<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pustaka Otonomis &#187; 2001</title>
	<atom:link href="http://pustaka.otonomis.org/tag/2001/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pustaka.otonomis.org</link>
	<description>Sekedar sebuah weblog WordPress lainnya</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Feb 2009 06:21:27 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>KEMEROSOTAN DAN KEJATUHAN DUNIA TONTONAN : SAAT PENONTON BERTRANSFORMASI MENJADI AKTOR</title>
		<link>http://pustaka.otonomis.org/2005/05/23/kemerosotan-dan-kejatuhan-dunia-tontonan-saat-penonton-bertransformasi-menjadi-aktor/</link>
		<comments>http://pustaka.otonomis.org/2005/05/23/kemerosotan-dan-kejatuhan-dunia-tontonan-saat-penonton-bertransformasi-menjadi-aktor/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 May 2005 14:30:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisX</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[2001]]></category>
		<category><![CDATA[dunia tontonan]]></category>
		<category><![CDATA[pemberontakan argentina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.otonomis.org/v2/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Pasti terdapat alasan dan latar belakang yang membuat para penonton untuk memutuskan pembuatan film tentang diri mereka sendiri. Sesuatu yang lebih mulia dibandingkan hanya menjadi seorang penonton yang pasif dan menerima saja apapun yang terjadi. Begitulah, semenjak awal abad tersebut, penguasa Argentina mulai menggunakan intervensi negara dan memberlakukan kontrol yang lebih ketat]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PEMBERONTAKAN ARGENTINA TAHUN 2001<br />
INTRODUKSI</p>
<p>Sudah sejak beberapa tahun ke belakang, sejak pemerintah mulai memotong sedikit demi sedikit subsidi negara bagi BBM dan TDL&#8211;yang buat saya jelas, bahwa hal ini sangat memberatkan sejak saya tidak lagi bergantung pada orang tua&#8211;dan diikuti oleh kenaikan semua harga, tentu saja. Beberapa kali saya melibatkan diri saya dalam aksi demonstrasi yang menolak keputusan pemerintah tersebut; kekuatan kami terlalu sedikit dalam menggalang aksi berbentuk aksi massa demonstrasi: orang-orang yang kami beri selebaran tampak semakin tidak peduli karena mereka sudah terlalu kebal terhadap isu ini dan kenaikan harga, dan yang paling menyedihkan adalah saat kawan-kawan saya sendiri yang bersama-sama mengikuti demonstrasi tersebut sebenarnya tidak terlalu menaruh perhatian yang dalam mengenai isu tersebut yang saya kira alasannya adalah bahwa mereka tidak terlalu terhimpit oleh masalah ekonomi&#8211;tinggal pulang ke rumah, menengadahkan tangan dan orang tua mereka akan mendermakan sebagian hartanya pada mereka; dan apabila tidak, mereka masih bisa sekedar menumpang makan dan tidur tanpa harus membayar biaya sewa atau apapun. Dengan demikian terus terang saya semakin tidak bisa membayangkan bagaimana semua hal ini akan dapat berubah; revolusi yang seharusnya berarti pentransformasian nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat, tampak semakin jauh, menjauh dari horizon dan semakin mengabur tercampur dan melebur dalam kabut. Tampaknya memang begitu, dalam masyarakat yang pasif seperti ini, revolusi terlihat hanyalah sebuah mimpi dimana kita mau tidak mau harus bangun dan mengakhiri mimpi. Ini semua terjadi di benak saya sendiri, hingga akhir tahun 2001 lalu, saat saya yang tak berlangganan media apapun secara tak sengaja membaca sebuah artikel dalam sebuah koran harian resmi pemerintah: Pemberontakan Massa di Argentina. Bum! Dan seakan seperti sebuah kebetulan, seorang kawan saya di Jakarta beberapa saat kemudian mengirimi saya sejumlah jurnal sosialis dan beberapa majalah yang hampir semuanya membawa isu soal Argentina di dalamnya. Dan kembali saya menyadari, bahwa Argentina telah datang membuktikan kepada dunia, kepada ribuan orang-orang yang mungkin berpikiran seperti saya, bahwa revolusi masih mampu untuk muncul dan eksis di abad yang kosong ini di tengah-tengah kebisuan mayoritas yang menindas.</p>
<p><span id="more-7"></span>Pemberontakan massa yang tidak terduga dan cenderung spontan di Argentina, yang dimulai lima hari sebelum hari Natal, telah berhasil menggulingkan dua orang presidennya yang dianggap tidak becus, hanya dalam waktu beberapa minggu saja. Hebat, bahkan Indonesiapun tidak seperti itu, entah tidak mampu entah tidak peduli. Seorang bintang di kursi pemerintahan yang merepresentasikan kepentingan IMF dan Bank Dunia yang bernama Cavallo, dipaksa turun dari kursi penguasanya sebagai Menteri Perekonomian. Para pemimpin partai politik mulai berkoar-koar tentang kemungkinan terjadinya perang sipil&#8211;sesuatu yang para elit biasanya tidak tahu menahu tentang bagaimana perkembangan yang terjadi di jalanan, di medan pertempuran. Begitulah, sementara para elit sibuk sendiri seperti biasa, di jalanan para pekerja berdasi, buruh pabrik dengan seragam kerjanya, ibu-ibu rumah tangga, remaja, dan anak-anak kecil, memenuhi beberapa ruas jalan, berada di balik barikade yang sama dalam melakukan pertempuran melawan polisi. Begitulah gambaran saya yang paling mengenai Argentina sejak akhir Desember lalu. Sesuatu yang sangat menarik untuk saya karena hal ini tidak terjadi di negara-negara Dunia Ketiga seperti yang diramalkan oleh para ekonom dan politisi; melainkan di negara industri terbesar di Amerika Latin yang memiliki standar kehidupan yang sangat mendekati level negara-negara Eropa Barat. Negara yang dikenal sebagai &#8220;lumbung dunia&#8221; di awal abad-20 lalu dengan perekonomian yang sangat mirip dengan Australia, Selandia Baru atau Kanada, yang memusatkan hasil produksinya pada bahan pangan dengan maraknya peternakan-peternakan korporasi raksasa untuk dikompetisikan dalam pasar dunia. Sebuah alasan yang secara relatif menjadi magnet bagi jutaan imigran dari Italia dan Spanyol yang membawa tradisi militansi industrial bersama langkah mereka ke Argentina.<br />
MASA SEBELUM MATAHARI BERSINAR DI ARGENTINA</p>
<p>Pasti terdapat alasan dan latar belakang yang membuat para penonton untuk memutuskan pembuatan film tentang diri mereka sendiri. Sesuatu yang lebih mulia dibandingkan hanya menjadi seorang penonton yang pasif dan menerima saja apapun yang terjadi. Begitulah, semenjak awal abad tersebut, penguasa Argentina mulai menggunakan intervensi negara dan memberlakukan kontrol yang lebih ketat pada masalah import, untuk menyedot profit-profit agrikulturalnya demi pembangunan industri-industri baru di sekitar tahun 1930 dan 1940-an; terlebih lagi saat di Eropa, perang telah membuat harga-harga produk agrikultural jadi berlipat ganda. Pemerintahan Juan Peron, seorang kolonel angkatan darat, akhirnya juga mampu membeli militansi para pekerja dan di saat yang sama meningkatkan pendapatan di bidang industri. Para pendukung Peron kemudian mengambil alih kontrol atas serikat-serikat pekerja yang paling berpengaruh sehingga Peron memenangkan pengikut setia di antara para pekerja dalam jumlah yang luar biasa besar; dengan melancarkan propaganda ideologi nasionalis yang intens. Dengan hal tersebutlah maka Peron mendapat simpati di antara para pekerja dan para pemodal yang patriotik&#8211;dan dengan dibantu oleh isteri pertamanya yang dianggap bagaikan seorang bidadari, Evita Peron. Tapi bagaimanapun juga, booming penjualan produk agrikultural berakhir tahun 1950 yang juga diikuti oleh kudeta militer yang mengkanvaskan Peron di tahun 1955.</p>
<p>Sejak saat itu, kapitalisme Argentina menghadapi problem pusatnya, bahwa banyak industri mereka yang semakin tidak kompetitif dalam pasaran dunia. Dengan demikian, pengerukan profit sangat bergantung pada pemotongan upah para pekerja yang dilakukan secara periodik. Hal yang ditanggapi oleh militansi para pekerja dengan pemogokan-pemogokan dan berbagai aksi individual yang menakjubkan; yang tentu saja direspon balik oleh pemerintah dengan represifitas yang keras. Peron mendapatkan kekuasaannya kembali pada tahun 1964 bersama dengan isteri keduanya, Isabella, semakin memperparah keadaan dengan memulai sebuah &#8220;perang kotor&#8221; melawan para militan; seorang menteri negara mengorganisir sebuah kelompok pembunuh Triple A (Argentinian Anti-Communist Alliance) yang menghabisi dan &#8220;menghilangkan&#8221; para militan dan opisisi. Represifitas terbesar datang tahun 1976 dengan pemapanan kediktatoran militer yang diperkirakan telah memakan korban sekitar 30.000 jiwa. Kediktatoran tersebut terus berlanjut hingga pecahnya Perang Malvinas tahun 1982. Keadaan bertambah parah setelah itu yang berakhir dengan hiper-inflasi. Pemerintah setelah kematian Peron tahun 1974 hingga tahun 1989 tak ada yang berhasil memulihkan perekonomian negara, dan hal ini membuat seorang Peronis, Menem, memenangkan Pemilu tahun 1989 dan menunjuk Cavallo sebagai Menteri Perekonomian; inilah awal diterapkannya agenda Neo-Liberalisme di Argentina. Cavallo berpendapat bahwa satu-satunya cara keluar dari krisis adalah dengan menarik investor asing dan menanamkan sahamnya serta membangun korporasinya di Argentina. Semua industri diprivatisasi, dana kesejahteraan bagi penganggur dihapuskan demi menyediakan &#8216;tenaga kerja yang fleksibel&#8217;, dan mata uang lokal, peso, terikat pada nilai dollar: sebuah taktik ekonomi Neo-Liberalisme yang kini juga mulai diterapkan di Indonesia.</p>
<p>Selama tujuh tahun, perekonomian Argentina tumbuh dengan kecepatan yang mencengangkan, dan Cavallo segera menjadi anak emas para ekonom mainstream dunia. Tapi keseluruhan kebijakan tersebut runtuh dengan pecahnya krisis ekonomi di Asia pada tahun 1988. Dan sebagaimana ramalan para anarkis bahwa kaum borjuis akan memangsa siapapun termasuk sesamanya sendiri, dalam tubuh pemerintah terjadi perpecahan. Sebagian tetap mengandalkan bank dan profit dari hasil privatisasi&#8211;inilah kelompok yang inginn mengganti mata uang peso dengan dollar. Sementara sebagian lainnya, adalah mereka yang menjalankan perusahaan dimana produk-produk mereka terlalu mahal bagi pasar dunia&#8211;merekalah kelompok yang ingin tetap mempertahankan peso dan mendevaluasikannya.</p>
<p>Satu-satunya hal yang mereka sepakati bersama hanyalah dengan memeras para pekerja, dan saat hal tersebut dinilai masih kurang efektif, para pekerja kerah putih dan para pengusaha kecil juga akan masuk dalam daftar target. Maka dimulailah penyerangan-penyerangan terhadap publik seperti yang dimulai dengan hantaman terhadap bidang pendidikan pada musim panas tahun 2001 lalu, sebuah hal yang diikuti oleh berbagai pemotongan subsidi di sektor-sektor publik; semuanya dialokasikan demi pembayaran hutan internasional.<br />
AWAL TERBITNYA MATAHARI</p>
<p>Pengangguran meningkat hingga hampir setengah populasi yang tentu saja semakin terpuruk ke bawah garis standar kemiskinan. Para pekerja mulai tidak menerima upah mereka, para pekerja kerah putih yang gaji bulanannya dibayarkan melalui rekening bank tidak dapat mengakses uang mereka, dan para pemilik toko tidak dapat menjual produk apapun karena orang-orang terlalu miskin untuk dapat membeli.</p>
<p>Iklim ekonomi Argentina mulai berubah&#8211;karena mereka harus mulai melunasi hutangnya bagaimanapun juga&#8211;dan demikian juga halnya dengan iklim kepasifan massa. Dimanapun juga, kelaparan dan kemiskinan hanya akan menyisakan dua buah pilihan, mati dengan penderitaan bersamanya ataukah melakukan sesuatu dengan resiko apapun yang mungkin terjadi&#8211;tak ada kerugian apapun yang akan diderita apabila menemui jalan buntu. Ini hanyalah masalah waktu sebelum orang-orang bangun dari kepasifannya dan meledak dalam kemarahannya. Para penguasa berspekulasi bahwa ratusan polisi dan beberapa kematian yang mungkin ditimbulkannya akan terus dapat secara meyakinkan membuat orang-orang menyerah terhadap absolutisme kekuasaan negara&#8230; Tetapi mereka salah besar; massa telah bergerak, secara spontan dan dari semua tingkatan sosial.<br />
RUNTUHNYA DUNIA TONTONAN&#8211;&#8221;KAMI INGIN MAKAN!&#8221;</p>
<p>Federasi serikat pekerja menyerukan pemogokan umum. Agitasi massa dilakukan secara spontan dan besar-besaran oleh berbagai kelompok revolusioner di sekolah-sekolah. Orang-orang mengancam untuk melakukan bunuh diri di hadapan umum, kecuali mereka mendapatkan kembali pekerjaan mereka. Para penganggur mengorganisir diri mereka secara spontan untuk memblokade jalanan dan membawa negara ke ambang kehancurannya selama beberapa hari. Kaum miskin memulai penjarahannya ke supermarket-supermarket untuk mencari makanan. Guru-guru menduduki bank-bank nasional karena gaji mereka yang ditransfer melalui rekening bank tidak dapat diakses. Dan, pertengahan bulan Desember tersebut mengingatkan saya dengan kondisi yang terjadi di Jerman pada tahun 1923 atau 1931&#8211;seluruh tempat di negara tersebut, seluruh segmen dari populasi kecuali bagi mereka yang sangat-sangat kaya, akan memutuskan untuk menghancurkan kepasifan dan kemati surian, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama kemonotonan, hidup telah menang di atas bangkai kematian.</p>
<p>Pada tanggal 19 dan 20 Desember,d atanglah ledakan yang sering menjadi pertanda awal akan terciptanya sebuah situasi revolusioner&#8211;kaum miskin seluruhnya bangkit dan menyerang semua supermarket yang dapat ditemui untuk menjarah apapun yang dapat dimakan, represifitas aparat yang berusaha menghentikan aksi tersebut dijawab dengan kerusuhan yang semakin meluas, diserta teriakan-teriakan &#8220;Kami Ingin Makan!&#8221;. Dalam sehari, ratusan supermarket porak poranda dalam aksi penjarahan.</p>
<p>Para elit politik yang tentu saja tidak merasakan efek dari krisis kecuali kedudukan mereka&#8211;terguncang dan berusaha menangani situasi tersebut. Kondisi siaga satu&#8211;yang menjelaskan bahwa negara ada dalam keadaan genting&#8211;direspon dengan kerusuhan yang menjalar ke gedung parlemen dan kediaman presiden serta Menteri Keuangan. Dan dalam beberapa hari tersebut, korban berjatuhan, tapi tak sedikitpun orang-orang yang frustrasi tersebut merasa gentar.</p>
<p>Dengan segera, para elit politik menyerukan agar diadakan penghentian sementara bagi pembayaran hutang negara. Mereka membutuhkan biaya besar untuk meredam gerakan yang mengancam akan menguburkan mereka; bernegosiasi dengan para serikat pekerja, menemui para pemogok, berbicara dengan organisasi-organisasi militan, mengentikan privatisasi, mencoba menggunakan bahasa-bahasa Peronisme yang berhasil tahun 1940, dan mengirim polisi dan tentara untuk mengamankan bank-bank asing. Dan di saat yang sama, mereka berusaha meyakinkan IMF dan para pemilik badan perusahaan privat bahwa kerusuhan tersebut tidak perlu dianggap terlalu serius.<br />
MOMEN YANG MENYEDIHKAN TELAH BERAKHIR&#8211;TAKTIK MULAI DIEKSPLORASI</p>
<p>Saya teringat pada Lenin mengenai terkonstruksinya situasi revolusioner dalam kasus Argentina ini. Dia berkata bahwa ada dua faktor utama yang menjadi syarat terciptanya situasi tersebut: para kelas pekerja dan juga para penindasnya tidak dapat lagi hidup dengan cara lama, kedua, bahwa kelas kapitalis juga berada dalam keadaan krisis. Dan tidak seharusnya pemberontakan ini berhenti di titik tersebut, mereka telah menggulingkan dua orang presiden, mengguncangkan parlemen, tapi kekuasaan negara tetap tak tergoyahkan&#8211;begitu juga dengan sistem komoditinya.</p>
<p>Bagi para pemberontak, para penduduk yang mengerti politik dengan cara mengalami kelaparan dan melakukan penjarahan, mengeruk sampah untuk mencari makanan, melakukan perintah boss hanya kemudian dipecat tanpa alasan yang jelas, dengan melihat para orang tua mereka berkeringat sepanjang hidupnya dan berakhir dengan tanpa upah, dengan melihat anak-anak mereka kelaparan, menempatkan keinginan untuk hidup pada posisi teratas di atas ketakutan resiko kematian&#8211;ini bukan saatnya untuk berhenti. Penggulingan pemerintah dan pergantian posisi penguasa oleh penguasa lainnya, tidak akan menyelesaikan semua masalah yang mereka hadapi. Dibutuhkan pengambil alihan kontrol atas berjalannya sistem secara keseluruhan.</p>
<p>Sebuah gerakan independen dari kelompok-kelompok masyarakat mulai berakar di beberapa komunitas lokal. Para pekerja dan eks-pekerja mulai menduduki pabrik-pabrik serta berbagai perusahaan yang telah tak mampu membayar tenaga kerja mereka, pengambil alihan pusat-pusat produksi bahan makanan untuk kemudian mendistribusikan makanan ke berbagai tempat, serta pengambil alihan atas kontrol bank-bank nasional untuk mencegah mengalirnya uang ke luar negeri. Disini saya sadar bahwa bentuk-bentuk desentralisasi dalam kontrol dan aksi langsung, telah dipraktekkan oleh masyarakat Argentina dalam waktu yang demikian singkat, dan bagi saya itulah kunci keberhasilan dalam melawan sistem dominasi selama ini. Memang, banyak kritik yang dilemparkan oleh kaum komunis dari berbagai penjuru dunia, bahwa saat ini belum ada satu syarat lagi dalam deskripsi Lenin untuk memapankan kondisi revolusioner tersebut: tak ada partai politik revolusioner yang kuat dan mampu menghalangi birokrasi yang korup dan konservatif serta sayap kanan untuk berkuasa kembali.</p>
<p>Tapi itulah, justru mereka, para masyarakat yang telah memegang sebuah dunia yang mereka menangkan, untuk jangan sampai membiarkan lelucon yang disebut &#8220;kepemimpinan&#8221; untuk memapankan dirinya, dan jangan sampai mereka terhasut oleh isu-isu pentingnya penguasa politik disaat mereka telah mampu untuk mengatur hidup mereka sendiri. Inilah sebuah pengembangan baru yang harus diterima dengan tangan terbuka dan terus dikembangkan di belahan bumi lainnya.</p>
<p>Sebuah koran Kiri Inggris, melaporkan bahwa hal tersebut mengejutkan para penguasa di Amerika Utara; tak ada yang menganggap serius kemungkinan yang akan dihasilkan dari kekerasan sosial politik dan kini mereka semua cemas bahwa ada kemungkinan &#8220;ketidak stabilan&#8221; tersebut akan meluas ke belahan dunia lainnya. Dapat dimengerti, dan justru hal tersebutlah yang harus dikembangkan di luar Argentina.</p>
<p>Sementara di Argentina, masyarakat disana yang telah mengalami keterpurukan akibat sistem dunia ini dan telah mulai mengembangkan sistem alternatif yang dijalankan atas dasar rasa kebutuhan yang sama, harus bisa belajar mengenai contoh-contoh bagaimana keberadaan penguasa baru hanya akan menghancurkan dunia baru yang mereka genggam. Dan pelajaran tersebut telah tersebar sepanjang sejarah. Di Serbia, rezim milosevic hanya digantikan oleh kepemimpinan baru yang &#8220;berusaha untuk membuat kondisi menjadi lebih baik&#8221;&#8211;dimana boss dan manajer kembali berkuasa di pabrik-pabrik dan perkantoran, sementara polisi kembali berkeliaran di jalanan. Di Indonesia, para elit politik yang semula menjadi oposisi bagi rezim Suharto justru mengembalikan status quo setelah mereka berkuasa dan menetapkan berbagai kebijakan yang justru mematikan semangat perubahan yang sempat muncul.</p>
<p>Dalam berbagai revolusi yang meletus di abad lalu, para revolusioner membentuk organisasinya sendiri atau setidaknya membentuk kelompok-kelompok yang berusaha terus berjalan ke depan, mencari transformasi sesungguhnya dalam komunitas dan masyarakat dengan memperdalam revolusi itu sendiri. Para pekerja membangun organisasinya sendiri yang memilih secara langsung delegasinya sendiri berdasarkan pada tempat kerja. Dalam organisasi tersebut, dimapankan sistem demokrasi radikal, dimana para delegasi tersebut dapat secara langsung digantikan apabila memang dikehendaki. Dengan cara seperti itu, masalah-masalah yang muncul dalam revolusi akan dapat ditanggulangi. Serta organisas-organisasi tersebut telah membuktikan dalam bentuk embrio tentang bagaimana masyarakat dapat mengorganisir dirinya sendiri dan bertransformasi menuju sebuah masyarakat dunia baru berdasarkan kerjasama antar orangs esuai kebutuhan hidup primernya, bukan berdasarkan kepentingan akumulasi modal. Sebagai contohnya, ambil saja Revolusi Hongaria tahun 1956 dimana badan revolusioner dibentuk di berbagai kota dan desa, di pabrik-pabrik dan perkantoran,s erta di peternakan-peternakan di pedesaan. Di ibukota, Budapest, para pekerja membentuk badan pekerja pusat yang mengkoordinir produksi di pabrik-pabrik, distribusi makanan dan obat-obatan, pengorganisiran transportasi dan publikasi koran. Bentuk-bentuk organisasi pekerja tersebut seringkali eksis dalam mesin-mesin negara yang masih eksis saat revolusi dimulai.</p>
<p>Tapi bagaimanapun juga, biasanya situasi revolusioner yang terjadi selalu hancur dikarenakan bahwa bagaimanapun juga krisis tetap harus terselamatkan&#8211;baik dalam cara revolusioner ataupun cara lainnya; karena tanpa hal tersebut restorasi kelompok status quo akan menguat. Para penguasa akan selalu mencari cara untuk kembali dengan menggunakan kontrol yang masih tersisa&#8211;seperti kelompok dalam jajaran polisi dan militer yang masih loyal&#8211;untuk kemudian menyusun kembali kekuatan mereka dan menghancurkan revolusi. Tragisnya, hal itulah yang terjadi berulang kali, baik di Jerman pada tahun 1919 hingga Chili pada tahun 1973, yang tentu saja disusul dengan pembantaian para revolusioner dan pengembalian sistem yang lama.</p>
<p>Inilah yang saya pikir mengapa sebuah transformasi masyarakat harus juga menganggap penting untuk menghancurkan perangkat-perangkat negara yang lama. Revolusi akan ditantang untuk dapat mengerti bahasanya sendiri secara total dan mempertahankan dirinya melawan segala kemungkinan yang disiapkan untuk menghancurkannya, serta tak ada kesempatan kedua untuk hal ini. Pemogokan buruh tambang di Asturia tahun 1962 dan berbagai oposisi lainnya yang menyimbolkan akhir dari kekuasaan Francoisme di Spanyol tidaklah membuka kembali jalan baru bagi masa depan Spanyol, melainkan hanya menyisakan sebuah pilihan sulit: Aliansi Suci yang disiapkan oleh Gereja Spanyol, ataukah kaum Monarkis, &#8220;Falangis Kiri&#8221;, atau Stalinis, demi keharmonisan Spanyol pasca-Franco ke arah kapitalisme modern, ke arah Pasar Dunia. Begitulah, tanpa bisa mempertahankan dirinya dan berhenti di tengah jalan, revolusi akan sulit untuk mengembalikan semangatnya&#8211;walaupun apabila telah muncul untuk kedua kalinya&#8211;dalam menghadapi status quo yang telah menguat. Dan di Spanyol, hubungan antar manusia yang bersifat sosialistik hanya eksis selama beberapa minggu saja di Barcelona dan Catalonia pada tahun 1936, itu dikarenakan para revolusioner belum sepenuhnya memapankan bahasa revolusinya sendiri dan tidak menghancurkan perangkat negara lama sepenuhnya di tempat yang mereka kuasai. Dan tentu saja, itu berarti bahwa para revolusioner di Argentina harus tetap memegang kontrol penuh atas basis ekonomi masyarakat dan secara langsung mendistribusikan seluruh hasil produksinya untuk memenuhi kebutuhan setiap orang disana.<br />
TAK CUKUP BAGI KITA UNTUK MENUNGGU ARGENTINA KEDUA</p>
<p>Pemberontakan di Argentina tersebut kembali menyadarkan saya bahwa revolusi tetap menjadi sesuatu yang mungkin di abad penuh kebosanan ini. Apa yang terjadi di Argentina adalah merupakan gambaran jelas untuk masa depan Indonesia yang secara sama persis berkolaborasi dengan IMF dan Bank Dunia untuk memapankan kebijakan Neo-Liberalisme. Pemotongan subsidi, privatisasi dan ketergantungan akan hutang telah menjadi agenda Indonesia mulai dari beberapa saat lalu hingga entah berapa tahun ke depan. Jangan salah tangkap, kita memang harus bersiap untuk berperang. Tapi perang kita adalah sebuah perang tanpa batas negara dan nasionalisme atau batas apapun juga, dan tentu saja, juga tanpa bendera, tanpa musuh yang jelas atau sasaran obyektif yang tampak dalam pandangan kita. Kapitalisme, penguasaan dan dominasi adalah lebih merupakan sebuah kecenderungan dan kata sifat, bukannya kata benda yang terlihat dalam seseorang atau sesuatu; walaupun telah berabad-abad lamanya kecenderungan dan sifat tersebut telah termanifestasikan dalam level berbahaya pada beberapa orang dan individu tertentu, bahkan kadang dalam diri kita sendiri. Saya sadar, bahwa inilah yang harus kita pahami betul untuk melawan balik.</p>
<p>Kita sedang berperang, dan kita akan selalu berada dalam kondisi perang&#8211;tapi perang kita tidaklah perang yang sama seperti perang yang dilancarkan oleh Bush dan para aliansinya atau seperti perang para rasis yang menghajar siapapun yang berbeda ras, atau perang para relijius fanatik atau perang demi perebutan kursi kekuasaan. Kita ada dalam kondisi perang dimana kita berjuang setiap hari saat kita berjuang untuk hidup dan mati dengan penuh harga diri, dalam keharmonisan dengan bumi dan sesama kita. Inilah perang kita, dan inilah perang saya, yang setelah sekian lama akan saya kumandangkan kembali.</p>
<p>Akankah engkau menjadi seseorang yang mengipasi bara api yang memercikan api yang akan berkobar? Dalam hal ini, saya janjikan kepadamu&#8211;demi dunia dan perang yang kita kobarkan&#8211;saya akan ada bersamamu, menggenggam tanganmu dan berjalan bersamamu. Tidak perlu menunggu diri kita untuk harus merasakan kelaparan dan ketiadaan makanan seperti di Argentina untuk memulai perang kita. Perang kita telah terkobarkan dengan nyala api yang mereka kobarkan sebelum kita.</p>
<p>Panjang umur para penduduk Argentina yang memapankan self-manajemen dalam hidup mereka! Pilihan kalian hanyalah kemunculan diktator baru ataukah kediktatoran &#8220;self-manajemen&#8221; atas produksi dan aspek kehidupan sosial lainnya.</p>
<p>Grendel | Agen Khusus | Kolektif Kontra-Kultura | Front Anti-Globalisasi | Januari 2002</p>
<p>Sumber : Situs Resmi Kolektif Kontra-Kultura http://www.geocities.com/kolektifkontrakultura/KKK2.htm</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustaka.otonomis.org/2005/05/23/kemerosotan-dan-kejatuhan-dunia-tontonan-saat-penonton-bertransformasi-menjadi-aktor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
