, karena setiap individu adalah wirausahawan yang mengelola human capitalnya sendiri-sendiri. Keadaan ini memberi kapitalis neoliberal rujukan kenyataan untuk memaksakan ide hubungan kerja kontrak dan spesialisasi.</p>
<p>Dengan pemisahan yang kaku ini, tentu saja karena adanya organisasi yang memiliki otoritas ‘kuat’, solidaritas kolektif terhapus dari kesadaran kaum tertindas dan ‘para pejuangnya’. Pandangan dunia Hobbesian dalam benak hampir semua orang saat ini bukan takdir Tuhan yang telah digariskan di lauh, tetapi hasil kerja manusia. Pandangan dunia ini kian menjadi yang paling dominan dengan dikuasainya alat-alat produksi informasi oleh mereka yang menghendaki kekuasan otoritarian di tangan mereka: penguasa politik dan penguasa ekonomi kapitalis. Omong kosong demokrasi dan kebebasan individu yang digembar-gemborkan keduanya sebenarnya ilusi keikutsertaan dalam politik; topeng yang menutupi wajah bopeng kemanusiaan mereka yang sebenarnya menindas. Pandangan dunia ini diberi pembenaran dengan kenyataan-kenyataan kontemporer bahwa manusia pada dasarnya terikat dalam konflik, dan karenanya perlu otoritas yang bisa mendisplinkan (mengendalikan) konflik tersebut. Benar bahwa kenyataan saat ini memberi pembenaran bahwa hubungan antarindividu berlandas konflik, tetapi bukan berarti solusinya adalah keberadaan lembaga yang mengatasi semua individu dan mempunyai otoritas tak terbantah karena keberadaannya merupakan keniscayaan keberadaan manusia. Lagi pula, keadaan ini mungkin tidak akan berlaku lagi jika kesadaran solidaritas kemanusiaan meresapi pola pikir dan pola tindak semua manusia suatu hari nanti. Jadi, bagi yang menghendaki keberadaan lembaga otoritatif, konflik adalah untuk diredam atau bisa dihilangkan melalui keberadaan lembaga otoritatif tersebut, entah yang kuat dan terang-terangan seperti negara otoriter atau sembunyi-sembunyi layaknya otoritas kapitalisme neoliberal dengan semboyan demokrasi dan kebebasan individu semunya itu. Tujuan ini diyakini juga oleh sekelompok orang yang menentang penindasan, seperti kaum Marxis yang percaya keberadaan organisasi partai atau negara sosialis, dengan atau pun tanpa parlemen, untuk menyelesaikan masalah penindasan. Konflik-konflik dilokalisir dan dijadikan konflik antarorganisasi yang murah dan bisa dikendalikan atau dengan kata lain lewat pelembagaan konflik. Ini merupakan tujuan status quo agar tidak terjadi perubahan radikal sehingga kedudukan mereka masih bisa dipertahankan. Ganti-ganti topeng tak apalah, yang penting tetap berkuasa. Kooptasi lebih mudah dilakukan ketika pergerakan sosial terorganisasi dengan otoritas formal yang kuat. Ide ini, di ranah ilmiah disodorkan Dahrendorf, misalnya, yang ternyata fungsionalis juga akhirnya.</p>
<p>Anarkis, sebagai salah satu oponen sosialis radikal anti-otoritarian, juga tidak memandang semua organisasi sebagai sesuatu yang buruk, dan tidak juga berpendapat bahwa baik-buruk organisasi adalah karena ‘orangnya’, tetapi organisasi yang menempatkan orang dalam posisi otoritatif yang dilanggengkan secara formal sehingga bisa mengendalikan orang lain itulah yang ditolak. Dan ini bukan masalah orang atau hati orang, tetapi keberadaan lembaga formal yang memberi kekuasaan transenden bagi seseorang atau sekelompok orang yang bisa mengendalikan orang dari atas merupakan sebentuk otoritarianisme yang berbahaya bagi kebebasan manusia otonom, terutama mereka yang tertindas. Dengan penyuburan organisasi demikian maka potensi perubahan sosial yang radikal akan lenyap atau malih warna dengan topeng yang seolah-olah revolusioner padahal menutupi bopeng otoritas mereka dalam memperbudak manusia lain. Selain itu, dan ini paling penting, adalah lenyapnya kualitas hubungan personal yang bisa teratur dengan individu-individu yang memunyai otonomi diri.</p>
<p>Lalu organisasi seperti apa yang diajukan anarkis untuk pergerakan sosial? Anarkis, sejak lama menolak semua bentuk organisasi yang menempatkan sebagian orang dalam kedudukan yang lebih tinggi dari orang lain lewat pelembagaan hirarki secara formal. Organisasi dalam anarkisme haruslah yang terbentuk secara sukarela dan untuk tujuan-tujuan ad hoc saja serta tidak menerima keberadaan orang tertentu sebagai orang yang punya hak istimewa dalam organisasi hanya karena dia berpengetahuan lebih banyak dan menjadi ‘koordinator’. Diktumnya <em><strong>“from each according to ability, to each according to need!”</strong></em>. Artinya anarkis tidak hendak menciptakan kelas istimewa dalam organisasi; karenanya sepanjang sejarah, organisasi anarkis biasanya dalam bentuk konfederasi atau sindikasi atau kolektif yang pengorganisasiannya tidak ditangan kelas tersendiri yang memunyai kewenangan penuh secara formal. Keberadaan lembaga konfederasi yang menengahi antarfederasi hanya sebagai lembaga yang berfungsi ketika ada kebutuhan di antara federasi untuk menyelesaikan masalah atau melakukan aksi secara bersamaan. Semacam koordinator ad hoc, yang setelah aksi atau penyelesaian, lembaga tersebut tidak lagi punya otoritas untuk memerintah ini-itu lagi. Anarkisme mempercayai kepemimpinan “primus inter pires”; yang utama di antara yang setara.</p>
<p>Dalam lingkup kecil, anarkis membentuk diri dalam komune-komune kepemilikan bersama atas sarana produksi. Komune-komune ini, seperti kolektif-kolektif di Spanyol di masa keemasan anarkisme 1930-an, sebelum diberangus negara fasisnya Jendral Franco, atau kelompok-kelompok Food Not Bomb di Amerika saat ini, bekerja mengolah alat-alat produksi dan sarana alokasi secara bersama dalam hubungan saling bergantung dengan komune lain yang memproduksi dan mengalokasikan kebutuhan berbeda tanpa suatu lembaga formal yang otoritatif mengatasi komponen-komponen tersebut. Eksperimen komuniti komunis Kibbutz di Israel juga masih berlangsung hingga sekarang.</p>
<p>Bagi kita yang terlahir dalam masyarakat otoritarian dan dibimbing dalam keyakinan otoritarian, tentu sulit membayangkan keberadaan komune-komune seperti ini pernah dan ada saat ini dan masyarakat tanpa negara mungkin akan ada juga di masa depan sebagai alternatif sistem ekonomi, politik, dan sosial yang ada saat ini.</p>
<p><strong>Tipe-tipe Anarkisme</strong></p>
<p>Kaum Anarkis tidak bisa secara sederhana dilihat memiliki persepakatan pada semua hal. Secara historis ada perbedaan-perbedaan yang menghantar pada kecenderungan berbeda dalam teori dan praktik Anarkis.</p>
<p><strong>Anarkis-individualisme</strong> mengharapkan sebuah masyarakat masa depan yang membebaskan individu melakukan tugas-tugas mereka dan berbagi sumber daya “berdasarkan suara keadilan”. Secara umum, Individualis adalah hanya sekelompok filsuf ketimbang aktivis revolusioner. Mereka adalah libertarian sipil yang menginginkan perubahan sistem yang membuatnya bekerja secara ‘adil’. Keberadaan mereka lazim di abad lalu, tetapi masih tampak dalam barisan Anarkis ‘kontra-kebudayaan’, filsuf kelas menengah, atau sayap kanan Libertarian. Oleh para anarkis revolusioner (komunis, sindikalis, kolektivis) jenis ini tidak diakui sebagai anarkisme.</p>
<p><strong>Mutualis</strong> adalah Anarkis yang dikaitkan dengan ide-ide filsuf Anarkis Prancis abad ke-19, <strong>Pierre-Joseph Proudhon</strong> (1809-1865), yang mendasarkan ekonomi masa depan pada “&#8230;sebuah pola kepunyaan (possesing) kelompok-kelompok kecil dan individu (bukan kepemilikan-owning) atas alat produksi, dan diikat oleh kontrak-kontrak pertukaran yang saling menguntungkan serta kredit yang akan menjamin masing-masing individual menghasilkan tenaga kerja mereka sendiri.” Jenis Anarkisme ini hadir ketika keberadaan Individualis mengambil ide mereka dalam praktik, dan hanya berharap untuk mereformasi kapitalisme dan membuatnya ‘koperasi’. Ini juga ada dalam gerakan sayap kanan Libertarian yang mengambil idenya dalam memperjuangkan sesedikit mungkin peran negara. Karenanya Marx menyerang Prodhoun sebagai seorang ‘idealis’ dan ‘filsuf utopian’ untuk konsepnya hubungan ‘saling bantu’ (mutual aid).</p>
<p><strong>Kolektivisme</strong> adalah Anarkisme yang didasarkan langsung pada ide-ide <strong>Mikhail Bakunin</strong> (1814-1876), Anarkis Rusia, pejuang paling kondang dalam ‘masyarakat awam’ teori Anarkisme. Bentuk Anarkisme Kolektivisme Bakunin menggantikan tempat kekukuhan Prodhoun pada kepunyaan individual dengan ide kepemilikan kolektif lewat perkumpulan sukarela, dan hak individual untuk menikmati produk atau tenaga kerjanya. Jenis Anarkisme ini melibatkan ancaman langsung pada sistem kelas dan negara kapitalis, dan memandang bahwa masyarakat hanya bisa dibangun ulang ketika kelas pekerja merampas kendali ekonomi lewat sebuah revolusi sosial, menghancurkan perangkat-perangkat negara, dan pengaturan ulang produksi pada dasar kepemilikan bersama dan kendali oleh perkumpulan kaum pekerja. Bentuk Anarkisme ini secara ideologis menjadi dasar dari Anarko-sindikalisme, atau dasar pemikiran serikat buruh revolusioner. Anarkis-kolektivis menghendaki sebuah masyarakat tanpa kelas yang dicipta lewat pengaturan kembali produksi, alokasi, dan konsumsi yang memberi prioritas pada solidaritas sosial, pengaturan diri kolektif, dan keragaman produksi.</p>
<p><strong>Anarko-sindikalisme</strong> adalah Anarkis yang aktif dalam pergerakan buruh dan kelas pekerja. Anarko-sindikalis adalah sebentuk teori Anarkis untuk kesadaran kelas pekerja dan tani, untuk militansi dan aktivisme dalam pergerakan buruh, untuk sosialis libertarian yang menginginkan kesetaraan sekaligus kebebasan. Pemikiran ini didasarkan lebih berat pada ide-ide Bakunin, meskipun teknik-teknik pengorganisasiannya dicangkok dari pergerakan serikat buruh Perancis dan Spanyol (yang disebut “Sindikat”). Jenis Anarkisme ini yang memengaruhi IWW (Industrial Workers of the World) di Amerika Utara dan yang mengaktualisasikan pandangan bahwa negara kapitalis harus dirobohkan oleh sebentuk ‘peperangan’ ekonomi yang revolusioner yang disebut ‘Pemogokan Umum’, dan bahwa ekonomi harus ditata ulang dan didasarkan pada serikat industrial, yang akan berada di bawah nasihat (counsel) kelas pekerja. Semua masalah politik ditangani oleh Kongres Serikat Industrial, sementara masalah tempat kerja akan ditangani oleh komite pabrik, yang dipilih oleh pekerja sendiri dan di bawah kendali langsung mereka. Jenis Anarkisme ini telah menjadi pengorganisasian Anarkis potensial yang besar dalam pergerakan kelas pekerja di Amerika Utara, mereka membangkitkan isu-isu seperti pemendekan kerja/minggu, keberadaan dewan-dewan pabrik, dan perjuangan melawan serangan para bos terhadap kelas pekerja seluruh dunia. Anarkis-sindikalis tidak menghendaki serikat-serikat buruh yang berada di bawah komando satu partai tertentu atau berada dalam koordinasi pemerintah, tetapi dalam bentuk sindikat yang bekerja secara ad hoc untuk menghadapi persoalan perburuhan yang terjadi.</p>
<p><strong>Anarkis-komunisme</strong> adalah Anarkisme revolusioner yang percaya pada pemikiran tentang perjuangan kelas yang bermuara pada sebuah akhir untuk kapitalisme, dan semua bentuk penindasan. Berlawanan dengan Anarko-sindikalisme, Anarkis-komunis tidak hanya membatasi untuk mengorganisasi di tempat kerja. Pemikirannya didasarkan pada teori <strong>Peter Kropotkin</strong> (1842-1921), seorang Anarkis Rusia lainnya. Kropotkin dan pengikutnya tidak hanya mempertimbangkan komune dan dewan-dewan pekerja sebagai pelindung yang tepat dari produksi ekonomi; mereka juga menyerang sistem pengupahan dalam segala bentuknya, dan menghidupkan kembali ide-ide komunisme libertarian. Jenis Anarkisme ini dikenal juga sebagai Sosialisme Libertarian yang juga menentang negara, kediktatoran, dan otoritas partai. Mereka meyakinkan, transformasi masyarakat menjadi sebuah ‘Kibbutz’ raksasa yang di sana kerja ditata secara adil dan semua orang berbagi setara konsumsi buah dari kerja mereka. Penghapusan pranata ekonomi uang juga sebagai pranata pertukaran juga tujuan anakis-komunis.</p>
<p>Sejak 1870-an dasar-dasar Anarkis-Komunisme telah diterima oleh sebagian besar organisasi Anarkis yang mewarnai revolusi. Anarkis ini atau Komunis Libertarian jangan sampai disalahartikan dengan komunisme yang lebih banyak dikenal dari Marxis-Leninis, sebuah komunisme yang didasarkan pada kepemilikan negara atas ekonomi, kendali negara atas produksi dan distribusi, dan juga kediktatoran partai. Bentuk dari masyarakat komunis otoritarian didasarkan pada penindasan dan perbudakan oleh negara, sementara Anarkis-komunis menginginkan kebebasan, komunisme sukarela dalam berbagi sumber daya. Komunisme Libertarian bukan Bolshevisme dan tidak ada kaitannya atau mendukung Lenin, Stalin, Trotsky atau Mao. Jenis ini tidak mengajarkan kendali negara ataupun swasta atas yang penting bagi kehidupan dan menentang semua bentuk kediktatoran. Anarkis-Komunis menginginkan pertumbuhan masyarakat baru yang merdeka untuk membangun sesuatu secara penuh dan luas dengan prinsip tanggung jawab sosial kepada orang lain.</p>
<p>Kritik Kropotkin atas ide komunisme Marx yang menggunakan negara sebagai alat untuk mencapai masyarakat komunis adalah bahwa negara tidak bisa dipakai untuk alat mencapai sesuatu yang menjadi antipati negara: masyarakat bebas. Setiap negara selalu memproduksi kekuasaannya dan tidak akan membiarkan otoritas lepas dari tangannya. Karena itu anarkis menolak menggunakan negara atau serikat buruh, serikat tani, yang berada dalam kendali negara atau partai untuk mencapai komunisme.</p>
<p><strong>Otonomisme</strong> merupakan sebuah kecenderungan baru pergerakan Anarkis. Kecenderungan ini timbul di pertengahan 1980-an di Jerman dan kemudian menyebar ke negri-negri lain di Eropa dan Amerika Utara. Mahasiswa, intelektual, dan pekerja-pekerja yang kecewa menjadikan kecenderungan ini orisinal, tetapi mereka juga Anarkis yang menyebut mereka sendiri sebagai Otonomis untuk menyatakan bahwa mereka tidak dikaitkan dengan sebuah federasi, atau bukan pula suatu ajaran doktriner seperti organisasi anarkis tradisional. Seperti halnya Sosialisme Libertarian, mereka tampaknya menggambarkan ideologi mereka lewat Marxisme dan beberapa ajaran pemikiran Anarkisme, terutama Anarkis-Komunisme, tetapi mereka cenderung untuk lebih tidak terikat dan sangat teliti dalam menjelaskan perbedaan identitas mereka. Perjuangan mereka lebih pada menciptakan individu-individu anarkis yang memunyai kualitas kendali dan pengaturan diri dalam kepemilikan bersama sumber daya komuniti. Kalo di Bandung mungkin kaya kelompoknya Aa Gym tanpa otoritas permanen Aa Gym.</p>
<p>Sebagai sebuah pemikiran politik, Anarkisme berkutat dengan transformasi masyarakat. Anarkisme sering kali ditolak oleh sebagian besar kecenderungan politik dan filsafat. Karenanya tidak pernah menjadi pemikiran politik yang dominatif dalam percaturan transformasi sosial. Didasarkan pada, atau kadang memencar dari, dasar-dasar Anarkisme tradisional, ada beberapa ragam kelompok yang memperluas lingkup Anarkisme kontemporer dan membatasi ulang konsep tradisional dari Anarkisme. Dalam usaha untuk menempatkan Anarkisme dalam pemikiran filsafat kontemporer dengan segala permasalahannya yang berbeda dengan masalah abad-abad lalu, sebagian Anarkis meramukan pemikiran post-strukturalisme ke dalam Anarkisme yang menawarkan pemikiran politik untuk menjelaskan dunia kita. Ada aliran paling baru yang dikenal dengan <strong>Pasca-struktural-Anarkisme</strong>. Anarkisme jenis ini meramu Anarkisme dan pasca-strukturalisme (pemikiran-pemikiran Foucault, Derrida, atau Deleuze). Karena kekuasaan ada di mana-mana, kebutuhan kritik dan refleksi politik juga harus merambah ke mana pun, tidak hanya di tingkat negara atau pranata ekonomi, tetapi juga di tingkatan seksualitas, masalah ras, psikologi, pengajaran, dll. Para pendukung aliran ini memandang adanya perubahan penting selama abad ke-20 ini dan memasuki abad ke-21 yang mengharuskan konsep dan alat-alat analisis untuk wilayah perjuangan Anarkisme berbeda; seperti kenyataan dunia cyber, Internet, dan globalisasi, misalnya. Di dunia internet dan perangkat lunak, mereka memperjuangkan perangkat lunak bebas dan wafatnya hak salin (copy right) di dunia internet [2].</p>
<p>Anarkisme tradisional menganggap sistem-sistem pentotalan sebagai tujuan akhir kapitalisme dan negara. Pasca-struktural-anarkis tidak sekadar melihat pada dua tempat tersebut sebagai sumber penindsan tetapi membuka mata bahwa operasi kekuasaan ada di mana-mana. Jika kapitalisme dan negara dapat secara terpisah dicungkil lalu menghilangkan keduanya akan dengan sendirinya penindasan lenyap, sepertinya ini merupakan pandangan utopis yang tidak realistis. Kita juga harus melawan rasisme, misoginisme, prasangka buruk terhadap kaum gay atau lesbian, dsb. Intinya Anarkisme harus memahami kuasa sebagai yang beroperasi tidak hanya di tingkatan negara dan pranata kapitalisme, tetapi dalam praktik merambah melalui semua hal yang menuntun kehidupan kita.</p>
<p><strong>Anarkis Religius</strong></p>
<p>Berkebalikan dengan kesetiaan Anarkis klasik pada Atheisme (umumnya dalam menanggapi pengaruh destruktif lembaga keagamaan tradisional yang otoritarian), beberapa Anarkis kontemporer menekankan spiritualitas, baik lewat ragam paganisme-baru maupun teologi pembebasan dalam agama-agama besar tradisional. Hal ini mencerminkan bahwa pemaksimalan potensi manusia mengharuskan penimbangan aspek spiritual dan transenden kepribadian manusia dan kebudayaan seperti halnya aspek rasionalnya. Dalam kehidupan moral, Anarkis-anarkis seperti ini bersandar pada tanggung jawab pribadi, disiplin diri, dan memerhatikan orang-orang lain daripada kepada keputusan-keputusan otoritas legal dan moral. Anarkis-religius umumnya menekankan kesalingterikatan semua bentuk kehidupan, dan mereka percaya, secara bersama-sama dengan orientasi ekologis segolongan Anarkis yang dikenal dengan Anarkis berpusat-alam (<em>green Anarchist</em>), bahwa kita merupakan bagian tak terpisahkan dengan lingkungan alam kita. Tetapi masih tertinggal unsur ateistik yang substansial di antara Anarkis yang percaya bahwa ide ‘kesucian’ dan kepercayaan pada ‘keteraturan tertinggi’ menguatkan konsep hirarki tradisional dan ini bertentangan dengan penerimaan kebebasan penuh manusia. Jadilah keberagamaan mereka seperti Kierkegaard, Jasper, atau eksistensialis religius yang mempribadikan Tuhan sebagai sesuatu yang internal seperti halnya Pietisme dalam sejarah Protestan yang dijalankan Immanuel Kant. Tokoh anarkis religius yang terkenal adalah <strong>Leo Tolstoy</strong>.</p>
<p><em><strong>Anarko-primitivisme</strong></em> adalah tipe anarkisme yang melampaui kritik atas Negara ke kritik atas peradaban. Tipe ini, dengan dukungan data antropologi dan arkeologi mengenai asalmula Negara, meyakini bahwa masyarakat negara bukan kelanjutan evolutif organisasi politik manusia. Negara hanya salah satu bentuk organisasi politik yang kemunculannya kemudian membawa beragam permasalahan kemanusiaan hingga hari ini: hirarki menindas, otoritarian, kerusakan lingkungan dan kemanusiaan, dll. Nagara adalah produk peradaban yang dalam catatan arkeologis dimulai sekitar 10.000 tahun lalu. Jadi, tipe ini meyakini ‘kodrat’ kemanusiaan kita adalah ‘primitif, yang di situ egalitarian tiada hirarki, kerja sama saling bantu, menjadi dasar kegaulan sejati (<em>true sociability</em>) umat manusia’. Karenanya, aktivis anarko-primitivisme berusaha menghidupkan kembali ‘keprimitifan’ dalam kehidupan komuniti yang mereka bangun: berusaha memenuhi kebutuhan sendiri dengan kebun komuniti, sekolah gratis, menyelenggarakan barter, dll. Seperti halnya Ecofeminism yang melampaui kritik feminisme terhadap patriarkhi ke kritik atas peradaban, mereka juga banyak mengorganisasi diri di advokasi lingkungan seperti gerakan Mother Earth.</p>
<p><strong>Anarkisme dan Aktivisme Sosial</strong></p>
<p>Dari uraian di atas tampak bahwa sebagian besar jenis Anarkisme lahir dan melahirkan aktivisme sosial; pergerakan sosial untuk perubahan yang lebih baik. Berlainan dengan Marxisme yang kemudian menjelma juga dalam ranah keilmuan sosial menjadi teori sosial dan metodologi penelitian ilmiah yang tersohor, Anarkisme tidak banyak menampakkan diri dalam ranah keilmuan. Tetapi serupa dengan Marxisme dan gerakan sosialisme lainnya, Anarkisme merambah bidang yang oleh Marx didengungkan sebagai ‘praksis’ atau gerakan sosial langsung untuk merubah keadaan yang dirasa menindas sebagian orang. Ranah perjuangan Anarkis sebenarnya secara tradisional serupa dengan perkembangan sosialisme pada umumnya, seperti persoalan penindasan buruh oleh majikan, perlawanan kaum tani, penindasan perempuan, penindasan berdasarkan ras, kesukubangsaan, perlawanan terhadap dominasi Kapitalisme dalam kehidupan ekonomi, hingga gerakan anti-globalisasi a la neoliberalisme akhir-akhir ini.</p>
<p><strong>Anarkisme dan Pergerakan Perempuan</strong></p>
<p>Salah seorang perempuan Anarkis-Komunis yang terkenal adalah Emma Goldman, seorang imigran Amerika asal Rusia. Goldman banyak memberikan pengajaran-pengarajan tentang Anarkisme di beberapa organisasi Anarkis Amerika. Goldman melihat bahwa pembebasan perempuan sebagai usaha tak-terpisahkan dari penciptaan strategi yang sedemikian rupa sehingga keindividuan dan komuniti dapat dikaitkan ulang. Dia menyerap ide-ide pengembangan diri dan anarkis-komunisme kolektivis dari Alexander Berkman. Baginya persoalan paling dasar adalah bagaimana untuk menjadi diri sendiri dan satu keutuhan dengan yang lain, merasakan secara mendalam bersama semua umat manusia dengan tetap mempertahankan kualitas ciri khasnya sendiri [3]. Ini merupakan kunci untuk pembebasan perempuan, tetapi juga sekaligus bagi laki-laki. Inilah proyek politik umum Goldman.</p>
<p>Beberapa perempuan Anarkis berpandangan bahwa emansipasi perempuan merupakan bagian tak-terpisahkan dari penolakan anarkisme terhadap semua bentuk otoritas dan hirarki. Meskipun Goldman, misalnya, kritis terhadap pergerakan feminis pada masanya, dia tidak menulis dan berbicara secara khusus tentang perempuan. Sebagian Anarkis menolak semua perubahan segera sebagai ‘menyembuhkan’; Goldman tidak berpikir bahwa semua reformasi akan membebaskan, tetapi dia kritis terhadap penekanan pergerakan perempuan untuk hak pilih. Menurut Anarkis, demokrasi parlementer hanya memberi pekerja ilusi keikutsertaan dalam politik. Daripada demokrasi representatif, Emma Goldman memperjuangkan aksi kolektif langsung seperti pemogokan umum dalam politik dan masyarakat seperti halnya dalam kerja.</p>
<p><em><strong>Anarcha-feminisme</strong></em> adalah Anarkisme yang berusaha memadukan ideal-ideal pemikiran Anarkisme dan feminisme. Aliran ini berfokus pada pembebasan perempuan dan peran patriarkhi di dalam penindasannya, yang selama ini kurang diperhatikan Anarkis tradisional, tetapi tidak memisahkannya dengan bentuk-bentuk lain penindasan, terutama keberadaan negara dan monopoli kapitalisme. Tidak semua Anarkis perempuan memandang diri mereka sebagai Anarko-feminis, tidak juga seorang Anarko-feminis adalah perempuan. Pembedaan dasarnya adalah pada persoalan bagaimana suatu pemikiran dan gerakan yang ‘berpusat perempuan’ sebagai suatu nilai yang ditekankan dalam melihat hubungan dominasi. Anarko-feminis secara umum menolak solusi negara untuk persoalan perempuan, seperti penyensoran pornografi untuk mengurangi kekerasan terhadap perempuan, pengadaan kementrian masalah perempuan, atau pemberian hak pilih bagi perempuan dan lebih memilih pada pemberdayaan-diri (<em>self-empowerment</em>) dan aksi langsung. Pengorganisasian Anarko-feminis dapat dicirikan oleh penekanannya pada desentralisasi, pembuatan keputusan secara partisipatoris, dan aksi pada tingkatan akar rumput. Beberapa Anarkis kontemporer berkonsentrasi pada penerapan ideal-ideal kebebasan kehendak dan penentuan diri untuk kehidupan pribadi mereka. Dalam kecenderungan ini adalah penekanan pada penerimaan beragam pilihan dalam kehidupan seksualitas, keluarga, dan hubungan-hubungan antarpribadi.</p>
<p>Ketertarikan feminis pada Anarkisme timbul karena dasar-dasar tradisional teori politik Anarkis. Yang paling penting adalah bahwa ketimbang memfokuskan pada satu struktur otoritarian tertentu (seperti kapitalisme), Anarkisme mengidentifikasi struktur-struktur otoritarian pada umumnya sebagai alat kunci penindasan. Anarkis menolak untuk mengadopsi alat-alat otoritarian untuk meraih akhir yang tidak-otoritarian dan menganggap bahwa perubahan revolusioner merupakan proses yang terus-menerus.</p>
<p>Konsep <em>‘personal is political, and political is personal’</em> yang saat ini banyak dikumandangkan aktivis feminis berasal dari diktum Anarkis-Komunis, utamanya yang berada dalam pengaruh ajaran Peter Kropotkin. Dalam salah satu pamfletnya Kropotkin menulis bahwa seseorang tidak bisa menceraikan kehidupan politik dengan kehidupan pribadinya, begitu pula sebaliknya.</p>
<p><strong>Anarkisme dan Perjuangan dengan <em>&#8216;Kekerasan&#8217;</em></strong></p>
<p>Harus diakui bahwa sebagian kelompok anarkis menggunakan media teror dan perilaku kekerasan dalam perjuangannya menentang keberadaan pemerintah atau penguasa ekonomi kapitalis lewat penghancuran simbol-simbol keduanya seperti pengeboman bank, kantor aparat negara dan polisi, kantor perusahaan kapitalis, atau daerah-daerah pertokoan. Akarnya sudah ada sejak lama. Di abad ke-19 sebagian tokoh anarkis, misalnya Emile Henry (1872-1894), anarkis teroris Prancis, menganjurkan jalan kekerasan dalam upaya perjuangannya. Teror-teror dijalankan untuk melawan penindasan, baik yang dijalankan dengan kekerasan maupun dengan kekerasan simbolis, dengan menghancurkan keyakinan pada baiknya keberadaan lembaga-lembaga otoriter lewat simbol-simbolnya. Saat ini sebagian lagi membentuk milisi-milisi bersenjata untuk pemberontakan bersenjata seperti yang dilakukan Zapatista di Meksiko yang tetap bertahan hingga sekarang. Sub-Comandante Marcos dikenal sebagai tokoh milisi pergerakan Zapatista yang secara organisasi sangat mirip dengan milisi anarkis bersenjatanya <em>kamerad</em> <strong>Buenaventura Durruti</strong> (1896-1936) di Spanyol atau milisi anarkis di masa penindasan fasis Jendral Franco di Spanyol 1940-an awal.</p>
<p>Dalam demonstrasi besar-besaran menentang WTO di Seattle, beberapa waktu lalu, sebagian kelompok anarkis melakukan pelemparan terhadap gedung-gedung pemerintah dan gedung milik perusahaan besar. Mereka memunyai buku panduan yang dikenal “Anarchist Cookbook” yang berisi teknik-teknik boikot dan membuat bom-bom sederhana.</p>
<p><strong>Anarkisme, (Neo) Liberalisme, dan Perlawanan Terhadap Kapitalisme</strong></p>
<p>Ada sebentuk kecurigaan terhadap Anarkisme karena dalam pergerakannya mengutamakan pembebasan dari belenggu negara dan pemerintah. Di satu sisi ada kemiripan dengan ajaran Neo-liberalisme yang menghendaki berkurangnya peran negara dalam memajukan persaingan pasar murni. Tetapi, ada perbedaan mendasar antara keduanya. Sebagai teori politik varian dari sosialisme, Anarkisme memerangi kepemilikan individu dan memperjuangkan kepemilikan bersama atas alat-alat produksi ekonomi dalam tatanan sosialisme. Tetapi berbeda dengan sosialisme otoritarian seperti Marxis-Leninisme atau sosial demokrat, anarkis tidak percaya bahwa masyarakat sosialis yang menghargai keberadaan individu akan terbentuk melalui pemerintahan sebagian orang yang memiliki hak istimewa terhadap sebagian lainnya. Kaum Anarkis mengakui ajaran bahwa “Kebebasan tanpa sosialisme adalah eksploitasi; Sosialisme tanpa kebebasan adalah tirani” (Mikhail Bakunin) [4]. Monopoli ekonomi, entah dalam bentuk penguasaan negara atas semua sarana produksi ekonomi maupun penguasaan pemilik modal atas ekonomi, sama-sama diperangi Anarkis karena melakukan penindasan.</p>
<p>Perbedaan dasar Neo-liberalisme dengan Anarkisme adalah bahwa sejak awal neoliberalisme melalaikan atau tidak memperhitungkan syarat-syarat ekonomi-sosial bagi disposisi rasional. Padahal struktur-struktur sosial-ekonomi itu mengondisikan produksi dan reproduksi disposisi-disposisi dan struktur-struktur ini. Semua ini atas nama konsepsi rasionalitas yang sempit dan kaku yang disamakan begitu saja dengan rasionalitas individu [5].</p>
<p>Peran kelompok-kelompok Anarkis dalam perang melawan perdagangan bebas dan globalisasi a la neoliberalisme yang direpresentasikan WTO memang saling tumpang tindih dan sulit dipisah dengan gerakan sosial lain yang menentang, termasuk enviromentalis, pasifis, Marxis baru, intelektual dan agamawan radikal, pemberontakan anakmuda, nativisme, dll. Tetapi anarkis memunyai perhatian terhadap kecenderungan monopoli kapitalisme gaya neoliberal yang menindas, seperti misalnya kelompok Black Bloc dalam demonstrasi besar-besaran di sidang WTO di Seattle atau di Cancun, Mexico.</p>
<p><strong>Ekonomi Parsitipatoris: Teori Ekonomi Anarkis</strong></p>
<p>Dengan runtuhnya apa yang disebut ‘ekonomi sosialis’ di Eropa Timur dan bekas Uni Soviet, dan mulai masuknya negara-negara ‘sosialis’ seperti China atau Vietnam ke dalam ekonomi pasar, para pegiat kapitalisme seperti menemukan pembenaran empiris untuk melangsungkan kerangka ekonomi kapitalisme di semua penjuru dunia [6]. Mereka keliru. Selama bertahun-tahun kaum Anarkis telah mengkritik kekurangan-kekurangan dan menolak, baik sistem kapitalisme korporasi maupun sosialisme komando. Bagi kaum Anarkis, kapitalisme telah melembagakan ketaksetaraan, meningkatkan kemiskinan, memperparah perang upah, dan merendahkan martabat manusia hanya sekadar sumber daya atau modal!; dan ekonomi sosialis yang didasarkan pada hirarki birokratis dan perencanaan pusat yang otoriter juga tidak lebih baik.</p>
<p>Anarkis mengusahakan sebuah masyarakat tanpa kelas yang dicipta lewat pengaturan kembali produksi, konsumsi, dan alokasi yang memberi prioritas pada solidaritas sosial, pengaturan diri kolektif, dan keragaman produksi. Mereka meyakinkan, transformasi masyarakat menjadi sebuah kibbutz raksasa yang di sana kerja ditata secara adil dan semua berbagi secara setara dalam konsumsi hasil kerja. Uang tidak akan digunakan lagi sebagai media pertukaran dan tidak ada perbedaan kelas, tidak ada pewarisan kekayaan atau hak milik pribadi.</p>
<p>Anarkis berusaha mengorganisasi kerja kembali yang akan mengikis hirarki di dalamnya. Contoh-contoh organisasi kerja demokratis, dikenal juga sebagai koperasi, telah ada dalam ekonomi kapitalis dan juga dalam ekonomi komando sosialis. Koperasi-koperasi akan menjadi unit pendukung sebuah ekonomi partisipatoris dengan keragaman organisasi kerja, yang tiap-tiapnya ditata secara demokratis juga dalam memilih dewan tempat kerja. Untuk memaksimalkan keikutsertaan pengambilan keputusan, setiap organisasi beranggotakan tidak lebih dari seratus orang.</p>
<p>Ekonomi partisipatoris juga akan menjalankan penggiliran pekerjaan, dan kompleks-kompleks pekerjaan atau pencampuran kerja diseimbangkan untuk memenuhi kesenangan orang-orang yang bekerja dan pemberdayaan mereka. Hal ini untuk menghindarkan pengasingan individu pekerja dengan pekerjaannya dan pemilikan pengetahuan dan keterampilan kerja yang luas. Sebagai misal, dalam sebuah perusahaan penerbitan buku setiap pekerja akan memunyai sebagian tanggung jawab editorial, sebagian produksi, dan sebagian tanggung jawab bisnis lainnya. Orang yang sama bisa bekerja paruh waktu di dua organisasi, yang lebih kurang menyenangkan.</p>
<p>Konsumsi dalam ekonomi partisipatoris akan didasarkan pada norma-norma kesetaraan pembagian dan hak individual atas privasi dalam konsumsi mereka sejauh mereka tidak mengambil secara tak adil bagian besar. Akan ada sistem-sistem dewan-dewan konsumen dimulai dengan dewan ketetanggaan, meluas ke wilayah yang lebih luas hingga federasi nasional. Beberapa jenis produk seperti rumah sakit, taman, sistem transportasi, dll., akan dikonsumsi secara kolektif. Dewan-dewan konsumen dan federasi-federasinya akan mendiskusikan kebutuhan-kebutuhan kolektif mereka terlebih dahulu untuk pembagian produksi sosial, dimulai di tingkatan nasional dan turun ke tingkatan di bawahnya. Setelah kebutuhan-kebutuhan kolektif tertangani, dewan-dewan menangani pengeluaran untuk konsumsi rata-rata individu dan keluarga.</p>
<p>Penyeimbangan apa yang diproduksi dan disalurkan dalam sebuah ekonomi partisipatoris dengan apa yang dikonsumsi atau dibutuhkan dilakukan lewat sebuah kompleks alokasi dan sistem perencanaan terdesentralisasi didasarkan pada penyebarluasan komputer dan umpan balik informasi antara tempatkerja dan konsumen, dan unit-unit terkecil dan terbesar tingkatan georgrafis tempat mereka berada. Jalan lain penggunaan uang dan harga adalah sebuah sistem informasi yang dijaga jaringan komputer. Antarfederasi pekerja, antara federasi pekerja dengan federasi konsumen, dan individu-individu saling tukar informasi mengenai pasokan dan permintaan, harga ‘infikatif’, dll.</p>
<p>Orang yang menginginkan pembagian konsumsi lebih harus bekerja sedemikian rupa sehingga lebih dari yang bisa dikerjakan orang lain. Prinsipnya adalah memperoleh bergantung pada kemampuan, dan dibagi berdasarkan kebutuhan. Karenanya, selain penyebarluasan teknologi informasi ke semua komune/kolektif pekerja dan jaringan konsumen perlu dilakukan, juga otonomi diri guna mengikis kerakusan.</p>
<p>Diktum “from each according to ability, to each according to need” yang juga dianut para sosialis demokrat agak berbeda dipahami oleh anarkis. Dalam pemikiran sosialis demokrat, diktum pertama diartikan bahwa setiap orang menyumbang ke negara sesuai dengan kemampuannya seperti penerapan pajak progresif di negara-negara sosial demokrat, misalnya (contohnya di Inggris di bawah Partai Buruh dan negara-negara Skandinavia). Semakin kaya seseorang, maka pajak yang diwajibkan atasnya ke negara semakin besar prosentasenya. Diktum kedua diartikan sebagai peran negara dalam menyediakan kebutuhan dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan tunjangan pangan-papan bagi semua warga negara lewat subsidi.</p>
<p>Anarkis menolak keberadaan negara sebagai institusi yang menangani redistribusi dalam upaya <em>“from each according to ability, to each according to need”</em>. Bagi anarkis peran negara harus digantikan kolektif –kolektif seperti yang digambarkan di atas.</p>
<p><strong>Kritik atas Anarkisme</strong></p>
<p>Sejarah menampakkan kenyataan bahwa hingga saat ini Anarkisme, baik sebagai filsafat sosial maupun sebagai teori dan praktik politik tidak pernah menyebar secara luas seperti halnya Marxisme atau Sosialis demokrat. Ada banyak tafsir atas kenyataan ini. Bisa jadi memang ajaran-ajaran dan teorinya tidak masuk akal dan terlalu mengawang-awang. Atau mungkin karena taktik pemasarannya yang kurang bagus.</p>
<p>Ada beberapa ajaran dan teori Anarkis yang mungkin menyumbang keadaan Anarkisme saat ini. Pertama, ajaran bahwa manusia pada dasarnya baik dan bisa menggalang solidaritas kemanusiaan untuk kesejahteraan manusia tanpa penindasan oleh sebagiannya. Ini tentu saja membuat ekonom terbahak. Sebagian besar orang percaya bahwa inti terdalam manusia adalah <em>homo economicus</em> yang rakus dan selalu mementingkan diri sendiri. Machiavelli juga bisa terkencing-kencing mendengar teori anarkis tentang organisasi.</p>
<p>Ajaran lainnya adalah bahwa setiap manusia lahir bebas setara. Ini juga yang bisa membuat para sosiolog sakit perut. Kenyataan telah menunjukkan bahwa manusia lahir tidak dalam dan dari ruang kosong seperti mitos kelahiran para dewa, tetapi dalam suatu struktur dan organisasi sosial yang sedemikian rupa sehingga menempatkan manusia yang lahir tersebut pada kedudukan di salah satu tangga hirarki dalam masyarakat. Penyetaraan bukan kodrat manusia. Manusia selalu butuh pembedaan dan tingkatan-tingkatan. Bahkan di awal evolusi homo sapiens. Kerangka pikir ini sepertinya menjadi inti terdalam kerangka menusia memandang realita. Lihat saja epistemologi, dari Aristoteles hingga Bourdeau: kodrat kesadaran manusia adalah pembedaan dan penggolongan.</p>
<p>Dari kedua ajaran inilah teori organisasi tanpa otoritas lahir; teori organisasi anarkis yang menghendaki organisasi partisipatoris sukarela tanpa pelanggengan otoritas secara formal yang ditentukan ‘dari luar’. Bagaimana mungkin organisasi demikian bisa terbentuk sedangkan setiap orang punya kecenderungan untuk menguasai orang lain, baik dengan cara yang kasar maupun lewat penguasan halus. Selain itu, para penentang teori anarkis ini, menyatakan bahwa tidak semua manusia memiliki kemampuan sedemikian rupa sehingga bisa membentuk sebuah organisasi secara sukarela dan partisipatoris langsung. Perlu adanya sebagian kecil ‘pemikir’ yang dijuluki intelektual yang memiliki pengetahuan lebih dari sebagian besar orang untuk mengorganisasi orang lain mencapai tujuannya.</p>
<p>Sistem ekonomi atau organisasi partisipatoris yang diajukan anarkis tampaknya terlalu menyederhanakan kenyataan dan persoalan yang ada. Nyatanya kehidupan sosial begitu rumit, struktur-struktur sosial yang menata kehidupan orang pun saling tumpang tindih dalam kehidupan sehari-hari dengan kecenderungan individual dengan segala kepentingannya. Bagaimana demokrasi partisipatoris dilakukan sebenar-benarnya dalam masyarakat dengan jumlah penduduk jutaan? Bagaimana juga menjamin keberadaan kolektif produksi dan konsumsi tidak menciptakan ‘pemegang’ otoritas atau tirani baru? Bagaimana dengan kian kompleksnya kebutuhan (dan pembutuhan) akan barang dan jasa konsumsi serta pola hidup masyarakat bisa membangun masyarakat yang otonomi?<em></em></p>
<p><em><strong>Sindikat Belajar Filsafat, Toko Buku &amp; Perpustakaan Taman Bunga Jatinangor</strong></em></p>
<p><strong>Bacaan:</strong></p>
<ul>
<li> Bourdieu, Pierre. 2003. Kritik Terhadap Neoliberalisme: Utopia Eksploitasi tanpa Batas Menjadi Kenyataan; dalam Majalah Basis No. 11-12, Tahun ke-52, Nopember-Desember, 24-30.</li>
<li> Ehrlich, Howard J. 1995. Toward a General Theory of Anarchafeminism.</li>
<li> Ervin, Lorenzo K. 2000. Anarchism and the Black Revcolution. Kalamzoo: Illegalvoices.</li>
<li> Guerin, Daniel. 1998. No Gods No Masters; an anthology of Anarchism (book one). London: AK Press.</li>
<li> &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;. 1998. No Gods No Masters: an anthology of Anarchism (book two). London: AK Press.</li>
<li> Guest, Krysti. tt. Feminism and Anarchism: toward a Politics Engagement. www.cat.or.au</li>
<li> Highleyman, Liz A.  1995.  An Introduction to Anarchism. Boston: Black Rose Collectives.</li>
<li> Itoh, Makoto. 1995.  Political Economy for Socialism. New York: St. Martin Press.</li>
<li> Meltzer, Albert. 1996. Anarchism: Arguments for and Against. London: Mid-Atlantic dan AK Press.</li>
<li> McElroy, Wendy. 2000. The Schism Between Individualist and Comunnist Anarchism; dalam Journal of Libertarian Studies, vol. 15, no. 1.</li>
<li> Moglen, Eben. 1999. Anarchism Triumphant: free software and the death of copyright. Peer-reviewed, Journal on the Internet.</li>
<li> O’Brien, James. 2003. Which Way To The Revolution: Anarchism or Leninism; dalam Jurnal Workers Solidarity Movement edisi Juli.</li>
<li> Rocker, Rudolf. 1989. Anarcho-Syndicalism. London: Pluto Press.</li>
<li> Rowbotham, Sheila. 1992. Women in Movement: feminism and social action. New York, London: Routledge.</li>
<li> Truscello, Michael. 2003. The Architecture of Information: Open source software and tactical Postructuralist Anarchism. novel_t@roger.com.</li>
<li> Wenzer, Kenneth C. 1995. Godwin’s Place in the Anarchist Tradition: A Bicentennial Tribute; dalam  Social Anarchism No. 20.</li>
</ul>
<p><strong>Catatan:</strong></p>
<ol>
<li>Bagian ini disari dari bab 1 buku Anarco-syndicalism karya Rocker (1989) dan tulisan Wenzer (1995)</li>
<li>Lihat misalnya artikel Moglen (1999) dan Trucello (2003)</li>
<li>Rowbotham (1992: 152)</li>
<li>dikutip Ervin (2000)</li>
<li>Bourdieu (2003)</li>
<li>Itoh (1995:83 dst)</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2007/05/17/anarkisme-sosial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anarkisme : Paham Yang Tak Pernah Padam</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2006/08/30/anarkisme-paham-yang-tak-pernah-padam/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2006/08/30/anarkisme-paham-yang-tak-pernah-padam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Aug 2006 14:54:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anarkisme]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/v2/2006/08/30/anarkisme-paham-yang-tak-pernah-padam/</guid>
		<description><![CDATA[Meskipun pada umumnya orang hanya secara intuitif, tanpa tidak pernah mencoba menggali lebih seksama tentang apa yang disebut sebgai pandangan Anarkis tersebut, Namun istilah anarki sendiri sudah terlanjur menimbulkan kemarahan dan terlanjur secara luas disimpulkan bahwa anarkisme adalah sebagai suatu paham yang menakutkan karena jahat.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Alm. Mansour Fakih</strong></p>
<p>Selama ini, mendengar kata Anarkisme disebut, banyak orang segera merasa gelisah dan cemas, terbayang suatu kelompok manusia bringas yang siap menebarkan keonaran, kekacauan, kehancuran dan malapetaka. Meskipun pada umumnya orang hanya secara intuitif, tanpa tidak pernah mencoba menggali lebih seksama tentang apa yang disebut sebgai pandangan Anarkis tersebut, Namun istilah anarki sendiri sudah terlanjur menimbulkan kemarahan dan terlanjur secara luas disimpulkan bahwa anarkisme adalah sebagai suatu paham yang menakutkan karena jahat. Orangpun tanpa berpikir panjang percaya bahwa Anarkisme adalah negatif dan berbahaya, titik. Pendek kata, dalam memandang anarkisme, tidak hanya apparatus negara, bahkan masyarakat akademia, bersepakat bahwa Anarkisme adalah musuh umat manusia. Dengan demikian keyakinan yang mendominasi pemikiran masyarakat luas adalah bahwa “anarkisme” tidak lebih dari penyakit sosial yang bertentangan dengan segala norma sosial yang baik dan pantaslah jika anarkisme dianggap musuh masyarakat. leh karena itu dianggap wajar juga untuk menganjurkan untuk memberantas Anarkisme sampai keakar-akarnya. Anjuran untuk senantiasa waspada terhadap segala bentuk anarki saat ini telah menjadi hampir kesepakatan sosial. Pendek kata, Anarkisme perlu di amputasi atau dilenyapkan, untuk selamanya.</p>
<p><span id="more-120"></span>Lantas mengapa Anarkisme menjadi paham yang sangat ditakuti sehingga perlu dibrantas habis? Jangan-jangan letak persoalannya hanya karena kita tidak paham betul apa sebenarnya yang menjadi cita cita Anarkisme. Lebih ironis lagi, jangan-jangan secara diam-diam kita, anda dan saya tanpa menyadari, juga dalam beberapa hal bersimpati bahkan untuk banyak hal berbagi keyakinan dengan anarkisme Atas alasan itu semua, perlunya untuk memperdebatkan, merenungkan dan mempertimbangkan anarkisme sehingga akan melahirkan sikap kritis masyarakat sebagai alternatif dari sikap apriori menerima maupun apriori menolak, ataupun membenci secara membabi buta ataupun sikap secara taklid buta untuk menerima atau menolak tanpa suatu kesadaran mengapa dan untuk apa. Oleh karena itu lahirnya sikap dan kesadaran kritis yang didorong oleh suatu keterbukaan, dialog kritis adalah sesuatu yang yang harus difasilitasi oleh karena tema yang umumnya dianggap tabu untuk dibicarakan, bahkan tidak layak untuk diapresiasi, justru yang seharusnya perlu diapresiasi dan yang pertama tama perlu diacungkan jempol.</p>
<p>Lantas, apa sebenarnya dan mengapa Anarkisme begitu kontroversial? Anarkisme sebagai suatu paham atau pendirian filosofis maupun politik yang percaya bahwa manusia sebagai anggota masyarakat akan membawa pada manfat yang terbaik bagi semua jika tanpa diperintah maupun otoritas, boleh jadi merupakan suatu keniscayaan. Pandangan dan pemikiran anarkis yang demikian itu pada dasarnya menyuarakan suatu keyakinan bahwa manusia pada hakekatnya adalah mahluk yang secara alamiah mampu hidup secara harmoni dan bebas tanpa intervensi kekuasaan juga tidaklah ssuatu keyakinan yang sangat salah. Lalu dari mana datangnya persepsi bahwa anarkisme berarti mendorong pada kehancuran dan keberantakan? Padahal sangat jelas dari pengertian diatas sesungguhnya Anarkisme tidak identik dengan keyakinan pecinta kehancuran. Bahkan tidak ada indikasi bahwa anarkisme serta merta merupakan cita acita yang menjurus kearah kekacauan ataupun kehanacuraan dan keberantakan. Namun yang jelas memang anarkisme merupakan suatu pemikiran yang mendambakan suatu “orde” yang bersifat spontan. Mereka umumnya menolak segala prinsip otoritas politik, pada saat yang sama sangat percaya bahwa keteraturan sosial niscaya terwujud justru jikalau tanpa otoritas politik. Secara sepintas dapat dilihat, bahwa musuh gerakan anarki adalah segala bentuk otoritas, maupun segala bentuk simbol otoritas, dan bentuk otoritas yang bagi kaum anarkis sangat jelas adalah otoritas yang dimiliki oleh negara moderen. Itulah sebabnya bagi kaum anarkis, negara dipandang memonopoli otoritas kekuasaan yang perlu dibatasi, misalnya seperti kekuasaan territorial yang mereka miliki, kekuasaan yuridiksi atas rakyat termasuk kekuasaan menguasai kekayaan sumber daya didalam wilayah yang mereka kuasai. Kekuasaan negara juga muncul dalam bentuk pemanfaatan sistim hukum positive yang eksistensinya serta merta menundukkan dan menyingkirkan semua bentuk hukum yang “dianggap negatif”, seperti hukum adat dan banyak hukum lainnya. Dan akhirnya gagasan bangsa sebagai suatu bentuk puncak dari politisasi masyarakat juga menghancurkan segala bentuk kelompok kelompok masyarakat. Semua otoritas tersebut dipelihara melalui monopoli penguasaan alat alat pertahanan dan keamanan, bahkan negara memonopoli cara untuk menundukkan rakyat. Sebaliknya anarkisme memang mengidamkan suatu visi social tentang “masyarakat alami” yakni suatu masyarakat swakelola yang mandiri dari para invidual yang secara swadaya membentuknya. Anarkisme bahkan menjadi sikap politik bahwa pemerintahan selain tidak perlu juga destruktif. Ini memang sesuai dengan makna harfiah Anarki, yang konon asal katanya memang berakar dari kata Yunani yang artinya kurang lebih “tanpa aturan atau without a rule”, dan memang dalam perkembangannya telah digunakan.</p>
<p>Apa sebenarnya pandangan, visi dan pendirian filosofis kaum anarkis? Anarkisme mengambil berbagai bentuk dan spektrum, yakni dari Anarkisme aliran kiri dan eskrim kiri, maupun anarkisme aliran kanan bahkan sampai anarkisme ekstrem kanan yang berwatak individualistik. Meskipun anarkisme kelihatannya berakar pada paham kebebasan individual yang liberal, namun lokasi konflik pahamnya justru pada pada titik yang terletak antara negara dan masyarakat. Meskipun terdapat berbagai aliran pemikiran kaum narkisme dalam berpendirian terhadap lokasi konflik negara-masyarakat tersebut. Namun pendirian pendirian mereka sesungguhnya secara sederhana dapat dikatagorikan kedalam Anarki individualistik dan anarki sosialistik. Anarki Individualistik berangkat dari cita cita kebabasan individual, serta berpangkal juga dari kedaulatan individual atas pemilikan harta dan kekayaan pribadi, serta pemilikan privat. Dengan demikian arah anarki individualis ini adalah suatu bentuk dari anarki kapitalisme. Sementara anarki kiri yang berwatak sosialistik justru berangkat dari penolakan kekayaan pribadi dan negara yang menurut mereka sebagai sumber penyebab dari ketidakadilan sosial. Golongan anarki ini justru berpendirian perlunya pembatasan kekuasaan dan keperkasaan negara atas individu dalam kelompok kelompok masyarakat. Pendek kata paham ini adalah perkawinan antara paham bercorak liberalistik dan sosialisme. Itulah mereka juga disebut sebagai Sosialisme Libertarian.</p>
<p>Kalau kita telaah perkembangan pemikiran dan gerakannya, Anarkisme sudah lama sekali berkembang dan pemikiran tersebut masing berkembang hingga saat ini dengan nama, gaya dan bentuk yang berbeda-beda. Meskipun sudah lama berkembang, misalnya William Godwin (1756-1836) telah melontarkan gagasan yang diduga menjadi inspirasi paham Kooperasi sosialis model Owen, namun membincangkan paham anarkisme tidak dapat melupakan bagitu saja tokoh pemikir Proudhon yang pada dasarnyaa mengadaaopsi gagaan koperasi sosialis. Dia melihat bahka kekuasaan negara dan kekuasaan Modal adalah sinonim, sehingga mustahil baginya menggunakan negara untuk memperjuangan kaum proletar. Belakangan Bakunin melanjutkan gagasan tersebut, bedanya Bakunin menempuh jalan pengambilalihan secara revolusioner dan kekerasan untuk membangun kolektivisme. Peter Kropotkin salah seorang pengikutnya Bakunin melanjutkan gagasan tersebut secara lebih komunistik, yakni dengan menganjurkan gagasan “segala sesuatu milik setiap orang, dan pembagian didasarkan pada kebutuhan tertentu masing-masing.</p>
<p>Perkembangan praktek anarkisme demikian juga penentangnya dimana mana dan para buruhpun mulai mengadopsinya yang melahirkan suatu sempalan baru yang dikenal dengan “Anarcho-Syndicalism”, atau Revolutionary Syndicalism. Mulai dari pikiran bahwa fungsi serikat buruh yang secara tradisional memperjuangkan kenaikan upah dan perbaikan kondisi kerja dianggap sudah lagi tidak memadai. Serikat buruh harus menjadi organisasi militan untuk menghancurkan Kapitalisme dan negara. Buruh harus ambil alih pabrik-pabrik dan dikuasai. Dengan demikian, serikat buruh juga dituntut mampu untuk menjadi pengelola manajemen pada saat pasca revolusi. Pendek kata bagi mereka serikat buruh pada dasarnya berfungsi sebagai badan perlawanan, namun pada era pasca revolusi serikat buruh harus juga berfungsi dalam administrasi menjemen untuk mengelola industri. Untuk menjaga stamina militansi, suasana lingkungan perlu secara terus menerus dikembangkan untuk itu. Mereka, para anarki sindikalis dimasa lalu sangat percaya bahwa suatu aksi perlawanan yang massif akan mampu melumpuhkan negara dan bahkan sistim kapitalisme.</p>
<p>Bagaimana gerakan anarki saat ini dan masa mendatang? Saat ini sesungguhnya gerakan anarkisme tengah mengalami kemunduran. Kecuali di Spanyol gerakan anaki dihancurkan dimana-mana. Meskipun dua tokoh Anarki besar seperti Bakunin dan Kropotkin berasal dari Rusia, namun gerakan itu disana justru dikerdilkan oleh rezim totaliter disana maupun idenya dikooptasi oleh Partai Sosialia Revolusioner Narodniki.</p>
<p>Sementara ditempat lain dimasa lalu gerakan Anarkisme pernah mengalami kejayaannya. Contohnya, gerakan perlawanan sosio kultural yang dipelopori oleh Mahatma Gandhi dianggap sebagai realitas dari pengaruh Anarkisme di Asia. Gandhi berhasil mengembangkan gerakan resistensi dan pembangkangan social yang bersifat anti-kekerasan di Afrika Selatan dan India. Orang percaya bahwa Gandhi banyak membaca pikiran Anarkis seperti Leo Tolstoy dan Thoreau maupun Kropotkin. Meskipun impian Gndhi tentang suatu masyarakat komunal berbasis desa swadaya belum pernah terwujud, tetapi pemikirannya dilanjutkan orang orang sepahamnya dengan mengembangkan gerakan Sardovaya yang dipimpin oleh Vinoba Bhave Jaya Prakash Narayan yang mengembangkan gerakan pemilikan tanah secara kolektif yang dikenal dengan gramdan, dimana pada tahun 60-an menjadi gerakan yang mendapat sambutan secara luas di India.</p>
<p>Di Barat Anarkisme memang menjadi daya tarik kaum intelek. Anarkisme dianggap menjadi pendorong gerakan Civil rights di Amerika akhir tahun 1950-an, dimana warga kulit hitam Amerika melakukan resistensi terhadap ketidakadilan yang dilegalisir dalam konstitusi dengan menggunakan gerakan moral. Gerakan itulah yang dianggap sebagai picu gerakan social selanjutnya, dimana gerakan sosial makin meluas dan meruncing, tidak hanya terbatas sebagai gerakan civil rights tapi telah berkembang menjadi gerakan umum menentang struktur elitisme dan gerakan kritik terhadap gaya hidup materialisme masyarakat industri baik di negara negara Kapitalis maupun negara Komunis. Gerakan itu terus berlangsung hingga tahun tahun 1960-an dan 1970-an. Anarkisme dengan demikian telah menjadi identik dengan gerakan “counter culture” atau budaya tanding yang sangat popular dikalangan anak muda dan Mahasiswa dan kelompok kiri secara umum di Amerika dan Eropa serta Jepang. Namun watak anarkisme generasi ini memang lebih merupakan pemberontakan budaya ketimbang suatu hal yang berwatak ideologis.</p>
<p>Pendirian akan penolakan kaum anarki terhadap negara, serta desakan untuk desentalisasi dan otonomi lokal, sangat gaung kuat terhadap mereka yang bercita cita menegakkan demokrasai participatory. Jika gerakan sosial ditahun 60-an memendam semangat “buruh menguasai industri” maka kelihatannya pikiran Anarcho-Syndicalisme masih hidup. Tetapi Anarkisme generasi tahun 60-an dan 70-an memprakarsai suatu perlawanan masif dan berskala global melalui aksi langsung dengan membentuk parlemen jalanan mempunyai agenda yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Gerakan anarkisme era tersebut menunjukkan adanya indikasi kuat bahwa mereka menerima warisan pemikiran Bakunin tentang “pan-destructionisme” dimana mereka percaya bahwa sistim masyarakat yang ada saat itu sudah sangat rusak, korup dan munafik sehingga sudah tidak layak lagi untuk diperbaiki dan harus dibersihkan secara total.</p>
<p>Dari perbincangan ini, kita dapat memahami ternyata paham anarkisme tidak sesederhana yang selama ini diprsepsikan oleh banyak orang. Anarkisme juga memiliki anatomi dan bentuk gerakan yang bermacam macam. Menganggap tungal terhadap anarkisme yang sebenarnya beragam tersebut dapat memunculkan suatu kesalahpahaman yang tidak perlu. Karena memang paham anarkisme dalam perkembangannya pernah menjadi pendorong terhadap perubahan sosial menuju suatu masyarakat bebas dari otoritarianisme menuju pada suatu masyarakat egaliter, tanpa dominasi dan demokratis. Bahkan paham Anarkisme telah menjadi inspirasi terhadap lahirnya banyak karya sastra tentang kemanusiaan yang sangat berbudaya. Misalnya saja kritik Ivan Illich terhadap “sekolah” di awal tahun 70-an merupakan salah satu karya seorang anarkis yang memberi isnpirasi bagi berbagai upaya pembaharuan pemikiran dan metodologi pendidikan. Pendek kata sudah lama masyarakat luas menjadi semakin manusiawi dan beradab, justru karena inspirasi dari para pemikir anarkis.</p>
<p>Bagaimana masa depan Anarkisme? Pada saat ini rakyat secara global mnghadapi tantangan besar akibat dari menguatnya paham Neo-Liberalsime. Indikasi menguatnya paham ini telah mendorong tata ekonomi, politik, sosial dan budaya kedalam suatu zaman yang dikenal dengan era Globalisasi. Globalisasi yang merupakan suatu formasi sosial untuk pengintegrasian ekonomi nasional bangsa bangsa kedalam suatu sistim ekonomi Kapitalisme global, juga telah memincu munculnya gerakan anarkisme baru diawal abad ini. Proses Globalisasi yang memaksakan pembentukan sistim, tata relasi dunia baru ini membawa akibat semakin menguatnya institusi modal dan Negara-negara Kapitalis melalui WTO dan Lembaga Keuangan Internasional terdapat indicator telah membangkitkan semngat anarkisme lagi. Berbagai perlawanan rakyat secara global diberbagai tempat menentang WTO dan Bank Dunia menjadi saksi dari kebangkitan gerakan anarkisme lagi yang secara global dikenal yakni The World Bank dan International Monetary Fund (IMF). IMF inilah organisasi yang paling dianggap berkuasa di abad 20.</p>
<p>Justru pada era globalisasi inilah terdapat suatu gejala lahirnya kembali gerakan anarkisme global yang selama ini tidak banyak kedengaran. Globalisasi justru seakan membangunkan kaum anarkis dari tidur, atau paling tidak membangunkan gerakan sosial yang mendapat inspirasi dari kaum anarkis secara global, seperti gerakan anti WTO, gerakan anti Hutang seolah meneruskan gerakan Hijau, gerakan feminisme, gerakan masyarakat Adat ataupun gerakan rakyat kaum miskin kota dan sebagainya. Gerakan rakyat menentang pembangunan Dam dibeberapa tempat di Asia, seperti gerakan anti proyek pembangunan Dam Narmada di India tahun 1980-an, pada dasarnya merupakan suatu bentuk dari “New Social Movement” yang mendapat inspirasi dari pikiran anarkisme. Pada tahun 1992, gerakan untuk menyelamatkan Narmada ini berhasil mendesak Bank Dunia untuk mencabut dukungannya terhadap proyek tersebut. Gerakan yang “mewarisi sikap Kritis dan semangat anarkisme Mahatma Gandhi” ini adalah merupakan gerakan sosial yang menantang watak otoritarian kekuasaan negara dan sikap ekstraktif dari proses ekonomi yang dominan. Gerakan anarkisme yang dalam era itu juga disebut sebgai “New Social Movement” tumbuh dimana mana, dalam skala lokal, nasional, bahkan global.</p>
<p>Saat ini, sekali lagi kita menyaksikan suatu gerakan “koalisi global menentang WTO dan gerakan “Anti Hutang” Jubilee 2000, serta berbagai koalisi global menentang Bank Dunia, yang ditunjukkan dengan turunnya kembali kaum muda di jalan jalan kota-kota besar dunia setiap diselenggarakan pertemuan Globalisasi adalah fenomena resistensi sosial yang mengingatkan bangkitnya kembali gerakan anarkis atau bahkan terjaganya dari tidur panjang watak anarkis dari gerakan sosial. Gelombang sentimen untuk menentang watak dominasi Neo Liberalisme dan rezim Globalisasi yang mendunia saat ini, bukankah fenomena yang merupakan indikasi lahirnya kembali anarkisme. Masih banyak kasus yang saat ini tidak terungkap, bagaimana gerakan masyarakat di tingkat akar rumput melakukan resistensi terhadap Globalisasi yang pada dasarnya memiliki watak sebagai reinkarnasi pemikiran anarkisme. Misalnya saja gerakan para aktivis untuk membela para petani dari invasi budaya modernisasi pertanian revolusi hijau serta gerakan sosial untuk reformasi agraria dan hak hak petani (peasant rights) di Indonesia saat ini, apakah tidak dapat secara luas dianggap sebagai bangkitnya kembali falsafah anarkisme?.</p>
<p><strong>Biografi</strong></p>
<p>Mansour Faqih, almarhum lulusan Fakultas Filsafat dan Teologi, IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Hampir selama duapuluh tahun menekuni perannya sebagai fasilitator program pendidikan kerakyatan di berbagai ornop di Indonesia, kecuali masa jeda empat tahun (1988-1992) untuk menyelesaikan program magister dan doktoralnya di Universitas Massachusets, AS, dalam bidang pendidikan dan perubahan sosial, serta empat tahun berikutnya (1992-1996) sebagai Country Representative OXFAM-GB di Indonesia. Juga pernah menjabat sebagai Chairman of Advisory Board Insist, dan aktif sebagai fasilitator pelatihan, pengarah penelitian di ReaD, dewan redaktur jurnal Wacana, menyunting dan menulis beberapa buku terbitan Insist Press, Pustaka Pelajar, dan konsultan senior di Remdec-Jakarta.(biografi singkat ini dikutip dari Kata Zine # 02, Februari-Maret 2007)]</p>
<p><strong>Referensi</strong></p>
<p>Tulisan diatas telah saya edit dan saya muat dengan maksud agar dipahami bahwasanya ‘destruktif adalah destruktif dan anarkis adalah anarkis janganlah dicampuradukkan destruktif adalah anarkis’, sekian.</p>
<p>Sumber tulisan : <a href="http://dhant.wordpress.com/2006/07/29/anarkisme-paham-yang-tak-pernah-padam/#comment-174" class="external text" title="http://dhant.wordpress.com/2006/07/29/anarkisme-paham-yang-tak-pernah-padam/#comment-174" rel="nofollow">dhant.wordpress.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2006/08/30/anarkisme-paham-yang-tak-pernah-padam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa yang Anda dan Saya Butuhkan</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2006/08/24/apa-yang-anda-dan-saya-butuhkan/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2006/08/24/apa-yang-anda-dan-saya-butuhkan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Aug 2006 14:40:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/v2/2006/08/24/apa-yang-anda-dan-saya-butuhkan/</guid>
		<description><![CDATA[Banyak orang merasa pesimis bahkan menjadi paranoid jika lembaga pengontrol yang bernama pemerintah tak lagi eksis dalam lingkungan sosial. Cukup beralasankah ketakutan tersebut? Jawabannya adalah IYA! Karena tanpa lembaga pengontrol, maka segala sesuatu yang menjadi keinginan dari tiap-tiap orang menuntut untuk dilaksanakan, dan secara intuitif, hal tersebut berarti sebuah perang antar manusia dalam melaksanakan keinginan-keinginannya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak orang merasa pesimis bahkan menjadi paranoid jika lembaga pengontrol yang bernama pemerintah tak lagi eksis dalam lingkungan sosial. Cukup beralasankah ketakutan tersebut? Jawabannya adalah IYA! Karena tanpa lembaga pengontrol, maka segala sesuatu yang menjadi keinginan dari tiap-tiap orang menuntut untuk dilaksanakan, dan secara intuitif, hal tersebut berarti sebuah perang antar manusia dalam melaksanakan keinginan-keinginannya. Yang menjadi masalah kemudian adalah—saking takutnya—orang-orang tersebut menyerahkan keputusan-keputusan yang seharusnya bisa diambil dan dilaksanakan oleh orang-orang tersebut kepada lembaga yang ironisnya malah tak bisa dikontrol. Dan secara tak langsung menyerahkan dirinya untuk diperintah dan menuruti perintah.</p>
<p><span id="more-119"></span>Kenyataan membuktikan bahwa pemerintah, dalam definisinya yang paling baik: sebagai wakil dari rakyat, tak pernah bisa mengakomodir keinginan-keinginan dan kebutuhan-kebutuhan dari rakyatnya. Bahkan di negara yang paling demokratis sekalipun, hak-hak rakyat untuk berdemokrasi dibatasi. Itulah salah satu alasan mengapa seharusnya anda dan saya menolak pemilu dan secara tegas menolak kontrol pemerintah atas hidup anda dan saya. Ketika anda dan saya merasa muak dengan kinerja pemerintah yang hanya itu-itu saja—belum termasuk membuat keputusan lewat undang-undang yang menyesengsarakan anda dan saya serta yang lainnya, mungkin—sebenarnya anda dan saya mencoba untuk mengambil alih (kembali) hidup anda dan saya yang tercuri. Tapi ketika anda dan saya hanya ‘berhasil’ menurunkan pemerintahan yang lama untuk diganti dengan yang baru—dengan pemilu misalnya—sebenarnya anda dan saya belum berhasil, karena yang terjadi adalah pengulangan-pengulangan saja dan keadaan akan tetap sama: undang-undang yang baru akan tetap menyengsarakan anda dan saya. Itulah kompensasi nyata ketika anda dan saya menyerahkan hasrat-keinginan kepada orang lain lewat kotak-kotak suara.</p>
<p>Dan bagaimanapun massifnya suatu demontrasi massa untuk menuntut penurunan harga BBM (misalnya) pada lembaga pemerintahan, takkan pernah dapat menemui titik terang: BBM akan terus naik! Bisa ditunda, tapi tidak bisa tidak naik. Kenapa subsidi untuk anda dan saya dipangkas, sementara subsidi untuk militer dinaikkan? Karena militer mampu melayani kepentingan segelintir orang-orang yang tercatat sebagai agen pemerintah dan yang paling penting: dapat melayani dengan loyal kepentingan pasar (pemodal) dalam kerja mereka untuk terus memiskinkan anda dan saya. Hal ini terjadi terutama sekali di negara dunia ketiga atau negara berkembang. Mengambil alih lahan atau produksi yang seharusnya menjadi milik publik dan mendistribusikannya untuk publik mungkin lebih nyata dari sekedar marah-marah terhadap orang-orang yang telinganya telah tuli di gedung-gedung pemerintahan. Kenapa tidak direbut juga gedung-gedung tersebut untuk dijadikan tempat tinggal bersama bagi anda dan saya yang tidak memiliki tempat tinggal?</p>
<p>Lalu apa alternatif setelah matinya pemerintah, agar kehidupan sosial tetap dapat dikontrol (dalam artian tetap terus berlangsung) dan tidak terjadi chaos (kerusuhan) dan tindakan-tindakan yang dapat merugikan kepentingan anda dan saya, serta kepentingan bersama?</p>
<p>Apa yang ada dalam benak anda, ketika bahaya mengancam anda? Tentu saja, tanpa komando dari siapapun anda akan menyelamatkan diri. Atau, ketika anda merasa kesusahan untuk mengerjakan suatu tugas dari guru atau dosen anda, dan anda mengajak kawan-kawan anda untuk membentuk kelompok belajar dan setelah berdiskusi panjang lebar, berhasil mengerjakan tugas tersebut secara bersama-sama, bukankah anda membuktikan bahwa anda tidak memerlukan komando atau hirarki atau apapun untuk mengontrol hidup anda? Kontrol sepenuhnya ada di tangan anda! Bukan di tangan pemerintah, partai, atau siapapun.</p>
<p>Lalu bagaimana untuk menghindari bentroknya kepentingan tiap-tiap personal? Ketika hidup anda dan saya tak lagi berorientasi semata-mata pada uang dan meninggalkan prasangka-prasangka buruk terhadap orang lain, maka anda dan saya akan mengerti bahwa pada dasarnya setiap personal hanya ingin untuk dapat memenuhi kebutuhan primernya: sandang, pangan, papan. Uang pun tak lagi memberi ilusi bahwa hanya uanglah yang mampu memberi kebahagiaan pada tiap-tiap personal. Hubungan antar manusia menjadi lebih penting dan lebih menarik untuk dijalani. Satu-satunya ukuran kesuksesan adalah kebahagiaan, bukan karena kaya, mendapat hak istimewa, atau pun gengsi.</p>
<p>Dari uraian singkat di atas, secara jauh saya tidak menafikan akan perlunya kontrol. Yang pertama sekali menjadi pengontrol adalah diri anda dan saya masing-masing. Jika hal tersebut masih belum menghasilkan sesuatu yang maksimal, maka kontrol ke dua adalah sosial. Bukan norma apalagi pemerintah, tapi hubungan simbiosis mutualisme. Pernahkah anda melihat hubungan kerbau dan burung yang sangat akrab? Hal tersebut terjadi karena burung tersebut memakan kutu-kutu (sebagai sebuah simbol yang merugikan) yang bersarang di badan kerbau. Kerbau senang karena tubuhnya tak lagi gatal, sementara burung pun ikut senang karena perutnya terisi.</p>
<p>Sampai di sini, masih perlukah alasan bagi adanya pemerintah?</p>
<p><strong>Referensi </strong></p>
<ul>
<li> Sumber artikel : <a href="http://anarkia.blogdrive.com/archive/2.html" class="external text" title="http://anarkia.blogdrive.com/archive/2.html" rel="nofollow">Jurnal Anarki Edisi 2</a></li>
<li> Penulis : Jicek/Kolektif AFFINITAS</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2006/08/24/apa-yang-anda-dan-saya-butuhkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
